FF School in Obsessions PART 3

image

Title: School in Obsessions
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Horror, Mystery, Psychology , Crime, School Life, etc.
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho
Sub Cast: Park Jiyeon, Jung Soojung aka Krystal, Choi Jinri aka Sulli, Lee Jieun, Kang Jiyong aka G-Dragon, Yang Yoseob, Kangjun, OC’s and etc (SubCast dapat berubah sewaktu-waktu)
Length: Chaptered

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

Previous Part:

“SUZY!!!!” Ia berlari menuju Suzy yang mematung dengan mata membesar. Semuanya berteriak histeris sembari berhamburan keluar. Tak ada yang berani mendekati mereka.

“YAKKK!!!!” Tiba tiba Minho muncul di hadapan Suzy, memeluknya erat dan sempat membisikkan sesuatu.

Pisau itu langsung menghunus daging di depannya. Menancapnya hingga darah menyembur keluar. Membasahi baju dan pisau yang tertancap. Suzy menjerit. Bukan.. bukan dia yang tertusuk. Tapi..

“MINHO-SSI!!!”

***PART 3***

Suzy menyamai langkahnya dengan kereta dorong tempat Minho terbaring. Luka tusukannya sangat parah.

Airmata Suzy tak hentinya mengalir sejak tadi. Ia sangat takut melihat nafas naik turun Minho yang tampak hampir habis.

Suzy tak memperdulikan tubuhnya yang berlumur darah. Ia hanya ingin Minho selamat.

Bahkan ia sudah tak memperdulikan wanita yang tadi hampir menusuknya. Ia kabur entah kemana.

Suzy menghapus kasar airmatanya begitu Minho masuk ke dalam UGD lalu bersandar di depan pintu dengan isakan yang terus menerus tertahan. Tangannya terkepal. Mengapa hal ini harus terjadi padanya?

Suara jeritan di ujung koridor membuat Suzy menoleh. Matanya melebar tatkala melihat ke atas kereta dorong, Myungsoo dengan wajah babak belur sedang menahan kesakitan.

Kereta itu melewatinya. Seperti slowmotion di film film, Suzy menatap gegau ke arah Myungsoo. Hening.

Saat kereta itu menjauh, Suzy langsung jatuh terduduk. Ia menutup wajahnya dan kembali menangis.

Meski ia tak bisa melupakan dendamnya kepada Myungsoo, tapi melihat pria itu sekarat, rasanya ada yang aneh di sekitar dadanya.

***

Tak berselang lama Suzy menunduk dalam tangis dan keheningan, tiba tiba dari ujung koridor terdengar sayup langkah kaki. Terdengar tenang namun berpacu bersama nafas terengah engah milik seseorang di sana.

Suzy mengangkat wajahnya begitu suara tersebut mulai terdengar jelas dan mendekat. Matanya terbelalak melihat senyum menakutkan itu. Dengan pisau penuh darah di tangannya. Rambutnya yang acak acakan, amburadul. Bekas sayatan di wajahnya. Ah… tampak Seperti orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa.

Wanita itu lagi.

Suzy terperanjat. Ia harus pergi dari tempat ini atau nyawanya akan terancam.

Tapi… bagaimana dengan Minho?

Tanpa pikir panjang, Suzy langsung melangkah dari sana. Ia yakin, Minho akan berpikir sama dengannya. Bukankah Minho di UGD karena berusaha menyelamatkannya?

Suzy berlari kini. Nafasnya memburu.

Wanita itu masih di belakangnya. Turut berlari tanpa suara. Hanya langkah yang menghentak lantai ubin koridor yang terdengar cepat.

Tap… tap… tap…

Suzy meringis. Kenapa rumah sakit ini sangat sepi? Bukankah masih siang?

Suzy melangkah lebih jauh. Ia memasuki ruang obat obatan. Tercium bau alkohol bercampur obat obatan yang menusuk hidung. Huek!

Ia mencoba menahan rasa mualnya.

Setelah tak melihat ataupun mendengar tanda tanda wanita itu, Suzy akhirnya bisa menghela nafas lega.

Ia melemaskan tubuhnya yang semula tegang. Namun rasa mual itu masih membebaninya.

Suzy lalu beranjak hendak ke kamar mandi. Ia merasa akan muntah.

***

Suasana pagi itu sangat berbanding terbalik dengan keadaan semalam.

Pagi ini hujan deras membasahi kota Seoul.

Suzy duduk santai di atas halte sambil mendengarkan musik favoritnya. Tak peduli orang orang yang berlalu lalang dengan payung ataupun mantel.

Matanya tertutup seraya menggumam, menyanyikan lirik lagu yang didengarkan. Tak peduli dengan pria yang kini duduk di sampingnya. Pria dengan jas hujan dan payung berwarna kuning. Pria itu tampak ketakutan. Sangat teramat ketakutan.

Suzy yang tersadar, akhirnya menoleh dan seketika tersentak.

“Yak!” Suzy melepas headsetnya dan langsung berdiri.

Kening Suzy mengerut. Tak biasanya ia melihat ekspresi ketakutan itu dari pria sok pemberani ini.

Tatapan Suzy lama kelamaan menyendu tatkala pria itu hanya terdiam dalam ketakutan yang luar biasa.

Suzy memasukkan ponselnya ke dalam tas. Enggan membiarkan ponselnya terkena air hujan. Yah, ia berniat menembus hujan daripada hanya berdua dengan pria mesum ini.

Suzy yang hendak melangkah pergi bersama koper kopernya langsung berhenti begitu pria itu menahan tangannya.

“Yak lepaskan!” Suzy berusaha meronta namun cengkramannya sangat kuat.

“Aku phobia dengan hujan… saat aku ingin kembali ke asrama pagi ini, ternyata hujan turun… tapi aku harus kembali ke asrama…”

Ekspresi benci diwajah Suzy tiba tiba menghilang. Bukankah pria ini sedang sekarat di rumah sakit satu minggu yang lalu? Ah, jangan lupakan Minho yang sampai sekarang masih koma. Dan masa skorsing Suzy sudah berakhir. Ia harus kembali ke asrama. Demi tujuannya. Tujuan awalnya.

“Kau sudah sembuh rupanya…” Suzy berdehem keras lalu kembali membuat ekspresi tak suka.

“Lalu apa gunanya kau datang dan mengatakan hal itu huh? Tak menguntungkan bagiku sama sekali…” Suzy mendecak. Tak mau disangka khawatir.

“Entah mengapa… melihatmu berdiri di halte ini… membuatku harus menembus hujan… benda yang sangat kutakuti…”

Suzy terperangah sesaat sampai ia mulai menyadari bahwa pria ini adalah pria brengsek nan mesum.

“Lalu? Apakah kau berpikir bahwa aku akan tersanjung dengan kata katamu lalu aku pun memaafkan semua perbuatanmu huh?” Ucap Suzy sarkastis. Melihat cengkramannya melonggar, Suzy sontak menghempaskan tangan pria itu.

“Jangan-”

“Aku… sangat takut dengan hujan… dan aku melihat seorang wanita berambut amburadul yang memegang sebilah pisau mendekatimu dengan wajah penuh dendam…” potong Myungsoo was was.

Suzy terkesiap.

“Aku berteduh di toko roti di seberang. Kau tahu? Aku memperhatikanmu dari sana… aku tak berani menembus hujan… tapi…”

“Sudahlah!”

Mata Suzy berkilat tajam.

“Aku tahu… kau menginap di rumah sakit satu minggu ini kan? Karena Minho…” Myungsoo berusaha tersenyum di sisa sisa ketakutannya.

“Aku juga berada di rumah sakit yang sama… dan aku selalu melihat wanita gila itu menunggumu… aku takut dia ingin-”

“Cukup!”

Mata Suzy mulai terasa perih. Ia buru buru membalikkan badan.

“Jadi… kita ke asrama sama sama saja, ne? Karena wanita itu masih ada di sekitar sini…”

Hening. Suzy mengepalkan tangannya. Rasa marah, takut dan rasa rasa lainnya turut menyatu. Turut bermain di otaknya.

“Baiklah… Kim Myung…Soo…” jawabnya datar lalu kembali duduk di kursi halte bersama Myungsoo.

***

Myungsoo berjalan membawa koper bersama Suzy. Mereka sudah berada di depan asrama sinbi.

Hujan sudah berhenti. Hanya menyisakan bau tanah yang menyengat. Aroma yang sejuk lagi hangat. Daun daun tampak berembun karena habis dibasahi. Jalanan basah dan tampak lengang. Suasana yang menyenangkan untuk menghabiskan santai pagi di beranda rumah sambil menyeruput segelas kopi latte hangat.

Saat Suzy dan Myungsoo akan melangkah memasuki gerbang, terdengar suara teriakan yang berasal dari halte hijau yang berjarak dekat darinya.

Mereka berbalik dan langsung mendapati dua gadis yang juga membawa masing masing koper.

Gadis gadis itu melambaikan tangannya nakal setelah sampai dihadapan Suzy dan Myungsoo.

Welcome home, Suzy…” Jiyeon tertawa licik dan Soojung tersenyum mencurigakan.

“Aku dengar dengar… Si isanghan itu koma, yah?” Celetuk Jiyeon begitu tak menerima respon apapun dari keduanya. Soojung menahan tawa, sedangkan Suzy menaikkan alisnya tak suka.

Tanpa sadar, Suzy menarik tangan Myungsoo agar segera beranjak dari sana.

“Yak Suzy! Kau sudah mulai berani yah?!” Teriak Jiyeon diselingi tawa renyahnya yang menyebalkan. Namun Suzy dan Myungsoo tetap melanjutkan perjalanan. Mereka sudah mendahului Soojung dan Jiyeon yang masih berdiri menatap kepergian Suzy dan Myungsoo.

“Ohh Jiyeon-ah… lihatlah anak baru itu… mesra sekali mereka…” Soojung mencoba memanas manasi Jiyeon yang terlihat mulai kesal.

“Sejak kapan mereka akrab huh?”

“Mungkin sejak kita di skorsing… bahkan aku dengar dengar, mereka sempat sekamar…”

Tangan Jiyeon mengepal.

“Aku akan membereskannya…”

“Kau jahat sekali Jiyeon-ah… ” Soojung lagi lagi tertawa.

***

Suzy merebahkan diri di atas kasurnya. Ada rasa asing ketika melihat kamar ini lagi. Padahal baru satu minggu tak merasakan aroma kamar yang sedikit mistis setelah permainan papan Ouija bersama Jinri saat itu. Sekarang ia sendirian. Jinri tak ada di sini. Dan… sepasang monster itu sudah kembali. Suzy yakin, hal buruk akan segera terjadi. Tapi ia tak bisa mundur lagi sampai menyelesaikan misinya. Ia harus menghadapinya. Bukankah hal terburuk sekalipun pasti memiliki jalan keluar? Yah, Suzy memercayai hal itu, maka ia hanya perlu mencari jalan keluar terbaik.

Menyerang dan bertahan.

Tak sampai semenit ia mengkhayal, pintu kamar langsung terbuka, menampilkan Jiyeon dan Soojung. Mereka melangkah angkuh.

Jiyeon sempat meringis melihat Suzy yang tampak acuh dan terlihat tak takut lagi padanya.

“Kenapa isanghan itu koma, Suzy-ssi?” Tanya Jiyeon dengan nada remeh namun tanpa niat apapun. Hanya sekedar bertanya.

Suzy beranjak lalu menatap datar Jiyeon sejenak.

“Minho dan Jinri berkelahi karena masalah pribadi… dan Jinri kalah… seluruh isi kamar ini di skorsing selama skorsing kalian…” jelas Suzy malas sambil menarik sebuah buku dari bawah ranjang lalu membacanya pura pura.

Jiyeon tampak tak suka dengan prilaku Suzy. Ia membuang kopernya keras lalu buru buru naik ke atas kasurnya.

“Kau menyebalkan, Suzy-ssi…”

“Kau juga…” balas Suzy acuh.

Emosi Jiyeon mulai tak terkontrol. Ia melempar bantal yang ada di kasurnya.

Pluk!

Tepat mengenai wajah Suzy.

Suzy mengangkat wajahnya dan menatap angker ke arah Jiyeon sesaat sampai ia kembali ke aktivitas ‘buang waktunya’.

“Aku tak ada urusan denganmu… Jiyeon-ssi…”

“Tapi dengan Myungsoo hah?!” Bentak Jiyeon.

“Myungsoo?” Suzy kembali mengangkat wajahnya. Buku tadi ia taruh di atas kasur.

“Mungkin…”

“Mungkin?!”

“Ne…”

“Misi awalku bukanlah Myungsoo…”

“Tapi…”

“Myungsoo telah melakukan kesalahan…”

“Jadi aku harus berurusan dengannya…”

Jiyeon menelan ludah.

‘Suzy terlihat menakutkan…’

***

Dering terus berbunyi di seantero asrama menandai pesan masuk yang bergilir.

Masih pagi buta, Suzy mengusap matanya lalu bangkit mencari ponselnya.

Dengan mata yang masih terkantuk kantuk, Suzy membuka pesan yang masuk. Begitupun dengan ponsel Soojung dan Jiyeon yang juga berdering, namun kedua gadis itu tak menghiraukan.

Mata Suzy yang masih lima belas persen langsung terbuka lebar tatkala melihat pesan yang masuk.

Jantungnya berpacu dengan bibirnya yang bergerak membaca setiap isi pesan itu.

“Min…ho… meninggal… pagi… ini…” Suzy menjatuhkan ponselnya tanpa sadar. Airmata langsung menerobos keluar tanpa aba aba. Suzy menunduk. Hanya menunduk dengan wajah basah.

***

Suzy berjalan murung menuju kelas dan tak sengaja berpapasan dengan Kangjun dan Jiyong yang menjadi teman Minho selama ini. Jiyong tampak tak suka melihat kedatangan Suzy sementara Kangjun berusaha menghindar pandang dari Suzy.

Suzy mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, tapi orang yang dicarinya tak tampak. Kemana pria mesum itu?

“Dasar pembunuh…”

Suzy menoleh ke arah wanita yang bergumam di sampingnya. Wanita berambut pendek itu lantas membalas tatapannya dengan sinis.

“Kasian sekali Minho oppa… gara gara wanita itu…”

Suzy kembali menoleh ke arah yang berlawanan dan lagi, sepasang murid yang sedang berbincang itu menatapnya sinis.

Suzy merasa tidak enak sekarang. Ia merasa orang orang ini tengah mengintimidasinya atas kematian Minho.

Tiba tiba perutnya terasa melilit. Ia merasa isi perutnya akan keluar.

Tanpa memperdulikan suara suara penuh tuduh itu, Suzy berlari keluar dari kelas menuju kamar mandi.

Wajahnya sudah pucat pasi ketika westafel menyapanya. Dan…

Huek!

Semua isi perutnya berakhir di dalam pipa westafel.

Suzy kini duduk bersandar di atas lantai kamar mandi. Keringat mengucur deras dari wajahnya yang sudah terlihat seperti mayat.

Perlahan lahan, mata Suzy tertutup. Nafasnya kembali stabil. Sepertinya ia akan menghabiskan waktunya di kamar mandi seharian.

***

Myungsoo berhasil kabur dari asrama. Ia tak begitu langsung percaya dengan isu yang beredar. Yah, ia harus memastikannya sendiri.

Myungsoo berlari dengan cekatan memasuki rumah sakit yang menangani Minho.

Langkahnya melambat begitu mendekati ruang ICU tempat Minho di rawat.

Myungsoo meringis melihat ruangan itu sudah kosong.

Kini, tempat terakhir untuk membuktikan hal itu hanya rumah Minho.

Myungsoo kembali meringis.

Bukankah ia dan Minho mengontrak rumah yang sama di Seoul? Myungsoo pun tidak mengetahui rumah asli pria bermata bulat itu.

Myungsoo mengumpat dalam hati. Kepalannya menghantam tembok di depannya. Berharap rasa sakit yang mendarah di tangannya dapat menutupi rasa sakit atas kehilangan sahabat satu satunya.

Bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal…

Sudah sangat terlambat.

***

Suzy terbangun begitu ponselnya berbunyi. Suzy terperanjat melihat kegelapan yang menyapa matanya.

Suzy melirik ponsel dan mendapati pesan dari wanita gila itu lagi. Pesan mengancam yang selalu ia kirim.

Suzy mendesis lalu bangkit. Tubuhnya begitu kaku setelah tertidur berjam jam di dalam toilet membuatnya harus merenggangkan diri sebelum berjalan.

Dengan mengandalkan cahaya dari ponsel, Suzy mencoba berjalan menuju kamarnya. Ah… dia masih butuh istirahat di tempat yang nyaman.

Jantung Suzy berpacu kencang begitu melewati koridor yang tampak lengang dan sepi.

Hening merajai. Suara langkah pentofel Suzy menciptakan suasana makin mencekam.

Suzy menggigit bibir bawahnya. Sejauh mata memandang, ia tak melihat apapun yang aneh ataupun mengerikan. Namun, bayang bayang kematian Kim Jonghyun dan Kim Ki Bum langsung terlintas di kepalanya membuat rasa takutnya kian memuncak.

Saat melewati kamar bekas Jonghyun dan Kibum yang sudah dikosongkan, tak sengaja ia mendengar suara teriakan yang memekik. Entah itu hanya halusinasi atau benar adanya.

Suzy terlonjak dan tanpa pikir panjang langsung berlari tanpa arah.

Hingga kakinya tak sengaja tersandung sesuatu yang sontak membuatnya ambruk ke atas lantai. Ponselnya terlempar entah kemana.

Kegelapan itu membuatnya tak tahu arah. Ia meringis ketika menyadari bahwa ia tengah menindih sesuatu.

Suzy berusaha bangkit meski tubuhnya akan remuk. Matanya mencoba menerawang benda yang ditindihnya.

Oh tidak!

Dengan keadaan masih terduduk, Suzy malah mundur perlahan seperti orang ketakutan.

Yah, tak salah lagi. Benda itu adalah tengkorak manusia. Hanya tulang kepala yang menonjol.

Suzy bergumam tidak jelas.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan sekolah ini?

Dan…

Dimana ia sekarang?

Kenapa ada tengkorak di atas lantai?

Tiba tiba seseorang mengangkatnya yang refleks membuatnya menjerit.

Orang itu sontak membekap mulut Suzy.

“Kalau kau berteriak… kau akan mati…”

Perlahan lahan, mata Suzy mulai tertutup. Orang itu ternyata menyuntikkan obat bius ke lengan Suzy.

“Selamat tidur… cantik…” orang itu tak lupa mengecup pipi Suzy yang memerah kedinginan.

***

“Pagi, Suzy-ssi…” Jiyeon tersenyum tepat di depan wajah Suzy yang masih samar samar menatap.

Lalu dalam sekejap, air yang entah datang dari mana langsung menyembur wajahnya. Menyadarkannya seratus persen.

Jiyeon tertawa lepas melihat keterkejutan Suzy. Ia membuang ember yang dipegangnya ke sembarang arah lalu mengajak Soojung untuk segera berangkat ke sekolah.

“Dasar pembolos…” umpat Soojung yang tampak sudah berseragam rapi.

“Ppalliwaaaa Suzy-ssi… hari ini ada pengumuman penting…” Jiyeon dan Soojung saling pandang dan tertawa, lalu meninggalkan Suzy begitu saja bersama pakaian dan kasur yang basah.

Suzy mendumel kasar seraya melepaskan bajunya yang basah. Ia lantas meringis begitu mendapati luka memar di sikunya. Ah, ia baru ingat kejadian semalam. Yah, ada seseorang yang mengangkat dan membiusnya. Lalu…

Tengkorak itu.

Suzy yakin ada sesuatu yang perlu diungkapkan dari sekolah ini. Tentang kematian Jonghyun dan Kibum yang tak spesifik. Tentang papan Ouija yang tiba tiba bergerak dan membentuk sebuah kata yang masih menjadi enigma baginya. Dan tentang prilaku prilaku aneh murid murid di sini. Jinri yang bipolar, Soojung dan Jiyeon yang tampak memiliki gangguan psikis, Myungsoo yang phobia hujan, dan Minho yang secara tak sadar memukul Jinri. Terlihat dari ekspresi terkejut Minho saat memukul Jinri. Bukankah ekspresinya salah?

Dan jangan lupakan tentang kebakaran yang terjadi di kamar Myungsoo, Minho, Kangjun dan Jiyong.

Suzy adalah orang yang mengirim boneka berdarah itu ke kamar mereka dengan niat meneror. Tapi, tentang masalah kebakaran itu, bukanlah perbuatan Suzy.

Jadi, siapa yang membakarnya?

***

“Untuk murid murid Asrama sinbi yang berkumpul hari ini… mari kita berdoa dan berkabung atas kepulangan saudara kita, Choi Minho di pangkuan Tuhan. Choi Minho yang sudah berjuang dalam koma. Dan jwosunghamnida… karena kita masih dalam masa berkabung, maka festival sekolah yang akan diadakan dua hari lagi akan ditunda hingga minggu depan…”

Semua menggerutu tak jelas. Sementara Suzy masih mencari cari orang yang dicarinya sedari kemarin, Kim Myungsoo. Matanya celingak celinguk mencari pria itu diantara kerumunan murid murid Asrama sinbi.

Nihil.

Pria itu tak masuk lagi.

Kemana dia?

***

Pukul 09.00 malam tepat. Suzy sendirian di kamar. Suzy pun tak peduli dengan hilangnya kedua monster itu. Paling paling, mereka tengah bernarkoba ria di dalam toilet, batinnya.

Suzy lalu teringat Jinri dan papan Ouijanya yang masih stay di bawah ranjang Suzy.

Tanpa rasa takut, Suzy mengambil papan penuh angka dan huruf itu dan membaringkannya di atas kasurnya.

Sedikit berfikir, Suzy langsung mengambil lilin merah di bawah ranjang dan tak lupa sebuah koin.

Suzy menyalakan lilin dan menaruhnya di sisi papan. Lampu pun dimatikan. Hanya nyala lilin yang tersisa di keremangan.

Suzy menaruh tangannya di atas koin dan mulai memutar perlahan seperti yang diajarkan Jinri.

Tak lupa ia merapalkan mantra untuk mengundang arwah arwah gentayangan.

Rasa takut hanya secuil debu mengalahkan rasa penasarannya.

“Roh, roh yang ada dalam koin… Roh, roh yang ada dalam koin… Roh, roh yang ada dalam koin… Tolong keluarlah dan bermain bersamaku!” Suzy membaca mantra sembari menggerak gerakkan jarinya di atas koin. Putaran koinnya semakin lama semakin berat hingga akhirnya berhenti.

Suzy menghela nafas, berusaha serileks mungkin.

“Siapa kau?”

Tak lama, tangan Suzy mulai bergerak mengikuti pergerakan koin. Dimulai dengan huruf J lalu O hingga membentuk sebuah nama.

“Kau lagi… Jonghyun-ssi?” Keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya. Ia tak menyangka, Jonghyun mendiami kamar ini sejak awal.

Tangan Suzy perlahan bergerak ke kata ‘Yes’.

“Kaukah murid yang mati beberapa minggu yang lalu bersama Kibum?”

Harap harap cemas, tangan Suzy mulai bergerak lagi.

Kening Suzy mengerut begitu koin tersebut berhenti dikata ‘No’.

“Kalau kau bukan Kim Jonghyun, Lantas?”

Tangannya kembali bergerak membentuk kata baru.

“L”, “E” dan “E”.

Seorang bermarga “Lee” bernama Lee Jonghyun. Kim Jonghyun dan Lee Jonghyun jelas adalah orang yang berbeda.

“Sudah berapa lama kau berada di sini, Jonghyun-ssi?”

Koin mulai bergerak ke arah angka angka. Mata Suzy semakin lama semakin membesar.

“Empat…”

“…tahun?”

Bruak!

Tiba tiba, pintu kamar terbuka, memunculkan Soojung dan Jiyeon yang tampak teler.

Suzy sontak meniup lilin yang masih menyala. Gelap gulita menyerang.

Soojung yang tak sadar langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur Suzy. Sukses membongkar papan Ouija yang tengah dimainkannya.

Suzy mendecak lalu mendorong tubuh Soojung ke atas lantai.

Jiyeon sudah terjatuh di atas kasur Soojung, sementara Soojung menikmati alam mimpinya di atas lantai.

Suzy menutup papan Ouija lalu menaruhnya ke bawah sela ranjang.

Ia kembali berbaring sembari memikirkan permainan barusan.

Diotaknya terus bermunculan tentang siapakah si ‘Lee Jonghyun’ ini. Kenapa dia sudah berada disini empat tahun lamanya. Kenapa?

***TBC***

Annyeong chingudeul!!!!
Terima kasih untuk reader setia yang udah mau pantengin ff ga bermutu ini. Sekali lagi terima kasih!!!! ^^

Yosh, karena ff ini sempat dianggurin selama berabad abad lamanya, jadi pastinya kalian udah lupa dengan jalan cerita part awal hingga memasuki part 3 ini, jadi aku sarankan untuk dibaca ulang biar kalian ga mudeng wkwkwk soale ini ff misteri wkwkw tapi kalo gamau juga gapapa.

Dan yeahhh mungkin part ini adalah part paling boring sedunia, tapi mungkin part selanjutnya konfliknya bakal muncul banyak karena tamatnya di part 5 hahahaha😄. Ga janji loh yah, ntar tau taunya kecewa lagi😄

Oke, bagi yang masih nanya tentang obsesi dari cerita ini adalah mengenai obsesi obsesi tokoh utama yang menyangkut asrama/sekolah sinbi.

Oke segitu doank bacot saya😄

Ghamsahamnida!

Bow~

76 thoughts on “FF School in Obsessions PART 3

  1. Jadi bukan suzy yg bakar kamar myung dan minho…
    Cewe itu ada dendam sm suzy? Knp dia ngincer suzy

    Uwaaaah misterinya makin banyaakkk

  2. Itu sekolah apa ? Bener2 misterius banget. Kayanya emang harus ada sesuatu yang diungkap dari sekolah itu. Itu suzy muntah2 kenapa ? Hamilkah ? Disaat myung nya menghilang. Dan siapa itu lee jonghyun ? Apa semua misteri yang ada di sekolah itu berhubungan sama dia ?
    Dan siapa juga yang bakar kamarnya myung ?
    Aku ngira suzy. Ternyata bukan. Aduh duh duh kasian minho. Meninggal.

  3. Duhhh penasaran bgt ama wanita yg ngebunuh si minho, siapa sih? Elahh pake bawa piso segala kemana”. Ntu sekolah apa kuburan yak? Angker banget huhu.

  4. Sekolahnya penuh misteri ternyata..
    Jalan Cerita ff nya sulit ditebak. Sehingga membuatku makin penasaran dn tambah penasaran dg akhirnya..
    Feeling ku sih salah stu aparat sekolah tsb ada hubunungannya dg permainan tsb..
    Hmm…

  5. What yang bakar asrama bkan zy eom?
    Lantas syapa?
    Tu yeoja yang kejar zy eon sapa?

    Trus minhoo dah meninggal?
    Jgn2 zy eon hamil lagi?

    Izin baca part yng berikut

  6. sebenernya ntu sekolah apa sihh??? ko makin lama makin bnyk misterinya… terus klo bukan suzy yg bkr kmr.a myung lalu siapa?? apa minho nnti idup lagi??? huaa i’m going crazy thorr.. daebbakkk ceritanya.. ditunggu kelanjutannya ya thor! annyeongggg^^

  7. by the way thor.. di sini tertuliskan genre romance. di mana letak romance itu ya?😀 ngeri iya😀
    alurnya terlalu cepat thor. coba kalo lebih lambat dan lebih detil lagi. pasti tambah horror ><

  8. kalo bukan suzy yg bakar kamar myung n minho trus siapa dong?
    uh bacanya bikin deg deg’an mulu nih,. myung kemana? trus siapa yeoja yg dendam ke suzy itu? suzy kenapa itu thor?? apa dia hamil?
    ugh penasaran tingkat dewa ini thor…

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s