FF Perfect Doll (OneShoot)

image

Title: Perfect Doll
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, angst, crime, etc
Main Cast: Kim myungsoo, Bae Suzy, Choi minho
Sub Cast: Park Jiyeon, OC’s and etc.
Length: Oneshoot

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

“Siapa namanya, ahjumma?” Tanya seorang gadis cantik berseragam putih putih kepada seorang wanita parubaya di depannya. Gadis cantik itu bernama bae suzy. Mahasiswa jurusan psikologi semester akhir di Seoul University. Sekarang, ia tengah melakukan praktek kerja lapangan. Ia juga ditugaskan untuk membuat penelitian tentang psikologi melalui pasien pasien yang dihadapinya.

“Namanya kim myungsoo”

Suzy tersenyum lalu segera mengalihkan pandangannya ke arah namja yang tengah duduk di tempat tidur pasien. Namja itu hanya menatapnya tajam. Tatapannya tersirat sesuatu yang ganjil.

Suzy tersenyum ke arah namja bernama myungsoo itu. Namun namja itu tak membalas apapun. Suzy lalu menghampiri namja itu.

“Hari ini kita akan terapi hipnotis” suzy memegang kedua bahu myungsoo. Kini mereka saling tatap menatap. Suzy sontak melepas pegangannya di bahu myungsoo. Sementara myungsoo, kedua tangannya kini menyentuh kedua pipi suzy. Suzy yang sedikit risih sontak memegang kedua tangan myungsoo. Mencoba menghentikan aksi jail myungsoo terhadapnya.

“Mari kita terapi..” ujar suzy takut. Tangan myungsoo sudah terlepas dari pipinya. Namun, jantungnya masih saja berdegup kencang. Namja itu sangat aneh dan.. menakutkan.

Suzy bergegas meninggalkan myungsoo hendak mempersiapkan alat alat untuk terapi kali ini.

***

“Dia sangat menyukai boneka. Aku takut dia menderita kelainan. Kau tahu, dia selalu menyuruhku membelikannya boneka yang aneh aneh. Seperti replika boneka chukky, annabelle” ungkap wanita berpakaian elegan itu diumurnya yang tak lagi muda.

Suzy mengangguk mengerti.

“Sepertinya ia mengalami gangguan jiwa neurotik yang menyebabkan syndrom Obsessive Compulsive Disorder” terang suzy.

“Maksudnya?”

“Menurut ilmu yang saya pelajari, sindrom itu mengakibatkan si penderita menjadi terobsesi terhadap sesuatu. Seperti myungsoo yang terobsesi dengan boneka” jelasnya kemudian. Wanita itu mengangguk.

“Apakah dengan terapis hipnotis ini bisa mengubahnya?”

“Entahlah.. saya juga berharap seperti itu. Karena saya pun bukan psikolog yang memiliki sertifikat. Saya hanya anak magang di sini untuk keperluan penelitian. Kalau mau lebih detail, anda bisa konsultasi dengan psikolog kang haneul. Dia pembimbing saya saat ini”

Wanita itu mengangguk lagi. Ia beranjak dari duduknya dan bergegas pamit.

Suzy mengangguk sopan. Suzy melihat nyonya kim membawa anaknya keluar. Namun, myungsoo tampak tak mau pergi dari tempat itu.

“Ayo myungsoo, kita pulang!” Pinta nyonya kim lembut.

“Aku mau boneka yang seperti itu, eomma..” myungsoo menatap suzy seraya menunjuk ke arah gadis cantik itu. Mata suzy seketika membulat.

“Ne. Nanti eomma berikan padamu”

Myungsoo mengangguk kemudian tersenyum. Senyuman ganjil yang membuat suzy bergidik ngeri.

***

“Bagaimana magang kali ini?” Tanya jiyeon ketika kedua insan itu—suzy dan jiyeon—tengah asyik mengobati keram perut mereka di kantin akibat kelaparan yang melanda.

“Menakutkan. Aku menangani pasien yang aneh” suzy menyeruput jus jeruknya santai.

“Namja?”

Suzy mengangguk.

“Tampan?”

Suzy berpikir sejenak lalu mengangguk ragu.

“Mungkin” suzy mengangkat bahunya tak peduli.

“Wah.. aku penasaran setampan apa dia. Memangnya, namja itu memiliki kelainan apa?”

“Kata eommanya, dia sangat suka mengoleksi boneka”

“Wah.. dia namja yang unik!” Mata jiyeon berbinar binar.

“Ne. Boneka setan seperti chukky dan annabelle” sanggah suzy.

Jiyeon langsung menyemburkan minumannya. Matanya seketika terbelalak.

“Yak jiyeon-ah!” Pekik suzy sembari mencomot tissue dari kotaknya lalu membersihkan wajahnya yang basah karena semburan ala dukun dari jiyeon.

“Mianhae. Boneka setan?!”

“Ne. Dia bahkan menatapku dengan tatapan tajamnya seakan ingin menerkamku. Dia juga berkata pada eommanya ‘aku ingin boneka itu'” Suzy memperagakan gaya misterius myungsoo saat itu dengan ekspresi yang berlebihan.

Jiyeon tertawa keras. Namun dalam hati ia cukup takut mendengar cerita suzy.

“Apakah tatapannya seperti tatapan namja di belakangmu itu?” Tawa jiyeon terhenti tatkala merasakan seseorang tengah mengawasi mereka berdua, mengawasi suzy lebih tepatnya. Matanya lalu menangkap gerak gerik namja yang bersikap sangat aneh itu. Namja itu hanya menatap suzy yang membelakanginya.

Suzy lalu menoleh ke belakang. Nafasnya tiba tiba tercekat setelah melihat sosok pria di belakangnya.

“Dia.. dia adalah namja yang kumaksudkan itu” bisik suzy susah payah. Kenapa namja itu seolah olah seperti menginginkan sesuatu darinya? Tapi apa?

Lagi lagi makanan yang jiyeon kunyah tersembur keluar. Ia tersedak. Suzy memberikan jus jeruknya kepada jiyeon dengan ekspresi dongkol. Lagi lagi jiyeon memuncratkan sesuatu dari mulutnya tepat mengenai wajah suzy.

Suzy mencomot tissue lalu membersihkan wajahnya lagi.

“Aku tak pernah melihat namja seperti itu di jurusan psikologi” bisik jiyeon setelah meminta maaf.

“Ne. Nado” suzy tampak berusaha sesantai mungkin padahal jantungnya berdegup di atas batas normal.

Mata jiyeon teralih ketika seorang namja tampan menghampiri meja mereka.

“Minho” bisik jiyeon kepada suzy. Suzy menoleh ke samping. Dilihatnya namja yang tersenyum sumringah berjalan menghampirinya.

“Aku duluan yah!” Pamit suzy. Jiyeon mengangguk.

“Aku yang bayar!” sahut jiyeon.

“Gomawo”

Suzy lalu berlari pelan menghampiri namja bernama minho itu. Ia menghamburkan dirinya di dalam dekapan minho.

“Kkaja!” Ajak minho.

Jiyeon masih melirik ke arah myungsoo yang menatap pemandangan tadi dengan sorot mata yang menakutkan. Jiyeon buru buru beranjak dari tempat tersebut. Ia merasa risih berada di dekat namja aneh itu.

***

“Myungsoo kuliah dimana sekarang, ahjumma?” Tanya suzy ketika berkonsultasi dengan nyonya kim.

“Dia sekarang menempuh kuliah di seoul university jurusan seni rupa, semester akhir” jawabnya.

“kemarin aku melihatnya di jurusan psikologi”

Nyonya kim tersentak. Ia tersenyum kaku.

“Mungkin dia memiliki urusan lain di sana” sahut nyonya kim.

Suzy mengangguk.

“Besok, psikolog kang akan menangani kim myungsoo. Silahkan ahjumma berkonsultasi padanya”

“Jadi, psikolog bae tidak datang besok ke rumah sakit ini?”

Suzy mengangguk sopan.

Seperti hari sebelumnya, sebelum ibu-anak itu meninggalkan ruangan, myungsoo meminta eommanya membelikannya boneka dengan menunjuk ke arah suzy.

“Ne. Nanti eomma berikan padamu”

Myungsoo tersenyum ganjil lalu bergegas meninggalkan ruangan.

Mata suzy tak lepas mengikuti gerak gerik myungsoo. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa setelah myungsoo menghilang dari balik pintu. Ia menghela nafas berat.

“Kapan ini akan berakhir? Kenapa aku harus berurusan dengan namja aneh seperti dia?” Suzy bergumam. Ia menerawang ke atas langit langit ruangan, lagi, ia menghela nafas berat. Suzy berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu adalah salah satu resiko menjadi psikolog. Harus menghadapi pasien yang aneh.

***

Mimik serius terpancar dari raut wajah gadis cantik itu ketika sebuah buku psikologis dengan ketebalan minimun berhasil ia sikat habis. Ia menutup buku itu. Mengangguk tanda paham.

Ia lalu membawa buku itu kembali ke tempatnya. Ketika ia menempatkan buku itu di salah satu sisi yang kosong, tak sengaja matanya menangkap sosok yang seharian ini menganggu pikirannya di balik rak buku itu. Sosok itu tengah menatapnya dengan senyuman khasnya. Suzy tersentak lalu buru buru menaruh buku itu di tempatnya.

Ia berlari pelan ke arah meja yang tadi ia gunakan. Mengambil tas catchy nya lalu bergegas pergi dari tempat itu.

Namun, langkahnya tiba tiba terhenti ketika sebuah tangan menahan lengannya dengan cengkraman yang sangat kuat. Suzy sampai meringis karenanya.

“Appo..” gumam suzy.

“Eomma mengundangmu makan siang di rumah, suzy-ssi” ucap namja itu. Suzy masih meringis. Oh sungguh cengkramannya sangat kuat!

“N-ne.. bisakah kau melepasku myungsoo-ssi? Ini sakit..”

Myungsoo sontak melepaskan cengkramannya. Ia tersenyum aneh lalu menarik suzy pergi dari tempat itu menuju parkiran.

“Sekarang? Bukankah sebentar kau ada konsul dengan psikolog kang?”

Myungsoo terdiam. Tangannya masih bernafsu ria mencengkram pergelangan tangan suzy. Meski tidak sekencang tadi, namun sikap myungsoo berhasil membuatnya mengeluarkan keringat dingin.

‘Aku lupa! Aku sedang menghadapi orang aneh!’ Batin suzy merutuki ucapannya tadi.

“Jwosunghamnida myungsoo-ssi.. aku ada janji dengan temanku sekarang. Bagaimana kalau besok saja?”

Myungsoo menghentikan jalannya.

“Dengan siapa?”

“Chingu”

Myungsoo tiba tiba melepaskan genggamannya.

“Pergilah. Besok jangan lupa. Aku akan mencarimu. Aku tak mau mengecewakan eomma”

Suzy mengangguk kaku. Ponselnya tiba tiba berdering. Nama minho tertera di layar monitor ponselnya. Ia berjalan meninggalkan myungsoo. Tangannya melambai ke arah seorang pria dengan motor sport. Dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas jinjing. Berlari pelan menghampiri namja itu. Cipika cipiki mewarnai pemandangan mata myungsoo. Motor itu lalu melaju dari tempat itu.

Myungsoo. Matanya memicing ke arah minho. Mengangguk paham lalu berjalan menuju motornya.

Ekspresinya terlihat aneh dan tak bisa ditebak.

***

“Oppa kenal dengan kim myungsoo? Dia mahasiswa seni rupa juga” tanya suzy kepada namja yang tengah duduk berhadapan dengannya. Mereka tengah berada di starbuck’s coffee sambil menjajahi laptop dan surat surat penting lainnya untuk merancang skripsi semester akhir.

“Ne. Dia sangat jarang terlihat” minho meneguk sekali kopinya lalu kembali menatap laptop di depannya.

Suzy mendesah. Kembali ia mengacau pada kopinya.

“Bagaimana sikap dan sifatnya di kampus?” Tanya suzy lagi yang langsung mendapatkan tatapan curiga dari namjachingunya.

“Kenapa kau terus bertanya tentangnya?” Minho balik bertanya. Kali ini ia melepaskan pandangannya dari monitor.

Suzy sontak salah tingkah. Ia mengambil cangkir yang tampak sudah kosong, meresapinya pura pura. Saking gugupnya ia sampai lupa bahwa kopinya sudah habis.

“Ah.. aku cuma ingin tahu bagaimana kepribadiaannya karena dia adalah pasienku untuk penelitian” terangnya gugup. Kenapa suzy harus gugup?

Minho mengangguk lalu kembali pada posisi awalnya—menatap benda elektronik tipis itu.

“Dia sedikit misterius” balas minho sambil menjajaki tangannya di atas mouse.

Suzy mengangguk lalu matanya menerawang ke depan. Tepat di belakang minho, bisa ia lihat seseorang yang tak asing tengah duduk menghadapnya sambil menikmati kopi yang dipesannya. Seperti biasa, namja itu menatapnya dengan senyuman aneh, ganjil.

“Kim myungsoo itu.. dia terkena syndrom aneh” gumam suzy yang langsung menghentikan kegiatan minho. Matanya melihat mata suzy yang fokus melirik ke depan, tepat di belakangnya. Minho lalu mengikuti arah tatapan suzy. Ia menoleh ke belakang.

“Suzy!” Suara minho langsung membuyarkan lamunan suzy.

“Mwo?”

“Kau sedang menatap kim myungsoo?”

Suzy mendadak kikuk.

“Ani. Aku hanya memperhatikan gerak geriknya untuk penelitian” sanggah suzy.

“Sama saja. Kau menyukainya huh? Menyukai pasienmu sendiri?” Minho mulai memicing. Ia terlihat tak suka dengan sikap suzy.

“A-aniya! Aku hanya ingin menelitinya! Ini untuk skripsi ku oppa!” Bantah suzy.

Minho mematikan laptopnya dan membereskan semua peralatannya.

“Aku tak mau kita bertengkar hanya karena namja tak jelas seperti kim myungsoo. Lebih baik kita pulang saja” ucap minho sedikit ketus. Ia berdiri dari kursi lalu menarik suzy meninggalkan cafe itu.

Suzy meringis.

“Jangan berlebihan oppa! Ini hanya sebatas penelitian!” Bantah suzy ketika mereka sudah berada di atas motor.

“Penelitian penelitian penelitian! Hanya itu yang bisa kau katakan huh?! Jangan jangan kau selingkuh dengannya diam diam!”

“Oppa!” Pekik suzy tak tahan dengan sikap posesif minho yang sangat kekanak kanakan.

“Diamlah!” Bentak minho. Suzy mengerucutkan bibirnya.

“Terserah!” Balas suzy ketus.

Ia memutar bola matanya kesal. Hal ini jarang terjadi. Dan ketika itu terjadi, langsung membuat suzy kesal setengah mati.

Tiba tiba sebuah motor sport yang tak kalah besar dari motor minho sudah berada di sampingnya. Pengendara itu membuka kaca helmnya lalu menoleh ke arah suzy. Ia lagi lagi tersenyum aneh, ditambah telunjuknya yang menunjuk nunjuk minho.

Minho seketika menoleh ke samping karena merasa risih dengan pengendara aneh yang terus terusan menyamai laju kendaraannya. Matanya membelalak ketika melihat wajah itu lagi. Ia bergumam dengan umpatan. Kakinya yang lost control langsung mendorong motor myungsoo sehingga membuatnya tak terkendali dan hampir terjatuh.

“Rasakan itu namja aneh! Makanya jangan mesum sama yeojachingu orang!” Teriaknya seraya tertawa remeh. Myungsoo menepikan motornya. Matanya memicing. Menatap tajam sepeda motor yang sudah meninggalkannya jauh. Tangannya mengepal kuat.

***

Pagi berkabut dengan awan hitam mengepul di atas langit. Menutup matahari yang pagi itu hendak menampakkan cahaya gemilaunya. Dari langit, tampak miliaran titik air yang tumpah. Semakin lama semakin deras sehingga membasahi tanah yang kering kerontang. Entah mengapa, pagi yang cerah di musim panas itu malah mengubah pandangan para insan bahwa tak selamanya musim panas itu kering. Ada saatnya bumi mereka itu basah.

Segerombolan manusia meneriakkan tangis pilu atas kepulangan kerabat, saudara, teman, sahabat, ataupun pasangan menurut pandangan mereka masing masing. Seorang yeoja berbalut hanbok hitam—sebuah pakaian khas kematian—berdiri di depan sebuah pigura seorang namja yang tampak tersenyum. Di sekeliling pigura itu, terdapat banyak bingkisan pilu berupa rangkaian bunga bunga dalam hiasan duka cita.

Dengan mata yang tampak sembab, yeoja berparas bak boneka itu meletakkan sebuah bunga khas di depan pigura. Badannya ia jatuhkan di atas lantai dengan lemasnya. Matanya kini basah dengan isakan pelan memilukan yang keluar dari bibir mungilnya. Kepalanya tertunduk, lemah. Tak sanggup mengucapkan kata apapun saat ini. Yeoja cantik itu terlihat menjadi tontonan pilu dari orang orang disekitarnya yang turut andil dalam upacara kelabu itu. Sorot mata mereka menatap sendu dan iba ke arah yeoja itu. Seorang wanita parubaya dengan jepitan manis yang menggulung mahkotanya, menghampiri yeoja yang terisak itu—suzy. Menyapukan tangan keriputnya di atas punggung yeoja itu. Memberikannya kesadaran bahwa semua makhluk bernyawa akan meninggalkan dunia ini suatu saat nanti. Hanya menyisakan kenangan. Entah dengan cara apapun.

Namun, suzy masih enggan menghentikan tangis pilunya. Enggan beranjak dari hadapan pigura sang empunya kematian.

Kristal bening yang kini membasahi wajahnya, ikut membasahi lantai di hadapannya. Airmatanya terjatuh ke atas ubin nan dingin itu karena kepalanya terus tertunduk. Tak sanggup menghadapi kenyataan di depannya. Tak sanggup melihat kenyataan yang sudah terjadi.

Pikirannya kini melayang layang. Membayangkan ekspresi terakhir namja di pigura itu. Ekspresi cemburunya. Ekspresi kesalnya.

Pikirannya juga terbersit bayangan tentang benda berwarna merah pekat nan kental itu. Ketika melihat jasad yang sudah membiru dan berlumuran darah. Matanya membelalak. Tubuhnya mendingin.

Tubuh tanpa ruh itu tergeletak serampangan di dekat sebuah tong sampah dekat rumahnya. Membuatnya sontak tak sadarkan diri. Dan setelah sadar, ia langsung melihat dirinya berada di tempat tidur.

Namja itu sudah pergi. Pergi tanpa kata, dengan keadaan yang memilukan. Tragis!

Suzy masih tak bisa melupakan kejadian itu. Bahkan sampai mati sekalipun. Ia melihat namjachingunya sendiri tewas dengan cara tak wajar. Dibunuh. Dihabisi oleh seseorang atau mungkin beberapa orang. Polisi masih meneliti kasus ini. Ternyata mereka belum menemukan bukti, jejak, bahkan sidik jari. Mereka masih belum menemukan titik terang atas pembunuhan itu. Mungkin yang melakukannya adalah orang yang sangat profesional.

“Minho-ah..” gumam suzy terisak. Masih setia di depan pigura itu. Walaupun semua pelayat sudah meninggalkan rumah duka sedari tadi. Hanya dirinya, bersama seorang wanita parubaya yang merupakan ibu dari minho. Mungkin ruh minho masih bergentayangan di sana. Kasat mata.

***

“Akhirnya kau ke kampus juga setelah satu minggu tak pernah datang” ucap jiyeon ketika melihat suzy berjalan menghampirinya.

Suzy hanya tersenyum hambar lalu mengajak jiyeon ke kantin.

“Mianhae suzy-ah karena tak ke pemakaman. Karena saat itu aku tak bisa pulang karena nenekku juga sakit dan tak ada yang merawatnya di daegu” ucap jiyeon dengan raut wajah penuh penyesalan.

“Gwaenchana..” suzy tersenyum hambar.

“Kau tampak pucat dan kurang tidur” jiyeon memperhatikan wajah suzy.

“Gwaenchana..” mata suzy kini teralih ke arah namja yang dari kemarin tampak mengikutinya. Entah untuk maksud apa. Ia menatap namja itu datar.

“Bagaimana dengan penelitianmu?” Jiyeon menyeruput jus avocadonya santai. Ia mencoba membuat suzy lebih relax.

“Entahlah.. aku sudah lama tak ke rumah sakit” jawab suzy sekenanya. Suzy menarik pandangannya ke arah makanan yang baru saja di sajikan oleh pelayan kantin. Ia lalu menyendokkan makanan tersebut masuk ke dalam mulutnya.

“Kau tak berniat membatalkan penelitianmu kan? Jangan sampai kau menunda skripsimu suzy-ah..” ucap jiyeon cemas.

“Ne” sahutnya datar.

***

Suzy menyibukkan dirinya dengan buku psikologi di hadapannya. Ketebalannya mencapai buku buku legendaris yang langsung membuat perut siapapun mual. Namun tidak bagi suzy, pengetahuan tentang psikologi begitu mahal baginya, sehingga mengharuskannya membaca setiap buku supertebal itu dan menyimpan setiap teori serta pelajaran di dalamnya.

Ketika tangannya mengambil buku paling atas yang ia tumpuk saat mengambil semua buku yang diperlukannya, pandangannya bertemu dengan sosok namja penyuka boneka itu. Ia tersenyum aneh ke arah suzy.

“Kenapa selalu mengikutiku?” Tanya suzy to do point. yang mulai gerah dengan tingkah myungsoo.

“Kau masih memiliki janji padaku”

“Gugeo mwoya?” Suzy menyimpan kembali buku itu di samping buku yang bertumpuk dan kembali menatap namja di depannya itu malas.

Myungsoo lalu membongkar buku yang tertumpuk itu agar bisa melihat yeoja dihadapannya dengan leluasa.

“Makan siang di rumahku. Eommaku mengajakmu makan siang. Masih ingat?”

Suzy tersenyum datar.

“Baiklah. Kheundae, sekarang jangan ganggu aku dulu. Sebentar kau kembali lagi kalau sudah waktunya makan siang” ucap suzy datar.

Myungsoo mengangguk.

“Baiklah. Aku akan mencarimu” myungsoo beranjak dari kursinya lalu bergegas pergi dari tempat itu. Mata suzy mengikuti gerak gerik namja itu sampai tak terlihat lagi di perpustakaan tersebut.

“Dasar aneh..” gumam suzy lalu kembali melanjutkan kegiatan yang tertunda tadi.

***

“Naiklah” pinta myungsoo kepada suzy setelah menyerahkan sebuah helm berwarna pink kepada suzy.

Suzy menuruti perintah myungsoo.

“Pegangan”

Suzy lagi lagi menuruti perintah myungsoo.

Namja itu tersenyum aneh. Motor hitam itu lalu melaju meninggalkan parkiran yang masih dipenuhi oleh berbagai macam kendaraan.

***

“Aku dengar dengar.. temanmu yang saat itu menendang motorku sampai aku hampir terjatuh, meninggal yah?” Myungsoo membuka pembicaraan yang semula bisu.

Suzy berdehem pelan.

“Aku turut berduka cita” ucapnya datar, seperti biasa.

“Yah.. kheundae, dia bukan temanku. Dia namjachinguku”

Myungsoo tertawa. Tawa yang sedikit menyeramkan.

“Kenapa berbohong?” Tanya myungsoo setelah menghentikan tawanya.

Suzy terdiam. Betul juga. Untuk apa dia berbohong? Toh, myungsoo bukan siapa siapanya. Mungkin, ia hanya sedikit takut. Tapi, untuk apa ia takut? Dalam hal apa?

“Kenapa tak menjawab juga?” Suara myungsoo kembali mengusik indra pendengarannya.

“Nado molla”

Myungsoo tersenyum.

“Aku akan memaksamu menjawab”

“Bukankah biasanya orang akan mengatakan ‘aku tak akan memaksamu mengatakannya’, kenapa kau malah memaksaku?” Suzy tertawa kecil. Ia tak menyangka pria ini memilki selera humor juga. Ia mengira pria di depannya itu adalah namja dengan psikis yang agak melenceng.

“Aku serius. Kau harus menjawabnya” ia tampak memaksa, namun dengan nada datar.

Tawa suzy pecah.

“Kau lucu” ejek suzy.

“Aku tidak lucu. Aku serius”

Suzy tertawa lagi.

“Mungkin itu salah satu bagian dari gangguan psikis yang kau alami” tutur suzy antara bercanda dan serius.

“Jawab pertanyaanku tadi” pinta myungsoo lagi.

Suzy tertawa. Namja ini terlihat lucu.

“Baiklah.. semua itu karena aku takut padamu. Dan jangan tanya kenapa aku bisa takut padamu karena aku juga tak tahu”

“Baiklah. Aku tak akan tanya lagi”

***

“Masuklah..” ajak myungsoo. Suzy menurut. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah besar itu.

“Eomma! Makanannya sudah siap?!” Panggil myungsoo dari ruang tamu kepada eommanya yang ada di dapur.

“Sedikit lagi!”

“Baiklah! Aku tunggu!”

Myungsoo lalu menyuruh suzy mengikutinya ke ruang tengah.

“Kau hanya tinggal berdua dengan eommamu?” Tanya suzy setelah mereka sudah sampai di ruang tengah. Myungsoo mengangguk sambil menyalakan tv, lalu membuka toples kue dihadapannya.

“Makanlah” ia mencomot keripik kentang itu sambil tetap menatap ke layar tv. Menyajikan film horror yang kembali diulang di channel khusus. Film yang bercerita tentang boneka setan, annabelle, the conjuring.

“Filmnya bagus” puji myungsoo antusias.

“N-ne” sahut suzy takut.

“Myungsoo-ssi, toiletnya dimana?” Tanya suzy kemudian.

“Kau jalan terus ke dapur lalu belok kiri” sahut myungsoo sambil fokus menatap layar tv.

Suzy langsung beranjak dari sofa dan berjalan menuju tempat tersebut.

Sesampainya di pembelokan yang ada di dapur, ia melihat di depannya terdapat dua pintu berjejer yang bentuk dan warnanya hampir mirip. Tanpa mengetahui toilet yang dimaksud, ia langsung saja membuka pintu sebelah kiri. Matanya seketika membulat setelah melihat sesuatu yang ada di dalam ruangan itu. Ternyata suzy salah membuka pintu. Ia membuka pintu gudang.

Dadanya berdegup diatas normal. Keringat dinginnya juga nampak mengucur pelan. Ia menutup perlahan pintu gudang itu. Matanya masih membulat tak percaya.

Suzy lantas membatalkan niatnya ke toilet.

“Myungsoo! Makanannya sudah siap!” Suara nyonya kim mulai terdengar membuat suzy langsung menuju ruang makan.

***

Nyonya kim terus berceloteh selama makan siang itu berlangsung. Suzy hanya diam, menyimak tanpa berniat bergabung dalam pembicaraan yang malah membuatnya semakin tak enak hati, ia ketakutan. Nyonya kim terus bercerita tentang myungsoo, myungsoo dan myungsoo dengan antusias berlebihan. Namun myungsoo hanya diam tanpa sedikitpun niat untuk membantah atau masuk ke dalam pembicaraan eommanya. Sama seperti suzy. Dia hanya fokus menghadapi makanan di depannya walaupun telinganya merekam setiap suara yang ia dengar.

“Bagaimana makanannya, suzy-ssi?” Tanya nyonya kim yang bingung melihat ekspresi suzy.

“Jeongmal masshita, ahjumma” sahut suzy pura pura antusias. Suzy sebenarnya sangat menikmati makanannya. Karena jujur saja, makanan buatan nyonya kim sangat enak. Namun, perasaan takutnya membuatnya merasa was was hingga terlihat jelas di wajahnya.

Suzy meneguk air putihnya kikuk.

“Myungsoo-ssi, aku penasaran dengan boneka koleksimu” ucap suzy spontan. Hanya untuk memecah kebisuan diantara mereka.

Myungsoo menoleh ke arah suzy dengan makanan yang masih penuh di dalam mulutnya. Ia menelannya paksa lalu mulai berbicara.

“Kau mau melihatnya?” Myungsoo meneguk habis minumannya.

Badan suzy seketika meremang. Di kepalanya kini terbayang boneka boneka seram yang pernah ia saksikan di tv ataupun di laptopnya.

“Besok saja myungsoo-ssi. Karena sepertinya hari mulai malam. Aku harus segera pulang” tolaknya halus. Ia mengutuk dalam hati perkataan spontannya tadi.

“Ne. Baiklah”

“Ghamsahamnida makanannya ahjumma dan ajakannya. Makanannya sangat enak” suzy tersenyum tulus. Ia beranjak dari kursinya lalu bergegas pamit.

“Datang lagi besok, ne?” Ajak nyonya kim.

Suzy mengangguk kaku lalu tersenyum. Ia terpaksa. Ia hanya berharap semuanya akan baik baik saja. Berharap semoga apa yang dilihatnya bukanlah hal yang selama ini ia takuti.

“Mau aku antar, suzy-ssi?” Suara nyonya kim sontak menghentikan langkah buru buru suzy.

“Tidak usah, sangat merepotkan” jawabnya tak enak.

“Baiklah.. Aku juga tak mungkin memaksakan kehendakmu. Gherom, hati hati dijalan, ne?”

Suzy mengangguk seraya tersenyum, lalu kembali berjalan. Myungsoo menatap kepergian suzy tanpa niat mengantarnya pulang. Matanya kembali menatap eommanya setelah suzy menghilang di balik pintu.

“Aku mau boneka itu, eomma” ucap myungsoo.

Nyonya kim tersenyum.

“Ne. Bersabarlah, chagi-ya..”

***

Lagi. Langit menampakkan warna kelabunya disertai cahaya yang meredup. Sang mentari malu malu bersembunyi dibalik awan hitam kelam itu. Rintik rintik rinai hujan mulai membasahi tanah yang kering. Lama kelamaan semakin memaksa untuk menumpahkan lebih banyak debit lagi. Membuat bumi seoul semakin basah. Tak ada yang memprediksikan hujan akan turun hari ini. Terbukti dari banyaknya insan yang setia menunggu jemputan di tempat mereka masing masing. Tanpa membawa benda ajaib pelindung hujan itu.

Tak seperti hari hujan sebelumnya, tampaknya kali ini hujan lebih deras bergemerisik. Gelegar sang guntur memecah alam bersama guyuran hujan menapaki tanah.

Tangan mungil gadis cantik itu menggenggam lembut rinai hujan yang tumpah dari atas genting. Tatapannya tampak suram. Seolah mengingatkannya akan kejadian memilukan di hari hujan sebelumnya. Hari dimana kejadian pilu nan tragis harus terjadi pada orang yang dicintainya. Suzy kembali menggenggam benda bening itu namun nihil. Tak ada manusia yang dapat menggenggam air.

Suzy masih betah berlama lama menatap hujan yang tak kunjung reda. Ia tak tahu harus melakukan apa. Sepertinya ia merupakan salah satu insan yang tak memprediksi hujan hari ini. Lebih baik ia menunggu hujan itu berhenti. Ia tak mau pulang dan dimarahi oleh eommanya karena basah kuyup.

Tiba tiba sebuah lengan menggerayangi lehernya. Membuatnya tersentak lalu menoleh ke arah orang yang tega membuat jantungnya hampir mencelos keluar.

“Myungsoo?” Gumam suzy.

“Aku menjemputmu. Kau sudah berjanji mau makan siang dirumahku kan?”

Suzy mengangguk kikuk. Damn! Kenapa namja ini harus mengingatnya?

“Kkaja! Aku bawa mobil”

***

Celotehan panjang nyonya kim menghiasi makan siang mereka. Suaranya menari nari bersama hujan dan halilintar yang masih bersahut sahutan. Nampaknya hujan masih enggan menghentikan aksinya. Masih enggan menukar posisinya dengan sang warna warni keemasan yang membentang cakrawala.

Suara gaduh nyonya kim masih mengoyak ngoyak pembicaraan mereka. Sesekali terdengar tawa lepas dari gadis muda itu—suzy—karena lelucon nyonya kim yang dirasanya cukup lucu untuk ditertawakan. Suara sendok dan piring saling beradu dengan pembicaraan siang yang dingin itu. Myungsoo masih memilih diam walaupun telinganya masih berfungsi dengan baik.

“Kau mau melihat koleksi boneka ku kan, suzy-ssi?” Akhirnya myungsoo bersuara.

Suzy menyapu bibirnya dengan serbet setelah acara makan siangnya selesai.

“Ne. Eoddiga?” Balas suzy sedikit takut.

“Ikut aku” ajak myungsoo. Suzy lalu berpamitan dengan nyonya kim yang dibalasnya dengan senyuman.

***

Mata suzy terbelalak setelah melihat ratusan boneka dengan bentuk dan jenis berbeda di dalam sebuah lemari kaca di depannya. Mata suzy lalu menangkap sebuah kotak dengan lapisan kaca yang membuat benda di dalamnya terlihat. Suzy bisa melihat sepasang boneka pengantin raksasa dengan pakaian yang selaras. Tatapan mata boneka itu cukup menyeramkan. Tubuh suzy langsung meremang setelah melihat ratusan boneka yang tak biasa itu.

Suzy melangkahkan kakinya menuju boneka dengan pakaian pengantin tersebut. Ia lalu menyentuh kotak kaca boneka raksasa itu.

“Itu kesukaanku” ungkap myungsoo ketika melihat kekaguman suzy terhadap boneka raksasanya itu.

“Kheundae.. aku masih belum puas. Karena, ada satu boneka yang belum aku miliki”

Badan suzy tiba tiba menegang.

“Sebuah boneka yang sempurna” myungsoo tersenyum aneh.

“Myungsoo-ssi, aku mau ke toilet dulu, ne?”

“Ne” myungsoo tersenyum.

Suzy buru buru membuka pintu kamar myungsoo. Setelah berada di luar, ia langsung berlari menuju pintu utama. Ia pulang begitu saja tanpa berpamitan dengan sang empunya rumah.

Nyonya kim menatap heran ke arah suzy yang tampak terburu buru pulang. Ekspresinya secepat kilat berganti dengan senyuman. Sebuah senyum simpul.

***

“Myungsoo-ah! Irreonna! Eomma punya hadiah untukmu!” Nyonya kim mengetuk sabar pintu kamar myungsoo. Tak sampai semenit, myungsoo sudah muncul di ambang pintu. Dengan kaos putih dan celana di atas lutut. Ia menguap lebar sambil mengucek matanya. Kesadarannya masih belum penuh.

“Ikuti eomma. Eomma punya hadiah untukmu”

Myungsoo menguap sebentar lalu mengangguk. Ia mengikuti nyonya kim sampai ke sebuah gudang.

Nyonya kim membuka perlahan pintu gudang itu.

Mata myungsoo seketika terbelalak. Apakah ia tak salah lihat?

Sebuah peti mati dengan ornamen cantik menghiasi struktur kayu peti itu. Ditambah dengan penutup kaca bening yang menambah indah peti mati itu. Namun, bukan itu yang membuat myungsoo shock. Melainkan, isi dari peti mati itu. Seorang gadis cantik tertidur dengan pakaian pengantin yang tampak menawan, lengkap dengan bunga yang tergenggam di tangannya. Wajahnya dihiasi dengan make up yang membuatnya semakin cantik bak boneka. Tak lupa lipstik merah membuat bibir pucatnya menjadi lebih hidup. Rambut indahnya ia biarkan tergerai dengan tiara yang melekat di sisi rambutnya yang telah di permak menjadi keriting menggantung. Sangat menawan jika saja ruh masih mengisi gadis malang itu.

“Eotthae? Kau senang?”

Myungsoo bungkam seribu bahasa. Ia tak bisa merasakan tubuhnya sekarang. Badannya melemas. Persendiannya kaku. Otot ototnya menegang. Tulangnya rapuh. Matanya masih membelalak menatap yeoja cantik yang tampak seperti boneka itu. Ia menyentuh kaca bening yang menutupi tubuh gadis malang itu.

“Eomma memberikannya pengawet mayat dan mendandaninya agar tidak rusak saat kau memainkannya” terang wanita parubaya itu dengan ekspresi tanpa dosanya.

Myungsoo lalu membuka peti itu. Tangannya kini mengelus lembut pipi pucat yang sudah berlapis bedak itu. Pandangannya kosong. Tak terasa, kristal bening mulai menetes sedikit demi sedikit dari pelupuk matanya. Tubuh cantik itu kini beku, dingin.

“Kau menyukai hadiahnya myungsoo-ah?”

Myungsoo masih enggan bersuara. Masih enggan menatap wanita keji di sampingnya.

“Kau sangat menginginkan boneka seperti ini kan? Kau sangat senang kan?” Nyonya kim mulai tak suka dengan sikap myungsoo yang masih tutup mulut.

Myungsoo mulai terisak. Tangannya masih membelai wajah kaku di dalam peti itu.

“Kenapa kau menangis? Eomma tak suka melihatmu menangis!” Pekik nyonya kim sembari menarik tangan myungsoo namun dengan keras myungsoo menepis tangan nyonya kim.

“Psikopat!” Bentak myungsoo seraya menatap eommanya tajam.

“Mwo?” Nyonya kim menatap anaknya tak percaya.

“Dasar sakit jiwa!” Pekik myungsoo lagi.

“Bukankah.. ini.. yang kau mau?”

“Ini? Ini?! Yak! Yang aku inginkan adalah menikahi suzy! Menjadikannya pendampingku! Memperlakukannya seperti bonekaku! Merawatnya! Tapi dalam bentuk manusia yang masih hidup! Bukan malah menjadikannya salah satu bonekaku! Membuatnya menjadi boneka tanpa nyawa! Aku hanya tak tahu mengucapkannya dengan bahasa yang benar! Eomma psikopat! Eomma jahat!” Tangis myungsoo mengeras. Percuma. Ruh suzy tak akan kembali ke jasadnya.

“Eomma.. salah?”

Myungsoo tak mau menjawab apa apa lagi. Ia muak. Ia muak dengan sikap eommanya yang sangat memanjakannya. Menuruti semua keinginannya. Walaupun itu semua karena nyonya kim sangat mencintainya. Tapi, menurutnya itu terlalu berlebihan. Ia berpikir eommanya lebih sakit daripada dirinya.

“Uljimma! Eomma tak mau melihatmu menangis!”

Namun, tangis myungsoo makin keras. Memecah pagi yang dingin itu. Tampak cahaya warna warni bermunculan bersama mentari pagi yang menyengat tulang. Warna warna indah selepas hujan semalam. Namun hawa dingin masih merasuk ke dalam persendian myungsoo. Bersama tangisnya yang tak kunjung reda.

Nyonya kim tersenyum simpul. Ia beranjak dari tempat itu menuju dapur. Ia mengambil sebilah pisau lalu kembali ke gudang.

“Myungsoo-ah.. mianhae.. maafkan eomma.. eomma.. tak mengerti maksudmu.. eomma… sangat mencintaimu.. eomma.. tak ingin melihatmu menangis..”

“Eomma jahat! Eomma sakit jiwa! Pasti eomma yang membunuh choi minho, kan?!” Teriaknya disela tangisannya.

“Ne. Setelah kau bercerita bahwa kau terluka karena namja itu, eomma tak bisa tinggal diam..”

“Eomma-” nafas myungsoo tiba tiba tercekat. Pandangannya mulai kabur.

Creet!

Darah segar nan kental itu menyembur keluar dari perut myungsoo. Mulutnya juga mengeluarkan cairan merah itu.

“Eomma.. mencintaimu.. jadilah..boneka sempurna.. seperti boneka suzy ini.. memiliki mata sungguhan.. hidung.. bibir.. dan organ sungguhan..” nyonya kim tersenyum bahagia.

“Jangan khawatir.. eomma akan merawat semua boneka bonekamu.. termasuk.. kau dan suzy..”

Creet!

Myungsoo jatuh tersungkur. Tampaknya ia sudah tak berdaya lagi. Nafasnya pun sudah tak terasa lagi. Darah segar itu melumuri tubuhnya yang kini dingin.

Nyonya kim lalu tersenyum aneh.

“Maafkan eomma.. dengan begini.. eomma tak akan pernah melihatmu menangis lagi..”

***END***

Don’t bash! >
Pikiran saya tiba tiba muncul ide ini. Mungkin sedikit sadis, so, don’t try this at everywhere. HAHAHAHA.
Jangan massal saya yah, saya hanya mau membuat genre psikological agar ga bosen dengah romance mulu. Hehehe, setidaknya romancenya ada lah walau sedikit-_- (saya berharap ada yang komen)
Mianhae, karena boring banget ceritanya-_-

RCL YAH!

BOW~

78 thoughts on “FF Perfect Doll (OneShoot)

  1. Ne maja, benar2 sadis….
    Trnyata omma myung yg sebenarnya mengalami ganguan jiwa, jiwa prikopatnya sudah mendarahdaging… Dia juga yg trnyata membunuh minho, yg awalnya aku kirain myungsoo yg melakukan itu..dan lebh parahnya dia membunuh suzy?! :O untk dijadikan boneka untk myungsoo! Oh Good😡 pdahal maksud myungsoo ingin memjadikan bonekanya yg bernyawa bkn tanpa nyawa..dia jg membunuh myungsoo?! Anaknya? . . . . . Heh

  2. Lah kupikir yg psikopat itu awalnya myung..tapi pas tengah cerita kayaknya eommanya myung yg psikppat soalnya dia senyum gaje gitu ke suzy..hohhh dan ternyata bener eomma nya myung yg psikopat, serem thor

  3. Hah serius aku nggak nyangka klo trnyata yg psikopat itu nyonya kim. Dri awal baca kirain myungsoo. Sampe kematian minho jg ngiranya yg mbunuh myungsoo. Eh ternyata.

  4. Ommanya myung menakutkan, sakit jiwa.. bahkan anknya d bunuh..
    Aku pikir myung yg bunuh minho, ternyata..

  5. Beh udh mkir yg jelek” aja sma Myungsoo , kira ane myungsoo yg psikopat nya
    Dan dingdong epep nya gg nyangka banget eomma nya myungsoo yg psikopat. Kerennn

  6. Beh udh mkir yg jelek” aja sma Myungsoo , kira ane myungsoo yg psikopat nya
    Dan dingdong epep nya gg nyangka banget eomma nya myungsoo yg psikopat. Kerennn….

  7. itu sih yg psikopat eommanya ya..masa anak sendiri di bunuh n di jadiin boneka..aigoo myungzy kasihan harus mninggal dengan cara begitu…
    aku kira yg bunuh minho tadinya si myung eh taunya……
    tapi ni ff daebak thor,.

  8. Prett, nyonya kim psikopat nya ternyata 😱 udah mikir myung yang psikopat dan yang ngebunuh minho, tau2 nya emaknya, cccckk sad end lagi kah?

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s