FF Philemaphobia (OneShoot)

image

Title: Philemaphobia
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Drama, Married Life, etc.
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae suzy
Sub Cast: Choi Minho, Park jiyeon, Jung soojung, kang jiyeong, OC’s and etc.
Length: Oneshoot

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

“Silahkan mencium pengantinmu” ucap seorang pendeta di depan sebuah altar kepada sepasang pengantin di depannya.

Sang pengantin pria hanya berdiri mematung menatap yeoja berbalut gaun di depannya.

Come on myungsoo..” bisik sang pengantin wanita tak sabar.

Pria bernama myungsoo itu menggeleng kuat. Tubuhnya bergetar. Karena sang pengantin wanita yang tak tahan lagi, akhirnya ia merengkuh wajah myungsoo yang telah resmi menjadi suaminya. Wanita itu memajukan wajahnya perlahan lahan. Dan..

BRUAK!

Sang pengantin wanita terpelanting dari altar dengan posisi punggung mendarat lebih dahulu. Tubuhnya terjatuh tepat mengenai kue pernikahan mereka yang ikut terjerembab bersama wanita itu.

“SUZY!” pekik myungsoo shock ketika melihat istrinya terjatuh dan tak sadarkan diri dengan tubuh berlumuran kue tart. Semua hadirin yang hadir berkumpul hendak membantu wanita bernama suzy itu. Namun, tampaknya myungsoo tak membiarkan mereka menyentuh sang pengantin. Myungsoo menatap tak percaya ke arah istrinya yang dalam kondisi memalukan.

Eomma suzy lalu berjalan menghampiri myungsoo yang sudah mengangkat suzy ala bridal.

“Yak! Dasar gila!” Pekik wanita itu murka.

Namun myungsoo tetap berjalan membawa suzy yang masih tak sadarkan diri.

“Mianhae..mianhae..mianhae..” myungsoo terus menggumamkan kata maaf berkali kali. Karena phobianya lah yang membuatnya tak sadar mendorong istrinya dari panggung.

“YAK KIM MYUNGSOO!” Pekik seorang pria yang tak lain adalah kakak dari bae suzy.

***

Myungsoo menatap wajah ayu istrinya yang terbaring lemas di atas ranjang putih. Tepatnya di kamar berlabel VVIP 101, seorang wanita cantik tengah tertidur pulas dengan plester yang membalut keningnya.

“Mianhae..” myungsoo mengecup telapak tangan suzy seolah tak akan dilepaskannya lagi.

Perlahan lahan, mata suzy mulai terbuka. Ia tampak masih lemah setelah satu tulang rusuknya patah akibat terjatuh tempo hari. Untung saja, dia sudah bisa berbaring setelah menjalani operasi, walaupun harus di permukaan yang lembut.

“Mianhae.. nan-”

“Itu bukan salahmu.. aku yang salah karena memaksamu menciumku, padahal kau memiliki phobia itu..” sergah suzy pelan.

“Aniya.. aku tahu.. kau sangat mengidam idamkan sebuah ciuman di hari pernikahan. Aku.. aku.. aku sudah latihan.. kheundae.. masih saja aku tak bisa menahan phobia itu..” myungsoo menunduk. Tak sadar, airmatanya mulai mengalir.

“Gwaenchana..” suzy mengangkat wajah myungsoo. Lalu, jemari lentiknya mengusap pelan kristal bening yang membasahi kelopak mata myungsoo.

“Aniya..”

“Lagi pula.. aku bisa menciummu dengan seperti ini kan?” Suzy merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya lalu ia mengecup singkat dibibirnya. Kedua jari itu ia tempelkan di bibir myungsoo.

“Kau merasakannya?” Tanya suzy.

Myungsoo mengangguk polos. Seperti anak sepuluh tahun yang baru saja dibelikan permen.

Suzy tersenyum. Walaupun di dalam hati, ia sangat ingin mencium suaminya.

Kim myungsoo sebenarnya sudah menjalani berbagai terapi, hipnotis, dan sebagainya untuk menghilangkan phobianya. Namun, tak ada satupun yang berhasil. Entah mengapa pria itu bisa mengalami phobia mengerikan yang mungkin bisa menghancurkan kisah cintanya dengan suzy.

Suzy lalu menatap lirih luka lebam di wajah myungsoo akibat pukulan dahsyat yang diterimanya dari kakak suzy yang sangat murka.

“Appo?” Tanya suzy seraya menyentuh luka itu.

“Aniya.. ini tidak seberapa dibanding lukamu.. aku.. sangat pantas mendapatkannya..” myungsoo berusaha tersenyum. Yah, setelah suzy masuk rumah sakit. Disanalah hantaman bertubi tubi ia terima dari kakak suzy yang notabenenya sangat menyayangi suzy. Ia juga mendapatkan sebuah tamparan keras dari nyonya bae, eomma suzy—mertuanya. Namun tak ada pembelaan. Ia tak memiliki siapa siapa lagi. Mungkin hanya soojung dan jiyeong yang berusaha melerai kebrutalan kakak suzy. Yah, kedua sahabat suzy dan tentu saja sahabatnya.

***

“Syukurlah kau sudah sembuh suzy-ah..” ucap jiyeon yang merupakan teman kerja suzy.

Suzy hanya membalasnya dengan senyuman.

“Bagaimana rasanya tidak pernah mendapatkan ciuman pertama dari orang yang kau cintai suzy-ssi?” Ejek seorang pria di ujung sana. Suzy mendesis. Siapa yang peduli?!

Suzy tak mau berkata apa apa saat ini. Ia sedang tak mood.

“Kau tidak melihat betapa lucunya sang pengantin pria mendorong istrinya sendiri di acara terpenting dalam hidup mereka? Mungkin mereka tak sempat berbulan madu karena ulah suaminya yang keterlaluan membuat istrinya sendiri terluka” Pria itu berceloteh lagi. Tawanya meledak saat itu juga.

“Bagaimana bisa seorang pria normal tak mau dicium oleh seorang wanita cantik yang bahkan sudah sah menjadi istrinya? Hahaha..”

Telinga suzy yang panas mendengar ocehan pria itu, lantas mengambil sebuah buku yang tebalnya maksimal. Dilemparnya sekuat tenaga ke arah pria cerewet itu.

Brak!

Ups!

Suzy membulatkan mata. Tangannya menutup mulut tanpa sadar. Oh o!

“Kembali bekerja!” Teriak pria yang terkena timpukan buku itu. Seorang pria yang baru saja muncul itu menatap penuh amarah ke arah suzy.

Suzy menunduk. Takut.

“Kau bae suzy! Ke ruanganku sekarang!”

Suzy refleks mengangkat wajahnya.

“Si-siap pak!”

Pria yang tadinya ingin suzy timpuk malah tertawa pelan.

“Selamat bae suzy..” gumamnya.

***

“Kalian sudah berpacaran?” Tanya soojung antusias. Suzy tersenyum malu malu lalu mengangguk mantap.

“Kalian sudah..ber..ciuman?” Bisik jiyeong gugup. Senyum suzy langsung meredup. Namun, detik kemudian, ia kembali tersenyum. Senyum terpaksa lebih tepatnya.

“Tentu saja, sudah..” bisik suzy berpura pura antusias. Ia berdusta.

“Huaaaaa chukkae!!” Pekik jiyeong dan soojung yang merupakan sahabatnya.

Suzy tersenyum namun seketika berubah tatkala matanya menangkap seorang pria yang baru saja masuk dengan gaya khasnya. Dingin.

Pria itu menatap ke arah suzy. Datar. Tanpa ekspresi. Suzy membalasnya dengan ekspresi yang sama. Datar.

“Dia menemuimu!” Pekik jiyeong tertahan.

Setelah sampai di hadapan suzy, pria itu langsung menarik suzy pergi dari ruangan itu.

Tampak jiyeong dan soojung mengepalkan tangannya diudara dan berteriak ‘fighting’ secara bersamaan. Suzy tak dapat menahan dirinya untuk tertawa karena ulah sahabat sahabatnya itu. Pria itu lalu menoleh menatapnya tajam, suzy lantas menghentikan tawanya.

***

“Aku tadi mendengarmu berbicara soal pacaran. Kau berpacaran dengan siapa huh?” Tanya namja itu tajam. Ia tak segan segan mengunci tatapan suzy.

“Denganmu kan?” Jawab suzy, bingung.

“Siapa bilang aku mau berpacaran denganmu huh?”

Badan suzy melemas. Tubuhnya kaku seketika.

“Geu-geurae? Tadi pagi.. kau mengatakan mau bersama denganku dalam suka maupun duka dan.. menjadi pendampingku.. gugeo mwohae?” Suzy terkekeh pelan. Kaku. Ia sedikit kesal juga.

Myungsoo makin mendekatkan wajahnya.

“Aku tak mau berpacaran dengamu. Kheundae.. menikah..” bisiknya. Tubuh suzy langsung meremang. Myungsoo tersenyum lalu kembali menjauhkan tubuhnya dari suzy.

“Ayo kita menikah!” Ajak myungsoo seraya mengambil telapak tangan suzy lalu menautkan jemarinya di antara jari jari suzy.

Suzy tersenyum. lalu mencondongkan wajahnya ke wajah myungsoo. Namun myungsoo malah menjauh.

“Wae? Dari tadi saat aku ingin menciummu, kau selalu menghindar. Wae?” Tanya suzy bingung. Myungsoo terdiam.

“Kenapa tak menciumku? Biasanya.. seseorang yang baru saja mengikat tali cinta.. akan melakukan itu.. kenapa.. kau tak melakukannya huh?” Tanya suzy bingung bercampur kesal.

Myungsoo masih terdiam. Hening kembali merajai mereka.

“Aku.. tak akan pernah bisa memberikannya..”

Suzy tersentak.

“Wae? Waeyo?” Suzy menggigit bibir bawahnya, ia tengah menahan airmatanya.

“Phobia.. philemaphobia..”

Myungsoo melepaskan tangan suzy perlahan lahan. Suzy terdiam. Tak bereaksi.

“Kalau kau ingin mendapatkan ciuman pertama dari seorang pria.. maka, aku akan menyuruhmu melepaskanku.. tak ap-“

“Aniya.. gwaenchana..” suzy memeluk tubuh myungsoo dari belakang, memberikannya back hug yang hangat.

“Seperti ini saja tidak masalah kan?” Gumam suzy.

Myungsoo hanya tersenyum parau. Tanpa kata.

***

Suzy sedang sibuk berkutat dengan buku, pena dan laptopnya sampai sebuah lengan mengunci gerakannya.

“Kau tampak sibuk” ucap myungsoo. Suzy lantas menghentikan kegiatannya.

“Ne. Aku ditugaskan untuk membuat artikel tentang.. philemaphobia..” balasnya tak enak hati.

“Mwo?” Myungsoo tertawa pelan.

“Bos ku.. merasa.. artikel ini menarik untuk dijadikan topik utama majalahnya minggu ini..”

Myungsoo hanya tersenyum. Masih enggan melepaskan back hug nya.

“Dan.. aku ditugaskan untuk mewancarai seseorang yang mengidap phobia ini..” terangnya. Myungsoo melirik artikel yang suzy tulis. Di sana, ia melihat nama seorang pria yang telah mencuri ciuman pertama suzy. Myungsoo melepaskan pelukannya lalu mengambil kertas itu.

“Ige mwoya? Kau bekerja dengan choi minho?” Tanyanya menyelidik, tak suka.

“Ne.. dialah.. yang mengusulkan tema majalah untuk minggu ini..”

“Sialan..” gumam myungsoo sambil meremas kertas itu geram.

“Kau tak pernah mendengar gosip tentang kim myungsoo? Hari ini dia menjadi trending topicseantero sekolah..” ucap seorang pria yang sukses mengapit wanita yang tak lain adalah suzy.

“Mwoya?” Tantang suzy ketus.

“Pacarmu itu.. dia memiliki phobia yang mengerikan.. apakah kau masih mau bersamanya kalau ternyata ia tak bisa menjadi suami yang baik kelak?”

“Yak! Minho-ssi!”

Pria itu merengkuh wajah suzy dengan kuat hingga suzy tak bisa lepas. Ia sedikit meringis.

“Mari kita luruskan. Kau.. tak pernah mendapatkan ciuman pertama mu kan? Bagaimana kalau..”

Pria bernama minho itu tak melanjutkan ucapannya. Bibirnya sudah mengatup rapat bibir suzy. Melumatnya lembut.

Myungsoo yang sedari tadi berdiri di sana hanya bisa menahan dirinya. Menahan dirinya untuk tidak mengacaukan ciuman pertama suzy. Mungkin itu bisa membuat suzy lega karena telah mendapatkan ciuman pertamanya. Pikir myungsoo.

“Hmm.. kau mau?” Tawarnya ragu dan sedikit takut.

“Shireo!” Tolaknya kasar seraya melempar kertas yang berhasil ia remas. Myungsoo lalu beranjak dari ruang kerja suzy. Ia merasa panas setelah mengingat peristiwa itu lagi. Tangannya mengepal kuat. Minho tak hanya mencuri ciuman pertama suzy. Tapi juga ciuman kedua dan ketiga. Dan yang membuat myungsoo sakit hati adalah..

karena suzy juga membalas ciuman itu.

***

Suzy meremas rambutnya. Kepalanya terasa berat. Dari kemarin ia terus memikirkan narasumber untuk artikel majalah life mereka. Yah, artikel minggu ini mengangkat tema tentang phobia. Lebih spesifiknya adalah philemaphobia. Ketakutan terhadap ciuman, dicium maupun mencium. Judul yang diangkat oleh asisten bosnya—choi minho. Mungkin dia mengambil tema itu setelah melihat tragedi dalam pernikahan suzy dan myungsoo seminggu yang lalu.

Suzy sudah mencari informasi sebanyak mungkin. Tentang seseorang yang mengidap phobia ini. Namun sayang sekali, ia tak menemukan orang yang mengidap phobia tersebut di seoul. Entahlah, mungkin ada, tapi dia belum menemukannya.

Myungsoo yang sedari tadi melihat kegelisahan suzy lantas menghampiri istrinya itu. Ia ikut gelisah karena dari kemarin suzy terus mengacuhkannya.

“Suzy-ah..”

Suzy tampak berpura pura tak melihat myungsoo.

“Suzy-ah..” kali ini myungsoo duduk di samping suzy.

Suzy lalu mengambil pena dan berpura pura menulis. Berpura pura sibuk.

“Yak Bae suzy!” Pekik myungsoo tak tahan karena suzy mengacuhkannya terus. Suzy lalu berbalik. Menatap tajam suaminya itu.

“Mwo? Mwo?!” Sahutnya emosi.

“Aku mau.. jadi narasumbermu”

***

“Siapa namamu?” Tanya suzy sambil menjulurkan sebuah perekam ke arah myungsoo.

“Apakah kita harus menanyakan hal itu?” Sergah myungsoo yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari suzy.

“Jeoneoun.. kim myungsoo immida” ucapnya se-formal mungkin. Dalam hatinya, ia sangat kesal melihat ekspresi minho di samping suzy yang tampak ingin melepas tawa.

“Sejak kapan anda menderita phobia ini?” Kali ini minho yang bertanya. Myungsoo terdiam sejenak.

“Molla..” jawabnya datar.

“Maksudmu.. kau bahkan tak tahu mengapa phobia ini terjadi?!” Pekik minho yang merasa jawaban itu sangat lucu.

“Bisakah suzy saja yang bertanya huh?” Balas myungsoo ketus. Minho mendecak. Sementara suzy terkikik pelan.

“Sejak kapan.. anda menderita phobia ini? Dan.. kenapa bisa terjadi?” Tanya suzy langsung. Myungsoo berdehem sejenak.

“Saat aku berumur tujuh tahun. Saat itu aku.. aku kehilangan ibu dan ayahku. Saat..” kepala myungsoo tiba tiba sakit.

“Mussheun irriya?” Tanya suzy penasaran.

Myungsoo terdiam cukup lama sampai akhirnya ia mengatakan hal sebenarnya.

“Aku melihat ibuku berciuman dengan pria lain saat.. saat aku dan ayahku tengah berjalan jalan di taman. Ternyata ibuku selingkuh.. ayahku marah besar dan dia menarik ibuku pulang. Di sana ibu dan ayahku ditemukan tak bernyawa..” terangnya datar seakan tak terjadi apa apa.

Minho dan suzy sukses melongo.

“Gheu-gheurae..”

“Ne. Hal itu menstimulasi otakku sehingga menolak prilaku berciuman itu. Karena traumatik..”

“Gheurae.. kau tak akan pernah melakukan hal itu lagi?” Tambah minho. Suzy memalingkan wajahnya, parau.

Myungsoo terdiam sejenak.

“Molla. Aku.. tak tahu bagaimana melakukannya.. dan sepertinya.. tak ada satu carapun yang berhasil mengalahkan phobiaku..” tatapan mata myungsoo tak lepas dari jangkauan suzy. Sepertinya ia merasakan kesedihan mendalam yang dirasakan suzy.

Suzy menahan bulir bulir airmatanya. Ia menyerahkan recorder itu kepada minho dan langsung beranjak dari kursi. Meninggalkan kedua pria itu.

***

Suzy membuka mata perlahan. Dilihatnya jam yang berada di samping lampu tidur, tepat pukul 03.00 pagi. Ia terbangun setelah merasakan sesuatu yang menekan bibirnya. Yah, ia selalu merasakan hal itu setiap malam setelah pernikahannya. Diliriknya myungsoo yang terlihat tertidur pulas di sampingnya.

Suzy tersenyum simpul. Tangannya mulai mengusap pelan wajah suaminya itu. Wajah suzy mulai mendekat. Wajahnya berhenti tepat saat myungsoo membuka matanya.

“Apa yang akan kau lakukan huh?” Tanya myungsoo seraya menatap tajam suzy namun dengan sedikit senyum manisnya.

Suzy tersenyum kaku.

“Aku ingin menciummu..” bisik suzy yang sukses membuat myungsoo meremang. Namun myungsoo hanya tersenyum. Jari telunjuk dan jari tengahnya ia rapatkan lalu dikecupnya agak lama. Jari itu lalu ia tempelkan di bibir suzy.

“Kau bisa merasakannya huh?” Tanya myungsoo. Suzy tertawa pelan. Ia gemas dengan prilaku suaminya itu.

“Ne.. aku merasakannya..”

***

Setelah majalah Life itu terbit, beberapa acara acara talkshow langsung mengundang myungsoo ke acara mereka. Hal itu mendongkrak kepopuleran myungsoo yang notabenenya sudah sangat tampan dan juga mapan.

Namun hal itu justru membuat suzy tidak nyaman. Ia tak suka suaminya selalu berdekatan dengan wanita lain. Walaupun dalam pekerjaan sehari harinya yang sebagai manajer perusahaan pun tak lepas dari wanita, namun hal ini lain. Ia merasa suaminya sudah menjadi primadona wanita wanita yang sukses membuatnya cemburu berat.

Suzy menatap tajam ke arah myungsoo yang tampak sedang menelpon seseorang. Myungsoo terdengar berbisik bisik.

Suzy yang tak tahan lantas membuang gelas kaca yang dipegangnya, ke lantai yang sukses menimbulkan suara bising. Myungsoo langsung menghentikan aktivitas menelponnya.

“Gwaenchana?” Tanya myungsoo khawatir sambil memeriksa seluruh tubuh suzy, apakah ada yang terluka.

“Aniya.. aku sedang tidak baik baik saja..” balas suzy ketus.

“Jeongmal?” Myungsoo lalu mengambil plastik dan memungut serpihan kaca itu. Suzy menahan tangan myungsoo saat akan mengambil serpihan itu.

“Wae?” Tanya myungsoo bingung.

“Cium aku!” Seru suzy tak tahan. Mata myungsoo seketika membulat.

“Mwo-”

“Cium aku!” Desaknya.

“Ak-aku tidak bisa. Apakah kau lupa-”

“Kalau kau tak mau menciumku.. lebih baik.. pernikahan kita sampai di sini saja..” sergah suzy, tajam, menusuk.

“Geumane! Jangan katakan itu!” Pekik myungsoo. Tangis suzy mulai pecah. Lama kelamaan semakin keras dengan isakan kencang membuncah batin siapapun.

“Neo nappeun! Nappeun!” Pekik suzy di sela isakannya. Tangannya ikut bermain di lengan myungsoo, memukulnya dengan energi yang tersisa. Myungsoo menunduk. Ia merasa tak berguna.

“Kau bilang.. seperti ini saja sudah cukup. Lalu.. kenapa kau meminta hal itu lagi eoh?” Tanya myungsoo pelan, matanya lurus menatap serpihan kaca yang tak juga dibuang.

“Aku juga manusia myungsoo-ah! Aku merasa kau malah tidak mencintaiku! Bahkan saat pernikahanku pun aku tidak mendapatkannya! Aku jadi ragu.. apakah kau-”

Myungsoo menggeram. Kepalanya terangkat dengan tatapan paling tajamnya.

“Apakah kau tidak mengerti huh?! Aku mengidap philemaphobia! Harusnya kau mengerti!” Teriak myungsoo tak tahan. Nafas suzy tiba tiba tercekat.

“Aku..” suzy menghentikan ucapannya dan balik membalas tatapan myungsoo. Ia lalu beranjak dari tempat itu dan berlari ke kamar.

“Yak suzy-ah!”

***

Malam itu suzy tak bisa menutup matanya. Tatapannya terus mengarah ke atas langit langit kamar. Ia terus mengingat kejadian tadi siang.

Buggh!

Sebuah bogem mentah mendarat mulus di wajah minho. Suzy membelalak ketika melihat myungsoo tersenyum sinis ke arah minho dan bergantian ke arahnya.

“Kalian sudah puas?!” Pekik myungsoo tak tahan. Yah, dia baru saja melihat istrinya dan seorang pria yang tidak disukainya tengah berciuman mesra di koridor kantor. Saat itu myungsoo hendak menemui suzy, ingin menjemputnya makan malam di luar.

“Yak myungsoo-ssi! Ini karena kau yang tidak bisa memuaskan istrimu-“

Bugh!

Tangan myungsoo panas. Namun minho tetap tak mau membalas. Ia menoleh ke arah suzy, tersenyum sejenak lalu bergegas pergi dari tempat itu.

Suzy lalu menatap suaminya dalam.

“Mianhae..” ucap suzy pelan. Myungsoo membuang muka, enggan menatap kedua bola mata yang bisa membuatnya hanyut itu.

“Mianhae..”

Tiba tiba myungsoo terbangun yang sontak membuat lamunan suzy terbuyar. Ia lantas berpura pura tertidur.

Mula mula myungsoo mengusap pelan wajah suzy lalu wajahnya mulai mendekat. Bibir myungsoo sukses mengatup rapat bibir suzy.

Suzy membuka satu matanya tak percaya. Tangannya yang lepas kontrol malah memegang kepala myungsoo yang langsung membuat pria itu terlonjak kaget dan langsung menghentikan aksinya.

Suzy tersenyum simpul.

“Sejak kapan?” Tanya suzy, matanya masih menatap langit langit kamarnya. Sementara myungsoo kembali berbaring dan membelakangi suzy.

“Molla.. aku hanya berani saat kau tertidur”

Suzy masih mempertahankan senyum simpulnya.

“Apakah aku harus tertidur selamanya sehingga kau bisa menciumku selamanya huh?” Ujar suzy. Senyumnya langsung meredup.

Myungsoo sontak membalikkan badannya ke arah suzy.

“Mwo?”

Suzy ikut berbalik. Kini mereka saling bertatapan.

“Apakah itu berarti.. kau sudah bisa mengalahkan phobiamu huh?”

Myungsoo terdiam. Enggan menjawab.

“Wae? Jawablah..”

“Aku sudah bertanya pada ahli hipnoterapi dan psikologi. Mereka berkata.. bahwa phobiaku tidak bisa hilang”

Suzy tersenyum, mengerti. Bukankah dulu juga begitu?

“Oke.. selamat malam..” suzy hendak membalikkan badannya namun myungsoo dengan sigap menahannya.

“Yak.. aku belum menyelesaikan kalimatku..”

“Gheurae mwohae?”

Myungsoo mulai memajukan wajahnya. Suzy menutup matanya perlahan. Sebuah kecupan mendarat di kening suzy.

“Aku selalu menciummu setiap malam.. hal itu membuat ketakutanku lama kelamaan semakin hilang. Dan.. aku sudah bisa menciummu di kening walaupun kau dalam keadaan sadar..”

Suzy membuka matanya dan seketika senyum sumringah menjajah rupanya.

“Kau.. belajar?”

“Aniya.. hanya mencoba. Bukankah tak ada sesuatu yang akan berhasil jika kita belum mencobanya? Makanya aku harus mencobanya dulu sebelum men- judge kekuatanku sendiri..” myungsoo tersenyum simpul.

Pasangan itu saling pandang dalam senyum. Mata mereka perlahan lahan tertutup. Mereka mengantuk. Besok akan menjadi hari baru. Iya kan?

Yah, dulunya aku tak pernah mencoba. Aku hanya terapi dan terapi. Tapi aku tak pernah mencoba.
Namun saat aku mencoba.. ternyata semuanya terasa mudah..
Aku memulainya saat kami menikah..
karena saat itulah.. saat aku bisa menciumnya.. saat ia tertidur..
Disanalah saat saat keberanianku muncul..

Mungkin suatu saat nanti myungsoo akan menciumku seperti pasangan pasangan yang lain. Bahkan saat aku sadar..
Aku yakin..
Myungsoo akan menciumku lebih hebat dari pria pria lain..
Namun yang membuatku lega.. karena ternyata myungsoo sangat mencintaiku..

Semuanya butuh tahap kan?

***END***

What the-_- mian atas kesalahan maupun typo.
Aku sama sekali bingung untuk nentuin endingnya. Jadi.. jadilah ending yang.. ahsudahlah..
RCL juseyo^^

Bow~

66 thoughts on “FF Philemaphobia (OneShoot)

  1. jujur, aku kecewa sama sikap suzy disini yg ‘selingkuh’ sm minho, yah walaupun cuma ciuman tapi itu juga termasuk perselingkuhan kan ya? kkk~

  2. Awal2 nya manis, gue dah curiga ini bakal sad end, dan bener aja, apalah daya, yang penting Suji bahagia 😌

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s