FF Sixth Spirit PART 7

image

Title: Sixth Spirit
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Horror, Drama, Family, Fantasy, Friendship, SchoolLife, Mystery (maybe), etc.
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho
Sub Cast: Park Jiyeon, Krystal Jung, Park Chanyeol, Oh Sehun, Lee Jieun, OC’s and etc (SubCast dapat berubah sewaktu-waktu)
Length: Chaptered

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

Previous Part:

“Begini saja, apa permintaanmu?”

“Bagaimana kalau, kau melakukan semua perintahku selama satu bulan. Semuanya..” chanyeol menyeringai.

Deal..” myungsoo tersenyum. Senyum penuh makna.

***PART 7***

Bibir myungsoo mengerucut melihat label ‘closed’ di depan sebuah rental mobil. Bukan apa apa, myungsoo sudah kesal dari awal karena jiyeon enggan meminjamkan mobilnya. Alasannya, jiyeon takut hal buruk menimpa myungsoo. Jiyeon tahu, sudah setahun lalu myungsoo trauma mengendarai mobil. Bagaimana bisa dengan mudahnya malah meminta balapan dengan park chanyeol? Pria yang jiyeon kenal sangat ahli berkendara.

Myungsoo memutuskan menjauh dari rental dan menuju halte bis. Selama setahun ini, ia hanya sering memakai bis. Waktu ke sekolah jiyeon kemarin pun ia naik bis dan dengan sombongnya malah menantang chanyeol. Sungguh, hal itu diluar dugaan.

Myungsoo merutuk diri mengingat pertengkarannya dengan jiyeon semalam. Jiyeon sangat marah padanya karena berani menantang chanyeol tanpa alasan yang jelas. Hanya untuk sebuah cincin? Jangan konyol! Untung saja, orang tua jiyeon berada di luar kota, kota asal mereka, sehingga tak melihat myungsoo menendang meja. Jiyeon memutuskan mandiri di seoul.

Dan sekarang, jiyeon memaksa myungsoo untuk membatalkan taruhannya, namun myungsoo menolak keras.

Sekarang ia harus berbuat apa?

Sebuah bis berhenti di depan myungsoo. Kesal, myungsoo melangkah masuk.

Gusar, myungsoo menoleh ke jendela. Jejeran bangunan pencakar langit terpampang. Tak ada yang menarik. Myungsoo yang hendak menarik pandangannya ke depan tiba tiba membatalkan niatnya, ketika melihat seorang pria keluar dari toko retail membawa sebuah kantung di tangannya. Myungsoo buru buru beranjak dan menekan bel stop.

Setelahnya, ia turun dari bis dan segera berlari menghampiri pria yang tampak akan masuk ke dalam mobil.

Myungsoo berdiri di depan mobil pria itu, menghadangnya seperti ia menghalangi jalan chanyeol kemarin.

“Choi minho!”

Minho menyipitkan mata sesaat, lalu segera tergemap melihat myungsoo. Ia turun dari mobil dengan ekspresi bingung.

“Ada apa?”

Myungsoo menghela nafas sebentar.

“Aku butuh bantuanmu.”

Minho menautkan alisnya.

“Mwoya?”

“Ceritanya panjang.”

“Ceritalah kalau begitu.” minho melipat sepasang tangannya santai.

Myungsoo tampak berfikir. Wajahnya mangut mangut. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya?

“Kau.. pasti mengetahui tentang cincin yang menyimpan roh roh, kan?”

Minho tersentak. Apakah ia tak salah dengar?

“Mwo? Kau juga mengetahuinya?” Minho terlihat menahan keterkejutannya, walaupun sangat terlihat jelas di mimiknya. Ia sekarang paham satu hal, bahwa myungsoo akhirnya telah mengingat semuanya.

“Ne. Cincin itu berada pada chanyeol sekarang. Dan aku bertaruh sesuatu yang melibatkan cincin itu.” paparnya serius. Minho terdiam menunggu kalimat selanjutnya. Dalam hati, ia sangat senang karena akhirnya mengetahui keberadaan cincin itu.

“Aku bertaruh balap mobil malam ini saat jalan lengang di depan sekolahnya. Kheundae.. aku tidak memiliki mobil. Aku sekarang tinggal bersama jiyeon, tapi wanita itu tidak mau meminjamkan mobilnya.”

Minho menahan tawa. Yah, ia tahu, pasti myungsoo hendak meminjam mobil.

“Baiklah. Aku mengerti. Datanglah ke rumahku sebentar malam. Kita bersama sama ke lokasi. Melihatmu balapan dengan chanyeol dan dapatkan cincin itu kembali. Kalau kau kalah.. kau akan habis.” ujar minho tajam di akhir kalimat.

Sebuah senyum lega menghiasi bibir myungsoo. Akhirnya..

‘Aku tidak akan kalah..’

***

Malam itu, saat jam menunjukkan pukul 12 malam, myungsoo dan minho berada dalam satu mobil menuju tempat tujuan.

Setelah hampir sejam perjalanan dalam keheningan, myungsoo bisa bernafas lega melihat bangunan sekolah bersinggahsana kokoh, disana chanyeol berdiri bersandar di mobilnya, tak sabar sambil menghisap sebatang rokok.

Myungsoo dan minho bergegas turun dari mobil hendak menyapa chanyeol.

“Sudah lama?” Tanya myungsoo basa basi yang sontak mengganggu kesenangan chanyeol. Pria itu menggeleng lalu membuang puntung rokoknya begitu saja.

“Ayo mulai. Batasnya sampai rumah suzy. Siapa yang sampai duluan, dialah pemenangnya.” tutur chanyeol. Semua paham dan mengangguk.

“Aku akan menunggu di sini?” Dengan tampang bodoh, minho melongo.

“Tidak. Kau ikut denganku. Kita harus bersama sama memberikan cincin itu kepada suzy setelah sampai nanti..” myungsoo menepuk bahu minho bersahabat. Chanyeol mendecak, muak melihat romantisme antarteman ini. Minho tersenyum tipis. Ia sedikit terharu mendengar kalimat barusan. Namun, menit kemudian segera tersadar, ia tahu, myungsoo adalah saingannya.

“Ayo mulai!” chanyeol bersiap lalu masuk ke dalam mobil. Myungsoo dan minho pun sama.

“Satu!” Chanyeol berteriak.

“Dua!” Giliran myungsoo seraya memasang kuda kuda.

“Tiga!” Teriakan minho membuat kedua mobil itu menancap gas.

Mata myungsoo awas menatap jalanan. Tangannya cekatan memutar mutar perseneling dan stir bersamaan. Tampaknya, lumpuh menyetir selama setahun terakhir ini tak menyulitkannya mengendalikan situasi. Ia melirik ke samping, chanyeol membuka kacanya, ia melambai angkuh ke arah myungsoo. Tak mau kalah, myungsoo menginjak pedal gas makin dalam sehingga menambah laju mobil.

Myungsoo kembali menoleh. Ia tersenyum puas melihat chanyeol tak menunjukkan batang hidungnya.

Minho hanya terdiam sambil menatap ke depan. Entah mengapa perasaannya terasa aneh sejak balapan ini dimulai. Ada sesuatu yang mengganjal.

Konsentrasi minho terbuyar saat tubuhnya terguncang ke kanan, karena myungsoo membanting stir ketika melihat tikungan tajam. Myungsoo memukul stir emosi melihat chanyeol kini berada di depannya.

Lagi, myungsoo semakin gencar menarik perseneling agar kecepatannya bertambah. Myungsoo tersenyum tipis melihat chanyeol menoleh dongkol padanya karena kini dirinyalah yang memimpin.

Suara mobil mereka memecah udara malam itu. Salju perlahan turun ke bumi membuat kedua mobil yang beradu itu kesulitan menerka jalan. Myungsoo menyalakan wiper washer untuk menghilangkan salju yang menempel pada kaca depan. Jalanan mulai licin. Hawa pun semakin menusuk tulang.

Myungsoo berdehem pelan menahan dingin. Sementara minho makin merapatkan jaket. Dengan tangan gemetar, minho meraih tombol penghangat mobil dan seketika hawa dingin yang menggerogoti itu pergi. Myungsoo kembali rileks. Ia tertawa pelan melihat mobil chanyeol dari balik spion tertinggal jauh di belakangnya.

“Satu pembelokan lagi sampai..” gumam myungsoo optimis. Tangannya meremas stir semangat. Ia kembali memutar perseneling dan menancap gas. Mobil melaju sangat kencang.

Suara air menetes dari bawah mobil, mulai mengusik telinga minho. Keringatnya mulai mengucur deras. Matanya makin melebar seolah menemukan kepingan puzzle yang hampir selesai. Ia tahu. Ia sekarang tahu apa yang menjadi kegelisahannya sedari tadi.

BRUAK!

Telinga minho seakan tuli. Ia membuka pintu mobil dan langsung meloncat keluar. Mobil silver itu berputar ke kanan saat rumah suzy hampir terlihat, saat pembelokan terakhir.

BRUAK!

Besi besi mobil menabrak sebuah mobil truk yang melaju dari arah berlawanan, lalu terpental ke sudut dan membentur keras bahu jalan.

PRANG!

Serpihan beling bertebaran bersama tetes demi tetes kiluan merah menusuk hidung merembes dari tubuh pengemudi.

Hening. Minho merasakan sekelilingnya sunyi senyap. Tak ada rintihan, tak ada suara salju yang turun. Minho terperangah melihat dengan mata kepalanya, sebuah mobil nyaris hancur. Seseorang di dalam dengan darah segar mengalir di seluruh tubuhnya. Kaca kaca pecah berhamburan mengenai si pengemudi yang kini tak berdaya. Hanya ada cairan merah kental amis dan mobil yang tak lagi berbentuk. Mobilnya dan kim myungsoo.

Ia tercengang. Shock.

Minho dengan luka yang tak serius, terduduk di jalanan aspal, menyaksikan dengan mata membelalak, peristiwa memilukan di depan matanya. Badannya lemas. Sangat lemas hingga tak mampu menopang tubuh sendiri. Ia luar biasa semaput, kalang kabut.

“DOWAJUSEYO!” Teriaknya membabi buta.

***

Suzy berjalan tergopoh gopoh di sepanjang koridor dengan pakaian tidur dan sendal rumah berkepala kelinci. Ia seharusnya tengah berada di dalam kamar dengan selimut tebal dan kompres di kening, namun ia tak bisa tinggal diam setelah mendengar dari mulut chanyeol, dua pria yang dikenalnya sedang menghadapi maut. Dengan menahan nyeri di sekujur tubuh, suzy menarik gagang pintu salah satu kamar di rumah sakit tempat ayahnya dulu menginap. Wajahnya semakin pucat, tubuhnya bergetar. Ia takut. Ia sangat takut begitu tahu myungsoo mempertaruhkan diri demi cincin yang tersemat di jari chanyeol. Tapi sekarang, hal itu bukanlah yang terpenting, ia tak bisa fokus dan lebih memilih ke tempat obat obatan menusuk itu, hendak melihat keadaan pria pria tersebut.

Suzy berlari menghampiri minho yang melamun di atas ranjang.

Minho terduduk lemas di atas tempat tidur rumah sakit di dalam ruang perawatan. Matanya kosong. Otaknya masih penuh dengan rangkaian peristiwa tabrakan, darah, dan mobil yang hancur, seolah menghipnotisnya. Ia tak bisa berfikir jernih.

Suzy langsung mendekap minho. Bibirnya bergetar. Suara lemah itu akhirnya keluar. Semakin lama semakin keras bersama isakan yang menjadi jadi. Suzy menangis sejadi jadinya. Tangannya meremas erat punggung minho. Bahu minho basah oleh airmata yang merembes dari pelupuk mata suzy. Ia tak mau mendengar berita menyesakkan dada itu malam ini, tapi mengapa ia harus mendengarnya? Kenapa? Bahkan di tengah malam yang mencekam ini?

Ia tak tahu harus kemana mengadu soal myungsoo. Pria itu koma, untuk yang kedua kalinya. Tak ada kepastian. Hatinya semakin sakit saat mengetahui perjuangan myungsoo mengambil kembali cincin itu. Hanya bahu minho tempatnya bersandar sekarang, tempatnya mengeluarkan semua keluh kesah, resah gelisahnya.

***

Pagi yang sejuk itu, ditemani dengan butiran halus nan dingin yang turun dari atas langit, suzy duduk di depan ruang ICU. Tatapannya fokus ke arah pintu, menunggu terbukanya pintu ICU, ingin segera mendengar kabar dari mulut dokter. Ia harus siap menghadapi kabar terburuk sekalipun. Wajah pucatnya makin lesu dengan bayangan hitam di bawah mata dan kantung mata yang menebal. Ia menunggu dengan harap harap cemas. Sendirian. Pikirannya hanya bertengger dua kata ‘hidup atau mati’. Apakah myungsoo akan hidup setelah peristiwa keras itu terjadi? Atau myungsoo akan mati sia sia? Ia menelan saliva. Sungguh! Ia tak ingin itu terjadi.

Suzy langsung menoleh begitu mendengar dari ujung koridor, suara tangis jiyeon yang menyeruak.

Suzy menunduk. Tetes demi tetes mengalir dari pelupuk matanya, lagi. Tangannya mencengkram piyama pink bergambar kelinci miliknya, mencoba menahan isakan.

Jiyeon kini berada di hadapan suzy. Dengan wajah basah dan suara sesenggukan, jiyeon mengangkat wajah suzy. Matanya tajam menusuk, memancarkan aura membunuh.

“Ji-”

PLAK!

Sebuah tamparan keras membekas di pipi suzy. Suzy tersentak. Tak mampu berkata kata.

Jiyeon mendorong tubuh suzy hingga terhuyung ke belakang menabrak kepala bangku kayu. Punggungnya sakit, tapi tak sesakit batinnya.

Badan jiyeon rubuh. Tubuhnya mencium lantai. Tangisnya kembali menyeruak. Ia menjerit melihat wajah memar suzy. Wajah shock suzy. Namun, suzy hanya terdiam. Nafasnya seperti diambang kehabisan. Dadanya sesak.

“WANITA BRENGSEK!”

“KURANG AJAR!”

“KEMBALIKAN MYUNGSOO!”

“KEMBALIKAN!”

Suzy refleks menutup kedua kupingnya. Matanya terpejam rapat, menekannya sampai tertutup rapat.

“DASAR WANITA TIDAK TAHU MALU!”

“TIDAK TAHU TERIMA KASIH!”

Jiyeon geram dalam tangisnya. Ia berusaha berdiri. Tangannya berkeliaran liar di rambut suzy. Ia menjambak brutal rambut gadis itu. Suzy tak melawan, ia pasrah dengan posisi masih menutup mata dan kedua telinganya. Kuku kuku tajam jiyeon kini menjelajahi wajah suzy. Siluet merah memar membekas di wajah mulus suzy. Garis garis darah muncul di pipi yang tadi ditampar tanpa ampun. Jiyeon gelap mata.

“WANITA SIAL-”

Aksi jiyeon terhenti ketika sebuah tangan kekar menahan pergerakannya. Tangan itu menghempaskan tangan jiyeon. Wanita itu terperanjat. Ekspresinya masih menaruh dendam. Ia menepi dan menjatuhkan tubuhnya di depan pintu, duduk bebas tanpa peduli kotornya lantai. Matanya yang basah masih terbuka lebar, mengunci suzy di depannya.

Minho menarik suzy dalam dekapannya. Ia menutup matanya kesal.

“Mianhae..”

Suzy menurunkan tangannya. Ia meringis menahan sakit disekujur tubuh dan wajahnya. Airmata yang jatuh makin membuat luka luka itu nyeri. Ia mendesis sambil sesekali menyeka airmata yang tumpah. Ia enggan membalas tatapan penuh amarah dari jiyeon. Ia takut. Sangat takut.

Tiba tiba pintu ICU terbuka. Jiyeon sempat terhuyung ke belakang, tapi segera berdiri.

“Bagaimana keadaannya, uisa?” Desak jiyeon.

“Kalian tenanglah.. berita baiknya.. dia selamat..”

Semua yang ada di sana menghela nafas lega. Seulas senyum tipis terukir di bibir suzy.

“Kheundaeyo..”

Jiyeon tak suka ini, begitupun suzy. Mereka tak suka kata ‘tapi’ itu.

“Karena benturan keras dan serpihan kaca yang menusuk matanya, kornea matanya rusak sehingga mengakibatkan.. kebutaan..”

Hening. Hanya terdengar suara detak jantung yang berdegup sangat lambat. Sangat lambat dan melambat.

“Kebutaan permanen..”

Mata jiyeon membelalak. Tiba tiba saja pasokan darah ke otaknya menipis. Kepalanya luar biasa sakit. Detik kemudian, ia tak sadarkan diri.

“JIYEON!”

***

Jiyeon perlahan membuka mata. Tubuhnya lemah. Ia mengedarkan pandangannya dan mendapati suzy dan minho tengah menatapnya. Ia tersentak dan langsung bangkit. Ia menarik kerah baju suzy.

“Yak kau ingin balas dendam huh?! Balas dendam karena peristiwa satu tahun yang lalu kepada myungsoo?!” Pekik jiyeon dengan mata melotot. Suzy menatap jiyeon nanap. Tak mengerti maksud jiyeon. Minho tak tinggal diam, ia melepaskan tangan jiyeon dan menjauhkan suzy dari jangkauan jiyeon.

Jiyeon mengamuk di atas ranjang.

“YAK BAE SUZY! KAU WANITA KEJI!”

Jantung suzy seolah mencelos keluar. Ia sama sekali tak tahu apapun. Namun, satu hal yang ia tahu tentang peristiwa satu tahun yang lalu. Tentang sebuah kecelakaan maut. Satu orang tewas dan satu lagi buta permanen. Otak suzy berputar putar tak karuan.

Oh tidak! Jangan jangan..

Suzy menggeleng kuat.

“Kaulah yang membunuh hara ahjumma! Eomma kim myungsoo!” Tegas jiyeon. Suzy terbatuk. Matanya membesar menatap jiyeon. Minho tak kalah terkejutnya.

“Dan kau dengan tidak tahu malunya memakai mata hara ahjumma!”

Suzy terbatuk lebih keras. Tubuhnya seperti dipukuli berkali kali. Sangat sakit. Minho menahan tubuh suzy. Ia panik.

“Dan kau juga memakai hati! Dan kedua ginjalnya!”

Suzy ambruk. Minho segera mengangkat suzy keluar dari ruangan itu menuju dokter.

“YAK BAE SUZY! KEMBALIKAN MATA HARA AHJUMMA!”

***

Suzy berteriak kesakitan di dalam UGD. Dokter kewalahan. Mereka benar benar tak mengetahui penyakit yang di derita suzy.

Dalam kesakitannya, memori satu tahun lalu berputar putar di kepala suzy. Semuanya.

“Besok adalah pameran foto pertamaku.. aku tidak boleh terlambat..” suzy tersenyum di depan cermin mencontohkan dirinya tengah menjelaskan detail fotonya.

***

“Sial aku terlambat!” Suzy menatap weker. Pukul 06.45.

Suzy bersiap diri dan mengambil pakaian yang telah disiapkan.

***

Ia menginjak pedal gas dengan kecepatan penuh. Tak sabar. Sesekali mendengus dan menggerutu tak jelas. Ia panik.

Saat berada di jalan raya, sebuah mobil yang juga melaju kencang mencoba mendahuluinya. Namun, suzy begitu egois, malah mempercepat laju mobilnya. Ponselnya lalu berbunyi, panggilan dari staff gedung pameran. Ia mengangkatnya tanpa fokus ke jalan. Saat pembelokan, suzy refleks menghindari truk dengan menabrak mobil di sampingnya, mobil yang tadi hendak melambunginya. Alhasil, mobil itu terlempar ke pembatas jalan dan naas, dari arah belakang, sebuah truk melaju kencang dan terjadilah kecelakaan itu.

Suzy yang ingin menghindar malah ikut tertabrak truk yang otomatis menghempas mobilnya. Dua korban. Satu tewas, satu buta permanen.

Suzy mendengar kebisingan yang memekik. Kegemparan tubrukan maut itu. Mencengkram dadanya dalam trauma. Ia tak sadarkan diri bersama kegelapan.

***

“Akhirnya kau mendapatkan donor mata, ginjal dan hati.. kau tidak perlu cuci darah lagi..” ucap ayah suzy dalam tangis bahagia.

Suzy tersenyum dengan mata yang masih tertutup perban.

“Siapa pendonor itu? Aku ingin berterima kasih..”

“Dia.. sudah meninggal..”

Suzy tersentak. Terdiam sesaat. Yah, tentu saja, pendonor mata dan hati bukankah harus orang yang meninggal?

“Namanya?” Tanyanya kemudian.

“Namanya disembunyikan. Tapi, yang pasti dia adalah seorang suster di rumah sakit ini”

“Apakah dia punya keluarga?”

“Setahuku.. dia punya satu anak”

“Nugu?”

“Appa tidak tahu.. nanti saja kita cari tahu, ne? Yang penting penyakit kronis yang menggerogoti hati dan ginjalmu akhirnya sembuh, dan kerusakan matamu akibat kecelakaan itu juga terobati.. dan yang terpenting.. kau sudah sehat dan tidak perlu kesakitan lagi karena penyakit gagal ginjal dan gagal hatimu dulu..”

Suzy tersenyum simpul.

“Kau harus menjaga semua pemberian ini, ne?” Pesan pria parubaya itu.

Suzy mengangguk mantap.

“Aku akan berhenti memotret. Karena, aku selalu teringat kejadian itu ketika aku memotret. Seakan memotret setiap detik peristiwa itu.. sakit..

‘Mata ini.. ginjal ini.. hati ini.. terimakasih..

***

“Go ha ra immida..” sosok berkacamata hitam dengan wajah rusak parah ikut melambai ke arah suzy.

“Annyeong.. ahjumma..” suzy membungkuk sopan walaupun pada makhluk tak kasat mata.

***

Suzy terbaring tenang di atas ranjang dengan beberapa plester di wajah, sampai sebuah ricauan mengganggunya. Ia perlahan membuka mata.

“Yak suzy-ssi!”

Suzy meringis. Seseorang seperti meninju ulu hatinya.

“Aku akan menceritakanmu sesuatu..” ujar jiyeon ketus.

Jiyeon menarik kursi dan duduk di samping suzy.

Suzy memalingkan wajah. Matanya celingak celinguk mencari minho.

Seolah tahu siapa yang dicari suzy, jiyeon menyeletuk pelan.

“Minho pulang. Dia hendak mengambil baju bajumu dan menyuruhku menjagamu. Lucu kan? Karena aku sukarela menjagamu..” Jiyeon tertawa sinis.

Suzy terdiam tanpa menatap jiyeon.

“Dengarkan baik baik.. ceritaku ini.. hanya padamu aku bercerita.. agar kau paham..”

Suzy menajamkan indra pendengarannya. Jiyeon menghela nafas berat sebelum memulai bercerita.

“Kau tahu.. saat itu hara ahjumma terburu buru mengendarai mobil karena apa?”

Suzy masih enggan bersuara.

“Karena myungsoo sedang mengadakan pameran foto di sebuah gedung.. pameran foto pertama anaknya..”

Suzy terkesiap. Jangan jangan.. myungsoo adalah salah satu fotografer dalam pameran yang juga melibatkan dirinya.

“Hara ahjumma yang sebagai suster di sebuah rumah sakit. Ah.. rumah sakit ini.. dia baru saja selesai membantu dokter menangani pasien. Kau tahu siapa pasien itu?”

Jiyeon terdiam sesaat lalu mengambil nafas panjang.

“Dia adalah krystal jung. Sahabatku. Yah.. kau tidak tahu siapa dia..” jiyeon tertawa renyah.

Glek!

Tidak! Aku mengetahuinya, batin suzy.

Suzy menelan ludah. Kenapa semuanya seolah terhubung?

“Hara ahjumma tahu.. dia terlambat ke pameran pertama myungsoo.. makanya, dia menancap mobil dengan membabi buta..”

Jiyeon menarik isakannya. Matanya kembali basah.

“Tapi, rekaman CCTV menjelaskan semuanya. Aku melihat.. bahwa sebuah mobil.. yang kau kendarai.. kau.. menabrak mobil hara ahjumma.. hingga dia terpental dan truk menabraknya dari belakang..”

Mata jiyeon mulai menajam. Suzy menutup matanya. Bulir bulir bening itu keluar lagi.

“Dan lucunya.. hara ahjumma sangat baik.. dia memberikan mata itu.. ginjal itu.. dan hati itu untukmu.. untuk orang yang sudah membunuhnya..”

Suzy terisak.

“Mi..mian..nhae..” ucap suzy terbata.

“Aku akan menahan untuk tidak membunuhmu.. untuk saat ini.. aku yakin.. myungsoo tak akan setuju jika aku membunuhmu..”

Kembali kecanggungan menderap mereka. Mematahkan sendi sendi dan otot wajah mereka.

“Mungkin kau berpikir, kenapa aku sebegitu pedulinya pada keluarga myungsoo, huh?” Tutur jiyeon kemudian. Tak ada jawaban. Suzy sedang menunggu penjelasan itu.

Jiyeon berdehem pelan lalu mulai bercerita lagi.

“Awalnya.. aku, krystal, minho, dan sehun.. adalah sahabat. Kami bersahabat sejak sekolah dasar..”

Suzy tertegun mendengar semua nama yang tak asing.

“Tapi.. krystal mulai penyakitan saat memasuki masa SMP. Aku selalu menjaganya di rumah sakit.. begitupun minho dan sehun..” paparnya seraya menyeka setetes airmata yang mulai jatuh. Ia berhenti sejenak.

“Hara ahjumma lah yang merawat krystal selaku suster.. disanalah aku bertemu myungsoo.. tapi sahabat sahabatku tidak ada yang tahu tentang myungsoo.. bahkan krystal yang sangat dekat denganku..”

“Pria itu hanya memikirkan dua hal di dunia ini. Fotografer dan eommanya. Aku jatuh cinta padanya dan selalu merayunya. Tapi, dia tidak peduli. Seolah tujuan hidupnya di dunia hanya fotografer dan eommanya.. dan dia tidak pernah tahu di mana ayahnya..”

Suzy jadi teringat perkataan minho.

“Permintaan hara ahjumma yang belum terselesaikan adalah.. menemui myungsoo dan memberitahukan sesuatu.. sesuatu yang cukup memilukan.. bahwa.. myungsoo sebenarnya lahir tanpa ayah. Ayahnya adalah orang yang brengsek..”

“Suatu hari.. Sehun tewas dibunuh. Ada luka tusukan besar di perutnya.. saat itulah minho meninggalkan kami ke las vegas. Dia kabur meninggalkan semua kenangan itu. Dan setahun kemudian dia kembali. Saat itu, kondisi krystal semakin parah, tapi minho malah memutuskan untuk berpura pura kembali ke las vegas lagi. Enam bulan kemudian, eomma myungsoo meninggal, saat itu hidup myungsoo terasa diambang kehancuran. Dia selalu berusaha untuk bunuh diri dan puncaknya.. saat ia menabrakkan dirinya di jalan tempat hara ahjumma kecelakaan, hingga membuatnya koma selama enam bulan. Enam bulan setelah kematian hara ahjumma.. krystal meninggal.. tinggal kami berdua.. yang tersisa.. dan.. myungsoo.. aku selalu menantinya terbangun dari koma.. dan sekarang..” jiyeon menunduk.

“Setelah tak ada kabar.. minho kembali bersekolah di sekolahku.. dan kita seolah olah tidak pernah saling kenal..”

Suzy mendesah.

“Kau sekarang paham perasaanku? Perasaanku ditinggal oleh sahabat sahabatku? Dan sekarang aku tidak mau kehilangan myungsoo.. aku tidak mau..”

Otak suzy seperti menemukan kepingan kepingan enigma yang bersatu menjadi satu topik bahwa.. Kelima roh itu saling berhubungan dengan dirinya dan orang orang disekitarnya. Yang menjadi pertanyaannya adalah.. kenapa mereka terperangkap dalam cincin dan apakah maksud semua ini?

Suzy mengangguk dalam hati. Hanya ada satu jawaban. Yaitu mengambil kembali cincin itu dan bertanya kepada roh roh cincin secara langsung. Suzy menelaah, waktunya tinggal lima bulan lagi sampai masa pewaris selesai.

“Jiyeon-ssi.. bisakah kau menjaga myungsoo untukku? Aku ada urusan penting yang harus kuselesaikan sekarang.” papar suzy kemudian.

Jiyeon mendecak.

“Aku akan menjaga myungsoo tapi bukan untukmu. Pergilah..”

Suzy mengangguk ringan, lalu segera beranjak. Jiyeon memandang punggung suzy intern. Ia dendam kepada suzy, tapi tak bisa ia pungkiri bahwa suzy adalah wanita yang dicintai myungsoo selain ibunya, dan ia menghargai itu. Tapi, dia masih enggan mengalah sampai myungsoo memutuskan sendiri, dengan mulutnya sendiri.

Jiyeon menghela nafas berat seraya memilin pelipisnya yang tiba tiba berdenyut.

***

“Yak hyung! Keluar kau!” Minho membongkar apartement dongju, namun sayang, si pemilik kamar tak berada di lokasi. Ingin rasanya minho menghajar pria itu hingga tak bernafas. Ia tahu, dongju berusaha merusak mobilnya agar ia celaka dan malangnya malah myungsoo yang mendapat imbasnya.

Minho mengedarkan pandangannya, tak ada yang menarik. Matanya lalu menangkap sebuah guci berukuran sedang berdiri di samping tv. Ia tersenyum licik lalu menghampiri guci itu. Pasti guci ini mahal, pikirnya. Minho lalu melempar guci itu ke tembok.

Prang!

Ia tersenyum puas, namun tak berlangsung lama sampai melihat sebuah foto yang ternyata berada di dalam guci itu. Foto yang tak asing. Ia melangkah dan memungut foto itu.

“Sehun? Kenapa foto sehun ada di apartemen dongju?” Keningnya berkerut.

“Aku dibunuh..”

“Oleh seseorang..”

“Karena kesalah pahaman..”

“Dan krystal menyaksikannya..”

“Krystal tidak menolongku dan malah langsung kabur..”

“Krystal.. sahabat kita bersama.. juga orang yang kau cintai..”

Minho mengingat perkataan sehun saat ia bertemu dengannya, ketika menjadi pewaris cincin. Ia sempat shock melihat roh sehun yang terperangkap dalam cincin. Saat menjadi pewaris, dongju dan minho masih belum bersaudara tiri. Tapi, suatu hal yang ia tangkap dari perkataan sehun. Mungkinkah dongju yang membunuhnya?

***

Suzy berjalan dengan nafas terengah engah. Tubuhnya kelelahan. Entah mengapa akhir akhir ini tubuhnya sering letih, bahkan saat ia tak bergerak. Nyeri seringkali terasa dahsyat seakan meremukkan tulang dan otot ototnya. Bahkan terkadang, sakit yang teramat menyerang ulu hatinya.

Suzy jalan terseok saat turun dari bis menuju rumah chanyeol. Suzy memegang dadanya yang seperti kehabisan pasokan oksigen, ia berhenti. Ia mengambil nafas panjang, terputus putus.

Oh tidak! Tubuhnya melemah. Semakin melemah. Suzy perlahan rubuh di atas dinginnya aspal. Ia mengerang kesakitan sambil meremas bajunya kuat. Sakit. Sangat sakit.

‘Apakah aku bisa sampai dengan selamat? Oh Tuhan! Aku tidak sanggup berjalan! Persendianku terasa lumpuh! Dowajuseyo!’ Suzy membatin dalam kesendirian. Tak ada siapapun. Tak ada orang yang berlalu lalang di kawasan rumah chanyeol.

Dari ujung jalan, sebuah mobil berjalan ke arah suzy. Sebuah mobil tak asing. Si pengemudi tersenyum licik melihat suzy tergeletak tak berdaya di jalan. Tangannya menarik perseneling, kakinya menancap gas.

Say goodbye to my nightmare!

***TBC***

Annyeong readerdul!
Happy Ramadhan!
Mohon maaf lahir dan batin😄
Sorry for typos and mistakes.
Kritik dan saran, please..
Koreksi jika ada kesalahan, ne?
Mian kalo tidak sesuai harapan.
Sip, entar lagi tamat loh! Probably, two parts more😄

RCL!

BOWBOW~

80 thoughts on “FF Sixth Spirit PART 7

  1. Aku masih bingung sama hubungan Minho Jiyeon, kan pas mereka satu sekolahan, mereka itu seolah ga saling kenal, tapi fakta dalam cerita sebelumnya Minho Jiyeon itu pernah saling pacaran, dan Minho mutusin Jiyeon karena ketahuan selingkuh sama Chanyeol, hehe

    Mudah-mudahan Suzy ga kenapa-napa, hehe

  2. Masalah.a benar” rumit sudah kuduga pasti semua kejadian ini berhubungan entah itu para pewaris cincin.a ataupun roh” penghuni cincin.a
    apkah cincin 6 bulan itu bisa berhenti membuat kutukan?

  3. Part ini benar2 menegangkan ..
    Myungsoo koma lagi, dan mata’y buta permanen .. Aduh kesian banget Myungsoo ..
    Jdi roh yg berada dalam cincin itu ada kaitan’y dgn org2 disekitar Suzy .. Tpi Gyura dan nenek Do ada kaitan apa dgn Suzy ?? Dan knp roh2 itu terkurung dalam cincin ??
    Sehun meninggal karena dibunuh ?? Dan menurut Minho org yg membunuh Sehun adalah Dong Ju.. Emang apa alasan Dong Ju membunuh Sehun ?? Salah paham karena apa ??

    Dong Ju. Pasti dia org yg ingin menabrak Suzy itu ..

  4. Semuanya trnyata berhubngan dg cincin itu, lalu kenapa mereka semua bsa trjebk dlam cincin itu??
    Apa itu dongju? Dia akan membunuh suzy? :O

  5. aku kira chanyeol minta bantuan. ternyata sabotase ya? aku masih penasaran siapa nenek do? sampai sekarang masih diam saja. jiyeon krystal sehun minho bersahabat ya..
    cincin itu.. cincin apa sebenarnya?

  6. andwe…myung jangan koma lagi atuuuh…
    jadi semua roh itu ada kaitannya sama orang2 di sekitar suzy? tapi gyura sama nenek do belum ada kejelasannya..trus kenapa krystal yg jadi pemimpin pun belum terjawab..makin penasaran sama nextnya
    omo itu yg mau nabrak suzy dongjun ya???

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s