Cerpen Misteri: Diary Misterius

Cerita ini saya posting juga di blog pribadi saya di http://aboutfhyra.blogspot.com/

Happy reading!

 

Kukkuruyyuk…
        Suara yang tak asing bagiku dipagi hari mulai terdengar ricuh. Alarm pun tak hentinya menyahut. Memaksaku untuk terbangun dari kasurku yang empuk dan nyaman.


“05.00 tepat!” ucapku yang masih terkankut-kantuk. Aku bergegas ke kamar mandi. Melakukan semua kebiasaanku dipagi hari. Setelah semua ter-prepare. Akupun menuju ruang makan utnuk bersiap-siap memasukkan beberapa potong roti dan segelas susu hangat ke dalam pencernaanku. Setelah selesai, akupun berangkat ke sekolah ditemani Ayah mengendarai mobil pribadinya.
“Assalamualaikum!” ucapku kepada Ibuku yang berdiri di ambang pintu masuk.
“Waalaikumsalam!” balas wanita paru baya itu.

       Sesampaiku di sekolah, semuanya tak ada yang berubah setelah dua minggu sekolah ini dikosongkan karena liburan semester. Aku mencoba menelusuri beberapa kelas yang masih kosong. Aku memang anak yang paling rajin datang paling pagi.
“06.00 tepat!” ucapku setelah sampi digerbang sekolah.Semua telah tersusun dengan rapi jadwal.
“Mulai hari ini sampai seterusnya kegiatanku harus rapi seperti ini dan tepat waktu juga!” ujarku dalam hati dengan sikap perfeksionis.

     “Kelas XII IPS 1” ucapku ketika membaca papan penanda kelas yang ditaruh tepat di kusen pada atas pintu. Karena penasaran, akupun mencoba memasukinya. Menelusuri setiap detail dan sudutnya. Kelas ini sudah lama tidak terpakai. Boleh dibilang ini adalah gedung lama. Kelas XII IPS 1 sekarang telah pindah ke gedung baru. Tetapi, kelas-kelas yang lain masih ada yang stay di gedung lama. Konon katanya, telah terjadi sesuatu yang mistis di kelas ini.
“Hahhhh..!!!!” pekikku dengan ekspresi kaget dan suaraku yang lantang seketika menggema di ruangan itu.
“Rani Wahyuni?” ujarku dalam tanda tanya besar di kepalaku setelah membaca sebuah diary milik seseorang yang bernama Rani Wahyuni.
Kringg..Kringg..
Lonceng milik sekolah pun berbunyi riang pertanda jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Seketika aku tersentak dari lamunanku. Aku bergegas keluar dari  kelas itu. Akan tetapi, batinku memintaku untuk mengambil buku itu dulu.
” Yah sudahlah..” batinku.

      Aku mengikuti beberapa pelajaran dengan perasaan yang campur aduk.Penasaran..bingung..takut..
“ihhh..” ucapku lirih sembari memegang tengkukku.
Blukk! spidol putih-hitam itu mendarat tepat ddi kepalaku.
“Adoww..!” ringisku kesakitan.
“CHIKA MAHARANI!!! APA YANG KAMU LAKUKAN DARI TADI!! IBU LIAT KAMU HANYA BENGONG SAJA!!! KALAU TAK SUKA PELAJARAN IBU SILAHKAN KELUAR!!!” teriak Ibu Rima lantang.
“mm.. a.. a.. anu.. bu..aanu..” ucapku terbata-bata karena gugup.
“ANU ANU APA!!!”
“agak demam bu…” sahutku asal-asalan.
“Ohh.. kalau begitu kamu istirahat saja. Tapi, tetap mengikuti pelajaran dengan baik. Dengar Chika!?” ujar Ibu Rima dengan intonasi yang diperlembut ketika tahu anak muridnya sedang sakit.
“Iya bu…” jawabku sopan.
“Bohong dikit gak papakan? hehe..” ucapku dalam hati disertai tawa kecil dari bibir imutku.
“13.00 tepat!” ucapku ketika melihat angka di arlojiku.
Kringg…Kringg…
“Hore!!!!!” teriak sekelas ricuh. Kebiasaan siswa-siswi yang tak bisa hilang yakni bersorak gembira ketika bel jam pulang sekolah berbunyi.

     “Sayang.. Papa ada lembur di kantor dan gak bisa jemput kamu di sekolah. Kamu bisakan pulang naik bis atau kendaraan umum lainnya? atau mau pulang naik taksi?” pinta Ayahku lewat sambungan telepon selular.
“Hmm..Chika naik angkot saja Pa!” jawabku lembut.
“Gak pa-pakan?”
“Iya..!” ucapku dipertegas.
“Oke..Bye sayang! Assalamualaikum!”
“Iya Pa, Waalaikumsalam!” ucapku mengakhiri pembicaraan singkat itu. Klik!

     Di atas angkot, aku terus memikirkan kejadian aneh di kelas XII IPS 1 tadi. Ada keganjalan. Aura negatif dan perasaan aneh saat di kelas tersebut kembali muncul di angkot ini. Ketika aku mengambil buku diary dari ranselku lalu kubuka, perasaan penasaran dan bingung kian menyeruak.
“Apaan ini? Kosong melomponh begini!” timpalku kesal.
“Huhh..!” sungutku lalu aku membuang buku itu di bawah bangku angkot tersebut.
‘Kiri Pak!” teriakku ketika jalanan menuju rumahku mulai terlihat. Aku turun dari angkot tersebut dengan perasaan kesal.
“Apa-apaan!”
“Ditimpuk spidol dan dimarahi pagi ini itu bencana besar! Gak sesuai prepare!”
“Hanya karena diary sialan itu! Huhh!” timpalku sambung-menyambung dengan mulut yang terus beradu. Di sepanjang perjalanan bibirku terus berkomat kamit. Saking kesalnya, batu kerikil yang cukup besar. Sebesar gengnggaman tangan kutendang hingga mengenai anjing tetangga yang kebetulan sedang nongkrong di tong sampah.
“Grrrrr…..!” anjing itu mendengus kesal.
“HAHHH!!!” teriakku sambil berlari.

     Sesampaiku di rumah denagn napas terengah-engah dan keringat yang bercucuran.
“Anjing keparat itu sudah gak mengikutiku lagi! Huft..” batinku lega.
“As..salamualaikum!” ucapku dengan napas yang masih memburu.
“Waalaikumsalam! Kamu kenapa sayang? Kok kondisimu agak ruwet?” tanya Ibuku yang keheranan.
“Itu Ma, habis diburu sama Dolphi, anjing si Mayang itu! Hihh..”
“Hahaha… gak biasanya Dolphi galak”
“Sensitif kali ma, acara makan siangnya Chika ganggu. Hehe..” ungkapku disertai tawa kecil.
“Hahaha… yah sudah! ganti bajumu dulu, terus makan!”
“Oki doki Mama!”

     Setibaku di kamar, akupun mengganti baju seragamku. Betapa terkejutnya aku ketika melihat buku diary Rani Wahyuni itu tersimpan rapi di meja belajarku.
“Loh? Kok bisa? Tadi kan…” ucapku shock dan tak bisa melanjutkan beberapa kata yang terputus tadi.
‘Chika! Makan!” teriak Ibuku dari lantai satu.
“Iya Ma!”
Aku cepat-cepat meninggalkan kamarku menuju meja makan. Rasa bingung penasaran dan takut itu kembali muncul. Makanan masuk begitu saja ke dalam kerongkonganku. Tanpa aku peduli makanan itu enak atau tidak. Aku termenung. Mencoba mengingat kembali kejadian aneh hari ini.
“Aneh! Benar-benar aneh!” batinku.

     Setelah selesai makan, aku bergegas menuju kamarku. Setelah sampai di depan pintu, hatiku jadi berdebar-debar tidak karuan. Akupun membukanya dan dengg…
Tidak terjadi apa-apa di kamar itu. Karena penasaran dengan diary itu akupun mencoba untuk membukanya lagi, dan dengan hal yang sama, buku itu kosong.
“Gue memang udah benar-benar gila!”
Setelah kejadian itu, kuputuskan untuk menggunakan diary itu. Menuliskan berbagai peristiwa dan hal-hal lain ke dalam diary temuan itu.
Prepare for tomorrow : Bangun jam 05.00
Tulisku pada  lembar pertama di diary itu.

————————————————————————————————————————-

     “07.00! HAHHH!! MAMA..!! AKU TELAT!” teriakku.
Persiapanku berantakan. Semua yang telah kutulis dalam buku itu tidak ada yang terpenuhi.
“DIARY SIALAN!” rutukku.

     Setibaku di sekolah, pintu gerbang telah ditutup. Lapangan sudah sepi. Semuanya pada kelas masing-masing.
“Pak! Plis Pak izinkan saya masuk! Sekali ini aja Pak! Sayakan murid yang paling rajin datang pagi-pagi. Jadi, izinkan sekali ini aja Pak!” ucapku memohon dengan wajah memelas.
“Maaf neng Chika, tidak bisa!”
Akupun berfikir sambil mencoba mencari akal. Ding! Aku mengeluarkan selembar uang duapuluhribuan dari dompetku.
“Nih Pak! Ambil aja, asal aku dibukain pintunya”
Aku mencoba menyogok satpam tersebut. Satpam itu mencoba melirik uang tersebut.
“Ayolah Pak! Ambil aja!” bujukku lagi.
“Yaudah! Lain kali jangan telat lagi yah Neng!”
“Oke deh”
“…….”
“Makasih Pak! I love you!” sahutku kepada Pak Satpam itu setelah sukses membukakanku pintu pagar tersebut.
“Yah…Sama-sama”

————————————————————————————————————————-

“Chik..tumben lo telat! Untung Pak Bambang sakit jadi lo bebas deh dari omelannya” ujar salah seorang teman.
“Iyah nih, habis main game sama kakak sampai larut malam. Abisnya.. Kakakku baru pulang dari Surabaya dan minta diajak main PS” jawabku berbohong. Gak mungkin kan aku menjawab karena diary misterius yang kutemukan di kelas XII IPS 1 kemarin. Bisa dianggap gila aku.
“Ohh..” balasnya.
  
     Malamnya, aku mencoba menulis kebalikan dari persiapanku di diary tersebut.
Prepare for tomorrow : Terlambat bangun, Ulangan Matematika dapat nol dan diomelin guru
Tulisku di lembaran kedua di diary itu.
“Hahaha… Mudah-mudahan berhasil! Biarin aja gue dibilang gila, percaya sama hal-hal mistik seperti ini. Tapi, liat! Gue buktiin besok aja!”

    Besoknya, kemistikan diary tersebut terbukti. Aku bangun jam 05.00 tepat. Nilai ulangan Matematikaku dapat seratus dan tidak diomelin guru.
“Matematika dapat 100? itu biasa, memang aku pintar kok di pelajaran itu. Tapi, bangun jam 05.00 tepat!?” tuturku heran. Setelah kejadian keterlambatanku kemarin tanpa alasan yang jelas. Mungkin saja, buku itu memang mempunyai aura mistik.
“Mungkin saja!” pikirku

     Untuk membuktikannya, aku mencoba mengulang kembali menulis kebalikan dari persiapanku. Alhasil, kejadian serupa terjadi lagi dan lagi. Aku mulai mendelik ngeri.
“Aneh! Aneh! Aneh!” batinku.
“Besok, aku harus mengembalikan nuku itu ketempat asalnya!” ujarku disela-sela belajarku yang tidak konsen karena teringat terus dengan buku itu.

————————————————————————————————————————-

     Sebelum aku menaruhnya di tempat asalnya, aku mencoba membuka halaman demi halaman. Mencari tahu barangkali ada sesuatu di balik misteri ini.
“APA!? Tulisanku yang kemarin lenyap?! Kok bisa?” pekikku. Aku mencoba memakluminya. Setelah sampai di tengah buku, buku itu masih tetap kosong. Tetapi, setelah sampai di lembar terakhir buku itu, seperti flashback. Kejadian masa lalu di kelas itu mulai terkuak dan terngiang di benakku. Aku melihatnya. Kejadian 5 tahun yang lalu.
Rani Wahyuni. Seorang murid dari sekolah SMA SERIN KELAS XII IPS 1. Mati bunuh diri di kelas ini. Sebelum mengakhiri hidupnya, ia menuliskan pesan-pesan terakhirnya di diary itu. Di halaman paling belakang dari buku itu. Akhir dari diary itu.
“Aku tak tau mengapa? Mengapa orang-orang mencemooh dan membuangku! Aku tau, Aku harus menanggung ini sendiri. Menanggung beban yang amat berat diakibatkan oleh ulah orang lain. Aku hamil. Karena siapa? Karena aku dinodai oelh lelaki yang akupun tak tau siapa? Kenapa kalian menjauhiku? Aku korban! Kalian tau kan? AKU SAYANG SEKALIGUS BENCI KEPADA KALIAN SEMUA!! AKU BENCI! Untuk orang-orang yang tak berharap hidupnya seperti ini! Ini bukan mauku! Kalian tau kan? ATAU KALIAN PURA-PURA TAK TAU!? HEI KAU! KAU AKAN MERASAKAN SAKITNYA APABILA APA YANG TIDAK DIHARAPKAN TERJADI!” tulisnya pada lembaran terakhir di diary itu. RANI WAHYUNI.
“Astagfirullah Al Azim!” ucapku ketika tersentak dari kejadian tadi.
Aku buru-buru meninggalkan kelas itu. Tanpa sadar buku di tangan kujatuhkan ke lantai. Seketika bunyi hentakan buku itu mengisi ruangan misterius itu. Masih dengan aura mistik. Supranatural. Aku berlari keluar dengan perasaan yang campur aduk.

—————————————–END————————————————————————-

Bagaimana cerpennya? jelek yah? hahaha emang! Aku masih author baru. Masih amatiran. (Yaudah skip aja bacot ini) *Maaf kalo banyak typo*
Ini adalah cerpen yang aku buat waktu guru Bahasa Indonesia ku tugasin bikin cerpen. Syaratnya harus 7 lembar kertas HVS (kalau tidak salah) dan baru ada waktu untuk pulikasikan. Hehe.. *gak nanya*
Masih banyak sih cerpen yang aku tulis di kertas tapi aku malu publikasikannya.Hahaha *plakk
Oke deh jangan lupa comment yah (itupun kalo ada yg baca) haha. Aku ada eksperimen baru nih, pengen bikin FF. Genre horror juga (aku memang suka genre horror). Yah kalau ada yg mau comment aja dan Castnya juga terserah reader.
Oke mungkin segitu ajah bacot saya (HAHAHAHA). Thanks udah mau mampir.

By : Fhyra @vhyra_pabbo

4 thoughts on “Cerpen Misteri: Diary Misterius

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s