FF Pass the Buck (Oneshoot)

image

Title: Pass the Buck
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, School Life, crime, a little bit horror, etc.
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae suzy
Sub Cast: Krystal Jung, Park Jiyeon, Jung Eunji, Son Naeun, OC’s and etc.
Length: Oneshoot

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

Suzy terperanjat ketika melihat dari pantulan kaca, bayangan yang melintas di belakangnya. Suzy menoleh dan tak menemukan siapapun. Kembali ia menatap wajahnya di cermin, namun aura mistis membuatnya tak nyaman. Ia melesat keluar dari toilet wanita, terburu buru.

Suara langkah berpacu dengan degup jantung suzy saat menyusuri koridor sekolah yang sepi. Semua murid sudah kembali ke rumah mereka masing masing. Bagaimana tidak, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Mungkin hanya suzy dan penjaga gerbang yang masih berada di dalam gedung itu. Yah, karena ujian kelulusan satu bulan lagi, sekolah menambah extra mata pelajaran sampai jam sembilan malam.

Suzy, yang sempat dikerjai oleh anak anak geng hingga bajunya basah oleh kubangan lumpur, memilih sedikit lebih lama di sana, hendak membersihkannya di toilet sebelum pulang, karena takut myungsoo mengamuk melihatnya dengan baju kotor.

Tik! Tok! Tik! Tok!

Suara detak jam dinding di ujung sana makin terdengar jelas di kesunyian malam, menambah gusar jiwa suzy. Langkah suzy semakin cepat tatkala telinganya menangkap suara desahan putus putus seperti orang tercekik dari belakang yang semakin lama semakin jelas dan mendekat.

“Noo..nna..”

Suzy berlari, ia berlari sempoyongan. Enggan berbalik, apalagi harus berhenti dan memastikan si empunya suara.

“Noonaaa..”

Lagi, suara itu mengusik gendang telinganya, makin membuatnya gelimpatan tak karuan. Ia tak akan menjawab panggilan itu. Tentu saja. Ia bukan orang bodoh yang mau saja dipermainkan oleh makhluk astral.

Senyum segera mengembang di bibir suzy begitu melihat pintu di ujung koridor. Sedikit lagi, bisiknya.

Tangannya membuka cermat pintu bergagang besi itu. Terbuka. Ia berhasil. Suzy segera berlari keluar tanpa aba aba.

Suzy menoleh ke belakang dan tak menemukan si makhluk. Ia bernafas lega. Suara itu juga tak terdengar lagi.

Suzy berjalan pelan seraya bersenandung. Jalan masih ramai saat suzy berjalan di trotoar. Kilat lampu jalan membutakan matanya akan kesuraman dunia sekolahnya. Hampir tiga tahun dan tak lama lagi ia akan meninggalkan seragam SMA kebanggaannya. Ia harus mendapatkan nilai bagus kalau ingin masuk ke Universitas yang sama dengan myungsoo.

Kim myungsoo. Pria yang menempuh kuliah di Seoul University. Perguruan tinggi kebanggaan semua khalayak ramai dan disegani oleh seluruh lapisan masyarakat. Selain kuliah, myungsoo juga membuka bisnis cafe di area gangnam. Sekedar untuk menambah uang sakunya setelah kepergian kedua orang tuanya.

Suzy menggigit bawah bibirnya melihat jejeran pedagang asongan di ujung jalan. Masih ramai. Suzy kini memutar jalan,menyebrang ke jalanan zebra cross hendak menghampiri penjual jajanan malam.

Ponselnya berdering begitu suzy asyik mencoba daging panggang segar yang ditawarkan. Suzy menghiraukannya. Paling myungsoo, pikirnya. Pria itu selalu saja mengkhawatirkannya, padahal ia bukanlah siapa siapa suzy. Dia ingin dipanggil ‘oppa’ dan menyuruh suzy tinggal bersama setelah tahu suzy sudah sebatang kara. Bagi myungsoo, penolakan berarti ‘iya’. Tak ada yang boleh menolaknya. Dengan terpaksa, suzy harus menjalani sisa hidupnya dengan myungsoo. Pria yang awalnya adalah teman adiknya, bae sang moon. Teman yang berawal dari permainan game PS. Saat itu diadakan lomba PS balap mobil se kota seoul, bae sang moon yang notabenenya sangat ahli bermain game dan telah mendapatkan berbagai piala atas lomba lombanya, bahkan dalam lomba PSP tahunan itu, dapat dikalahkan oleh myungsoo yang lebih tua darinya. Dan yang paling gila, myungsoo baru sekali mengikuti perlombaan. Disanalah keakraban mereka berlanjut. Mulai membicarakan soal game, asmara, hingga merambat kepersoalan keluarga. Suzy sekarang ingat, bae sang moon sudah meninggal. Cara yang tragis dan pembunuhnya sampai sekarang belum ditemukan. Bahkan jenazah adiknya tak juga diketemukan. Saat itulah myungsoo menawarkan suzy untuk tinggal bersamanya. Awalnya hanya orang asing. Memang, sesekali suzy melihat myungsoo datang ke rumah lamanya hendak bertemu sang moon, entah itu sekedar bercerita atau mengajak bermain. Tak jarang, myungsoo mengajaknya berbicara, tapi suzy yang enggan, malas berkomunikasi. Bahkan myungsoo sering mendapatkan tatapan tajam dari suzy. Namun, entah mengapa, sekarang dunia serasa terbalik saja, suzy jadi akrab dengan pria tampan itu dan sampai sekarang, mereka tinggal satu atap. Walaupun tak sekamar. Tentu saja, hal itu tak mungkin terjadi, suzy tahu myungsoo pria yang baik.

Sekali lagi, bunyi dering ponsel suzy berbunyi setelah kakinya melangkah menjauh dari kerumunan penjual, senang mendapatkan jajanan yang dibutuhkan dan tangannya yang penuh kantung plastik makanan. Ia tak menggubrisnya lagi. Untuk apa, toh sebentar lagi sampai, pikirnya.

Lima belas menit hanya berjalan, suzy sudah bisa melihat bangunan kokoh tinggi menjulang di sisi jalan. Yah, itulah rumah kim myungsoo, sangat berbeda dengan rumahnya dahulu. Rumah myungsoo sangat artistik. Dipadu padankan dengan warna warna cerah di dalamnya, membuat kesan ceria sipemilik rumah. Menonjolkan gaya terbuka dan bebas, namun tetap mewah. Terdapat dua lantai di rumah itu, ada tiga kamar, kamar suzy, kamar myungsoo dan kamar tamu. Alasannya, myungsoo tak suka banyak kamar, toh mereka hanya tinggal berdua. Namun, rumah itu sangat luas dengan ruang tengah yang lapang, tempat mereka selalu bersantai bersama, menikmati cemilan, tertawa, menyaksikan acara tv, macam macam.

Suzy mendelik melihat myungsoo sudah berdiri di depan pagar. Suzy mengacungkan dua jarinya yang tak menenteng plastik, tanda peace.

“Damai oppa” ujar suzy sambil melangkah masuk. Namun, tampaknya myungsoo tak akan membiarkan suzy lolos begitu saja. Pasti, pertanyaan demi pertanyaan harus melewati kuping gadis itu dulu.

“Lihat jam di tanganmu” tegas myungsoo seraya menahan tubuh suzy yang hampir melengos masuk.

Suzy menurut. Ia melirik arlojinya malas, lalu mengangkat wajahnya datar.

“Lima menit lagi jam sebelas” sahutnya.

“Ponsel. Cek ponselmu sekarang”

Kesal. Suzy menarik ponsel dari sakunya, terkejut dengan ekspresi yang dibuat buat setelah melihat dua panggilan tak terjawab dari myungsoo.

“Mian” pendeknya sambil menaruh kembali ponselnya.

“Kaupikir aku tidak tahu? Kau mengacuhkannya kan?” Pertanyaan posesif keluar dari mulut myungsoo. Biasa. Bagi suzy bukanlah hal tabu.

Suzy mengangkat plastik yang dibawanya.

“Lihat? Aku tadi ke pasar membeli ini. Aku tidak mendengar bunyi dering karena disana sangat ramai. Arra?”

Myungsoo merampas plastik itu lalu menarik tangan suzy.

“Kkaja. Aku bosan mendengar alasanmu” myungsoo menarik suzy masuk tanpa perlu memberikan pertanyaan menyelidik lagi. Suzy tertawa kecil penuh kemenangan.

***

“Kau terlihat sibuk sampai melupakanku huh?” Tukas myungsoo ketika masuk ke dalam kamar suzy. Suzy menggeliat begitu myungsoo memeluknya dari belakang.

“Kau taukan kalau satu bulan lagi ujian kelulusan. Aku harus belajar keras” datarnya acuh.

“Jeongmal? Aish.. hidupmu sangat membosankan suzy-ah..” myungsoo melepas diri dari tubuh suzy dan keluar.

Suzy mencibir karena tingkah seenak jidat myungsoo. Bahkan pernah suatu hari suzy mendapati myungsoo mencium bibirnya ketika ia tidur. Yah, walaupun ia enggan menolak, ia tetap menerimanya sambil berpura pura tertidur. Jadi, setiap malam ia selalu mengunci pintu kamarnya. Walau tidak mungkin, myungsoo memiliki kunci cadangan lain.

Suzy menutup bukunya seraya menghela nafas. Lelah juga belajar berjam jam. Apalagi mood nya sudah rusak karena myungsoo.

Suzy berjalan keluar kamar, mencari myungsoo ke dapur. Barangkali pria itu memasak sesuatu yang enak.

Langkah suzy berhenti tepat di batas dapur dan ruang tengah. Ia melihat dengan kening mengerut. Matanya menangkap sosok misterius di dalam. Tidak. Itu bukan myungsoo. Bukankah pakaian mereka berbeda? Sosok yang dilihanya tampak kucel. Ia menunduk. Bajunya kotor dan ada bercak darah mengering di bajunya yang usang. Menjijikan.

Suzy mundur. Keberaniannya roboh. Makin lama sosok itu semakin mendekat. Seolah akan mencengkramnya.

“Oppa!” Teriaknya memanggil myungsoo. Pria itu tak kunjung muncul. Kemana dia?

“Yak oppa!” Nafas suzy tak karuan sekarang.

“Kkaba!” Suzy meneriaki sosok itu. Menyuruhnya pergi.

“Ada apa?” Myungsoo tiba tiba menepuk pundak suzy yang sontak membuatnya berbalik. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang myungsoo. Ia ketakutan. Sosok itu lalu menghilang bagai angin, berbaur bersama udara, menyisakan dingin yang cukup menusuk.

“Apakah kau pernah membunuh seseorang? Sepertinya ada hantunya di rumah ini” tuduh suzy.

Myungsoo tertawa pelan lalu mengangkat wajah suzy.

“Apa yang kau katakan? Kau melihat apa?”

“Pria.. pria dengan.. baju penuh darah..” terangnya ngos ngosan.

Air muka myungsoo berubah.

“Tidurlah. Sudah malam. Kalau perlu aku akan menemanimu tidur malam ini..”

Suzy mengangguk. Tubuhnya gemetaran. Myungsoo mengantar suzy ke kamar. Hatinya terusik. Sepertinya hidupnya tak akan tenang sebelum suzy tahu semuanya.

***

Suara tangisan menyeruak dari dalam toilet wanita.

Krystal yang tampak tak tahan, memberanikan diri masuk ke dalam. Dengan langkah pelan, ia memusatkan pandangan ke seluruh penjuru. Pertama, ia membuka bilik satu, tak ada siapapun. Krystal menghembuskan nafas lega. Namun, bukannya mereda, tangis itu malah semakin mengeras. Asalnya dari bilik ketiga. Sedikit berlari, krystal menghampiri asal suara itu. Perlahan, ia membuka pintu bilik berlabel ‘tiga’.

“Suzy?” Krystal heran melihat suzy duduk di dudukan closet sambil menangis terisak. Persis hantu kejepit pintu.

“Wae?” Krystal mengusap pelan rambut suzy.

“Jiyeon dan teman temannya mempermalukanku di kelas dengan menaruh permen karet di kursiku.. dan tadi mereka lagi lagi menyiramku dengan air lumpur..” tuturnya sambil menunduk. Malu. Juga sakit hati.

“Sebaiknya kau laporkan saja. Daripada mereka terus menyiksamu. Aku juga tidak bisa membantumu. Aku takut, jiyeon dan teman temannya mengusik adikku di kelas satu. Dan lihatlah.. astaga..” krystal mengangkat wajah suzy.

Suzy mendesis. Ada luka memar di pipinya.

“Mereka melakukan apa lagi?”

Suzy menarik nafas panjang lalu menggeleng.

“Tidak usah dilaporkan. Lagian kita sebentar lagi lulus. Aku tidak akan bertemu dengan mereka lagi-”

“Kheundae, mereka akan selalu mengerjaimu suzy-ah sampai kelulusan.. kau mau itu terus terjadi? Dan lihatlah wajahmu ini.. mereka bahkan melukaimu secara fisik.. hingga.. memar..” krystal menatap iba lalu memeluk suzy yang basah karena disiram air lumpur, tidak peduli bajunya ikut basah.

Suzy lagi lagi menangis. Kali ini tanpa isakan.

“Kau mau menungguku? Aku harus membersihkan ini sebelum pulang. Kalau tidak, bisa ketahuan oppa” seraknya setelah menghapus airmatanya.

Krystal mengangguk tulus.

Hening. Hanya suara air westafel yang mengalir. Koridor mulai sepi dengan lampu yang memadam. Cahaya terang hanya terpancar dari salah satu toilet wanita di lantai satu. Malam. Seperti biasa, suzy pulang terlambat karena habis dipermainkan oleh jiyeon and the gang. Namun, suzy tetap bungkam. Hanya krystal yang mengetahui hal ini.

Setelah selesai, suzy keluar dari toilet bersama krystal. Bunyi hentakan sepatu mereka merajai keadaan. Terdengar nyaring di sepanjang lorong kecil di dalam gedung sekolah.

Suzy berhenti ketika samar melihat seseorang berdiri di ujung. Terdapat bayangan yang jatuh ke ubin. Pasti manusia, pikirnya.

“Nuguseyo?” Krystal memastikan juga menerawang dengan panca indra.

“Yak!” Kini suzy yang membentak.

Sosok itu lalu mendekat tanpa suara. Tap tap tap.. hanya suara sepatu kuda yang terdengar perlahan. Memekik seisi ruangan.

“Suzy? Kau telat lagi kan?”
Suzy menahan tawanya. Yah, ia tahu suara ini. Suara yang menyebalkan, batinnya.

“Siapa dia?” Tanya krystal yang ikut lega.

“Oppa. Myungsoo oppa” suzy tertawa pelan.

Myungsoo mendekat lalu berhenti ketika tubuhnya tepat di depan suzy.

“Kau dikerjai huh?” Myungsoo menyentuh kedua bahu suzy. Sedikit basah. Walaupun suzy sudah mengeringkannya dengan hair dryer, tapi masih sedikit lembab.

Suzy menggeleng.

“Dan.. wajahmu-”

“Kkaja..” suzy menarik myungsoo dan krystal dari sana, enggan memperkeruh suasana. Myungsoo pasti akan marah besar melihat lukanya ini.

“Dia memang dikerjai, oppa..” bisik krystal sambil berjalan di belakang suzy.

“Nugu?”

“Jiyeon, naeun, dan eunji..”

Myungsoo tersenyum samar lalu mengangguk.

“Gomawo informasinya..”

“Yak kalian bergosip tentang apa?” Celetuk suzy.

***

Jiyeon, naeun, dan eunji berjalan santai menuju toilet. Cemas, jiyeon sesekali melirik arlojinya. Tepat 09.45 malam. Ia takut terlambat ke tempat tujuan.

“Hari ini aku ada kencan jam sepuluh bersama oppa. Tidak ada waktu untuk pulang” kata jiyeon sambil memoles bibirnya dengan lipglos rasa vanila.

“Jeongmal? Dan kami harus menunggumu di sini? Sial” sungut naeun yang ditimpali oleh eunji.

“Pulang saja sana”

“Baiklah” naeun hendak berjalan keluar sampai sebuah suara tubrukan terdengar keras dari luar. Jantungnya mendadak melaju di atas normal.

“Paling hanya kucing yang menjatuhkan tong sampah” ujar eunji sembari menarik naeun keluar.

Jiyeon mendecak melihat mereka benar benar meninggalkannya.

“Sialan..” umpatnya seraya menepuk bedak di wajahnya.

Tiba tiba dari dalam bilik satu terdengar suara pintu yang dibuka keras.

Jiyeon menoleh. Matanya seperti akan keluar dari tempatnya melihat ke arah sumber suara. Awas. Matanya penuh awas. Dari sana, keluar seseorang yang memakai topeng dengan pakaian tebal berwarna hitam, memakai sarung tangan beserta sepatu boots, dan sangat tertutup. Orang itu membawa sebuah linggis di tangan kirinya dan sebilah pisau di tangan kanannya.

Jiyeon melangkah mundur. Ekspresinya sangat ketakutan. Ia berlari ke arah pintu, namun naas, pintunya mendadak sulit dibuka.

Orang misterius itu semakin mendekat.

“Dowajuseyo!” Panik. Jiyeon menggedor gedor pintu itu susah payah, dengan segenap energinya.

Sosok itu telah sampai di belakang jiyeon. Ia mengangkat linggis, lalu mengibaskannya ke kepala jiyeon. Jiyeon tersungkur dengan badan yang melemas. Tubuhnya jatuh mengenai ubin yang kotor. Darah segar mengalir dari kepalanya yang bocor, membuat ubin putih menjadi ternoda oleh bercak merah kental. Amis.

Jiyeon berteriak kesakitan. Tubuhnya bergerak gerak menahan nyeri yang tak berkesudahan. Menahan sakaratul maut, menanti sang malaikat yang akan segera menjemputnya. Sebentar lagi.

Sosok bertopeng itu sekali lagi menghunuskan pisau ke perut jiyeon. Ia menusuknya berkali kali. Menusuk dan menariknya tanpa ampun, berulang kali. Tak lupa ia mengguncang pisau itu di dalam perut jiyeon. Seolah mengaduk aduk adonan. Ia mengaduk aduknya di sana. Isi perut jiyeon terburai keluar. Berakhir sudah. Jiyeon menghembuskan nafas terakhirnya sepuluh detik yang lalu. Matanya melotot dengan mulut yang ternganga lebar.

Sosok itu menarik pisau yang cukup mengeluarkan semua isi perut jiyeon. Usus dan limfanya terburai hancur. Tragis.

Sosok itu perlahan meninggalkan jiyeon. Sebelum pergi, ia meninggalkan linggis dan pisau itu di samping mayat jiyeon yang mulai mengeluarkan aroma kurang sedap.

Sekali lagi, tanpa ampun, sosok berbaju hitam itu menginjak wajah jiyeon.

“Rasakan..” bisiknya.

***

Breaking News:

Dua remaja
Seoul High Scool tewas mengenaskan, sedangkan satu lainnya terluka parah dan saat ini sedang koma. Siswi yang diketahui bernama park jiyeon tewas di dalam sebuah toilet wanita dengan kondisi memprihatikan. Sementara jung eunji tewas di depan pintu keluar karena dijatuhi puluhan pisau tajam saat akan membuka pintu. Saat ini siswi bernama son naeun sudah dilarikan ke rumah sakit akibat luka tusukan yang cukup parah. Terdapat barang bukti yang ditemukan di dalam toilet berupa linggis dan pisau stainless steel beserta puluhan pisau di depan pintu masuk ruangan sekolah.

Suzy terlonjak melihat berita di koran minggu pagi ini. Tak sengaja, suzy melihat halaman itu saat akan melihat halaman bagian fashion.

“Oppa! Oppa!” sambil mengunyah roti, suzy berjalan menuju myungsoo yang bersandar di atas kursi depan tv.

“Mwoya?”

“Lihat ini” suzy memberikan koran itu kepada myungsoo. Ia menanti ekspresi macam apakah yang keluar dari wajah tampan itu.

Kening myungsoo mengerut.

“Wae? Ini temanmu kan?”

“Ne. Mereka mati mengenaskan.Walaupun aku membenci mereka.. tapi kasihan juga melihat mereka mati tak wajar..” suzy menampakkan raut sedihnya.

“Jeongmal? Kau sedih? Bukannya kau seharusnya bahagia karena orang yang selalu mengerjaimu akhirnya mati juga?” Myungsoo antusias menatap suzy. Suzy menggeleng dengan wajah sedih.

“Kasihan mereka..”

“Jeongmal? Kira kira siapa pembunuh itu yah?” Myungsoo mencubit gemas pipi suzy. Suzy mengerucutkan bibirnya kesal.

“Yak oppa! Hati hati denganku. Aku punya pelindung tersembunyi. Lihatlah.. buktinya.. orang yang kubenci mati karenanya..” suzy terkikik lalu berlari.

“Lihatlah wajah itu! Betapa senangnya melihat orang mati” myungsoo ikut berlari mengejar suzy.

Suzy berlari masuk ke kamar dan hendak menutup pintu. Namun, myungsoo dengan sigap menahannya.

“Yak.. kau tidak bisa lolos dariku.. kau harus diberi hukuman karena telah senang di atas penderitaan orang lain..”

Suzy menahan tawanya.

“Aku tidak senang. Aku prihatin”

Myungsoo tersenyum lalu membuka pintu itu sekali tenaga.

“Hap! I caught you!” Myungsoo memeluk suzy dari belakang dan menciumi pipi suzy. Mata suzy memicing, tak suka dengan perlakuan ini.

“Ah.. aku mau belajar dulu..” suzy melepaskan pelukan itu paksa dan berjalan menuju meja belajar.

Myungsoo tersenyum simpul lalu ikut berjalan ke tempat suzy.

“Baru saja aku mau memberi ketiga gadis itu pelajaran, tapi ternyata sudah mati duluan.. aku harus berterima kasih padanya..” ucap myungsoo.

Suzy menoleh.

“Keluarlah oppa.. aku sibuk..”

“Oh ayolah.. ini hari minggu. Apakah kau mau aku masakan makanan kesukaanmu?”

Konsentrasi suzy buyar. Ia bergegas meninggalkan buku bukunya dan memutar kursi.

“Harus lebih enak dari kemarin, arra?” Suzy memamerkan deretan giginya. Myungsoo menyentil hidung suzy.

“Ne. Lebih lezat dari dugaanmu”

***

Ting Tong!

Myungsoo yang tengah asyik ber shower ria, diganggu oleh suara bel. Ia bergegas mengambil handuk lalu berjalan menghampiri pintu.

Betapa kagetnya myungsoo melihat polisi dengan seragam kebesaran berada dihadapannya sekarang.

“Ada apa pak?”

“Kim myungsoo?” Tanyanya menyelidik setelah memamerkan identitas.

Myungsoo mengangguk.

“Anda kami tahan”

Myungsoo terbatuk. Shock bukan main. Tak berlangsung lama, mimiknya lalu berubah kalem.

“Saya.. pakai baju dulu pak” raut muka myungsoo datar, seperti tak ada yang terjadi.

***

Suzy berlari sempoyongan keluar sekolah setelah mendengar kabar bahwa myungsoo ditahan oleh pihak berwajib. Suzy memberhentikan taksi lalu menyuruh si sopir ke alamat tujuannya.

Sesampainya di sana, suzy langsung menghampiri sipir untuk bertemu dengan myungsoo.

“Oppa..” gumam suzy begitu melihat myungsoo terduduk di atas dinginnya lantai penjara. Di balik jeruji besi itu, myungsoo menunduk. Ia menoleh setelah mendengar suara itu. Suara hangat itu. Suara yang bagai sinar mentari di musim semi.

“Suzy-ah..” myungsoo bangkit. Tangannya mencengkram erat besi besi penyangga.

Mata suzy berkaca kaca. Tangannya menggenggam erat tangan myungsoo. Seolah tak akan dilepaskannya lagi.

“Masa tahanan ku masih diproses. Untuk sementara aku ditahan di sini..” ujar myungsoo tegar.

Suzy mengambil tangan myungsoo dan ditempelkannya di pipinya.

“Katanya.. aku dituduh sebagai pembunuh jiyeon dan eunji karena terdapat sidik jariku di linggis dan pisaunya.. dan terkait pembunuhan berencana untuk mereka bertiga..”

Suzy kini mencium telapak tangan myungsoo. Dalam. Lebih dalam hingga ia meresapinya dengan menutup mata.

“Aku tau..”

Suzy makin mempererat cengkraman tangannya.

“Penyakitmu kambuh..”

Suzy tersenyum samar. Ia lalu membuka matanya.

“Mendekatlah..” pintah suzy.

Wajah myungsoo mendekat sampai menempel jeruji besi.

Suzy mengecup bibir myungsoo. Agak lama. Myungsoo meresapi setiap detik itu. Tak akan ada yang melihat mereka. Kalaupun iya, suzy tak peduli dicap berbuat mesum di penjara.

‘Aku tau..’

Suzy berjalan mengendap memasuki kamar myungsoo sambil membawa linggis dan pisau di kedua tangannya yang bersarung.

Suzy melangkah mendekati ranjang myungsoo lalu perlahan naik ke atas.

Suzy menempelkan sidik jari myungsoo ke linggis dan pisau itu. Setelahnya, suzy mengecup singkat bibir myungsoo.

“Selamat malam.. oppa..” suzy tersenyum lalu mengecup bibir itu lagi.

“Selamat malam.. mianhae..”

Tanpa suzy sadari, myungsoo melihat dan merasakan semuanya. Ia sama sekali belum terlelap. Bahkan ia sempat membuka sedikit matanya ketika suzy menciumnya.

Myungsoo bangkit dan menatap punggung suzy yang menjauh.

“Suzy-ah.. sepertinya aku akan celaka.. kau.. jahat.. gadis yang jahat.. tapi.. aku mencintaimu..” myungsoo tersenyum hambar.

“Kau tau? sosok yang selalu menghantuimu itu.. adalah adikmu.. sang moon..” bisik myungsoo begitu suzy mengakhiri ciumannya.

“Jeongmal?!” Suzy tak bisa menyembunyikan keterkejutannya kali ini. Suaranya menggelegar di ruangan itu membuat si pengawas memberikan peringatan. Untung saja hanya ada satu orang di sana, dan tak ada yang mendengar pembicaraan mereka yang pelan.

Myungsoo membekap mulut suzy lalu tertawa pelan. Tepatnya tawa lirih yang menyedihkan.

“Aku seharusnya menyembunyikan ini seumur hidupku. Kheundae, kalau tidak.. dia akan selalu menghantuimu..”

“Jebal..” tangan suzy kembali mencengkram kedua tangan myungsoo.

Myungsoo berdehem lalu mulai bercerita.

“Kaulah yang membunuh adikmu..”

Mata suzy membulat sempurna, tak terima dengan ucapan barusan.

“Karena.. kau tidak suka adikmu bermain terus bersamaku, sehingga kau diacuhkan..”

Kepala suzy tiba tiba berdenyut. Ia meringis.

“Sang moon tahu kau menderita gangguan jiwa setelah kedua orang tuamu meninggal. Kau haus darah. Tidak segan segan membunuh siapapun yang menyakitimu..”

Nafas suzy terasa diujung batang tenggoroknya. Habis. Tercekat.

“Termasuk sang moon yang mengacuhkanmu..”

“Andwae..” gumamnya seraya mencakar tangan myungsoo. Bercak merah timbul di telapak tangan pria itu. Sakit. Yah, tapi masih bisa ia tahan. Suzy masih enggan melepaskan genggaman penuh nafsu itu.

“Setelah kau membunuhnya.. aku lalu mengikatmu dan membiusmu..”

Mata suzy menajam bagai singa kelaparan. Bibirnya bergerak gerak tanpa suara.

“Setelah itu, aku memberikanmu obat yang bisa menghapus ingatan burukmu. Semua ingatan burukmu tentang pembunuhan sang moon. Bahkan mayat sang moon belum ditemukan. Dia membusuk di rumah lamamu yang tidak berpenghuni. Tidak ada yang mencarinya.. hanya aku.. hanya aku teman satu satunya. Karena ia takut padamu.. tapi.. dia menyayangimu sehingga tidak mau membawamu ke rumah sakit jiwa..”

Suzy kesakitan. Kepalanya sangat sakit. Nafasnya naik turun. Bulir bulir airmata mulai jatuh. Myungsoo melepaskan tangan suzy hendak menghapus airmata penyesalan itu.

“Nama obat itu adalah propranolol. Obat yang biasanya digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi bagi penderita jantung, ternyata setelah diteliti juga bisa menghapus ingatan buruk. Menyebabkan sakit ingatan. Senyawanya membuat protein yang diproduksi otak untuk merespon stress, bertujuan untuk memangkas memori memori yang dapat menimbulkan stress di masa depan. Seperti kau saat ini..”

Suzy menahan tangan myungsoo dan kembali menekan kuku tajamnya di atas kulit myungsoo. Merah. Kembali ruam kemerahan menempel jelas di tangan myungsoo.

“Akulah yang menyembuhkanmu dari penyakit itu. Penyakit psikopatmu itu.. dengan berbagai terapi dan obat obatan..”

“Tapi.. ternyata penyakit itu kambuh tanpa kau sadari.. ketika seseorang menyakitimu secara terus menerus.. kau.. harus membantainya agar kau puas.. begitulah kau.. kau dari masa lalu.. dan masa sekarang.. akan tetap menjadi seperti itu..”

Suzy tersenyum dalam tangisnya. Ia menggigit bawah bibirnya hingga berdarah.

“Jadi.. kumohon makamkan bae sang moon selayaknya.. agar dia tenang.. aku tahu.. sidik jariku sudah ada di rumah itu, bukan sidik jarimu.. karena keahlianmu yang melakukannya.. silahkan.. menyalahkanku. Aku.. sudah hancur..” terangnya dalam. Hatinya bagai dikoyak koyak sembilu, lalu luka itu ditetesi air jeruk dan air raksa. Sakit. Sangat teramat sakit. Siapapun tak akan mengerti sesakit apa.

Suzy menunduk sejenak. Hening. Ia lalu mengangkat wajahnya.

“Terima kasih sudah mengingatkanku dengan kenangan buruk itu.. Gomawo.. Gomawo..” bisik suzy seraya mengecup tangan myungsoo, darah di bibirnya membekas di tangan myungsoo.

“Aku mencintaimu..” balas myungsoo seraya tersenyum dengan pandangan fokus ke mata itu.

Suzy terdiam sejenak lalu melepaskan tangan myungsoo yang berhasil ia cakar hingga berdarah dan memerah.

Suzy memutar badan. Tanpa kata, lalu berjalan meninggalkan ruangan itu.

Myungsoo tertawa renyah sambil menatap tangannya yang terluka karena jambakan brutal suzy.

“Kau juga mencintaiku, huh?”

***END***

Annyeong readerdul!
Mian for typos and mistakes.
Tolong di kasih tau kalau ada salah, ne? ^_^
Jangan lupa tinggalin jejak yah. Muaaaahh :*
Bagi yang nunggu sixth spirit, besok bakal aku post. Ini dulu yah huahahahaha😄
Kritik dan saran aku tunggu banget😀

RCL?!

DOUBLEBOW~

62 thoughts on “FF Pass the Buck (Oneshoot)

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s