FF Calalini (Oneshoot)

image

Title: Calalini
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Thriller, Psychology, etc.
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae suzy, Choi Minho
Sub Cast: Park Jiyeon, OC’s and etc.
Length: Oneshoot

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Read!!!!!: FF ini terinspirasi dari lagu Calalini – Kaai Yuki!

Happy Reading!

***

Tik Tok! Tik Tok! Tik Tok!

Suara detak jam dinding yang berdiri di sudut ruangan menyalakan suasana yang sedari tadi hening. Gelap. Jam itu menunjukkan pukul 01.23 malam. Saat tengah malam. Tak ada siapapun yang berlalu lalang saat saat itu.

Seorang gadis berumur 23 tahun, tengah meringkuk dibalik selimut. Sesekali menggumam tidak jelas. Ia tampak ketakutan. Badannya menggigil gemetaran. Matanya sangat mengantuk, tapi ia tak bisa menutup matanya. Sekali saja ia memejamkan mata, maka ‘mereka’ akan mengganggunya, meneriakinya dengan segala macam umpatan. Cacian. Makian. Sumpah serapah. Dan kata kata memuakkan lainnya. Ia sangat takut hingga harus menuruti semua keinginan ‘mereka’, jika tidak maka.. sangat menggelikan untuk diceritakan.

Suara ketukan yang cukup teratur membuat gadis itu beranjak. Ia berteriak mengusir ‘mereka’ yang sedari tadi bersuara tak henti henti.

‘Kau harus membunuhnya..’ bisik bisikan seperti itu yang selalu gadis cantik itu dengar. Setiap malam. Setiap detik hidupnya. Hingga ia merasa ingin mati saja. Tapi..

“Suzy? Gwaenchana?” Wanita parubaya yang tak lain adalah Ibu dari gadis bernama Suzy itu langsung memeluk anaknya yang terlihat pucat, ketakutan.

“Kau tak bisa tidur lagi?”

Suzy mengangguk lalu detik kemudian menggeleng.

“Mwo?”

“Aku.. hanya takut..” jawab Suzy datar.

Wanita berumur 40-an itu tersenyum hangat seraya mengelus lembut pundak anaknya.

“Suzy.. kalau tidak bisa tidur, lebih baik kau meminum ini..” wanita itu menyerahkan dua botol obat berukuran sedang. Disana tertulis ‘Obat Anti-depressan dan Sleep Pill‘. Apakah eommanya sedang berfikir bahwa Suzy tengah depresi hingga tak bisa tidur? Yah, tepat sekali! Tapi eommanya tak tahu hal yang membuatnya depresi.

“Gomawo..” Suzy berusaha tersenyum. Jangan pergi Eomma.. Aku tak mau bertemu mereka lagi..

Suara hati Suzy berteriak. Namun sayang, Eommanya sudah meninggalkanya, kembali ke kamar. Dia sendirian sekarang. Ah.. tidak. Dia tidak sendiri ‘Mereka’ selalu ada.

Suzy menggigit bibir bawahnya takut. Langkahnya berat. Berat untuk menutup pintu di depannya dan kembali ke kasur. Kembali mendengar celotehan mengerikan ‘mereka’.

‘YAK SUZY! JANGAN TIDUR! KAU HARUS MENDENGARKANKU!’

‘AKU JUGA!’

‘AKU JUGA!’

“HAAHHHH” Suzy meremas kepalanya dan membanting pintu.

“MWOYA?!!”

“MWOYAAA?!!!” Suzy melempar serampangan botol obat yang tadi diberikan eommanya. Ia ingin ‘mereka’ merasakan kesakitan seperti yang ia rasakan. Yah, dengan melempari mereka dengan barang barang. Tapi sama sekali tidak berhasil. Mereka hanya halusinasi. Mereka banyak. Dua ratus lebih. Mereka membentuk sebuah pulau halusinasi. Pulaunya bernama ‘Calalini’. Bagus kan? Tapi mereka sama sekali tak ada bagus bagusnya. Mereka hanya menghasut, mengancam dan menyiksa secara batin. Merusak moral Suzy.  Dan kalian tidak akan bisa melihat ‘mereka’. Hanya dia yang bisa melihatnya. Hanya dia.. Bae Suzy. Gadis berumur 23 tahun yang menderita Schizophrenia.

***

Suzy berjalan sambil membawa pisau ditangannya. Pisau yang sudah dipakainya tadi. Saat jam dinding menunjukkan pukul 02.00 tepat. Terdapat bekas darah di sekeliling pisau daging itu.

Suzy membuang pisau itu ke dalam tanah yang sudah ia gali lalu menguburnya. Tanah yang sering ia gunakan untuk mengubur pisau yang telah dipakainya.

“Yak aku lelah membunuh penjahat penjahat itu.. bagaimana kalau aku tertangkap huh? Apakah kalian mau bertanggung jawab?” Suzy merebahkan dirinya di atas tanah, bersandar di bawah pohon.

Mereka tidak menjawab. Hanya berteriak tidak jelas. Tentang hal hal menjijikan yang merusak mental.

“Yak hentikan! Aku sudah bosan mendengar celotehan kalian!” Suzy berdiri seraya melempar kapak yang dipegangnya. Matanya memerah. Dia seperti setan yang bergentayangan di waktu subuh. Pukul 04.35 subuh, namun Suzy masih berkeliaran mencari penjahat malang yang akan di bunuhnya. Membunuh secara diam diam, saat penjahat itu lengah. Sudah setahun, tapi tak satupun aparat yang berhasil menangkap Suzy. Suzy selalu tahu cara melarikan diri dan bersembunyi. Menghilangkan jejak. Para polisi pun tampak lega karena penjahat yang semakin berkurang. Tapi apakah ‘mereka’ sebaik itu mengurangi penjahat?

“Aku mau pulang dan kuliah besok. Jangan ganggu aku, NE?!” Bentak Suzy di akhir kata. Tanpa meminta jawaban, Suzy berjalan pulang. Kapak tadi ia tinggalkan di sana. Kebun terpencil. Kebunnya sendiri. Kebun yang sering ia tanami bunga mawar. Tak ada yang mengetahui bahwa dibalik banyaknya mawar di kebun cantik itu, ternyata terkubur pisau pisau tajam dibawahnya.

***

Kening eomma Suzy mengerut, melihat lima gelas kopi yang terletak di atas meja belajar Suzy. Bukankah batas wajar mengonsumsi kopi hanya tiga gelas sehari? Mengapa Suzy sebegitu nekatnya meminum kopi diluar batas?

Wanita paru baya itu menggeleng ringan, mencoba mengerti keadaan anaknya yang insomnia. Ia harus meminum banyak kopi agar bisa terjaga di pagi hari. Apalagi saat ini, Suzy sudah harus mempersiapkan skripsinya. Jadi harus lebih total.

***

Suzy terduduk santai di bangku taman. Tampak membaca sesuatu. Sebuah buku psikologi.

“Bukankah mengherankan seorang calon psikolog, ternyata menderita penyakit aneh? Schizophrenia.. cih.. bahkan setelah tahu.. sifatku tidak juga berubah.. bahkan mereka semakin merajalela..” decak Suzy seraya membaca halaman tentang penyakit Schizophrenia. Dituliskan bahwa, Schizophrenia merupakan penyakit psikotik dan kronis (menahun) dimana penderita memiliki kelainan otak yang membuatnya menafsirkan kenyataan
secara berbeda dan  memiliki gangguan dalam memproses pikirannya sehingga timbul halusinasi, delusi, pikiran yang tidak jelas dan tingkah laku dan bicara yang tidak wajar serta menyimpang. Ciri cirinya yakni, penderita tidak bisa membedakan antara kondisi yang nyata dan yang tidak nyata (halusinasi), biasanya juga berhubungan dengan masalah kecemasan (anxiety), depresi (depression), bahkan menjadi pencetus keinginan bunuh diri (suicidal), sangat sensitif perasaannya dan tidak stabil (Irritable or tense feeling), tidak bisa fokus dan berkonsentrasi, Susah bahkan tidak bisa tertidur (Insomnia), dan pada tahap selanjutnya mengalami gangguan berpikir, perasaan, bahkan gangguan/kelainan tingkah laku (behavior), seperti:
mendengar dan melihat sesuatu yang tidak nyata (halusinasi), terisolasi dari dunia nyata,
kehilangan perasaan atau empati terhadap orang lain, bahkan delusion (keyakinan terhadap sesuatu yang tidak nyata), kalau berbicara meloncat-loncat dengan topik yang tidak saling berhubungan (loose associations).

Saat Suzy tengah asyik meneliti penyakitnya sendiri, tiba tiba seorang pria dengan kemeja abu abu, menghampiri Suzy dan langsung duduk di sampingnya.

“Apa judul skripsimu?” Tanyanya sembari melirik bacaan Suzy.

Suzy tersenyum simpul menatap pria di sampingnya. Kim Myungsoo. Pria dengan wajah dingin dan selalu serius. Tapi pria introvert ini adalah temannya. Orang yang mengetahui segala hal tentangnya. Tentang schizophrenia nya yang mengganggu. Yah, bahkan pria inilah yang pertama kali memberitahunya bahwa ia memiliki penyakit schizophrenia, karena Myungsoo sering melihat Suzy berteriak dan berhalusinasi sendiri. Tapi sayangnya, Suzy masih belum sembuh dan makin tak bisa membedakan kenyataan dan khayalan. Dan yah.. siapapun akan jatuh hati pada pria ini. Begitupun dengan Suzy.

“Aku belum menentukan. Masih mencari cari di dalam buku ini..”

Myungsoo mengangguk paham lalu segera mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah buku tentang pengobatan penyakit kelainan.

“Disini ditulis.. bahwa untuk sembuh.. kau harus menjalani terapi..” ujarnya serius. Suzy tersenyum geli. Hei! Siapapun tahu hal itu! Setiap sindrom ataupun kelainan harus diterapi. Yah, Suzy sudah melakukan semua yang ada di dalam buku, tapi tak juga berhasil. Mereka semakin merajalela bahkan.

“Ne. Nan arrasso..” ejek Suzy lalu kembali menatap bukunya.

“Schizophrenia adalah kondisi kronis yang membutuhkan penanganan seumur hidup. Meskipun gejalanya sudah mereda, penderita masih memerlukan bantuan obat-obatan dan terapi. Gejala schizophrenia baru akan mereda setelah beberapa minggu pengobatan. Obat-obatan
digunakan untuk mengontrol gejala schizophrenia yang muncul. Terapi juga sangat dibutuhkan. Beberapa jenis terapi yang bisa dilakukan misalnya terapi keluarga, terapi individual, pelatihan kemampuan bersosialisasi, dan
rehabilitasi kemampuan bekerja.” Ujar Myungsoo panjang lebar seraya menatap fokus buku  setebal novel legendaris terjemahan di depannya.

“Yak! Aku sudah melakukan itu semua! Kheundae wae mereka tetap saja muncul eoh? penghuni Calalini bahkan selalu saja menghantuiku. Dan.. mereka sedang menatapku sekarang.. apakah kau melihatnya?”

Myungsoo menggeleng datar. Suzy tampak salah tingkah lalu mulai mengganti topik.

“Jadi apa judul skripsimu?” Tanya Suzy kemudian setelah jeda lima detik.

“Penderita schizophrenia dan penyakit kejiwaan lain yang saling berhubungan..”

Suzy tersentak, menatap Myungsoo dengan mata melebar.

“Mwo?”

“Jadi bisakan aku mewancaraimu?” Suzy tertegun sampai akhirnya mendecak marah.

Myungsoo tak berperasaan. Pria dingin tetap saja dingin. Bisakah Suzy menghangatkan hati pria ini? Ah.. jangan harap..

Suzy berdiri dari kursi dan berjalan pergi tanpa kata. Marah. Yah, kata yang menggambarkan Suzy saat ini.

“Suzy! Kau marah?!” Teriak Myungsoo yang tak juga menghentikan langkah Suzy.

“SUZY!”

***

Suzy tertawa renyah mendengar ‘mereka’ berteriak.

‘BUNUH DIA!’

“TIDAAAAKKKK!!! YAK KALIAN TIDAK NYATA!!!” Suzy menjerit. Tak menyadari hampir semua orang yang ada di sana memperhatikannya. Dasar gila! Begitulah umpatan yang Suzy dengar. Tapi Suzy tetap menjerit. ‘Mereka’ tak mau berhenti meneriaki kalimat itu.

‘BUNUH DIAAA!!’

‘BUNUH DIAA!!!’

‘BUNUH DIAAAAA!!!’

“YAK APAKAH KAU MELIHAT MEREKA?! APAKAH KAU MELIHAT MEREKA?!” Suzy mengguncangkan tubuh seseorang yang tak dikenalnya, tapi orang itu malah mendorong Suzy dan mengejeknya.

“Dasar gila! Apa yang kau lihat?” Mereka mencibir. Menertawai mahasiswa psikologi itu yang ternyata butuh perawatan di rumah sakit jiwa. Seorang mahasiswa psikologi? Ck.. jangan bercanda..

“HAHHHHHH!!! PERGI KALIAN!” Nafas Suzy terengah engah. ‘Mereka’ tertawa sekarang. Mereka tertawa tatkala satpam kampus menarik Suzy dari sana.

“Sadarlah agassi!” Satpam itu menepuk pipi Suzy pelan yang sontak membuat mereka menghilang. Suzy menahan nafasnya beberapa detik saat momen momen bisu ketika mereka menghilang. Suzy tersenyum tak percaya.

“Gomawo..” gumam Suzy dengan airmata yang mulai mengalir. Ia sangat lega karena mereka akhirnya menghilang.

“Gwaenchana?” Satpam berbadan tegap itu terlihat bingung.

“Ne..” gumam Suzy serak lalu beranjak pergi begitu saja. Di belakang, satpam itu terlihat makin kebingungan. Matanya makin membelalak tatkala melihat Suzy tampak memukul mukul pipinya sendiri. Menyakiti dirinya sendiri.

“Yak agassi!” Si satpam akhirnya menghampiri.

“Apa yang kau lakukan?!” Pekik satpam itu sambil berusaha menahan tangan Suzy untuk menghentikan aksi ganjilnya.

“Mereka akan menghilang kalau aku menyakiti diriku sendiri..” Suzy tersenyum dalam tangis. Ekspresi yang sangat mengerikan. Pak satpam sontak berhenti. Ia juga ketakutan melihat tingkah aneh Suzy.

Suzy akhirnya meninggalkan tempat itu, masih memukul mukul wajahnya sendiri.

“Kalian puas sekarang?! Puas hah?!!”

***

Tepat pukul 7 malam, Suzy dengan topeng sirkus dan jubah besar panjang sampai ke lutut, sambil memegang sebuah sabit besar, melangkah ke sebuah sekolah. Sekolah yang ‘katanya’ salah satu dari mereka pernah bersekolah di sana. Namanya Bae Ahyeon, dia adalah salah satu dari halusinasi itu. Dia meneriaki Suzy sedari tadi. Suzy lelah bertemu ‘mereka’. Tapi Suzy lebih lelah memukul dirinya sendiri. Sangat menyakitkan.

Ahyeon menyuruhnya untuk membunuh Park Jiyeon. Gadis SMA, kelas 3. Gadis yang sedang menempuh kelas tambahan untuk mempermantap diri dalam menjalani ujian akhir nanti. Nasib, Murid kelas tambahan wajib pulang malam. Sekitar pukul 10 malam.

Suzy masih berjalan. Ia mendengus kesal karena terus menerus mendengar suara Ahyeon dan penghuni Calalini lainnya.

Suzy langsung bersembunyi begitu melihat gadis tinggi dengan make up tebal, berjalan terburu buru masuk ke dalam kamar mandi.

‘Dia Park Jiyeon.. BUNUH DIA!’

Suzy mengangkat sabitnya tanpa perasaan. Seakan sifatnya diubah seratus delapan puluh derajat oleh halusinasinya sendiri.

Saat Jiyeon keluar dari kamar mandi, Suzy langsung mengayunkan sabitnya ke leher Jiyeon. Tak membutuhkan waktu lama untuk memisahkan kepala Jiyeon dari tubuhnya. Kepalanya dengan mata melotot itu terlempar ke dalam kamar mandi. Tubuhnya tersungkur ke lantai. Darah terus menyembur dari saluran saluran nadi lehernya. Tubuhnya menggeliat tak karuan bersama darah yang terus mengalir dari kepalanya yang terputus. Darahnya sempat terpercik ke topeng sirkus Suzy. Tak ada teriakan yang keluar. Mati begitu saja.

“Bagaimana Ahyeon-ah?” Ucap Suzy dengan ekspresi mengerikan, menatap intens tubuh Jiyeon yang kini kaku bersama darah yang membanjiri tempat itu.

Ahyeon tak menjawab. Suzy segera beranjak dari sana. Teriakan tiba tiba membahana dari sekolah itu yang membuat senyum Suzy makin mengembang.

***

Suzy membaca koran pagi ini. Tentang sosok bertopeng yang sempat tertangkap CCTV. Aksinya tidak terekam karena sosok itu merusak CCTV nya sebelum beraksi. Begitu pula pada aksi sebelumnya. Namun, aksi sebelumnya terekam CCTV jalan sehingga berita tentang sirkus maut dengan cepat beredar. Tapi saat berita itu beredar, sirkus maut sudah tidak pernah membunuh penjahat lagi, melainkan murid murid yang tidak bersalah. Tampaknya polisi sudah menyerahkan kasus ini kepada detektif handal. Choi Minho.

Foto Jiyeon yang mengenaskan di blur, membuat Suzy mendesis.

“Foto seperti ini seharusnya tak perlu di blur..” gumamnya seraya melempar koran itu ke atas meja makan.

Suzy meneguk kopinya yang ke lima lalu beranjak pergi.

“Eomma.. aku berangkat!”

Tak ada sahutan. Suzy mengangkat bahu cuek lalu melengos pergi.

Eomma Suzy lalu muncul dari atas tangga. Wajahnya terlihat ketakutan.

Benda ditangannya terjatuh. Sebuah amplop milik Suzy yang tersimpan rapat rapat di bawah kasur. Eommanya menemukannya. Isi yang sangat mengejutkannya.

“Suzy..” eommanya terisak. Tubuhnya terjatuh. Ia merasa lemas sekarang.

“Wae?”

***

Saat Suzy akan melangkah masuk ke dalam kampus, langkahnya tiba tiba dihentikan oleh seorang pria. Pria dengan pakaian hitam hitam. Seperti detektif.

“Annyeong..” pria itu menepuk pundak Suzy dan menyapanya. Matanya memicing. Seolah mencurigai Suzy.

“Ne?” Sahut Suzy datar.

“Apakah ini Fakultas Psikologi?” Tanyanya serius.

Suzy mengangguk. Agak takut.

“Ghamsahamnida. Namaku Choi Minho. Detektif Choi.” Pria bernama Minho itu memperlihatkan kartu namanya. Suzy meliriknya sebentar lalu mengangguk polos.

“Wae?” Tanya Suzy menyelidik.

“Aku ingin bertemu dengan Psikiater Song.”

“Untuk apa?”

“Untuk bertanya sesuatu”

“Sesuatu apa?”

Minho mendesis kesal. Kenapa wanita ini bertanya terus? seperti detektif saja! Hei! Dialah detektifnya sekarang!

“Kau tak perlu tahu..” Minho merampas kartu namanya dan berlalu dari sana.

Suzy terkesiap. Bisikan bisikan ‘mereka’ mulai terdengar.

‘BUNUH DIAAAAA!!!’

“ANDWAE! YAK ANDWAE! DIA BUKAN PENJAHAT!” Bentak Suzy pada halusinasinya.

Dari ujung sana, Myungsoo tersenyum sambil melambai ke arahnya. Apakah dia melihat tadi?

Suzy yang ingin membalas lambaian itu sontak mengurungkannya. Ia memalingkan wajahnya lalu beranjak.

Mimik Myungsoo kembali berubah dingin. Tangannya melemas.

“Mwo? Jeongmal?” Myungsoo tersenyum simpul.

“Baiklah..”

***

“Jadi ini daftar nama nama calon psikiater..” gumam Minho sambil membaca selembar kertas di depannya. Terdapat nama nama mahasiswa jurusan psikologi.

“Bae Suz..” alis Minho bertaut.

“Itu namaku!” Suzy muncul tiba tiba yang sontak membuat Minho terlonjak.

“Yak mwoahaneungoya?”

Suzy tersenyum menatap sekeliling. Tak ada siapapun di ruang olahraga itu.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Suzy curiga seraya mendongak. Menatap Minho dengan mata besarnya.

“Aku adalah seorang detektif dan tugasku adalah mencari teka teki. Dan kurasa kau tak perlu tahu teka teki itu..” jabar Minho sinis.

Suzy mencibir.

“Gheurae wae.. kau menyebut namaku huh?”

Minho mendecak.

“Karena aku pernah mendengar nama itu.. hanya itu..”

“Eoddie?”

Minho mendesis. Menatap Suzy sebentar lalu berjalan meninggalkannya.

“Yak detektif! Jangan membuatku membunuhmu!” Teriak Suzy yang sontak membuat Minho berhenti. Ia berbalik dengan wajah tegang. Luar biasa tegang.

“M-mwo?” Suara Minho seperti tak ada daya.

“Mereka menyuruhku untuk membunuhmu..” Suzy tersenyum simpul lalu senyum itu mengembang menjadi sebuah senyuman mengerikan. Seperti psikopat.

Terdengar nafas Minho yang naik turun. Ia membatu. Terpaku.

“Gwaenchana?” Suzy bertanya seperti tak ada yang terjadi.

Minho akhirnya tersadar. Ia menggaruk tengkuknya, merasa situasi ini sangat aneh.

“Kau.. berkata apa tadi?” Minho berpura pura tak tahu. Padahal ia yakin. Seratus persen yakin dengan apa yang didengarnya.

Suzy menggeleng.

“Sayang sekali.. aku tidak berkata dua kali..” Suzy kini berjalan maju. Lalu meninggalkan Minho yang terbengong bersama pikirannya yang sedang berperang sekarang. Melawan segalanya.

“Bukankah dia adalah.. Bae Suzy?” Minho memegang dadanya. Sakit. Ia hampir saja tersungkur, namun ia berusaha bangkit, menahan tubuhnya. Minho tertawa, tapi.. airmatanya mengalir.

“Bae Suzy huh?”

“Minho-ah! Ada nyonya Bae yang ingin bertemu denganmu!” Panggil wanita berumur 45 tahun kepada pria bernama Minho yang tengah sibuk di dapur, memasak sesuatu untuk Eommanya.

“Ne?” Minho melepas celemeknya dan menghampiri Eommanya. Ia membungkuk tatkala melihat ada tamu.

“Wae Eomma?” Minho melabuhkan dirinya di samping eommanya.

“Ini adalah nyonya Bae.. calon mertuamu kelak.. nyonya Bae datang ke sini karena Eomma yang memanggilnya.. tak lain karena kesehatan eomma yang memburuk jadi tak bisa keluar. Seharusnya kita lah yang bertamu ke rumahnya-“

“Ah.. gwaenchana..” sela Nyonya Bae ramah.

Eomma Minho tersenyum sayu lalu melanjutkan ucapannya.

“Nyonya Bae adalah sahabat Eomma. Karena Eomma cemas melihatmu tampak tak pernah menggandeng pacar di usiamu yang hampir menginjak kepala tiga, maka eomma ingin menjodohkanmu dengan putri Nyonya Bae.. saat Bae Suzy lulus kuliah, kalian akan menikah..”

Minho tersenyum santun lalu mengangguk sopan.

“Ne.. aku terima semua yang eomma berikan.. sepertinya.. putri nyoya Bae sangat cantik, karena ibunya sendiri sangat cantik diusianya sekarang..” ujar Minho tulus.

“Eotthokhae?”

“Tersangka sebenarnya adalah.. wanita.. yang..” Minho terdiam sesaat. Namun.. aneh. Ia malah tertawa keras. Sangat keras hingga terasa aneh. Tapi airmatanya masih mengalir.

***

“SUZY!”

Suzy menoleh ke arah pria yang memanggilanya. Kim Myungsoo. Suzy mengembungkan pipinya malas. Tepatnya pura pura malas.

“Wae?” Sinis Suzy.

“Memangnya kenapa kalau aku menyapamu? Tidak boleh?” Balas Myungsoo tak kalah sinis. Suzy mengerjap. Yak!

“Yak! Masih mau menyuruhku membongkar aib sendiri?!” Bentak Suzy diselingi candaan. Ia tak sepenuhnya marah kepada Myungsoo. Seharusnya ia maklum dengan kepribadian Myungsoo yang sedikit tertutup. Padahal Suzy sudah buka bukaan sejak awal. Itu tak lain karena Suzy menyukai Myungsoo sejak semester awal.

Myungsoo tertawa pelan lalu menggeleng.

“Aniya..”

“Gheurae.. apakah kau mau mengubah skripsimu?” Suzy menarik Myungsoo duduk di bangku taman bersamanya. Mereka tak menyadari kehadiran Minho di balik semak.

“Aib sendiri? Apa maksud Suzy?” Gumam Minho penasaran.

“Aniya..” jawab Myungsoo dengan senyum simpul yang terlihat aneh.

Suzy terkesiap.

“Gheurae?’

“Aku tak akan mewancaraimu..”

“Gheu..rae? Nu..gu?” Tanya Suzy sangsi.

“Nanti kalau sudah jadi.. aku akan memberitahumu..” Myungsoo mengulum senyumnya.

Suzy memicing.

“Mencurigakan..”

Tawa Myungsoo langsung meledak yang membuat Suzy mengerucutkan bibirnya.

“Apa yang sedang mereka bicarakan?” Minho mendesah gelisah. Haruskah ia menangkap Suzy sebagai tersangka pembunuhan Jiyeon dan penjahat penjahat lain? Psikopat yang ternyata adalah calon psikiater?

“Andwae..” Minho meremas rambutnya frustasi. Baru kali ini ada kasus yang tak bisa ia ungkapkan. Meski ia sudah tahu siapa pelaku itu. Padahal kepolisian Korea sudah sangat memercayai Minho yang notabenenya sudah banyak memecahkan kasus besar.

“Aku harus membatalkan kasus ini.. aku.. tak mungkin mengecewakan eomma yang percaya seratus persen pada nyonya Bae..”

***

Suzy tersenyum kaku menatap pria yang duduk di sofa ruang tamunya. Pria dengan mata besarnya. Pria dengan seragam hitam hitamnya. Seragam detektifnya.

“Ini pria yang eomma ceritakan kemarin.. tampan kan?”

Suzy menatap intens Minho. Lalu matanya lama kelamaan memicing.

“Suzy?” Eomma Suzy tertawa seraya melambai lambaikan tangannya ringan ke depan wajah Suzy.

“Wah.. Suzy sampai terpesona oleh ketampananmu..” ujar Nyonya Bae tulus.

Suzy lantas menggeleng. Ia melihat ‘mereka’ berada di belakang Minho. Mereka masih berteriak.

‘BUNUH DIA!’

‘BUNUH DIA!’

‘BUNUH DIA!’

“ANDWAE!!!!!” Mata Suzy melotot. Ia berdiri dari kursinya dan melangkah mundur. Wajahnya ketakutan. ‘Mereka’ terlihat mencekik Minho dan Suzy melihat leher Minho sudah terpisah dari badannya.

“HAHHHH!!!!!!” Suzy menangis histeris. Minho dan Eommanya mendadak panik.

“Suzy?”

“Yak Suzy!”

“Kalian jahat! Jangan bunuh teman eomma!”

Minho memicing. Ada yang tak beres. Pria itu menghampiri Suzy dan menamparnya keras.

Suzy terkesiap. Matanya celingak celinguk mencari sesuatu. Tapi ‘mereka’ tiba tiba menghilang. Suzy perlahan tertawa. Tawa mengerikan seperti biasa.

“Lakukan lagi.. mereka menyukainya..” Suzy menatap Minho antusias.

Minho menggeleng tegas.

“Neo wae?!” Bentak Suzy sambil memukul mukul wajah Minho. ‘Mereka’ kembali muncul. Berteriak hingga mendengung masuk ke telinganya. Sangat keras. Mengganggu.

“KALIAN TIDAK NYATAAAA!!!”

Minho tertegun.

Ia tahu sekarang. Ia tahu apa yang terjadi pada Suzy. Minho langsung menarik Suzy ke dalam pelukannya.

“Tenanglah..” Minho menepuk nepuk pelan punggung Suzy yang anehnya membuat Suzy kembali tenang. Pandangan Suzy kembali datar ke arah ‘mereka’ yang kini membawa linggis panjang.

Eomma Suzy tersenyum dan diam diam meninggalkan mereka, membiarkannya lebih dekat. Meski dadanya sesak melihat Suzy yang terlihat kesetanan.

***

Minho tersentak membaca artikel di ponselnya. Tentang schizophrenia.

Pada beberapa kasus, serangan dapat meningkat menjadi schizophrenia kronis. Penderita menjadi buas, kehilangan karakter
sebagai manusia dalam kehidupan sosial, tidak memiliki motivasi, depresi, dan tidak memiliki kepekaan tentang perasaannya
sendiri. Halusinasi selalu terjadi saat rangsangan terlalu kuat dan otak
tidak mampu menginterpretasikan
dan merespon pesan/rangsangan yang datang. Penderita mungkin mendengar suara-suara atau
melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Penderita juga mengalami delusi, yaitu kepercayaan yang kuat dalam menginterpretasikan sesuatu yang kadang-kadang berlawanan dengan kenyataan. Meskipun penyebabnya masih belum jelas, tapi ada beberapa hal yang meningkatkan risiko munculnya schizophrenia. Faktor-faktornya antara lain :
1.Riwayat schizophrenia di keluarga.
2.Terpapar virus dan racun, atau mengalami malnutrisi ketika masih di rahim. Terutama di trimester pertama dan kedua.
3.Stres.
4.Mengonsumsi obat-obatan psikoaktif pada masa remaja dan dewasa muda.
5.Jarak umur yang cukup jauh dengan orang tua.

“Apakah Suzy memiliki riwayat schizophrenia di keluarga?” Minho berfikir sejenak lalu menggeleng sembari mencoret faktor pencetus pertama dengan S-pen nya.

“Suzy terpapar racun?”

“Hmm.. mungkin saja..” Minho mencontreng nomor dua.

“Stres?”

“Bisa jadi..” Minho kembali mencontreng nomor tiga.

“Nomor empat dan lima sepertinya tidak mungkin..” Minho mencoret keduanya.

“Jadi sebenarnya karena apa?” Minho meremas kepalanya. Pusing.

Tak sengaja Minho menjatuhkan sebuah dokumen yang menghamburkan kertas kertas di dalamnya. Saat ia hendak membereskannya, tak sengaja matanya mendapati sebuah kertas. Data data riwayat penderita gangguan kejiwaan di salah satu rumah sakit besar di Seoul. Ia sengaja meminta data data penderita penyakit kejiwaan pada rumah sakit dengan alasan penelitian, mereka pun memberikannya dan baru kali ini sempat ia baca karena kasus terdahulu sudah terpecahkan sebelum sempat ia baca. Di sana tertulis Jang Nami. Istri dari Bae Song Mook. Menderita schizophrenia sejak umur 10 tahun. Sembuh setelah lima belas tahun pengobatan. Pernah kambuh selama satu tahun dan kembali mendapatkan pengobatan selama satu bulan.

Jang Nami adalah eomma Suzy. Nyonya Bae.

“Jadi.. Nyonya Bae juga pernah menderita schizophrenia?”

Minho mendecak.

“Aigoo..” ia membenturkan kepalanya di atas meja.

“Aku bisa gila..”

***

Enam bulan kemudian..

Suzy terlonjak mendapati sebuah kotak besar berpita di depan rumahnya. Terdapat sepucuk surat yang terapit di pitanya.

Suzy tersenyum lalu membuka simpul pita itu secara perlahan dan mengambil surat putih-merah di atas kotaknya.

Annyeong Suzy..
Tebak.. siapa ini?

Suzy tertawa kecil lalu melanjutkan bacaannya.

Yah.. kau tak akan tahu sampai kau membuka kotaknya.

Selamat membuka.

Suzy menaruh surat itu di lantai dan mulai membuka kotak. Perlahan lahan. Oh! Ia merasakan jantungnya yang berdetak tak karuan. Dan..

Suzy sontak tercengang. Tubuhnya kaku selama beberapa detik sampai sebuah senyum simpul mengerikan terulas di bibirnya. Ia lalu mengambil kumpulan kertas yang dijilid, terletak di samping sebuah benda, hadiah sebenarnya. Kertas itu setebal skripsi.

Judul skripsi: Penderita schizophrenia dan penyakit kejiwaan lain yang saling berhubungan.

Narasumber: Kim Myungsoo.

Suzy tak sengaja mendapati sebuah surat yang terselip di tengah tengah skripsi.

Hei.. sudah tahu siapa ini?

Yah.. kau sadar sekarang? Saat aku membaca sebuah buku tentang schizophrenia aku mendapatkan sebuah kalimat bagus “Indikator premorbid (pra-sakit)
pre-schizophrenia antara lain
adalah ketidakmampuan seseorang dalam mengekspresikan emosi:
wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh. Pasien juga menderita
penyimpangan komunikasi: sulit melakukan pembicaraan terarah, kadang menyimpang atau berputar-putar (sirkumstansial). Gejala lainnya adalah gangguan
atensi: penderita tidak mampu memfokuskan, mempertahankan
atau memindahkan atensi” Aku memiliki sifat sangat tertutup dan sesuai dengan gejala di atas. Jadi bagaimana menurutmu?

Yah.. kita sama, bukan?

Aku memang dingin terhadap dunia luar. Bahkan sahabatku sendiri memberiku julukan ‘The North Pole’. Tapi sahabat satu satunya dan paling dekat denganku ini tak tahu masalah ini. Aku baru menyadarinya ketika melihat temanku yang ternyata memiliki keadaan yang sama denganku. Akupun mencari sesuatu tentang itu, tentang penyakit yang kami derita. Lainnya, temanku ini melihat sebuah pulau halusinasi bernama calalini yang dihuni banyak manusia keji. Sedangkan aku berhalusinasi melihat seorang wanita cantik tapi wajahnya dinodai dengan sifatnya yang jahat. Ketika dia berbuat jahat maka wajahnya akan berubah menyeramkan. Nama halusinasi itu mirip dengan sahabatku Bae Suzy. Mungkinkah mereka kembar? Ah tidak mungkin! Dia tidak nyata dan hanya mengganggu.
Aku tidak tahu awalnya aku menderita ini, tapi yang pasti.. aku tidak bisa sembuh. Ini mungkin akan berlangsung seumur hidup. Tapi tak mengapa, karena ada Bae Suzy yang asli. Karena kehadiran Bae Suzy asli lah yang bisa menghilangkan Bae Suzy psikopat itu. Jadi, ketika Suzy berada di dekatku.. aku bisa bernafas lega.

Mata Suzy tak berkedip selama beberapa detik sampai akhirnya ia melangkah ke halaman selanjutnya. Ia luar biasa terkejut sampai kehilangan kata kata.

Tapi saat Suzy mengirimkan sebuah undangan pernikahan..

Hatiku hancur..

Tes.. tes..

Airmata Suzy membasahi surat yang terselip di tengah halaman itu.

Makanya.. untuk menuruti Suzy yang psikopat.. aku memberikan Suzy sebuah kado pernikahan.

Bagaimana? Kau suka? Kalau kau suka temui aku di taman Pyongsang. Sarangheo..

Suzy menghapus airmatanya kasar dan tersenyum. Ternyata Myungsoo juga menyukainya. Ah.. bahkan mencintainya sampai menjadi candu.

“Gomawo.. Nado.. saranghaeo..” Suzy lalu membawa kotak itu ke dalam kamarnya. Ia tersenyum melihat hadiah unik di kotak itu. Kepala Minho dengan darah yang masih tersisa di beberapa sisinya. Hanya kepala. Matanya melotot. Menyeramkan. Apakah itu sebuah hadiah pernikahan? Atau hadiah pelamaran?

“Ah.. aku rasa kau sedang melamarku Myungsoo-ah.. baiklah.. aku akan menemuimu di sana..” Suzy menutup kotak itu dan segera beranjak. Ia tersenyum melihat ‘mereka’ tertawa. Hei! Aku punya teman sekarang! Teman senasib! Orang yang aku sukai!

Nyonya Bae melihat Suzy keluar dari rumah dengan ceria. Namun kontras dengan wajah Nyonya Bae yang terlihat sangat suram. Bahkan ia menangis. Surat ditangannya jatuh. Surat yang ia temukan di bawah ranjang Suzy. Surat waktu itu.

Calalini.. mereka adalah kumpulan penjahat, para pelaku kriminal. Mereka juga bercampur bersama orang mati yang kukenal. Eonnieku satu satunya, Ahyeon Eonnie juga termasuk dalam pulau itu, Ahyeon Eonnie yang meninggal saat masih SMA, katanya dia mati karena di dorong Jisoo Eonnie, kakak perempuan Jiyeon yang juga mati bunuh diri saat itu. Aku membaca buku diary Eonnie.. Jisoo dan Ahyeon sering bertengkar.

Ah.. appa juga termasuk. Appa mati karena dibunuh eomma. Saat aku berumur satu tahun dan eonnie berumur lima tahun. Eonnie yang melihatnya. Ia melihat eomma menusuk perut appa dengan pisau dan malah berkata palsu di depan polisi, bahwa eommalah yang ingin dibunuh appa. Tapi itu palsu. Eonnie melihatnya dan menceritakannya padaku. Mungkinkah eomma memiliki penyakit sepertiku? Ah.. entahlah.

Orang mati itu hanya halusinasi. Begitupun penjahat penjahat itu. Tapi aku masih bingung membedakan halusinasi dan nyata. Karena aku mencintai Eonnie dan appa hingga merasa mereka masih hidup. Tapi.. Mereka jahat. Mereka selalu memaksaku membunuh orang. Mereka bahkan memaksaku membunuh orang yang mereka benci. Apa apaan mereka? Bukankah mereka tidak nyata? Mengapa memiliki orang yang dibenci? Tapi sialnya aku selalu menuruti mereka. Aku takut hingga tak punya pilihan lain. Banyak penjahat mati.. dan orang yang mereka benci. Mereka tidak bisa hilang meski semua syarat untuk menghilangkan mereka sudah kujalani. Dan saat kejadian di kampus.. aku baru menyadari bahwa untuk membuat mereka menghilang adalah.. dengan menyakiti diriku sendiri. Tapi.. akhirnya aku tak tahan dan memilih mereka tetap bersamaku..

Kapan ini berakhir?

Untuk: Siapapun yang bisa menolongku
Dari: Bae Suzy

Kumohon tolong aku..

***END***

Annyeong!! FF ini terinspirasi dari lagu jepang berjudul Calalini – Kaai Yuki. Lagunya dibuat berdasarkan kisah nyata seorang gadis kecil berumur 9 tahun bernama Jani. Cerita sebenarnya, Jani menderita Schizophrenia. Dia berhalusinasi melihat ada dua ratus lebih binatang dan anak kecil lainnya. Mereka jahat dan selalu menghasut Jani. Dan di FF ini aku ubah total. Tapi yang aku ambil hanya nama Schizophrenia dan nama pulau halusinasinya yakni Calalini.

Mian atas kesalahan dan typos. Kritik dan saran selalu diterima tapi NoBash!

So?

RCL!

BOW~

59 thoughts on “FF Calalini (Oneshoot)

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s