FF Take a Smile (Oneshoot)

image

Title: Take a Smile
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, drama, family, sad
Main Cast: Bae Suzy, Kim Myungsoo
Sub Cast: OC’s
Length: Oneshoot

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

Yeoja berpakaian minim itu melangkah dari meja ke meja sambil menghidangkan beberapa variasi makanan yang ia bawanya dengan nampan. Wajahnya terlihat risih dipandangi oleh beberapa pria berumur dengan tampang mesum.

Setelah selesai, ia buru buru melesat ke belakang. Protes. Yah, rasanya ia butuh protes.

“Myung!” Pekiknya yang memanggil nama koki di dapur Restaurant Seafood itu. Yang dipanggil hanya berdehem pelan karena tengah sibuk dengan alat masak dan beberapa bahan masakannya.

“Aku tak mau bekerja kalau pakaianku seperti ini!” Tunjuk yeoja itu tegas pada pakaiannya yang nampak seperti wanita kelinci.

Namja yang dipanggil myung itu segera mendongak menatap yeoja cantik di sampingnya. Ekspresinya memelas.

“Itu bagus untukmu” ucapnya datar lalu kembali berkutat dengan alat alatnya.

Yeoja itu mendengus kesal seraya membanting panci kosong dihadapannya.

“Kenapa lagi sayang?” Sang manager restaurant itu datang dari balik pintu manager dekat dapur dengan wajah bingung.

“Aku tidak setuju dengan pakaian kelinci ini. Sangat merendahkan” ucapnya frontal. Tanpa basa basi.

“Oh begitu yah? Aku kira konsep ini menjelaskan keadaan restauran kita yang ceria. Sepertinya kau risih yah? Kheundae, kenapa yang lain tak ada yang protes?” Tutur pria parubaya itu tenang.

“Itu karena mereka takut padamu tuan kim” suzy mendesis marah.

Pria itu tertawa renyah.

“Terserah kau sajalah. Kalau tak suka silahkan tinggalkan tempat ini. Bae suzy” usulnya kemudian dengan santai. Skak mat! Ia tau suzy sangat membutuhkan pekerjaan. Suzy mengepalkan tangannya kuat lalu bergegas pergi dari tempat itu sebelum semua piring dipecahkannya.

Ia sempat melirik myungsoo yang masih asyik dengan makanan yang diaduknya lihai.

“Sialan kau kim!” Gumamnya sebelum meninggalkan tempat itu.

***

Suzy menatap gusar kertas berisi tagihan tagihan. Oh dia tidak tau harus membayarnya dengan apa! Sedangkan gajinya sebagai waitress sekaligus icon restaurant sebulan tak juga membayar semuanya.

Oke, suzy memang tak semenyedihkan sekarang. Sampai sebuah kejadian naas terjadi. Ayahnya yang merupakan seorang penjudi kelas kakap malah mengorbankan restaurant tercintanya kepada tuan Kim setelah kalah judi beberapa bulan yang lalu. Ayahnya sekarang menghilang meninggalkan hutang yang begitu banyak. Belum lagi tagihan tagihan lainnya. Jadilah, suzy menjual rumah cukup mewah mereka untuk membayar semua hutang judi ayahnya itu. Belum lagi ongkos untuk menyewa rumah kecil di pinggiran kota seoul memakan banyak biaya. Tak habis sampai disitu, eommanya juga meninggal saat mereka telah pindah ke rumah sangat sederhana itu, akibat serangan jantung. Cukup sudah penderitaan suzy. Drama memang, tapi itulah yang terjadi dalam kehidupannya yang klise.

Suzy tak punya siapapun. Kecuali anak tuan Kim—Kim myungsoo. Namja itu resmi menjadi temannya setelah tanda tangan kontrak restaurant itu dimulai beberapa bulan yang lalu. Yah, tak dapat dipungkiri bahwa ayah myungsoo juga seorang maniak judi dan malang bagi suzy, ayahnya malah kalah dari tuan Kim. Restauran seafood yang telah bertahun tahun suzy bangun hanya beberapa detik saja langsung berpindah tangan karena ulah ayahnya yang ceroboh, bahkan ayahnya mempertaruhkan restaurant itu di meja judi tanpa persetujuan suzy!

Kim myungsoo adalah namja yang sangat gila memasak. Bahkan temannya sendiri—suzy—diacuhkan. Sangat menyebalkan bukan?

Sejak tragedi yang menimpahnya secara bertubi tubi membuatnya tak pernah merasakan indahnya kebahagian. Yang ia rasakan hanyalah ‘Bagaimana cara agar besok dapat makan dan hutang sedikit demi sedikit terbayarkan’. Hanya itu dalam bayangannya. Tak ada kesempatan baginya untuk menjalin persahabatan apalagi cinta. Tak ada. Semuanya sudah mati sejak beberapa bulan yang lalu. Yah, sejak seorang pria tega meninggalkannya hanya karena ia tak punya apa apa lagi. Brengsek memang. Padahal, suzy sedang sayang sayangnya pada namja itu. Namun semuanya palsu. Yah, palsu.

***

Suzy lagi lagi mendengus kesal ketika sebuah gaun—yang dipersiapkannya untuk bertemu klien dari restauran milik tuan kim—tak sengaja ia masukkan ke dalam mesin cuci di sebuah laundry. Ia tak tau bahwa gaun mahal itu bisa terikut dengan pakaian pakaian kotor lainnya.

Kembali ia mendesah. Ia akan mengubah konsep gaunnya! Menggantinya dengan gaun murah pinjaman dari salon dekat rumahnya. Toh, tuan kim hanya menugaskannya sendirian—yang notabenenya adalah icon restaurant. Ia ditugaskan untuk membujuk klien agar menjatuhkan investasinya kepada restaurant itu agar usahanya semakin besar dan berkancah internasional.

Suzy sempat melirik arlojinya sebelum mengeluarkan pakaian pakaian itu dari mesin cuci.

Dengan wajah gusar, ia mengeluarkan pakaian pakaian itu. Tak ada waktu. Pikirnya.

***

Suzy memperhatikan penampilannya sekali lagi di depan cermin berbentuk oval. Setelah dirasanya pas, ia lalu beranjak dari meja rias dan bergegas keluar hendak menunggu taksi atau bis yang lewat.

Saat ia membuka pintu, suzy sontak terkejut begitu seorang namja dengan setelan jas malah berdiri dengan senyuman mengembang di wajahnya.

“Myung?” Gumam suzy bingung.

Wajah myungsoo berubah muram setelah melihat pakaian yang dikenakan suzy.

“Wae? Ada yang salah?” Suzy kembali memperhatikan penampilannya yang mungkin semua orang akan berkata perfect.

Namun tidak bagi myungsoo. Ia seakan tak dihargai.

“Mana gaun merah yang ayahku paketkan untukmu huh?” Nada bicara myungsoo berubah ketus.

“Ah itu.. mianhae.. aku tak sengaja memasukkannya ke dalam mesin cuci” ucap suzy penuh penyesalan.

“Dan kau menggantinya?” Tanya myungsoo sekali lagi.

“Ne. Sudah jelaskan?” Jawab suzy ragu.

Terlihat dari ekspresi myungsoo bahwa ia sangat marah dan murka.

“Kalau begitu kita tidak jadi berangkat” myungsoo memutar badan hendak meninggalkan tempat itu, namun panggilan lirih suzy dengan cepat menghentikan langkahnya.

“Waeyo? Bagaimana dengan klien kita? Semuanya akan berjalan lancar tanpa gaun itu kan? Yang terpenting aku akan menjelaskan-”

“Kau tak tau apa apa suzy-ah..” gumam myungsoo.

“Myung..” suzy kembali memanggil myungsoo dengan panggilan sayang itu.

“Masuklah.. acara hari ini batal” myungsoo lalu berjalan menuju mobilnya dan segera melesat dari tempat itu.

Suzy terjatuh, badannya melemas.

‘Ada apa dengannya?’

‘Apakah gaun itu lebih berharga dibandingkan bisnis ayahnya huh?’

Ia terus bertanya tanya dalam hati perihal keputusan myungsoo yang membatalkan semuanya hanya karena sebuah gaun! Betapa bodohnya myungsoo itu. Apakah ia pergi sendiri saja? Toh, yang ia tahu, tuan kim menyuruhnya sendiri. Pikirnya. Namun detik kemudian segera dibatalkannya, karena merasa tak enak hati.

Suzy lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Melempar highheels nya ke sembarang arah dan mengacak make up yang sudah susah payah ia tata.

Ia jatuh terduduk di sudut gelap dari ruangan itu. Yah, suzy menunggak pembayaran listrik rumah sewanya. Terpaksa ia bergelap ria dengan pencahayaan seadanya.

Ia menatap lilin yang hampir habis di dekat meja rias lirih. Ia tak mau memberitahukan siapapun termasuk myungsoo kalau ia menunggak banyak tagihan. Ia tak mau dikasihani. Bagaimanapun juga, suzy masih punya harga diri. Satu satunya yang berharga yang ia punya. Menurutnya.

Entah mengapa, ia malah terisak pelan di kegelapan yang di’sengaja’ itu. Dengan maskara luntur dan bedak yang pastinya sudah berantakan.

***

Myungsoo melangkah berat menuju pria dengan setelan jas yang membuatnya nampak muda. Pria itu melambai penuh semangat ke arah myungsoo. Tidak seperti biasanya, ekspresi pria berumur itu sangat sumringah.

Myungsoo masih memasang tampang muram.

“Suzy eoddie?” Tanya pria itu ketika melihat myungsoo sendirian. Mungkin ke toilet, pikir pria itu.

“Tidak jadi datang” ucapnya parau seraya merebahkan dirinya di sofa restaurant mewah itu.

“Mwo?! Jadi, semua ini..sia sia?” Ekspresi pria itu berubah drastis.

“Ne ahbouji..” lirihnya.

“Kenapa dia tak jadi datang huh?”

“Karena dia tak memakai gaun yang ahbouji kirimkan” myungsoo mengambil gelas anggur itu semenah menah. Hanya ada mereka di restaurant itu. Myungsoo sengaja memesannya privat. Namun, semuanya gagal total.

“Hanya karena itu?!” Pekiknya tak percaya.

“Ahbouji sendiri yang bilangkan, suatu saat nanti jika aku akan melamar seseorang, yeoja itu harus mengenakan gaun merah kuno itu” terangnya di sela desahan panjangnya.

“Ne. Karena itu adalah pakaian turun temurun untuk pelamaran di keluarga kita. Mianhae.. karena gaun itu membuat semuanya batal.. seharusnya.. kau tak usah pikirkan gaun yang dikenakannya..”

“Kheundae, ahbouji.. itu peninggalan eomma juga dan ahbouji sudah susah susah membawanya kemari kan?” potong myungsoo.

“Tak usah kau pikirkan tradisi konyol itu. Langsung lamar saja..”

“Andwae.. ahbouji andwae.. kita harus tetap menghormati tradisi.
.”

Pria itu tersenyum simpul seraya menepuk pelan pundak anaknya.

“Terserah kau sajalah..pikirkan caramu melamarnya. Sebaik mungkin. Jangan terlalu naif..”

Myungsoo mengangguk paham.

“Padahal sangat sulit membujuk suzy untuk menuruti keinginanku..” gumam pria tua itu yang langsung mendapat cibiran pura pura myungsoo.

“Yak! Itu ideku ahbouji.. lain kali ahbouji pikirkan ide lain untuk membujuk suzy nanti. Aku ingin segera melamarnya. Secepatnya..”

Pria itu tertawa lepas. Yah, ia merasa sudah semakin tua. Ia harus melihat anaknya memiliki pendamping.

***

“Myung..” suzy menghampiri myungsoo yang tengah sibuk membolak balikkan makanan di atas pan.

Myungsoo menjawab dengan deheman pelan.

“Mianhae.. apakah klien kita membatalkan janji semalam?” Tanyanya takut.

“Tidak. Ia tidak jadi datang. Ada urusan mendadak” balasnya datar.

“Oke.. hmm.. ige..” suzy meletakkan sebuah kotak persegi yang agak lebar dan pipih—berisi gaun merah pemberian ayah myungsoo semalam.

“Kenapa mengembalikannya?” Tanya myungsoo setelah mematikan kompor. Baru kali ini myungsoo tidak mengacuhkan suzy sedemikian rupa ketika di dapur, biasanya hanya jawaban datar tanpa menghentikan aksi memasaknya.

“Urusan dengan klien sudah selesai kan?”

Myungsoo menatap gemas sosok menawan dihadapannya. Pakaiannya sangat menggemaskan menurut myungsoo—baju kelinci tanda icon restaurant.

“Baru kali ini aku melihatmu menggunakan pakaian kelinci ini dengan lama dan..” myungsoo menghentikan ucapannya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi” desak suzy.

Myungsoo masih menatap intens suzy dengan jarak dekat.

“Myung?” Ucapan suzy tak membuahkan hasil.

“Pesanan meja tujuh belum disiapkan!” Teriakan koki lainnya membuat lamunan myungsoo terbuyar. Ia segera kembali ke tempatnya. Mengambil pan yang berisi makanan yang ditundanya tadi dan mulai melanjutkan masakannya.

“Aku letakkan disini ne?” Ucap suzy lagi.

“Bawalah dan simpan”

“Ung?” Suzy mengangkat alisnya bingung.

“Pergi bekerja sana” usirnya halus. Suzy mengangguk lalu segera keluar dari dapur.

“Apa apaan myungsoo itu!” Gerutunya seraya memandangi kotak itu kesal.

Suzy meletakkan kotak itu di lokernya dan kembali bekerja.

***

Suzy berjalan tergesa gesa sembari terus melirik ke arah arlojinya. Mampus! Bis terakhirnya pasti sudah berangkat! Benaknya.

Kotak itu masih dijinjingnya susah payah. Ia tak punya pilihan selain menelpon taksi atau ia akan pulang jalan kaki. Tapi sebelumnya, ia harus jalan kaki sedikit agar sampai ke jalan raya.

Suzy terus berjalan sambil sibuk mencari ponsel di dalam tas. Tak sengaja ia menabrak seorang wanita parubaya yang tengah menggandeng bocah berumur lima tahun. Sepertinya itu adalah cucunya. Keluarga yang bahagia. Pikirnya lagi.

“Jwosunghamnida..” suzy membungkuk sopan lalu segera berjalan kembali.

‘Kenapa ahjumma itu berjalan jalan di kompleks pada saat jam tidur anak kecil’ batinnya seraya kembali melirik arloji—tepat pukul sembilan.

“Tunggu!” Panggil ahjumma itu. Suzy sontak menghentikan langkahnya dan berbalik.

“Ne?”

“Kotakmu terjatuh” ucapnya lalu menyerahkan kotak itu kepada suzy.

“Tunggu! Sepertinya aku kenal baju ini” tahan ahjumma itu setelah melihat warna merah yang nampak dari plastik bening kotak itu.

“Ne?”

Tanpa persetujuan, ahjumma itu langsung membuka kotak itu dan menjuntaikan gaun itu semenah menah.

“Benar. Ini adalah gaun nyonya kim” gumamnya lalu menaruhnya kembali ke dalam kotak.

“Ada apa ahjumma?”

“Apakah kau sudah dilamar? Sama siapa?” Sembur ahjumma itu. Suzy sukses mengerutkan keningnya.

“Ne?”

“Apakah anak nyonya kim? Atau keluarganya yang lain?” Tanyanya lagi.

Cukup! Pertanyaan macam apa ini? Suzy tak tahu menahu soal sejarah gaun itu.

“Jwoseunghamnida.. maksud ahjumma apa?” Tanyanya sopan.

“Gaun ini adalah pakaian tradisi dalam acara lamaran di keluarga kim termasuk saudara sepupunya. Dan pihak yeoja lah yang berhak memakainya saat akan dilamar. Karena, menurut kepercayaan mereka, gaun ini dapat mempererat tali cinta mereka” terangnya lalu tertawa pelan.

Suzy melongo.

“Yah, begitulah tradisi aneh keluargaku. Aku adalah kakak dari kim ki bum—ayah myungsoo. Gaun itu hanya ada sepuluh dalam keluargaku dengan warna merah namun design berbeda beda tiap gaunnya. Kebetulan, yang kau dapat adalah gaun nyonya kim dulu” lanjutnya.

Suzy masih melongo. Berusaha mencerna setiap kalimat yang masuk.

“Oh yah, aku tinggal di kompleks ini. Kebetulan cucuku sedang rewel ingin membeli permen di supermarket dan sekalian jalan jalan katanya” jelasnya. Mata ahjumma itu tersenyum.

“Tak kusangka, baru kemarin rasanya aku menghadiri pernikahan keponakanku di gyonggi. Sekarang, aku akan menghadiri resepsi itu lagi. Wah.. pasti keponakanku sangat beruntung mendapatkan yeoja cantik sepertimu”

Oke. Suzy sudah kembali ke alam sadarnya.

BERARTI.. MYUNGSOO AKAN MELAMARNYA!?

***

‘Kenapa myungsoo tiba tiba.. akh..’ suzy memukul pelan kepalanya.

Dia adalah namja tercuek dan terdingin sepanjang masa! Termasuk kepada dirinya. Mana mungkin ia akan melamar suzy? Darimana teori dan asal muasalnya?

Pertanyaan demi pertanyaan bergejolak di dalam pikirannya. Mereka diminta untuk segera di jawab. Namun, remang remang suzy menatap gaun itu sekali lagi.

Jadi, malam itu.. ia mau melamarku?! Dengan alasan klien? Benarkah? Namja itu tak tertebak!

***

“Myung..” suara pelan suzy membuat myungsoo yang tengah asyik menutup mata dan bersender di atas bangku sembari mendengarkan musik melalui headphonenya, tersentak.

“Hmm?” Datarnya setelah membuka mata.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya suzy bingung melihat myungsoo berada di coffee break—tempat kerja part time suzy— pada saat libur kerja, myungsoo digantikan oleh koki lain saat libur sedangkan suzy membatasi jam kerjanya di restaurant seafood itu. Baru kemarin ia mulai bekerja di cafe itu setelah penawaran dari seorang kenalan.

“Aku sedang minum kopi” jawabnya seraya memperlihatkan kopi espresso yang baru dipesannya.

Suzy mengusap wajahnya kesal. Ia tau! Semua orang yang datang ke sini pasti untuk meminum air hitam pekat nan pahit itu! Tapi, yang suzy bingung, myungsoo tidak biasa minum kopi! dan ketika hari libur biasanya ia akan keluyuran mencari objek yang bisa dipotret. Yah, myungsoo sering mengajaknya.

“Sejak kapan kau jadi suka kopi pahit ini?” Ucapnya skeptis.

“Sejak tadi”

Suzy menggebrak meja. Tak tahan.

“Kau menyukaiku?” Desak suzy.

“Mwo?” Ekspresi datar myungsoo berubah kaget.

“Tak usah berpura pura dingin jika ternyata kau suka padaku. Tidak usah menyakiti diri sendiri” frontalnya.

Myungsoo terdiam.

“Kenapa kau bicara begitu?” Myungsoo masih berusaha kalem. Namun hatinya sangat berdebar. Oh kenapa suzy harus tahu? Ia harus membuat semuanya spesial dengan cara romantis. Tapi.. gagal. Sepertinya begitu.

Suzy mendesis.

“Gaun merah superlangka itu menjawab semuanya” jelasnya dengan ekspresi penuh kemenangan. Kena kau!

“Ga-un?” Ucapnya terpenggal.

“Myungsoo!” Pekik suzy tak tahan. Suzy sangat jarang memanggil myungsoo dengan tambahan ‘soo’ karena terlalu panjang dan tidak ‘spesial’ katanya. Apa maksudnya ini?

Myungsoo terdiam.

“Suzy! Meja nomor empat!” Pintah si pemilik kasir tiba tiba.

“Kali ini kau lolos” ucap suzy sebelum meninggalkan myungsoo yang masih mematung.

Myungsoo segera bernafas lega setelah suzy pergi.

‘Besok.. aku akan melamarmu suzy-ah.. kau tak akan kemana mana lagi!’ Batinnya seraya tersenyum.

***

Myungsoo diam diam mendatangi rumah sewa suzy. Ia sebenarnya sudah membelikan rumah sewa itu untuk suzy secara diam diam dan meminta si pemilik rumah untuk memberikan kunci cadangannya dengan alasan kalau ia adalah tunangan si penyewa—Suzy. Padahal suzy tidak tahu dan tetap membayar rutin. Si pemilik rumah juga tak memberitahu kalau ia sudah dibayar dan memberikan pembayaran suzy kepada myungsoo. Niat myungsoo sebenarnya untuk menabung uang suzy. Ia ingin membuat usaha untuk suzy sendiri setelah mereka menikah nanti. Terserah, suzy mau apakan uang itu, toh itu uang suzy juga.

Myungsoo mengitari rumah itu dan mencoba menyalakan lampu. Gelap. Tak bisa menyala.

Ada apa ini? Apa suzy belum membayar listrik? Pikirnya. Yah ampun!

Myungsoo menatap rumah itu lirih. Ia selama ini sibuk dan tak pernah mengunjungi rumah itu diam diam. Ia baru tau kalau suzy selama ini menderita sangat banyak.

Suara pintu yang hendak dibuka membuat myungsoo sontak bersembunyi. Terlihat suzy yang lelah lalu berjalan menghampiri kasur dan merebahkan diri. Terdengar desahan nafas panjang.

‘Hidupmu pasti sangat berat yah.. zy-ah..’ batinnya lirih. Ia bersembunyi di balik box besar yang terletak di sudut kamar suzy. Ia dapat melihat semua
aktivitas suzy dari situ.

Setelah beberapa lama berselang, suzy hendak mengganti pakaian yang sontak membuat myungsoo membulatkan mata dan menelan salivanya gugup. Untung saja suzy membelakangi myungsoo.

Namja itu kembali menepis bayangan bayangan tadi. Oh dia bisa gila! Ia yang selama ini bersikap dingin untuk menyembunyikan rasa gugupnya malah semakin tak kuasa saat melihat tadi. Untung saja ia tidak ketahuan.

Suzy kembali merebahkan diri lalu menutup matanya perlahan.

***

Myungsoo dirampok suzy-ssi! Dan dia ditusuk oleh perampok itu. Ia sedang kritis di rumah sakit.

Pesan singkat dari seseorang tak dikenal sukses membelalakkan mata suzy yang baru saja bangun dari paginya. Ia buru buru mencuci wajah dan langsung mengambil jaket tebalnya. Tanpa riasan. Tanpa pembersihan diri. Suzy buru buru memberhentikan taksi dan menyuruhnya segera ke rumah sakit yang dimaksud.

Sepanjang perjalanan, suzy menangkupkan kedua tangannya. Ia berdoa dengan tangan gemetar. Ia takut. Sangat takut.

‘Kumohon jangan ambil siapapun lagi! Apalagi orang yang kucintai! Aku baru saja jatuh cinta lagi Tuhan!’

***

Ekspresi muram durja dari orang orang yang berpapasan dengannya di dekat ruangan operasi seakan menjadi isyarat. Suzy mulai takut.

“Op-perasinya.. sudah dimulai?” Susah payah suzy mengucapkan kalimat itu. Oh sungguh suzy ingin menangis sekarang!

“Sudah selesai..” balas moonso—adik myungsoo—lirih.

Suzy mengembangkan senyumannya.

“Tapi.. gagal” sambungnya.

Mata suzy membelalak.

“MWO?!” badannya melemas. Ia tidak dapat mencerna dengan baik kalimat singkat tadi. Tak sadar, badannya terhuyung ke depan yang langsung ditangkap oleh moonso.

“Ia habis pulang dari ATM untuk mengambil uang dan langsung dihadang rampok lalu ditusuk begitu saja. Tepat di organ dalamnya yang intim”

Suzy tak dapat berkata apa apa lagi. Mulutnya ternganga setengah dengan airmata yang sudah membanjiri wajahnya.

“Ia ingin membayarkan listrik rumah sewamu saat pulang dari ATM” moonso mengepalkan tangannya.

Ayah myungsoo hanya terduduk dengan keadaan kacau. Ahjumma yang suzy temui beserta cucunya juga ada di sana.

“Jadi.. dia sudah..pergi?”

“Ne..”

Suzy tertawa renyah. Tanpa aba aba, Suzy langsung menerobos masuk ke dalam kamar mayat dekat ruang operasi itu. Ia membuka sehelai kain yang menutup seluruh tubuh myungsoo. Pasti myungsoo sedang bermain drama berjudul ‘putri salju’. Tapi, myungsoo lah putri salju yang harus diberi ciuman agar dapat bangun kembali. Pikir suzy kalut.

Suzy menutup matanya lalu mengecup bibir pucat myungsoo. Tak ada perubahan.

‘Ini pasti drama!’ Batinnya. Suzy mengecup bibir myungsoo lama. Tak ada reaksi.

“IRREONNA!! JANGAN MEMBOHONGI AKU!” teriaknya histeris. Ia hendak mencium bibir myungsoo lagi, namun moonso yang sudah sampai menyusul suzy, langsung menarik yeoja itu.

“Dia sudah meninggal noona!” Pekik moonso.

Nafas suzy tercekat. Matanya membelalak dengan airmata yang membuat pandangannya memburam.

Suzy lalu ambruk tak sadarkan diri.

***

“KAU PEMBOHONG! KAU SUDAH BERJANJI MELAMARKU! BAHKAN GAUN ITU SUDAH KAU BERIKAN PADAKU! BODOH!” teriak suzy di rumah duka. Ia mengamuk kesetanan dengan airmata yang terus bercucuran. Moonso berusaha menahannya.

“KAU TAU APA ALASANKU BISA MENGHADAPI SEMUA KENYATAAN INI HUH?! YAH! KARENA KAU! KARENA KAU MYUNG!!! YAK MYUNGSOOOO!” suzy terjatuh. Ia menepis semua tangan yang ingin membantunya berdiri.

“sekarang.. siapa yang akan membuatku tersenyum lagi?” ucap suzy disela isakannya. Ia menunduk diatas lantai dingin itu. Tuan kim tak kalah terpukulnya. Walaupun tak semenyedihkan suzy. Ia tak menyangka, kalau suzy juga mencintai myungsoo. Ia kira hanya myungsoo yang mencintai suzy.

Suzy sekarang tahu, perihal hal hal yang selama ini myungsoo lakukan untuknya. Yah, ia sama sekali tak menyangka myungsoo sangat mencintainya begitu dalam. Bahkan, myungsoo yang kenyataannya tidak suka memasak malah menjadikannya kesenangan agar ia bisa bekerja di restaurant itu dan bertemu suzy setiap hari. Yah, itulah ia jadikan alasan agar bisa bertemu dengan suzy. Padahal, yang selama ini suzy tahu, bahwa myungsoo memang sangat suka memasak. Padahal.. itu semua karena dirinya.

Myungsoo juga sudah merencanakan pelamaran itu sejak lama namun ia terlalu gugup dan takut menerima penolakan makanya ia menunggu momen yang pas dan mengandalkan ‘gaun’ yang katanya pembawa cinta itu.

“Eotthokae.. eotthokhae.. bagaimana aku bisa menjalani hidup ini myung-ah..” isaknya. Ia kembali mengingat saat ia mulai merasakan sesuatu yang mengganjal dihatinya ketika melihat myungsoo.

“Eotthokkhae..” suaranya serak. Ia lelah berteriak karena sepertinya myungsoo tak akan kembali lagi.

***

Seorang mayat yeoja tergeletak beku di taman pyeongyang. Yeoja itu memakai gaun merah. Diduga ia tertidur dibangku taman dengan pakaian minim saat suhu seoul berada dibawah 0 derajat celcius. Beberapa orang sempat menegurnya dan memanggilkan petugas rumah sakit jiwa namun terlambat. Ia telah dinyatakan meninggal.

Diduga yeoja itu mengalami gangguan mental.

Tuan kim membaca koran pagi di teras rumahnya seraya tersenyum lirih.

‘Akhirnya aku menemukanmu setelah berbulan bulan aku mencarimu suzy-ssi.. kau menghilang setelah acara pemakaman selesai dan.. ternyata aku harus menemukanmu dalam keadaan..” pria tua itu menutup matanya mencoba meresapi angin yang menerpa wajahnya. Airmata yang sedari tadi ditahannya akhirnya lolos juga.

-Senyumku sudah terhenti sejak beberapa tragedi menimpaku.
Namun seorang pria dingin mampu menghangatkan senyumanku lagi. Mengembalikannya seperti mentari pagi yang hangat.

Namja itu akhirnya pergi
Pergi tanpa kata.
Tersenyum tak ada artinya lagi.
Haruskah aku berhenti tersenyum? Untuk selamanya?-Suzy

***END***

Mungkin saya akan ngepost ff oneshoot*tak bermutu ini lebih sering daripada chapter. Capek ajah buat chapter tapi komen dikit:|
Semuanya berpengaruh dari banyak tidaknya komen kalian—sebagai feedback.

yah sudah, Silahkan RCL yah readersku tercinta:3

gomapta~bow

82 thoughts on “FF Take a Smile (Oneshoot)

  1. cuma bs nepuk dada, nyesek bgt endingnya, tbt sebel liat ending yg buat uri suzy sedih, but it means that you’ve success make the real feeling into this ff. good job thor, I like it!!

  2. Sad ending? Aku kirain Myungsoo bakalan melamar Suzy malam itu, rupanya dia meninggal. Suzy juga meninggal. Mereka bertemu dialam yg berbeda TT

  3. Annyeong thor aq balik ƪǞƓƚ
    Jangan bosen2 ne thor kalau liat aq sring komen ne hehehe
    Aigo sad ending aq krain bkln happy ending thor dan ngeliat myungzy bersatu trnyta malahan sad huwaaah

  4. Kirain itu hanya bagian dri rencana myung untk melamar suzy😦 suzy menyusul myung dg memakai gaun merah itu… Dia benar2 terpukul

  5. 😭😭😭wae wae?? Kirain mying cuma bercanda pas meninggalnya..ternyata T.T , suzy huwaaa sad ending..ending nya ga terduga, daebak

  6. omo,,,,,nangis nih,,,aku kira myungsoo akan memberikan kejutan karena dia ngomong besok akan melamar suzy,,aku kira itu rencana myungsoo,,hhmmmm gak keduga ending nya

  7. nangis bacanya,, huaaa!!
    keren thor,, padahal q g suka lo baca yg sad ending karn pasti kepikiran trus,, vii ini cerita bkin q penasaran ,, jd nangis,, dah,, kerennn

  8. Sad end😢 moga kalian ketemu disana dan hidup bahagia😢 gue dah mikir, nanti Suji nikah aja ma moonso😓

  9. Sad end,gag rela sebenar nya,aku kira myung cm bercanda untuk kejutan buat nglamar suzy,tp ternyata itu nyata myung meninggal,dan suzy ikut nyusul jg

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s