FF She’s a Thief (OneShoot)

image

Title: She’s a Thief
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, drama, friendship.
Main Cast: Bae Suzy, Kim Myungsoo
Sub Cast: Choi minho, Park Jiyeon, Kim Sunggyu, OC’s.
Length: Oneshoot

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

“Apa yang kau lihat?!” Ucap seorang yeoja dengan tatapan sinis kepada seorang namja yang sedari tadi memperhatikanya.

“Mianhamnida.. aku melihatmu tadi memegang bokong orang ini. Sepertinya kau berniat mencuri dompet yang ada di saku orang ini” jawabnya terus terang.

Sialan! Suzy terdiam.

Orang yang dibicarakan lalu berbalik menghadap suzy. Mata namja itu melebar ketika melihat yeoja yang tengah menatapnya dengan ekspresi terkejut. Yeoja itu mengenakan Kemeja kotak kotak berwarna biru tua dengan celana jeans dipadukan dengan sepatu kets dan topi coklat khasnya itu. Dandanannya juga sangat natural. Sungguh seorang gadis yang sederhana namun wajahnya sangat menawan. Kalau saja ia memakai gaun, sudah dipastikan ia bagaikan malaikat yang baru saja turun dari langit ke tujuh.

“Suzy?” Gumam namja itu ketika melihat yeoja dihadapannya yang juga tampak tak asing dengan namja bermata belo itu.

“Min..min..” suzy tampak berpikir. Ia lupa. Benar benar lupa dengan sosok dihadapannya.

“Minho” sela minho melengkapi ucapan suzy.

“Ah ne. Park minho, kan?”

Minho menggaruk tengkuknya. Antara kesal dan ingin tertawa. Kenapa yeoja ini begitu cepat melupakannya?

“Choi minho, suzy-ssi, bukan park minho” ucap myungsoo membenarkan.

“Ah ne! Mianhae.. aku memang menderita penyakit pelupa jangka pendek” terang suzy enteng.

“Ne gwaenchana..” minho tersenyum. Suzy ikut tersenyum namun kikuk. Ia kembali mengingat kejadian beberapa saat yang lalu, ketika ia hampir saja ketahuan hampir mencuri dompet orang yang ia kenal. Hal itu membuatnya sangat malu sehingga tak kuasa merutuki dirinya sendiri.

“Kau juga sedang menunggu kereta?” Tanya minho kemudian.

“Ne.”

‘Rencana untuk meneraktir jiyeon gagal’ batinnya kesal.

“Kalau begitu kita sama. Mau berangkat bersama?” Tawar minho.

“Ne.”

“Nah itu keretanya sudah datang!” Pekik minho pelan.

Suzy mengalihkan pandangannya ke arah orang yang membuatnya hampir ketahuan tadi. Suzy lalu menjulurkan lidahnya pada orang itu.

Orang yang diejek tadi membulatkan matanya. Mulutnya komat kamit tidak jelas.

Suzy lalu ditarik minho ke dalam kereta. Suzy melambaikan tangannya kepada namja tadi dengan seringai nakal.

Aku menang!

Namja itu tampak menunjuk suzy lalu memberikan bahasa isyarat bahwa kalau sampai ketemu lagi dengan suzy dalam keadaan ingin mencopet, maka ia tidak akan melepaskannya lagi. Cukup hari ini.

Suzy kembali menjulurkan lidahnya. Tawanya tertahan.

***

“Kau akan kemana suzy-ssi?” Tanya minho ketika mereka sudah berada dalam kereta.

“Ne?” Suzy menoleh ke arah minho dengan tatapan bingung. Ia sebenarnya harus ke mana?

“Kau mau ke mana?” Ulang minho gemas.

“Oh. Ne.” Suzy tampak berpikir. Tampangnya seperti orang bodoh yang kehilangan arah alias tersesat. Tadinya ia mengikuti minho karena takut ketahuan akan mencuri.

“Ke mana?” Tanya minho lagi.

“Kemana saja. Yang penting hepi” jawabnya asal. Otaknya sedang tak bekerja dengan baik. Tak dapat memikirkan jawaban yang lebih masuk akal.

Minho menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Kalau begitu maukah kau berkunjung ke apartemenku?”

“Kheundae-”

“Aku tinggal sendiri” sela minho cepat begitu tahu maksud suzy.

“Ah ne. Boleh juga.”

“Memangnya kau tinggal dimana sekarang?” Tanya minho lagi.

“Tinggal bersama jiyeon di daerah.. baekdong. Kau tahulah.. tempat yang kumuh itu..” suzy tersenyum getir. Minho jadi tak enak hati.

Yah, kehidupannya memang seperti itu. Tak punya orang tua. Bahkan ia tak tahu siapa orang tuanya. Ia dan jiyeon dibesarkan di panti asuhan yang sama. Setelah menginjak dewasa, suzy yang tumbuh menjadi gadis yang agak pembangkang memutuskan kabur dari panti asuhan dan mengajak jiyeon. Mereka seperti itu juga karena ibu panti mereka yang kejam. Karena tak memiliki pekerjaan untuk menyewa penginapan maka kedua yeoja jail itu mencari profesi sendiri. Mencuri. Yah, mencuri. Mungkin mencuri tidak bisa dikatakan sebagai profesi. Namun di kamus suzy, itu adalah sebuah profesi.

Minho bisa mengenal suzy karena minho adalah anak panti bersama suzy dan jiyeon. Namun, saat minho berumur sepuluh tahun—suzy dan jiyeon berumur tujuh tahun— ia diangkat oleh sepasang suami istri yang tak bisa memiliki anak lagi karena mandul. Dan mereka sangat menginginkan anak laki laki, maka minho lah yang terpilih.

Setelah, beberapa tahun tidak ada lagi orang tua orang tua seperti orang tua minho karena panti tersebut sempat mengalami penggusuran dan berpindah. Hal itu membuat ibu panti sering marah marah.

Minho dan suzy sempat bertemu lagi satu tahun yang lalu saat suzy meminta minho meminjamkannya uang untuk membawa jiyeon yang sakit dan setelah itu kontak mereka hilang.

Sepertinya takdir mempertemukan mereka lagi.

***

“Wah..” suzy menatap kagum ruangan apartemen minho yang begitu mewah. Tidak salah lagi, orang tua angkat minho kan sangat mencintainya dan memanjakannya dengan harta.

“Ngomong ngomong,orang tuamu sekarang tinggal di mana?” Tanya suzy setelah merebahkan dirinya di sofa sembari menyalakan tv. Ia tak sungkan menjajah apartemen minho. Si pemilik tempat hanya tertawa kecil melihat tingkah suzy.

“Orang tuaku berada di incheon. Aku di suruhnya mandiri dan bekerja di perusahaan abouji yang ada di seoul sebagai bos di sana” ungkapnya tidak bermaksud menyombong.

Suzy mengangguk paham.

“Bagaimana keadaan jiyeon? Apakah dia baik baik saja?” Tanya minho seraya menghidangkan cemilan dan beberapa softdrink untuk suzy. Suzy meneguk minumannya rakus.

“Dia baik baik saja. Sepertinya dia menungguku sekarang. Hari ini ulang tahunnya” ungkap suzy setelah minumannya habis.

“Bagaimana kau mengajaknya ke sini atau aku yang ke sana? Aku akan meneraktirnya”

“Mwo? Ah aniya.. aku tak mau kau re-”

“Aniya! Aku sangat senang membahagiakan seseorang yang berulang tahun. Hari inikan hari bahagianya.. gheuraegu, kita adalah temankan?”

Suzy mengangguk.

“Baiklah. kalau kau memaksa..”

Suzy tersenyum senang.

***

“Kau tidak memakai mobil?” Tanya suzy setelah mereka memutuskan naik taksi ke rumah suzy.

“Pakai. Hanya saja tadi ada kejadian kecil yang membuatnya harus masuk bengkel. Makanya tadi aku naik kereta”

“Arrasso..” gumam suzy. Tak mau ikut campur lagi.

‘Hari ini akhirnya ulang tahun jiyeon di hadiahi dengan cara halal. Bukan dengan mencuri’ batin suzy senang. Setelah itu, suasana hening mendominasi taksi itu.

***

Mereka turun sebelum sampai ke tujuan karena mobil tak bisa memasuki jalan sempit. Merekapun jalan kaki sembari bersenda gurau. Menceritakan pengalaman masing masing. Hanya saja, suzy tak mau mengungkapkan profesinya.

“Kau bekerja dimana sekarang?” Tanya minho.

Suzy tersentak. Ia harus jawab apa?

“Di mana saja. Asal itu pekerjaan” jawabnya lagi lagi asal. Suzy menepuk kepalanya pelan.

“Bagaimana kalau kau bekerja di perusahaan ayahku?”

“Mwo?!” Suzy menoleh kaget.

“Aku yang akan merekrutmu sebagai pegawai dalam bidang pemasaran. Apa kau punya ijazah atau pengalaman dibidang itu?”

Suzy menyadarkan dirinya. Satu satunya keahliannya adalah mencuri—menurutnya. Dan mencuri tak membutuhkan ijazah.

“Tidak ada.” Balas suzy singkat. Ia benar benar tak tahu soal pemasaran.

“Bagaimana kalau kau bekerja di perusahaan interior dan desain sunggyu hyung saja? Kau bisa mendesain atau merancang atau semacamnya yang berhubungan dengan interior?” Tanya minho lagi lagi. Ia tak mau sampai yeoja di sampingnya itu bekerja sembarangan.

Suzy mendesah. Ia juga tak tahu. Di rumahnya, ia sangat sering menggambar serampangan kalau sedang bosan. Kadang melukis objek dengan alat seadanya.

“Molla.” Jawabnya pendek. Ia termenung. Apa ia bisa?

***

“Ini lukisanmu?” Tanya minho ketika melihat lukisan abstrak maupun yang berbentuk ditaruh dilantai dengan berjejer.

“Ne.” Jawab suzy seraya menatap namja itu was was. Apakah aku bisa bekerja di perusahaan interior itu?

Jiyeon tampak membisiki suzy sesuatu.

“Kau benar minho?” Tanya jiyeon sekali lagi. Jiyeon merasa, minho sekarang tumbuh menjadi namja yang sangat tampan.

“Ne. Kau tak percaya?” Minho lalu mengalihkan pandangannya ke arah jiyeon dan menatapnya jail.

“Ah ne. Aku percaya” jiyeon terlihat salah tingkah.

“Kkaja! Kita akan merayakan ulang tahun jiyeon. Jiyeon saja yang pilih tempatnya.” Usul minho kemudian.

“Jinjja?!” Pekik jiyeon tak percaya.

Suzy mendengus kesal karena teriakan membabi buta jiyeon tadi. Minho hanya tertawa pelan melihat ekspresi suzy. Sangat lucu.

“Ne” sahut minho kemudian masih mempertahankan tawa tertahannya.

“Assa!” Teriak jiyeon kegirangan.

***

“Makanan disini enak yah?” Bisik jiyeon pelan kepada suzy seraya mengunyah samyetangnya. Suzy membalasnya dengan tatapan membunuh. Seperti vampir yang haus darah.

“Aku mengira jiyeon akan mengajak kita ke restauran mewah, ternyata..” suzy memperhatikan sekelilingnya dengan ekspresi pasrah—tempat biasa mereka merayakan ulang tahun jiyeon dan suzy dari tahun ke tahun.

Minho tertawa.

“Kau harus menghargai keputusan jiyeon, suzy-ah..”

Suzy mengerucut seraya menatap jiyeon jengkel.

“Dasar kuno!” Timpal suzy kepada jiyeon yang tengah asyik menyeruput kuah samyetangnya.

“Mwo? Mwo?” Jiyeon mengangkat wajahnya tanpa merasa bersalah. Mulutnya penuh.

***

“Aku sudah menelpon sunggyu hyung untuk menerimamu. Katanya kau harus diuji satu proyek dulu. Kalau berhasil, kau akan dijadikan pegawai tetapnya” ucap minho melalui sambungan telepon. Nama suzy tertera di monitor ponselnya.

“Ah ne. Gomawo minho-ssi..” ucap suzy dengan nada sungkan.

“Mau kujemput?”

“Tak usah..”

“Oke. Aku akan segera ke sana!”

“Kheun..”

Tutt.

Minho mematikan panggilannya.

‘Tak boleh ada penolakan!’ Tegas minho dalam hati seraya tersenyum.

***

“Ini hyung, yeoja berbakat yang kuceritakan padamu. Dia berbakat dalam menggambar dan melukis. Apakah dia bisa masuk ke dalam perusahaan interiormu?” Tanya minho ketika mereka berdua—suzy dan minho—telah berada di depan sang bos—sunggyu.

Sunggyu terperangah lalu segera tersadar.

“Ne?” Tanya sunggyu bingung. Sepertinya ia tak menyimak perkataan minho barusan.

“Namanya suzy. Dia adalah yeoja berbakat yang aku ceritakan padamu, hyung” ulang minho kesal.

“Ah ne. Kau diterima” ucap sunggyu langsung.

Suzy dan minho saling pandang tak percaya.

‘Mwo?!’

***

“Ini tempat kerjamu suzy-ssi. Partnermu adalah namja yang duduk di sana” sunggyu menunjuk ke arah namja yang tengah serius dengan file file pentingnya.

“Ah ne..”

“Namanya kim myungsoo. Dia adalah pegawai terbaik kami. Dan dia yang sekarang menangani proyek perumahan di daerah baekdong” jelas sunggyu bersemangat.

“Tunggu.. baekdong?!” Pekik suzy kaget yang sontak membuat namja bernama myungsoo itu mengangkat kepalanya. Matanya memicing ketika melihat yeoja di samping sunggyu.

“Pen..cu..ri?” Gumam myungsoo.

“Ne. Waeyo?” Tanya sunggyu.

“Ah.. aniya.. aku hanya heran.. kenapa mereka mau membangun perumahan di daerah kumuh? Jadi.. rumah rumah yang tak berizin akan digusur kan?” Jawab suzy cemas.

“Ne. Tentu saja. Memangnya kenapa kalau mereka menggusurnya?”

Suzy langsung lemas. Yah, rumahnya adalah salah satu bangunan tak berizin resmi. Mereka akan segera digusur secepatnya. Dimana ia dan jiyeon akan tinggal? Ia hanyalah seorang pencopet yang tidak memiliki uang banyak untuk membangun rumah.

“Yak!” Teriakan myungsoo membuat suzy menoleh ke arah namja itu. Matanya seketika membulat.

“N-neo?!” Pekik suzy tak sadar.

“Ne. Urrimmani.. pen-”

“Yak! Sarangheo! Sarangheo oppa!” Potong suzy refleks seraya menatap tajam namja itu mengisyaratkan bahwa ‘kau-jangan-katakan-apa-apa’

“Kau.. kenal myungsoo?” tanya sunggyu heran. Baru kali ini myungsoo dekat dengan wanita. Ia mengira myungsoo adalah seorang workaholic yang hanya tau bekerja dan bekerja. Bahkan ia berfikir bahwa myungsoo itu gay.

“Ne. Aku mencintainya. Dia adalah namja impianku. Aku telah mengejarnya selama bertahun tahun..” terang suzy dramatis. Padahal ia tak mengenal myungsoo sama sekali. Mereka dipertemukan saat suzy akan mencuri dompet minho. Memalukan!

Myungsoo melongo. What?! Apa yang dikatakan yeoja ini?!

Suzy hanya menatap myungsoo penuh harap.

‘Kumohon!’ Batin suzy.

Sunggyu memijit pelipisnya yang tiba tiba berdenyut.

“Baguslah kalau kau mengenalnya. Aku harap kalian bisa bekerja sama. Aku yakin pada kemampuanmu suzy-ssi..” sunggyu menepuk pelan bahu suzy lalu bergegas pergi dari ruangan itu.

Setelah sunggyu pergi. Myungsoo langsung menghampiri suzy yang terlihat ketakutan.

“Apa motifmu bekerja disini? Kau punya keahlian apa? Kukira kau hanya bisa mengambil dompet orang tanpa permisi-”

Plakkk!

Mata suzy berkaca kaca. Tak pernah ia merasa dihina seperti itu. Memang benar, ia suka mencuri barang orang. Karena ia tak punya pilihan. Ia paham bahwa sangat sulit mencari pekerjaan di korea dan ia juga paham bahwa pekerjaan itu hina. Tapi, apakah namja ini bisa menghargainya sebagai manusia? Toh dia juga manusia kan?

“Yah.. kau benar.. aku memang hanya seorang pencuri.. kheundae.. kenapa aku bisa masuk di perusahaan besar seperti ini yah?” Balas suzy dengan nada bergetar. Tetes demi tetes air keluar dari pelupuk matanya. Oh ia tak bisa menahannya lagi!

Myungsoo terenyak. Kenapa yeoja ini menangis?

“M-mianhae kalau..”

“Tak apa.. memang seperti itukan? Aku hanya heran.. kenapa bosmu menerimaku tanpa menguji terlebih dahulu? Apa yang salah dariku? Bosmu bahkan tak tahu sampai sejauh mana bakatku?” Ucap suzy penuh penekanan. Kenapa ia harus menerima perlakuan tak menyenangkan saat ia mendapatkan pekerjaan yang halal? Kenapa?

Ada rasa tak enak dalam benak myungsoo yang tiba tiba merasukinya.

“Mianhae..” tangan myungsoo refleks menghapus sisa airmata di kelopak mata suzy namun yeoja itu langsung menepisnya.

“Ayo kita bekerjasama. Lupakan pekerjaanku yang dulu. Kita mulai dari proyek ini” suzy lalu berjalan menuju mejanya seraya menghapus kasar airmatanya.

Myungsoo termenung.

‘Ada apa denganku?’ Batin myungsoo. Ia lalu berbalik menatap suzy yang asyik melihat lihat kertas proyek di mejanya dan membacanya. Sesekali mengangguk menatap ribuan kata dikertas itu. Tampak bahwa ia tengah menahan kristal bening itu jatuh lagi.

Myungsoo tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia seperti disengat listrik ratusan volt.

***

“Ireumeun mwoyeo?” Tanya myungsoo ketika dia dan suzy tengah asyik menyusun konsep proyek mereka.

“Suzy.” jawab suzy pendek tanpa mengalihkan tatapannya dari kertas dihadapannya.

“Gambarmu bagus” puji myungsoo ketika melihat suzy mendesain konsep perumahan itu.

“Gomawo” lagi lagi suzy bersikap acuh.

“Yak! Bisakah kau bersikap ramah padaku?!” Pekik myungsoo tak tahan seraya mengambil kertas yang suzy tatap terus menerus. Bahkan ia tak menghiraukan myungsoo.

“Mwo? Waeyo? Kenapa aku harus bersikap ramah padamu? Aku hanya perlu membuktikan kenapa sunggyu kajangnim memperkerjakanku di sini. Jadi tak ada alasan berbicara panjang lebar untuk hal yang tidak penting.” ucap suzy sinis.

Myungsoo tak bergeming. Ia malah menatap suzy tajam.

“Kembalikan kertas itu” desak suzy ketus.

Myungsoo masih terdiam.

“Kembalikan!” Teriak suzy.

“Shireo!” Myungsoo berdiri dari kursinya.

“Kau harus berjanji untuk tidak ketus padaku lagi, Arra? Dan satu lagi, kau harus memaafkanku atas ucapanku kemarin”

“Arrasso! Kau puas?”

“Jinjja?” Myungsoo memperlihatkan tampang bodohnya.

“Ne ne ne!” Sahut suzy kesal.

Myungsoo tersenyum lalu segera mengembalikan kertas itu kepada suzy.

***

Suzy berjalan menuju rumahnya dengan sesekali bersenandung sambil menenteng sebuah plastic bag berisi makanan. Ia bahkan tak sadar seseorang telah membuntutinya sedari tadi.

Setelah sampai, ia mengetuk pintu dan melihat jiyeon menampilkan ekspresi cerahnya ketika melihat suzy membawa sesuatu.

“Ige mwoya?” Tanya jiyeon antusias.

“Makanan kesukaanmu”

“Yatta!”

Jiyeon langsung menarik suzy masuk dan menutup pintu. Si penguntit mendesah kecewa.

“Kenapa yeoja itu mau menangani proyek yang jelas jelas mengancam tempat tinggalnya?” Gumam myungsoo iba.

Pikirannya kini penuh dengan nama suzy dan suzy. Entah sejak kapan ia mulai memikirkan hal lain selain bekerja dan bekerja. Sepertinya sekarang sudah berganti menjadi suzy dan suzy.

***

“Beberapa bulan lagi proyek ini akan rampung dan akan segera dikerjakan dalam bangunan” ucap myungsoo saat memulai perbincangannya dengan suzy pagi itu.

“Ne. Arrasso..” lirih suzy.

Myungsoo langsung mengeluarkan buku dari tasnya dan menghempaskannya di hadapan suzy.

“Ini adalah buku rancanganku. Ada beberapa rancangan rumah yang telah kubuat. Pilihlah salah satu yang kau sukai” pinta myungsoo seenak jidatnya.

“Mwo?! Kukira kita akan menyelesaikannya bersama-”

“Ini bukan desain untuk proyek kita. Kheundae.. untukmu” myungsoo membuang mukanya. Oh memalukan!

“Mwo?! Aku tak punya-”

“Pilihlah cepat! Jangan banyak tanya!” Bentak myungsoo. Karena kegerahan, ia lalu meninggalkan suzy yang terbengong penuh tanda tanya.

***

“Ha.. jinjja.. ada apa denganku ini?” Gumam myungsoo berkali kali setelah keluar dari kecanggungan tadi.

Tiba tiba suzy muncul dengan membawa buku myungsoo.

“Apa maksudmu untukku?” Tuntut suzy.

Myungsoo terdiam. Ia harus jawab apa?

“Apa maksudmu huh?”

Myungsoo lalu mendesah.

“Aku tau rumahmu akan segera digusur! Dan aku tak mau kau hidup gelandangan karena tak punya rumah! Jadi aku ingin membuatkanmu rumah! Kau puas?!” Ungkap myungsoo dengan nada meledak ledak. Oh myungsoo tak tahan lagi!

Suzy mendecak.

“Kenapa aku harus menerimanya? Apa hak ku? Kau siapaku? Kita bahkan baru satu minggu saling mengenal. Apakah kau mau merendahkanku huh?!” Balas suzy kesal.

Myungsoo mengusap wajahnya tak tahan.

“Yak! Kau memang pencuri suzy-ssi!” Pekik myungsoo. Beginilah myungsoo ketika ia jatuh cinta. Emosinya meledak ledak.

Air mata suzy sukses mengalir. Sedari tadi ia menahannya. Menahan bulir bulir itu lagi setelah mendengar perkataan merendahkan myungsoo menurutnya. Namun lolos juga.

Oh myungsoo benar benar akan meledak!

“Kau..” gumam suzy.

Cup~

Myungsoo membungkam bibir suzy dengan bibirnya.

Mata suzy membelalak. Kenapa?

Tautan itu terlepas.

Plakkk!

“Kau! Beraninya kau!” Bentak suzy.

“Kau benar benar pencuri..” Balas myungsoo dengan seringai nakal.

Plakk! Lagi lagi myungsoo mendapatkannya. Myungsoo tersenyum.

“Kau pencuri!” Myungsoo sontak mendorong suzy ke tembok.

“Kau benar benar pencuri..” myungsoo menatap intens manik mata suzy.

“Gheumane! Kau sudah keterlaluan myungsoo-ssi!” Suzy berusaha mendorong myungsoo namun tak bisa. Ia kalah telak dari namja itu.

“Kau pencuri..”

Myungsoo memajukan wajahnya lagi seraya memegang kedua pipi suzy.

Cup~~~

“Kau berhasil mencuri hatiku..suzy-ssi.. kau tak boleh kulepaskan! Tak akan.. Sekarang kau telah memiliki hatiku maka kau harus mendapatkan hukuman karena telah mencurinya..” bisik myungsoo setelah selesai mencium suzy.

Mata suzy membulat.

“Mwo?!”

Tanpa aba aba myungsoo langsung melumat bibir suzy lagi. Dan kali ini suzy terdiam. Karena terbawa suasana suzy malah membalas perlakuan myungsoo.

‘Apakah aku bisa mencintai namja ini?’ Batin suzy.

‘Pasti! Kau harus mencintaiku! Kau harus dihukum karena telah mencuri hatiku!’ Myungsoo membatin seolah olah membalas pertanyaan dalam benak suzy.

***END***

Gaje banget endingnya haahahahaha!
aku takut kepanjangan makanya aku menyudahinya dengan kegajean huahahahaha!
Jeongmal mianhae kalau gak bagus yah. Aku cuma pengen menghibur dengan tulisan ini huahaha!

RCL yah readers! *Nodongin pisau*

Bow~

59 thoughts on “FF She’s a Thief (OneShoot)

  1. Jadi Suji yang bekerja toh, lalu jiyon? Gak bekerja juga kah? Atau mungkin jiyon penyakitan jadinya dilarang susah2 oleh Suji, btw myung romantis abis😁

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s