FF Sixth Spirit PART 5

image

Title: Sixth Spirit
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Horror, Drama, Family, Fantasy, Friendship, SchoolLife, Mystery (maybe), etc.
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho
Sub Cast: Park Jiyeon, Krystal Jung, Park Chanyeol, Oh Sehun, Lee Jieun, OC’s and etc (SubCast dapat berubah sewaktu-waktu)
Length: Chaptered

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

Previous Part:

Suzy terus berlari sambil sesekali menoleh ke belakang, sampai sebuah tubuh menabraknya yang sontak membuatnya terjatuh.

Suzy mendesis lalu segera mendongak ke atas hendak memarahi orang yang tega menyambarnya hingga terjatuh di atas dinginnya tanah saat winter. Wajah gusarnya terganti dengan mata melototnya ketika melihat pria tak asing dengan pakaian rumah sakit, tengah tersenyum padanya.

Suzy mengucek matanya lalu menoleh ke samping. Tak terasa, ia sudah melangkah sejauh ini. Tepat di sampingnya, sebuah rumah sakit tempatnya menginap dahulu dan tempat ayahnya dirawat, berdiri kokoh di tengah lampu temaram kota seoul yang menandakan malam sudah tiba. Kembali ia menoleh ke arah seorang pria yang diyakininya adalah manusia. Tapi apa yang dilakukan pasien ini di luar?

“Annyeong.. suzy-ah..” pria itu tersenyum sembari mengulurkan tangannya hendak menarik suzy berdiri.

“Myung.. soo?”

***PART 5***

Suzy heran. Sangat heran melihat kim myungsoo yang awalnya adalah roh, sekarang malah berada dihadapannya dengan kursi roda yang tak ia kenakan di samping tubuhnya yang utuh layaknya manusia. Sepertinya, pria ini hendak berjalan jalan tanpa kursi roda, menikmati semilir angin segar saat musim dingin di luar kamar rumah sakit.

Suzy yang masih terdiam dalam keterpanaannya, tiba tiba dikejutkan oleh kedatangan seorang wanita yang tampak tak asing bagi suzy. Wanita itu turut mengenakan seragam sekolah sepertinya. Mata suzy semakin membelalak setelah sosok itu muncul dibalik keremangan malam dengan senyum ramah yang lain dari biasanya.

“Annyeong suzy-ssi.. kebetulan sekali kita bertemu di sini” dara cantik itu tersenyum ramah sambil menggenggam dua gelas ramen di tangannya.

“Jiyeon?” Gumam suzy shock.

“Kalian sudah bertemu? Syukurlah..” ucap wanita bernama jiyeon itu. Suzy yang sudah berdiri karena dibantu myungsoo lantas menatap bingung ke arah pria itu.

“Yak! Kenapa kau bisa mengenalku?” Tanya suzy kepada myungsoo, berusaha memancing pria itu untuk membuka mulut tentangnya, juga berusaha mengalihkan keterkejutannya.

“Aku diberi foto ini oleh jiyeon dan berkata bahwa wanita ini bernama suzy. Tidak kusangka akhirnya kita bertemu di sini untuk yang pertama kali” jawab myungsoo seraya memperlihatkan selembar foto kepada suzy. Seni cahaya yang di dalamnya tampak seorang gadis tersenyum sambil mengacungkan dua jarinya tanda peace dan gadis itu mengenakan seragam khas anak SMA.

Sebuah tamparan keras bagi suzy setelah mendengar ucapan yang keluar dari bibir myungsoo. Badannya terasa kaku berada di tengah tengah kebingungan ini. Ia ingin kabur saja dari sana dan menangis sepuasnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksud jiyeon memperlihatkan foto dirinya kepada myungsoo. Dan.. myungsoo pun tak mengenalinya. Kenapa semua ini terjadi? Oh sungguh! Kepalanya terasa mau pecah saja memikirkan semua itu. Bahkan kalimat ‘Tidak kusangka akhirnya kita bertemu di sini untuk yang pertama kali’ terus terngiang ngiang di benaknya, meneriakinya.

“Jinjja? Yak jiyeon-ssi, kenapa kau memberitahukan tentangku kepada orang asing ini? Dia bahkan memanggil namaku dengan informal tadi, seolah olah dia sudah lama mengenalku” ujar suzy mencoba mencairkan suasana, mencoba mendinginkan hatinya yang sakit menerima kenyataan itu Yah, semua kenyataan pahit itu.

“Yak suzy-ssi! Seharusnya aku yang bingung, mengapa kau bisa mengetahui namaku huh?” Sergah myungsoo dengan mimik polos. Jiyeon menutup mulutnya menahan tawa. Sementara, suzy mendecak dalam kebingungan.

“Aku..” suzy kehabisan kata kata. Ia tak tahu harus menjawab apa sekarang. Ia butuh pencair. Ia butuh seseorang untuk menolongnya dari kekakuan ini,menariknya keluar dari kedua insan di hadapannya yang tampak mulai memojokkannya.

Diujung jalan, seseorang terdengar memanggil nama suzy yang membuat ketiga insan itu berbalik. Suzy mengeluarkan senyum leganya setelah melihat minho melambaikan tangan ke arahnya dengan senyum sumringah tanda kemenangan. Yah, sepertinya si penjahat telah kalah dari si malaikat minho.

Suzy membalas lambaian itu dan memberi isyarat agar segera kemari.

Jiyeon mendesis gerah karena harus bertemu mantan pacarnya. Sementara, myungsoo memperlihatkan ekspresi tak bersahabatnya.

Sesampainya minho disana, suzy tak segan segan memeluk minho di depan kedua insan yang tampak mulai kesal itu. Tapi, suzy tak peduli. Ia jengkel karena sudah terlebih dahulu mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari myungsoo dan jiyeon, ia ingin menguburnya dengan pelukan hangat dari minho.

“Bagaimana dengan penjahat itu?” Tanya suzy seraya merengkuh wajah minho dengan penuh kasih sayang. Seolah olah di tempat itu hanya ada mereka berdua. Mata myungsoo menyipit memandang adegan itu.

“Penjahatnya kabur. Kheundae, aku baik baik saja..” minho mencubit pipi suzy gemas.

Suzy tersenyum sambil menatap intens ke dalam mata minho.

“Suzy-ssi.. aku dan myungsoo ke sana dulu, ne?” Jiyeon menunjuk bangku taman yang ada di luar rumah sakit.

“Aku dan myungsoo mau makan ramen ini. Saat bangun dari koma, ia sangat ingin makan ramen” sambung jiyeon membuyarkan romantisme suzy dan minho. Suzy menoleh lalu mengangguk malas, lengannya masih bertengger di pinggang minho mesrah. Pikirannya kini berkecamuk dengan puluhan kata yang telah jiyeon katakan tentang myungsoo tadi.

Minho yang baru menyadari kehadiran myungsoo dan jiyeon, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Kim.. myungsoo?” Ucap minho ketika myungsoo dan jiyeon sudah berbalik hendak pergi. Myungsoo berhenti dan memutar badan.

“Nuguseyo?” Tanyanya sedikit tak ramah.

“Perkenalkan.. namaku choi minho. Aku selama ini mencarimu.. karena.. aku memiliki pesan untukmu.. dari eommamu” jelas minho serius.

Dada myungsoo tiba tiba terasa sesak. Ia mencengkram dadanya kuat. Jiyeon lalu membuang ramen yang ada di kedua tangannya refleks dan memilih memegangi tubuh myungsoo yang nyaris ambruk. Suzy tampak ingin membantu, namun jiyeon terlebih dahulu menyosor. Jiyeon lalu menuntun myungsoo menuju kursi rodanya yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri.

“Minho-ssi.. suzy-ssi.. kita pamit dulu. Nanti kita lanjutkan lagi pembicaraannya, ne? Myungsoo baru kemarin sembuh dari koma. Dia tidak boleh mendengar hal hal yang menyakitkan..”

‘Hal hal yang menyakitkan?’ Batin suzy.

Suzy mendecak menatap punggung jiyeon yang mendorong kursi roda myungsoo. Mereka perlahan menjauh dari pandangan suzy dan minho. Suzy mendesah. Entah mengapa ia malah merasakan sakit di dadanya mendengar kalimat myungsoo tadi.

Setelah myungsoo dan jiyeon menghilang dari balik gerbang rumah sakit, suzy kini mengalihkan pandangannya ke arah minho hendak menuntut jawaban.

“Yak oppa! Apa maksud oppa tentang pesan dari eomma myungsoo huh?”

Minho tersenyum simpul seraya menarik tangan suzy untuk segera berjalan pulang.

“Kau taukan aku juga pernah mewarisi cincin kristal itu?”

Suzy mengangguk tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah pria di sampingnya sambil terus berjalan.

“Aku adalah pewaris ke tiga dan dongju adalah pewaris keempat. Kau.. pewaris kelima, huh?” Minho menoleh ke arah suzy dengan alis terangkat.

Sekali lagi suzy membalasnya dengan anggukan.

“Saat jadi pewaris, roh yang harus kucari adalah.. eomma myungsoo”

Glek!

Suzy menelan salivanya. Jangan jangan eomma myungsoo adalah..

“Namanya Go hara. Kau pasti mengenalnya, kan?”

“Go hara? Jadi dia adalah eommanya myungsoo?”

“Ne. Setelah aku menemukannya, Hara ahjumma memberikan permintaan padaku. Yaitu.. menyampaikan pesannya kepada myungsoo. Kheundae.. aku tidak melaksanakannya sampai enam bulan berakhir. Dan kau tahu apa yang terjadi?”

“Mwoya?” Tanya suzy penasaran.

“Eommaku meninggal dengan cara tragis tepat setelah enam bulan berakhir. Aku mengetahui efek itu dari mimpi. Aku melihat eommaku mati dengan cara tragis di dalam mimpi, lalu besoknya hal itu terjadi. Aku pun selalu bermimpi buruk setiap hari. Aku.. ingin segera memberitahukan pesan itu agar kutukanku berakhir. Tapi, sampai saat ini aku belum juga memberitahukannya. Aku tahu.. mungkin semuanya sia sia saja karena aku sudah tak memiliki cincin itu dan enam bulanku sudah berakhir. Kheundae, aku hanya ingin menghilangkan mimpi buruk itu dengan memberitahukan pesan hara ahjumma kepada myungsoo..” terangnya panjang lebar.

“Jadi.. oppa juga pernah tidak melaksanakan permintaan itu huh?”

“Ne. Dan aku sudah merasakan kutukannya. Eommaku mati. Ayahku menikah dengan ibu dongju yang haus harta yang kuketahui sebagai kutukan ketika mimpi itu datang. Aku harus hidup dalam mimpi buruk setiap hari dan mungkin kutukan itu masih terus berlanjut selamanya. Dan kau tahu?”

Suzy mendongakkan wajahnya.

“Hm?”

“Cara untuk menghilangkan kutukan itu adalah..”

Suzy menahan nafas menunggu kalimat selanjutnya.

“…dengan membunuh pewaris kelima”

Jantung suzy hampir saja mencelos keluar. Ia terkejut. Sangat amat terkejut. Apakah ia tak salah dengar?

Suzy langsung melepaskan genggaman minho dan memberikan jarak antara mereka.

Minho sontak tertawa lepas.

“Tenanglah.. aku tidak mungkin membunuhmu. Dan.. yang tadi itu.. tentang cara menghilangkan kutukan dengan membunuh pewaris kelima.. adalah lelucon.. kau pikir dimana aku bisa mendapatkan cara menghilangkan kutukan itu huh?” minho tertawa terbahak bahak. Suzy memukul lengan minho dengan bibir mengerucut. Ia kesal tapi juga lega.

“Yak oppa jail sekali! Apa sih yang tidak bisa seorang minho lakukan? Tentu saja kau bisa mencari tahu..” dengus suzy.

Minho masih tertawa dengan pikirannya yang juga berduel dengan pemikiran lain.

“Hm.. oppa.. ada yang mengganggu pikiranku selama ini dan.. aku ingin bertanya sesuatu..”

“Mwoya?” Tawa minho terhenti.

“Oppa adalah pewaris ketiga. Sedangkan dongju oppa adalah pewaris keempat. Berarti dongju oppa mendapatkan cincin itu enam bulan yang lalu, sedangkan oppa mendapatkan cincin itu satu tahun yang lalu. Bukankah oppa murid pindahan las vegas enam bulan yang lalu? Jadi.. bagaimana? Apakah oppa benar benar-”

“Kau meragukanku?” Sergah minho tidak tahan karena suzy mulai berasumsi sembarangan.

“Aniya.. hanya saja.. hal itu cukup membingungkan..” suzy menatap ngeri melihat mimik wajah minho yang berubah drastis.

“Sebenarnya.. aku sudah kembali dari las vegas satu setengah tahun yang lalu karena aku tidak betah. Aku hanya bersekolah di sana selama satu tahun, lalu pindah kemari. Dan enam bulan kemudian aku mendapatkan cincin itu. Setelah itu, petaka mulai terjadi dan ayahku menikah dengan ibu dongju setelah eommaku meninggal. Setelah enam bulanku berakhir, aku memutuskan kembali bersekolah untuk menghilangkan kejenuhan dari semua kutukan yang terjadi” terangnya lancar. Suzy mengangguk mengerti.

“Arrasso?” Minho mendongak dengan ekspresi menyeramkan yang dibuat buat. Suzy mendesis, mengejek ekspresi itu.

“Yak sama sekali tidak menyeramkan!”

***

Myungsoo duduk termenung di atas ranjang rumah sakit sambil menatap intens foto suzy di tangannya.

“Eomma..” Gumam myungsoo begitu bangun dari komanya. Ia tak melihat siapapun dihadapannya kini, namun tak berselang lama, jiyeon muncul dengan pakaian sekolahnya. Matanya basah dan senyumnya mengembang lebar.

“Akhirnya kau siuman..” jiyeon menghapus kasar airmata yang jatuh membasahi wajahnya. Ia sangat ingin memeluk pria itu. Sangat ingin.

“Dimana eommaku?” Tanya myungsoo seolah tak peduli dengan ekspresi bahagia jiyeon.

Jiyeon tampak kikuk ketika myungsoo langsung menyemburkan pertanyaan seperti itu.

“Kau mau makan ramen?” Jiyeon mengalihkan pembicaraan sambil menarik kursi ke samping ranjang myungsoo dan duduk di atasnya.

“Jawab! Jiyeon-ssi!”

Jiyeon tak bisa mengelak lagi. Ia sebenarnya tak mau mengatakannya, karena takut kondisi myungsoo kembali memburuk, karena ia tahu, myungsoo sangat menyayangi eommanya dibanding siapapun. Hanya eommanya. Satu satunya alasannya bertahan hidup di dunia fana ini.

“Eommamu.. sudah meninggal satu tahun yang lalu, kan? Kenapa kau begitu cepat melupakan peristiwanya?” Jiyeon lalu mengeluarkan selembar foto dari tasnya. Yah, myungsoo kini mengingatnya. Dadanya sesak. Sakit. Matanya tertutup kembali bersama setetes kristal bening yang jatuh dari pelupuk matanya.

“Ini.. inikan gadis yang kau cari cari? Aku mengenalnya. Namanya bae suji. Biasa dipanggil suzy. Kau taukan.. gadis inilah penyebab meninggalnya eommamu? Apakah kau sebegitu cepatnya lupa? Bukalah matamu, myungsoo..”

Myungsoo membuka matanya dan langsung menyambar foto yang dipegang jiyeon. Ia termangu menatap garis wajah gadis di dalam foto itu. Otaknya tiba tiba berselancar mencari potongan potongan yang hilang tentang kenangan kenangan yang tercipta dengan si gadis bernama bae suzy, gadis dalam foto itu.

‘Bukankah.. ini adalah suzy? Suzy si pemilik cincin? Wanita yang mendapatkan ciuman pertamaku walaupun dalam bentuk roh? Aku.. sekarang ingat..’

Myungsoo menghela nafas karena pikirannya hanya penuh dengan gadis bernama bae suzy. Yah, awalnya ia melupakan semua kejadian yang pernah dialaminya sewaktu koma. Memang sangat jarang terjadi, tapi myungsoo mengalaminya saat terbangun dari koma. Dokter menyebutnya amnesia jangka pendek. Ia sebenarnya telah mengetahui bahwa suzy lah penyebab eommanya tewas. Ia mengetahuinya saat bertemu suzy di rumah sakit pertama kali, saat myungsoo menjadi roh. Namun, jiyeon memberitahukan hal itu yang sontak mengembalikan semua memorinya. Setelah jiyeon datang dan membawa foto itu, ia kembali mengingat kebersamaannya dengan suzy, saat dimana ia meminta hal yang tak lazim, yaitu membunuh dirinya sendiri. Ia ingin suzy melakukan itu agar myungsoo bisa menghantui hidup gadis itu selamanya. Tapi, entah mengapa ia merasakan sesuatu yang mendesaknya untuk menghentikan aksi balas dendamnya. Ketika sebuah kalimat menyakitkan keluar dari bibir gadis itu. Sebuah kalimat yang begitu menyakitkan. Sebuah kalimat yang menjadi energi besar untuk myungsoo tetap bertahan hidup. Sebuah kalimat yang menyadarkannya akan suatu hal.

Ia harus tetap hidup.

Yah, dengan begitu, pembalasan dendamnya akan lebih terasa. Namun, ada suatu hal yang menggejolakkan hatinya. Suatu hal yang menolak pembalasan itu. Dan ia tak tahu kata yang indah untuk diucapkan sebagai ungkapan hal yang berkecamuk dalam hatinya itu.

“Yak kim myungsoo.. buang perasaanmu dalam dalam.. dan mulailah membalaskan dendammu..” gumam myungsoo bermonolog sendiri sambil membuang foto itu ke lantai.

Matanya menajam.

“Tidak akan kubiarkan hidupmu tenang..” tangan myungsoo mengepal.

“Aku sudah mengambil ciuman pertamamu saat aku menjadi roh. Dan sekarang.. aku akan mengambil ciuman pertamamu saat menjadi manusia seutuhnya..” seulas senyum nakal tersungging di bibirnya.

***

Suzy duduk bersandar di samping tempat tidur. Sebuah botol soju yang sudah kosong, menemaninya malam itu. Ia kalut. Ia kacau. Bagaimana tidak? Hari harinya terbuang percuma hanya karena memenuhi permintaan myungsoo yang menurutnya bukanlah roh keenam. Cincin berharga tempat roh roh gila bersemayam itu pun hilang entah kemana. Dan sekarang ia tak tahu siapakah roh keenam itu. Belum lagi orang sinting yang mau mencelakainya. Ia merasa akan tamat. Tamat sudah. Dan sekarang ia bingung. Bagaimana bisa ia melihat kim myungsoo saat itu, kalau ternyata dia bukanlah roh keenam? Pertanyaan pertanyaan itu terus beradu di benaknya bersama kegelisahannya menghadapi hidupnya yang mulai kacau semenjak kehadiran cincin keparat itu.

“Aku mau mati saja..” gumam suzy ngawur seraya meremas rambutnya. Tampaknya ia mulai mabuk.

“Hah!!!!” Teriaknya.

Samar suzy mendengar suara eommanya.

“Suzy-ah.. gwaenchana?” Eomma suzy mengetuk pintu dari luar. Lambat laun semakin keras ketukannya.

“Suzy-ah?!”

Suzy enggan bersuara. Kalau ia menjawab, maka akan sangat kentara bahwa ia tengah mabuk.

Selang beberapa detik, suara eommanya dan ketukan pintu itu menghilang. Eommanya pasti berfikir, bahwa anak tercintanya sudah terlelap bersama boneka kelinci di sampingnya.

Suzy beranjak menuju meja rias. Ia lalu melempar botol kosong ditangannya ke depan kaca meja riasnya.

Prang!

Suara bising itu membuat eomma suzy kembali mengetuk pintu.

“Yak chagia! Bae suji!”

Suzy memungut serpihan botol, menatapnya sebentar lalu bagian tajam dari serpihan itu ia iris tepat di atas urat nadinya bersarang.

Tak ingin buang waktu, eomma suzy berlari mengambil kunci cadangan yang berada di dalam laci kamarnya. Secepat kilat ia berlari kembali menuju kamar suzy. Ia membuka pintu itu dengan harap harap cemas.

“Suz-” wanita parubaya itu mendelik menahan nafasnya. Matanya membelalak melihat anaknya dengan tangan penuh darah tergeletak lemah di atas lantai yang penuh dengan pecah beling.

Tak tinggal diam, ia segera menelpon ambulans.

***

Suzy terbaring lemas di atas ranjang putih dengan perban yang membalut tangan kirinya. Hampir saja hal itu merenggut nyawanya kalau saja pertolongan datang terlambat. Eommanya menatap khawatir ke arah suzy dengan pikiran penuh pertanyaan. Apakah yang membuat suzy ingin mengakhiri hidupnya? Yah, ia tak habis pikir kenapa suzy mau melakukan hal itu. Ia tahu betul, bunuh diri di korea bukanlah hal tabu. Bahkan ada sebuah situs di internet, dimana seseorang yang ingin bunuh diri, mengajak orang lain yang juga ingin bunuh diri agar bersama sama melakukannya. Tapi, semua kegiatan bunuh diri tentu saja ada penyebabnya, baik itu yang masuk akal hingga yang tak berlogika.

“Suzy-ah.. eomma keluar dulu, ne? Eomma mau membeli makanan enak untukmu karena eomma tau kau tidak suka makanan rumah sakit. Jangan berbuat macam macam, arra?” wanita itu segera beranjak dari sana setelah melihat anggukan lemah dari suzy. Tak beberapa lama setelahnya, seorang pria dengan pakaian rumah sakit mengetuk pintu yang membuat suzy membuka mata.

“Suzy-ssi!”

Mata suzy makin terbuka lebar. Yah, ia seperti mengenal suara ini.

“Bolehkah aku masuk?”

Tidak salah lagi. Suzy mendongak walaupun tubuhnya masih lemah. Ia melemparkan tatapannya ke arah pintu, mengangguk, mempersilahkan si pria masuk.

“Aku melihatmu tadi melewati ruanganku ketika dokter membawamu dengan panik. Kau mau bunuh diri? Apa yang terjadi? Bukankah kita baru saja bertemu? Dan kurasa tidak ada yang-”

“Diamlah.. kau.. tidak tahu apa apa..” sela suzy ketus.

Pria itu masih berusaha tersenyum.

“Jangan berbuat konyol. Walaupun kau mati, kau tidak akan secepat itu masuk surga. Memangnya kau tidak sadar dengan dosa dosamu sehingga kau mau bunuh diri begitu saja huh?” Volume pria itu meninggi.

“Kau tau apa, kim myungsoo-ssi?!” Bentak suzy seraya menatap tajam ke arah myungsoo yang terdiam.

“Bahkan baru kemarin kita bertemu dan kau malah mengajarkanku tentang dosa?! Kau tau apa?!” Lanjut suzy dengan volume yang semakin meninggi.

“Kemarin? Jeongmal?”

Suzy mendecak.

“Memangnya kau pernah bertemu denganku sebelumnya huh?” Tantang suzy. Myungsoo lalu berlutut di samping ranjang suzy sehingga bisa melihat dengan jelas wajah pucat yang kini bersandar di atas bantal putih.

“Tidak” jawab myungsoo pendek tapi dalam. Seolah tersirat suatu arti di dalamnya.

“Lalu? Kenapa kau dengan soknya malah mengajariku huh?”

“Karena aku.. tidak mau melepaskanmu begitu saja..” jemari myungsoo menjalar ke wajah suzy. Menari nari dengan lembut menyisakan geli yang terasa bagi suzy.

Ekspresi dingin yang tadi merajai suzy kini berganti dengan mimik ketakutan sekaligus kebingungan darinya.

“Yak apa maksudmu?” Suzy menghempaskan tangan myungsoo kasar.

Bibir myungsoo tersungging ke samping.

“Kau-”

Ucapan myungsoo terputus begitu wanita yang merupakan eomma suzy tiba tiba muncul dari balik pintu. Ia terlihat membawa sekantung makanan.

Myungsoo sontak berdiri dan berbalik. Ia tersenyum lalu membungkuk sopan.

“Annyeonghaseyo ahjumma. Aku adalah teman suzy dalam perkumpulan fotografer. Namaku kim myungsoo” ucap myungsoo sopan. Wanita setengah baya itu tersenyum ramah.

“Ne. Bangawayo. Kemarilah.. kita makan sama sama..” ajaknya tulus.

Suzy mendesis mendengar kebohongan pria itu, namun apadaya, ia tak bisa berpikir secepat itu.

Suzy bangkit dari kasur dibantu myungsoo. Meja kecil yang ada di depan suzy kini tersaji makanan khas korea kesukaannya. Myungsoo ikut menghidangkan makanan itu di atas meja lain yang tersedia di sana.

“Ahjumma.. aku makan bersama suzy saja di atas meja ini, ne?”

Wanita berumur itu mengangguk, tersenyum. Pria itu berteriak senang lalu naik ke atas kasur suzy. Sekarang mereka berhadapan satu sama lain. Suzy menatapnya gusar dengan mata memicing.

Myungsoo tersenyum sambil mencomot daging samyetang dengan sumpit. Suzy mendecak sebal karena pria itu kini ikut makan di atas meja kecilnya.

“Yak! Bisakah kau makan di meja sana saja huh? Mejaku sangat kecil, arra?” Sungut suzy yang sontak menghentikan kunyahan myungsoo. Dengan mulut penuh,myungsoo malah menggeleng puas.

Suzy mendesis lalu menyumpit kimchi dengan perasaan dongkol.

Dalam hati, myungsoo sangat puas. Sangat puas melihat ekspresi kesal suzy.

“Yak, Biar aku menyuapimu. Kau masih lemah..” myungsoo merebut sumpit suzy lalu mengapit sepotong daging dan mendongakkannya kepada suzy. Suzy makin naik pitam.

“Mogo.. aaaa..” myungsoo membuka mulutnya, memberi isyarat.

Dengan terpaksa, suzy menuruti perintah myungsoo.

“Mashita?”

Suzy menggangguk menahan kesal dengan mulut penuh.

‘Sialan kau kim myungsoo!’

Eomma suzy mengulum senyumnya memperhatikan tingkah suzy dan myungsoo.

***

Ting Tong!

Bunyi bel menyeruak dari dalam sebuah rumah dengan interior unik. Si tuan rumah segera berlari menuju pintu utama dan melihat si tamu dari balik monitor. Ia ikut tersenyum melihat seorang gadis yang tersenyum di sana. Ia membuka pintu berkode itu dan wanita yang tersenyum tadi menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat.

“Oppa.. aku ada kabar baik..”

“Masuklah.. jieun-ah..”

Gadis imut bernama lengkap lee jieun itu mengangguk lalu segera melangkah masuk. Ia paham betul sifat sepupunya itu, bahwa ia tak perlu sungkan dengannya.

“Aku punya sesuatu untukmu oppa..” ucap jieun sambil merogoh sesuatu dari dalam tasnya setelah mereka berada di ruang tengah.

“Mwoya?”

Jieun menyerahkan benda itu kepada pria dihadapannya setelah berhasil menemukannya di antara buku buku pelajaran.

“Cincin? Untuk?” Chanyeol memperhatikan cincin itu dengan seksama.

“Yak chanyeol oppa! Bukankah kau yang menyuruhku meneliti bae suzy huh? Kau ingin balas dendam padanya kan? Karena dia telah menghajarmu waktu itu?”

“Terus?”

“Aku sebagai teman sebangkunya pernah melihatnya mengenakan cincin ini. Aku berpikir cincin ini sangat langka dan pastinya suzy sedang sibuk mencarinya sekarang kan?”

Chanyeol tampak mulai tertarik.

“Kau mencurinya?”

“Aniya. Aku menemukannya di depan sebuah toko dekat rumah suzy. Suatu kebetulan yang menguntungkan kan?”

Chanyeol tersenyum licik sambil menatap bangga ke arah sepupunya tercinta itu.

“Gomawo.. jieun-ah..” bisik chanyeol.

Jieun tersenyum simpul, malu malu.

“Aku ingin menyerahkannya kemarin. Kheundae.. kau tidak ke sekolah juga. Jadi, aku kemari untukmu.. sekalian menjenguk sepupuku yang paling tampan” jieun terkekeh pelan.

***

“Yak myungsoo-ssi..” ucap suzy ketika acara makan mereka sudah selesai. Hanya tinggal mereka berdua di kamar itu, karena eomma suzy ijin keluar untuk menyelesaikan administrasi dan ia menitipkan suzy kepada myungsoo.

“Hm?”

“Kenapa kau tidak kembali ke kamarmu dan biarkan aku sendirian? Bukankah jiyeon menunggumu?” Suzy menatap datar ke depan sambil bersandar di kepala ranjang.

“Aku akan pergi jika jam besuk sudah berakhir. Mungkin.. satu jam lagi.. dan jiyeon.. dia sudah pulang sedari tadi karena ada urusan mendadak” myungsoo duduk di atas kursi dan menyandarkan kepalanya di atas lipatan kedua tangannya, di atas ranjang suzy sambil menoleh ke samping dengan kornea mata menatap ke atas, memperhatikan wajah pucat pasi cantik ala suzy itu.

Suzy menghela nafas berat.

“Aku akan menelpon minho dan menyingkirkanmu..”

Myungsoo tersenyum tipis.

“Kau tidak membawa ponsel”

“Eommaku punya ponsel-”

“Eommamu sedang keluar dan membawa ponselnya-”

“Aku akan menunggunya-”

“Dia masih lama-”

Suzy muak. Dia tak bisa berdebat kata kata lagi dengan pria sakit di sampingnya ini.

Hening. Hening kini merajai mereka dengan posisi mereka masing masing.

“Myungsoo-ssi.. tidak adakah yang ingin kau sampaikan padaku?” Tanya suzy setelah lima menit dalam keheningan.

“Opso..”

“Bagaimana tentang foto yang diperlihatkan jiyeon padamu? Wae? Waeyo?”

“Aku tidak ada penjelasan untuk itu-”

“Bagaimana bisa? Pasti ada. Jebal.. mareba..” potong suzy ngotot.

“Bagaimana kalau.. jiyeon memperlihatkan foto itu untuk.. melarangku mendekatimu karena.. kau sangat mempesona?” Myungsoo tertawa pelan, masih dalam posisi manisnya tadi.

Suzy berdecak. Entah sudah decakan keberapa hari ini.

“Sebenarnya kau dan jiyeon memiliki hubungan apa huh?”

Sebuah senyum simpul terulas dari bibir myungsoo.

“Wae? Kau cemburu?”

Suzy mendesis lalu mendorong pelan kening myungsoo dengan jari telunjuknya, membuat pria itu membongkar gaya nyamannya.

“Yak jawab saja!” Bentak suzy.

“Jujur saja.. jiyeon tak memiliki hubungan darah denganku.. dia juga bukan kekasihku..”

“Lalu?”

“Dia adalah.. orang yang menyelamatkanku dari kematian..”

Jleb!

Tubuh suzy mendadak beku. Bibirnya terasa kaku untuk membuka mulut.

“Dia menyelamatkanku berkali kali. Dia juga yang membayar semua biaya rumah sakit ini. Kau pikir aku sanggup menanggung semuanya sendirian?”

Suzy menggeleng kaku.

“Aku tidak memiliki siapapun lagi.. hanya.. jiyeon..”

Suzy berdehem keras. Mendadak tenggorokannya gatal. Sebaik itukah jiyeon pada pria ini? Bahkan jiyeon merebut pacarnya, dan suzy merasa watak jiyeon sangat licik. Bagaimana bisa sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat ketika bersama myungsoo? Apakah jiyeon memiliki perasaan lebih terhadap myungsoo? Bagaimana dengan chanyeol? Bagaimana dengan minho yang pernah berpacaran dengannya?

Pikirannya penuh dengan pertanyaan pertanyaan. Ia bahkan heran pada dirinya sendiri karena malah memikirkan hubungan jiyeon dan myungsoo yang misterius.

“Keluarlah..”

“Mwo? Jam besuk masih setengah jam lagi-”

Suzy menatap lega ketika eommanya telah berada di depan pintu yang berarti ia tak harus melanjutkan pembicaraannya dengan myungsoo.

“Eommaku sudah kembali. Keluarlah..”

Myungsoo menggaruk tengkuknya seraya bangkit dari duduknya. Ia menatap suzy sejenak lalu segera beranjak. Ia membungkuk pamit kepada wanita tua yang baru saja masuk ke dalam kamar. Wanita itu ikut tersenyum mengiyakan.

“Sering seringlah kemari..” ucap eomma suzy tulus. Myungsoo mengangguk bersemangat. Tak lupa ia melemparkan senyumnya kepada suzy. Tapi suzy hanya diam, enggan bereaksi. Myungsoo tak peduli dengan sikap acuh suzy dan tetap melambai kecil. Lima detik kemudian, pria itu menghilang dari balik pintu.

Suzy masih memandang ke arah pintu yang kosong. Memandanginya penuh arti.

***

“Sudah cukup permainan gilamu,hyung!” Ketus minho kepada pria yang tengah menikmati segelas wine di depannya.

“Mwo? Permainan apa?” Pria yang dipanggil hyung itu menaruh gelasnya dan mendongak angkuh.

“Kau pikir aku tidak tahu?! Kau pikir anak buah tak becusmu mau menjaga rahasiamu setelah aku menembak kakinya, huh?! Anak buah macam apa yang kau pelihara itu?!” Teriak minho lantang sembari menghempaskan gelas berisi anggur merah yang berada di atas meja kaca, sehingga menciptakan bunyi hentakan yang memekik di dalam apartement mewah milik dongju. Untung saja dongju memakai peredam suara sehingga tak ada yang mendengar keributan yang terjadi di dalam.

“Kau sudah tahu? Aish.. semuanya jadi tidak menarik lagi jadinya..” balas dongju enteng. Mata minho memancarkan aura membunuh.

“Ne! dan aku tahu maksudmu ingin membunuh suzy..”

“Jeongmal? Wah.. adikku sangat cerdas sekarang..” dongju bertepuk tangan dengan mimik merendah. Tangan minho makin mengepal kuat hendak melayangkan bertubi tubi bogem mentah ke wajah tampan kakak tirinya itu sekarang.

“Kau tahu hyung, aku belum pernah membunuh siapapun seumur hidupku. Jadi, kau mau aku melakukannya untuk yang pertama kali huh?”

Dongju balas menatap mata elang minho dengan tatapan jengah, seolah olah tengah berhadapan dengan bocah ingusan.

“Jadi.. kau mau membunuhku huh?”

***TBC***

Annyeong readers!
Mian kalo nge postnya makin lama hahahaha😄 /evil laugh/
Mian kalo ceritanya semakin membosankan. Mian untuk typo dan segala kesalahan kesalahan. Pokoknya mian mian lah huahahaha😄 /digebukin/

Jangan lupa ngingetin kalo ada kesalahan, ne?

Intinya…

RCL YO!
Kritik dan saran silahkan, aku tunggu banget!

BOW~

87 thoughts on “FF Sixth Spirit PART 5

  1. aiggoooooo…. apa iya myungpa akan balas dendam ma suzy..
    aigggooo.. kasian suzy…
    nah loh.. knp kk tirinya minho pengen suzy mati y??? huaaa… penasarannn??

  2. Huaaaa jdi org yg ngejar suzy itu org suruhannya dongju??apa tujuannya??
    Loh emg eommanya myung mninggal kenapa kok ktnya krena suzy??

  3. bener kan kakakx minho yg mau nyelakain suzy plus minho juga.
    myung jadinya mw bls dendam nih? suzy sih pake acara ngomong macam2 jadix myung kembali dendam.
    emang eommanya myung ngapain? kok gara2 suzy beliau meninggal?

  4. ah. ternyata jieun yg menemukan cincin itu. apa yah rencana chanyeol buat blas dendam ?
    ah myung mau balas dendam dengan cara membuat suzy mencintainya ya ?
    ah co cweet xD

  5. Jadi Suzy penyebab kematian ibunya Myungsoo..lalu knpa kaka tiri Minho pngn ngebunuh Suzy?Apa yg Minho bilang tentang membunuh pewaris kelima itu benar makanya kaka Minho pengen ngebunuh Suzy?Lalu siapa yang jadi roh keenamnya?

  6. jadi myungsoo mau balas dendam ke suzy?? padahal sebenarnya myungsoo dah mulai suka kan sama suzy..
    emangnya apa yang dilakuin suzy sampek eommanya myungsoo meninggal..
    kok jiyeon bauk banget ke myungsoo? apa dia suka yeth?
    duh chanyeol mau ngapain lagi itu..

    penasaran, next next next.

  7. kayaknya aku tau deh cara ngilangin kutukannya, mungkin minho disuruh bnuh pewaris ke empat terus si dong ju dsuruh bunuh pewaris ke 5,
    myung kok gituuu, jgn bls dendam nnti mlah jatuh sendiri lohhhh

  8. Suzy yg menyebabkn eomma’y Myungsoo meninggal ?? Apa kejadian’y setahun yg lalu ?? Kalo emang benar, berarti yg dikhawatirkn Suzy selama ini adalah ini .. Tpi apa yg membuat Suzy menjdi penyebab meninggal’y eomma’y Myungsoo??
    Aahh, cincin’y sekarang jatuh ketangan Chanyeol . Seperti’y setelah ini bakalan bnyak kejadian2 tak terduga akan terjadi pda Suzy, krna cincin itu jatuh ketangan org yg salah ..
    Dong Ju ?? Jdi dia yg berniat jahat dgn Suzy, tpi knp ?? Apa salah Suzy ??

    Oke. Next..
    Mau bca part selanjut’y..

  9. Jadi ini suzy yg hampir ngebunuh myung, kejadian 1 thn yg lalu maksutnya ini…chanyeol mau balas dendam lagi..ga nyangka jieun ternyata adiknya chanyeol, mwoyaaa, myumg juga mau balas dendam ke suzy kah, ga kasiankah para oppa tampan ini sama suzy kalo dia mau dijadiin objek balas dendam? ..jiyeon ini
    bikin penasaran

  10. Lho lho lho…myungsoo mau balas dendam sama suzy…aigooo bingung nih aku…
    Eh ternyata yg nyoba bunuh minho sama suzy itu hyung tiri nya minho….kenapa yg hyung nya minho pengen bunuh suzy minho??

  11. aigooo…semuanya msh teka-teki! aku nggak tau harus ngomong apa, saking speechles-nya
    Mian unnie baru comment di part ini, habisnya tadi keseruan baca ff nya sampe lupa blom comment^^

  12. jadi mungkinkah kejadian setahun lalu yg di sebut2 sama suzy itu tentang kematian eommanya myung ya??
    omo jadi itu semua ulah dongju? apa jngan2 yg di ucapin minho itu bukan cuma lelucon ya? tentang membunuh pewaris kelima..
    apa alasan jiyeon bantu myung sampe segitunya? kayanya ada alasan yg belum terungkap nih..

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s