FF JAIL PART 8

image

Title: JAIL
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, drama, family, friendship, mystery (maybe), etc.
Main Cast: Bae Suzy, Kim Myungsoo, Choi Minho
Sub Cast: Kim Jong In/Kai, Krystal jung, Lee jieun, Yang yoseob, OC’s and etc (SubCast dapat berubah sewaktu-waktu)
Length: Chaptered

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

Previous Part:

“Ah mianhae.. gara gara aku, kita kehujanan..” suzy mengalihkan pembicaraan. Ia lalu mengajak myungsoo untuk kembali ke dalam. Namun myungsoo masih bergeming dengan guyuran hujan yang semakin menjadi jadi.

“Jangan sok main drama! Ayo masuk!” Ajak suzy. Myungsoo masih menatap suzy intens.

“Kau tahu apa arti cinta?” Tanya myungsoo tiba tiba. Mimik wajahnya serius. Suzy tertegun.

‘Mwoya?’

***PART 8***

‘Mwoya?’ Batin suzy bingung. Apa maksud myungsoo mengatakan hal itu?

Suzy terdiam. Ia mencoba menangkap maksud perkataan myungsoo. Namun ia terlalu naif. Ia belum mengerti. Apakah hal itu ada hubungannya dengan perasaan myungsoo?

“Kenapa kau tak menjawabnya huh?”

“Myungsoo-ah.. sebaiknya kita masuk saja dulu. Hujan semakin lebat nanti kita bisa sakit” ajak suzy seraya menarik tangan myungsoo.

“Aku tak akan pergi sebelum kau menjawab pertanyaanku” tolak myungsoo halus seraya menahan tubuhnya.

“Kau mencoba memancingku eoh? Gugeo mwoya?” Ucap suzy sarkatis. Ia tak suka ada orang yang memaksakan kehendaknya.

“Baiklah kalau kau tak mau menjawab, aku akan di sini terus” myungsoo melepaskan genggaman tangan suzy lalu kembali duduk di bangku taman.

“Michin..” gumam suzy kesal.

“Yah sudah! Kalau kau sakit aku tak mau merawatmu!” Teriak suzy yang langsung dibalas dengan jempol tanda ‘sip’ oleh myungsoo.

Suzy lalu berlari masuk meninggalkan myungsoo yang masih termenung di sana. Ia merasa sangat kesal dengan sikap keras kepala myungsoo.

‘Apakah ini tanda bahwa suzy tak mau ada cinta antar siapapun lagi? Apakah dia benar benar mencintai minho?’

Myungsoo meremas bajunya. Ia berharap suzy kembali dan menjawab pertanyaan penuh tanyanya tadi. Ia memang harus berkorban agar ia tahu bagaimana suzy memandang cinta itu sendiri.

***

Suzy merapatkan selimutnya. Ia kedinginan. Sesekali ia menghirup aroma teh hijaunya dan meneguknya.

Seorang namja di sampingnya bahkan menggigil dengan selimut tebal di sekujur tubuhnya. Teh hijaunya belum juga ia sentuh.

“Apa jawabanmu?” Namja yang rambutnya masih agak basah itu memecah kebisuan malam dengan suara khasnya di dalam kamar berlabel 202 VVIP itu. Kamar choi minho.

Suzy terdiam. Ia langsung mengingat semua pertolongan myungsoo sewaktu di penjara. Mengingat betapa tulusnya pengorbanan jieun untuk suaminya. Mungkin itu bisa menjadi jawaban.

“Cinta adalah.. banyak menolong. Jika kau cinta pada orang itu atau makhluk itu maka kau dengan senang hati menolongnya sebisamu”

Myungsoo tertawa pelan. Ia tak menyangka suzy akan menjawab dengan kalimat sepolos itu.

“Kau benar..” gumam myungsoo.

Suzy menaruh cangkirnya yang kosong ke atas meja yang ada di kamar itu, di sana juga ada sofa panjang khusus penjenguk.

Matanya lalu melirik ke arah minho yang tampak masih belum sadar. Ia lalu kembali menatap gelasnya seraya berdehem pelan.

“Jadi.. inti dari pertanyaanmu itu apa?” Suzy menoleh ke arah myungsoo yang masih menatapnya sendu.

“Tidak ada. Aku hanya ingin menguji pengetahuanmu” ia tertawa pelan mendengar jawaban tidak masuk akalnya. Mana ada orang yang mau hujan hujanan hanya karena meminta jawaban yang tidak memiliki inti terbesar. Ia berbohong. Yah, ia membohongi hatinya. Sebenarnya, hatinya yang memaksa mengeluarkan kalimat itu untuk menyadarkan suzy bahwa ia mencintainya. Ia sebenarnya sangat mengharapkan jawaban seperti ‘apakah ini sebuah ungkapan perasaan?’ Seperti itu dari suzy atau jawaban yang membuatnya bisa mengatakan isi hatinya karena suzy terus membahas kebaikan myungsoo sewaktu di penjara makanya ia berniat memancing suzy agar ia mengetahui perasaan suzy melalui jawabannya. Konyol memang. Dan sekarang ia merasa sudah gagal karena ternyata suzy hanya menanggapinya biasa saja.

Myungsoo termenung dengan kepala tertunduk.

“Bagaimana menurutmu? Cinta itu huh?” Kali ini suzy yang memberikan pertanyaan tersebut.

Myungsoo mengangkat wajahnya. Ia mencoba membaca wajah dan gerakan suzy. Apakah ia mencoba memancingnya juga.

“Cinta?”

Suzy mengangguk.

“Cinta.. adalah perubah”

Suzy melongo mendengar jawaban singkat myungsoo.

Myungsoo tersenyum lalu melanjutkan ucapannya.

“Ketika kau mencintai seseorang, maka kau akan berubah. Dari seorang yeoja yang dulunya nakal, menjadi yeoja yang tampak manis” myungsoo membayangkan betapa nakalnya dan judesnya sikap suzy dulu. Ia tertawa pelan akan hal itu.

“Dari namja cuek menjadi namja yang perasa dan protektif” ia mengingat dirinya yang sangat cuek. Suzy menyimak. Keningnya seketika berkerut.

‘Apa maksud myungsoo? Apakah myungsoo memiliki cinta terhadap..? Ahh.. aniya aniya!’ Suzy menggeleng pelan.

“Dari namja yang pendendam, menjadi namja yang cukup tenang. Semuanya merubah hidup seseorang. Itulah cinta..” ucapnya mengakhiri penafsirannya.

Myungsoo tersenyum. Ia bisa melihat ekspresi terkejut suzy. Sepertinya suzy tak senaif itu. Ia pasti tau yeoja yang dimaksud adalah dirinya.

“Myungsoo-ah..” panggil suzy.

“Hm?”

“Ah.. aniya..”

‘Tunggu! Dari yeoja yang nakal menjadi yeoja yang tampak manis? Itu artinya.. aku jatuh cinta?’

***

“Myungsoo-ah..” panggil suzy pada sosok namja tampan yang tengah duduk di kursi yang biasa ia pakai seharian bekerja di pusat rahasia bae sung moon. Suzy lalu duduk di kursi yang ada di hadapan myungsoo—hanya terhalang oleh meja.

Myungsoo mengangkat wajahnya setelah mendengar panggilan itu.

“Ne?”

“Kau tak sibuk?” Tanya suzy ragu.

“Ah.. aniya.. memangnya kenapa?” Jawab myungsoo seraya merapikan kertas kertas dan barang barang yang ada di mejanya. Sebenarnya ia sibuk

“Aku ingin meminta pendapatmu tentang temanku”

“Gigeo mwoya?”

Suzy tampak menimang nimang. Apakah ia harus menceritakannya?

“Begini.. ngg..”

Myungsoo tampak menunggu dengan sabar.

“Saat aku di penjara, aku bertemu dengan seorang yeoja. Yeoja ini akhirnya menjadi temanku. Dia sangat baik padaku. Bahkan ia sering membuatku tersenyum. Dan dialah yang membuatku pertama kali tersenyum saat berada di penjara itu. Dia punya masalah sekarang dan..” suzy menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.

“..dia meminta bantuanku”

“Gheurae? Apa hubungannya denganku?”

“Masalahnya.. yeoja itu bermasalah dengan..” suzy menggigit bibir bawahnya.

“..kai” lanjutnya. Tubuhnya meremang. Seolah olah nama kai bagai kutukan baginya.

“Mwo?!” Mata myungsoo membulat.

“Ne. Aku sangat ingin membantunya kheundae.. ternyata ia berurusan dengan orang yang hampir merenggut..” suzy meremas kemejanya, menunduk. Tak sanggup melanjutkan kata menjijikan itu lagi.

Myungsoo kosong. Ia tak tahu harus memberikan saran apa.

“Eotthae?” Tanya suzy kemudian. Ia melihat kening myungsoo mengkerut seperti tengah berpikir. Pasti ada jalan keluar!

“Aku tak mau kau terlibat lagi dengan mafia mesum macam kai. Kheundae.. aku juga tak bisa membiarkan namja itu merenggut kebahagiaan orang orang disekitar yeoja yang kucintai..” Upps! myungsoo keceplosan! Ia mendadak kikuk. Keringat dingin keluar begitu saja dari pelipisnya. Apa yang baru saja ia katakan?!

Ia bahkan tak berani menatap suzy. Namun suzy mengangkat wajah myungsoo, memaksa agar menatapnya. Suzy tak suka lawan bicaranya tak menatapnya.

Myungsoo berusaha merilekskan otot otot wajahnya yang kaku. Suzy tersenyum kecil.

Suzy mendengarnya. Bahkan kalimat barusan terus terngiang ngiang di benaknya.

“Mwo?” Tanya suzy pura pura tak mendengar. Terdengar helaan nafas lega dari myungsoo.

“Maksudku, aku tak mau kau dan orang orang disekitarmu harus berurusan dengan namja mesum itu. Aku tau seperti apa watak namja itu. Dia itu keras kepala, licik dan yang terpenting, dia itu mesum. Apalagi setelah mengetahui bahwa ada yeoja yang lebih cantik dari krystal yang ditemuinya. Tidak mungkin ia melepaskan mangsanya begitu saja” tutur myungsoo kaku. Mencoba menyeimbangkan jantungnya yang dagdigdug setelah mengatakan ‘hal’ tadi tanpa sadar.

Suzy mengangguk kaku. Ia sepertinya tak menyimak ucapan myungsoo barusan. Ia malah menikmati sikap kaku myungsoo yang menurutnya lucu.

‘puhahahaha!’ Ia tertawa puas dalam hati.

“Jadi? Apa saranmu?”

Myungsoo mengalihkan pandangannya ke lantai. Mencoba untuk menghindar dari tatapan mata suzy. Lagi.

“Mungkin kita harus menyelesaikannya sampai tuntas” ucapnya tanpa melihat ke arah mata suzy.

Suzy tak sebodoh itu myungsoo! Ia sekarang tau bahwa myungsoo mencintainya. Bahkan sebelum ungkapan tak sadarnya tadi. Dan karena keteledoran myungsoo tadi, membuat suzy mendapatkan bukti yang akurat.

Sepertinya ia setuju dengan pendapat myungsoo bahwa cinta adalah perubah. Ia bisa melihat myungsoo yang dulunya tegas dan cuek, kini menjadi namja yang nampak malu malu dan kaku jika di hadapan orang yang dicintainya. Bahkan namja penuh perhitungan seperti myungsoo seketika blank saat dihadapkan dengan cintanya.

“Baiklah.. kita akan menyelesaikannya bersama sama” ucap suzy seraya tersenyum tulus.

“N-ne” kini myungsoo mengalihkan pandangannya ke sudut atap. Oh betapa konyolnya tingkah myungsoo.

Cup~

“Fighting! Besok aku akan ke rumahmu dan membicarakan permasalahan dan jalan keluarnya secara detail. Annyeong!” Suzy bergegas beranjak dari kursinya lalu berlari pelan keluar. Seulas senyum menghiasi bibir myungsoo. Tangannya tanpa sadar memegang pipinya yang tadi dikecup oleh yeoja itu.

Apakah itu pertanda? Atau hanya ucapan terima kasih? Ah.. aku bisa gila!

***

Suzy mulai memelankan jalannya setelah agak jauh dari ruangan myungsoo. Tangannya memegang dadanya. Ia bisa merasakan jantungnya yang berdegup sangat kencang. Senyumannya kini mengembang.

‘Kenapa akhir akhir ini kim myungsoo selalu membantu mengembalikan mood ku? Apakah itu dinamakan cinta? Sebuah perubah huh?’

“Yak suzy!” Dari ujung sana, suzy dapat melihat dengan jelas seseorang berdiri dengan ekspresi amarah yang memuncak. Bajunya pun terlihat seperti baju pasien rehabilitasi. Apakah namja itu baru saja kabur dari rumah pusat rehabilitasi?

Jantung suzy hampir saja mencelos keluar. Ia takut sekarang. Ia berjalan mundur perlahan lahan.

“Yak jangan kabur!” Teriak namja itu seraya berlari menghampiri suzy. Terlihat dari wajahnya yang kuyu bahwa ia sedang sekarat. Bawah matanya menghitam. Kulitnya tak secerah dulu lagi.

Suzy berbalik dan langsung berlari. Ia merogoh saku celananya, mencari ponselnya. Setelah ia mendapatkannya, tanpa babibu ia langsung menekan nomor di kontaknya. Tangannya gemetar. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan apakah namja itu masih mengejarnya. Ternyata namja itu tak jera.

“Ayo angkat angkat..” gumam suzy tak sabaran.

Ia masih berlari dengan ponsel di kupingnya.

“Jangan lari suzy-ah!” Teriak namja itu lagi. Nafasnya mulai tak beraturan. Pandangannya mulai kabur.

“Pasien rehabilitasi yeongdae, dia kabur! Dan sekarang dia tengah mengejar saya pak!” Ucap suzy langsung tanpa basa basi setelah orang itu mengangkat teleponnya. Nafasnya memburu. Langkahnya mulai melambat tatkala melihat namja itu sudah tak terlihat lagi di belakangnya.

Suzy menghela nafas lega.

Drrt..drrt..

“Yeoboseyo?”

“Anda belum memberitahukan tempat anda dimana. Bagaimana saya bisa mengirim bantuan untuk mengembalikan pasien?”

Suzy menepuk jidatnya pelan. Saking takutnya, ia sampai melupakan alamat tujuannya.

“Dia..”

Ia hampir melupakan suatu hal. Ini masih di kantor ayahnya. Tak mungkin ia memberitahukan markas ayahnya kepada orang lain yang tidak berkepentingan. Bisa jadi masalah yang runyam kalau sampai terjadi.

Tutt.. suzy memutuskan sambungannya sepihak.

Tiba tiba badannya tidak dapat bergerak. Seseorang mendekapnya dari belakang. Mulutnya disumpal oleh tangan kekar orang asing di belakangnya.

“Kena kau!”

Mata suzy membulat.

Suzy berusaha meronta namun orang itu dengan kuat menahannya. Walaupun orang itu sudah nampak kacau karena overdosis nya.

“Ikut aku!”

‘Dowajuseyo!’ Teriaknya dalam hati.

***

Namja itu menatap dingin yeoja yang kedua tangannya tampak terikat oleh tali tambang kecil. Kedua kakinya pun bernasib sama. Hanya mulutnya yang bisa bebas berkoar.

“Apa yang kau lakukan padaku, bae suzy?” Tanya namja itu ketus.

“Aku hanya ingin menyelamat kan mu oppa! Kau sekarat! Kata uisanim itu bahwa kau akan mati akibat overdosis karena mereka mulai menyerang organ vitalmu! Kecuali kau segera dibebaskan dari ketergantunganmu terhadap obat obatan lewat rehabilitasi!” Teriak suzy sekuat tenaga. Ia tak suka tatapan namja itu—minho—padanya.

“Diam! Apakah kau tak paham maksudku huh?! Aku tak suka dipenjara! Aku benci penjara! Aku takut dengan penjara! Dan rehabilitasi itu seperti penjara bagiku suzy-ah!” Minho merengkuh wajah suzy dengan kedua tangannya. Tak mau suzy mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Terus mau oppa apa huh?! Mati? Oppa mau mati huh?” Ucap suzy sarkatis.

Minho tertegun. Rengkuhannya melemas hingga terlepas. Ia jatuh terduduk di hadapan suzy.

“Aku hanya.. tak mau jauh darimu..” gumam minho lirih.

Suzy berdecak.

“Memangnya ada apa denganku sampai kau tak mau jauh dariku huh?” Ucap suzy skeptis.

Minho menatap tajam suzy. Agak lama, sekitar lima menit.

Suasana tiba tiba menghening.

Setelah lima menit berlalu, myungsoo langsung tersenyum. Senyum parau. Ia lalu memajukan tubuhnya ke arah suzy. Dilepasnya tali tali yang mengikat suzy.

Suzy makin melebarkan matanya tatkala melihat minho mengangkat kedua tangannya kedepan, mensejajarkannya.

“Bawa aku kembali” ucap minho pelan.

“Mwo?!”

“Kalau aku mati.. aku.. tak bisa bertemu denganmu lagi kan?”

Suzy melebarkan matanya.

“Oppa..”

“Aku akan sembuh secepatnya” ucapnya mantap.

Seulas senyum tersungging di bibir suzy. Ia lega. Akhirnya minho mau di rehabilitasi dengan sukarela.

“Gomawo” ucap suzy tulus.

***

“Kau tau apa yang ada dalam dirimu sehingga aku tak bisa jauh darimu huh?”

“..Molla..”

“Karena kau yang membuatku kuat. Kau bagaikan narkoba yang membuatku candu. Kheundae, aku harus berhenti mengkonsumsi narkoba kan?. Seperti kau.. aku harus berhenti mengusikmu”

Suzy tersenyum parau. Ia merasa sangat iba melihat kondisi minho walaupun ia tak memiliki perasaan apa apa lagi pada namja ini.

Suzy lalu menghamburkan tubuhnya di pelukan minho. Memeluknya sangat erat.

“Mianhae..” gumam suzy. Minho tersenyum. Senyum tulus. Sangat tulus.

“Setelah aku di rehabilitasi, aku akan menyerahkan diri ke kantor polisi atas kasus pembunuhan jiyeon”

Suzy tersentak.

“Aniya! Jangan..”

“Aku pantas di hukum suzy-ah.. dan kau.. pantas mendapatkan yang lebih baik. Kau bebas sekarang. Arra?” lirih minho. Pengurus pusat rehabilitasi itu lalu membawa minho masuk ke dalam mobilnya.

Suzy masih dalam keterkejutannya. Minho berubah? Jadi, dia benar benar mencintaiku? Kurasa myungsoo benar lagi. Bahwa cinta adalah perubah. Tapi maaf, aku mencintai orang lain. Maaf..

Suzy menangis seraya melambaikan tangannya ke arah minho yang terlihat menatapnya dari balik kaca bening mobil itu. Ia juga membalas senyum suzy.

“Uljimma..” gerakan bibir minho membuat suzy paham apa yang dikatakan namja itu.

Tangannya lalu terangkat ke atas. Membentuk sebuah tanda love di atas kepalanya sambil tersenyum bahagia.

“Jaga dirimu.. minho-ah.. aku akan sering sering menjengukmu” gumam suzy pilu.

‘Semoga namja itu mendengarnya’

***

“Bagaimana tawaranku, jieun-ssi?”

Jieun tampak ragu. Ia sangat dilema. Apakah ia harus menerima tawaran itu? Kalau ia menerimanya maka suaminya akan terbebas dari belenggu mafia itu. Tapi, itu berarti membuat temannya hancur.

‘Eotthokkae?’

“Bagaimana kalau aku bertemu dulu dengan yeoseob oppa untuk memantapkan keputusanku”

Namja itu tersenyum licik.

“Tidak bisa. Kau harus melakukannya dulu. Setelah beres, kau baru bisa bertemu dengan.. suamimu.. eotthae?” Tawarnya lagi.

Kepala jieun menunduk. Ia meremas bajunya kuat. Ia tak tahan lagi. Ia sangat rindu dengan suaminya.

“Tak adakah cara lain huh?” Jieun tampak memohon.

Namja itu menggeleng pelan.

“Atau begini saja, aku akan melunasi hutangnya besok”

“Ani ani. Tidak perlu. Aku tak butuh uangmu. Aku masih punya banyak”

Pikiran jieun makin kalut.

“Tenang saja jieun-ssi.. identitasmu tak akan terbongkar. Kau aman. Ada banyak orang yang hidup di seoul dan orang orang tak akan mencurigaimu. Mereka juga tak mungkin membocorkan identitasmu. Bahkan kau akan di anggap pahlawan” rayu namja itu masih mempertahankan senyum liciknya itu.

Jieun tersudutkan.

‘Siapa peduli dengan yeoja itu! Ia saja tak peduli padaku!’ Batinnya membantah kalimat itu, namun.. ia tak bisa berpikir jernih lagi. Tak ada cara lain.

“mm..Baiklah..” airmatanya tumpah. Sontak, ia menundukkan wajahnya. Tak mau membiarkan namja di depannya itu melihatnya menangis. Kentara sekali bahwa ia sedang menanggung beban yang sangat berat dan mungkin mengisyaratkan bahwa hanya namja di depannya inilah yang dapat membantunya.

Ingat, dia pernah sekali di penjara karena perbuatan kejinya untuk suaminya. Ia tak takut lagi sekarang. Asalkan ia bisa melihat suaminya lagi.

***

“Myungsoo-ah! Myungsoo-ah!” Suzy menekan bel rumah myungsoo secara brutal. Krystal juga tengah berdiri di sampingnya dengan ekspresi cemas. Takut.

“Myungsoo-ah! Bukaaaaa!” Teriak suzy. Ia terisak. Entah sejak kapan ia menangis. Oh ia tak sanggup lagi!

Pintu tak juga dibuka oleh si pemilik rumah.

“Myungsoo!” Tangisan suzy makin keras. Krystal berusaha membuat suzy tenang dengan mengelus bahu suzy. Ia juga mulai ikut menangis.

Suzy jatuh terduduk. Airmatanya tak terkontrol lagi. Ia terisak keras. Tak peduli dengan orang orang yang melihat ataupun mendengarnya. Lagipula daerah mereka sangat sunyi.

Krystal ikut terjatuh bersama suzy. Ia memeluk erat suzy. Airmatanya bahkan membasahi kaos oblong yang suzy kenakan. Bahkan mereka tak sempat memakai alas kaki dan langsung kemari, memastikan sesuatu.

“Appa.. myungsoo.. eotthokhae..” tangis suzy lirih di sela isakannya.

Bagaimana tidak, suzy dan krystal yang tengah bersantai ria di ruang tv seraya tertawa gembira harus mendengar berita memilukan malam itu juga.

Jam 7 malam, tepatnya saat jam operasi pusat rahasia ayahnya akan berakhir, segerombolan pasukan berseragam—entah itu tentara atau polisi—membekuk tempat rahasia ayahnya itu. Bae sung moon dan seluruh kawanannya dibekuk. Besok adalah sidang keputusannya. Ia di bekuk karena kasus narkoba yakni penyalur jual beli narkoba dalam arti mafia narkoba yang selama ini polisi cari. Barang ilegal yang juga haram itu mereka sita beserta seluruh peralatan mafia komplotan bae sung moon. Namun, suzy mendengar kabar, bahwa myungsoo tidak bersama mereka. Mungkinkah myungsoo tak ada saat penggerebekan?

Malam itu juga, suzy langsung menemui myungsoo di kediamannya. Namun rumahnya nampak kosong. Tak ada tanda tanda kehidupan.

Mereka harus kemana? Mereka harus melakukan apa? Mereka tak memiliki orang tua lagi selain bae sung moon. Sanak keluarga lainnya pun tak dikenalnya, apalagi teman. Mereka seakan terisolasi selama bae sung moon menjadi mafia. Hanya myungsoo, minho, krystal dan jiyeon yang menjadi teman suzy selama ini. Begitupun dengan krystal. Yah, semua karena pekerjaan bae sung moon. Itu sudah menjadi resiko. Dan satu lagi, suzy juga pernah memiliki teman saat di penjara. Temannya juga sudah bebas sekarang. Yah, yeoja yang baru saja ingin ia tolong, namun sepertinya harus ia batalkan karena kondisi ayahnya saat ini.

Kemana ia harus mengadu dan melanjutkan hidup tanpa ayahnya? Ia sudah tak punya uang lagi. Hanya rumah yang tersisa tapi tanpa uang sepeserpun.

Mungkin bae sung moon punya tabungan. Tapi, bagaimana cara mengambil uang itu sedangkan ia tak tahu dimana pria parubaya itu menyimpannya. Kode ataupun surat surat lainnya. Mereka berdua tak tau sama sekali. Namun yang terpenting adalah kehadiran sosok ayah itu yang sangat suzy butuhkan. Krystal pun begitu.

Bagaimana hidup mereka selanjutnya? Jiyeon yang mungkin hidupnya lebih baik daripada suzy dan krystal harus meninggalkan mereka lebih dahulu. Minho? Pria itu juga sudah memilih hidupnya dalam rehabilitasi dan penjara yang mencekam. Tinggal myungsoo yang kedua yeoja itu harapkan. Ia yakin, myungsoo pasti tahu jalan keluar semua ini. Namja itu adalah tangan kanan bae sung moon. Ia yakin. Mereka sangat berharap myungsoo dapat lolos dari semua itu.

***

Namja yang sedang asyik menyantap saladnya tak hentinya tertawa ketika mendengar kabar memilukan tentang bae sung moon. Bahkan, melon yang ia makan hampir tersangkut di kerongkongannya.

“Kerja bagus jieun. Dengan begini berarti aku tak melanggar janji antar mafia kan? Bukan aku yang melapor, tapi orang lain. Dan juga bukan orang lain dari kawanan ataupun anak buahku. Janji harus ditepati kan bae sung moon?” ucapnya bermonolog seraya tertawa. Ia merasa menang.

“Situasi yang sangat menguntungkan. Disatu sisi sangat menguntungkanku karena saingan terbesarku sudah hancur. Disisi lain aku bisa membalas dendamku. Makanya, kalau janji itu harus ditepati. Itu pelajaran bagimu bae sung moon” namja itu tertawa lagi sambil membaca koran yang di suatu halamannya nampak sebuah foto seorang pria yang wajahnya di blur. Posisi paling atas,  tajuknya dituliskan bahwa ‘mafia narkoba yang selama ini dicari akhirnya tertangkap’.

“Tuan kai. Ada seseorang yang ingin menemui anda” lapor anak buah pria bernama kai itu.

“Ne! Suruh dia masuk!” Pintanya.

Setelah itu, seseorang muncul dengan ekspresi bercampur aduk. Entah mengapa hatinya sangat sakit saat melihat koran pagi ini.

“Ah.. ternyata kau jieun-ssi, kemarilah.. aku ingin memberikanmu hadiah yang sangat menarik”

Tubuh jieun tampak gemetar. Ia lalu duduk berhadapan dengan kai.

“Kau ingin menemui suamimu kan?”

Jieun mengangguk.

“Camkemman..” kai mengambil ponselnya. Menghubungi salah satu nomor yang ada di kontaknya.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.

“Ehem.. jieun-ssi, sepertinya nomor suamimu belum bisa dihubungi. Mungkin ponselnya mati. Mungkin besok baru aktif lagi. Kembali lah besok. Aku selalu ada di sini” ujar kai setelah mencoba menghubungi yeoseob beberapa kali.

“Memangnya.. dia ada di mana?” Tanya jieun cemas.

“Dia ku suruh bekerja di Los Angeles. Di sana ada gerbong narkoba yang merupakan tempat utama dari sindikat ku”

“Jauh sekali..” jieun makin cemas.

“Aku baru bisa memulangkannya lusa. Jadi, kalau kau sangat rindu padanya, datanglah besok. Aku akan menghubunginya lagi untukmu agar kau bisa mendengar suaranya lagi. Arra?”

Jieun mengangguk namun entah mengapa perasaannya makin cemas.

“Sebagai hadiah tambahan, aku akan memberikanmu ini” kai menyerahkan selembar cek bertuliskan nominal yang sangat besar. Cukup untuk membeli rumah cukup besar dan sebuah kendaraan roda dua.

“Ige..mwoya?” Tanya jieun takut.

“Hadiah tambahan” kai tersenyum aneh.

“Ung?” Jieun melirik nominalnya.

‘Aigoo! Sangat besar!’ Batinnya.

“Ini.. untukku?”

Kai mengangguk mantap.

“Belilah rumah dan kendaraan. Hiduplah dengan tenang bersama suamimu nanti”

Mata jieun berkaca kaca. Tak terasa, airmatanya mulai menetes.

“Ghamsa..hamnida..” ia mengambil kertas itu. Ia beranjak dari kursinya lalu bergegas pamit.

Kai menatap punggung jieun sambil terus tersenyum penuh kemenangan. Namun entah mengapa perasaannya sangat aneh. Ada yang mengganjal.

***

Suzy dan krystal tertidur di kursi ruang tengah dengan mata yang tampak sembab. Rambutnya acak acakan dan keadaannya semerawut.

Bunyi bel dari luar sontak membuat mata krystal perlahan terbuka. Ia bergegas bangkit dari kursi. Menguap sebentar lalu segera berjalan menuju pintu utama.

Ia membuka pintu itu dengan mata yang masih mengantuk. Namun matanya masih bisa melihat siapa yang mengetuk sepagi ini.

Orang itu ternyata tukang pos. Pria itu menyerahkan sebuah surat kepada krystal. Lalu meminta tanda tangan. Krystal mengucapkan terima kasih setelahnya. Setelah itu, krystal kembali masuk.

Ia kembali duduk di kursi yang tadi ia tiduri.

Ia langsung membuka surat itu tanpa menunggu suzy terbangun.

Matanya seketika terbelalak tatkala membaca nama yang tertera di barisan kanan paling bawah.

“Suzy-ah! Irreonna!” Pekik krystal yang langsung membuat suzy terlonjak. Walaupun matanya nampak masih menerawang juga tampak sangat bengkak, ia mencoba menatap krystal.

“Mwoya?” Tanya suzy pelan namun sangat penasaran.

“Ige..”

***TBC***

Haloha readers! Part 9 udah dipastikan tamat. Sebenarnya aku udah mau tamatinnya part 8 tapi kayaknya terlalu panjang kalo semuanya di selesein di part 8 jadi saya memutuskan agar part 9 saja. Huaaah saya ga sabar nih buat ff baru lagi seperti yg saya janjikan di kolom bacot(?) ff 145, genrenya fantasi. Hihiii.. idenya udah terbersit di otak bahkan endingnya udah ada di otak-_- tinggal konfliknya yang dibanyakin hahahaha.

Mian karena momen myungzy yg kurang, mgkin part 9 bakal banyak karena saat itulah.. *nah loh?*

Yah udah, daripada saya bacot mulu, mnding RCL deh. Hahahaha.

RCL ne?

Bow~

86 thoughts on “FF JAIL PART 8

  1. itu surat dr syp?? myungppa di mana?? byk pertanyaan yg muncul
    bhuaaa aq mnta PW part end dong huhu
    kiim ke twitter aq @noviyan94537045

  2. THOR KASIH AKU PW THOR DENGAN SEGALA HORMAT YA AMPUN THOR SI MYUNGSOO KEMANA???? DI SAAT GENTING GINI SERIUSAN DEH THOR YANG DIBUTUHKAN SEKARANG ITU ADALAH PW THOR!!!! ehm… maaf gak sopan.. jadi kakak.. aku masih menunggumu~ 😥

  3. ya ampun itu jieun kenapa jadi begitu??? euh ya kali dia terpaksa,tapi kaaaaan…..😥
    myung kemana ya?? kasian suzy and krystal..gmn kelanjutannya..uhg makin penasaran..
    jadi sebel sama mahkluk tampan itu *lirik kai* hihii

  4. Krna cinta yg trllu ambisium mmbuat qta brubh jg yg tdinya manis jd nakal… Sprti Jieun n Minho srta Jiyeon….
    Keren bgt schhhh part ni bkin seneng n kcwa brsmaan kcwa m Jieun yg mmilih brkhianat,,, bkn sma crtanya😀

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s