FF Mud in the Fire (OneShoot)

image

Title: Mud in the Fire
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Drama, hurt etc.
Main Cast: Bae Suzy, Kim Myungsoo
Sub Cast: Choi Minho, OC’s and etc.
Length: Oneshoot

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

Wajahnya masih setampan dulu. Senyumnya masih seceria dulu. Namun.. sikapnya.. tak seperti dulu..
Aku senang dia berubah..
Namun.. ada satu hal yang tak bisa diubah..

Sebuah takdir..

***

January, 01, 1998

“Yak suzy-ssi!” Seorang bocah tampan dengan sepatu nyentrik merah jambu menyala plus baju bergambar hello kitty nya, berlari tergopoh gopoh mengejar seorang yeoja cantik yang baru saja merebut mainannya. Mainan kesukaannya. Lain hal dengan namja itu, yeoja cantik itu malah terkesan sangat boyish dengan baju kebesaran dan celana punk metal. Rambutnya pun ia biarkan tergerai polos dengan kondisi berantakan namun tak menutupi wajah cantik bocah itu.

“Kejar aku! Myung-michi!” Ejeknya seraya menjulurkan lidah gemas. Ditangannya, ia menggenggam mainan namja berumur 10 tahun itu. Boneka barbie berukuran sedang dengan dress putih.

“Yak sujie!”

Langkah gadis itu langsung terhenti. Ia mengepalkan tangannya kuat lalu membalikkan badan. Menatap tajam namja itu.

“Apa yang kau katakan huh, myungpabbo?!”

“Sujieeeee!” Pekiknya sekuat tenaga. Ia tahu, suzy tak suka nama aslinya disebut, apalagi memakai penekanan berlebihan seperti itu.

Brak!

Gadis itu melempar barbie tersebut tepat mengenai wajah anak laki laki itu.

Myungsoo meringis.

“Yak!”

“Dasar andorgini!” Umpat suzy kesal.

“Maskulin!” Balas myungsoo.

“Namja barbie!”

“Yeoja baju longgar!”

“Yeoja!”

“Namja!”

“Feminin!”

Myungsoo kehabisan kata kata. Ia mengambil bonekanya yang terjatuh lalu berlari pulang. Suzy memandangnya penuh kemenangan.

“Dasar anak mami! Yeoja cantik!” Teriak suzy sambil tertawa terpingkal pingkal. Namja itu berlari pulang sesekali menoleh ke arah suzy, menatapnya tajam.

***

January, 01, 2014

Seorang gadis cantik menatap keluar kaca etalase dengan semburat kegelisahan yang terpancar di wajah ayunya. Sesekali melirik ke arah jam guess yang melingkar di pergelangan tangannya.

Cangkir putih yang kini kosong, menambah kegelisahannya akibat waktunya yang terus berjalan, menunggu seseorang yang tak kunjung datang.

Tin!

Suara bel kafe penanda pengunjung yang datang membuat mata suzy sontak menoleh ke arah pintu yang terbuat dari kaca.

Suzy mendesah. Kembali bertopang dagu.

Tiba tiba di depan matanya, seikat mawar putih menutupi wajah tampan di depannya. Menutupi senyumannya yang terus mengembang.

“Kita akan kemana?” Tanya namja itu.

“Ke butik jiyeon eonnie” jawabnya datar.

“Mianhae karena aku telat ne? Aku baru saja membelikan mu ini. Karena itu aku telat” namja itu—myungsoo—terkekeh geli.

Suzy mengulum senyumnya.

“Kkaja!” Suzy langsung menarik myungsoo keluar dari kafe itu menuju tempat yang dimaksud.

***

“Eotthae? Kau suka?” Tanya seorang wanita cantik dengan eyeliner tebal yang menghiasi kelopak matanya.

“Yeppo..” puji myungsoo sambil tersenyum memandangi suzy di pantulan cermin raksasa. Suzy ikut tersenyum.

“Ne.. jeongmal jhoayo..” sahut suzy lembut. Myungsoo tersenyum mendengar kelembutan suara suzy. Hal yang membuatnya teduh. Padahal, ketika mereka berumur 10 tahun, ruh mereka berdua seolah tertukar. Myungsoo yang feminin dan suzy yang maskulin.

“Aku akan memakai ini besok..” gumam suzy seraya menatap dirinya sendiri di cermin. Sangat cantik.

“Wah.. suji kita sekarang sudah berubah menjadi kupu kupu yang cantik!” Puji myungsoo lagi.

Suzy tersenyum lalu membalikkan badannya menghadap myungsoo.

“Myungsoo..” panggil suzy.

“Hm?” Myungsoo berjalan mendekati suzy.

“Ayo kita berfoto! Eonnie, berikan tuxedo yang akan myungsoo pakai besok!”

Jiyeon mengangguk lalu bergegas mengambil setelan yang sudah dipersiapkan.

“Ige..”

“Kenapa bukan besok saja huh? Dasar tak sabaran!” Ejek myungsoo sembari mengambil setelan itu dari tangan jiyeon. Suzy hanya terkikik mendengar celotehan myungsoo. Raut wajahnya seketika berubah.

“Aku mau sekarang. Hanya kita berdua..” ucapnya rendah. Myungsoo tersenyum, mengangguk.

KLIK!

Sebuah foto langsung tercetak dari kamera yang suzy bawa di tasnya.

“Wah.. kyeopta..” gumam suzy sembari memandangi foto itu.

Myungsoo tersenyum lalu menarik suzy.

“Kkaja! Kita bersenang senang hari ini sebelum besok!” Ajak myungsoo kemudian. Suzy mengangguk.

“Tapi sebelumnya.. kita membuka baju ini..” tahannya.

“Kau ingin membukanya?”

“Kau mau di cap orang gila karena memakai baju pengantin di tengah tengah orang huh? Lagipula, aku tak mungkin merusak gaun ini”

Myungsoo mendesah.

“Anggap saja kita sedang foto pra-wedding

Suzy terkikik geli.

“Kheundae.. kita akan jadi pusat perhatian. Padahal aku sudah berusaha kabur dari rumah demi menemuimu”

“Kkaja!” Tanpa babibu lagi, myungsoo langsung menarik suzy pergi dari tempat itu. Mata jiyeon langsung membulat tatkala melihat mereka kabur bersama pakaian mereka.

“Yak! Kata nyonya bae, pakaiannya akan dikirimkan sebentar malam!” Teriaknya namun sayang, mereka sudah menghilang di balik pintu butik. Jiyeon mendesah. Pasrah.

***

Kaki mungil kedua insan itu mereka jajakan di atas pasir pantai dengan lembut. Alas kaki yang mereka kenakan dilepas begitu saja.

Tangan mereka saling bertautan. Suara cekikikan mereka memecah raungan ombak yang bergulung gulung. Mereka, Masih asyik berjalan jalan mengelilingi pantai yang sepi.

Klik!

Satu lagi foto tercetak dari kamera. Sebuah pemandangan dengan keduanya saling pandang dalam senyum.

“Suzy-ah..” panggilnya.

“Hm?”

Kini mereka menduduki pasir putih di pesisir. Membiarkan ombak menerpa kaki kaki mereka. Suzy menyandarkan kepalanya di atas bahu myungsoo. Membiarkan dirinya hanyut dalam ketenangan pantai.

“Sarangheo.. yeongwonni..” ucapnya tulus.

Suzy tersenyum. Tanpa kata. Hanya kedua tangannya yang memeluk erat pria di sampingnya.

“Suzy-ah..” panggilnya lagi.

Lagi, suzy berdehem. Melempar pandangannya ke arah laut. Langit melukiskan warna kemerah merahan. Sangat indah sunset sore itu.

“Sarangheo.. yeongwonni..” ucapnya. Lagi. Suzy tersenyum. Perlahan lahan matanya tertutup bersama cahaya langit yang mulai meredup pertanda sang mentari siap menenggelamkan dirinya dibalik sang malam. Bunyi getar ponsel yang sedari tadi bergetar, tak dihiraukannya. Mereka asyik dalam dunia mereka.

***

Seorang wanita cantik sedari tadi menatap cemas ke arah pintu sambil berjalan mondar mandir tak karuan. Ponsel di tangannya pun disambatnya. Ditekannya beberapa kali nomor di kontak namun tetap saja, lengkingan suara operator di seberang sana menyahut dengan lantang membuat wanita anggun itu mendesah gelisah.

Karena tak tahan lagi, ia bergegas mengambil jaket. Kakinya lalu menuntunnya masuk ke dalam sebuah mobil panjang era 2000-an. Sebuah mobil langka yang mahal dan bersejarah.

“Antarkan saya ke butik nyonya jiyeon” pintahnya pada supir yang sudah duduk di depan stir.

Supir itu hanya mengangguk lalu bergegas memutar perseneling mobil, Meninggalkan rumah bak istana itu.

***

“Kau masih ingat ketika kita berjalan di pantai ini dengan membawa kabur mobil eommamu?” tutur suzy sambil terkikik geli membayangkan kejadian 13 tahun silam. Tepatnya saat tahun 2005. Saat kedua insan itu menginjak usia 17 tahun, saat saat SMA yang tak terlupakan.

“Ne. Aku membawa kabur mobil itu lalu mengajakmu ke pantai. Saat itu kau sedang bersama pacarmu..” myungsoo ikut tertawa membayangkannya.

Seorang pria memakai baju khas anak SMA tengah mengintip dibalik semak sepasang remaja yang sedang berpacaran. Tangannya mengepal kuat, tak tahan melihat si namja yang sangat agresif terhadap si yeoja. Untung saja si yeoja bersikap acuh seolah tak peduli namja itu bersikap segombal apapun,ia tetap sibuk berkutat dengan ponselnya.

Drrrt..

Ponsel myungsoo bergetar dan terlihat di layar nama suzy masuk ke dalam daftar inboxnya.

Tolong aku lolos dari namja ini, myungie!

Myungsoo terkikik membaca pesan dari yeoja yang dilihatnya tampak gelisah itu.

Hmm.. baiklah. Ini demi kau. Dan aku juga tak suka melihat pacarmu terlalu genit. Tanganku jadi sangat gatal ingin menghajarnya. Hahaha..

Setelah pesannya terkirim, myungsoo langsung bersiap siap menyelamatkan sang putri.

‘Saatnya beraksi!’

Myungsoo membawa mobil  eommanya ke luar dari gerbang sekolah. Setelahnya, ia turun dari mobil hendak menyusul suzy.

Sesampainya di sana, myungsoo lalu menghampiri kedua orang itu.

“Suzy-ah.. kau dipanggil oleh Kang saem” ucapnya asal. Tawa suzy hampir saja meledak setelah melihat rencana myungsoo yang standar ditambah ekspresinya yang tak terlalu meyakinkan. Mungkin hanya orang bodoh yang mau mempercayai kebohongan myungsoo.

“Aku ke kang saem dulu, ne minho-ah?” Izinnya pada namja di sampingnya yang merupakan pacarnya. Lebih tepatnya pacar yang karena terpaksa. Yah, ia terpaksa karena kalah dalam taruhan.

“Hmm.. baiklah..” sahutnya tanpa curiga. Ternyata minho lah orang bodoh yang berhasil masuk keperangkap myungsoo.

Myungsoo tersenyum lalu pamit. Ia lalu mengambil tangan suzy dan menautkan jemarinya di antara jari jari suzy. Yeoja itu tertawa pelan. Tertahan.

‘Rencana bodoh myungsoo berhasil!’

Mereka berceloteh bersama langit yang sudah menunjukkan warna gelapnya. Matahari sudah tak tampak lagi. Hanya gemerisik ombak dan suara merekalah yang merajai suasana di sana. Tak lupa dengan cahaya yang minim membuat mereka menerawang jauh mencari cahaya. Namun, tautan jemari mereka tak begitu saja terlepas. Suzy masih memeluk namja di sampingnya. Mereka masih bisa merasakan rabaan ombak laut menyapa kaki mereka lembut. Walaupun malam itu cukup dingin. Myungsoo yang memakai tuxedo lantas melepaskan jas hitam miliknya lalu dikenakan ke tubuh suzy yang tampak mendingin akibat hawa pantai yang cukup menusuk tulang.

“Dingin?” Tanya myungsoo seraya mengambil tangan suzy dan menggenggamnya. Kedua tangannya ia gosokkan ke tangan suzy untuk mengusir dingin. Sesekali tangan lentik yang digenggamnya ia tiup dengan hawa panas yang keluar dari mulutnya, lumayan untuk menghangatkan tangan mungil gadis cantik berbalut gaun pengantin itu.

“Setelah kau membawaku kabur dengan mobil itu, pacarku menemuiku di rumah. Dia memutuskanku dan dia hampir menghancurkan mobil itu karena berfikir menghancurkannya atau membuatnya lecet akan membuatmu marah. Tapi.. kau datang melindungi mobil itu yang membuatmu babak belur. Aku ingin tau kenapa kau begitu melindungi mobil itu sampai mempertaruhkan nyawamu eoh?” Lanjut suzy sambil mengangkat wajahnya hendak melihat ekspresi myungsoo.

“Karena.. itu milik eommaku. Dan.. aku tak mau melihat eommaku menangis karena mobil kesayangannya hancur..” myungsoo terkekeh pelan.

Suzy hanya tersenyum. Dekapannya semakin erat. Mungkin ia semakin merasakan gelitik angin pantai menerpa kulit porselennya.

“Sebenarnya.. mobil itu sudah menjadi milik eommaku sekarang. Pemberian eommamu di surat wasiatnya untuk eommaku. orang yang sangat berharga bagi eommaku. sahabat sejati eommaku. Makanya ia sangat menyayangi apapun barang pemberian sahabatnya..” jelas suzy. Myungsoo hanya berdehem pelan.

Malam semakin larut bersama suhu yang semakin membekukan persendian. Suzy tampak menggigil. Pria itu sontak mendekap lebih dalam yeoja itu.

“Ayo kita pulang” ajak myungsoo setelah melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 9 malam.

“Aku masih mau berjalan jalan.. satu jam lagi ne?” Suara suzy bergetar saking dinginnya malam itu.

“Ayo pulang! Kau bisa membeku di sini!” Desak myungsoo seraya menarik tangan suzy untuk berdiri.

“Aku mau makan dulu” rengek suzy manja.

Myungsoo tersenyum lalu mengangguk.

***

“Ya ampun! Anak itu tak boleh lelah di hari pernikahannya besok!” Seru wanita parubaya itu panik. Pemilik butiq itu—jiyeon—tak hentinya membungkuk minta maaf akibat kelalaiannya membiarkan mereka membawa baju pengantinnya. Kaki wanita itu lalu melangkah keluar dari butiq. Tangannya masih sibuk menekan touchscreen nya.

“Apartement Hambeong!” Pintah wanita itu kemudian setelah menutup pintu mobil.

***

Kedua insan itu menghirup ramen yang mereka beli di supermarket. Terdengar bunyi Slurrp yang membuat siapapun ikut ngiler melihat kelahapan mereka.  Bahkan baju mereka belum diganti.

Terlihat asap mengepul dari kedua mangkuk ramen mereka. Kedua insan itu lalu menyerup air ramen itu sampai habis setelah mie yang menggulung itu sudah tak tersisa. Setelahnya, mereka menyimpan mangkuk kosong itu di samping lalu bersandar di dinding kamar berlabel apartement Hambeong itu.

“Suzy-ah..” gumam myungsoo setelah meneguk air putih yang diambilnya dari kulkas tadi.

“Hm?”

“Kau taukan.. kalau aku mencintaimu?”

Suzy lalu menoleh ke arah myungsoo. Menatap sendu pria yang kini hanya mengenakan kemeja putih itu. Tangannya meraba kantong jas myungsoo yang dikenakannya. Beberapa lembar foto ketika di pantai tadi ia keluarkan dari saku.

“Manis..” gumam suzy sambil memandangi foto foto yang terlihat gila itu. Myungsoo melirik foto tersebut sambil tersenyum.

“Kau tau kan? Aku mencintaimu.. bahkan sejak kita masih beumur sepuluh tahun. Saat kau melempar boneka itu padaku.. kau menghinaku.. saat itulah aku berpikir untuk berubah..”

Suzy tersentak lalu tersenyum.

“Aku juga.. saat kau mengataiku saat itu.. aku bertekat untuk berubah.. demi kau..” suzy tertawa pelan.

Myungsoo lalu mengeluarkan kamera yang mengalung di lehernya.

Klik!

Beberapa detik kemudian selembar foto tercetak dari kamera itu. Terlihat kedua tangan sepasang insan itu saling menggenggam.

Setelah itu, myungsoo mengambil dagu suzy. Menatap kedua bola mata indah yeoja itu.

“Sarangheo..”

Klik!

Sebuah foto tercetak dari kamera. Seorang pria dan seorang wanita yang saling menautkan bibir mereka dalam keheningan malam. Setetes kristal bening menetes dari pelupuk mata yeoja itu.

***

Bunyi bel membuat kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu sontak menghentikan aksi mereka. Suzy langsung berdiri seolah tahu siapa yang menekan bel semarah itu.

Langkahnya terhenti tatkala sebuah tangan menahan pergelangan tangannya.

“Tunggu..” sanggah myungsoo. Suzy menghentikan langkahnya dan menunggu myungsoo yang sedang mengambil sesuatu di kamar.

Selang beberapa detik, myungsoo muncul dengan sebuah kotak berwarna pink. Tanpa pita, corak, ataupun gambar. Hanya sebuah kotak polos.

Myungsoo lalu menyerahkan kotak itu kepada suzy.

“Jangan buka di sini”

Suzy mengangguk mengerti. Ia lantas membalikkan badannya, bergegas meninggalkan tempat itu.

Myungsoo menatap punggung suzy dengan perasaan campur aduk.

“Sarangheo!” Teriak myungsoo sebelum suzy membuka pintu apartement. Tanpa menoleh, suzy melanjutkan langkahnya. Ia tersenyum.

***

Suzy membuka kotak itu perlahan dan tersenyum setelah melihat isi kotak tersebut.

“Myungsoo-michi.. pabbo..” ejeknya pelan sambil tertawa kecil. Diambilnya boneka barbie yang sudah cukup usang dimakan jaman itu. Gaun putih si pengantin barbie sudah tak putih lagi. Ia kembali terkikik mengingat aset berharga myungsoo sewaktu kecil. Sekarang, barang itu diberikan padanya.

“Besok.. kau harus berganti pakaian yang lebih bersih. Dan sepertinya kau perlu mandi, myung-ie..” ucapnya pada boneka barbie itu.

***

Seorang pria parubaya berjalan bersama seorang wanita muda cantik menuju altar. Di sana seorang pemuda sudah menunggu sang pengantin dengan tangannya yang terulur.

Wanita cantik itu—suzy—berjalan anggun sambil memegang seikat bunga di tangan. Seorang pria di sampingnya menggandeng lengan gadis yang tampak gugup itu.

Pria tua itu lalu menyerahkan si gadis kepada pemuda tampan di atas altar. Merelakan si anak menantu diambil oleh anak laki lakinya.

Tangan mereka saling menggenggam. Disertai dengan senyuman yang menggembang di sana sini. Namun.. mungkin.. hanya satu pria yang tak menyukai penyatuan cinta mereka. Pria yang duduk di ujung sana. Sedang meratap kasih bersama seorang wanita di sampingnya—eomma suzy.

“Dia sangat cantik kan?” Tanya wanita parubaya di samping namja malang itu.

“Sangat”

“Kau bahagia?” Mata wanita itu kini berbinar binar melihat cincin yang disematkan sang pengantin pria kepada anak tunggalnya.

“Aku bahagia..” namja itu menatap gaun pengantin yang dikenakan suzy intens. Bukankah pria pertama yang melihatnya mengenakan gaun itu adalah dirinya? Foto pertama yang ia dapat saat yeoja itu mengenakan gaun indah itu adalah dirinya? Bahkan ciuman pertama itu miliknya juga? Itulah yang membuatnya bahagia. Dan.. ia bahagia melihat yeoja itu bahagia.

Semua tamu yang hadir memberikan tepuk tangan yang meriah saat si pengantin melakukan ciuman keabadian cinta mereka. Namja itu ikut berdiri, memberikan tepuk tangan termeriah darinya. Walau tak sejalan dengan hatinya yang terluka.

Namja berumur 17 tahun itu menjatuhkan tubuhnya di atas lantai ubin, di depan sebuah pigura dengan dua buah lilin di sisinya. Foto yang terdapat di pigura tersenyum, memperlihatkan lesung pipitnya yang indah. Seindah milik namja itu.

Namja bernama myungsoo itu kehabisan kata kata. Ia hanya bisa menangis. Meraung. Memukul mukul lantai tanpa henti. Semua yang hadir di sana menatap iba ke arahnya.

Seorang yeoja cantik yang seumur dengannya lantas menghampiri namja itu. Ikut bersimpuh di samping namja itu. Tangannya lalu meraba punggung myungsoo, hendak memberikannya sebuah kekuatan yang mungkin bisa sedikit menenangkan.

“Jangan takut.. kan masih ada aku..” ucap suzy teduh.

Myungsoo mengangkat wajahnya. Malu. Malu karena wanita yang dicintainya melihatnya menangis.

“Kau.. mau menikah denganku nanti?” Tanya myungsoo disela isakannya. Ia kalut dan tak tahu mesti berkata apa lagi untuk menyembunyikan sisi melankolisnya. Ia sadar, dulu ia menyukai barbie, menyukai hal hal yang berbau mainan wanita. Tapi, bukankah seseorang akan berubah jika dihadapan seseorang yang dicintainya?

Suzy mengangguk mantap. Namun, seorang wanita parubaya yang mengenakan hanbok hitam menghampiri kedua insan itu.

“Kalian tak boleh..” wanita itu menghentikan ucapannya. Tak mungkin ia mengatakan itu disaat berduka seperti ini. Ia lantas membiarkan kedua remaja itu beradu kasih, saling menautkan tubuh mereka dalam duka.

Setelah beberapa hari kematian nyonya kim. Eomma suzy mengumpulkan suzy dan myungsoo di ruang tamu rumahnya. Ia ingin mengatakan sesuatu yang mengganjal hati.

“Myungsoo-ah.. pesan eommamu.. dia ingin kau tinggal di rumahku..”

“Mianhae.. kheundaeyo.. aku ingin tinggal.di apartement saja.. nanti saja.. saat aku dan suzy menikah maka aku akan tinggal bersamanya di rumah ini-“

“Kheundae.. kau tak boleh menikah dengan suzy..” sanggah nyonya bae tak enak hati. Myungsoo dan suzy sontak saling pandang, bingung.

“Waeyo?” Tanyanya kompak.

“Kalian.. saudara se ASI” ucapnya pada akhirnya.

Nafas suzy tercekat. Sementara, myungsoo kehabisan kata kata. Matanya membelalak. Badannya membeku.

“Apakah itu berarti.. kita..” suzy menoleh ke arah myungsoo. Bisa ia lihat ekspresi terpukul namja itu.

“Ne.. itu adalah aturan tetap. Namun, kalau kau melanggarnya maka.. takdir akan segera memisahkan kalian, karena kalian tidak ditakdirkan..”

Suzy mulai terisak. Sedangkan myungsoo masih terdiam. Mematung.

‘Siapa lagi yang bisa membuatnya bahagia kalau bukan yeoja ini?’

Kita saling mencintai..
Namun..
Sesuatu di masa lalu membuat kita tak bisa mengikatkan tali cinta lebih dalam..
Sesuatu dimasa lalu yang tak bisa diubah oleh siapapun..
Sesuatu yang sangat menyakitkan kita berdua..

Saat itu, suzy hanya memiliki seorang ibu. Ayahnya pergi begitu saja meninggalkan mereka. Ibu suzy yang mengalami kondisi dimana ia tak bisa memproduksi air susu, harus merelakan suzy diberi ASI oleh sahabatnya, ibu myungsoo. Dan.. itu berarti.. mereka tak akan bisa bersama mengikat cinta..
Karena itu..
Takdir yang tak bisa diubah..
Walaupun bukanlah saudara kandung..
Namun..
Tetap saja..
Saudara se ASI tak akan bisa menyatukan cinta mereka di plaminan..
Karena larangan..
Larangan yang mutlak..

‘Hai bae suzy.. aku kim myungsoo.. masih mencintaimu.. bahkan setelah mengetahui kenyataan itu..’ myungsoo tersenyum, membatin.

***END***

Ini sad apa happy sih? Kayaknya happy deh karena si myung ama suzy bahagia? Ya ya ya kan? *Bela diri* #nyengirkuda

RCL aja deh, monggo. Haturnuwun..

Bow~

60 thoughts on “FF Mud in the Fire (OneShoot)

  1. huwaaaaa😥 ini sad bener bener sad..pantes aja kaya ada yg aneh pas mereka kabur berdua..huh ternyata.,
    kirain mereka yg bakalan menikah..taunya suzy sama orang lain…

  2. Sad end,,, udah curiga dari awal, abis nya awal nya dah manis2 aja, jsdi pasti sad end, gak papalah yang penting Suji bahagia 😌

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s