FF Sixth Spirit PART 6

image

Title: Sixth Spirit
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Horror, Drama, Family, Fantasy, Friendship, SchoolLife, Mystery (maybe), etc.
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho
Sub Cast: Park Jiyeon, Krystal Jung, Park Chanyeol, Oh Sehun, Lee Jieun, OC’s and etc (SubCast dapat berubah sewaktu-waktu)
Length: Chaptered

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

Previous Part:

“Kau tahu hyung, aku belum pernah membunuh siapapun seumur hidupku. Jadi, kau mau aku melakukannya untuk yang pertama kali huh?”

Dongju balas menatap mata elang minho dengan tatapan jengah, seolah olah tengah berhadapan dengan bocah ingusan.

“Jadi.. kau mau membunuhku huh?”

***PART 6***

“Ne. Aku akan membunuhmu sebelum hyung membunuh suzy.. dengan tanganku sendiri.. aku akan membunuh hyung..” minho mengeluarkan sebuah pistol dari sakunya dan menodongkannya tepat di depan dongju. Dongju meringis, kedua tangannya terangkat keatas.

“Mianhae?” Nada bicara dongju lebih seperti bertanya ‘apakah kau bercanda?’

“Peluru ini akan segera menembus otakmu, hyung.. jangan main main denganku..”

Dongju tertawa. Tawa yang cukup renyah. Ia berdiri dan menurunkan tangannya. Ia memutar badan, berjalan meninggalkan minho yang tampak serius.

“Berhenti atau kau mati!” Pekik minho.

Dongju berhenti namun enggan berbalik. Sebelah tangannya masuk ke saku jas. Satu detik berlalu, hening.

Dongju tersenyum licik lalu berbalik dengan tangan mengacung ke depan. Sebuah pistol terapit dikedua tangannya, menghadap ke depan, tempat minho berdiri.

“Mau mati bersama?” Ujar dongju dengan nada tanpa beban. Kini mereka saling mendongakkan pistol satu sama lain. Minho mendecak, tak tahan.

“Aku punya sebuah cerita menarik. Hmm.. tidak terlalu menarik. Kheundae, kuharap bisa mendinginkan kepalamu.. dongsaeng..”

Minho tak bergeming, ingin mengamati cerita basi macam apakah itu.

“Kau taukan aku pewaris keempat?”

Tak ada jawaban. Dongju memutuskan melanjutkan narasinya.

“Kau tau? Saat aku menjadi pewaris cincin itu, ternyata roh selanjutnya adalah.. krystal jung..”

Minho terkesiap. Benarkah?

“Kau tau apa permintaannya?” Dongju tersenyum.

Minho makin mengeratkan pegangannya pada pistol. Bibirnya terasa kaku setelah mendengar nama itu. Nama yang tak asing.

“Membunuhmu..”

Deg!

Jantung minho berhenti berdetak untuk sedetik. Badannya beku. Lidahnya kelu. Pistol ditangannya jatuh begitu saja, membuat suara bising kembali terdengar di ruangan itu. Badannya terasa lemas. Sangat lemas.

Dongju menyeringai, ikut menurunkan pistol peraknya.

“Lihatlah.. sampai sekarang kau masih hidup. Aku memutuskan untuk tidak membunuhmu. Karena, aku menyayangimu, saeng. Dan kau tahu apa yang kudapat?”

Minho menunduk. Tidak. Airmatanya mengalir. Ia menangis dalam ketegangan yang mereda itu.

“Aku mendapatkan penyesalan. Kekasihku meninggal! Yah! Sama sepertimu! Kau juga mendapat kutukan itu! Ibumu meninggal! Dan jodoh sekali, ternyata kau menceritakan semua rahasiamu saat mabuk. Tentang cara menghilangkan kutukan itu. Bae suzy.. adalah kata kuncinya.. orang yang sangat kau cintai..”

“Cukup!” Jerit minho. Terdengar menyesal.

“Aku harus membunuhnya untuk menghilangkan kutukan itu..”

“Cukup hyung! Cukup!” Minho jatuh bersimpuh kini. Tangannya mengepal dengan wajah basah. Kini titik titik bening dari matanya jatuh ke atas karpet mahal milik dongju.

“Kita harus bernasib sama.. sama sama kehilangan wanita yang kita cintai.. dan.. aku lelah dihantui dalam mimpi.. aku lelah.. aku lelah!” Teriak dongju di akhir kalimat.

Minho tak berkutik, masih dengan pemikiran pemikirannya, tentang flashback.

“Oppa..”

“Kau mau kemana, oppa?”

“Kau akan ke las vegas, meninggalkanku?”

“Aku sakit..”

“Kata dokter.. umurku tidak akan lama lagi.. tinggallah lebih lama.. di sini.. bersamaku..”

“Temani aku.. sebelum pergi dari dunia ini.. jebal.. juseyo..”

“Oppa.. lihatlah cincin kristal ini.. sangat unik kan? Tak maukah kau membantuku menyelesaikan misiku sebelum pergi ke las vegas?”

“Baiklah.. aku akan meminta bantuan hara ahjumma selaku suster yang merawatku untuk membantuku menyelesaikan misi ini..”

“Jadi tidak bisakah oppa tinggal demi aku? demi aku yang akan pergi selamanya?”

“Aku tidak akan menuntut banyak.. hanya.. menemani hari hari terakhirku..”

“Hanya itu..”

“Juseyo..”

“Oppa..”

Minho termenung mengingat kalimat demi kalimat yang pernah krystal katakan padanya saat itu. Tapi dia tetap pergi tanpa iba, seperti orang jahat. Ia menyesal. Sungguh sangat menyesal. Maka sekarang, ia harus benar benar melindungi orang yang dicintainya. Harus.

“Oh yah.. krystal punya pesan, tapi bukan permintaan. Dia bilang.. dia sangat membencimu..”

Tangis minho mengeras. Tangannya meremas kuat kain celananya.

“Dasar cengeng..” cela dongju seraya berbalik, hendak mengembalikan pistol itu ke tempat asalnya.

***

Pagi pagi sekali, cahaya matahari tak menyengat di musim dingin membuyar tidurnya. Suzy perlahan membuka mata, mengerjap pelan. Jari jemarinya ikut bergerak perlahan. Sedikit menggelitik di area sana. Tangannya terlihat tak berselang,dalam artian, infusnya sudah dilepas. Warna putih, putih dan putih menghiasi ruangan yang ditapakinya. Bau obat obatan tercium, menyumbat rongga hidungnya. Ia tak suka bau itu.

Mata indahnya terbuka sempurna. Ia mendapati seseorang di depannya. Bukan, bukan eommanya. Yah, tepat sekali. Myungsoo. Kim myungsoo tersenyum dengan pakaian rumah sakit berwarna putih dengan sedikit biru.

Suzy mendesah, malas. Yang benar saja, myungsoo lagi, myungsoo lagi. Otaknya masih lamban untuk mencerna wajah menyebalkan pria ini.

Suzy menarik selimut, menutup seluruh tubuhnya. Myungsoo kembali menariknya hingga terlihat jelas tubuh suzy dengan seragam yang sama dengannya, hanya saja, pakaian suzy tak memiliki warna biru, tapi pink, khusus untuk pasien wanita.

“Irreonna!” Teriak myungsoo tanpa kendali. Suzy refleks menutup kedua kupingnya.

Myungsoo lalu menarik tangan suzy untuk berdiri. Suzy tak semudah itu dikalahkan. Ia mempertahankan posisi enaknya.

“Yak!” Myungsoo menariknya makin kencang, tak gentar. Ia percaya kekuatan prianya.

Suzy menyerah. Ia tak mampu menahan lagi. Karena myungsoo menarik terlalu keras, ia malah terpelanting ke belakang yang ikut membuat suzy terjerembab bersama myungsoo.

Myungsoo meringis. Begitupun suzy. Ada yang aneh pada posisi mereka. Myungsoo menatap mata suzy yang berada di atasnya. Intens. Dalam.

Suzy ikut membalas tatapan itu. Seolah olah kaset jadul terputar di ruangan itu dan waktu berjalan sangat lama, menjadi efek slowmotion ala film film romantis.

Sial. Suzy mencolok sebelah mata myungsoo lalu bangkit dengan cekatan dan segera beranjak dari sana. Ia tersenyum puas. Dalam hati ia tertawa.

Mata myungsoo terbuka lebar lalu sebuah senyum terukir dibibirnya. Menurutnya, tadi itu tak sakit. Hanya saja, cara suzy melakukannya sangat manis. Seperti mengerjai kekasihnya saja.

Myungsoo buru buru berdiri. Ia hendak mengejar suzy yang sudah kabur entah kemana.

“Suzy! Awas kau!”

***

Suzy berlari menyusuri koridor. Ia merengut. Dimana eommanya sekarang?

Kakinya yang tak beralas berhenti tepat di depan sebuah taman. Salju turun dengan kemilau seputih kapas. Padahal tadi matahari baru saja tampak. Ia memandanginya hingga tak sadar, myungsoo sudah berada tepat di belakangnya, ikut mengarahkan mata ke arah suzy melihat.

“Indah?”

Badan suzy membeku. Oh tidak. Myungsoo menangkapnya.

Suzy tertawa garing lalu secepat kilat berlari menuju taman. Myungsoo tak tinggal diam. Ia ikut menyusul.

“Yak jangan seperti anak kecil! Nanti sakitmu tambah parah! Ayo masuk!” Desak myungsoo seraya menarik tangan suzy. Suzy tak menahannya kali ini. Perasaannya aneh. Sangat aneh. Ia melihat wajah myungsoo dari samping. Sangat tampan. Sama tampannya dengan minho.

Suzy menggeleng. Menepis bayangan tadi.

“Ayo makan!” Myungsoo berhenti di depan sebuah kantin dan mengajak suzy masuk.

Suzy berjalan masuk lalu duduk berhadapan dengan myungsoo.

“Mau pesan apa?” Myungsoo mengorek menu.

“Eommaku dimana?”

Myungsoo mengalihkan tatapannya dari kertas menu dan memilih melihat suzy.

“Ia pulang. Ingin mengurus rumah sebentar. Ahjumma menitipkanmu padaku. Arra?” Myungsoo tersenyum menang. Satu sama, batinnya.

Suzy mengerucut lalu merampas menu yang ada di tangan myungsoo.

“Aku pesan.. hmm..” suzy mengetuk jarinya di dagu, seolah olah tengah berpikir berat. Bibir myungsoo terangkat. Ia suka bibir mengerucut itu. Ia suka lentik bulu mata suzy pagi hari, tanpa polesan.

“Bibimbab?”

***

Berkali kali minho tampak sibuk dengan ponselnya walaupun tengah menyetir. Ekspresinya tak karuan. Ia kalut. Orang yang ditelponnya tak juga mengangkat panggilannya, belum lagi pesan singkat yang ia kirim, tak juga dibalas.

Minho mengumpat setelah terdengar suara operator untuk yang kesekian kali.

“Kenapa suzy-ah?” Gumamnya cemas. Minho menginjak pedal rem ketika rumah sederhana suzy mulai terlihat. Ia turun dari mobil dan melangkah ke sana. Ia berhenti begitu melihat eomma suzy berjalan keluar dari rumah dengan membawa sebuah tas. Tas yang cukup besar.

Tanpa pikir panjang, minho berlari menghampiri wanita parubaya itu.

“Annyeonghaseyo ahjumma..” minho membungkuk sopan. Wanita itu tersenyum ramah.

“Suzy ada?” Tanyanya kemudian.

“Dia.. ada di rumah sakit sekarang”

Minho tersentak. Bibirnya akhirnya memaksanya bertanya lagi.

“Waeyo?” Minho tak bisa menyembunyikan wajah ketakutannya. Takut kalau kalau karena ulah kakak tirinya.

“Dia.. berniat bunuh diri dengan mengiris nadinya”

“Jeongmal? Bagaimana kalau aku mengantar ahjumma ke rumah sakit. Sekalian menjenguk suzy”

Eomma suzy mengangguk. Minho bergegas menuju mobil bersama eomma suzy.

***

Chanyeol terbelalak melihat lima makhluk halus tepat berdiri di hadapannya dengan muka masam. Semuanya menyeramkan. Chanyeol mengucek matanya, memastikan apa yang dilihatnya. Apakah asli?

Matanya kembali melotot tak percaya. Badannya dingin, kaku. Sedingin salju pagi itu. Seolah paku menancap kakinya hingga sukar bergerak. Bibirnya ikut kikuk.

“Nu..nu..nu..” chanyeol tak berhasil menyelesaikan ucapannya karena pingsan duluan.

Krystal mendesis.

“Dasar cemen! Suzy saja tak sampai pingsan!” Umpatnya sambil menyilangkan kedua tangannya congkak.

Gyura tertawa lepas sembari memegangi perutnya. Sakit bukan main melihat seorang pria kekar pingsan.

“Payah..” sehun menggumam.

Hara menggeleng pelan. Sedangkan nenek do masih tak bersuara, tak bereaksi.

***

Suzy terbatuk saat mengunyah bibimbabnya. Myungsoo mencomot tissu dan memberikannya pada suzy.

Batuk suzy semakin keras dan tak berhenti. Nafasnya sesak. Ia tak butuh tissu, ia butuh air.

Suzy meraih gelas di depannya cepat. Namun, saat gelas itu sampai di bibirnya, suzy kembali terbatuk lebih keras dari sebelumnya. Myungsoo mengernyit.

Parahnya, gelas ditangan suzy jatuh. Tak sampai sedetik, suzy ikut tersungkur ke atas lantai. Myungsoo mendadak panik. Ia menghentikan makannya lalu bergegas mengangkat suzy. Ia menggendong suzy ala bridal.

“Dowajuseyo!” Teriaknya lantang sambil berlari. Ia khawatir melihat suzy kini tak sadarkan diri.

Dokter berhamburan keluar. Salah satu suster mengeluarkan ranjang ber roda, myungsoo menaruh suzy di sana. Dengan cepat, dokter membawa suzy ke dalam UGD.

“Tunggu di sini!” Kata salah satu dokter.

Nafas myungsoo tak beraturan. Entah mengapa ia merasa sangat takut. Amat sangat takut membayangkan kejadian tadi. Ia melihat mata suzy naik seperti tercekik. Mengerikan.

Myungsoo menghampiri kursi dekat ruangan itu dan duduk melepaskan ketegangan di sana. Turut memangku badannya yang lemas. Yah, tubuhnya melemas.

Tak lama kemudian, minho dan eomma suzy muncul di hadapannya.

“Suzy eoddiya?! Dia tak ada di kamarnya!” Desak minho seraya mengguncang tubuh myungsoo emosi. Wajah cemas meliputi eomma suzy, perasaan seorang ibu terhadap anaknya tak pernah berbohong.

“Di sana..” tunjuk myungsoo lemah. Kepalanya tertunduk. Mata minho dan eomma suzy terbuka lebar, mereka shock.

“Waeyo?! WAEYO?!” Kembali minho mengguncang tubuh myungsoo. Tangan myungsoo mengepal namun tak bisa berbuat apa apa.

“Entahlah..”

“MWO?! JAWABAN MACAM APA ITU?!”

Bruk!

Wajah myungsoo memaling, sedikit biru, memar. Tangan kekar minho tepat mengenai pipi myungsoo. Tak ada yang bisa menghentikan minho yang tersulut emosi.

“JAWAB DENGAN BENAR BRENGSEK!” Sekali lagi sebuah bogem mentah ditorehkan minho ke atas wajah myungsoo.

Tak tahan, myungsoo berdiri lalu mengambil kerah minho, menatapnya tajam, menusuk.

“Nado.. MOLLA!” teriaknya diakhir kata, ikut naik darah.

Mereka saling tatap. Minho mendecak dan menghempaskan tangan myungsoo dari kerah bajunya.

“Pergilah dari sini..” ucapan minho melunak.

Myungsoo menggeleng tanpa takut.

“Kau siapanya melarangku?”

“Tch..”

Eomma suzy terisak pelan sedari tadi namun tak ada yang peduli. Yah, lebih baik begitu, pikirnya. Ia tak mau diperhatikan saat menangis.

Satu dokter keluar dari UGD dan menghampiri myungsoo, minho dan eomma suzy. Raut harap harap cemas meliputi mereka bertiga.

“Pasien tak memiliki penyakit apapun. Ini sangat aneh. Tenggorokannya seperti tersumbat tapi tak ada apapun di sana. Sekarang ia sedang tertidur setelah kami suntik dengan obat penghilang rasa sakit” dokter itu pamit setelah penuturannya.

Eomma suzy terduduk lemas. Myungsoo bersimpuh, bersyukur suzy tak apa apa. Lain hal dengan minho, pria itu malah mengerutkan keningnya, bingung dengan penjelasan tadi. Otaknya berpikir. Keadaan yang aneh. Jangan jangan..

‘Pasti efek cincin itu. Jangan jangan seseorang sudah menemukannya lalu memakainya’ Pikirnya. Gawat!

***

Suzy menelungkup dibalik selimut. Ia menangis. Tak tahan. Tak mau memamerkan wajahnya yang basah di depan minho dan myungsoo.

“Gwaenchana?” Minho mengusap pelan kepala suzy yang juga tertutup selimut.

Myungsoo termenung di atas kursi di ujung sana. Ia bertopang dagu menatap ke arah suzy. Intens. Sedangkan eomma suzy duduk di luar. Suzy menyuruhnya agar mereka bertiga saja di ruangan itu—suzy, myungsoo dan minho.

“Suzy-ah.. jangan seperti ini.. jebal..” ujar minho lirih.

Suzy terisak. Terdengar jelas di ruangan itu. Myungsoo dan minho mendengar suara sangau itu. Parau.

Kepala minho mendekat.

“Tenggorokanmu masih sakit?” Bisiknya.

“Kkaba..” serak suzy. Masih enggan terbuka mengenai masalahnya.

“Minho-ssi.. kau tau sesuatu?” Myungsoo membuka suara. Matanya menyipit ke arah minho.

“Ne”

Belum sempat myungsoo membuka mulut, minho sudah memotongnya.

“Kheundae itu bukan urusanmu”

“Wae?”

Minho bangkit dari kursi lalu berbalik menatap myungsoo.

“Karena kau hanya orang asing..”

Tangan myungsoo mengepal bersamaan dengan otot wajahnya yang menegang.

“Ne.. kau benar..” myungsoo hendak beranjak. Namun sebuah suara sontak menghentikan langkahnya.

“Kau pria spesial..” suzy membuka selimut lalu bangkit. Ia melemparkan wajah ke myungsoo.

Myungsoo menoleh ke arah suzy, menatapnya intern. Ada makna tersirat di matanya.

“Ingatlah.. ciuman itu..”

Badan minho serasa dijatuhi puluhan batu gunung. Hatinya terguncang. Apa?! Apa yang baru saja didengarnya? Ciuman?

Minho tertegun. Mencoba menyeleksi kata perkata ucapan suzy.

Myungsoo melangkah acuh. Tanpa kata. Hanya hatinya yang berbisik sebuah kalimat sederhana. ‘Yah.. aku mengingatnya..’

Suzy tersenyum sebentar lalu perlahan menghilang bagai angin lalu. Matanya kembali berkaca kaca. Sungguh ia tak bisa menahan rahasia itu lagi, bahwa myungsoo pernah bertemu dengannya dalam keadaan gaib. Mungkin dengan begitu hatinya akan lega. Tapi ternyata semakin membuatnya tampak bodoh.

“Gwaen..chana?” Tanya minho terbata.

Suzy menggeleng. Detik kemudian airmatanya mulai merembes lagi.

“Oppa..”

“Hmm?”

“Aku tidak.. bisa bernafas.. seperti nyawaku akan segera dicabut.. oleh malaikat maut..” terang suzy sambil terisak. Minho menarik suzy ke dalam dekapannya. Tanpa balasan. Tanpa suara. Ia kehabisan kata. Benaknya masih penuh dengan kalimat tadi.

Suzy terisak di bahu minho. Terisak puas. Seolah beban dipundaknya terangkat. Walau hanya sesaat, tapi cukup menenangkan, bahu milik minho itu.

“Oppa.. sepertinya kutukan cincin itu sudah dimulai..” minho mengangguk.

Myungsoo bereaksi lebih. Tangannya mencengkram erat gagang pintu di luar. Ia mendengar semuanya. Bukankah ini yang ia inginkan? Tapi mengapa ia tak sanggup mendengar nada lirih itu?

“Cincin itu.. jadi karena cincin itu?”

***

“Myungsoo-ah.. aku membawakanmu ini..” tanpa mengganti seragam sekolah, jiyeon menyerahkan sebuah kotak berisi makanan kepada myungsoo yang duduk di atas tempat tidur.

Myungsoo mengangkat wajahnya. Sedari tadi kerjanya hanya memandangi foto suzy. Foto satu satunya yang ia miliki.

“Wae? Kenapa dengan tatapan itu?” Elak jiyeon tak suka.

“Aniya”

“Mogosoyo..” jiyeon membuka kotak itu dan mengambil sumpit kayu, enggan melanjutkan perdebatan.

“Jiyeon-ssi..”

Kepala jiyeon terangkat, mengernyit.

“Ne?”

“Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya.. aku juga belum pernah memiliki kekasih sebelumnya..”

“Lalu?” Jiyeon tersenyum tipis.

“Bagaimana jika ternyata aku malah jatuh cinta dengan wanita yang mau aku hancurkan?”

Gerakan jiyeon terhenti. Senyumnya meredup. Tangannya tak sengaja menjatuhkan kotak berisi makanan. Hening. Seperti film bisu tahun 1970-an.

“Eotthokae?” Sambung myungsoo membuyarkan kesunyian. Tak peduli makanan itu tumpah ruah mengotori pakaian jiyeon. Jahatkah? Yah, dia memang sedang berusaha menjadi jahat setelah eommanya pergi.

Jiyeon berusaha meregangkan saraf wajahnya, namun gagal. Air muka yang begitu terkejut hanya sesaat, setelah itu berganti mimik tegang, ketakutan. Ia tak siap myungsoo jatuh cinta dengan wanita lain. Apalagi untuk yang pertama kali bagi pria ini.

“Andwae..” gumam jiyeon seraya jongkok membersihkan makanan yang berserakan.

“Mwo?”

“Kata dokter besok kita boleh pulang. Ayo kita pulang..” ujarnya mengalihkan pembicaraan.

“Kemana? Aku tidak punya rumah”

“Ke rumahku”

***

Suzy tertidur pulas di dalam kamarnya karena kelelahan setelah pulang dari rumah sakit. Minho berada di sampingnya, tidur di atas lantai beralaskan kasur tipis di samping ranjang suzy. Ia meminta agar menginap di sana, karena takut kalau kalau terjadi sesuatu pada suzy. Sesuatu yang gaib atau kejadian upaya pembunuhan suzy.

Mata minho belum terpejam. Ia menahannya. Matanya menerawang langit langit. Memikirkan berjuta masalah yang ada. Tapi satu yang pasti, hal yang membuatnya kalang kabut. Tentang pembicaraan suzy mengenai ‘ciuman’. Bukankah berarti myungsoo pernah bertemu suzy dan menciumnya? Yang juga memberikan tanda bahwa myungsoo tak mengingat apapun setelah bangun dari koma.

Suzy menggeliat. Raut mukanya tampak gelisah. Nafas yang tadi beraturan kini berubah tersendat. Minho terlonjak. Ia bangkit dan segera memeriksa keadaan suzy.

“Suzy-ah! Irreonna!” Minho mengguncang tubuh suzy yang menampakkan aura tidak beres. Bibir suzy bergetar, menggigil.

“Suzy-ah! Suzy-ah!” Panik. Satu kata yang menggambarkan minho saat ini.

Mata suzy terbuka. Bibirnya terbuka tapi tak mengeluarkan sepatah katapun.

“Musshun irriya? Musshun irriya?! Yak mareba!” Minho mengangkat tubuh suzy hingga terduduk. Punggung tangannya ia tempelkan ke kening suzy. Panas. Sangat panas.

“Aigoo.. kita harus ke-”

“Jangan.. di.. sini.. saja..” susah payah suara putus putus nan serak itu keluar.

“Shireo! Kau harus ke dokter!”

“Per..cuma.. ini.. hal..gaib..”

Suzy benar. Dokter tak akan membantu.

Mata berlian berkaca kaca itu sungguh memprihatinkan. Minho menutup matanya kesal. Kesal dengan peristiwa ganjil yang menerpa suzy. Andai saja cincin itu tidak hilang. Andai saja.

Minho kembali membaringkan suzy. Ditariknya selimut sehingga menutup separuh badan suzy.

“Tidurlah.. aku akan menjagamu sebisaku..”

***

Di tempat lain, diwaktu yang sama, chanyeol menggigil di atas tempat tidur. Cincin itu masih terpasang di jemarinya.

“Sial.. suzy pasti juga lagi menggigil sekarang” celetuk sehun. Krystal menggigit bawah bibirnya.

“Apa yang harus kita lakukan? Orang yang mendapat cincin itu ternyata seorang pria penyakitan dan memiliki dendam pada suzy” ujar gyura.

“Ne. Katanya.. saat suzy memukulnya waktu itu, malah memperparah penyakitnya..” krystal menambah.

Ke empat roh kecuali nenek do menatap iba ke arah chanyeol yang menahan sakit di atas ranjang besarnya. Yah, pria itu tinggal sendirian di rumah itu. Kedua orang tuanya berada di Ulsan. Ia tak pernah membicarakan soal penyakitnya pada siapapun, karena tak mau dianggap lemah. Karenanya, chanyeol sering mencari masalah. Entah itu pada preman atau anak anak jagoan di sekolah. Ia tak peduli dengan penyakitnya walaupun dipukuli berkali kali. Ia hanya ingin melawan semuanya. Melawan kelemahannya.

“Dan sekarang dia tahu kalau cincin itu dipakai orang lain, maka seluruh yang terjadi pada orang itu akan terjadi pula pada pewaris, tapi hanya rasa sakitnya saja, penyakitnya tak berpindah. Jadi, mana mungkin dia mau mengembalikan cincin itu kalau ternyata bisa membalaskan dendamnya? Mereka menahan sakit bersama sama.. ah.. kasihan sekali suzy eonnie, chanyeol oppa juga” tubuh gyura melunglai. Hara mengelus rambut gyura memberi semangat.

“Haruskah kita menyadarkannya agar tak berbuat ulah lagi?” Sahut sehun.

“Tidak perlu. Yang kita lakukan hanya menuruti orang ini, menjawab semua pertanyaannya dan.. menunggu suzy mengambil kembali cincin ini sebelum enam bulannya berakhir. Kalau tidak..” krystal menggeleng.

Hara, sehun dan gyura ikut menggeleng, pasrah.

***

Lingkaran hitam di bawah mata suzy menandakan banyak hal. Ia tak tidur karena menahan sakit disekujur tubuhnya yang entah bersumber darimana, yang pasti kutukan cincin itu dimulai sudah. Minho menguap lebar, hanya satu jam terlelap sampai dering jam weker berbunyi. Ia bangkit dan langsung menengok suzy.

“Gwaenchana?” Minho mengernyit melihat mata kosong suzy yang fokus ke atas langit langit. Bibir putih pucatnya terkatup rapat.

“Suzy-ah! Suzy-ah!” Minho kembali mengguncang tubuh suzy. Tak ada reaksi.

“Kau kenapa?!” Minho tak tahu harus berbuat apa. Ia gelimpangan tak karuan.

“Bicaralah.. jebal..” nada putus asa keluar dari bibir pria itu. Tanpa babibu lagi, minho berlari keluar hendak memanggil eomma suzy.

“MINHO!”

Langkah minho terhenti. Ia kembali ke tempat suzy, sedikit lega melihat suzy membuka mulut.

“Ne?” Minho menunggu suzy membalas, tak sabar.

“Kumohon.. carilah.. cincin.. itu..” kristal cair bening menetes dari pelupuk mata suzy.

Minho mengangguk.

“Jangan.. tanya.. eomma..”

Ragu namun pasti, minho mengangguk sekali lagi.

Minho terenyuh. Ia menjatuhkan dirinya di atas tubuh suzy yang terbaring, hendak memeluk wanita malang itu. Isak demi isakan keluar dari bibir manis suzy. Ia masih merasakan sakit di tubuhnya.

“Mianhae.. aku gagal jadi guardian angel mu..” tak ada yang menyangka minho ikut menangis. Bantal pink soft itu perlahan basah oleh airmata minho. Tanpa suara.

***

Myungsoo berjalan santai di koridor sekolah dengan pakaian bebas. Sengaja. Sekedar berkunjung untuk melihat keadaan suzy di sana. Barangkali wanita itu ke sekolah dengan ceria. Yah, ia akan beralasan tengah menjemput jiyeon jika ditanya, karena berkeliaran di sekolah orang.

Mata myungsoo celingak celinguk memperhatikan setiap detail bangunan. Ia bergumam. Sesekali bersenandung menghilangkan kebosanan.

“Bukankah sekarang jam pulang sekolah?” Myungsoo melirik arloji di tangan. Pukul 04.55.

“Lima menit lagi” gumamnya sambil terus berjalan. Tak sadar, ia telah sampai di depan sebuah kelas.

Bel listrik berbunyi nyaring. Myungsoo yang hendak melangkah pergi sontak berhenti ketika tak sengaja menangkap chanyeol yang keluar dari kelas tempatnya berhenti. Yang ia ingat, ia pernah menggunakan tubuh suzy untuk menghajar chanyeol. Tujuannya sederhana. Yah, untuk mempermalukan suzy dengan alasan pembalasan dendam.

Mata myungsoo memperhatikan dari atas kebawah pria itu. Bagai mesin scan yang sedang menyeleksi barang.

Sama. Mata myungsoo membesar melihat benda tak asing yang tersemat di jari telunjuk pria itu. Cincin yang suzy cari hingga depresi.

Myungsoo mengangkat senyum simpul. Otaknya berputar. Memikirkan segala cara untuk mendapatkan cincin itu kembali.

Chanyeol berjalan melewati myungsoo acuh. Myungsoo mendesis lalu berjalan di belakang chanyeol. Bagai anak ayam yang mengikuti induknya, myungsoo cekatan menghindar kalau kalau chanyeol menoleh ke belakang.

Menit berlalu, chanyeol sudah sampai di tempat parkir. Myungsoo bersiap siaga berdiri di depan mobil chanyeol.

“Annyeong..”

Alis chanyeol terangkat, mulai geram. Ia menekan klakson berulang ulang, ia marah.

“Park chanyeol huh?”

Chanyeol tak tahan lagi. Ia turun dari mobil dan langsung melabrak myungsoo.

“Yak, kau cari mati huh?” Ketusnya seraya mendorong tubuh myungsoo, namun myungsoo berhasil menahan keseimbangannya.

“Mau balap mobil?” Tawar myungsoo kemudian dengan percaya diri, juga sambil menahan kesal karena didorong seenak jidat.

“Mwo?” Mimik wajah chanyeol menjelaskan sesuatu seperti ‘apakah orang ini gila? Baru pertama kali bertemu dan langsung mengajak taruhan. Yang benar saja!’

“Kalau kau kalah.. maka cincin ini jadi milikku..” tegas myungsoo seraya menunjuk cincin di jari chanyeol.

Chanyeol tak santai tapi juga tak tegang. Oke, dia akan mengikuti permainan ini. Cukup menarik baginya karena ia tak tahu kemampuan myungsoo dan sebaliknya. Asal tahu, chanyeol sudah beberapa kali juara dalam perlombaan balab mobil saat bertaruh dengan teman sekolahnya. Apakah myungsoo bisa mengalahkannya?

“Kalau aku menang?”

Myungsoo tampak berpikir sejenak.

“Begini saja, apa permintaanmu?”

“Bagaimana kalau, kau melakukan semua perintahku selama satu bulan. Semuanya..” chanyeol menyeringai.

Deal..” myungsoo tersenyum. Senyum penuh makna.

***

Annyeong readers!
Mian atas segala kesalahan dan typos yah. Mian juga kalo part ini lebih ngebosenin dari part sebelumnya, mian. Soalnya waktu ngasih konfliknya belum tepat, nanti kesannya maksa hehe😄
Tapi part selanjutnya mungkin akan aku keluarin konfliknya ‘mungkin’😄
Jadi, kalau udah jenuh sama ff ini, ga usah dibaca, ga papa kok aku ga maksa😄
Okedeh, jangan lupa untuk kasih tau kalau ada kesalahan, yah? Thanks.
Kritik dan saran? Why not? Please.. cuz i’ll be waiting those 🙂

NB: Kan udah mau ramadhan nih,maaf yah kalo ada salah salah kata readerdul! I love ya all!😀 thanks.

RCL?!

BOW~

83 thoughts on “FF Sixth Spirit PART 6

  1. ah. aku kira myung berbuat itu karna dia sudah suka sma suzy tapi ternyata ….. -_-
    heh. ternyata itu akibatnya yah kalo cincin itu smpe hilang. -_-

  2. huwaa.. myungpa mulai beraksi, semoga menang dan mendapatkan cicin itu

    oh ya eon kuperhatikan komenku banyak yang typo, maap ya eon maklum soalnya aku ratu typo *duhgaknyambungbanget

  3. Si jiyeon suka kan sma myungpa dan ia berniat untuk mnjauhkan myung dari suzy stelah mendengar prkataan myung yang dia bilang “q mnyukai orang yg ingin q hancurkan”
    q penasrana bagaiman bisa penyebab kematian eomma.a myung adalah suzy?

  4. Jdi gitu cra main’y itu cincin kalau bukan dipakai Suzy , Suzy akan merasakan apa yg dirasakn org yg memakai cincin itu .. Kesian banget Suzy, org yg memakai cincin itu chanyeol dan ternyata chanyeol punya penyakit .. Huuhhf

    Semoga aja Myungsoo benar2 jatuh cinta sama Suzy , otomatiskn dendam’y dgn Suzy gk akan berlaku lgi .. Hehe

    Myungsoo ngajak chanyeol taruhan ?? Bagaimana kalau Myungsoo kalah , Myungsoo kn bru keluar dri rumah sakit ?? Seharus’y kn Myungsoo harus bnyak istirahat .. Huuhf
    Semoga aja Myungsoo menang ..

  5. Aigo…ternyata gitu ya kutuk nya….hhmmm kasian ury suzy..
    Myungsoo ayo bantu ngambil lagi cincin suzy…ternyata masih ada hub nya kejadian pewaris ketiga dan keempat dan juga para roh nya…

  6. eh tadi belum ngomong.. anu emang minho punya mata elang ya?😀 biasa juga kodok😀 ngehehehe maaf..
    siapa sih jiyeon? pemilik asli cincin itu jangan-jangan? haha ngaco sekali. aku hanya bercanda.
    anyway semua roh yang ada di cincin itu sepertinya saling berkaitan. tapi nenek do itu siapa? apa dia yang pertama? lalu kenapa krystal menjadi ketuanya? itu belum terjawab kan..
    semua sanksi itu nyata adanya. jadi jika myungsoo benar roh keenam dan permintaan yang tidak dilakukan oleh suzy itu? tapi apa myungsoo benar roh keenamnya? jika benar.. tapi myungsoo bahkan sudah bukan roh lagi. jangan-jangan semua ini hanya mimpi belaka?😀 tambah ngaco dah

  7. penasaran kenapa nenek do selalu diam gitu ya?? ugh kasian suzy jdi ikut menderita gara2 chanyeol penyakitan..ternyata itu sanksinya..
    jadi kemarin itu wktu myung mukulin chanyeol karena dia mau buat suzy malu??? aku kira karna dia emng ada rasa sama suzy..
    btw jiyeon tuh suka sama myungsoo apa gmn ya???

  8. Wah jadi chanyeol mau bales dendam nih ke suzy . Suzy kasian banget sampek kek gitu semoga aja myungsoo yang menang balap mobilnya

  9. Trnyta wktu jd roh Myung dh pnya niat jhat m Suzy liat kn gra2 Myung Chanyeol mw blas dndm m Suzy…
    Knp Suzy bnyk msuhnya:/,,,,

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s