FF School in Obsessions PART 2

image

Title: School in Obsessions
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Horror, Mystery, Psychology , Crime, School Life, etc.
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho
Sub Cast: Park Jiyeon, Jung Soojung aka Krystal, Choi Jinri aka Sulli, Lee Jieun, Kang Jiyong aka G-Dragon, Yang Yoseob, Kangjun, OC’s and etc (SubCast dapat berubah sewaktu-waktu)
Length: Chaptered

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

Previous Part:

Suzy menunduk beberapa saat sampai ia mengangkat wajahnya. Ekspresinya secepat kilat berganti menyeramkan. Matanya memancarkan aura membunuh. Tangannya mengepal kuat.

“Jadi ini.. sekolah yang mereka katakan itu? Jadi.. ini juga kesialan yang Jinri katakan?” Suzy menarik nafas seraya menyeka airmatanya.

“Ini baru awalnya kan?”

***PART 2***

Myungsoo perlahan membuka matanya tatkala tercium aroma hangus. Mata Myungsoo langsung terbuka lebar begitu asap mengepul memasuki kamarnya. Panas dan menyekat tenggorokan. Myungsoo terbatuk lalu turun dari kasur.

“YAK IRREONNA! KEBAKARAANN!!” Myungsoo memukul mukul wajah teman sekamarnya yang tampak masih tertidur pulas. Mereka langsung terlonjak dengan teriakan Myungsoo yang tampak tak main main.

“KKAJAA!!” Belum sempat Myungsoo keluar, kumpulan boneka berdarah yang dimutilasi, berjejer di depan pintu yang sudah dimakan api. Enggan berlama lama, Myungsoo lantas menendang pintu itu sekuat tenaga dan keluar dari sana. Namun, Myungsoo tak lantas mengabaikan kotak penuh darah di samping boneka mengerikan itu. Saat akan mengambilnya, tangannya tak sengaja terkena api. Myungsoo mengerang dan refleks membuang kotak itu ke dalam kamar yang sudah dilahap si jago merah. Myungsoo semakin penasaran dengan isi kotak itu. Sayang, kotak itu sudah jadi abu sekarang.

***

Heboh. Pagi ini asrama sinbi heboh dengan berita kebakaran salah satu kamar pria. Untungnya tidak ada korban jiwa. Namun malangnya, mereka tak tahu harus tidur di mana nantinya, karena kamar mereka hangus tak bersisa bersama barang barang lainnya. Anehnya, hanya satu kamar yang terbakar. Asal api itu langsung dipadamkan dengan cepat agar tak menjalar ke kamar lain. Myungsoo, Minho, Jiyong dan Kangjun si pemilik kamar memilih tak bersekolah hari ini karena pakaian pakaian mereka yang ludes terbakar. Mereka kini berada di ruang kepala sekolah untuk kesaksian.

Sudut bibir Suzy terangkat ketika melewati ruang guru dan mendapati Myungsoo dengan kaos abu abu dan celana hitam selutut tengah berbicara memberikan kesaksian. Suzy mendengar Myungsoo mengatakan, bahwa ia merasakan panas tadi malam, lalu ia turun dari kasur dan malah mendapati api yang membakar pintu kamar mereka. Myungsoo lalu membangunkan ketiga temannya dan segera keluar dengan menerobos pintu. Meski tak ada korban, luka bakar di tangan dialami myungsoo. Suzy kembali tersenyum melihat lengan myungsoo yang dilapisi perban. Suzy tersentak setelah myungsoo yang mengakhiri penuturannya malah menangkapnya di luar sedang tersenyum sinis. Myungsoo hanya memandang suzy datar namun tersirat. Suzy tersenyum penuh kemenangan lalu segera berlalu.

***

Suzy merebahkan dirinya di atas kasur. Tepat jam lima sore. Matanya menatap puas panorama di depannya. Tempat tidur bertingkat yang kosong. Jinri masih belum sampai ke asrama, mungkin ia tengah berbelanja di kantin dulu baru pulang. Suzy bersandar, menatap intens ke depan. Damai. Tenang. Ia bernafas lega namun entah mengapa dadanya masih mengganjal sesuatu.

Suzy menggeleng dan memutuskan untuk menutup mata. Namun, baru beberapa detik dalam ketentraman, pintu kayu itu terdengar diketuk. Suzy mendengus lalu bangkit. Ia berjalan malas menuju pintu yang jaraknya hanya tiga meter dari kasurnya. Tangan suzy mulai mengangkat gagang pintu. Ternyata Ahn Seongsaengnim.

Suzy membungkuk sopan.

“Waeyo seongsaengnim?” Tanya Suzy dengan kening mengerut. Perihal apa si guru pembimbing datang ke kamarnya?

Ahn seongsaengnim tersenyum simpul lalu kemudian memanggil nama seseorang.

“Kim Myungsoo! Choi Minho! Ayo!”

Mata Suzy perlahan membulat tatkala dari balik tubuh Ahn Seongsaengnim, muncul dua pria tak asing membawa masing – masing satu koper besar.

Perasaan Suzy mulai tak enak. Ada apa ini?!

“Wae-waeyo? Seong-”

Wanita baya dengan lesung pipit di pipi kirinya itu tersenyum lalu menarik Myungsoo dan Minho bersamaan.

“Sementara ini.. mereka akan tinggal di sini. Karena tidak adanya kamar kosong. Hanya kamar ini yang masih punya satu ranjang bertingkat. Sedangkan dua murid lain sudah mendapatkan tempat tidur di satu ranjang tersisa. Mereka tidak mungkin diliburkan selama pengerjaan kamar baru karena akan banyak ketinggalan pelajaran. Dan ah.. mereka hanya pulang untuk mengambil beberapa baju.” Tutur Ahn seongsaengnim.

Suzy tak sadar malah mendecak. Ia shock. Shock berat. Bagaimana tidak, orang yang sudah melecehkannya malah hendak berbagi kamar dengannya? Suzy mengira Myungsoo akan berhenti sekolah untuk sementara karena setelah diwawancarai, para guru menyuruh mereka pulang ke rumah masing masing. Tapi ternyata..

Untung saja Ahn seongsaengnim tak terlalu memusingkan decakan hinaan dari Suzy tadi, karena ia tahu, siapapun akan shock jika harus sekamar dengan pria.

“Tapi tenang saja, karena kami akan memasang CCTV agar tak ada hal buruk yang terjadi. Dan mereka hanya akan disini sampai teman kamar kalian menyelesaikan masa skorsingnya. Ibu jamin, perbaikan kamar akan selesai dalam satu minggu sampai teman kamarmu kembali.”

“M-mwoya?” Pelan. Sangat pelan. Pandangan suzy mulai kabur. Pusing tiba tiba menyerang kepalanya. Suzy sempat melihat bibir Myungsoo dan Minho terangkat. Sial!

“Jadi, tidak masalah kan?” Ahn seongsaengnim tersenyum selebar mungkin. Suzy mendumel dalam hati. Cih! Senyum palsu!

Suzy dengan terpaksa mengeluarkan seulas senyum lalu mengangguk.

“Silahkan kalian masuk. Mungkin besok pagi CCTV nya akan dipasang. Jadi, ibu mohon kalian akur, ne?” Lagi lagi, Suzy melihat senyum palsu itu. Semuanya mengangguk.

Ahn seongsaengnim sudah berlalu. Suzy kembali ke ranjang. Acuh. Sedangkan Myungsoo dan Minho berjalan menuju ranjang. Mereka tampak berdiskusi tentang penempatan ranjang. Setelah beberapa menit, akhirnya Myungsoo memilih tidur di atas dan Minho di bawah. Ada kesepakatan di antara mereka berdua.

“Bagaimana Bae-ssi? Bagaimana rasanya merasakan amukan kemarahan sendiri?” Sinis Myungsoo sambil mendongak ke bawah, ke arah ranjang Suzy. Meski rasa bersalah itu belum hilang dalam benaknya.

Suzy menoleh. Turut mendongak ke atas. Ia tersenyum ganjil. Lama. Lima detik.

Myungsoo menautkan alisnya. Pria itu tiba tiba merinding melihat pancaran mata Suzy.

Suzy berpaling ke arah Minho. Ia ikut melemparkan senyum tadi. Anehnya, Minho membalasnya.

Suzy menarik selimut dan berbalik. Enggan mengusik kedua pria itu lagi.

Myungsoo merebah diri. Kepalanya menindih kedua telapak tangannya yang juga saling bertindihan. Pandangannya ke atas. Langit langit kamar yang sangat dekat.

Tiba tiba pintu terbuka begitu saja. Myungsoo dan Minho tersentak dan langsung mendongak ke arah pintu. Jinri muncul dengan wajah basah. Ia berjalan sambil sesenggukan. Ia menutup pintu dengan keras lalu beranjak ke atas ranjang. Merebahkan diri. Myungsoo dan Minho saling pandang. Minho mengangkat bahu tak peduli lalu kembali memeluk bantal sembari melirik Suzy. Meliriknya diam diam.

Isakan Jinri mengeras. Suzy menutup seluruh tubuhnya dengan selimut seolah enggan mendengar isakan mengganggu itu.

Myungsoo memicing menatap Suzy dan Jinri bergantian.

“Yak!” suara Myungsoo meninggi seraya menunjuk Jinri tak tahan.

Jinri mendadak berhenti. Kepalanya terangkat menghadap Myungsoo. Matanya bengkak. Ada luka memar di pipinya.

Mata Myungsoo menyendu.

“WAE?!” Pekik jinri. Suzy terlonjak dan langsung melempar sebuah botol sampo kosong ke arah Myungsoo. Myungsoo menghindar dan balik menatap Suzy.

“Yak! Jangan menganggu orang! Sebaiknya kau bersiap siap saja! Wanita ini mau menangis atau berteriak sekalipun itu bukan urusanmu!” Teriak Suzy yang sudah tak tahan dengan kehadiran pria mesum ini.

Myungsoo mendecak gila.

“Bukan urusanku?! Yak! Wanita gila ini mengganggu tidurku!” Bentak Myungsoo tak kalah garang.

Tangis Jinri berhenti. Matanya membesar tatkala menatap pria yang tertidur di ranjang bawah. Pria bernama Minho.

Mata Jinri makin membesar seakan hendak keluar dari tempatnya. Jinri menjerit lalu beranjak menghampiri Minho.

Bug!

Bug!

Bug!

Pukulan brutal berkali kali menyerang Minho. Minho berusaha bangkit namun cengkraman Jinri amat kuat. Matanya memerah, sarat kemarahan yang membabi buta.

Suzy tersenyum lalu semakin lama senyum itu berubah menjadi tawa yang menyeramkan. Myungsoo panik. Ada apa dengan penghuni penghuni kamar ini? Berisi kumpulan orang gila?

Myungsoo turun dari kasurnya yang berada di lantai dua, hendak mencegat Jinri melakukan aksi beringasnya, namun Suzy dengan cepat menahan tangannya. Myungsoo terdiam. Suzy tersenyum lalu mencengkram erat tangan myungsoo hingga remuk. Myungsoo mengerang. Sekuat tenaga melepaskan tangannya, namun Suzy tampak enggan melepaskan mangsanya yang masuk ke dalam kandangnya. Ia harus mencengkramnya sampai habis.

“YAK SUZY-SSI!” teriakan Myungsoo membahana bersama dorongan kasarnya terhadap Suzy. Untungnya keseimbangan Suzy masih baik. Suzy mendecak tak percaya.

“Yak Suzy-ssi! Neo micheosseo?! Apakah dengan cara ini kau ingin membalasku eoh?! Tak bisakah kau membiarkanku bertanggung jawab agar semuanya selesai?! Kalau perlu kita keluar dari sekolah ini dan kabur menikah! Kau mau?! Itu yang kau mau?!” Emosi Myungsoo meluap luap. Suzy terkesiap. Terdiam sesaat lalu tawa renyah keluar dari bibirnya.

“Ne! Membuatmu menderita adalah tujuanku sekarang!” Pekik Suzy tak kalah keras.

Myungsoo mendesis, tak habis pikir dengan pikiran pendek wanita di depannya ini.

“Kudengar dengar.. selama sebulan ini kau adalah murid dengan nilai akademik yang selalu tinggi. Bahkan yang tertinggi..” suara Myungsoo melunak.

“Tsk..”

“Kheundae wae.. kheudae wae kau begitu bodoh melakukan ini semua?! Melakukan pembakaran kamar kami hingga kami tak punya kamar! Meneror! Melakukan hal bodoh tadi!” Teriak Myungsoo sambil mengguncangkan bahu Suzy.

Suzy terperanjat sejenak sampai sebuah senyum mengerikan terulas dibibir delimanya.

“Ne.. kau tau? Dendam membuat orang menjadi bodoh.. aku tak masalah untuk itu.. karena dendam tak sepenuhnya membuat orang menjadi bodoh. Bukankah kau harus memakai otakmu saat melakukan pembalasan dendam?”

Myungsoo menggeleng tak percaya, kehabisan kata kata. Genggamannya di bahu Suzy melemah.

“Aku bisa menggunakan kepintaran itu untuk menyusun rencana balas dendamku.. jadi bersiaplah.. Myungsoo-ssi..” Suzy menghempaskan tangan myungsoo dan berjalan melewatinya, menuju Minho yang tampak sudah melumpuhkan jinri. Oh tidak!

Mata Suzy membelalak. Jinri tak sadarkan diri dengan luka lebam serta darah yang tersembur keluar dari mulutnya. Minho tanpa perasaan malah terus menghajar wajah dan tubuh Jinri.

“JINRI!” Jerit suzy yang sontak mendorong Minho.

“DOWAJUSEYO!” airmata Suzy langsung membeludak tak terkontrol.

Aneh. Ada yang aneh dengan wajah ketakutan Minho saat memukul Jinri.

***

Suzy, Myungsoo dan Minho berjalan keluar dari sekolah. Membawa masing masing koper. Suzy berjalan lesu menuju halte. Ponselnya ia matikan. Suzy menunduk. Berusaha menahan airmatanya, namun sia sia. Kristal bening itu tumpah juga. Suzy menangis tertahan. Ia tak tahu harus kemana selama satu minggu ini. Ia tak mungkin menghubungi ayahnya dan mengatakan dengan lantang bahwa ia diskorsing. Sangat mengecewakan. Tidak mungkin pula ia mengatakan alasannya. Tentang perkelahiannya dengan teman sekamar hingga babak belur. Suzy tak tahu nasib Jinri sekarang. Gadis itu koma.

Dari kejauhan, tampak Myungsoo dan Minho memandang ke arah Suzy. Iba.

Minho paling terlihat sedih. Karena dirinyalah penyebab mereka bertiga di skors. Guru tak mau tahu, yang pasti Jinri hampir mati karena Minho, sedangkan Myungsoo dan Suzy tak mencegahnya dari awal dan malah ikut bertengkar. Mereka semua salah, kata Ahn seongsaengnim kala itu dengan wajah murka. Tapi Suzy akhirnya paham sesuatu. Tentang sekolah itu.

Suzy mengangkat wajah begitu bis hijau berhenti di hadapannya. Ia berjalan masuk dengan langkah gontai. Tak menyadari kehadiran Myungsoo dan Minho yang mengikutinya masuk.

Suzy duduk tepat di belakang supir. Ia menoleh ke arah jendela dengan mata basah. Ia benar benar tak tahu harus kemana.

Myungsoo dan Minho hanya berjarak satu kursi di belakang Suzy. Mengawasinya dalam diam.

***

Suzy berjalan tanpa arah. Hanya bersenandung sambil terus berjalan. Matanya kosong.

Myungsoo dan Minho masih di belakang, diam diam.

Tak terasa ia sudah sampai di sebuah kawasan terpencil. Sepi dan gelap. Suzy menatap nanar ke depan. Isakannya mulai terdengar. Sudah malam.

Ia harus tidur dimana?

Myungsoo dan Minho saling pandang. Bingung dengan tingkah Suzy.

Suzy melihat ada sebuah bangku besar di taman. Ia tersenyum lalu berjalan kesana. Suzy membersihkan bangku itu dan berbaring disana. Ia masih tak menyadari kehadiran Myungsoo dan Minho. Tak ada siapapun disana selain mereka. Tempat yang sunyi.

Tak sadar, bibir Myungsoo terangkat. Senyuman simpul yang manis.

“Yak Myungsoo-ah.. kita harus melakukan apa?” Bisik Minho. Udara malam ini sangat dingin. Pasti Suzy kedinginan, pikir Myungsoo.

“Kau pulang saja.”

“Mwo?!” Pekik Minho refleks.

Suzy sontak bangkit dan menoleh. Matanya awas, memandang ke seluruh penjuru.
Minho mengumpat dalam hati karena tak sengaja berteriak. Untungnya, Myungsoo langsung menariknya sembunyi.

Suzy terlihat ketakutan.

“Nuguseyo?” Ucap Suzy dengan nada bergetar.

“Nuguseyo?” Suzy turun dari bangku dan berjalan sedikit ke depan. Matanya masih mencari cari.

“Nugu-” Suzy mulai takut. Ia mulai menyadari kegelapan yang menghantui. Hanya ada satu cahaya. Menyeruak dari lampu taman yang berdiri tak jauh dari bangku tempat Suzy berdiri.

Suzy melangkah mundur. Tubuhnya meremang. Ia kembali berbaring di atas bangku. Mencoba mengusir bayangan bayangan menakutkan itu. Pandangannya ke atas. Sendu menatap langit tanpa bintang.

“Apakah ini musim dingin?” Gumam Suzy sedih.

“Mengapa tak ada satupun bintang?”

“Apakah besok aku akan seperti ini lagi? Sendirian? Gelap?”

“Ah.. bukankah aku memang seperti itu? Sendirian dan gelap..”

“Kheundae.. bagaimana kalau sauna?”

“Ah.. ani ani.. aku tidak suka tempat panas itu..” Senyum Suzy memudar bersama celotehannya yang turut berhenti.

Myungsoo tertawa kecil menatap Suzy yang berbicara sendiri.

“Yak Myungsoo-ah.. di sini dingin.. bagaimana kalau kita mengajaknya pulang?” Usul minho.

“Neo micheosseo? Bukankah dia membenciku?” Sahut Myungsoo sarkastik seraya menyentil kepala Minho. Minho terdiam lalu bangkit berdiri.

“Aku mau pulang. Di sini dingin.” Minho melangkah cuek sambil memasukkan kedua tangannya di kantong celana. Meninggalkan Myungsoo yang sama sekali tak peduli dengannya.

Minho sudah menghilang dan Myungsoo masih mengawasi Suzy yang terlihat menguap lebar. Tak ada selimut di musim dingin. Apakah gadis itu tidak kedinginan? Bukankah salju sebentar lagi akan turun?

Myungsoo membongkar tasnya di balik semak. Mencari benda hangat itu. Dapat! Myungsoo mengambilnya dan mulai berjalan menghampiri Suzy yang sudah tertidur. Seperti malaikat.

Myungsoo mengusap wajah porselen Suzy lalu perlahan menjalar di bulu mata lentiknya. Halus. Myungsoo tersenyum damai. Tersirat sesuatu. Jarinya lalu turun di atas bibir merah Suzy. Tak ber make up. Lipstik sekalipun. Overawe.

Jari Myungsoo berhenti. Lama menyentuh bibir Suzy.

“Beruntung sekali aku..” gumam Myungsoo tanpa melepaskan jemarinya.

“Kau tahu? Aku tidak menyesal melakukan itu.” Myungsoo tertawa ringan, pelan, halus.

“Bukankah dengan begitu.. kau akan selalu di sisiku? Seperti lem yang akan selalu menempel erat.” Myungsoo melepaskan jarinya dari bibir Suzy dan menutupi tubuh Suzy dengan selimut yang dibawanya.

“Kau seperti kertas putih. Aku seperti kertas hitam. Lalu kejadian itu adalah lem. Lem yang merekatkan kita. Sampai kapan huh?” Myungsoo tersenyum lalu wajahnya perlahan mendekat. Ia mengecup bibir Suzy tanpa beban.

“Hukum aku.. kumohon..” ucap Myungsoo dalam.

Tiba tiba Suzy bergumam tidak jelas. Bermimpi. Bergumam dalam mimpi.

“Myungsoo-ssi.. aku akan membunuhmu..”

“Perlahan..”

“Lahan..”

Ekspresi Myungsoo mendadak berubah. Ia merasakan aura menusuk saat Suzy mengatakan itu.

Dari balik semak, Minho menggeram. Ia belum pergi dari sana. Ia melihat semuanya.

“Apakah kau sedang berpura pura tidak tahu, Myungsoo-ah?” Gumam Minho dengan tangan mengepal.

***

Suzy terbangun saat benda halus dingin menyapa wajahnya. Tidurnya sangat nyenyak hingga tak menyadari pagi tiba.

Suzy langsung bangkit. Menatap ke sekeliling. Tak ada siapapun. Lalu matanya menangkap selimut tebal yang menyelimutinya. Hangat. Suzy tersenyum lalu menghirup aroma selimut itu. Suzy seperti pernah menghirup aroma tak asing ini. Kening Suzy mengerut. Ia menggeleng lalu merapatkan selimut itu ditubuhnya. Sangat dingin tapi mengapa di sini hangat? Suzy mendongak ke bawah bangku. Matanya membulat melihat ada api unggun yang tak terlalu besar tapi cukup menghangatkan. Suzy tersentak. Ia mengedarkan pandangannya, mencari orang yang telah melakukan itu semua. Suzy yakin, orang itu baru saja pergi saat Suzy terbangun karena apinya yang tampak masih baru menyala.

Suzy lalu bangkit dan membereskan semuanya. Mematikan api dan menaruh selimut itu di sana. Meninggalkannya dengan sejuta tanda tanya. Siapa?

***

Myungsoo tersenyum mendapati Suzy yang pergi. Ia lalu keluar dari tempat persembunyian hendak mengambil selimutnya. Namun tak sampai ia melangkah membuntuti Suzy lagi, Minho sudah berada di hadapannya, menghadangnya dengan tatapan tajam.

“Yak mwoahaneungoya?” Sembur Minho tanpa senyum.

Myungsoo membesarkan matanya yang tampak lelah. Yah, ia tidak tidur semalaman karena menjaga Suzy.

“Wae?”

“YAK MWOAHANEUNGOYA?!” Bentak minho keras hingga urat wajahnya terlihat. Ia mencengkram bahu Myungsoo keras. Meremukkan.

“Yak kau kenapa?!” Myungsoo berusaha melepaskan cengkraman Minho namun tenaganya sudah terkuras habis. Ia menyerah. Tanpa kata, Minho langsung melayangkan tinjunya ke wajah Myungsoo. Karena Myungsoo tak melawan, Minho terus melemparkan pukulan bertubi tubi ke wajah dan tubuh Myungsoo.

Myungsoo tersungkur. Wajahnya lebam. Mulutnya mengeluarkan darah. Tapi ia masih enggan melawan. Ia mengerang kesakitan. Memegang perutnya yang ditonjok brutal.

“Yak kau lebih baik mati!” Minho menendang wajah Myungsoo lalu pergi begitu saja.

Myungsoo tersenyum. Masih berusaha mengeluarkan sepatah kata.

“Ka-kau.. te-tetap.. te-manku..”

Langkah Minho berhenti. Tangannya mengepal. Ia mendengarnya.

“Tapi kau bukan temanku lagi..” Minho lalu melangkah pergi. Myungsoo menatapnya. Kabur. Pandangannya mulai kabur. Salju turun mengenai luka lukanya. Perih. Untung saja hari ini tidak hujan.

***

Suzy melangkah masuk ke dalam sebuah restauran. Suzy memilih menu lalu memesan Shinseolo. Suzy hanya punya uang untuk sekedar makan, tak ada penginapan. Uang saku pun baru akan dikirim bulan depan, tepatnya satu minggu lagi. Suzy harus menghemat.

Sambil menunggu, Suzy memainkan ponselnya. Mengecek pesan singkat yang masuk. Semalaman ia mematikannya. Ada pesan dari ayahnya yang menyuruhnya makan teratur. Namun yang membuat kening Suzy mengerut karena terdapat pesan dari orang tak dikenal. Pesan mengancam.

Aku akan membunuhmu!

Suzy tertawa renyah. Paling hanya orang iseng. Atau salah kirim. Suzy meletakkan ponselnya tatkala makanannya sudah datang. Campuran daging dan sayur sayuran yang dimasak dalam steamboat pot. Suzy menggigit bawah bibirnya. Sudah satu bulan ia tak memakan makanan kesukaannya itu. Sejak kepindahannya di asrama sinbi. Asrama malapetaka.

“Selamat makan..”

Suzy yang hendak menyantap dagingnya dengan sumpit langsung dikejutkan dengan seseorang yang berteriak di luar.

“YAK SUZY! AKU TAHU KAU DIMANA!”

Suzy berhenti menyumpit. Pandangannya teralih ke arah jendela. Sangat jelas seorang wanita dari balik kaca tengah berteriak histeris sambil mengangkat sebilah pisau. Suzy membelalak. Ia ingat wanita itu.

“YAK SUZY! AKU SELALU MENGAWASIMU!”

Suzy terlonjak. Ia hendak melangkah pergi, bersembunyi, namun wanita itu sudah berada di dalam restauran. Ia juga melihat Suzy.

“SUZY!!!!” Ia berlari menuju Suzy yang mematung dengan mata membesar. Semuanya berteriak histeris sembari berhamburan keluar. Tak ada yang berani mendekati mereka.

“YAKKK!!!!” Tiba tiba Minho muncul di hadapan Suzy, memeluknya erat dan sempat membisikkan sesuatu.

Pisau itu langsung menghunus daging di depannya. Menancapnya hingga darah menyembur keluar. Membasahi baju dan pisau yang tertancap. Suzy menjerit. Bukan.. bukan dia yang tertusuk. Tapi..

“MINHO-SSI!!!”

***

Annyeong!!!! Ancur kan? Begini nih kalo ff yang sempet ogah dilanjutin dan akhirnya dilanjutin. Jadinya yah hancur melebur gini huahahaha. Tapi biasanya juga hancur sih. Kalian juga pasti udah lupa dengan jalan ceritanya. Gheurae mianhae..
Kalau ingin dilanjut yah tinggalin jejak kalo gak yah silahkan jadi siders😉
Karena ff ini masih ragu bakal aku lanjut, udah gak nge feel gara gara lama gak ditulis. jadi nantinya aku hanya akan posting oneshoot atau bikin ff chapter baru
Gheurae mianhae untuk semua kesalahan kesalahannya.

So?

RCL!!!😄

BOW~

92 thoughts on “FF School in Obsessions PART 2

  1. Si myung udah ada rasa k.zy tp syang zy mlah dendam sm myung
    Ada untung.a jg myung nglakuin itu k.zy, q sndiri mlah sneng ktimbang myung nglakuin itu k.soo jung mnding kan k.zy .. Lol kkk
    Siapa yg neror zy??
    Nih ff mkin ksini mkin keren trus bkin kepo jg knapa tuh anak2 ga ada yg bner

  2. bingung mau comment apa karna aku aja bingung ama yg aku baca unn , masih kurang ngena ke otak ._.
    tapi gapapa karna aku makin penasaran🙂

    unni JANGAN LUPA bales inbox aku😀

  3. Myung udah mulai suka ya sama suzy?🙂 myung pehatian bnget sampai rela gak tidur hanya demi menjaga suzy (y)
    mwoya minho kenapa? Dia kelihatan sangat marah, apa mungkin minho jg punya perasaan sm suzy?

    Omo siapa yeoja itu? Dia benar2 nekat… Minho..tertusuk :O

  4. Wanita itu siapa? Ada hubungan apa sama suzy? Penasaraaaannn
    trus apa yg dibisikin minho??

    Apa myungsoo mulai menyukai suzy nyampe rela ga tidur demi jagain suzy^^

  5. Rumit banget deh kayanya. Myungsoo perhatian yah. Sampe rela nggak tidur cuma buat ngejagain suzy. Ih itu minho nya kenapa ? Dia juga suka suzy. Minho ngelindungin suzy. Sampe rela ketusuk. Itu cewek sebenernya siapa ?
    Kenapa nggak ada polisi sih ?

  6. Omonaaaaa eon aku readers baru muu #ciehh dan aku cuma baru baca ff mu yg ini doang hehe uwaaahh baru baca aja udh lngsung lopelope ama ni ff. Kisahnya menarik bgt aku suka, apalagi karakter myungsso and suzy disini beda bgt😀

  7. Baru baca ff nya.. Part 1 nya ketinggalan..
    Masih belum ngerti dg ceritanya, knapa minho tega mukul yeoja..
    Hmm..

  8. huaa ff.a kereeen thorr.. btw ada cinta segitiga yahhh… trusss kira2 spa yang neror suzyyy…. makin penasara.. lanjut thorr

  9. apa maksudnya minho sih? kenapa dia membabi buta pada myungsoo dan melindungi suzy? menyukai suzy? tapi.. masa iya?😮
    dan.. kenapa myungsoo seolah tau takdirnya?😮

  10. geu yeoja nugu??😮 ko beringas amat maen tusuk aja..
    agak bersyukur juga sih myung ngelakuin itu ke suzy? coba klo sampe ke soojung,wua andwe… *LOL*
    ko jinri aneh gitu? minho juga kaya ketakutan gitu ngliat jinri..minho suka sama suzy ya?? sampe sigitu musuhinnya sama myungsoo

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s