FF Sixth Spirit PART 4

image

Title: Sixth Spirit
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Horror, Drama, Family, Fantasy, Friendship, SchoolLife, Mystery (maybe), etc.
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho
Sub Cast: Park Jiyeon, Krystal Jung, Park Chanyeol, Oh Sehun, Lee Jieun, OC’s and etc (SubCast dapat berubah sewaktu-waktu)
Length: Chaptered

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

Previous Part:

Myungsoo masih merasakan bibir itu menempel di bibirnya. Suzy sama sekali tak menyangka, ternyata roh ini bisa menciumnya dan bahkan terasa!

‘YAK KIM MYUNGSOO! MWOAHANEUNGOYA?!’ Batin suzy. Ia bungkam. Ia tak pernah menyangka bahwa ciuman pertamanya ternyata bersama seorang roh mesum macam kim myungsoo. Chanyeol yang notabene adalah mantan pacarnya belum pernah menciumnya sekalipun. Suzy selalu menolaknya karena ia hanya ingin ciuman pertamanya itu istimewa.

Tapi.. yang terjadi malah..

***PART 4***

Kelopak mata suzy terbuka lagi setelah dua menit yang lalu tertutup. Ia merasakan dadanya yang bergemuruh mengingat kejadian satu jam yang lalu.

“Mudah saja..”

“Aku ingin mencium
bibir delimamu..”

Suzy menggeleng menepis bayang bayang peristiwa memalukan tadi. Yang benar saja, suzy dicium oleh roh?! Ia hanya berharap itu tak termasuk ciuman yang dihitung.

Suzy kembali menutup matanya setelah meyakinkan diri bahwa myungsoo tak berada di dalam ruangan itu. Namun, dua detik kemudian matanya kembali terbuka. Ia mendesah gelisah lalu segera bangkit dari tempat tidur.

“Sial..”

“MICHEOSSEO?!”

Myungsoo hanya menyunggingkan sebuah senyum tipis nan jail darinya. Jempolnya mengusap pelan bibirnya dengan menggoda lalu detik kemudian menghilang dari kamar itu.

Suzy mendecak lalu membuka paksa cincinnya. Ia kemudian membuangnya serampangan.

Jujur. Ia sangat malu atas kejadian tadi. Apalagi kelima roh itu sempat melihatnya sedikit.

“Yak kim myungsoo! Keluarlah! Kau harus bertanggung jawab! Awas saja!” Pekik suzy emosi.

Suzy segera berlari menuju kamar mandi yang ada di kamarnya. Sesampainya di sana, ia langsung menyalakan keran westafel lalu ia mengusap wajahnya penuh nafsu berkali kali hingga dirasanya cukup. Kakinya melangkah menuju gantungan handuk yang berada tak jauh dari tempatnya berpijak sekarang. Ia mengusap wajahnya hingga kering. Setelahnya, ia mengambil sikat dan pasta gigi lalu mulai menggosok gigi. Tak lupa ia mengambil obat kumur untuk membersihkan sisa sisa kotoran yang ada di dalam rongga mulutnya. Matanya menatap intens ke arah pantulan cermin sembari melakukan semua kegiatan itu. Yah, pikirannya kemana mana.

***

Suzy membuka matanya ketika seberkas cahaya menyilaukan, menyengat ubun ubun dan wajah ayunya. Ia menguap lebar sembari bangkit dari posisi awal. Ia tertidur pulas semalam. Terapi membasuh wajahnya berhasil. Suzy bahkan tak menyadari sosok tak kasat mata yang semalaman menemaninya terlelap.

Setelah kesadarannya penuh, ia bergegas beranjak menuju kamar mandi, namun langkahnya terhenti tatkala merasa dirinya tak sendirian di ruangan itu. Sekilas ia seperti melihat sesosok makhluk di atas tempat tidurnya. Suzy berbalik, namun ia tak urung menemukan seseorang di sana. Suzy menggeleng lalu segera melengos masuk ke dalam kamar mandi.

Setelah suzy masuk ke dalam kamar mandi, sosok yang diyakini suzy sebagai pengusik paginya itu seketika muncul tepat di atas tempat tidur suzy. Ia sedikit takut bertemu suzy pagi itu, karena itulah ia bersembunyi. Hanya saja yang membuatnya cemas, karena eomma suzy membuang semua sampah di dalam tong sampah yang berada di kamar suzy yang nyatanya terdapat cincin kristal yang suzy buang serampangan semalam. Myungsoo ingin berbuat sesuatu, namun ia takut menemui suzy dan ia pun tak bisa merasuki tubuh eomma suzy yang masih terjaga. Ia harus memberanikan diri menemui suzy dan memberitahukannya sebelum cincin itu jatuh ke tangan yang salah. Walaupun ia tak tahu menahu soal cincin itu, tapi ia yakin, cincin itu sangat berharga yang mungkin tempat segala rahasia yang selama ini bersembunyi, entah tentang ke lima roh asing bagi suzy ataupun asal usul cincin itu.

Lima belas menit berlalu dibarengi dengan kemunculan suzy dari balik pintu kamar mandi. Sebuah handuk berwarna pink melingkar di atas kepalanya, menutupi rambutnya yang basah. Tak lupa baju mandi dengan warna senada menutupi tubuhnya yang memancarkan aroma semerbak.

Myungsoo menelan salivanya gugup melihat tetesan air yang jatuh perlahan dari leher jenjang suzy.

Suzy berjalan seraya bersenandung kecil menuju lemari pakaian. Ia bahkan tak menyadari kehadiran myungsoo yang memandanginya penuh nafsu nan intens di atas ranjangnya yang masih berantakan.

“Pakaian dalamku yang berwarna pink itu mana yah? Aku menaruhnya di sini semalam..” gumam suzy sambil menjelajahi lemari berukuran sedang itu dengan tangannya.

“Pink?” Gumam myungsoo mendadak geli. Suzy yang merasa dipandangi lantas berbalik. Matanya mengamati seluruh kamarnya dengan awas, namun ia lagi lagi tak mendapati siapapun.

Suzy mengangkat bahunya enteng lalu kembali mencari benda karet yang dimaksud.

***

Myungsoo mengusap dadanya pelan diselingi nafas naik turun yang sengaja ia atur mengingat keadaan jantung rohnya yang mendadak berdetak diatas normal. Jantungnya bergemuruh tak karuan.

Ia memandang ke atas langit dan menyadari bahwa ia tengah berada di luar. Untung saja ia cepat cepat menghilang dari ruangan itu, kalau tidak, maka sudah dipastikan ia akan mendapatkan amukan amarah dari suzy sebagai tindakan mesum untuk yang kedua kalinya.

Setelah menelaah situasi dan kondisi, tampaknya tak memungkinkan untuk myungsoo memberitahukan suzy masalah cincin itu saat ini. Yah, entah mengapa ia jadi merasa aneh melihat kejadian tadi dibanding ciuman sepuluh detiknya semalam. Darahnya seolah berdesir serta perutnya terasa menggelitik. Bibirnya pun terus memaksanya tersenyum melihat adegan tadi yang seakan dihiasi efek slomotion bak di film film, ketika suzy menyibakkan handuk yang dikenakan di kepalanya.

Ia tak bisa memaksakan diri memberitahukan hal itu untuk saat ini atau ia akan mati kaku ditangan suzy.

Myungsoo tersenyum memegang dadanya damai. Ia tak mengetahui perasaan apa yang tengah dirasakannya. Seumur hidup ia tak pernah merasa sedamai ini.

Pikirannya terbuyar ketika sebuah mobil tak asing menembusnya. Myungsoo segera tersadar.

“Minho huh?”

Myungsoo memilih membuntuti minho yang menurutnya misterius karena pernah menyinggung masalah ‘keadaan senasib dengan suzy’ yang berarti berkaitan dengan cincin itu. Ia akan menjadi penguntit minho hari ini tanpa harus ketahuan oleh suzy. Myungsoo hanya ingin mengetahui sesuatu tentang cincin yang juga memerangkap roh orang terkasihnya, roh eommanya.

“Baiklah.. hari ini kau bebas, bae suzy..”

***

Suzy memperhatikan sekelilingnya ketika mobil hyundai milik minho muncul. Wanita itu hanya takut kalau kalau si mesum myungsoo mendatanginya dan meminta permintaan itu lagi. Yah, permintaan yang berarti ‘ia harus menolak diantar jemput oleh minho’.

Setelah dirasanya cukup aman, suzy buru buru beranjak masuk ke dalam mobil.

“Kkaja!”

Mobil itu lalu melaju meninggalkan tempat tadi.

“Mianhae.. aku tidak pernah menemuimu tiga hari ini. Kau tau kan batinku sedang tertekan” ucap suzy membuka percakapan awal mereka yang semula canggung.

“Gwaenchana..” mata minho melirik ke arah jemari suzy yang kosong melompong.

“Kau tidak mengenakan cincin unik itu?” Tanya minho kemudian.

Suzy tersentak lalu buru buru merogoh tasnya. Sepertinya ia baru mengingat hal itu. Karena kejadian semalam yang membuatnya kesal, mengakibatkan keteledoran yang mungkin berakibat fatal nantinya.

“Aish.. aku lupa menaruhnya dimana” gerutunya dengan muka menahan kesal.

Tangan kanan minho menjalar ke telapak tangan suzy perlahan tapi pasti, tangannya mengatup tangan mungil milik suzy.

“Sebegitu berharganya kah cincin itu sampai membuatmu kesal?”

Suzy kehabisan kata kata setelah perlakuan minho yang mendadak membuatnya kikuk.

Myungsoo yang bersembunyi di jok paling belakang, mendesis dan mengumpat tak jelas.

“A-aniya..” suzy tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kepanikannya.

“Biar kuberitahu.. aku.. sedikit mengetahui sesuatu mengenai cincin itu..” minho refleks melepaskan genggamannya dan memilih mengendalikan stir dengan lihai ketika sebuah mobil menyosor ke depan.

Suzy menghela nafas lega.

“Kau penerus ke lima yang mencari roh keenam huh?” Tanya minho kemudian.

Suzy terlonjak kaget mendengar penuturan barusan.

“Kau.. tahu?”

“Perkenalkan.. aku adalah penerus ketiga” minho tertawa pelan. Suzy masih terdiam, memusatkan pikirannya pada cincin itu. Otaknya bergumul dengan teka teki yang selama ini meracuninya. Ia tak bisa memahami kebetulan ini. Pasti ada sesuatu yang menarik dari cincin itu. Pasti ada. Tapi apa?

“Biar kuberitahu satu rahasia lagi..”

Suzy terdiam menunggu kalimat selanjutnya.

“Choi dong ju.. adalah kakak tiriku..”

Glek!

Apakah ini sudah cukup jelas? Kenapa sang pewaris adalah orang orang yang sangat dekat?
Pertanyaan pertanyaan itu terus berkecamuk di dalam benak suzy, membuatnya bungkam seribu bahasa.

Myungsoo membekap mulutnya. Matanya membulat tak percaya. Yah, otaknya kini memunculkan memori beberapa tahun yang lalu. Saat saat keemasan dalam hidupnya. Saat ketika ia dan ibunya masih bersama. Saat dimana myungsoo mempertanyakan tentang cincin yang dikenakan ibunya saat itu. Cincin yang tak salah lagi. Cincin yang juga dikenakan suzy, minho bahkan dongju yang tak dikenalnya.

“Ada apa ini? Kenapa semuanya malah menjadi serumit ini? Apa maksud cincin itu sebenarnya huh?” Gumam myungsoo shock.

Suzy menoleh ke arah minho menatapnya penuh pertanyaan. Ia memiringkan kepalanya ke samping seperti kebiasaannya saat tengah bingung. Matanya menatap lekat lekat pria itu.

“Jangan sampai kau membuat orang lain mengenakan cincin itu. Karena akan menimbulkan malapetaka. Aku sepertinya harus mengatakan ini padamu, karena aku takut.. kau tidak juga memakai cincin itu sehingga aku khawatir kau menghilangkannya. Mudah mudahan saja kau tidak menghilangkannya..” jelas minho.

Myungsoo kembali tersentak. Ia kacau sekarang. Seharusnya ia mengatakan dengan cepat prihal cincin itu, yang mungkin sudah berjibaku dengan sampah sampah lainnya. Myungsoo merasa sangat bodoh karena melepaskan sesuatu yang sangat penting hanya karena keegosisannya yang takut menemui suzy dalam keadaan yang tak tepat. Haruskah ia mengatakannya sekarang?

“Suz-” ucapan myungsoo terhenti ketika mobil terbentur oleh sebuah benda logam dari arah belakang yang sontak membuat mobil itu terpelanting ke sudut jalan dengan keras.

Mobil yang tadi menganggu ketentramannya kini menabraknya dari belakang yang sontak membuat minho membanting stir ke arah kanan. Mobilnya berputar karena jalanan yang licin akibat salju yang masih membasahi beberapa titik jalan. Minho berusaha menginjak pedal rem namun naas, remnya blong. Mobil itu lalu bertubrukan dengan pembatas jalan setelah beberapa detik berputar tak jelas.

Myungsoo membelalak melihat darah yang mengalir dari pelipis suzy, walaupun air bag berhasil menyelamatkan nyawanya, namun serpihan kaca terlempar mengenai pelipisnya yang pelak membuat cairan merah kental itu mengalir.

“Aku.. apakah ini yang aku inginkan?” Myungsoo menatap suzy yang tengah pingsan dengan tatapan lirih. Apalah dayanya, ia hanya roh gentayangan yang mengusik kehidupan seseorang. Kehidupan seorang wanita yang juga pernah mengusik kehidupan indahnya.

Suara gaduh berbagai aparat membuyarkan lamunan myungsoo. Ia tampaknya enggan pergi dari sana walaupun segerombolan orang mulai mendekati mobil itu untuk menolong suzy dan minho. Toh, mereka tak akan melihat wujud myungsoo.

Sekilas, suzy melihat seseorang menatapnya dengan tatapan sendu, namun sekejap mata menghilang begitu saja. Detik kemudian, ia benar benar tak sadarkan diri setelah ranjang dorong miliknya memasuki ambulans.

***

Minho membuka matanya perlahan, dilihatnya selang infus yang melekat di tangannya. Ia mendesah lalu segera bangkit.

Ia mengarahkan pandangannya ke arah pintu yang tak juga menunjukkan gejala manusia yang datang. Tanpa pikir panjang, minho melepas selang infus itu dari tangannya. Minho sempat meringis karenanya. Yah, benar saja, darah langsung mencuat begitu selang yang tertancap di urat nadinya dilepas.

“Sial..” gumamnya kesal pada dirinya sendiri yang ceroboh sehingga membuat semua ini terjadi. Tak lupa ia mengganti pakaian rumah sakitnya dengan pakaiannya semula. Setelah itu, ia beranjak dan meninggalkan ruangan itu menuju kamar suzy dirawat.

Dalam perjalanan, ia terus menyembunyikan tangannya yang berdarah agar tak ada yang mengira bahwa dirinya adalah pasien yang kabur. Karena minho merasa tak sesakit itu. Hanya ada luka lecet di lengan dan tangannya serta luka robek akibat kaca yang menimpahnya di bagian pipi dan keningnya. Tak terlalu parah baginya. Hanya luka kecil untuk seorang pria. Jadi, terlalu berlebihan untuknya diinfus.

Minho masih terus berjalan dengan menyembunyikan salah satu tangannya. Kakinya berhenti melangkah ketika mendengar suzy berbicara pada orang lain saat minho telah sampai di depan ruangan suzy dirawat. Telinganya mendongak ke arah pintu hendak mendengar percakapan itu. Barangkali ada sesuatu yang penting walaupun menguping bukanlah gayanya. Samar tapi pasti, suara itu terdengar jelas di telinga tajam khas minho.

“Mwo?! Cincinnya hilang?!”

Mata minho menyipit. Benarkah yang didengarnya?

“Suzy berbicara pada siapa?” Ucap minho bermonolog.

“Eomma membuang sampah di kamarku yang ternyata berisi cincin itu?!”

Mimik wajah minho mulai panik mendengar kalimat tadi.

“Siapa yang suzy ajak bicara soal cincin itu huh?” Lagi lagi minho berkata pada dirinya sendiri.

“Aku harus mencari cincin itu sampai ketemu. Kalau tidak..” suzy menggeleng panik tak mampu melanjutkan kalimat selanjutnya.

Pintu kamar suzy terbuka ketika ia akan meninggalkan kamar dengan membawa infusnya, hendak menemui minho. Niatnya segera terurung tatkala minho kini berada di hadapannya.

“Kau menghilangkannya kan?” Sembur minho langsung. Suzy tampak kikuk ditanyai penuh dakwaan seperti itu.

“Ng.. gwaenchana.. aku akan-”

“Sebenarnya apa yang ada dipikiranmu huh?!” Bentak minho. Suzy tersentak. Pupil matanya membesar menerima perlakukan mendadak tadi.

“Aku tidak sengaja melemparnya dan ternyata masuk ke tempat sampah-”

“Dan kau tidak tahu dimana cincin itu sekarang huh?!” Lagi lagi minho memotong ucapan suzy.

Suzy mengangguk ragu dengan tampang masam. Ia sedikit kesal dibentak seolah olah telah melakukan pelanggaran hukum.

“Sial.. kau dalam bahaya sekarang..” ucap minho kemudian seraya menghela nafas berat. Matanya kini menangkap plester yang melekat di kening suzy dengan tatapan sendu. Ia merasa sangat bersalah karena secara tak langsung menyakiti suzy dengan luka luka itu.

‘Mian.. mianhae..’ batinnya. Ia merasa gagal sebagai guardian angel suzy.

Lidah suzy terasa kelu sehingga hanya bisa terdiam, shock. Ia tak menyangka ternyata dirinyalah yang dalam bahaya. Ia bersumpah akan menarik kata katanya soal kebengisan minho tadi.

“Segeralah hubungi eommamu dan tanya di mana cincin itu dibuang. Aku yang akan mencarikannya untukmu. Hubungi aku kalau kau sudah mengetahuinya. Aku akan mengurus semuanya agar tidak ada yang mengetahui kita kecelakaan. Agar tidak menimbulkan kepanikan. Tunggulah di sini, aku akan menjemputmu. Arra?”

Suzy mengangguk. Minho tersenyum sebentar lalu segera melangkah meninggalkan ruangan itu dengan tanda tanya besar di kepalanya.

“Apakah yang diajaknya bicara itu adalah myungsoo?” Gumamnya.

Langkahnya tiba tiba terhenti ketika melewati sebuah kamar ICU. Ia sempat mendengar dokter menyebut nama ‘myungsoo’ dan mengatakan bahwa pasien itu sedang dalam masa kritis melalui tensi jantungnya yang menurun drastis.

Minho berbalik hendak melihat keadaan yang terjadi melalui cela pintu ketika salah satu dokter memasuki ruangan itu. Matanya seketika terbelalak tak percaya.

“Carilah pria ini. Namanya kim myungsoo. Kau harus menyampaikan pesanku padanya..” ucap wanita parubaya itu seraya memperlihatkan selembar foto bergambar seorang pria yang sedang tersenyum.

“Dia.. belum mati? Jadi yang selama ini bersama suzy.. adalah roh yang tak sempurna?” Gumamnya menerka.

Ekspresi aneh langsung terpasang diwajahnya.

“Jadi.. kau bukanlah roh keenam huh? Benarkah? Lalu.. kenapa suzy bisa melihatmu?”

***

“Kau ditangkap?! Bagaimana bisa?! Aku kan menyuruhmu kabur saat kau sudah menabraknya!”

“….”

“Baiklah.. aku yang akan mengurus sisanya. Kau jangan memberitahukan namaku pada siapapun atau kau yang akan mati. Arra?!”

Pria itu melempar ponselnya kesal setelah mengakhiri pembicaraan mereka. Nafasnya naik turun menandakan ia sangat dongkol.

“Ternyata menyingkirkanmu tidak semudah itu. Seharusnya tadi adalah momen yang tepat karena bisa membunuh dua tikus sekaligus. Tapi, sepertinya bermain main adalah cara teraman untukku.. jadi.. ayo kita bermain main..”

***

“Ayo kita pulang..” ucap suzy lemas setelah membereskan semua barang barangnya. Myungsoo yang sedari tadi bersamanya tampak ingin mengatakan sesuatu yang mengganggu pikirannya.

“Mussheun irriya?” Tanya suzy seraya berhenti tepat saat akan membuka pintu karena tatapan myungsoo yang sangat mengganggu.

“Keningmu.. apakah tidak apa apa?”

Suzy tersenyum menanggapi penuturan khawatir itu. Ternyata karena itu myungsoo sedari tadi menampakkan wajah cemas.

“Gwaenchana.. ini tidak akan berbekas. Hanya saja aku tidak tahu harus berbohong mengenai luka ini. Kau ada saran?”

Myungsoo tampak berpikir sejenak.

“Oh.. ayolah.. tidak usah kau pikirkan. Aku hanya bercanda. Kkaja!” suzy tertawa kecil seraya kembali melangkah keluar dan beranjak dari sana.

Sambil berjalan menuju parkiran, ia merogoh tas dan mengambil ponselnya. Tak lupa ia mengecek inbox yang masuk.

From: minho

Mian.. aku tidak bisa mengantarmu. Aku ada urusan mendadak. Hati hati dijalan. Segeralah pulang.

Suzy tersenyum hambar lalu kembali memasukkan benda persegi itu ke dalam ranselnya.

“Kau akan kemana?” Tanya myungsoo ketika suzy berhenti tepat di depan sebuah kamar ICU yang dulu myungsoo beritahukan padanya.

Ia menoleh dan melihat dari balik kaca buram aktivitas yang terjadi di dalam. Suzy melihat dokter yang gempar mengurusi pasien yang tampaknya sudah diambang kematian.

“Myungsoo-ssi..”

“Hm?” Myungsoo ikut menoleh ke arah pandangan suzy. Ia tak terlihat kaget ataupun gelisah. Justru sebaliknya, ia merasa akan segera bebas dari himpitan koma.

“Orang itukah yang ingin kau bunuh huh?”

Myungsoo mengangguk pelan.

“Kalau dia mati.. berarti secara otomatis, misi yang gagal itu akan termaafkan huh?”

Myungsoo menoleh tajam ke arah suzy yang ikut mengalihkan pandangan suzy ke arah myungsoo.

“Jadi.. apa yang akan kau lakukan?”

Suzy tersenyum lemah.

“Tidak ada. Aku hanya akan memastikan bahwa.. pria itu mati dengan sendirinya..”

Bam!

Bagaikan ditindih ribuan ton besi. Myungsoo merasakan sekujur tubuhnya bagai ditusuk jutaan jarum. Sakit. Entah mengapa ia merasa sangat sakit mendengar suzy dengan mudahnya mengatakan hal itu, padahal awalnya dialah yang menyuruh suzy melakukan pembunuhan terhadap pasien di ICU tersebut.

“Kau sudah tahu.. siapa pria di dalam itu huh?” Tanya myungsoo dalam.

Suzy menggeleng membalas pertanyaan myungsoo.

“Pasien itu- akh..” myungsoo memegang dadanya yang tiba tiba sakit. Belum sempat suzy membuka mulutnya, myungsoo sudah menghilang duluan.

Suzy mengerutkan keningnya sambil menatap ke sekeliling.

“Yak myungsoo.. Eoddiya..?” Panggil suzy pelan.

Suzy sontak berbalik saat terdengar suara kebahagiaan dalam kamar ICU itu. Samar, suzy melihat dokter itu saling berpelukan tanda berhasilnya menangani pasien yang sekarat.

“Apakah.. pria itu selamat?” Gumam suzy panik.

***

Sebuah cincin yang terlihat tak biasa dengan ornamen huruf latin yang menghiasi kristal hitam yang terletak di puncak
cincin, tergeletak serampangan di depan sebuah toko ritail bersama salju yang menutupi sebahagian dirinya. Kristal hitamnya mencuat menampakkan diri, namun tak seorangpun peduli dengan benda asing itu. Banyak insan yang berlalu lalang namun tak juga membuat ketertarikan terhadap benda penghias jari tersebut.

Cincin itu terjatuh saat akan diangkut ke dalam mobil pembuangan karena plastiknya yang mendadak rusak. Eomma suzy berlari memburu petugas kebersihan sampai di depan toko itu karena terlambat mengangkut sampah. Disanalah plastik sampahnya bocor, toko yang tak jauh dari rumah suzy.

Toko tersebut tampak menyepi sehingga menyelamatkan cincin itu dari tangan tangan tak diharapkan, namun tak berselang lama, seorang wanita yang turun dari mobil hendak berbelanja, menyadari cincin itu ketika benda berkilauan tersebut menyala bagai benda berharga macam kristal swaroswki ketika melewatinya.

Gadis itu memungut benda tersebut dari tumpukan salju. Ia memperhatikannya sejenak lalu kemudian menaruhnya ke dalam tas jinjingnya.

***

Suzy menghamburkan diri di atas kasur sembari terlentang memandang langit langit kamarnya dengan helaan nafas berat. Ucapan eommanya yang mengatakan bahwa semua sampah sudah dibuang pagi tadi membuatnya depresi. Terlebih lagi ucapan minho yang menelponnya mengenai cincin itu sangat keras, membuat batinnya bergidik. Ia paham betul bahwa minho melakukan hal itu, hal keras itu untuk dirinya yang sedang dalam bahaya. Tapi, hal itu justru membuatnya semakin terpuruk. Tak ada siapapun lagi. Tak ada kelima roh yang selalu menghiburnya. Bahkan myungsoo menghilang bak ditelan bumi.

Pikirannya terbuyar ketika terdengar suara ketukan pintu dari balik pintu kamarnya.

Suzy beranjak dan berjalan malas ke arah pintu. Saat akan membuka pintu, ponselnya tiba tiba berbunyi. Suzy berlari pelan mengambil ponselnya lalu diangkatnya sembari memutar kunci pintu kamarnya.

“Yeobo-“

“Jangan buka pintu apapun kalau kau sedang sendirian!” Sembur minho cepat.

Suzy yang mendadak panik lalu membatalkan niatnya membuka pintu dan kembali menarik kuncinya dari lubang pintu. Karena panik, ia membuang kunci itu serampangan. Ia perlahan menjauh dari pintu dengan mimik ketakutan.

“Mussheun.. irriya?” Susah payah suzy mengeluarkan suara. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena beradegan romantis dengan pria yang disukainya, tapi karena beradegan menegangkan dengan orang yang tak dikenal yang kapan saja bisa menerkamnya.

“Saat aku ke kantor polisi.. ternyata.. kecelakaan itu disengaja. Orang yang menabrak tidak mau mengatakan apapun. Hanya saja.. dia menyuruh kita berhati hati.. kau sedang sendirian kan?”

Suzy membekap mulutnya. Tubuhnya gemetaran. Yah, eommanya baru saja keluar ketika ia pulang.

Badannya semakin melemas tatkala ketukan pintu itu semakin keras tanpa adanya tanda tanda si tamu hendak bersuara.

“Dowa..juse..yo.. minho-ah.. ada.. orang.. yang mengetuk kamarku..” gumam suzy yang kini terduduk di pinggir tempat tidur. Ia takut. Sangat takut.

“Tunggu aku. Jangan buka pintunya sampai aku datang. Aku akan segera ke sana!”

Suzy meletakkan ponselnya di lantai dengan pelan agar tak menimbulkan kebisingan setelah mengakhiri percakapan.

Ketakutan suzy semakin menjadi jadi ketika gagang pintu kamarnya naik turun. Suzy kembali membekap mulutnya. Tangisnya tumpah kini bersama ketakutan yang semakin mencengkramnya.

Matanya membelalak ketika pintu kamarnya sudah terbuka perlahan. Suzy berteriak sekencang kencangnya sembari berlari menuju kamar mandi yang ada di kamarnya. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara itu.

“YAK! NUGUNEO?! JANGAN KABUR!”

Suzy mengenal suara itu. Ia segera beranjak dan berlari membuka pintu begitu dirasanya si tamu tak diundang sudah kabur karena teriakan pria yang dikenalnya itu. Sepertinya minho datang tepat waktu.

Suzy berlari menghamburkan dirinya ke dalam dekapan minho yang kini berada di depan pintu kamarnya.

“Mianhae.. hampir saja aku terlambat. Untung saja aku segera memutar mobilku ke sini begitu mengetahui bahwa ada yang tak beres..” minho makin mempererat pelukannya. Suzy menangis sejadi jadinya di bahu minho yang mulai dibasahi oleh linangan airmata suzy.

“Aku.. sangat.. takut..”

“Mianhae.. aku tidak bisa melihat orang tadi karena dia memakai topeng”

Suzy mengangguk seraya menghapus airmatanya. Ia bisa menghela nafas lega sekarang. Tak salah suzy memanggil minho dengan sebutan guardian angel nya. Salah satu bukti kecil dengan bertindak sebagai malaikat disaat saat genting seperti tadi.

“Aku melihat pintumu dibuka oleh kunci segala pintu. Sepertinya orang yang melakukannya adalah orang yang sama..”

“Aku.. takut..” gumam suzy lagi.

“Ne. Sekarang kau aman. Kumohon jangan pergi sendirian tanpaku, ne? Sekarang hidupmu tidak aman. Belum lagi malapetaka gaib yang akan segera menimpamu akibat hilangnya cincin itu..”

“..Aku.. sangat.. takut..” sambung minho dalam.

Dada suzy tiba tiba sesak mendengar kalimat yang sukses mengoyak ngoyak psikisnya. Tangis yang tadinya mereda kini mengeras lagi.

‘Apa yang sebenarnya orang itu inginkan?’

***

Suzy terlihat murung di dalam kelas seharian. Tak ada yang bisa ia lakukan selain berdiam diri. Hari ini minho memiliki kegiatan olahraga untuk kembali mengasah kemampuan lompat jauhnya. Karena itulah, minho menyuruh suzy menunggunya di kelas setelah pelajaran berakhir, karena minho tak akan membiarkan suzy pulang sendirian.

Kembali suzy mendesah setelah dua puluh lima menit dalam keheningan. Tak ada siapapun di sana. Kegiatan pembelajaran sudah selesai sejak setengah jam yang lalu. Jam pun sudah menunjukkan pukul setengah enam sore yang berarti pencahayaan sudah mulai meredup dan sebentar lagi malam akan menenggelamkan cahaya.

Suzy yang masih setia dalam keremangan kelas lantas beranjak menuju sakelar hendak menyalakan lampu.

Samar samar suzy melihat seseorang perlahan mendekatinya.

“Minho?”

Mata suzy membelalak melihat orang itu menutup wajahnya dengan topeng dan semakin mendekat ke arahnya.

“Itu.. bukan minho..” gumam suzy yang mulai panik. Ia segera berlari mengambil ranselnya lalu secepat mungkin bersembunyi dibalik jejeran bangku bangku.

Suara hentakan sepatu membuat suzy menelan ludahnya dalam dalam. Ia tengah bersiaga pada hitungan ketiga untuk kabur. Mustahil baginya bisa bertahan di kelas itu tanpa dijerat oleh si pria asing.

“Satu..” suzy mulai menghitung.

“Dua..” mata suzy mulai menerka nerka posisi.

“Tiga!”

Suzy keluar dari persembunyian dan segera berlari keluar. Pria bertopeng yang menyadarinya lantas tak tinggal diam. Ia ikut berlari mengejar suzy.

Suzy berlari tanpa tujuan. Ia ingin ke ruang olahraga tetapi jaraknya sangat jauh dan rasanya ia sudah melewatinya.

Suzy berhenti tepat di depan sebuah lorong sempit yang sialnya buntu.

Nafas suzy kini tak beraturan. Ia pasrah sekarang.

Suzy menutup kedua matanya sembari membalikkan badannya perlahan. Lima detik berlalu dan ia tak merasakan apapun. Ia lalu membuka matanya dan mendapati minho sudah berada di depannya, siap menghajar si pria bertopeng.

“Minho..” suzy tersenyum lega sambil menahan airmata ketakutan yang hampir saja mencelos keluar.

“Suzy! Larilah!” Teriak minho panik. Suzy mengangguk lalu segera berlari. Sesekali ia menoleh kebelakang melihat minho berjibaku dengan si pria yang kini mengeluarkan sebuah pisau lipat ditangannya. Namun, suzy bisa menghela nafas lega setelah melihat minho mengeluarkan sebuah pistol. Ia tahu, minho selalu membawa pistol kemana mana setelah kejadian itu dan selalu menyembunyikannya di taman ketika berada di sekolah. Ia tahu, seorang pelajar yang tak memiliki izin tak boleh membawa senjata api. Tetapi mau bagaimana lagi? Ia harus membawa senjata perang jarak jauh agar tak terluka saat dekat. Lagipula, ia hanya menggunakannya saat terdesak sebagai senjata terakhirnya.

Suzy terus berlari sambil sesekali menoleh ke belakang, sampai sebuah tubuh menabraknya yang sontak membuatnya terjatuh.

Suzy mendesis lalu segera mendongak ke atas hendak memarahi orang yang tega menyambarnya hingga terjatuh di atas dinginnya tanah saat winter. Wajah gusarnya terganti dengan mata melototnya ketika melihat pria tak asing dengan pakaian rumah sakit, tengah tersenyum padanya.

Suzy mengucek matanya lalu menoleh ke samping. Tak terasa, ia sudah melangkah sejauh ini. Tepat di sampingnya, sebuah rumah sakit tempatnya menginap dahulu dan tempat ayahnya dirawat, berdiri kokoh di tengah lampu temaram kota seoul yang menandakan malam sudah tiba. Kembali ia menoleh ke arah seorang pria yang diyakininya adalah manusia. Tapi apa yang dilakukan pasien ini di luar?

“Annyeong.. suzy-ah..” pria itu tersenyum sembari mengulurkan tangannya hendak menarik suzy berdiri.

“Myung.. soo?”

***TBC***

Annyeong readerdul!
Aku cuma mau ngingetin agar senantiasa komen dan like, karena walaupun gak aku balas, aku selalu baca satu persatu dengan jelas dan terperinci😄 . Komen dan like kalian berarti banget buat aku, buat terusin ff ini. So, jan pernah bosan bosan yah untuk berkunjung dan memberikan komentar. Serah deh mau komen apa yang penting gak nge-bash😄 . Saran dan kritik ojo sungkan sungkan, aku tunggu banget nget nget.

Sorry for typos, wrongs, and etc.

RCL!🙂

Bow~

93 thoughts on “FF Sixth Spirit PART 4

  1. wahh myung udh sadar, semoga beberapa misteri terkuak ya dengan kesadrannya myung, jadi makin penasaran.. hehe :))

  2. omoooo… siapa pria bertopeng yg ngejar* suzy??? huaa.. penasaran…
    omona.. itu myungpa ya?? benar* myungpa?? myungpa udh sadar… huaaa senangnya…😀

  3. kenapa kakak tirinya minho pengen ngebunuh suzy sih?
    duh siapa yang nemuin cincin itu?? trus gimana ntar nasib suzy?
    myungsoo hidup??
    huwaaaa makin penasaran..

  4. omaygat jadi suzy belum kena sangsi donk karena tdk mengikuti keinginan roh ke6 kan myungsoo itu bkan roh ke6 palingan suzy jadi sangsi karena hilangnya cincin itu . kereeen

  5. Part ini menegangkan sperti.a part berikut.a akan smakin mnegangkan.
    Sypakah yg mnemukan cincin 6 bulan itu,apakah dia yeoja yg jaha? Apakah suzy akan mndpatkan kmbali cincin itu?
    Izin baca next part.a author

  6. Siapa yg berniat jahat sama Suzy ?? Knp dia ingin membunuh Suzy ?? Kalo dipikir2, Suzy dalam bahaya setelah cincin itu hilang, apa kejadian ini sanksi gara2 Suzy kehilangan cincin itu ??
    Siapa wanita yg menemukan cincin itu ?? Semoga saja yg menemukan cincin itu adalah eomma’y Suzy ..
    Aahh, senang’y Myungsoo udah sadar ..

    Oke. Next..
    Mau bca part selanjut’y..

  7. Myung bangkit ayeayyyy, siapa orang yang mau bunuh suzy sama minho kira kira…misterinya bikin bingung, im dying author

  8. jadi myungsoo bukan roh keenam itu kn?? ada yg aneh sama minho apa lagi pas dia tau di ruang ICU itu ada raganya myungsoo..ada bberapa bagian yg aku masih belum ngerti sama percakapannya..klo ngga salah pas minho abis dr ruang ICU tempat myungsoo di rawat itu…
    siapa orang misterius itu?? knapa dia terus ngejar suzy? apa itu sanksi karena mnghilangkan cincin itu?? aish molla molla…

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s