FF Cleansing Cream (OneShoot)

image

Title: Cleansing Cream
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, drama, angst, sad, etc
Main Cast: Bae Suzy, Kim Myungsoo
Sub Cast: Bae donna, OC’s and etc.
Length: Oneshoot

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

Inspired of music video by Brown Eyed Girl – Cleansing Cream but the story mine. Just a little bit i took from that song~ Warning! Ceritanya tidak sama dengan arti dari lagu itu sendiri, hanya sebahagian kecil saja.

Happy reading!

***

Sunyi. Hanya bunyi lengkingan ambulance yang merajai indra pendengaran seorang gadis muda berusia 20 tahun yang tergeletak di jalanan. Tangannya sibuk meraba jalanan berlapis aspal di hadapannya. Badannya yang melemas tak membuatnya gentar meraba sesuatu yang dicarinya.

Namun badannya kini tak bisa lagi menahan rasa sakit akibat tubuhnya yang terbentur keras dengan sebuah benda logam beroda empat. Bau anyir darah tercium di mana mana. Bisa ia rasakan badannya kini terangkat. Setelah itu, ia tak merasakan apapun lagi. Kesakitan itu memaksanya untuk menutup mata selama berjam jam.

***

Mata gadis muda itu terbuka perlahan. Bisa ia rasakan suara tangisan menusuk indera pendengarannya. Namun..

“Eomma.. appa… eonnie…” panggilnya lirih seraya mencoba meraba raba sesuatu dihadapannya.

Suara tangisan yang sangat ia kenal kembali menyeruak bagaikan sebuah backsound pengiring kematian.

“Eonnie? Eomma appa eoddie?” Gadis cantik berparas ayu itu bahkan tak peduli dengan kondisinya sekarang. Ia tahu, ia tak dapat menolak takdir.

“Suzy-ah..” suara khas namja yang juga sangat dikenal yeoja bernama suzy itu membuat suzy menyunggingkan seulas senyum manis.

“Oppa..” panggil suzy. Airmatanya ikut memaksa menyeruak keluar.

“Yak suzy-ah! Kau tak peduli dengan kondisimu eoh?!” Pekik bae donna—kakak perempuan suzy—geram. Ia tak mengerti dengan sikap acuh adiknya itu terhadap kondisinya sendiri.

“Eomma appa eoddie?” Suzy kembali mengulang pertanyaannya.

“Mereka meninggal! Dan kau buta!” Bentak donna tak tahan. Tangisnya makin menjadi jadi.

Nafas suzy tercekat. Ia terdiam.

“Kau seharusnya bersyukur bisa hidup! Jangan khawatirkan mereka!” Pekik donna.

Suzy sontak menutup kedua kupingnya. Ia sepertinya tak kuat mendengar teriakan kakaknya.

“Aku tak terima kalau kau seperti ini suzy-ah! Ini salah mereka!” Donna terisak.

“Geumame!” Teriak suzy.

Suzy tahu, kakaknya sangat membenci kedua orang tuanya karena mereka sering membeda bedakan kedua kakak-beradik itu. Suzy selalu disanjung sedangkan donna, ia selalu dicaci dan dimaki layaknya anak yang dipungut dijalanan hanya karena donna yang tak begitu cantik dan pintar. Donna juga sangat sering bertingkah nakal sehingga mengundang kemarahan dari eomma dan appa mereka. Tetapi, donna sangat menyayangi adiknya. Walaupun gara gara kehadiran sosok suzy yang sangat cantik jelita dan pintar pula yang membuatnya tersisih. Sikap suzy juga santun. Hal itu tak membuat donna membenci suzy, tapi malah membenci kedua orang tuanya yang menurutnya rasis itu.

Namun, kecelakaan itu harus membuatnya menelan pil pahit. Ia harus kehilangan kedua orang tuanya dan juga melihat adik tercintanya buta.

***

Hari hari seorang bae suzy terbuang percuma. Ia tak melakukan apapun selama itu. Psikisnya mulai terganggu sehingga sangat sering melamun.

Sedangkan donna memilih untuk menikah dengan pacar suzy—kim myungsoo.

Kim myungsoo sebenarnya sudah berencana menikahi suzy namun karena kondisinya yang tak berkompromi, maka atas bujukan donna yang juga sudah lama menyukai myungsoo, ia memutuskan untuk menikahi donna. Ia juga tak mungkin membuat keluarganya malu dengan menikahi gadis berkelainan mental dan buta seperti suzy. Setidaknya dengan menikahi donna, ia bisa menjaga suzy terus.

Donna memang sangat menyayangi adiknya, namun untuk urusan cinta, ia tak mau mengalah.

Hari hari suzy semakin buruk ketika mengetahui namjachingunya menikah dengan kakaknya sendiri. Walaupun psikisnya terganggu, setidaknya ia masih punya hati untuk merasakan sakit ketika dikhianati.

***

Suzy meringis pelan ketika setangkai bunga mawar berduri menusuk jari telunjuknya. Mungkin myungsoo yang menaruh mawar berbahaya itu di meja makan untuk suzy. Kenapa ia belum membuka durinya? Jangan bilang itu adalah mawar yang ia petik ditamannya. Itu adalah mawar kesayangannya.

Suzy meraba bunga itu lalu membuangnya kasar. Ia segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan lukanya. Untung saja ia sudah hafal seluk beluk rumah kakaknya.

Setelah donna dan myungsoo menikah, mereka memilih pindah ke sebuah rumah yang jauh dari pusat keramaian. Sekaligus untuk membuat suzy nyaman.

Aroma maskulin dari myungsoo yang begitu dekat membuat suzy membuat ekspresi kesal. Ia tahu namja itu sudah berada di hadapannya sekarang.

Tanpa basa basi, myungsoo langsung mengambil tangan suzy. Sebuah plester bergambar binatang ia tempelkan di jari telunjuk yang tadi tertusuk mawar.

“Mianhae..” myungsoo menepuk pipi suzy pelan. Bisa suzy rasakan deru nafas myungsoo di wajahnya. Sebuah kecupan hangat mendarat di pipi kanan suzy. Sebuah hal yang biasa. Myungsoo sering melakukan itu. Juga mawar itu. Myungsoo sering memberikannya kepada suzy. Hanya saja toko bunga tertutup hari ini, makanya myungsoo tak sungkan memetik mawar suzy di taman belakang.

Suzy masih bergeming. Tak bereaksi setelah myungsoo mencium pipinya.

“Aku berangkat kerja dulu ne?” Pamit namja tampan itu. Suzy tak juga bereaksi.

Kakinya lalu melangkah ke arah meja makan. Duduk di salah satu kursinya lalu mencoba menyendok makanan yang sudah tersedia di dalam piring masuk ke dalam mulutnya.

Matanya tak berkedip. Hanya menatap lurus ke depan, tanpa ia tahu apa yang ditatapnya. Datar. Tapi mengapa airmatanya mengalir?

***

Angin menerpa lembut wajah ayu sang pemilik nama unik itu. Tangan suzy menggenggam sebuah mawar yang beberapa menit yang lalu ia terima hari ini. Tanpa duri.

Sebentar saja bunga itu sudah hancur berkeping keping. Seperti hari hari sebelumnya.

Tubuhnya tiba tiba menegang tatkalah sepasang lengan merengkuh tubuhnya.

“Aku pulang!” Suara khas namja itu membuat wajah datar suzy tetap datar. Ia tak bereaksi apapun.

“Kau tak mau menebak kenapa aku cepat sekali pulang kantor huh?”

Suzy hanya diam.

Namun senyum namja itu tak juga surut.

“Ini adalah hari ulang tahunmu!” Pekiknya riang.

Percuma. Suzy tak bereaksi apapun. Untuk apa ulangtahun? Ia tak membutuhkannya. Ia tak peduli.

“Donna sebentar lagi pulang membawakanmu hadiah” bisiknya. Masih dalam posisinya yang tadi.

“Suzy!” Suara samar dari luar membuat myungsoo terlonjak dan segera merapikan pakaiannya. Ia lalu menarik suzy. Langkahnya terhenti ketika sepasang matanya menemukan serpihan mawar yang sudah hancur di genggaman suzy.

“Kau selalu melakukannya?” Tanya myungsoo tajam.

Suzy mengangguk acuh.

“Baiklah. Aku akan memetik semua bunga yang ada di tamanmu. Atau perlu aku akan memangkasnya. Sepertinya kau sudah tak suka mawar lagi” ucapnya sarkatis.

“Jangan..jangan..” suara lirih suzy membuat myungsoo menarik nafas panjang.

“Suzy-ah saengil chukkae!” Donna tiba tiba datang dengan sebuah kado berpita yang cukup besar di tangannya.

Myungsoo refleks melepaskan genggamannya.

Ia tersenyum parau. Donna menatap curiga suaminya itu. Namun segera ditepisnya.

“Ige. Hadiah untuk adikku tersayang!” Pekik donna semangat. Suzy tersenyum kaku. Ia meraba kotak itu. Merobek kertas bergambar yang membungkus kado itu. Setelahnya, ia membuka tutup kotak tersebut. Bisa ia rasakan sebuah benda berbulu yang menyapa telapak tangannya.

“Gomawo” datarnya. Ia tersenyum seperti biasa. Senyuman tulus.

“Kau bermainlah dengan boneka itu ne? Jangan bermain dengan alat make up eonnie lagi, arra?”

Suzy mengerti sekarang. Eonninya tak mau barang barangnya diganggu.

Suzy mengangguk. Ia lalu memeluk boneka beruang yang cukup besar itu. Menutup matanya. Ia merasa sangat nyaman.

“Kkaja!” Donna menarik myungsoo masuk. Meninggalkan suzy yang masih berdiri di taman bersama boneka beruangnya. Teman barunya sekarang.

***

“Lihat! Aku sudah mendapatkan donor mata untuk suzy dan semuanya sangat pas” ucap donna pada myungsoo memperlihatkan data pendonor melalui beberapa kertas yang di masukkan ke dalam sebuah map ketika mereka tengah duduk santai seraya menonton tv di ruang tengah. Suzy yang asyik mengajak main bonekanya yang juga berada di ruangan itu  seketika menghentikan aksinya. Ia terdiam. Bayangan masa lalu ketika kedua matanya harus  rusak karena sebuah peristiwa membuatnya sontak melempar kasar boneka berwarna coklat itu. Sebuah rekaman kelam dalam ingatannya seakan mengingatkannya akan sosok egois seorang bae donna—kakaknya.

“Jasad nyonya bae rusak beserta matanya jadi sebaiknya mata tuan bae yang di transplantasikan ke nona suzy” terang dokter itu kepada donna di ruangannya.

“Tidak perlu! Aku tak mau melihat mata appaku setiap hari. Aku membencinya. Biarkan saja ia buta. Lagipula, jika ia bisa melihat, aku tak akan bisa menikah dengan myungsoo” tanpa sadar ia mengucapkan kalimat itu. Apakah ia egois?

“Kheundae..”

“Nanti saja uisa. Aku akan mencarikannya yang lebih bagus!”

“Kheundae..” dokter itu berusaha menahan keegoisan donna.

Donna berdiri dari kursinya. Ia pergi begitu saja tanpa permisi. Ia bahkan tak menyadari kehadiran adiknya di balik pintu yang dibukanya.

Suzy jatuh terduduk dengan tatapan datar. Airmatanya mengalir begitu saja. Sepertinya keinginannya untuk berjalan jalan di koridor rumah sakit membuatnya harus menelan pil pahit. Ia menyesal melakukannya. Ia berharap tak pernah mendengar kalimat itu keluar dari bibir kakaknya.

Suzy berlari tanpa arah. Sepertinya ia hendak masuk ke kamarnya namun karena mengingat hal tadi, ia jadi kehilangan kendali.

Brukkk!

Suzy sukses menabrak tembok dihadapannya. Ia kembali berdiri berusaha menahan nyeri di wajahnya akibat benturan itu dan kembali berlari.

Langkahnya terhenti ketika menabrak tubuh yang menyeruakkan aroma maskulin. Tubuh itu tak mau membiarkan suzy lewat.

“Kau pasti habis menabrak sesuatu sehingga wajahmu memar. Aish..” myungsoo menarik tangan suzy namun yeoja itu bersikeras menolak.

“Lepaskan! Aku mau tidur!” Bentaknya.

Myungsoo hanya tertawa pelan lalu menarik suzy paksa. Suzy tak bisa menolak lagi.

Myungsoo lalu membantu suzy duduk.

“Tunggu di sini. Aku carikan obat dan plester” pinta myungsoo. Suzy terdiam.

Setelah beberapa detik, myungsoo datang dengan membawa kotak putih bertuliskan P3K.

Ia berjongkok menghadap suzy. Diambilnya kapas putih lalu ia olesi dengan obat merah. Kapas itu ia basuh ke atas memar suzy.

Sebuah plester ia buka lalu ditempelkan di atas jidat suzy.

“Nah selesai!” Ucap myungsoo puas.

“Gomawo” ucap suzy pelan. Masih datar.

“Cah.. aku antar ke kamar”

Suzy menurut. Myungsoo lalu menuntun suzy sampai ke kamar.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata menyaksikan adegan tadi. Tampak dari mimiknya bahwa ia tak suka.

***

“Yak suzy-ah!” Pekik donna geram. Makan paginya serasa menjadi petaka tatkala melihat wajah suzy yang penuh dengan noda lipstik dan alat make up lainnya.

“Sudah kubilang jangan pakai alat make up eonnie!” Donna membanting sendoknya. Namun suzy masih bergeming. Ia tetap memasukkan nasi itu ke dalam mulutnya.

Myungsoo menahan tubuh donna agar bersabar namun donna menepisnya.

Ia lalu menarik suzy yang masih asyik dengan makanannya secara paksa.

“Mussheun irriya eonnie?!” Teriak suzy khas.

Donna marah. Ia tak peduli dengan teriakan suzy. Ia menyeretnya begitu saja ke dalam kamar mandi.

Tanpa pikir panjang, myungsoo menyusul donna dan suzy. Namun donna sudah mengunci kamar mandinya.

Shower itu menumpahkan airnya tepat di atas kepala suzy. Tak lupa, donna menyalakan keran bathup nya.

Ia lalu menghapus kasar noda noda yang ada di wajah suzy.

“Eonnie!” Teriak suzy. Donna murka. Ia mendorong suzy masuk ke dalam bathup. yang airnya mulai penuh.

Suzy terisak keras.

“Yak donna! Apa yang akan kau lakukan pada suzy huh?!” Pekik myungsoo dari luar.

“Hanya membersihkan wajahnya yang ia rusak itu” jawabnya tajam. Kepala suzy ia tenggelamkan di dalam bathup secara tak berperasaan.

“Yak hentikan!” Myungsoo bisa mendengar suzy menangis.

“Yak kau itu cantik! Aku sangat iri! Kau sudah terlahir cantik! Kau harus bersyukur! Sedangkan aku? Aku harus memilikinya lewat operasi plastik! Kau paham eoh?!” Pekiknya emosi.

“Aku sangat benci appa karena dialah yang memberiku gen jelek ini! Aku membencinya!”

“Seharusnya eomma yang cantik tak menikahi appa yang jelek! Ini salahnya!”

Bruakk!

Myungsoo berhasil mendobrak pintu kamar mandi. Ia lalu menahan tangan donna agar menghentikan aksinya. Donna berhenti. Ia berlalu begitu saja dari hadapan myungsoo dengan wajah kesal.

“Gwaenchana?” Tanya myungsoo khawatir. Suzy menggeleng lemah.

“Cha.. kuantar kau ke kamar”

***

Donna menatap map dihadapannya geram. Ia lalu membuka segelnya dan mengeluarkan beberapa kertas dari dalam map tersebut.

Setelah itu, ia merobek secara brutal kertas penting itu. Ia menghamburkannya ke lantai. Menginjaknya sekuat tenaga.

“Aku tak akan membiarkanmu merebut myungsoo!”

***

Donna menerawang langit langit kamarnya dengan sejuta pemikiran menembus otaknya. Ia tengah dilema.

Matanya tak juga terpejam akibat pemikiran pemikiran itu. Myungsoo yang tertidur di sampingnya nampak tak peduli dengan donna yang masih terjaga.

Tiba tiba ia merasa seseorang menarik gagang pintu. Ia sontak berpura pura tertidur.

Yeoja itu berjalan pelan dengan tangan yang tampak meraba raba ke depan.

Ia berhenti melangkah tatkala kakinya menepuk sebuah benda keras persegi. Sebuah tempat tidur.

Tangannya lalu meraba raba makhluk yang tengah tertidur pulas di hadapannya. Tangannya mengelus wajah namja itu.

Donna melihatnya geram.

Setangkai bunga mawar ia letakkan di atas wajah namja itu.

Wajahnya lalu mendekat ke arah wajah namja itu. Bibirnya tepat mengecup bibir namja itu. Ia terkikik lalu mengecup bibir namja itu lagi.

Donna lalu beranjak dari ranjangnya. Ia sekarang berdiri di hadapan suzy. Namun aroma khas kakaknya itu mampu membuat suzy merasakan kehadiran donna di hadapannya.

“Mianhae..eonnie.. aku hanya ingin berterima kasih” ucap suzy takut dan segera berjalan meninggalkan kamar itu.

Donna berdecak. Ia lalu mengambil mawar itu. Meremasnya hingga hancur lalu membuangnya ke lantai.

Ia berjalan keluar. Sepertinya ia berniat menemui suzy.

Mata myungsoo seketika terbuka lebar. Jangan salah, ia sebenarnya menikmati perlakuan suzy tadi. Hal itu membuatnya langsung terbangun. Namun ia mencoba menahannya mengingat istrinya tengah tertidur di sampingnya.

Myungsoo terlonjak ketika mendengar suara teriakan dari luar. Seperti suara suzy yang menangis.

Ia beranjak lalu bergegas menuju sumber suara itu.

***

“Mianhae.. aku hanya ingin berterima kasih..” suara suzy bergetar. Ia menangis.

“Mwo?! Aku tau kalau sebenarnya kau mau merebut myungsoo kan?!”

“Ani-”

“Gotjimmal! Selama ini aku selalu melihat kalian bermesraan! Dasar pengkhianat!” Pekik donna.

“Aku bukan pengkhianat eonnie.. kheundae… eonnie lah yang pengkhianat..” ucap suzy takut. Ia menggigit jarinya.

Plakk!

“Yak! Apa yang kau katakan huh?!”

Suzy terisak. Terlihat dari raut wajah donna bahwa ia menyesal melakukan itu.

Ia berlari keluar dari kamar suzy. Tubuhnya tak sengaja menabrak myungsoo yang sudah sedari tadi berdiri di sana.

“Myung..” nafas donna tercekat. Ekspresinya tambah kesal. Ia berlalu seraya menyambar tubuh myungsoo dan kembali ke kamarnya.

Myungsoo tak peduli dengan donna. Ia malah berdiri mematung melihat suzy yang menangis memeluk boneka beruangnya.

Myungsoo melangkah menghampiri suzy. Tangis suzy tiba tiba berhenti. Ia bisa merasakan kehadiran myungsoo. Indra penciumannya sangat tajam dan perasaannya yang tak kalah tajam.

Suzy melempar boneka itu ke depan tepat mengenai myungsoo.

Hap! Myungsoo menangkapnya.

“Kau mau berterima kasih kan?” Tanya myungsoo. Membuka pembicaraan antar kedua insan itu.

“Ani..ani..”

Myungsoo tertawa pelan. Ia mengembalikan boneka itu kepada suzy. Menyuruhnya memeluk boneka itu.

“Kalau kau ingin berterima kasih.. kau hanya perlu tersenyum di hadapanku. Hanya.. tersenyum padaku setiap hari. Jangan memasang tampang datar terus padaku. Arra?” Ucap myungsoo lembut.

Suzy mengangguk. Myungsoo tersenyum lalu menjatuhkan bibirnya di kening suzy. Meresapi setiap detiknya. Suzy juga merasakan persendiannya terasa kaku. Tubuhnya meremang.

“Cha.. aku kembali dulu. Jangan membuat kakakmu marah lagi, arra? Dan, Jangan lupa apa yang kukatakan tadi” suzy mengangguk.

Myungsoo berbalik lalu meninggalkan suzy yang masih memasang tampang datar. Seulas senyum lalu mengembang di bibirnya.

“Oppa…” gumamnya sambil tersenyum.

***

“Katamu hari ini suzy sudah bisa operasi transplantasi mata”

Gerakan menyendok donna seketika terhenti. Matanya lalu teralih menatap tajam yeoja yang tengah makan dengan tenang.

Rasa cemburu tiba tiba merasuki pikirannya.

“Mereka membatalkannya” sahut donna datar lalu kembali menyendokkan nasinya ke dalam mulut.

“Mwo?! Kenapa.. mereka.. seperti itu huh? Dasar..” umpat myungsoo geram. Ditatapnya suzy iba.

“Mian suzy-ah.. sepertinya kau harus menunggu lebih lama lagi” ucap donna datar.

***

Suzy tertidur di kursi taman bersama boneka beruang itu di sampingnya. Bahkan kehadiran myungsoo tak ia rasakan karena tidurnya yang sangat pulas.

Myungsoo berjongkok menatap wajah suzy dengan jarak yang sangat dekat.

Myungsoo menatap yeoja itu dalam. Untung saja donna sedang keluar. Entah untuk urusan apa. Padahal hari ini adalah hari minggu.

“Sarangheo..” bisik myungsoo. Hal yang selalu ia ucapkan saat mereka berpacaran dulu. Sebelum sebuah tragedi menimpa suzy yang harus merenggut kehidupan indahnya.

“Jeongmal sarangheo..” tanpa sadar, myungsoo malah menjatuhkan airmatanya tepat di atas wajah suzy.

Suzy sekarang bisa merasakan kehadiran myungsoo. Matanya perlahan lahan terbuka.

“Oppa?”

Myungsoo buru buru berdiri dan bergegas pergi dari tempat itu.

Suzy terlonjak. Ia tahu ini hari minggu. Myungsoo tidak mungkin menghampirinya. Tak mungkin juga memberikannya bunga mawar. Namun, tangannya menemukan mawar yang tergeletak di bangku yang ia tiduri.

Suzy tersenyum namun matanya basah. Ia terisak pelan.

sakit, itu sakit, hatiku yang terluka sangat sakit

katakan padaku apa yang
harus kulakukan?

Aku hanya bermain seharian layaknya orang gila

apakah aku dapat melupakannya
dengan menjadi seperti ini?
tampak sedikit menyedihkan
dengan airmata yang mengalir dipipiku

sepanjang malam mengapa aku tak dapat melupakannya?

kenapa, kenapa, kenapa, kakak?
dengan air mataku yang terus mengalir
aku tak dapat melupakannya
dan aku dengan keras kepala-nya
berkata selamat tinggal

apa yang harus kulakukan, kakak?
aku ingin tidur sekarang
tapi hatiku terus memikirkannya

apa yang harus kulakukan, kakak?
kurasa aku tak bisa terus seperti
ini

pernahkah kau jatuh cinta?
pernahkah kau benar-benar cinta?
cinta, untuk orang lain itu persoalan mudah

tapi bagiku, cinta itu seperti tato
permanen

kenapa, kenapa, kenapa, kakak?
kenapa aku tak dapat
melupakannya selama ini?
kenangan yang tidak disengaja
terhapus oleh waktu
Apakah dia sudah melupakanku?

kenapa, kenapa, kenapa
apa yang harus kulakukan, kakak?
aku ingin tidur sekarang
tapi hatiku terus memikirkannya
apa yang harus kulakukan, kakak?
kurasa aku tak bisa terus seperti
ini

sakit, itu sakit, hatiku yang terluka sangat sakit.
katakan padaku apa yang harus kulakukan?

***END***

Kata kata terakhir itu adalah arti lirik cleansing cream. Hanya sebagian aku ambil dan ada beberapa yang aku ubah katanya. So, RCL ne?
Hehehehe^^

Bow~

48 thoughts on “FF Cleansing Cream (OneShoot)

  1. Aduuh…end gitu aja??jdi nasib suzy gimana??tetap tdk ad donor mata??trus myung ttap sama donna??
    Aisshh myung masa jhat sih mau nkahi kakaknya suzy…si donna jga jahatnya gaj ktulung…bener” ishh….
    Sad ending deh thor😦 huhu…aku tunggu ff slanjutnya ne🙂 jail ditunggu :y

    • Yup. Ending kan ga slalu manis. Kadangkala ending jdi misteri trsendiri. Biar ga pada bosen kekeke. Smua tidak hrus butuh pnjelasan kan? *kok jd bawel gini sih* hahahaha mian #plak ghamsahamnida chingu krena sering komen ff ku^^ bow~

  2. hruskah hdup suzy slalu mnderita……bwt seq nya dunk….
    gk rela klo donna yg brjaya….sad end jg gpp yg pnting suzy jgn dtindas gt…nyesek kn….

  3. Iiiiiiihhhh… Myungsoo sama Si donat alis dona sama-sama menyebalkan.😦
    Dona kayak nenek lampir n myungsoo benar-benar bodoh n gak bertanggung jawab. Gak bisa bersikap tegas sama si dona itu. Esmooooooosiiiiiiiiiiii

  4. Yah thir kok sad ending sih? Trus ceritanya gantung lg. Aku nggak terima suzy d bkin kayak gitu. Bikin sequelnya dong thor, tp yg happy ending. Please dong thor bikin sequelnya…

  5. Kesel bgt sma tokoh donna disini >,< pantes aja org tua mereka ga sayang sma donna, lah kelakuannya kaya gitu. Thor, ga adaa rencana dibikin sequel gitu ?

  6. huwaa… sad end😦
    aigoo tega bener si donna… punya hati g’ sie… pdhal tu adeknya sendiri…
    myungpa kau jg tak tegas… kalau cinta yah hrs berkorban.. ngapain malu nikah ma suzy klo emang bener cinta…
    huwaa nyesekk :’-(
    ok.. ditunggu next ff myungzy lainnya ^^

    • Karena orang tuanya jga mnolak. Mian ga dicantumin, krn pst readers udah paham klo myung trpksa. jdi dia mmtskann mnikahi donna agar bsa mlindungi suzy selalu. Klo cinta kan tak harus mmiliki, Cie cie^^

  7. yaa… end nya …😥 huuaaaa… kasian suzy eonni !!! yak !!! kakak macam apa kau! nan niga sirheo!! jinjja.. kakak yang sangat kejam!! bagus banget thor FF nya🙂 tapi end nya thoorrrr >.< nasib suzy eonni😥

  8. poor suzy..
    donna eonni jahatnya gak ketulungan ya Tuhan.. seorang kakak merengguy kebahagiaan adiknya sendiri..

  9. iss myungsoo juga pabo bgt knp gk nikahin suzy aj..wlpun dia sakit ..ko mlh nikah sm dona sih ckckck
    doba juga tuh gk thu diri bgt tuh…kasihan suzy..

    ah ya ending gk seru nih..gk jelas..hahaha…

  10. Sedih ngeliat nasib suzy udh di tinggal ama 0rtu’a mlhan tinggal ama nenek sihir hhuuh myungpa juga pengecut banget knp dy enggk nikahin suzy aja mlhan nikahin nenek lampir hadeh, jadi esmosi sya
    Next’a aq tunggu thor
    Fighting ne …..!

  11. Donna, donna wae?? 😞😞myungsoo tega banget nikahi si donna itu …suzy eonni huwaaa ga tega, orang sebaik zy eonni kenapa harus dapet cobaam kayak gitu seberat itu😥 , author sequel dong

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s