FF Sixth Spirit PART 8

image

Title: Sixth Spirit
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Horror, Drama, Family, Fantasy, Friendship, SchoolLife, Mystery (maybe), etc.
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho
Sub Cast: Park Jiyeon, Krystal Jung, Park Chanyeol, Oh Sehun, Lee Jieun, OC’s and etc (SubCast dapat berubah sewaktu-waktu)
Length: Chaptered

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

Previous Part:

Dari ujung jalan, sebuah mobil berjalan ke arah suzy. Sebuah mobil tak asing. Si pengemudi tersenyum licik melihat suzy tergeletak tak berdaya di jalan. Tangannya menarik perseneling, kakinya menancap gas.

Say goodbye to my nightmare!

***PART 8***

Suzy menutup mata ketika sebuah mobil melaju ke arahnya. Ia pasrah. Tubuhnya terasa ditusuk tusuk hingga tak bisa bergerak.

Sreeet..

Tiba tiba mobil lain di belakang mobil yang akan menabrak Suzy mempercepat laju mobilnya dan menyerempet mobil yang akan menabrak Suzy.

Suzy membuka mata saat terdengar gesekan ban yang memekik. Matanya membelalak melihat bumper mobil tinggal satu senti di depan matanya. Ia menelan ludah, antara takut dan lega.

Dua mobil. Mereka berhenti tepat di hadapan Suzy. Salah satu mobil lalu mundur dan segera memutar balik. Sedangkan satu mobil yang baru saja menyelamatkan Suzy, masih setia di tempat itu. Si pengemudi turun dari mobil dan menghampiri Suzy.

“Suzy-ah.. gwaenchana?”

Sambil menahan kesakitan, Suzy mengangguk dalam ketakjuban. Ia heran melihat seorang wanita yang tak begitu akrab dengannya malah menolongnya hingga mobilnya lecet.

“Go..ma..wo.. Jieun-ssi..” suzy sedikit bingung karena Jieun memanggilnya dengan informal dan terlebih raut wajah Jieun yang sangat khawatir.

Jieun tersenyum lega lalu segera membantu Suzy berdiri.

“Kau mau ke rumah Chanyeol?” Tanyanya seraya menahan tubuh Suzy yang hampir terhuyung ke samping. Suzy mengangguk dalam keheranan.

“Aku akan mengantarmu. Kkaja..”

Suzy tersenyum seraya melempar pandangannya ke arah rumah Chanyeol yang tinggal beberapa langkah lagi.

“Kenapa kau bisa berada di sini? Kau.. tidak sekolah?” Tanya Suzy begitu sampai di depan pagar rumah Chanyeol.

Jieun tersenyum tipis tanpa berniat menjawab pertanyaan Suzy sembari memencet bel.

“Aku pergi dulu yah.. jaga dirimu.. aku tidak bisa menjagamu dengan-” Jieun menghentikan ucapannya begitu sadar ia bicara terlalu jauh. Tanpa menunggu reaksi Suzy, ia berbalik dan melengos pergi.

Seolah tersadar, Suzy meremas dadanya kuat. Tetes demi tetes airmata turun dari pelupuknya.

“Myungsoo.. huh?”

Jieun terlihat berlari menuju mobil dan sesekali mengusap wajah. Ia menangis.

“Mianhae.. hanya ini yang bisa kulakukan. Untung aku tidak terlambat. Awas saja pria itu. Aku akan mencarinya..” Jieun memutar stir dan segera berlalu dari sana, Jieun yang telah dirasuki oleh roh Myungsoo. Saat Myungsoo koma, tak ada yang menyadari, ia selalu menguntit Suzy dimanapun ia pergi dan sekecil mungkin menghindar dari jangkauan Suzy yang notabene bisa melihatnya walau tanpa cincin. Dan saat ia melihat gejala tak beres dengan Suzy, ia segera menemui Jieun yang kebetulan tengah tertidur di kelas saat istirahat, dan Myungsoo pun merasukinya untuk jaga jaga. Untung saja, ia cepat tanggap dan langsung menggagalkan rencana si pria yang hendak menabrak Suzy. Pria yang memiliki niat buruk terhadap Suzy.

Suzy menatap mobil itu dengan wajah basah.

“Yak ada apa?”

Suara berat itu membuat Suzy memutar badan. Ia menghapus kasar airmatanya dan langsung menatap Chanyeol penuh harap.

“Kembalikan-”

Seolah tau apa yang akan dikatakan Suzy, Chanyeol menyela.

“Shireo.. Myungsoo kecelakaan sebelum sampai ke garis finis. Dalam arti, pertandingannya belum selesai.”

“Yak Chanyeol-ssi! Apa untungnya kau mengambil cincin itu huh?!” Bentak Suzy.

Chanyeol menyeringai.

“Tentu menguntungkan bagiku. Kau.. pasti sedang kesakitan sekarang, kan?”

Suzy terkesiap.

“K-kau.. tau?”

Sebuah senyum licik tersungging di bibir Chanyeol. Ia lalu membuka pintu pagar dan menarik Suzy masuk.

“Yak! Jawab pertanyaanku dan lepaskan aku!” Desak Suzy seraya memberontak.

“Aku akan menjawab pertanyaanmu di wilayahku. Di kerajaan Park Chanyeol..”  Chanyeol tertawa renyah sambil terus menarik kasar Suzy.

Suzy mendesis. Pasrah.

Setelah berada di dalam, Chanyeol menghempaskan tubuh Suzy di atas sofa lalu menutup pintu dan menguncinya.

“Yak!” Suzy menahan kesal.

Chanyeol ikut duduk di hadapan Suzy hendak menatap wajah cantik yang pernah mengisi hatinya itu.

“Kau tau?” Chanyeol terdiam sesaat hingga hening beberapa detik.

“Kalau aku memakai cincin ini.. apa yang tengah kurasakan, entah itu sakit dan bahkan kematian.. kau juga akan merasakannya..” kembali Chanyeol mengeluarkan senyum angkuh.

Suzy mendecak. Ia sekarang tahu mengapa tubuhnya menjadi aneh.

“Jadi, kau mau membagi sakitmu denganku huh? Yak! Apa salahku?!” Jerit Suzy diakhir kalimat.

Chanyeol menggebrak meja.

“Kau tidak tahu apa salahmu?! Kau tidak tahu?!”

Suzy tertegun. Sedikit takut dengan perubahan ekspresi Chanyeol. Matanya penuh dendam dan kemarahan. Ia terdiam, membisu. Seolah kamus kata diotaknya hilang dalam beberapa detik.

“Kau.. Bae Suji.. kau.. telah membuatku malu saat menghajarku waktu itu! Bukan karena malu saja, aku juga merasakan sakit yang luar biasa saat kau meninju perutku.. sakit.. sangat sakit! Dan kata dokter, itu semakin memperparah penyakit yang kuderita!”

Nafas Suzy tercekat.

“Dan aku tidak berani melawan, karena kau adalah seorang wanita. Park Chanyeol tidak pernah menghajar wanita. Kheundae, aku hanya ingin kau ikut merasakan sakit yang kurasakan. Sakit yang kurasakan karena penyakit yang menggerogoti seluruh tubuhku. Dengan cincin ini.. aku tidak akan menyentuhmu, tapi.. kita akan merasakan sakit bersama sama..” Chanyeol tersenyum miring. Senyum yang menakutkan.

“Yak mwoha-”

“Tubuh ini sebentar lagi akan mati! Kau juga akan mati!” potong Chanyeol yang makin membuat Suzy bungkam.

Suzy membekap mulutnya takut. Luar biasa takut.

“Rasakanlah.. Bae Suzy.. kita.. akan mati bersama..” Chanyeol tersenyum lemah lalu jemarinya membelai wajah Suzy yang dipenuhi plester.

Suzy menarik nafas panjang,menutup matanya, lalu dengan gerakan cepat menangkap tangan Chanyeol.

“Kau mau apa?” Tanya Chanyeol yang tampak sudah mengetahui niat Suzy.

Suzy membalas tatapan Chanyeol, lalu mencengkram tangan pria itu. Suzy yang hendak menarik cincin yang tesemat di jari Chanyeol sontak terhuyung ke depan hingga wajah mereka bertemu, satu senti lagi. Chanyeol tak mungkin melepaskan cincin itu begitu saja.

“Sekarang kau mau apa, Suzy-ssi?” Chanyeol mengulum senyum.

Suzy menyipitkan mata. Hanya ada satu ide yang terlintas di benaknya.

“Kau.. masih menyukaiku?”

Chanyeol mendecak lalu menjauhkan wajah Suzy darinya.

“Aku tidak akan tergoda oleh bualanmu..” Chanyeol menyilangkan sepasang kakinya congkak lalu tertawa renyah.

Suzy berusaha tersenyum setegar mungkin meski tubuhnya semakin rapuh.

“Ayo.. kita mati bersama..” Suzy berlari menuju dapur. Chanyeol terperanjat dan segera menyusul Suzy.

“Yak, kau mau apa?!” Chanyeol terbelalak melihat Suzy menggenggam sebilah pisau daging tanpa gentar.

“Mau mati bersama?” Suzy tersenyum simpul. Ia tak pernah seberani ini seumur hidupnya. Yah, tak ada cara lain untuk mengalahkan Chanyeol. Hanya cara ini, cara terakhirnya. Kalau Chanyeol setuju, maka hidupnya akan segera berakhir. Benar.. ia lebih baik mati daripada melihat dunia yang kelam ini. Dunia ini sudah terlalu kejam padanya. Mungkin, kalau ia mati, mata Hara Ahjumma bisa ia kembalikan ke anaknya.

Chanyeol tiba tiba tertawa terbahak bahak. Suzy mengernyit. Tangannya lemas hingga menjatuhkan pisau itu. Apakah Chanyeol setuju?

“Kau ingin mempermudah kematianku, huh?” Ujar Chanyeol dalam tawanya. Tubuh Suzy bergetar. Matanya yang kabur kini mencari cari titik cahaya itu. Kemana perginya sang mentari?

Suzy perlahan menutup mata dan seketika tubuhnya ambruk ke lantai.

Chanyeol meringis menahan tubuhnya yang semakin lama semakin hancur. Ia berlutut seraya menatap Suzy yang kini tak berdaya, menahan diri agar tidak pingsan.

Chanyeol berusaha melepas cincin ditangannya, namun..

***

Suzy membuka mata. Seperti de javu. Putih, putih, dan putih. Ia mendelik melihat Myungsoo di depannya. Ia mengucek mata. Apakah ia bermimpi? Ataukah dia dan Myungsoo sudah berada di surga?

Suzy mengedarkan pandangannya dan bernafas lega melihat suasana rumah sakit, bukan surga dengan aliran air dan awan awan putih yang bertebaran di sekitarnya. Suzy lalu menghirup pelan udara, aroma khas obat obatan menyapa hidungnya, untung saja bukan aroma apel seperti surga firdaus yang pohonnya rimbun dengan buah buahan. Baru kali ini Suzy menyukai bau obat obatan yang menyengat itu.

Suzy kembali melempar pandang ke arah Myungsoo yang masih menatapnya.

“Myungsoo? Kenapa kau berada di sini? Dan Chanyeol..” Bisik Suzy.

“Pria itu sudah berada di ruang ICU. Dia kritis. Untung saja, aku merasukinya dan segera membawa kalian ke sini. Dan..” Myungsoo menunjuk jari Suzy.

Suzy tersentak lalu melirik jemarinya. Ia tertegun melihat lingkaran cincin yang tersemat di jari tengahnya, cincin yang membuatnya menghambiskan banyak tenaga dan waktu.

“Hwaah.. gomawo.. Myungsoo-ssi.. dan gomawo untuk yang tadi..” Suzy tersenyum walau dalam hatinya dagdigdug karena Myungsoo tak juga membahas tentang matanya yang buta.

Myungsoo membalas senyum itu. Mereka saling pandang dalam keheningan. Dada Suzy seperti dihinggapi ratusan kupu kupu, menggelitik. Tatapan intens itu tersirat makna yang dalam. Suzy menyukainya. Ia lega dapat bertemu Myungsoo lagi, walau dalam bentuk roh.

Sayup sayup angin menerpa wajah Suzy seiring munculnya ke lima roh dari dalam cincin.

Krystal tersenyum tipis menatap kembali majikannya. Gyura melebarkan senyuman. Hara tersenyum hangat melihat Myungsoo dan Suzy yang saling pandang tanpa dendam. Sehun ikut tersenyum. Sementara Nenek Do tetap bungkam tanpa ekspresi.

“Annyeong semuanya..” suzy menyapa kelima roh dengan ekspresi tak terjelaskan, sangat bahagia.

“Omo! Myungsoo oppa?” Celetuk Gyura. Hara tersenyum samar.

Suzy melirik Hara sungkan dan penuh canggung.

“Hara ahjumma.. ghamsahamnida.. untuk semua yang kau berikan padaku. Aku.. sangat sangat berterima kasih. Kheundae, jwosunghamnida.. karena akulah penyebab kecelakaanmu..” nada bersalah yang teramat terlontar dari bibir Suzy. Ia menunduk, menyesali setiap perbuatannya kepada wanita parubaya itu. Ia tak yakin akan dimaafkan secepat itu. Myungsoo terdiam sembari menatap Suzy dan Hara bergantian. Seulas senyum terukir di bibirnya.

“Gwaenchana..” Hara menarik sebuah senyum tulus. Gyura mengangkat jempol.

“Ahjumma tidak merasa kau adalah penyebab utamanya..” celetuk Gyura. Suzy terkesiap. Ia mengerjap menahan airmata sekaligus menyeruakkan keterkejutannya. Kini matanya menatap Krystal yang bertolak pinggang angkuh.

“Ah.. Krystal-ssi.. sebelum menjalankan misi, bisakah kau menceritakan kenapa kalian terjebak di cincin dan mengapa kalian seolah terhubung dengan masa lalu ku dan masa lalu orang orang sekitarku? Dan kenapa kau menjadi ketua cincin ini?”

Krystal berdehem pelan sebelum memulai ceritanya.

“Mianhae Suzy-ssi.. kalau untuk pertanyaan pertama, aku juga tidak tahu. Kheundae, untuk pertanyaan kedua dan ketiga.. aku mungkin tahu banyak hal..”

Suzy menunggu kalimat selanjutnya dengan mimik serius.

“Setiap roh yang terperangkap ke dalam cincin.. berkaitan dengan pewaris cincin. Seperti Hara Ahjumma.. dia adalah pewaris pertama cincin, cincin yang diwariskan oleh nenek yang ada di bar..”

Suzy menautkan alis. Benar juga, Suzy tak pernah tahu siapa nenek di balik bar tua itu.

“Bagaimana dengan nenek Do?”

Krystal merengut.

“Kalau soal itu.. aku juga tidak tahu. Bagaimana kalau kau bertanya langsung padanya?”

Suzy mendesis. Jawaban macam apa itu? Bagaimana mungkin bertanya pada roh yang jelas jelas menutup diri dari pewaris.

“Lanjutkan saja, eonnie.” Sungut Gyura yang ikut penasaran.

“Hara ahjumma pewaris pertama cincin dan dia berhasil menangkap roh Gyura. Anak kecil bawel yang meninggal karena salah obat. Ayahnya yang kejam, menyiksanya tanpa ampun, bahkan dia rela membuntungkan tangan anaknya demi uang.”

Gyura merengus tak terima dikatai ‘anak kecil bawel’ oleh Krystal.

“Hara menemukan Gyura yang tidak sadarkan diri di jalan, lalu membawanya ke rumah sakit. Namun.. karena kesalahan Hara ahjumma dalam memberikan obat obatan sehingga membuat Gyura keracunan obat dan meninggal. Jadi.. sekarang kau paham mengapa seorang pewaris berhubungan dengan roh yang akan ditangkap?”

Suzy menggeleng ragu. Krystal mendecak.

“Karena pewaris memiliki dosa kepada roh. Dosa yang sangat fatal. Si pewaris dan roh harus berhubungan dengan nenek Do atau nenek di bar tua itu. Nenek Do.. adalah ibu Hara ahjumma. Dan nenek di bar adalah.. sahabat nenek Do. Gyura adalah keponakan Hara ahjumma dari saudara perempuannya yang sudah meninggal. Ayahnya bermarga Nam.”

Suzy tertegun. Matanya berkedip tak beraturan, berusaha menangkap setiap kata yang terlontar. Ia cukup dibingungkan dengan masalah cincin yang sedikit rumit.

“Syaratnya adalah harus menuruti seluruh keinginan si roh serta menjalankan misi yang berbeda sesuai roh sebelumnya. Itulah mengapa aku yang menjadi ketua, karena aku adalah roh yang memerintah pewaris selanjutnya dalam menjalankan misi yakni membantu roh selanjutnya untuk menghukum para pewaris.”

Suzy mengernyit. Jadi, dia sedang dihukum oleh para roh?

‘Sialan!’ Suzy menggerutu dalam hati.

“Setelah enam bulan, Hara ahjumma mewariskan cincin itu padaku dan aku menangkap roh Sehun. Kau tahu apa kesalahanku pada Sehun?”

“Mungkinkan karena kau tidak menolongnya saat Sehun di tusuk orang asing?”

Krystal mengangguk mantap.

“Ne. Kau pasti mengetahuinya dari Jiyeon, kan? Pasti dia sudah bercerita tentang persahabatan kami.”

“Ne.”

Myungsoo tergemap. Jiyeon mengenal beberapa roh ini?

“Kalau saja aku menolong Sehun, mungkin saja dia bisa selamat..” Krystal terdiam mengenang saat saat itu. Sehun mengelus bahu Krystal seraya tersenyum tulus yang mengisyaratkan ‘tak apa apa, toh kau sudah dihukum oleh cincin ini’. Krystal tersenyum, senyum yang berbeda dari sebelum sebelumnya. Senyum kali ini adalah senyum kedamaian.

“Setelah itu, aku mewariskan cincin itu kepada Minho. Pria.. yang sempat aku cintai..” lanjutnya lirih. Suzy sedikit terkejut setelah mengetahui bahwa Minho adalah pria yang dicintai Krystal, pria yang juga sempat ia sukai, sang guardian angel nya.

“Dia.. menangkap roh Hara ahjumma. Kau tahu mengapa?”

Suzy menggeleng ringan.

“Karena dialah.. penyebab utama kecelakaan Hara ahjumma..”

Suzy tersentak. Myungsoo tak kalah shock. Matanya penuh dendam membara. Ia langsung menghilang dari sana. Suzy terlonjak tak mendapati Myungsoo. Ia takut. Ia sangat takut Myungsoo kini dendam kepada Minho.

“Minho.. dialah yang merusak mobil Hara ahjumma karena.. dia tahu satu hal, bahwa.. Hara ahjumma adalah selingkuhan ayahnya dahulu.. hingga melahirkan kim Myungsoo..”

Suzy membekap mulutnya. Matanya membulat sempurna. Ia tercengung sekaligus tak percaya. Orang sebaik Minho melakukan hal keji?

“Saat itu Minho sakit hati karena mengetahui ayahnya selalu berselingkuh dan mengetahui bahwa ia memiliki saudara karena perselingkuhan belasan tahun silam. Bahkan Hara ahjumma sakit hati dan tidak mau memakai marga ayah Minho yaitu Choi dan memilih memakai marga lain, agar tidak menjadi cemoohan.”

Suzy termangap.

“Minho lalu mewariskan cincin itu kepada Dongju. Dia lalu menangkap roh ku. Dia berbuat dosa padaku karena dialah pembunuh sebenarnya. Pria keji itulah yang membunuhku. Saat aku koma karena penyakit, dia melepas alat pernapasanku hingga aku tak bernyawa. Dia melakukan itu karena dia takut, aku melaporkan kejadian kematian Sehun, karena aku melihat wajahnya saat dia membunuh Sehun. Dia adalah pria mabuk yang menyangka bahwa Sehun yang menghamili pacarnya, padahal.. dia salah orang. Temannya yang provokator memberikannya foto yang salah.. karena sebenarnya, temannyalah yang menghamili pacar Dongju.”

“Aku menghukum Dongju dengan memberikan permintaan tersulit. Yaitu.. membunuh adik tirinya.. Choi Minho. Yang aku tahu sebagai ladang uangnya dan kekasihku yang kubenci karena meninggalkanku saat aku sekarat bersama penyakitku. Kalau dia membunuh Minho saat itu, maka dia tidak akan menerima uang sepeserpun. Jadi, dia menolak permintaan itu. Dan setelah terbebas dari cincin.. dia mendapatkan malapetakanya. Kekasihnya meninggal dan.. setiap hari mimpi buruk menyapanya hingga sulit bernafas, seolah hidup ini tidak berarti lagi. Seperti Sehun yang menghukumku.. hingga aku tidak menjalankan misi dan ikut mendapatkan sanksi.”

Krystal menarik nafas panjang lalu menghembuskannya cepat.

“Cincin ini hanya menangkap enam roh, jadi roh keenam akan menjadi roh terakhir sehingga semua roh yang berada di dalam cincin bisa terbebas dan kembali ke alam baqa..” terangnya kemudian.

“Jadi, sekarang kau paham huh? Sekarang kau bisa mengetahui siapakah roh keenam itu. Dia adalah orang yang pernah kau lukai hingga mati dalam arti.. kaulah penyebab utama kematiannya serta orang yang berhubungan dengan nenek Do atau nenek di bar itu.”

Airmata Suzy menetes perlahan. Telinganya seakan tuli. Bibirnya kaku beserta persendian dan otot ototnya.

“Siapa roh itu? Bukankah aku belum pernah membunuh sebelumnya? Bahkan menjadi penyebab pembunuhan. Lalu mengapa aku bisa melihat Myungsoo saat tidak memakai cincin dulu? Mengapa kalian bisa terperangkap dalam cincin? Apakah Myungsoo-” suara Suzy tertahan. Ia menggeleng kuat. Tidak mungkin, batinnya.

“Soal kau bisa melihat Myungsoo bahkan tanpa cincin dan maksud cincin menyegel roh kami.. itu masih menjadi misteri. Hanya nenek Do dan nenek di bar itu yang mengetahuinya.” terang Hara ahjumma.

Suzy mengangguk pelan. Ia berfikir akan menemui nenek pemilik bar tua itu.

Suzy tersentak begitu Minho tiba tiba berada di ambang pintu. Ia menghampiri Suzy dengan raut sedu sedan.

“Suzy-ah..”

“..Myungsoo..”

“..siuman..”

Dada Suzy seolah melepaskan beban berat yang selama ini dipikulnya. Tak ada yang bisa menggambarkan ekspresinya saat ini. Dengan langkah enteng tanpa lagi merasakan nyeri di seluruh tubuh, suzy beranjak dari kasur dan langsung berlari keluar. Semua roh melesat masuk ke dalam cincin yang sontak menimbulkan aroma mistis. Minho merasakannya, ia mengelus tengkuknya yang meremang, ia memicing, jangan jangan Suzy baru saja berbicara kepada roh roh cincin.

Tanpa menunggu Minho, Suzy berlari cepat menuju kamar Myungsoo. Ia sangat bahagia. Bahkan karena Myungsoo, ia selamat dari maut. Karena Myungsoo pula lah ia bisa mendapatkan cincin itu. Haruskah ia memberikan sebuah pelukan sambutan pada pria yang mungkin tengah lemas itu sekarang?

Suzy berhenti tepat di depan kamar ICU. Jantungnya berdetak tak karuan. Ia harus menormalkan detak jantungnya dahulu sebelum masuk. Minho mendecak ringan menunggu Suzy bermeditasi.

Suzy menarik nafas panjang lalu segera melangkah masuk. Bisa ia lihat Myungsoo yang terbaring di atas ranjang dengan mata tersumpal kapas dan perban yang melingkari matanya. Suzy sedikit kecewa, karena Myungsoo tak bisa melihat wajah berseri serinya saat ini.

“Myung..soo..” panggil Suzy lembut. Myungsoo sontak bangkit dari kasur setelah mendengar suara itu.

“Suzy-ah?”

Jiyeon menahan tubuh Myungsoo yang hendak beranjak dari kasur.

“Istirahatlah.. kau baru saja siuman..” ucap Jiyeon sedikit kesal melihat reaksi Myungsoo begitu mendengar suara Suzy.

Suzy berhenti melangkah. Bibirnya bergetar, tak mampu lagi mengucapkan nama itu.

“Yak Suzy-ah eoddiseo?!” Kepala Myungsoo bergerak gerak mencari keberadaan Suzy sekarang.

Minho tersenyum hambar.

“Akhirnya kau siuman juga kawan..”

Myungsoo terlonjak mendengar suara bersahabat Minho. Ia menggertak giginya geram. Seperti kaset film yang berputar diotaknya setelah mendengar suara Minho. Ia sekarang mengingatnya. Saat koma, rohnya lagi lagi bergentayangan dan karena itu pulalah ia mengetahui sebuah rahasia, bahwa Minho lah penyebab utama kematian ibunya.

“Yak kemari kau Minho keparat!” Pekik Myungsoo yang mulai memberontak di atas ranjang. Jiyeon harus berusaha keras menahan tubuh Myungsoo yang mendadak hyperaktif setelah bangun dari koma, padahal tubuhnya masih lemah.

Minho mengangkat kedua tangannya santai, walaupun Myungsoo tak akan melihat pergerakan itu.

“Santai kawan.. aku minta maaf karena mobilku membuatmu kecelakaan. Kheundae, aku berani bersumpah, bukan aku yang merusak mobilku sendiri untuk mencelakakanmu. Aku yakin.. itu adalah.. perbuatan kakak tiriku yang ingin mencelakakanku dan Suzy.”

Suzy menoleh cepat ke arah Minho. Matanya menajam tak percaya. Yah, tak salah lagi, pria yang hampir menabraknya, pria yang disangkanya adalah Dongju, ternyata benar benar Dongju. Apa motifnya membunuh Suzy?

“Dongju oppa huh?”

Minho diam terpaku sesaat sampai ia mengangguk sangsi.

“Jadi yang selama ini ingin membunuhku adalah Dongju oppa?” Nada suara Suzy melemah. Perlahan ia menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai.

“Wae?” Tak ada yang mendengar gumaman itu.

Myungsoo makin menggila. Ia mendorong Jiyeon dan langsung turun dari ranjang bersama infus yang masih melekat di tangannya. Jiyeon dengan cepat menahan tubuh Myungsoo.

“Yak alat alat ini masih terpasang di badanmu oppa, jadi bersabarlah!” Pekik Jiyeon emosi. Myungsoo terdiam. Senyum miring terukir di bibirnya.

“Bukan karena kau merusak mobilmu.. kheundae.. karena kaulah penyebab eommaku meninggal! Kaulah penyebab utamanya brengsek!” Teriak Myungsoo emosi.

Minho dan Jiyeon kompak menampilkan ekspresi luar biasa terkejut. Tak percaya.

Suzy menunduk dalam tangisnya yang kembali menyeruak. Ia tahu. Ia sudah tahu.

“Kau..” Minho kehabisan kata kata. Ia hendak berbalik meninggalkan ruangan itu, namun Jiyeon berlari dan cepat menahannya.

“Yak Minho-ssi apa yang telah kau lakukan eoh?!” Jerit Jiyeon.

“Mianhae-”

“Jawab!”

“Aku.. hanya takut saat mengetahui ayahku berselingkuh dengan seorang suster dan bahkan memiliki anak yang hanya terpaut satu tahun denganku. Aku sama sekali tidak tahu.. mungkinkah ibu Myungsoo adalah istri simpanan ayahku atau malah.. ibuku yang menjadi istri simpanan? Aku.. sangat takut ayahku akan melupakanku, anak dari istri simpanan sebenarnya. Karena.. aku yakin, Hara ahjumma adalah istri sah ayahku. Dan dia menyuruh ayahku untuk meninggalkan eommaku.. aku sangat takut.. jadi.. dengan perasaan kalut aku pergi ke rumah sakit tempat eommamu bekerja dan merusak mesin mobilnya.”

“Yak itu bukanlah alasan untuk membunuh eommaku!” Pekik myungsoo.

Suzy kembali mengingat perkataan Krystal tentang si roh keenam. Jadi benar, bahwa Minho merupakan penyebab utama meninggalnya ibu Myungsoo. Dan ternyata ibu Minho lah yang merupakan selingkuhan ayah Myungsoo. Mereka memiliki ayah yang sama.

‘Eottokhae? Haruskah aku menjauhi Myungsoo supaya aku bisa bernafas lega agar Myungsoo bukanlah orang yang akan aku lukai hingga meninggal, huh?’ Batin Suzy.

“Aku hanya kesal.. aku tidak berniat membunuhnya.. aku.. hanya ingin melihatnya cacat agar ayahku tidak menyukainya lagi, tidak kusangka akan menjadi seperti ini. Awalnya aku bisa bernafas lega, ternyata sebab Hara ahjumma kecelakaan karena pengemudi lain menabraknya, tapi.. karena mobil itu sudah terlebih dahulu rusak.. maka akan sulit menghindar.. jadi-”

Plak!

Jiyeon menampar keras pipi Minho. Matanya berkilat penuh emosi.

“Sudah cukup..”

“Yak keparat! Aku akan membunuhmu dengan tanganku! Dan kakak tiri keparatmu yang hampir saja membunuh Suzy!”

Minho membesarkan pupilnya frustasi. Suzy bangkit dari lantai, ia berjalan keluar dan ikut menarik Minho. Jiyeon jatuh bersimpuh. Ia tak kuat lagi menopang tubuhnya. Suara pintu menyadarkan Myungsoo bahwa seseorang telah meninggalkan kamarnya. Dan ia tak merasakan aroma Suzy di sana.

“Yak Suzy-ah! Kau mau kemana?!” Teriak Myungsoo yang berusaha turun dari kasur, namun segera membatalkannya begitu merasakan nyeri saat alat alat medis di tubuhnya nyaris lepas.

“SIAL!”

***

Suzy duduk di atas lantai sambil menangis terisak di sudut laboratorium rumah sakit. Ia sangat ingin menghamburkan pelukannya kepada Myungsoo saat ini, berbagi cerita menarik, makan samyetang dan bibimbap bersama lagi. Tapi itu tak mungkin terjadi. Ia harus menghindar agar ia paham, bahwa Myungsoo bukanlah orang yang akan dibunuhnya. Mengapa semuanya seperti garis takdir yang membuatnya harus menghilangkan nyawa seseorang?

Minho terdiam, turut larut dalam kesedihan Suzy. Ia paham, Suzy butuh kelegaan jiwa dengan menangis sepuasnya.

“Kenapa Dongju ingin membunuhku oppa? Apa salahku?” Isaknya.

“Karena.. dia ingin menghilangkan kutukan cincin setelah gagal menjalankan misi. Kau tau kan cara menghilangkan kutukan itu?”

Tangis Suzy mengeras. Menyembur keras di dalam ruangan beraroma kental itu. Wajah Minho membeku.

“Aku ingin Dongju di penjara! Aku ingin-”

“Aku juga ingin memenjarakannya. Dan kurasa Dongju adalah pembunuh Sehun. Aku harus memenjarakannya dengan kasus itu. Hanya ada satu saksi, yaitu Krystal. Haruskah kita membuat polisi memakai cincin itu agar dia bisa melihat Krystal dan mendapatkan penjelasan tentang kematian Sehun?”

“Haruskah?”

***

Myungsoo duduk bersandar di atas tempat tidur. Termenung. Ia pasrah dan masih menunggu peralatannya di lepaskan. Hari itu sangat cerah. Salju tak turun sehingga sedikit menghangatkan tubuhnya melalui cahaya matahari yang membias dari ventilasi. Ia juga menunggu seseorang. Seseorang yang kemarin berlari meninggalkannya tanpa sebab.

“Suzy-ah! Kau disana?!” Myungsoo tersenyum antusias begitu merasakan aroma semerbak dari tubuh Suzy.

Suzy yang baru saja masuk, buru buru beranjak dan melengos keluar. Suzy bersandar di pintu masuk kamar Myungsoo. Dadanya bergetar hebat. Ia hanya bisa diam diam memperhatikan Myungsoo dan ternyata Myungsoo menyadari kehadirannya.

Jiyeon yang baru saja datang, menatap nanap ke arah Suzy sejenak lalu segera masuk ke dalam kamar acuh sembari membawa sekantung makanan.

“Suzy-ah? Kau kembali?”

Jiyeon berhenti sebelum sampai di depan Myungsoo. Ia memicing tak suka.

“Aku tau itu kau..” Myungsoo tertawa pelan.

“Aku masih bisa mencium aroma memabukkan darimu..”

Tangan Jiyeon mengepal. Ia tahu Suzy masih berdiri di luar, mengintip dari balik pintu yang tak tertutup rapat.

“Aku hanya ingin mengatakan beberapa kata untukmu.. mungkin saat ini tidak tepat, tapi.. aku sudah tidak tahan lagi, karena kau tidak pernah mau mengajakku bicara setelah aku terbangun dari koma, meski aku bisa merasakan kehadiranmu..”

Suzy menggigit bawah bibirnya, menahan airmata yang hendak tumpah.

“Aku sudah memaafkanmu atas semua kejadian yang menyakitkanku. Aku bahkan tidak merasa kau sebagai penyebab diriku buta. Aku memaafkanmu.. sungguh.. bahkan.. sebelum aku mengetahui bahwa Minho lah penyebab utama eommaku meninggal.. aku sudah memaafkanmu. Karena.. aku tidak bisa terus menyakitimu hanya karena aku ingin balas dendam..”

Rahang Jiyeon mengeras.

“Aku.. tidak tahu sejak kapan rasa ini hadir. Rasa yang pertama kali aku rasakan seumur hidupku. Mungkin rasa ini baru pertama kali hadir menyergapiku..” Myungsoo tersenyum manis.

“Singkat saja, aku.. ingin kau menjadi mataku.. selamanya..”

Deg!

Suzy dan Jiyeon sama sama merasakan jantung mereka yang berdetak hebat.

“Apakah kau bersedia?”

Suzy tak bisa membendung tangisnya lagi. Tanpa kata, ia berlari meninggalkan tempat itu. Berlari sekencang kencangnya.

Jiyeon menjatuhkan plastik ditangannya. Tanpa suara, ia berlari keluar dari ruangan itu. Ia sesekali menyeka airmatanya yang entah sejak kapan mengalir. Ia berlari tanpa arah. Ia tak mau kembali ke kamar itu lagi. Bukankah ia sudah mendengar penolakan itu?

***

Suzy berdiam diri di dalam laboratorium rumah sakit seraya menatap jejeran botol obat obatan yang terpajang di dalam lemari kaca. Tempat yang akhir akhir ini sering ia kunjungi ketika berada di rumah sakit, tempat untuk merenung dan melepaskan kegundahannya, karena tempat itu seringkali kosong dan tak terkunci. Namun, bukan itu daya tariknya, pikirannya berkecamuk sekarang, sudut bibirnya terangkat tatkala mengingat kejadian tadi. Kejadian yang sukses membuatnya tak bisa meninggalkan pria yang sekarang mengganti posisi Minho dihatinya. Pria yang membuat organ penunjang hidupnya berdegup tak karuan. Pria yang membuat pipinya bersemu merah setiap kali melihat senyum termanisnya. Pria yang bahkan telah memaafkannya atas kejadian satu tahun lalu. Pria yang juga menerima kekosongan penglihatannya.

Suzy memegang dadanya damai. Haruskah ia menerima pengakuan tak langsung itu? Tapi bagaimana dengan roh keenam?

Ke lima roh lalu muncul di hadapan Suzy.

“Kau sedang jatuh cinta?” Celetuk Krystal masih dengan nada congkak.

Suzy terdiam, enggan menjawab pertanyaan yang sudah jelas jawabannya itu.

“Aku bahagia.. karena akhirnya Myungsoo memiliki prioritas lain selain fotografer dan eommanya..” ucap Hara takjub dengan pesona Suzy.

“Aku takut mendekati Myungsoo karena mengingat roh keenam adalah orang yang akan aku bunuh.. aku tak ingin Myungsoo menjadi roh keenam..” Suzy menunduk. Tubuhnya bergetar, takut.

“Kau bisa melihat Myungsoo tanpa cincin karena kau memiliki organ salah satu dari roh cincin yaitu organ organ Go Hara. Dan.. asal kau tahu.. Kim Myungsoo bukanlah roh keenam..” ujar nenek Do tiba tiba.

Suzy dan keempat roh lainnya tersentak. Mereka tak percaya, roh yang dari pewaris ke pewaris tak pernah bersuara, kali ini menjawab pertanyaan terdahulu Suzy. Suzy memegang tengkuknya yang tiba tiba merinding. Sepertinya ada yang tidak beres.

“Halmeoni.. apa maksudmu?”

***

Wajah Suzy pucat pasi mendengar kalimat tadi. Ia bahkan tak sanggup menelan salivanya. Ia berusaha berdiri namun terjatuh lagi. Keseimbangannya goyah. Ia menghapus airmatanya kasar lalu kembali bangkit. Ia berlari keluar dari lab hendak menemui Myungsoo. Batinnya tertekan. Luar biasa tertekan.

“Aku harus merahasiakan ini dan bersumpah akan menutup mulut hingga saatnya tiba.. dan.. sebentar lagi.. saat itu tiba..” kata nenek Do.

Suzy berlari membabi buta hingga kakinya terlipat dan membuatnya terjatuh. Wajahnya mendarat terlebih dahulu. Ia meringis, menangis sejadi jadinya. Kenapa semua ini harus terjadi? Bahkan saat sang mentari menunjukkan senyumannya di hari bersalju?

Ia mengerang merasakan nyeri pada kakinya yang terkilir. Dari kejauhan, seorang pria yang diyakininya adalah guardian angel nya, berlari sempoyongan dengan wajah panik. Suara langkah sepatu mengusik gendang telinga Suzy.

“Yak gwaenchana?!”

Suzy mendongak dengan mata basah. Tanpa babibu, Minho mengangkat Suzy ala bridal. Suzy membenamkan wajahnya di dada Minho, menyembunyikan wajahnya yang memar.

Minho melangkah masuk ke dalam kamar perawatan.

Ia menyuruh suster mengobati luka luka suzy. Minho menggigit bibir bawahnya melihat luka cakar yang baru saja sembuh di wajah suzy, kini muncul luka memar lagi. Apakah wajah Suzy tak cukup terluka? Mengapa seolah wajahnya menjadi amukan kemarahan takdir?

Minho berleter dalam hati melihat penderitaan demi penderitaan yang menderap Suzy.

Setelah dirasanya luka Suzy selesai diobati, Minho mengisyaratkan si suster untuk meninggalkan mereka berdua.

“Masih sakit?” Tanyanya basa basi. Suzy menggeleng lemah.

Minho berdehem pelan, terlihat berpikir sejenak lalu terdiam beberapa saat.

“Suzy-ah.. tadi.. aku sempat melihat Jiyeon menangis di taman. Dia mengatakan hal yang menyakitkan..”

Suzy tersentak lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu.

“Aku.. juga punya pengakuan..”

Deg!

Jangan bilang..

Suzy menghela nafas berat. Matanya membulat sempurna tatkala wajah Minho sudah berada tepat di depan wajahnya. Tangannya lalu merengkuh wajah suzy yang menatapnya nanap.

“Suzy-ah..”

Suzy menutup matanya. Sebuah benda lembut lembab memilin bibirnya. Minho melumat bibirnya pelan. Tanpa ada kata sambung yang menjelaskan detail tentang pengakuan itu. Tapi, ia paham, bahwa pengakuan itu memiliki arti yang sama dengan yang dikatakan Myungsoo.

“Sarangheo..” bisiknya kemudian.

***TBC***

Annyeong readers!
Bagaimana puasanya? Lancar? /Ini basa basi abis/😄
Mian kalo lama, abis sibuk /sok sibuk lebih tepatnya/ tapi tenang, karena ada kabar gembira buat kita semua, mastin hadir menjaga tubuh kita, kulit manggis kini ada ekstraknya /Skip/😄
Okesip, karena ff ini semakin membosankan dan bertele tele, mending part selanjutnya di habisin aja /emang end nya part 9 *plak/😄
Mian kalo tidak sesuai harapan /melas/
Part 9 end yeay! /antusias sendiri/
Udah ada bayangan tentang endnya? Coba ditebak ditebak /evil smirk/

Jan lupa RCL YO!
Gak RCl ga friendel! /Ngomong opo iki/

Sorry for typos. Kritik dan saran, please..

RCL!

Bow~

126 thoughts on “FF Sixth Spirit PART 8

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s