FF School in Obsessions PART 4

image

Title: School in Obsessions
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Horror, Mystery, Psychology , Crime, School Life, etc.
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho
Sub Cast: Park Jiyeon, Jung Soojung aka Krystal, Choi Jinri aka Sulli, Lee Jieun, Kang Jiyong aka G-Dragon, Yang Yoseob, Kangjun, OC’s and etc (SubCast dapat berubah sewaktu-waktu)
Length: Chaptered

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

Previous Part:

Bruak!

Tiba tiba, pintu kamar terbuka, memunculkan Soojung dan Jiyeon yang tampak teler.

Suzy sontak meniup lilin yang masih menyala. Gelap gulita menyerang.

Soojung yang tak sadar langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur Suzy. Sukses membongkar papan Ouija yang tengah dimainkannya.

Suzy mendecak lalu mendorong tubuh Soojung ke atas lantai.

Jiyeon sudah terjatuh di atas kasur Soojung, sementara Soojung menikmati alam mimpinya di atas lantai.

Suzy menutup papan Ouija lalu menaruhnya ke bawah sela ranjang.

Ia kembali berbaring sembari memikirkan permainan barusan.

Diotaknya terus bermunculan tentang siapakah si ‘Lee Jonghyun’ ini. Kenapa dia sudah berada disini empat tahun lamanya. Kenapa?

***PART 4***

Lampu di sepanjang koridor sudah dimatikan. Saat tengah malam, dimana semua murid terlelap bersama guling dan boneka kesayangan mereka. Tapi tidak bagi Suzy, yeoja itu malah menghabiskan malamnya menelusuri setiap sudut asrama. Tak lupa menelusuri setiap ruang kelas yang berada tak jauh dari asrama. Hanya bersebrangan. Sekitar dua puluh meter antar gedung.

Wanita itu berada di ruang kelasnya sekarang, dibantu senter, penerangan satu satunya.

Suzy memang penakut, tapi ia juga memiliki tingkat penasaran yang berlebihan. Rasa takut itu segera sirna begitu mengetahui sedikit demi sedikit keganjalan yang ada di asrama ini. Untuk tujuan sempurnanya.

Saat Suzy hendak meninggalkan kelas, tak sengaja telinganya menangkap suara aneh di luar.

Tubuhnya seketika menegang, namun cepat cepat ia bersembunyi dibalik pintu dan mematikan senter.

Langkah sepatu kian mendekat. Anehnya, tak terlihat tanda tanda kedatangan siapapun.

Suzy mulai curiga dengan situasinya. Sekarang sangat jelas suara bising yang masuk ke gendang telinganya. Seperti beberapa orang yang tengah bercakap cakap. Hanya pembicaraan samar yang beradu.

Tubuh Suzy tiba tiba meremang. Jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya. Ia benar benar tak menyangka akan banyak yang datang ke sini meski jam sudah menunjukkan pukul 12, memasuki waktu tengah malam.

Suara itu kini berganti menjadi teriakan dan jeritan. Melengking.

Suzy refleks menutup kedua kupingnya seraya meringis.

Mereka makin dekat.

Suzy menutup matanya rapat rapat. Dan tiba tiba, bisikan halus mengalun pelan masuk ke telinganya bersama angin dan hawa panas yang sukses membuat Suzy kalang kabut.

Mereka bukan manusia…

Suzy sadar, kepalanya mulai terasa sakit mendengar desahan nafas panjang yang masuk ke kuping. Sangat menusuk hingga menghentakkan kesadarannya.

Perlahan, pandangan Suzy mulai berkunang kunang, lalu detik kemudian lantai menyapa tubuhnya. Ia pingsan dalam kegelapan yang mencekam.

***

Suzy perlahan tersadar begitu matahari menyengat tubuh dan wajahnya. Ia terlonjak dan mendapati dirinya tertidur di UKS. Bukankah semalam ia berada di kelas dan pingsan?

Suzy lalu mengedarkan pandangan dan mendapati seorang pria yang duduk di ranjang sebelah sedang memainkan ponsel.

“Kangjun?”

Pria dipanggil Kangjun itu mengangkat wajah. Ia tersenyum menyambut tatapan bertanya tanya Suzy.

“Aku menemukanmu tertidur di depan pintu kelas. Aku pikir kau pingsan… kheundae… kau terlihat masih berpakaian biasa… untung saja hanya aku yang melihatmu… jadi aku membawamu ke sini…”

Suzy terlihat masih kebingungan. Ia hanya mengangguk lalu bangkit.

“Gomawo…” Suzy yang hampir mencapai ambang pintu langsung terhenti begitu Kangjun berlari dan menangkap tangannya.

“Kau baik baik saja? Sebenarnya apa yang terjadi?”

Suzy menoleh dan menyempatkan menatap Kangjun selama beberapa detik yang sontak membuat pria itu salah tingkah.

“Mianhae…”

Kangjun mengangkat alisnya.

“Ne? Untuk apa?”

Suzy terdiam sejenak. Masih menatap mata besar Kangjun.

“Minho…”

Kangjun tersenyum sambil merengkuh wajah Suzy lembut.

“Untuk apa aku marah? Kau aneh…” Kangjun tertawa lepas.

Deg!

Suzy tertegun mendengar jawaban mengejutkan Kangjun. Bukankah mereka teman? Bahkan mereka sekamar.

Suzy berubah was was dalam sekejap. Benar. Ada yang tidak beres dengan sekolah ini. Ia harus meneliti lagi kebenarannya. Yah, ia tak boleh menyerah begitu saja hanya karena gangguan gangguan makhluk tak kasat mata.

Suzy hati hati melepaskan rengkuhan Kangjun dan tanpa kata melengos begitu saja.

Kangjun memicingkan matanya menatap kepergian Suzy. Tak lama, ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk.

***

Malam menjelang, tepat jam 12 lewat di malam jumat. Suzy tak bisa menutup matanya.

Di atas kasur, ia hanya memandang ke atas, memikirkan suatu rencana matang sebelum meneliti lagi malam ini.

Suara sayup sayup anjing melolong tak menghentikannya berimajinasi dalam ruang pikirannya. Ia sebisa mungkin menghilangkan secuilpun rasa takut itu.

Suzy yakin, jika ia terlambat, maka semua bukti akan lenyap. Dengan pemikirannya yang terbilang cerdas—terbukti satu bulan yang lalu selalu mendapatkan nilai terbaik—ia berhipotesa mengenai misteri asrama ini.

Pertama, ia yakin, murid murid sinbi memiliki kelainan. Yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa hal itu sampai terjadi? Lalu mengapa ia dengan bebasnya melangkah masuk ke dalam sekolah ‘yang menurutnya’ adalah kumpulan orang berkelainan sedangkan dirinya adalah wanita normal dengan asal usul baik.

Kedua, ia menyimpulkan bahwa tengkorak yang dilihatnya adalah tengkorak asli yang hendak dibereskan oleh seseorang yang entah siapa itu.

Ketiga, ada sesuatu yang tersembunyi dibalik kematian Jonghyun dan Kibum.

Keempat, Suzy yakin, arwah Lee Jonghyun menetap dikamarnya dan selalu muncul pada permainan papan Ouijanya, karena ia hendak memberitahukan sesuatu yang penting. Tapi apa?

Suzy meremas rambutnya dan bangkit. Diliriknya Soojung dan Jiyeon yang tampak tertidur pulas.

Tanpa aba aba, ia langsung beranjak dari kasur dengan membawa tas ransel. Suzy sudah mempersiapkannya masak masak.

Perlahan, suara decit pintu menemani aksi Suzy hingga melangkah keluar dari kamar.

Kali ini, Suzy melangkah perlahan, ditemani dengan senter dan semprotan cabai untuk jaga jaga.

Tujuan pertama Suzy mengarah ke kamar Jonghyun dan Kibum.

Suara langkah berpacu dengan jantungnya yang semakin lama berdetak di atas normal. Suasana begitu mencekam. Suzy seperti tak sendiri. Ia merasa sesak, penuh.

Angin yang entah dari mana, berhembus ke wajahnya tatkala kamar Jonghyun dan Kibum mulai terlihat.

Aura aneh nan mistis menyelingi langkahnya. Terasa berat.

Suzy berhenti melangkah begitu berada di depan kamar itu. Degup jantungnya makin tak bisa terkontrol.

Suzy memicing melihat pintu yang tak terkunci. Lalu lamat lamat ia mendengar suara asing dari dalam. Ia lantas menempelkan kupingnya di pintu.

Mata Suzy semakin membesar tatkala suara tak asing, suara yang pernah didengarnya, menyeruak masuk ke dalam gendang telinganya.

Suzy menarik nafas panjang dan hati hati membuangnya.

Ia melangkah mundur lalu bersembunyi.

Tak lama kemudian, seorang wanita keluar dari kamar itu sambil menangis. Langkahnya melunglai. Wajahnya tak terlihat jelas. Tapi Suzy yakin dengan suara itu. Sangat yakin.

“Jinri…”

“Apa yang kau lakukan di sana?” Gumam Suzy.

Deg!

Tiba tiba ia teringat akan kebiasaan Jinri yang sering menangis ketika kembali ke kamar di tengah malam. Apakah kebiasaan itu berhubungan dengan apa yang dilakukannya sekarang?

“Kau sudah sembuh rupanya… syukurlah…” Senyum kecil menghiasi wajah Suzy.

Perlahan, Jinri menghilang ditelan kegelapan.

Suzy lalu keluar dari persembunyian dan langsung menerobos masuk ke dalam.

Tak ada yang aneh dari kamar itu. Tak ada barang apapun. Kamar itu sudah dikosongkan. Benar benar kosong. Hanya kayu kayu bekas dan semua hal tak menarik. Lantas apa yang dilakukan Jinri di kamar polos ini?

Jari Suzy terangkat ke dagu, berfikir. Ia lalu mengarahkan senternya ke tembok dan menggerakkannya ke seluruh penjuru.

Tampak kotor dan usang. Menjijikan. Padahal baru sekitar satu minggu lebih dikosongkan. Pasti tak ada yang merawatnya. Sengaja mungkin?

Saat Suzy melangkah di atas lantai bekas ranjang, tak sengaja kakinya tersandung kayu hingga tubuhnya menubruk tembok di depan.

Bruak!

Suzy menautkan alisnya, merasakan lantai tempatnya berpijak berbeda bentuk dari lantai lainnya. Lalu tembok di depannya juga terasa mencurigakan. Cat nya tak merata. Sedikit di semen.

Suzy langsung meraba lantai itu dan merasakan bentuk yang tidak rata seperti hanya disemen, tanpa ubin.

Ia lalu mengambil sesuatu dalam tas nya. Sebuah linggis.

Brak!

Dengan kekuatan penuh, Suzy memukul mukul lantai itu dengan linggis. Perlahan tapi pasti, semennya mulai terlepas.

Brak!

Suzy masih mencoba mendobrak.

Brak!
Brak!

Semennya hancur bersamaan dengan terbukanya pintu.

Suzy refleks menoleh dan langsung melotot menatap sosok di depan.

Tiba tiba perutnya mual hingga melemaskan persendiannya.

Detik kemudian, ia pun pingsan di tempat.

***

Sudah dua jam sejak pemeriksaan di lakukan, Myungsoo masih setia berdiri di depan pintu.

Lalu tak lama, dokter keluar dengan wajah skeptis.

“Dia baik baik saja?”

“Begini… aku merasa…” dokter itu masih beragak agak.

“Ne?” Alis Myungsoo terangkat.

“Meski belum jelas karena aku hanya memeriksa biasa tanpa scan yang spesifik. Tapi… dari kondisi pasien… hal itu terkait dengan kehamilan….”

Deg!

Myungsoo merasakan ketegangan yang menyerang wajah lalu menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Uisa… kumohon… jangan katakan apapun padanya… setidaknya untuk saat ini…” nada lirih itu keluar dari bibir Myungsoo. Yah, ia sangat tahu siapa yang bersalah.

“Kenapa? Bukankah berita gembira ini harus diberitahukan? Akan bermasalah jika tak diberitahukan, dia akan semena mena terhadap janinnya…”

“Andwae! dia akan gila jika mengetahuinya sekarang…” wajah Myungsoo sudah terlihat renyang dan pucat pasi.

“Jadi… kapan kau akan memberitahukannya?”

“Setelah aku menikahinya…”

***

Suzy terbangun ketika matahari menyinari wajahnya. Detik kemudian ia merasakan nyeri di wajah. Ah… ia sempat terjatuh kemarin lalu pingsan di kamar itu, dan…

Suzy langsung terlonjak. Ia mengingatnya. Yah, ia melihat Myungsoo semalam.

Seketika ia sadar bahwa ia tak berada di asrama sekarang.

Suasana putih putih bersama aroma obat obatan. Shit! Rumah sakit lagi.

Suzy beranjak dari kasur dan melangkah keluar. Ia menoleh ke kanan dan tampak Myungsoo berjalan membawa kantung plastik ke arahnya. Ia tersenyum samar lalu terlihat berlari kecil.

“Tidurmu nyenyak?”

Myungsoo menarik Suzy masuk yang anehnya malah membuat wanita itu mengangguk sambil tersenyum.

Myungsoo menyuruh Suzy duduk di kasur lalu pria itu membuka makanan yang dibelinya.

“Kemana saja kau selama ini?” Sembur Suzy ketus begitu duduk di kasur.

Myungsoo tersenyum samar lalu kemudian senyum itu menghilang dalam sekejap.

“Aku hanya bosan berada di asrama…” jawabnya sembari membuka kantung makanan.

Suzy masih memasang tampang keruh.

“Aku tak tahu makanan apa yang kau suka… tapi aku menyukai shinseolo…” ujar Myungsoo mencoba mematahkan suasana kaku.

Suzy semula terlihat antusias karena shinseolo adalah makanan kesukaannya, namun detik kemudian ia mengerucut.

“Apanya yang shinseolo huh?!” Bentak Suzy dengan ekspresi lucu mencoba meminimalisir rasa senangnya. Ia harus selalu memasang tampang tak suka dengan pria ini karena dendamnya yang masih belum sirna.

Myungsoo tertawa lepas.

“Kau tak menyukainya huh?”
Suzy yang melihat Myungsoo menuangkan makanan itu ke piring membuatnya ngiler sendiri. Ia lantas merebut milik Myungsoo dan langsung memakannya tanpa sungkan.

Myungsoo terkikik geli dan refleks mencubit gemas pipi Suzy.

“Yak jangan semena mena hanya karena aku merebut makananmu!” Bentak Suzy dengan wajah menahan malu.

Myungsoo membekap mulutnya, menahan tawa yang akan meledak.

***

“Gomawo…”

Myungsoo tersenyum tanpa kata. Hanya mengangguk.

“Tapi jangan harap aku akan melupakan semuanya…” Suzy menunduk lalu turun dari bis. Ia berlari masuk ke dalam gerbang dengan Myungsoo di belakangnya, berjalan santai namun awas.

Masalah kehamilan itu masih mengganggunya.

“Suzy!”

Suzy berbalik lalu memasang ekspresi kesal.

“Mwoya?!”

Myungsoo tersenyum lalu melambaikan tangannya ringan.

“Jaga dirimu!”

Kedua bola mata Suzy berputar malas.

“Aku tak peduli padamu!” Suzy lantas berbalik. Enggan mendengar ceramah Myungsoo lebih lama lagi.

Myungsoo mendesis.

“Yak kau punya bayi!” Kesalnya pelan pada dirinya sendiri. Suzy sudah pasti tak mendengarnya.

***

Suzy yang akan masuk ke dalam kelas tiba tiba terjatuh begitu dua kaki menyenggol kakinya.

Semua menertawainya. Suzy menunduk menahan malu. Tangannya mengepal kuat. Ia merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya sekarang.

Soojung dan Jiyeon menatap Suzy puas. Matanya memandang rendah Suzy.

“Yak! Myungsoo itu milikku!” Pekik Jiyeon tepat di depan wajah Suzy.

“Sebaiknya kau menyerah Suzy-ssi… atau kau akan habis seperti wanita wanita yang lain…” ucap Soojung sarkastis.

Tak sadar, airmata Suzy mulai mengalir. Jatuh menetes di atas ubin. Ia masih menunduk, meremas lantai.

Tawa penghinaan terus menerus melewati kupingnya. Hatinya panas. Ingin rasanya ia mengambil pisau lalu menghunuskannya ke Jiyeon dan Soojung. Membunuhnya di depan orang banyak. Biar mereka tahu betapa berbahayanya Suzy. Siapapun yang menghinanya akan mendapatkan nasib buruk.

“Yak dia juga penyebab meninggalnya Minho oppa…” celetuk siswi lain yang membuat Jiyeon dan Soojung makin berang.

Bruak!

Kaki jenjang Jiyeon sukses menghantam perut Suzy.

Suzy semakin dibuatnya tersiksa. Rasa sakitnya tak tertahankan lagi. Ia merasa akan pingsan.

Tapi…

“Yak!” Kangjun menangkap kaki Jiyeon lalu memelintirnya kuat.

Jiyeon mengerang kesakitan.

Semua melotot tak percaya. Antara takut dan waspada, mereka melangkah mundur.

“Kau wanita rendahan yang tak tahu tata krama!” Pekik Kangjun dengan sorot mata membunuh sembari melepaskan kaki Jiyeon kasar.

Jiyeon terkesiap. Soojung membekap mulutnya tak percaya.

“Jun-ssi…” gumam Soojung kehabisan kata kata.

Kangjun membuang muka lalu mengangkat Suzy ala bridal.

Semua menyoraki sikap gentle Kangjun. Pria bermata indah itu ternyata memiliki sisi seperti itu.

“Yak Jun-ssi! Neo arra? Minho mati karena Suzy!” Teriak Soojung geram.

“Lalu?” Kangjun membalas tanpa berbalik.

“Minho adalah temanmu!”

“Lalu?” Kangjun melangkah dari sana. Tak peduli lagi teriakan Soojung.

“Yak Jun-ah! Dasar pria berkepribadian ganda!”

***

“Untuk yang kedua kalinya… kita berada berdua di UKS…” Kangjun tertawa pelan namun Suzy sama sekali tak menanggapi. Matanya lirih ke atas langit langit. Pikirannya penuh. Ia mulai sadar, ada yang tidak beres dengan tubuhnya.

Kembali ia mengingat ucapan dokter waktu itu, bahwa ia hanya kelelahan. Tapi sangat ganjal jika ia sering mual dan muntah. Terlebih lagi ada sesuatu yang tidak enak dalam perutnya.

“Kangjun-ssi…”

“Hmm?”

“Maukah kau menemaniku ke rumah sakit?”

“Untuk apa?”

“Aku hanya ingin memastikan sesuatu…”

***

“Janin anda sudah berusia satu minggu…”

Tubuh Suzy mematung. Hanya airmatanya yang mengalir dengan pandangan kosong ke depan.

Benar benar hari yang melelahkan setelah mendengar ucapan dokter yang sangat menyayat batin.

Kangjun dengan sabar mencoba menenangkan Suzy yang mulai histeris di koridor rumah sakit setelah aksi diamnya selama kurang lebih lima belas menit dengan airmata yang tak berkesudahan.

Tubuhnya melunglai kini, hampir roboh.

Wanita itu lantas mengamuk sambil meremas lantai lalu memukulnya brutal. Tak peduli sakit yang menyerang persendian dan ototnya.

Kangjun mencoba menghalangi, namun Suzy masih tak bisa mengontrol diri malah mendorong kasar Kangjun.

“Yak sebenarnya apa yang terjadi?!” Bentak Kangjun seraya mengguncang bahu Suzy. Juga mencoba menenangkannya. Terlihat mulai banyak orang yang menonton mereka.

“Myungsoo… aku tahu… pasti… dia… karena…” Suzy tersendat oleh isakannya. Ia menunduk lalu menggeleng. Tangisnya dimulai lagi.

Kangjun langsung mendekap Suzy tanpa aba aba. Seperti mendalami perasaan Suzy, matanya sendu menatap ke depan.

Suzy tampak mulai tenang yang sukses membuat penonton bubar.

Tinggal mereka berdua di koridor kosong itu.

“Sekarang boleh kau katakan apa yang sebenarnya terjadi?”

“Aniya…”

Kangjun sontak melepaskan dekapannya.

“Yak apa yang terjadi!” Kangjun mengguncang kasar bahu Suzy. Matanya membesar. Tampak menakutkan.

“Kau… tak perlu tahu…” kristal bening itu masih tak hentinya mengalir meski isakan pilunya terhenti. Sakit dalam hatinya membuatnya harus menumpahkan segala keresahannya. Ia benar benar sangat takut.

Mata nanar itu meluluhkan Kangjun.

“Meskipun kau tak mengatakannya… tapi nama Myungsoo sudah membuatku mengerti…”

“Myungsoo… pria… bajingan…”

“Aku akan menghajar Myungsoo untukmu…” tangan Kangjun mengepal.

“Bisakah… kau… membuatnya… menghilang?” Suzy mendesah.

“Sangat mudah bagiku…” lalu wajah Kangjun mendekat dan satu kecupan lembut menyapa bibir Suzy.

Aku mengenalmu, Bae Suzy…

***

Myungsoo berjalan lunglai memasuki kamarnya. Terlihat mabuk.

Ia langsung menghamburkan diri di atas kasur dan menutup mata menikmati kenyamanan kasurnya sambil terlentang. Namun, baru semenit tubuhnya dimanjakan, tiba tiba sebuah kaki menendang perutnya.

Ia terbatuk yang refleks membuat matanya melotot.

“Yak Kangjun-ah? Kau kah itu?” Myungsoo belum sadar seratus persen. Wajah Kangjun yang murka terlihat samar dimatanya.

Matanya memicing, mencoba membaca ekspresi Kangjun.

“Kau marah? Wae?” Masih dengan keseimbangan yang payah, Myungsoo mencoba berdiri.

“Aku tak tahu masalah apa yang terjadi antara kau dan Suzy… tapi… melihatnya menangis seperti itu… pasti kau telah melakukan kesalahan besar padanya kan?”

Alis Myungsoo saling bertaut.

“Mwo? Suzy menangis? Karena aku?”

“Ne!” Bentak Kangjun.

“Sial aku tak bisa menahannya lagi…”

“Tung-”

Bruak!

Satu pukulan di wajah sukses membuat Myungsoo tersungkur. Ia meringis merasakan darah yang keluar dari hidungnya. Pandangannya makin kabur.

Kangjun lalu menarik kerah Myungsoo, memaksanya berdiri.

“Tung-”

Tak ada ampun. Sorot mata bengis itu tak butuh penjelasan.

Bugh!

Satu bogem mentah mendarat di perut Myungsoo.

Ia kembali terbatuk.

“Yak tung-”

Bugh!

Darah segar kini memuncrat dari mulut Myungsoo.

“Yak!”

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Tiba tiba pintu terbuka.

Jiyong baru saja datang dan langsung melerai mereka.

“Yak apa yang kau lakukan Kangjun-ah?!” Pekiknya seraya menahan tubuh Kangjun.

Nafas Kangjun masih memburu. Matanya masih memancarkan aura keberingasan.

“Aku harus membuatnya menghilang dari dunia ini-”

“Yak apa kau gila?! Apakah ini kepribadianmu yang lain?! Yak sadarlah! Myungsoo adalah temanmu!”

Myungsoo terlihat terengah engah dan berusaha berdiri.

“Apakah… Suzy… menangis… karena… mengetahui… sesuatu?” Nafas Myungsoo putus putus. Wajahnya lebam. Tulangnya seperti mau remuk saja.

“Ne!” Kangjun mendorong Jiyong dan hendak menghajar Myungsoo lagi, namun kalimat yang diucapkan Myungsoo membuat tangannya berhenti. Ia ternanap.

“Mwo? Apa yang kau katakan?!”

“Ne… mungkin… Suzy menangis… karena dia… sudah tahu… bahwa dia… tengah hamil…”

Hening merajai selama beberapa detik. Jiyong juga terlihat shock.

“Dan orang… yang menghamilinya… adalah… aku…”

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Kangjun menghantam Myungsoo seperti kesetanan.

Myungsoo kembali tersungkur.

“Yak dengar brengsek! Aku akan membunuhmu dan melamar Suzy sekarang juga!”

Kangjun hendak menginjak wajah Myungsoo, namun Jiyong dengan cekatan mendorong Kangjun hingga terpelanting ke belakang.

“Yak kau gila?!”

“Ne! Bukankah kita semua memang gila?!”

Jiyong membuang muka. Kehabisan kata kata.

Kangjun mendecak lalu berjalan keluar. Tak lupa ia membanting keras pintu.

“Ji… yong… antar aku… ke kamar… Suzy…”

“Tap-”

“Sekarang!” Bantah Myungsoo lantang.

Tampaknya alkohol itu sudah tak menguasainya sekarang.

***

Suzy memandang seisi kamarnya. Hanya dia dan bayangannya. Soojung dan Jiyeon menghilang lagi. Padahal jam sudah memasuki waktu tengah malam.

Ia mengambil cermin dan menatap wajahnya yang tampak berantakan. Mata yang sangat sembab. Kantung mata yang besar membuat pandangannya berat.

Sigh!

Suzy sudah tak punya daya lagi. Ia menyerah. Ia benar benar menyerah. Kalau perlu, ia akan menyerahkan diri kepada wanita gila itu untuk dieksekusi. Biarlah dia mati. Toh, tak ada gunanya dia hidup. Hanya menanggung malu dan hinaan.

Tiba tiba suara ketukan pintu terdengar. Suzy beranjak dan membuka pintu.

“Kangjun-ssi?”

Kangjun menarik nafas panjang. Lalu tangannya merengkuh wajah Suzy.

“Kau jangan khawatir… Aku akan menjadi ayah untuk anakmu…”

Suzy terkesiap sampai tangannya yang tak lepas kontrol malah melayangkan tamparan keras ke pipi Kangjun. Apa apaan ini?!

Kangjun hanya tersenyum seraya mengelus pipinya yang tampak memerah.

“Aku tahu kau sedang hamil, Suzy-ssi…”

Mata Suzy berkilat marah.

“Kau tak sopan…” ucapnya tajam, hendak melayangkan tamparan kedua tapi Kangjun menangkapnya kali ini.

Suzy menatap muak orang yang kini berdiri di belakang Kangjun.

Myungsoo sudah berada di sana. Tersenyum getir menyapa Suzy, dan Kangjun tak menyadarinya.

Tangannya lalu mencengkram bahu Kangjun hingga pria itu mengerang.

Dengan segenap kekuatannya, Myungsoo mendorong Kangjun ke samping hingga mencium lantai.

Myungsoo menyeka bibirnya.

“Yak! Aku tak tahu alasanmu mendekati Suzy dan bahkan mau menikahinya… kheundae… aku adalah ayah dari anaknya… jadi… jangan pernah menyentuh calon ibu dari anakku… paham?!” Bentak Myungsoo di akhir kata.

Kangjun terdengar mengumpat dan meludah ke samping.

“Kau hampir saja membunuhku! Kheundae… seperti katamu… kita semua sudah gila… jadi… tak apa melakukan hal gila di asrama ini…”

Myungsoo lalu mengeluarkan pisau dari balik punggungnya.

“Kau tahu? Kau… Jiyong… dan bahkan Minho adalah teman yang sudah melewati waktu di asrama ini kan?”

Kangjun meringis lalu berusaha bangkit.

“Kheundae… kau dan Minho bukanlah teman yang baik… karena rela menghancurkan persahabatan hanya karena wanita… bahkan Minho menghajarku hanya karena aku mencium Suzy waktu di taman!”

Suzy tersentak. Sial! Benar benar pria mesum! Suzy lantas memundurkan langkahnya dan masuk ke dalam hendak mengambil sesuatu.

“Yak brengsek! Bukankah kau sudah tahu?! Kalau aku adalah fans sejati Bae Suzy! Aku selalu membicarakannya, bukan? Dan bukankah kau tidak terlalu menyukai Bae Suzy?! Kheundae wae kau malah menghamilinya?!”

“Ah… bukankah Minho juga seorang fan?” Potong Myungsoo sarkastis.

Suzy masih bisa mendengar pembicaraan mereka di luar yang membuatnya kembali teringat perkataan Minho waktu itu. Bisikan terakhirnya.

Aku… adalah fan mu…

“Kalian adalah fans yang menyedihkan… tak sepatutnya kalian mengakhiri pertemanan hanya karena wanita itu… kheundae…” Myungsoo mengayun ayunkan pisaunya sambil tersenyum menakutkan.

“Karena sering bersamanya… rasa itu mulai tumbuh…” Myungsoo tertawa renyah.

“Apakah kau tahu tingkat rasa apa yang kurasakan sekarang? Ketika seseorang tak ingin melepaskan mangsanya lagi… itu disebut obsesi…”

Langkah Myungsoo perlahan mendekat ke Kangjun. Semakin dekat. Dan…

***TBC***

Annyeong chingudeul!!!
Udah ada pencerahan? Wkwkwk part 5 udah end loh /gananya/

Oke, ff ini makin gaje aja yah hahahahaha part lima nanti semua misterinya akan terkuak.

Oh mian untuk part boring ini, mian kalau ga sesuai harapan. Mian… tapi inilah yang ada dipikiran sesatku😄

Jadi kalau udah muak dengan ff sialan ini silahkan distopin aja bacanya hahahahaha aku baik baik aja kok /sambil cakar tembok dengan berlinangan airmata/😄

Yosh!

Segitu dulu bacot ga penting saya.

RCL yang udah baca yah😀

Ghamsahamnida!

Bow~

107 thoughts on “FF School in Obsessions PART 4

  1. Bener-bener Menegangkaaaan!
    Sebenernya sekolahnya yg ga beres atau muridnya yg kelainan.. Tp kenapa muridnya berprilaku aneh semua??

    Keren thor (y) ide ceritanya daebak bgt bikin penasaran

  2. saat-saat tegang gini malah tbc next Thour,Thour minta pw nya dong part 5 pliss😦 @Kikhy_Rizki
    gomawo🙂

  3. Hoh serius bener2 menegangkan. Udah nggak tau mesti ngomong apa lagi. Bener2 bikin penasaran tingkat akut.

  4. Sedikit” udah mulai ada pencerahan kkk, tapi masih bingung dg apa yg terjadi di ff ini. Next part 5 nya tp diprotect yah? Gimana cara minta pw nya thor?

  5. Sekolah yg aneh..
    Banyak murid yg mempunyai kepribadian yg berbeda beda..
    Masih penasaran ttg sosok wanita yg mengincar suzy…
    Hmm..

  6. suzy udh tau lo dy hamil,,
    trus ap myungmau ngebunuh kangjun ka?😦 andwee jg jd pembunuh😦
    part end,, makasih thor tas pw.a😀

  7. Tuh kan zy eon hamil?
    Minho n kangjun fans suzy?
    Tuh murid2 di sekolah pada aneh semua?
    Knpa yah
    ?????
    Part 5 nya di pw yach
    untuk yang 3 kalinya aku minta pw ma eon

    yamg dua belum di kasi eonny
    kirim di no ini pleaze
    085395959471
    atau di email aku aja
    zul_nita@ymail.com

  8. benar-benar sekolah penuh dengan psycho..
    anehnya soojung kok gak sekarat-sekarat dengan narkobanya ya? padahal udah akut gitu ampe darah sendiri dihisap😀 gak seharusnya aku tertawa ><

  9. wuah itu sekolahnya yg ngga beres apa muridnya yg aneh ya?? atau jngan2 malah pembacanya yg jadi ikut eror,eh….😮
    jadi myung terobsesi sama suzy?
    bnyak teka teki yg belum terjawab nih thor..
    penasaran apa yg mau myung lakukan ke kangjun..
    next langsung terbang ke part selanjutnya ya thor *lambai lambai*

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s