FF Chinese Whispers (OneShoot)

image

Title: Chinese Whispers
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, School life, Family, etc.
Main Cast: Bae Suzy, Kim Myungsoo
Sub Cast: Park Jiyeon, OC’s and etc.
Length: Oneshoot

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

“Gosip itu ternyata benar. Kau bekerja di tempat seperti ini. Kau dalam masalah, myungsoo-ssi..” ucap suzy remeh seraya berkacak pinggang setelah melihat namja di depannya tengah berdiri di depan sebuah wisma di kawasan pinggiran seoul.

Myungsoo menghampiri suzy dengan tatapan menggoda.

“Gheurae, apa yang akan kau lakukan huh?” Tantangnya seraya menyentuh dagu suzy ditambah tatapan mautnya yang membuat siapapun tak tahan melihatnya. Mereka mungkin akan pingsan di tempat. Tapi tidak bagi suzy, ia sudah peka dengan tatapan maut namja itu.

“Aku akan menyebarkannya” balas suzy mantap seraya menghempaskan tangan nakal namja itu.

Klik!

Sebuah foto langsung tercetak dari kamera yang suzy bawa.

“Lihatlah tampang bodohmu ini! Orang orang akan menjauhimu karena ternyata gosip itu terbukti. Kim myungsoo, namja karismatik yang ternyata hanya seorang pegawai wisma. Sekolah tak akan mentolerir muridnya yang bekerja di tempat tak pantas ini” ucap suzy sarkatis.

Ekspresi namja itu tiba tiba berubah. Menjadi lebih menggoda.

“Lakukanlah..”

Kedua bola mata suzy membulat sempurna. Apakah ia tak salah dengar?

“Yak! Apa yang kau rencanakan sebenarnya?” Tanya suzy curiga.

“Tidak ada” namja itu hendak melangkah masuk ke dalam wisma, namun panggilan suzy sontak membuat langkahnya terhenti.

“Yak kim myungsoo!” Pekik suzy.

“Gosip itu memang benar. Lalu apa yang harus aku lakukan? Membantah?” Myungsoo masih membelakangi suzy. Namun, dibibirnya tersungging sebuah senyuman.

Skak mat!

Suzy tak bisa membantah lagi.

“Baiklah.. besok, fotomu ini sudah tertempel di mading. Dan keinginanmu untuk bersaing menjadi ketua osis akan segera berakhir. Kau tak pantas dicontoh oleh siapapun. Dan akulah yang akan menjadi pemenangnya” Celotehnya panjang lebar. Myungsoo hanya tersenyum lalu bergegas masuk ke dalam wisma tersebut.

Suzy menatap myungsoo penuh amarah lalu bergegas meninggalkan tempat itu.

***

Pagi itu, segerombolan murid SMA Seumateu Han School berkumpul di sisi salah satu dinding koridor yang merupakan tempat mading di tempatkan. Berbagai pendapat terus terlontar dari mulut mereka mengenai sebuah foto yang melekat di mading.

Ada yang menanggapi serius didominasi oleh kaum wanita yang seketika menjerit setelah melihat foto itu. Adapula yang tampak bahagia melihat foto itu yang didominasi oleh kaum pria.

Myungsoo. Namja tampan itu berjalan melewati sekumpulan murid murid tersebut santai. Earphone ia sangkutkan dikedua telinganya acuh. Tak peduli dengan tatapan murid murid yang melihatnya. Tiba tiba saja, para siswi menggerubungi myungsoo. Menjerit, menangis, dan membuat efek tak sanggup menghadapi kenyataan yang terjadi. Walaupun terlihat jelas dari wajah myungsoo bahwa ia tak peduli.

“Myung oppa! Eotthokkae? Kalau ternyata itu benar, maka oppa akan dikeluarkan dari sekolah!” Pekik salah satu siswi yang dibenarkan oleh siswi lainnya.

Myungsoo tersenyum hambar lalu kembali berjalan menerobos kumpulan wanita centil itu.

“Oppa!” Jerit mereka setelah myungsoo meninggalkan kumpulan itu.

Myungsoo berhenti di depan sebuah loker. Ia mengambil sepatu sport nya lalu kembali menutup lokernya.

Namun ketika ia berbalik, seorang yeoja cantik dengan pita yang sisipkan di sisi rambutnya menghadang jalan myungsoo. Menatap myungsoo penuh kemenangan.

“Chukkae! Kau berhasil membuatku keluar dari sekolah ini. Paling tidak, beberapa jam lagi aku akan segera angkat kaki untuk selamanya dari sekolah ini” ucap myungsoo sesantai mungkin. Namun, tatapannya tak bisa berbohong. Matanya melihat gadis di depannya itu sendu.

Suzy mendecak.

“Tapi sayang, aku tak bisa bertemu denganmu lagi..” gumam myungsoo pelan. Namun, suzy tak bisa mendengarnya dengan baik.

“Mwo?”

“Minggirlah! Aku mau lewat!” Bentak myungsoo senatural mungkin.

Suzy segera menuruti perintah myungsoo. Mulutnya menganga melihat sikap myungsoo yang tak ada perlawanan sama sekali.

Pikirannya lalu memunculkan memory satu minggu yang lalu. Yang membuatnya harus membalas dendam kepada namja bernama myungsoo itu.

Klik!

Sebuah foto berhasil tersimpan di dalam memory ponsel myungsoo. Ia tersenyum puas memandangi foto itu. Ketika hendak meninggalkan ruang kelas, tiba tiba seorang gadis dengan ikatan rambut ekor kudanya sudah berdiri di ambang pintu masuk. Menatap myungsoo dengan tatapan tak percaya.

“Apa yang kau lakukan kepada temanku?!” Pekiknya. Myungsoo sontak membungkam mulut gadis itu dengan telapak tangannya.

“Jangan beritahu siapapun, ne? Park jiyeon huh?” Desak myungsoo dengan nada menggoda.

‘Dia tahu namaku? Omo!’ Batin jiyeon.

Gadis bernama jiyeon itu mengangguk pelan.

“Gomawo, jiyeon-ssi” myungsoo lagi lagi mengeluarkan senyum mautnya.

Badan jiyeon melemas. Ia serasa ingin pingsan melihat tatapan cool itu.

“Suzy-ah!” Teriak jiyeon dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.

Suzy yang tengah tertidur pulas seketika tersentak. Ia mengira bel sudah berbunyi.

“Mussheun irriya?!”

“Myungsoo menyukaiku!”

Mata suzy membelalak. Nafasnya tercekat.

“Jeongmal?!”

Jiyeon mengangguk mantap.

Tatapan suzy menajam. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Kheundae, aku heran.. kenapa dia..” jiyeon sontak menghentikan ucapannya. Ia menutup mulutnya gugup. Hampir saja ia mengatakan larangan myungsoo tadi.

“Mwoya?”

“Ah.. aniya..” jiyeon tersenyum kikuk.

Suzy mengangguk lemah. Ia beranjak dari kursinya. Berniat menemui namja bernama myungsoo itu.

***

“Yak myungsoo-ssi!” Teriak suzy setelah menemukan namja itu berbaring di dalam ruang UKS.

Myungsoo sontak membuka matanya.

“Mwo?” Sahutnya malas.

“Kau menyukai jiyeon, huh?” Tanyanya ketus.

“Siapa yang mengatakannya?” Myungsoo bangkit dari tidurnya.

“Jiyeon yang mengatakannya. Kau bisa menjelaskan hal ini padaku huh?”

“Ne. Aku menyukainya. Waeyo?” Dustanya.

“Apakah kau mencoba membuat semua orang menjauhiku huh? Sekarang kau ingin mencuci pikiran jiyeon dengan tatapan mautmu itu agar sahabatku sendiri menjauhiku huh?! Itu maumu?!” Bentaknya.

Myungsoo tersenyum.

“Kenapa pikiranmu sampai ke sana? Kalau aku menyukainya yah karena aku menyukainya”

Suzy berdecak.

“Permainanmu sudah tidak sehat. Jadi, kau ingin bermain curang huh?! Baiklah.. aku juga akan melakukan hal itu” suzy bergegas pergi dari tempat tersebut dengan perasaan dongkol.

Myungsoo tersenyum lirih. Ia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Ia membuka galerinya. Sangat banyak foto yeoja itu di dalam dengan berbagai macam gaya. Dan yang paling disukainya adalah ketika ia mencium bibir suzy secara diam diam ketika suzy tertidur di dalam kelas tadi. Ia memandangi foto itu intens.

“Kenapa kau sangat menginginkan jabatan ketua osis itu suzy-ah? Kenapa kau tak mencoba meneliti mengapa aku tiba tiba mendaftarkan diri sebagai ketua osis huh?” Gumamnya seraya menatap foto itu sendu.

***

“Aku pulang!” Myungsoo memperhatikan sekeliling rumahnya. Rupanya adiknya belum pulang. Ia berjalan menuju dapur, mengambil softdrink dingin yang mungkin bisa menjernihkan otaknya.

Minuman itu ia teguk hingga tersisa sedikit. Surat yang sedari tadi ia genggam, ia hempaskan begitu saja di atas meja makan.

Sisa softdrink ia tumpahkan ke atas kertas itu dengan penuh nafsu.

“Sial!” dengusnya kesal.

Suara pintu rumah yang berdecit membuat myungsoo menghentikan umpatannya. Ia mengambil kertas yang sudah basah itu, meremasnya lalu membuangnya ke tong sampah.

“Oppa, aku pulang!”

Myungsoo berjalan menghampiri adiknya. Mendekapnya lalu mencium pipinya sayang. Senyumannya sudah kembali setelah melihat adik tercintanya.

“Tebak!”

Myungsoo berdehem pelan.

“Aku dapat nilai seratus di ujian matematika!” Pekiknya riang. Myungsoo tersenyum bangga.

“Chukkae.. kim sarang..” myungsoo mencubit gemas kedua pipi adik bungsunya itu. Adik satu satunya, saudara satu satunya. Kim sarang masih berumur 13 tahun dan dia mengenal bae suzy.

“Kenapa wajah oppa terlihat murung eoh?” Sarang menyentuh pipi kiri myungsoo pelan.

Myungsoo menggeleng pelan.

“Oh yah.. kata jiyeon eonnie, suzy eonnie berhenti menjadi guru les di tempat les ku, oppa” ungkapnya yang langsung membuat myungsoo tersentak.

“Waeyo?!”

“Molla. jiyeon eonnie tak mau memberitahukannya, katanya aku masih kecil”

Tanpa pikir panjang, myungsoo buru buru beranjak. Ia mengambil jaket dan ponselnya.

“Oppa keluar sebentar, ne? Kunci pintu. Jangan biarkan siapapun masuk kecuali oppa, arra?”

Sarang mengangguk mengerti. Myungsoo langsung melesat menuju motornya. Melaju menuju suatu tempat.

***

Sepeda motor itu berhenti tepat di sebuah rumah sederhana yang merupakan rumah satu satunya yang ada di sana. Ornamen khas koreanya sangat kental.

Myungsoo turun dari motor dan bergegas menuju rumah itu. Tangannya mengetuk pintu kayu itu perlahan. Namun, pintu tersebut tak kunjung terbuka.

Myungsoo menghela nafas berat. Ia khawatir.

Ia lalu merogoh saku, mencari ponsel putihnya. Tombol dial satu—panggilan cepat untuk nomor telepon suzy—langsung ia tekan. Namun, suara operator yang nyaring membuat desahan gelisah myungsoo makin menjadi jadi.

“Kau ke mana eoh?” Gumamnya cemas.

Badannya seketika kaku ketika melihat suzy turun dari mobil mewah bersama seseorang yang tak dikenalnya. Seseorang dengan gaya kuno dan uban yang mulai tampak.

Suzy terbelalak ketika melihat seseorang tengah berdiri di depan rumahnya, menatapnya tajam.

“Ternyata kau lebih..” myungsoo tak sanggup menyelesaikan ucapannya. Ia pergi begitu saja meninggalkan suzy yang mencoba memburunya.

Suzy mengepalkan tangannya kuat. Ia menggigit bibirnya. Berusaha menahan bulir bulir bening itu tumpah.

“Masuklah tuan..” ajak suzy sehalus mungkin. Pria tua itu mengangguk lalu masuk ke dalam rumah tersebut.

***

“Ini uangnya.. ghamsahamnida karena sudah membuat anakku lulus di Seumateu Han School ,karena kau rela menggantikannya selama ini. Ghamsahamnida, suzy-ssi.. kau bisa keluar dari sekolah itu besok dan tidak akan ada yang menyadari bahwa kau telah menggantikan anakku dalam ujian dan perebutan ketua osis. Sepertinya ia sudah tak sabar untuk bersekolah” ujar tuan kang ramah.

“Ne. Cheonmaneyo, ahjussi..” suzy menerima uang itu dengan perasaan campur aduk.

Tuan Kang akan melakukan apapun agar anaknya dapat masuk di sekolah terkenal tersebut, meskipun kemampuan otaknya tak memadai di sana dan lagi, ia tengah menjalani kegiatan modelingnya di luar negeri sehingga tak sempat untuk mengikuti ujian tulis. Dan dengan kemampuan tuan kang, ia berhasil melakukan itu semua. Tak ada yang mustahil di dunia ini. Selalu ada cara.

Seumateu Han School adalah sekolah elit tempat dimana kepintaran adalah hal yang utama. Uang tak dapat membeli segalanya, namun tak ada yang tak mungkin di dunia ini.

Suzy yang memiliki otak di atas rata rata, harus mengubur mimpinya untuk bersekolah dan hanya memikirkan cara untuk mencari uang. Suatu ketika, ia bertemu dengan tuan Kang di tempat les. Tuan Kang sangat kagum dengan pengajaran suzy dan memintanya untuk menggantikan anaknya dalam ujian tulis masuk di Sekolah elit tersebut. Dan dengan gampangnya suzy masuk. Selanjutnya adalah mengejar posisi sebagai ketua osis dan lagi, ia berhasil mendapat posisi itu. Kalau saja ia gagal, maka gajinya tak akan dibayar. Setelah semuanya terpenuhi, maka anak tuan kang kembali masuk menggantikan suzy dengan nama aslinya Kang soojin. Suzy sudah bertemu dengan kang soojin, wajahnya berbeda dari suzy. Namun setelah beberapa bulan, wajahnya jadi berbeda dari dahulu, bahkan menyerupai suzy. Walaupun masih terlihat berbeda dan tidak alami, mungkin karena operasi berlebihan yang ia jalani. Suzy sebenarnya memakai nama itu—Kang soojin—selama ini, namun jiyeon yang notabene adalah temannya yang merupakan muridnya di tempat les, sudah mengetahuinya dan berjanji merahasiakan hal tersebut. Myungsoo pun sudah tahu nama asli suzy dari adiknya yang juga merupakan murid suzy di tempat les. Namun, myungsoo berusaha menutupinya. Tak ingin membiarkan suzy tahu. Akan tetapi, myungsoo masih belum mengetahui mengapa suzy menyembunyikan identitasnya di sekolah. Maka dari itu, ia berusaha mendekati suzy untuk mencari tahu dan juga karena ia memiliki perasaan terhadap suzy.

Sejak ujian masuk tes di sekolah itu, suzy meminjamkannya peraut pensilnya, karena saat itu ia lupa membawa peraut pensil dan sialnya lagi, ia lupa meraut pensilnya. Ia sebenarnya hanya iseng mendaftar di sekolah tersebut dan ternyata otaknya memadai sehingga ia lulus. Dan saat itulah, ia jadi sangat suka sekolah itu, karena ia bertemu suzy di sana, lagi. Gadis cantik yang membuatnya sangat tertarik. Entah mengapa, gadis lain tak dapat melakukan sesuatu yang suzy lakukan.

Myungsoo sebenarnya sudah mengenal suzy sebelum ia masuk di sekolah itu. Saat itu, ia iseng ke gereja dan disanalah ia mendengar suara indah bak malaikat dari suzy. Dan disanalah rasa itu mulai tumbuh dan semakin tumbuh saat ia bisa dekat dengan makhluk indah bernama suzy itu.

Suzy hanya tinggal sendiri di Seoul. Ayahnya telah meninggal ketika ia masih bayi. Sedangkan ibunya sedang berada di Gwangju, menjual hasil perkebunan mereka. Terkadang, ibunya ke seoul hanya sekedar melepas rindu dengan suzy. Karena suzy bersikeras mencari kerja di Seoul, maka nyonya bae tak bisa menghalangi kehendak putri semata wayangnya itu.

***

Myungsoo memarkir motornya di tempat yang agak jauh dari rumah suzy. Ia duduk di kursi yang ada di sana dan mengambil botol soju yang ada di plastik lalu meminumnya rakus.

Setelah dua jam berlalu, wajah myungsoo sudah tampak memerah. Tubuhnya tampak oleng dan bicaranya mulai meracau. Beberapa botol soju berserakan di atas kursi tersebut. Hari pun mulai memasuki tengah malam, tepat pukul sepuluh malam. Suhu seoul saat musim dingin tak dapat di toleransi jika tak memakai pakaian tebal saat ini.

Seorang gadis dengan pakaian supertebal berjalan pelan menuju rumahnya. Namun, langkahnya tiba tiba berhenti tatkala melihat namja yang tampak sudah mabuk dengan tubuh yang bersandar di bangku tersebut, matanya tertutup. Ia menghampiri namja itu.

“Myungsoo-ssi.. gwaenchana?” Suzy menyentuh kedua pipi myungsoo yang kemerahan akibat dingin yang luar biasa. Mata namja itu tiba tiba terbuka. Samar ia melihat wajah cantik tengah menatapnya. Karena kesadarannya yang belum pulih, myungsoo malah mendekap gadis itu.

“Yak!” Pekik suzy tak terima.

“Sebentar saja..”

Suzy menghentikan pemberontakannya.

“Mianhae.. Apakah kau mabuk karena kau dikeluarkan dari sekolah huh?” Gumam suzy dengan perasaan bersalah merasuki memorinya.

Myungsoo terdiam. Matanya menutup. Entah mengapa tubuhnya mulai menghangat setelah mendekap gadis itu.

“Mianhae.. gara gara aku.. kau dikeluarkan dari sekolah.. semua karena keegoisanku.. semua karena aku menginginkan uang..”

Pendengaran myungsoo masih kurang tajam akibat mabuknya. Ia merasa dalam kesunyian.

“Bernyanyilah.. aku tau suaramu sangat indah.. aku pernah mendengarnya ketika aku ke gereja beberapa bulan yang lalu..”

Badan suzy menegang. Jadi myungsoo sudah mengenalnya sebelum ia masuk di sekolah itu?

“Kau.. mengetahuinya?”

“Bernyanyilah..” myungsoo masih mendesak.

Suzy melepaskan pelukannya. Ia menatap myungsoo sebentar lalu menarik tangannya.

“Ayo ikut ke rumahku. Kalau disini terus, kau bisa membeku” sanggahnya.

Myungsoo tersenyum di kondisinya yang setengah sadar sembari mengikuti suzy.

***

Suzy meletakkan segelas coklat panas di atas meja kecilnya, tanpa kursi. Ia menatap datar namja berselimut di hadapannya, menggigil menatapnya.

“Jadi, kau sudah lama mengetahui namaku, eoh?”

Myungsoo mengangguk.

“Kenapa masih memanggilku soojin dan mengapa tak kau laporkan aku ke kepala sekolah dari awal? Dengan begitu sainganmu berkurang-”

“Gheumane..” sanggah myungsoo pelan. Suzy masih tak mengerti dengan sikap myungsoo yang menutup nutupi identitasnya.

“Kenapa kau langsung pergi kemarin dan berkata padaku, seolah olah aku..” suzy menghentikan ucapannya. Ia membuang mukanya kesal.

“Aku kira setelah keluar dari tempat les, kau berniat menjadi wanita yang mengejar ahjussi ahjussi kaya..” akhirnya kata menjijikan itu keluar dari bibirnya.

Plak!

Sebuah tamparan halus tepat mengenai pipi kirinya yang sudah tampak kemerahan. Myungsoo hanya tersenyum hambar. Ia pantas mendapatkannya.

“Jangan sembarangan. aku masih punya harga diri walaupun aku tak punya uang” balasnya datar tapi menusuk. Matanya mulai berkaca kaca.

“M-mianhae..” ucapnya tulus.

Suzy terdiam. Ia lalu beranjak dari duduknya.

“Kenapa kau keluar dari tempat les, huh? Apakah kau ingin menganggur? Kau sudah tak berniat bekerja lagi? Jadi kau kerja di mana sekarang?” Tanya myungsoo bertubi tubi.

“Bukan urusanmu” jawabnya ketus lalu berlalu dari ruangan itu menuju kamarnya.

“Yak bae suzy!” Pertama kalinya myungsoo memanggilnya dengan nama itu di depan orangnya langsung. Nama yang lebih baik dari nama sebelumnya.

“Kau pulanglah! Aku mau tidur!” Teriaknya dari dalam.

Myungsoo tak peduli. Ia malah berjalan menuju kamar suzy.

“Aku senang.. bisa bertemu denganmu lagi..” ucap myungsoo dari balik pintu. Namun suzy masih bisa mendengarnya.

“Aku pulang dulu..” ucapnya kemudian.

Suara langkah yang terdengar menjauh sontak membuat suzy beranjak dari tempat tidurnya. Ia terlihat tak rela myungsoo pergi. Tangannya sudah menggenggam gagang pintu kamarnya, namun segera diurungkan. Ia lantas kembali ke ranjang. Menghamburkan diri. Merenung.

***

Suzy selesai menge-pack barang barangnya. Ia berencana pulang hari ini ke gwangju untuk membawakan hasil kerjanya kepada eommanya. Termasuk uang yang ia dapat dari tuan kang yang sangat banyak baginya.

Setelah selesai, ia lalu menghubungi taksi untuk mengantarkannya ke halte bis yang agak jauh dari rumah.

Selang beberapa menit, suara klakson taksi menggema di luar rumahnya, pertanda taksi itu sudah datang. Suzy bergegas mengangkat barang barangnya dan memasukkannya ke dalam bagasi taksi. Taksi itu lalu melaju menuju tempat tujuannya.

***

Suzy memutar lagu di ponselnya sambil menunggu bis yang sekitar sepuluh menit lagi tiba. Ia menaruh tas jinjingnya di samping seraya asyik dalam iringan musik yang mengalun masuk ke dalam indra pendengarannya. Tiba tiba seseorang dengan pakaian hitam hitam dan tampak memakai masker merampas tas jinjing suzy yang berisi dompet dan barang barang penting lainnya. Uang dari tuan kang juga ditaruhnya di tas itu.

“Yak!” Pekik suzy seraya berlari mengejar orang itu. Ia bahkan lupa barang barang lain yang tertinggal di halte tersebut. Mungkin tas jinjing itu lebih berharga.

“Yak!” Nafas suzy mulai tak beraturan. Ia menghentikan langkahnya. Mengatur nafasnya. Matanya panas. Ia sangat ingin menangis saat ini.

‘Eotthokhae?’ Batinnya. Isakan mulai terdengar dari bibirnya. Kepalanya tertunduk. Airmatanya mulai menetes.

Mungkinkah.. karena uang itu tak halal? Karena aku menipu orang agar aku mendapatkan uang itu? Maka aku dihukum eoh? Tuhan tak mau membiarkanku memberikan uang haram itu kepada eomma eoh?

Suzy menatap sekelilingnya parau. Matanya mulai buram karena airmata namun bisa ia lihat di samping kirinya kini berdiri seorang namja yang memiliki tatapan maut itu. Ia baru saja keluar dari rumah sederhana di sampingnya.

“Apa yang kau lakukan di sini huh?” Namja itu menatapnya heran. Ia menghampiri suzy dengan tatapan tak percaya.

“Dan.. kenapa kau.. menangis?” Myungsoo mengusap pelan airmata suzy.

“Kenapa kau menangis di depan rumah ku?” Tanya myungsoo lagi yang dibalas dengan tatapan tak percaya dari suzy.

“Ru..mah..mu?”

Myungsoo mengangguk.

Suzy sontak menghamburkan dirinya ke dalam dekapan myungsoo. Badan myungsoo tiba tiba menegang. Tangannya ragu ragu membalas perlakuan suzy tapi pada akhirnya ia tak bisa menahan hasratnya juga.

“Mussheun irriya?”

Suzy masih saja menangis dipelukan myungsoo. Enggan berkata apapun. Ia merasa sangat terpukul.

“Mareba..” myungsoo mengusap pelan punggung suzy.

***

“Kau dirampok?!”

Suzy mengangguk. Ia meneguk coklat panas yang myungsoo berikan padanya dengan kepala tertunduk.

“Uang itu untuk eommaku.. aku ingin membuatkannya usaha agar dia tak berjualan di pasar lagi. Aku ingin melihatnya bersantai santai di hari tuanya..”

Myungsoo mengusap wajahnya dan menggeleng. Tanpa pikir panjang lagi, ia mengambil ATM di dalam dompetnya.

“Pakailah uangku” ucapnya seraya menyerahkan selembar ATM kepada suzy. Suzy menatap myungsoo sendu.

“Shireo..”

“Waeyo? Kau ambillah.. aku tak akan memintamu menggantinya. Itu adalah uangku sendiri. Tabunganku sendiri” sahutnya mantap.

“Kheundae, myungsoo-ah.. aku tak akan kembali ke seoul lagi. Aku akan tinggal di gwangju. Kontrak kerjaku dengan tuan kang sudah berakhir dan aku sudah tak bersekolah di sekolah itu. Aku sudah memutuskan untuk tinggal selamanya bersama eommaku dengan membuatkannya cafe di sana dengan uangku. Aku tak mungkin memakai uang tabunganmu lalu kabur ke gwangju dan tak akan kembali lagi. Kau pasti membutuhkan uang itu juga” terangnya tampak menyedihkan.

“Tak masalah.. ambillah.. aku bisa mencari uang lagi.. pin nya akan ku kirim lewat ponselmu-”

“Gheumane..” sergah suzy sambil menahan tangisnya. Myungsoo tersentak.

“Jangan berbuat baik lagi padaku, jebal.. aku sudah jahat padamu dan kau.. kenapa begitu baik padaku huh?!” Suzy berdiri dari kursi dan hendak pergi dari rumah itu.

“Aku menyukaimu”

Langkah suzy sontak terhenti.

“Karena aku.. menyukaimu.. menyayangimu.. mencintaimu..”

Suzy mendecak.

“Ternyata gosip itu benar” suzy membalikkan tubuhnya ke arah myungsoo.

“Gosip?”

“Kalau kau menyukaiku. Hanya menyukaiku.. jiyeon yang mengatakan padaku setelah kau membuatnya sakit hati.. kheundae.. kenapa kau malah mau melepasku huh?”

Myungsoo terdiam. Matanya hanya menatap yeoja dihadapannya itu intens.

“Kalau aku mencintaimu.. maka aku harus melihatmu bahagia, kan? Mendapatkan apa yang kau inginkan.. itu akan membuatku tenang-”

“Kau tak berniat menghalangiku pergi eoh? Kalau kau mengatakannya.. maka..”

“Pergilah.. eommamu pasti sangat merindukanmu..” myungsoo mengambil tangan suzy lalu menyisipkan ATM itu di tangannya.

Wajahnya mendekat ke wajah suzy. Ia menatap kedua bola mata indah suzy sejenak. Lalu bibirnya mengatup bibir suzy. Menyapunya dengan lembut. Suzy tak memberontak. Bahkan matanya tertutup tanda ia menikmatinya.

***

Suzy membuka matanya. Namja itu sudah melepaskan ciumannya. Ia menatap sekelilingnya. Jejeran kursi dengan para penumpang menghiasi pemandangan suzy. Ia sudah berada di bis itu. Sangat terasa, ciuman itu masih membekas. Ia memegang dadanya. Sakit.

“Eonnie.. uljimma..” suara imut seseorang membuat suzy menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru bis, mencari suara manis gadis itu. Tepat di sampingnya, gadis imut itu melambaikan tangannya.

“Kim sarang? Kenapa kau ada di bis ini huh?” Tanya suzy cemas. Secepat kilat ia menghapus airmatanya. Tak mau, bekas anak muridnya itu melihatnya menangis.

“Aku akan ke gwangju bersama, oppaku.. katanya ia akan menetap di sana..” ucap anak itu polos.

“Oppa mu mana?” Mata suzy celingak celinguk mencari keberadaan kakak sarang.

“Gugeo!” Sarang menunjuk tepat di belakang suzy. Mata suzy seketika membulat.

“Kim.. myungsoo?! Kim myungsoo adalah oppamu?!”

Sarang mengangguk lalu kembali ke tempat duduknys, di samping myungsoo.

“Annyeong!” Namja itu melambaikan tangannya ke arah suzy. Tersenyum simpul. Tanpa suzy sadari, seulas senyuman tersungging di bibirnya. Ia kembali ke posisinya, menyandar di jok mobil. Ia menghembuskan nafasnya perlahan. Entah mengapa, ia sangat senang myungsoo di sini.

“Eonnie, lihatlah..” sarang menyerahkan ponsel myungsoo kepada suzy. Memperlihatkan isi galerinya. Sangat banyak foto dirinya, bahkan memenuhi galeri itu.

Mata suzy langsung membelalak setelah melihat fotonya ketika ia tertidur di kelas. Myungsoo menciumnya diam diam?!!

“KIM MYUNGSOO! DASAR MESUM! JADI KARENA INI KAU MENYUAP JIYEON UNTUK TUTUP MULUT SOAL INI! DASAR!” pekiknya dalam bis itu yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari para penumpang. Untung saja, penumpang bis tersebut masih sedikit.

Suzy tersentak. Wajah myungsoo sudah berada di hadapannya.

Chu~

Sebuah foto langsung tercetak dari kamera yang myungsoo bawa. Sarang berhasil mengambil momen itu.

“Romantis sekali…” gumam sarang sambil menutup matanya karena kakaknya masih enggan melepas ciuman itu.

“DASAR OPPA MESUM!” Pekik sarang masih menutup matanya.

***END***

HAHAHAHA ngakak saya bacanya-_- mianhae kalau gaje yah. Saya memang tak pandai membuat ending yang bagus. Mianhae..

Chinese whispers adalah idiom dalam bahasa inggris yang artinya gosip dari mulut ke mulut—just information. Jadi, gosip tentang cinta yang selalu dibahas semua orang.

Semoga menghibur.

RCL NE!

Bow~

54 thoughts on “FF Chinese Whispers (OneShoot)

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s