FF School in Obsessions PART 1

image

Title: School in Obsessions
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Horror, Mystery, Psychology , Crime, School Life, etc.
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho
Sub Cast: Park Jiyeon, Jung Soojung aka Krystal, Choi Jinri aka Sulli, Lee Jieun, Kang Jiyong aka G-Dragon, Yang Yoseob, Kangjun, OC’s and etc (SubCast dapat berubah sewaktu-waktu)
Length: Chaptered

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***PART 1***

Apakah kau tahu tentang kehidupan di asrama? Yah, kau tak akan tahu sampai kau mencobanya sendiri..

Dua orang terkapar di atas lantai kamar mandi yang dingin saat jam dinding menunjukkan pukul 12 malam di sekolah asrama itu. Dua wanita yang masih mengenakan seragam sekolah tergeletak tak berdaya dengan jarum suntik di sampingnya.

Tap tap tap..

Samar derap langkah mulai terdengar mendekat. Alih alih, kedua gadis itu masih enggan bangkit.

“Yak Soojung-ssi! Jiyeon-ssi!” Teriak sipemilik langkah dari luar seraya menggedor gedor pintu.

“Yak Soojung-ssi! Jiyeon-ssi”

***

Suzy menatap ngeri melihat paha Soojung yang bersiluet merah, bekas irisan silet. Luka baru Soojung muncul lagi. Luka yang ia tutupi dengan rok selutut.

“Apa yang kau lihat?” Soojung berhenti memakai baju dan balik menatap suzy tajam.

“A-aniya” Suzy berpaling takut.

“Yak Soojung-ah! Sebaiknya kau membeli barang itu kalau kau tak ingin menghisap darahmu sendiri akibat kehabisan obat obatan!” teriak Jiyeon dari atas ranjangnya di lantai dua.

“Aku tak punya uang. Eommaku belum mengirimnya” Soojung kembali memakai baju tanpa berniat mengusik Suzy lagi.

Dalam asrama Sinbi, setiap kamar ditempati empat murid dengan dua ranjang bertingkat. Sial bagi Suzy yang harus sekamar dengan para pembuat masalah. Soojung yang pemakai, seringkali mengiris tubuhnya sendiri ketika kehabisan obat, karena darahnya yang sudah terkontaminasi dengan narkoba yang otomatis bisa ia hisap untuk memenuhi hasratnya kecanduannya terhadap obat obatan. Jiyeon juga sama, seorang pecandu, namun memiliki banyak uang sehingga tak pernah mengisap darahnya sendiri. Hanya saja, Jiyeon sering mengerjai murid murid lain, termasuk Suzy. Sementara satu temannya yang lain, siswi bernama Jinri, gadis manis dengan prilaku sulit ditebak. Kadang baik dan terkadang pula jahat secara mendadak. Sepertinya Jinri merupakan salah satu penderita bipolar, karena Suzy sering melihat Jinri mengkonsumsi obat untuk penderita bipolar. Bipolar sendiri merupakan jenis penyakit psikologi, ditandai dengan perubahan mood yang sangat ekstrim, berupa depresi dan mania. Mengacu pada suasana hati penderitanya yang dapat berganti secara tiba tiba. Antara dua kutub yang berlawanan yaitu kebahagiaan dan kesedihan yang ekstrim. Seperti Jinri yang tidur di lantai dua ranjangnya, seringkali melemparkan kertas yang telah diremas ke wajah Suzy ketika ia tertidur, tapi terkadang pula mengajaknya berbicara. Cukup mengganggu. Mungkin, yang normal di kamar itu hanya Suzy seorang. Gadis cantik dengan nilai akademik tertinggi, tanpa cacat. Tak ada kasus yang membarenginya selama satu bulan bersekolah di Asrama Sinbi. Suzy merupakan murid baru pindahan dari Gwangju. Ayahnya yang memasukkannya ke asrama itu.

***

Ketika Suzy hendak berbaring, tiba tiba Jinri melangkah masuk dengan muka sulit ditebak. Langkahnya gontai. Wajahnya lebam. Jinri melangkah naik ke atas ranjangnya di lantai dua.

Tak berselang lama, tangis samar terdengar dari atas, mengusik telinga Suzy. Soojung dan Jiyeon yang baru saja menutup mata langsung terjaga, walau suara itu tak begitu mengganggu.

“Yak isanghan!” Seru Jiyeon kesal. Jiyeon sering memanggil Jinri dengan sebutan ‘isanghan’ yang berarti ‘aneh’.

Jinri menengok Jiyeon dengan ekor mata tajam. Jiyeon berdecak.

Shut the hell up, isanghan!” Umpat Jiyeon. Jinri bungkam, tapi tak tinggal diam. Ia turun dari ranjang, lalu naik ke atas ranjang Jiyeon yang juga berada di lantai dua.

“Waeyo? Memangnya siapa kau berani melarangku huh?!” Jinri memukul wajah Jiyeon kasar, tanpa ampun.

Jiyeon segera menghindar dan dengan gerakan cepat mendorong Jinri yang masih berdiri di atas tangga. Jinri terpelanting ke belakang.

Bruk!

Kepalanya mendarat terlebih dahulu. Jinri meringis merasakan kepalanya yang teramat sakit.

Jiyeon tertawa remeh. Soojung menarik selimut dan berbalik acuh. Sementara Suzy berpura pura tidur, enggan mencari masalah.

“Yak aku akan membunuhmu!” Pekik Jinri yang berusaha naik lagi ke atas ranjang Jiyeon.

“Bunuh aku kalau berani, isanghan!” Jiyeon turun dari ranjang dengan membawa pisau lipat ditangan. Yah, Jiyeon memang selalu menaruh pisau di bawah bantalnya untuk jaga jaga.

Jinri tak kalah gesit. Ia mengeluarkan pistol kecil dari saku bajunya.

Mata Jiyeon membulat. Darimana gadis ini mendapatkan pistol?

Doar!

Pelurunya meleset mengenai meja belajar Jiyeon. Sepertinya Jinri tidak terlalu mahir menggunakan senjata api.

Secepat kilat Jiyeon mengiris tangan Jinri yang sontak membuat Jinri menjatuhkan pistolnya. Jinri mengerang. Ada sedikit darah yang keluar dari laju irisan itu.

Tok Tok Tok!

Seseorang tiba tiba mengetuk pintu di tengah malam seperti ini, tentu sangat mengherankan. Mungkin itu adalah penjaga yang terbangun akibat bunyi pistol yang membahana. Yah, siapapun akan terbangun jika mendengar suara bising memekik.

“Yak buka pintu!”

Jinri menjerit lalu mendorong keras Jiyeon yang sontak menghantam Soojung yang tengah tidur di atas ranjang. Soojung lantas mendorong paksa Jiyeon.

“Yak kembali ke ranjangmu, pabbo!” Seru Soojung kesal. Jiyeon segera naik tanpa kata. Wajahnya ditekuk.

Jinri tersenyum menang. Sedangkan Suzy menutup seluruh tubuh dan wajahnya dengan selimut. Ia mulai ketakutan.

“Yak agassi, buka pintu!”

Jinri memungut pistol, memasukannya kembali ke saku lalu berjalan gontai ke arah pintu hendak membukanya.

“Ada apa ribut ribut? Sepertinya tadi aku mendengar suara tembakan” ujar satpam asrama itu curiga.

Jinri tersenyum manis kepada satpam berumur tiga-puluan itu.

“Tak ada apa apa” jawabnya santai sambil berusaha menghalangi satpam itu masuk.

“Aku akan memeriksanya dulu-”

“Gwaenchanayo… tak ada apa apa. Yak, sekarang sudah jam 12 lewat. Kau mau aku berteriak agar kau disangka hendak berbuat mesum, huh?” Jinri tersenyum menggoda. Satpam itu mengangkat topi lali bergegas pamit. Enggan memperkeruh suasana.

Setelah satpam itu pergi, Jinri membanting pintu kencang yang lantas membuat Jiyeon semakin geram.

Jiyeon mengalah kali ini. Ia tak mungkin melawan pistol Jinri. Tapi ia cukup puas karena meninggalkan luka di tangan Jinri.

Jinri berjalan naik ke atas ranjang dengan senyum angkuh menatap Jiyeon seraya menghisap darah di tangannya dengan penuh nafsu. Jiyeon berbalik dan menarik selimut. Kesal dan jijik setengah mati.

***

Pagi ini kelas heboh dengan pengeluaran Taemin dari sekolah karena kasus narkoba. Karena itu pulalah, semua murid diperintahkan berkumpul di luar kamar masing masing untuk pemeriksaan.

Saat perekrutan murid pun diadakan tes urin dan pemeriksaan peralatan. Dasar para murid, mereka menetralisir dan menyembunyikannya dengan berbagai cara.

Jiyeon menyenggol bahu Soojung menyuruhnya tenang. Sementara Jinri berjongkok di sisi dinding dengan mimik datar.

Suzy mengamati ketiga teman sekamarnya itu ngeri. Apakah perjalanan mereka di sekolah ini akan berakhir?

Tak ada reaksi ketika penjaga membongkar kamar mereka. Tak ada barang bukti.

Sudut bibir Soojung terangkat puas melihat penjaga keluar dari kamar dengan tangan hampa.

“Kalian semua ke lab untuk pemeriksaan tes urin” kata penjaga itu  yang sontak membuat Soojung dan Jiyeon mendadak panik.

“Eotthokhae?!” Pekik Soojung panik seraya kembali masuk ke dalam kamar bersama ketiga temannya yang lain.

Jiyeon tersenyum tipis lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sekaleng penawar urin.

Soojung menarik tatap ke arah kaleng putih itu.

“Ige mwoya?”

“Susu penawar urin” Jiyeon menyeringai.

Soojung mengerling dan langsung merebut kaleng itu. Tak tinggal diam, Jiyeon merampasnya kembali.

Brak!

Kalengnya jatuh ke lantai, penyok bersama keluarnya cairan putih kental dari kaleng. Habis tak bersisa.

Keduanya melotot menatap susu penyelamat mereka yang naas tak tertolong.

Suzy meringis. Jinri mendadak melepas tawa seperti kesetanan.

Jiyeon dan Soojung kompak menoleh ke arah Jinri. Menatapnya dengan sudut mata tajam.

Jinri tak pantang. Ia malah balik menantang.

“Tamatlah riwayat kalian..” timpal Jinri pelan dengan nyeleneh khasnya.

“Yakkk!!!!!” Soojung dan Jiyeon berlari ke arah Jinri dengan tatapan membunuh. Suzy langsung mengalihkan pandangannya.

Bugh!

Soojung menghajar wajah Jinri brutal. Sementara Jiyeon menginjak perut Jinri tanpa ampun. Jinri tersungkur tak berdaya. Ia berusaha melawan. Sial, kekuatannya tak mampu menandingi si duo monster itu. Mereka berdua seolah tak membiarkan Jinri mengeluarkan pistol atau benda lainnya sebagai perlawanan.

Tanpa menunggu lama, Suzy berlari keluar, berteriak memanggil penjaga.

Tak berselang lama, penjaga datang dan langsung melerai perkelahian yang dimenangkan Jiyeon-Soojung. Jinri terkapar dengan hidung dan mulut mengeluarkan darah. Dasar Jiyeon-Soojung yang sudah dilahap obat obatan, malah tak peduli dengan kesakitan Jinri.

Penjaga lalu membawa Jiyeon dan Soojung ke kantor untuk dimintai keterangan mengenai insiden pengeroyokan itu.

“Mampus kau!” Umpat Jiyeon sebelum keluar.

Setelah mereka semua pergi, Suzy segera menghampiri Jinri yang kondisinya masih setengah sadar. Satu penjaga menyuruh Suzy membawanya ke UKS. Suzy menurut. Cemas.

***

Soojung dan Jiyeon tersenyum menang menatap Jinri yang terbaring dengan luka di wajah. Jinri membalas senyuman itu dengan decakan.

“Selamat atas skorsing kalian” ujar Jinri dengan nada mengejek.

Jiyeon yang hampir tersulut emosi segera mereda tatkala Soojung menahan tangannya.

“Atur barang barangmu pabbo! Sebentar lagi jemputan kita tiba!”

Jiyeon berhenti merengut dan kembali merapikan barang barangnya dikoper.

Suzy menghela nafas lega karena akhirnya bisa bernafas luas selama satu minggu.

“Yak isanghan! Sampai ketemu minggu depan! Aku masih menagih pukulanku! Dan kau murid baru! Sampai menunggu aktraksi berikutnya!” Pesan Jiyeon ketus seraya berjalan keluar dengan menyeret koper. Sedangkan Soojung keluar tanpa kata.

Suzy merinding. Aktraksi berikutnya? What the heck?!

“Dasar jalang..” gumam Jinri seraya bangkit.

“Ap-”

“Yak! Kau harus berhati hati di sekolah ini..” Jinri menarik rambut Suzy sejenak lalu pergi begitu saja menuju toilet.

Jantung Suzy berkumandang tak karuan. Kenapa Jinri menyuruhnya berhati hati? Toh selama sebulan ini ia baik baik saja kan? Bahkan baru sekali gadis itu memperingatinya. Apa yang akan terjadi memangnya?

***

Baru kemarin heboh dengan pengeluaran Taemin akibat narkoba, hari ini masalah datang lagi di asrama Sinbi. Naasnya, masalah kali ini lebih serius. Dua murid yang diketahui bernama Kim Jonghyun dan Kim Kibum tewas mengenaskan di kamarnya dengan mulut berbusa—diduga karena obat obatan. Lagi lagi karena narkoba.

Jinri tersenyum tipis menatap kepergian dua mayat yang melewatinya. Suzy bergidik menatap Jinri. Yah, seharusnya Suzy tak perlu heran melihat tingkah Jinri yang bipolar kan?

Suzy tak bisa membayangkan akan tinggal berdua dengannya selama seminggu. Membayangkannya saja sudah ngeri.

“Proses belajar mengajar untuk hari ini diberhentikan hingga besok. Silahkan kembali ke kamar kalian masing masing!” Seru suara yang berkoar di pengeras suara.

Bibir Suzy mengerucut karena mata pelajaran Kimia favoritnya tak akan masuk hari ini.

Jinri, tanpa kata, langsung menarik Suzy menuju kamar. Suzy berusaha rileks, memaklumi penyakit Jinri.

***

“Mau bermain permainan pemanggil arwah? Aku akan memanggil arwah Jonghyun dan Kibum. Mau tidak?” Ajak Jinri ketika jam dinding menunjukkan pukul 10 malam saat Suzy tengah sibuk dengan bukunya.

Sebuah papan Ouija telah tersedia di depan Jinri. Papan yang diyakini sebagai media untuk memanggil arwah dan berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata. Tak lupa Jinri menyediakan dupa, lilin dan sebuah koin untuk menyemarakkan permainan.

Suzy menggeleng, menolak halus. Jinri memutar bola matanya kesal.

“Yasudah.. kalau kau tak mau.. aku akan menyuruh Jonghyun dan Kibum untuk menghantuimu!” Ancamnya seraya menunjuk Suzy dengan dupa.

Suzy bergidik dan segera beranjak, turut duduk berhadapan dengan Jinri di atas lantai.

“Matikan lampu!” Pinta Jinri kemudian.

Blam!

Seketika lampu padam. Hanya sebuah lilin yang menerangi ruangan padat itu bersama keremangan malam yang menusuk.

Jinri meletakkan koin tadi di atas papan—tepat di tengahnya—yang telah diberi simbol-simbol Ouija yakni berupa hurup A sampai Z dan angka 0 sampai 9 beserta empat kata yakni “YES”, “NO”, “HOME” dan “GOODBYE, kemudian ia menaruh sebuah lilin yang telah dinyalakan di sebelah papan tersebut.

“Sudah siap?” Tanya Jinri tenang. Suzy menelan salivanya gugup. Enggan menjawab. Yah, bagaimana tidak, hal tabu ini baru pertama kali baginya.

Jinri menyuruh Suzy
menempelkan jari telunjuknya di atas koin secara bersama sama. Ragu, Suzy melakukan hal gila itu. Jinri mulai menggerakkan jarinya memutar secara perlahan dan sangat pelan diikuti Suzy setelah dikode Jinri.

“Roh, roh yang ada dalam koin… Roh, roh yang ada dalam koin… Roh, roh yang ada dalam koin… Tolong keluarlah dan bermain bersama kami!” Jinri membaca mantra sembari menggerak gerakkan jarinya bersama Suzy. Suzy kalut. Entah mengapa ia merasa putaran koin semakin lama semakin berat. Keringat dingin mulai mengucur dari dahinya. Jantungnya bergemuruh hebat.

Jinri terus mengulang ulang mantra sampai koin itu tak bisa digerakkan lagi.

Jinri menaikkan bibirnya tatkala koin itu berhenti, tanda bahwa si arwah sudah hadir bersama mereka.

“Yak Jonghyun-ssi.. kaukah itu?” Tanya Jinri tanpa takut sedikitpun.

Koin di bawah jari mereka lalu bergerak sendiri menuju kata “YES” yang berarti ‘iya’. Jinri tersenyum simpul.

Badan Suzy bergetar, tak sanggup melanjutkan permainan lagi. Ia sontak melepaskan tangannya dari koin dan beranjak naik ke atas kasur. Jinri berteriak kesal karena Suzy menghentikan permainan begitu saja.

“Yak murid baru! Kita dalam masalah! Kau tahu? Kalau kita tak menyelesaikan permainan dan mengembalikan arwahnya kembali, maka kita akan mengalami kesialan.. dan arwah mereka akan senantiasa menghantui..” ancam Jinri tajam. Suzy menarik selimut tak peduli. Bisa saja Jinri yang menggerakkan tangannya sendiri, kan? Yah, ia harus yakin karena Jinri tak seperti manusia normal pada umumnya. Dan lagipula Suzy tak terlalu percaya dengan permainan papan Ouija.

“Apa gunanya memanggil Jonghyun yang sudah mati?” Balas Suzy kesal.

“Yak aku hanya ingin menanyakan tentang kematian yang sebenarnya… kenapa mereka bisa meninggal dengan cara tak wajar…”

“Itu bukan urusanmu Jinri-ssi! Lagipula permainan itu takhayul!” Suzy berbalik dan mendongak.

Jinri hanya tersenyum sinis. Lantas membongkar papan Ouija itu. Lilin langsung padam. Gelap gulita menyerang. Jinri segera naik ke atas ranjang dan menarik selimut tanpa membereskan permainannya.

“Apakah kau tak tahu bahwa ada kisah nyata tragis tentang seseorang yang tak menyelesaikan permainan itu? Carilah di internet maka kau akan tahu..” Jinri tertawa menakutkan.

Suzy mendadak merasakan seluruh tubuhnya meremang.

“Sebaiknya kau lebih berhati hati.. murid baru..”

***

Suzy terbangun setelah tigapuluh menit menutup mata tak jelas. Pikirannya melayang layang tak tenang. Entah mengapa, rasanya seperti ada yang mengawasi.

Dalam cahaya minim itu, Suzy mendongak ke arah papan Ouija yang berantakan. Mata Suzy membelalak bersama jantungnya yang mendadak berdetak diatas normal ketika koin yang masih berada di atas papan, bergerak sendiri menuju beberapa huruf.

Suzy melihat huruf pertama “D” lalu perlahan menuju huruf “E”. Suzy merasakan seluruh tubuhnya meremang kini. Ia ketakutan. Luar biasa ketakutan. Aroma dupa kian menyeruak dalam ruangan, menyesakkan otot dan sendi sendinya.

Mata suzy makin membesar melihat koin itu kini bergerak menuju huruf “A” lalu huruf “T”.

Suzy yang tak sanggup lantas berbalik. Langsung menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.

Di balik itu, ia kedinginan. Aura beku tiba tiba mendominasi. Aroma dupa kian menusuk hidung, padahal Jinri tak menyalakan dupanya.

Ia benar benar menggigil. Kenapa dengan tubuhnya? Apakah yang dilihatnya nyata?

“DEAT..”

“Apa huruf selanjutnya?”

***

Suzy berjalan saat tengah malam di koridor selepas mencari bukunya di kelas karena ketinggalan.

Sepi. Gelap. Sunyi. Menyeramkan.

Suzy seharusnya tak mengambil buku itu. Yah, tapi PR yang belum selesai membuncahkan dadanya untuk segera menyelesaikannya.

Suzy bersenandung pelan hendak mengusir rasa takut yang semakin lama semakin meraja.

“Hei..”

Suzy berhenti. Nafasnya tercekat. Kakinya mulai gemetar. Tangannya mendingin. Hembusan nafas itu terasa di telinganya.

Ia bergidik tak bergerak. Jantungnya bergemuruh hebat. Angan angan tentang sosok Jonghyun langsung terlintas di benaknya.

Sebuah tangan kekar kini menggapai pundaknya yang sontak membuatnya hendak berteriak, namun tangan itu dengan sigap membungkam mulutnya.

Suzy berusaha meronta. Lagi lagi sosok itu bersikeras membawa suzy ke suatu tempat. Dia sangat kuat sehingga membuat Suzy tak berdaya.

Tubuh Suzy ia hempaskan di atas lantai kotor kamar mandi. Suzy menangis sejadi jadinya melihat pria dengan tampang mesum di depannya. Suzy sangat ketakutan.

“Jebal…”

Pria itu tak peduli dengan permintaan Suzy. Dengan cekatan malah merobek kemeja kasual Suzy. Matanya terbakar nafsu. Tangis Suzy semakin menjadi jadi.

Pria itu kini menindihnya dan berusaha meraih celana selutut Suzy. Suzy kembali meronta. Pria itu semakin memberingas.

“DIAM!” Teriaknya.

Suzy terdiam. Ketakutan. Tak mampu berkata lagi. Pasrah adalah kata kunci terakhirnya.

Suzy melemah. Pandangannya mulai berkunang kunang. Tak sampai semenit, ia pingsan di kamar mandi itu.

Pria tak dikenalnya itu tersenyum puas menatap tubuh Suzy yang tak tertutup sehelai kain pun.

Namun, entah mengapa tatapannya langsung berganti ketakutan. Oh Tuhan! Apa yang telah dilakukannya? Siapa wanita di depannya ini?

***

Suzy perlahan membuka mata. Ia meringis merasakan nyeri pada organ kewanitaannya. Apa yang terjadi semalam? Seingatnya.. Oh tidak!

Suzy membekap mulutnya. Airmatanya kembali mengucur deras, tanpa suara. Ia ketakutan.

Ia lalu mengedarkan pandangannya kaku.

Oh tidak! Ini bukan kamarnya!

Suzy mendadak merasakan pening yang luar biasa. Ada apa ini? Kamar siapa ini?!

“Hei..”

Tidak!

Suara semalam itu kembali mengusik kupingnya.

“AAAAAAAAA!” Suzy menjerit. Melirik ke arah tubuhnya yang berpakaian pria. Sepertinya baju dan celana ini milik pria dihadapannya. Pria yang merenggut harga dirinya.

Pria itu ada di hadapannya sekarang. Ekspresinya tak semengerikan semalam. Kenapa?!

“Mianhae…”

Apa?! Hanya itu yang ia katakan setelah melakukan hal hina terhadapku?!

“Jebal..” lirih Suzy sambil berusaha mundur. Suzy tak punya daya untuk melawan apalagi membentak.

“Mianhae.. aku kira kau adalah Soojung” ucap pria itu tulus.

“Mwo?! Apakah aku dan wanita itu terlihat mirip huh?!” Keberanian Suzy mendadak muncul setelah melihat mimik pria ini yang jauh dari kata menakutkan. Ia bangkit dari kasur dan malah maju menantang pria itu.

“Aniya.. Soojung.. saat itu aku menelponnya untuk bertemu di koridor saat tengah malam. Kau.. pasti baru melihatku kan?”

Suzy mendecak.

“Yak! Kau tau apa yang telah kau renggut dariku?! HUH?!” Bentak Suzy tak mau tahu.

“Aku baru melihatmu. Dan.. koridor gelap jadi aku tak dapat melihat wajahmu dengan benar. Belum lagi.. aku mengkonsumsi alkohol sebelumnya..”

“YAK NUGUNEO?! NUGUNEO?!” Tangis Suzy makin mengeras. Refleks membuat pria itu membekap mulut Suzy.

“Kita bicarakan dengan tenang-”

“ANDW-”

“DIAM!”

Suzy terdiam. Nyalinya kembali ciut.

“Aku di skors selama satu bulan karena dijebak oleh Soojung dengan perkara bahwa aku melecehkannya dan Jiyeon, sahabatnya yang keparat. Aku bersumpah akan benar benar melecehkan wanita yang menjebakku. Tak kusangka ternyata aku salah orang..” bisik pria itu.

“Jadi.. biarkan aku bertanggung jawab jika kau hamil..”

Suzy mendorong pria itu sekuat tenaga.

“BRENGSEK! YAKKK KAU BRENGSEKKKK!” Suzy menjerit keras, mengambil apapun yang ada dihadapannya dan melemparnya brutal ke arah pria itu. Pria itu berusaha menghindar dan mencoba menjelaskan kesalahpahamannya yang fatal.

Tiba tiba salah seorang penghuni kamar datang, sontak menghentikan aksi Suzy.

How’s crack, Myungsoo-ah?” Pria itu menoleh ke arah Suzy.

“Siapa wanita ini?”

“Molla. Aku-”

Suzy langsung membekap mulut pria dipanggil Myungsoo itu.

“Kami tak ada apa apa” Suzy tersenyum getir.

Myungsoo menoleh kaget.

“Bagai-”

“TAK APA!” Suzy mendorong Myungsoo pelan dan segera beranjak. Ia menyambar teman Myungsoo dan keluar tanpa kata.
Suzy berlari sambil menangis. Ia tak pernah menyangka bahwa kepindahannya akan membawa petaka. Ia bersumpah akan meluruskan semuanya. Ia bersumpah akan membuat semua yang berhubungan dengan Myungsoo, hidup tak tenang di sekolah ini. Ia bersumpah.

“Wanita itu cantik juga..” ucap temannya yang langsung mendapatkan pukulan ringan dari Myungsoo. Pandangan Myungsoo menyendu.

“Sepertinya aku pernah melihat wanita itu..”

***

Suzy menangis semalaman. Matanya sembab. Ia tak fokus ke depan. Kerjanya hanya melamun saja di kelas. Ia masih belum bisa melupakan niat balas dendamnya kepada Myungsoo. Prestasi tak lagi penting baginya. Hanya balas dendam di otaknya. Ia jadi tak peduli dengan dirinya sendiri. Psikisnya pun mulai ikut terganggu.

Drrrt..

Suzy melirik ponselnya sebentar. Unknown. Suzy menghela nafas berat lalu kembali berpaling.

Tak sampai semenit, ponselnya kembali bergetar. Suzy risih. Ia menarik ponsel dan melihat pesan yang masuk.

From: unknown

Mianhae..

Kim Myungsoo.

Suzy berdecak lalu menekan switch layout dengan marah. Pasti Myungsoo mendapatkan nomornya dari teman atau dari ruang kedataan.

To: unknown

Schadenfreude

Suzy tersenyum hambar. Melempar ponselnya kasar ke atas meja.

Myungsoo yang berada di kelas lain sontak mengerutkan kening. Apa maksudnya?

***

“Appa.. mianhae..” Suzy menangis tertahan di dalam toilet, di atas dudukan closet. Lagi lagi ia menangis. Ia tak lelah juga mengeluarkan kristal bening itu. Tissue toilet banyak berjatuhan di lantai. Yah, matanya kembali basah setelah mengingat peristiwa semalam dan pesan ayahnya sebelum ia masuk ke asrama ini.

Bagaimana kabarmu sayang?

Suzy menatap sendu pesan singkat dari ayahnya.

Tidak, tidak! Ia tak mungkin memberitahukan ayahnya mengenai keadaannya sekarang.

Suzy menunduk beberapa saat sampai ia mengangkat wajahnya. Ekspresinya secepat kilat berganti menyeramkan. Matanya memancarkan aura membunuh. Tangannya mengepal kuat.

“Jadi ini.. sekolah yang mereka katakan itu? Jadi.. ini juga kesialan yang Jinri katakan?” Suzy menarik nafas seraya menyeka airmatanya.

“Ini baru awalnya kan?”

***TBC***

Annyeong readerdul!
Kembali lagi nih dengan ff abal abal binti sesat HAHAHAHAHAHA. Okesip aku belum pernah buat ff dengan tingkat keyadongan seperti tadi (maybe) dan kedepannya (mungkin) akan ada atau banyak adegan berdarah(?)nya tapi jangan terlalu overestimate nanti tau taunya jadi jauh dari harapan, biarkan ceritanya mengalir apa adanya (fak banget ni kuot)😄, jadi sebelumnya maaf nih ye. Kalo ga berkenan silahkan minggat dengan tenang(?) Eh maap maap😄
Silahkan CommentLike yang udah terlanjur baca monggo…😀
Thanks again yang udah nyempetin ke blog ini.
Kritik dan saran please..🙂

Bow~

112 thoughts on “FF School in Obsessions PART 1

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s