FF Between the Lines (Oneshoot)

image

Title: Between the Lines
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Married Life, Mystery, etc.
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy
Sub Cast: OC’s and etc.
Length: Oneshoot

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

Jemari jentiknya mengapit alat yang kini menunjukkan dua garis merah. Bibirnya mengerut. Matanya menerawang penuh.

“Gheurae…”

Tiba tiba, pintu kamar mandi terbuka. Pria berpakaian kasual muncul dengan wajah gelisah. Tak sabaran.

“Yak Suzy-ah! Eotthokkae? Aku sudah menunggu selama satu jam tapi kau tak juga keluar. Apa yang sebenarnya terjadi? Pad-”

Celotehan pria itu terhenti begitu jemari lentik wanita itu membungkam bibirnya.

“Myung-ah…”

Wanita itu memberi jeda agak lama.

“Yak Su-”

“Aku… hamil…” nafas Suzy naik turun. Matanya mulai berkaca kaca.

“MWO?!” Myungsoo tersentak mundur.

Suzy mengangguk mantap. Lalu bibirnya membentuk garis lengkung seperti bulan sabit.

“Su-” tanpa kata lagi, Myungsoo langsung menarik tubuh Suzy, mendekapnya erat. Testpack di tangannya terlepas. Jatuh menukik di atas ubin kamar mandi.

***

Pasangan suami istri itu berjalan jalan di taman. Myungsoo hendak memuaskan rasa penasaran Suzy dengan ayunan taman. Katanya, ia lagi ingin bermain ayunan sambil memakan ttakkogi.

Suzy berjalan riang sembari mengelus elus perutnya. Myungsoo yang berjalan di sampingnya, tak hentinya menatap wajah istrinya dari samping. Wajahnya menyendu. Tenang menggenggam jemari Suzy. Erat. Teramat erat malah.

“Yak Myung!”

Myungsoo segera tersadar dari alam fantasinya begitu tangan Suzy berayun ayun di wajahnya.

“Kita sampai!”

Suzy berlari menuju ayunan kosong di tengah taman. Kebetulan, malam itu tak ada siapapun di sana. Tepat pukul 12 malam. Mau tak mau, Myungsoo harus menuruti keinginan ngidam aneh istrinya itu.

Myungsoo berhenti sebelum sampai di hadapan Suzy. Ia tersenyum memandangi reaksi Suzy yang mengayun ayun dirinya sendiri. Tak lupa jerit manja, menciptakan dunianya sendiri. Seperti anak berumur 7 tahun.

Suzy lalu menoleh. Raut wajahnya mengancam Myungsoo agar segera menghampirinya.

“Yak Myung-ah! Takkogiku mana?!” bentak Suzy ketika suaminya itu sudah berada di hadapannya.

Myungsoo berjongkok, menyeimbangkan diri. Agar wajah Suzy tepat membias masuk ke matanya. Tercetak dalam irisnya.

“Tidak ada.”

Bibir Suzy mengerucut.

“Yak aku sedang ngidam Myung!” Suzy makin kecut nan sinis menatap sepasang mata sendu Myungsoo.

“Aku tak bisa menemukan makanan itu dimanapun saat ini.” ungkapnya seraya menggenggam kedua tangan Suzy. Wanita itu tak lantas berhenti. Ia malah memaksa melepas cengkraman itu.

“Kau jahat.” Suzy berdiri dari ayunan, hendak beranjak dari sana. Baru selangkah, seorang pria sudah menghadangnya di depan.

Tinggi menjulang dengan rahang tegas dan senyum yang teramat manis. Ia menenteng sebungkus ttakogi hangat. Aromanya menyeruak.

Suzy tersentak selama sepersekian detik. Sementara Myungsoo langsung beranjak tepat di belakang Suzy.

“Kau mau makan ttakogi kan?” katanya lembut lalu memperlihatkan barang bawaannya itu.

“Ne. Gomawo.” Suzy merebut plastik itu dan kembali duduk di atas ayunan. Tak peduli dengan tatapan tajam Myungsoo dan mimik pria yang membawa makanan itu.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Myungsoo sambil fokus menatap Suzy dari jarak lima meter.

“Mengawasi bidadariku.” jawabnya lepas.

Myungsoo meringis kemudian mendecak.

“Kau berlebihan. Apakah kau lupa kalau aku ada di sini? Jadi kau tak perlu mengawasinya.” nada sarkasme yang keluar dari bibir Myungsoo sedikit membuat raut pria jangkung itu berubah. Ia terdiam. Enggan menjawab.

“Kau lebih baik pergi. Kumohon. Setidaknya…” Myungsoo mengambil jeda panjang. Belum sempat ia melanjutkan, pria itu sudah menghilang dari sana. Menyisakan aroma maskulin nan dingin.

Myungsoo memejamkan matanya kuat. Selama semenit ia mencoba menyendiri dengan angan yang terlihat di balik matanya yang tertutup. Lalu begitu sepasang kelopak matanya terbuka, wajah Suzy yang polos dengan kedua bola mata kaca menatapnya bingung. Myungsoo tersenyum. Tanpa kata merengkuh wajah Suzy. Mengecup bibir imut belepotan makanan itu. Suzy tersenyum disela selanya, juga mencoba meresapi ciuman pria tak tertebak itu.

“Ayo pulang. Di sini mulai dingin.” Ajak Myungsoo setelahnya. Tangannya mengapit posesif tubuh Suzy. Sementara wanita itu menatap sikap Myungsoo tak mengerti. Seulas senyum kosong menghiasi sekilas wajahnya.

“Persiapkan dirimu, Myung. Besok kau akan sibuk.” bisik Suzy manja.

“Tenang saja. Aku pria yang selalu siap.”

“Jinjja?”

“Aww!” refleks Myungsoo meringis, menyapu bekas cubitan gemas Suzy.

***

Suzy mengamit lengan Myungsoo, melangkah santai menuju toko yang menjual peralatan bayi di salah satu stan yang ada di mall. Suzy terlihat antusias mengamati warna warni barang yang ada di sana. Kereta dorong, baju baju, hingga ranjang bayi berdesain unik.

Suzy meremas ranjang pink berbentuk kereta cinderella. Ia tersenyum. Membayangkan bayi kecilnya akan segera menatapnya dibalik kelambu yang terpasang di sekeliling ranjang. Memberikan senyum lucu dan imutnya. Menggampai wajahnya dan berkata satu kata spesial. Satu kata yang didamba dambakan setiap wanita, “Mama…” dengan nada lembut dan mata bulan sabit yang menutup manja.

“Suzy… kau ingin membeli ini?” suara Myungsoo langsung membuyarkan lamunan Suzy. Wanita itu menggeleng pelan.

“Kau gila ya Myung? Bagaimana kalau anakku laki laki? Kau mau menyuruhnya tidur di atas ranjang pink? Kau benar benar ingin melihat bayiku tumbuh menjadi kewanita wanitaan huh?” dengas Suzy lalu ekspresinya lantas berubah cepat. Ia tertawa lepas. Myungsoo membatin, ekspresi Suzy yang selalu mendadak berubah. Ah, itulah ciri khasnya. Myungsoo tersenyum. Matanya tetap bertitik api pada wanita sexy yang sedang mengandung anaknya itu. Dengan dress soft pink selutut tanpa lengan, masih modis meski perutnya mulai terlihat membuncit. Sebelum ke mall, mereka sempat mengecek ke dokter dan hasilnya, Suzy sudah hamil tiga minggu dua hari dengan pernikahan mereka  yang sudah menginjak satu tahun.

“Jadi kau ingin anak itu laki laki?” Tanya Myungsoo sembari menggandeng Suzy menuju resto.

Suzy hanya menoleh tanpa kata. Sudut bibirnya terangkat. Matanya membentuk bulan sabit terbalik.

“Jadi kau ingin anak laki laki huh?” Myungsoo bergumam sendiri.

“Myung-ah…” Suzy berbisik pelan membuat Myungsoo tersadar dan langsung menoleh.

“Ne?”

Suzy tersenyum memandangi wajah suaminya dari jarak yang sangat dekat. Mata tajam bersiluet. Bibir sexy delimanya. Sempurna lah Myungsoo baginya. Pasti mereka akan memiliki anak yang sangat menawan.

Suzy mengelus perutnya, segera menghentikan aksi jahilnya.

“Yak Suzy! Apa apaan tadi itu?” Myungsoo mendecak segera menyusul Suzy yang berjalan riang keluar dari toko.

“Yak Suzy! Kau benar benar tak terduga!” seru Myungsoo tak percaya. Kini Suzy berdiri di depan sebuah air mancur. Terletak di tengah tengah keramaian mall. Indah dan menyejukkan. Suzy ingat pertama kali seseorang mengenalkannya dengan Myungsoo. Suzy awalnya enggan. Bahkan menolak keras. Tapi sungguh, ia tak pernah menyesali keputusan akhirnya. Menikahi Myungsoo.

Myungsoo menatap sayu wajah Suzy dari sudut kiri. Seakan waktu berhenti saat itu juga. Mereka mengenang awal mereka bertemu. Sebuah awal yang benar benar awal.

“Mianhae…” Myungsoo berbisik.

“Untuk apa?” Suzy masih berpusat pandang ke air mancur eksotis itu.

“Kau tidak menyesalkan telah menikahiku?”

Suzy menoleh cepat. Ekspresinya tak terjelaskan.

“Aku menyesal.”

Myungsoo tersentak. Pupilnya membesar. Ada urat yang muncul di wajah tegangnya.

Batinnya hampir goyah sampai tawa Suzy menyeruak. Menembus gendang telinganya yang  seolah hampir tuli sedetik lalu.

Suzy menjulurkan lidahnya. Tak lantas membuat wajah Myungsoo kembali seperti semula. Ada raut kesedihan dan ketakutan yang masih menempel erat di balik rupanya.

Suzy tak berkomentar. Ia kembali berjalan menggandeng Myungsoo menuju restauran.

Saat Suzy akan menyuapi Myungsoo, tiba tiba seseorang yang dikenalnya masuk ke dalam restauran. Mereka bertiga. Suzy buru buru menaruh kembali sendok itu ke piring, mengambil buku menu dan menutup wajahnya. Myungsoo baru tersadar ketika salah seorang dari mereka melototinya tajam. Ia langsung menarik Suzy dari sana, bahkan mengajaknya berlari.

“Yak, bukankah itu Suzy?”

“Jeongmal?”

“Bukan. Eomma salah lihat.”

***

Suzy tertawa ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Tawanya tak berhenti meski mereka sudah melesat jauh.

“Yak Suzy diamlah!”

Suzy langsung berhenti. Mimiknya lagi lagi tak tertebak. Ia benar benar tak percaya Myungsoo bisa membentaknya.

“Mianhae…” suara Myungsoo melunak. Dilihatnya Suzy yang mematung. Wajah cerianya seakan lenyap dibawa angin.

“Aku panik. Dan… dan… akh!” Myungsoo memutuskan membanting stir ke pinggir jalan.

“Suzy-ah…”

Wanita itu masih membisu.

“Suzy-ah…” Myungsoo merengkuh wajah Suzy, memaksanya menoleh.

“Yak Suzy-ah!”

Suzy menurut. Ia menoleh. Menunjukkan wajah tak terjelaskannya lagi.

“Mianhae…”

Suzy tak bergeming.

“Kau boleh meminta apa saja. Kau boleh melakukan apa saja padaku. Kau boleh melakukan apa saja…” Myungsoo masuk ke titik dimana Suzy harus memaafkannya. Meski baru setahun, rasanya Myungsoo sudah sangat mengenali seluk beluk istrinya itu.

Ada senyum tipis di bibir Suzy. Lalu senyum jahilnya keluar sempurna.

“Nanti aku akan meminta padamu. Jadi janjinya ditunda dulu.” Suzy cengengesan. Memaksa Myungsoo melepaskan rengkuhannya yang menyiksa.

“Yak apa apaan ekspresi licikmu itu huh? Jinjja.” Myungsoo mendecak. Segera memutar perseneling dan turun ke jalan. Kembali memusat ke jalanan kota yang padat.

***

Suzy asyik berpaku dengan acara kartun pagi di depannya. Tak sadar, Myungsoo sedari tadi memandanginya dari balik kaca dapur. Sedikit bias wajahnya menampilkan mimik keputus asaan. Sebahagian lain menolak keras. Batinnya bimbang. Detik – detik itu semakin habis.

“Myung! Mana popcorn ku?” Suzy menengok ke dapur. Myungsoo buru buru kembali ke depan pan. Ia tertawa hambar lalu berteriak ‘sedikit lagi’.

Suzy beranjak menuju dapur. Dilihatnya Myungsoo yang terdiam di depan kompor yang tak menyala. Pria itu memunggunginya. Dengan setelan kasualnya. Hitam hitam.

Suzy melangkah perlahan dan langsung memberikan back hug terbaiknya. Matanya tak dapat terbaca. Bibirnya sedikit merengut. Menahan kristal bening itu merembes.

“Aku lapar…” bisiknya. Masih dengan posisi mesra mereka.

“Sedikit lagi…”

“Aku tahu apa yang kau pikirkan Myung.”

“Sedikit lagi… Sungguh…” suaranya berat.

“Yak Myung-ah… Kau adalah seorang pria. Lakukan tugasmu!”

Myungsoo membalikkan badannya. Langsung disuguhkan dengan wajah Suzy yang basah dan tanpa ekspresi. Ia sedikit tersentak lalu jemarinya mulai menghapus tetes demi tetes yang keluar. Mereka saling pandang. Wajah Myungsoo perlahan mendekat hingga bibir mereka menyatu. Dalam dan lebih dalam.

“Kenapa kau menangis huh?” bisik Myungsoo setelahnya.

Ada jeda panjang sampai Suzy menjawabnya datar.

“Aku juga tak tahu.”

“Kau mencintaiku sekarang?” Tanya Myungsoo agak ragu.

Hidung mereka saling bersentuhan. Jarak pandang mereka memendek. Suzy bisa merasakan desahan nafas Myungsoo. Pepermint. Kesukaannya.

“Apakah aku harus menjawabnya?” Suzy berseringai lemah.

“Harus!”

Senyum Suzy perlahan mengembang. Lalu tawa meledak dari sana. Suzy membongkar posisinya. Kini memunggungi Myungsoo yang masih menunggu kepastian.

“Aku tak akan pernah menjawabnya…” Suzy berjalan pergi. Myungsoo tak tinggal diam. Ia langsung menghentikan pergerakkan Suzy dengan cengkramannya yang meremukkan.

Suzy meringis.

“Yak! Aku butuh jawaban!”

“Kurasa tak perlu.” Suzy masih merendahkan suaranya meski Myungsoo sudah mulai tak sabaran.

“Yak-”

“Kau masih ingat dengan permintaanku?” potong Suzy.

Myungsoo berdehem. Rautnya masih menyimpan tanya.

“Permintaanku adalah kau jangan tanya hal itu lagi karena aku takkan pernah menjawabnya. Arra?”

Myungsoo tersentak dan langsung melepaskan cengkramannya. Ia melunak. Yah, ia harus menepati janjinya apapun itu.

Suzy sontak berbalik. Ekspresinya berubah seratus delapan puluh derajat. Seolah kejadian tadi tak pernah terjadi.

“Yak mana popcorn ku Myung-ah?” Suzy mempoutkan bibirnya.

Myungsoo masih tertegun selama beberapa detik sampai ia benar benar sadar bahwa Suzy mulai marah lagi.

“Sebentar lagi. Tunggu di ruang tv. Jangan kabur.” Myungsoo berusaha keras tersenyum. Oh ayolah, dia sedang membuat lelucon.

Suzy tersenyum puas dan kembali ke tempatnya semula tanpa interupsi lagi.

Ruang tv dengan permadani oriental dan sofa kulit nan lembut. Ia merebahkan dirinya di tempat itu. Wajahnya tak fokus.

Tak lama kemudian, Myungsoo datang dengan pesanan ekslusif Suzy. Semangkuk popcorn dengan dua kaleng softdrink.

Lamunan Suzy terbuyar oleh aroma mentega dari popcorn. Ia terlonjak antusias.

“Suami yang baik!” Pekiknya seraya menghantam popcorn di depannya.

Myungsoo tersenyum dan mengambil tempat duduk di sebelah Suzy. Lalu hening meraja selama sepersekian detik.

“Suzy…”

“Hmmm?”

“Sarangheo… Jeongmal sarangheo…”

Suzy terdiam. Apakah Myungsoo sedang memancingnya?

“Sarangheo Suzy-ah…” Myungsoo tak menyentuh makanan maupun minuman yang terhidang. Tatapannya lurus ke depan. Pikirannya kemana mana.

“Sarangheo…”

“Sarangheo…”

Suzy menggigit bibir bawahnya lalu meraih ponselnya di meja. Diliriknya tanggal yang tertera di monitor.

kurang dari dua minggu lagi. batinnya.

“Myungsoo-ah!” Suzy menoleh. Memberikan mimik antusiasnya. Sementara Myungsoo masih dengan raut penuh bebannya.

“Ayo kita berlibur ke kampung halamanku selama seminggu lebih.”

Myungsoo langsung mengangguk ringan. Enggan membuang sisa waktunya bersama wanita di sampingnya ini.

“Yatta! Suamiku memang pria yang luar biasa! Aku akan-” ucapannya Suzy berhenti diujung lidah.

“Sarangheo…” kali ini lebih dalam masuk ke gendang telinga Suzy.

“Sarangheo…”

***

Kilauan air terjun dari pegunungan. Daerah yang asri dengan beberapa pepohonan rindang. Hamparan petak sawah, ibu ibu dan bapak bapak yang asyik memanen. Juga tanah lapang luas. Ada ayunan di taman hijau.

Suzy dan Myungsoo berjalan santai dengan pakaian khas musim panas. Suzy dengan perutnya yang membuncit, mengamit lengan Myungsoo manja. Sementara pria itu menghirup udara sebanyak banyaknya. Sudah lama aroma desa itu tak terjamah olehnya. Ia ingin berlama lama. Namun, Suzy sebentar lagi akan melahirkan. Maka ia harus kembali ke kota sebelum deadline lahiran Suzy.

“Yak Myung-ah… Aku ingin memanen padi.”

Myungsoo terlonjak.

“Mwo?!”

Suzy cengengesan. Ia memasang puppy eyes nya.

“Aish! Baiklah.”

Fighting yoebo-yaaa!” Suzy cekikikan melihat Myungsoo dengan berani meminta ibu ibu yang memanen agar mengijinkan Suzy ikut memanen dengan alasan Suzy yang tengah ngidam. Ibu ibu itu terlihat antusias menyambut kedatangan Suzy. Wanita hamil yang begitu sexy. Dengan dress vintage nya dipadupadankan dengan topi bundar besar. Tak memudarkan kecantikan alaminya. Ibu ibu itu senang dengan kehadiran Suzy. Tak marah bila Suzy malah merusak tanaman mereka. Mereka bahkan tertawa melihat keluguan Suzy. Sementara Myungsoo memperhatikan Suzy di rumah rumahan sawah. Dengan senyum terkulum. Binar matanya tak lepas.

“Mashittaaa!” Suzy menyeruput sup yang disediakan para ibu ibu disana. Mereka menikmati kudapan sederhana itu di rumah rumahan tadi selepas panen. Sambil menikmati kesejukan desa. Dengan angin sepoi sepoi dan aroma padi yang menguning. Terasa klasik.

“Kalian sangat serasi. Aku jadi iri.” celetuk wanita tua yang mengenakan penutup kepala.

“Pasti anak kalian akan sangat tampan dan cantik.”

“Kau sudah memeriksanya?” tanya ibu yang lain.

Suzy mengangguk ayu.

“Perempuan atau laki laki?”

“Perempuan.”

“Wah aku yakin dia akan sangat cantik. Dia harus memiliki mata indah sepertimu dan bibir imut seperti ayahnya.”

Myungsoo tersenyum samar mendengarnya seraya menyeruput minuman hangat yang ada.

“Semoga pernikahan kalian awet sampai selamanya.” sahut mereka seraya memberi doa pemberkatan.

Suzy dan Myungsoo lantas saling pandang. Tak ada yang enggan memotong atau menyela. Mereka saling melontarkan senyum menyedihkan.

“Apa kalian sudah memberinya nama?”

“Belum.”

“Sudah.”

Suzy dan Myungsoo kembali saling pandang. Kenapa Myungsoo malah berkata sudah?

“Jadi sudah atau belum?”

“Belum.”

“Sudah.”

“Myung-ah!” Suzy mengerucut. Myungsoo terlihat menahan tawa. Ia suka menjahili Suzy yang pada dasarnya tidak suka dibantah.

“Aku akan menamainya Goo Ae.”

“Yak Myung-”

“Goo artinya meraih dan Ae adalah cinta. Meraih cinta.” ucapnya sambil tersenyum simpul.

“Wah nama yang bagus.” celetuk yang lain dan mereka saling menimpali.

“Jangan lupa namai dia dengan nama cantik itu…” bisik Myungsoo.

Suzy mendesis kesal lalu berdiri dari tempatnya.

“Myung menyebalkan! Padahal aku ingin menamainya Jieun!”

“Jieun?”

“Ne! Itu adalah nama adik minho yang sudah meninggal.” Suzy mengerucut.

Jleb!

Myungsoo menelan ludah. Ia ingat. Ia ingat betul dengan nama itu.

“Lalu?”

“Minho oppa yang mau menamainya seperti itu! Bukankah sudah kesepakatan?”

“Yak Suzy-ah! Kau… adalah milikku. Minho tak berhak menamai sesuatu yang sudah menjadi milikku! Dan anak itu adalah milikku!” bentak Myungsoo tepat di depan wajah Suzy. Wanita itu sampai tertegun. Tak berkutik.

“Aku sangat marah! Seharusnya kau tak membahas pria itu!” lalu Myungsoo memutuskan melangkah pergi. Ibu ibu yang ada disana tampak terkaget kaget. Mereka benar benar tak tahu apa apa.

“Nappeuuun!”

***

Suzy sedang bertaruh nyawa di dalam ruang operasi. Ia tak mau caesar. Ia ingin merasakan bagaimana sakitnya ketika ibunya melahirkannya agar ia tak menyakiti perasaan ibunya lagi.

Didampingi seorang pria di sampingnya, Suzy terus menerus menjerit kesakitan. Tangannya mencengkram erat tangan pria di sampingnya itu. Pria lain. Bukan Kim Myungsoo.

“Kau harus kuat Suzy-ah…” gumam pria dibalik kaca ruang operasi. Ingatannya kembali ke masa dimana ia harus dipertemukan dengan Suzy. Ingatan yang sangat menyenangkan.

“Kita bahkan baru bertemu setelah beberapa tahun berpisah setelah kelulusan SMA. Jadi kerjamu apa sekarang?” Minho membuka percakapan.

Seraya mengisap sebatang rokok, Myungsoo tersenyum tanpa kata. Minho memaklumi kebiasaan sahabat lamanya itu.

“Yak Myungsoo-ah kau tampak berubah. Kau lebih terlihat nakal.”

“Kau kemana saja? Kenapa baru mencariku?” nada ketus itu tanpa ampun keluar dari bibir Myungsoo.

“Aku…”

“Pergilah. Aku ada kerjaan.” Myungsoo yang hendak menutup pintunya langsung terlonjak begitu Minho berlutut dengan wajah memelas.

“Myungsoo-ah! Bisakah kau menolongku?” ujar pria yang kini sudah resmi menjadi suami Suzy, Lee Minho.

“Mwo?” Myungsoo mendecak.

“Aku mandul. Aku tak bisa menghamili Suzy. Sedangkan eommaku sangat menginginkan cucu sejak kehilangan Jieun. Aku tak mungkin mengatakan kepada eomma kalau aku…”

“Jadi?”

“Kau harus menikahi Suzy.”

Myungsoo terdiam.

“Hanya sampai dia melahirkan! Kumohon! Tak ada yang bisa kumintai tolong selain kau! Aku tak sudi melihat Suzy bersama yang lain kecuali denganmu! Jadi-“

“Baiklah. Aku setuju.”

“Goma-“

“Dengan syarat.” potong Myungsoo cepat.

“Apa itu?”

“Kau tak boleh mengganggu kami sampai saat terakhir…”

“Baiklah. Tapi setelah Suzy melahirkan, kau harus pergi dan lupakan apa yang telah terjadi. Berpura puralah bahwa semuanya tak pernah terjadi. Aku yang akan mengatur semuanya.”

Myungsoo hanya terdiam dengan senyum miring khasnya.

“Kau memang sahabatku. Gomawo!” Minho membungkuk beberapa kali. Ia terharu karena akhirnya masalahnya teratasi. Tapi…

Suara tangis bayi meracaukan lamunan Myungsoo. Ia bergegas pergi dari sana.

Baru selangkah menuju lift, ia langsung memutar badan. Dilihatnya dari sana, wanita parubaya yang menjadi ibu Minho, dan pria berjas, Ayah Minho. Keluarga yang sangat lengkap. Ditambah istri yang cantik dan anak perempuan. Sempurna. Hidup Minho sangat sempurna.

Terbesit rasa iri yang kembali berkecamuk di dadanya. Lagi, ia sudah sangat tergila gila dengan Suzy. Tak ada pilihan lain. Yah, ia harus melakukan hal itu. Seperti dulu.

Ingatannya kembali berputar. Saat ia melihat Minho di sebuah pesta. Ia melihat kebahagiaan yang terpancar disana. Minho memiliki adik yang sangat menawan. Keluarga yang harmonis. Ia jadi cemburu. Pekerjaannya yang sebagai pembunuh bayaran, tak membuatnya takut untuk membunuh siapa saja. Dan ditangannya, Lee Jieun, gadis manis itu bersimbah darah.

“Psikopat.” Itu adalah kata terakhir yang sempat Jieun ucapkan sebelum akhirnya, Myungsoo memutilasinya. Merebusnya. Dan mengunyahnya perlahan lahan. Seolah olah sedang memakan daging kobe pilihan. Myungsoo tersenyum kala itu. Ia benar benar sakit jiwa.

Lalu Minho kembali padanya. Dan memintanya untuk memperistri Suzy. Tapi…

Dia akhirnya jatuh cinta.

Bagaimana menurutmu jika seorang psikopat jatuh cinta?

***

Suzy melihat anaknya untuk pertama kali. Persis apa yang dikatakan ibu ibu pemanen itu. Matanya cantik seperti Suzy dan bibirnya imut seperti Myungsoo. Suzy melihat bayang bayang Myungsoo di sana.

Airmata Suzy tak terbendung. Ia menjerit keras. Semua melihatnya aneh. Biasanya wanita akan melihat bayinya dengan senyum kebahagiaan dan tangis bahagia.

Suzy terlihat lain. Ia terlihat telah melepaskan kebahagiaannya.

“Goo Ae… Kim Goo-”

“Suzy-ah!” Minho menyela. Keningnya mengerut. Heran melihat Suzy yang malah mengganti marga bayinya.

“Lee Jieun. Dia Lee Jieun.” sergah nyonya Lee yang tak lain adalah ibu Minho. Terlihat antusias ingin segera menggendong cucunya.

Suzy terisak. Ditatapnya wajah anaknya itu dalam. Wajah Myungsoo mendominasi.

“Myungsoo-ah…”

“Yak Suzy. Kau harus melupakan pria itu. Sudah kesepakatan-”

“Kau pria kejam.” gumam Suzy.

“Suz-”

“Kau kejam!” matanya menatap tajam Minho.

Minho panik. Ia berusaha mengalihkan pandangan orang tuanya dengan mengambil bayi itu dari Suzy dan menyuruh Eommanya menggendongnya. Menyuruh mereka meninggalkan Suzy dan Minho berdua.

“Suzy-ah… Kau menyukai Myungsoo huh?”

Suzy tak menjawab. Bibir pucatnya menggigit keras.

“Oh tidak! Mungkinkah kau malah mencintainya?” nada Minho meninggi.

Suzy tetap bungkam.

“Aku akan membunuhnya jika kau terus mengingatnya.” ancam Minho tak main main. Ia punya seribu orang yang bisa ia bayar untuk menghabisi Myungsoo. Tak peduli lagi bahwa pria itulah yang telah membantunya. Tak peduli lagi bahwa pria itu sempat menjadi sahabatnya. Pria yang selalu membantunya dilkala ia dibully anak lainnya. Myungsoo lah yang menghajar orang orang itu. Dan giliran Myungsoo yang sedang butuh uang, dialah yang menolong. Mereka saling tolong menolong dikala apapun. sahabat sejati.

Bukankah sahabat akan selamanya terjalin walau dunia berubah sekalipun? Namun bukan sahabat namanya jika belum pernah bertengkar. Mereka bertengkar. Lalu Minho memutuskan pindah. Mereka akhirnya berpisah.

“Yak Minho-ah… Jaga ucapanmu. Kau bukan pembunuh.” balas Suzy ketus.

“Aku tak mungkin mengotori tanganku.” Minho mendesis.

“Yak dia adalah sahabatmu!”

“Mwo? Setelah apa yang dia lakukan padaku? Dia itu sakit!”

“Mwoya?” Suzy tersentak.

“Dia yang membunuh Jieun! Tapi aku malah memaafkannya! Aku sudah terlalu baik Suzy-ah!”

Suzy tergemap selama sepersekian detik.

“Lalu… kenapa kau malah meminta dia menikahiku?! Eoh?! Kau telah menjerumuskan dirimu sendiri!”

“Selain karena aku memang tak bisa menghamilimu, juga karena aku ingin membalasnya. Aku ingin memperlihatkan padanya betapa indahnya duniaku dan betapa menyedihkannya dunianya! Aku tak bisa membunuhnya karena kita adalah sahabat, tapi… Kalau dia berani menyentuhmu lagi, dia akan benar benar habis!”

“Kau seharusnya mencari pria lain!”

“Myungsoo sangat tepat bagiku. Dia tampan. Wajah anak kita pasti akan sangat membanggakan jika pria itu Myungsoo.”

“Monster…” umpat Suzy pelan.

“Kau… Berhenti memikirkannya… Atau dia akan mati…”

“Nappeuuuuun!”

***

Suzy memandikan Jieun dengan penuh kasih sayang. Merasa seperti ketika ia memanjakan Myungsoo. Meski nama di akta kelahirannya adalah Lee Jieun, Suzy tetap memanggil anaknya dengan sebutan Goo Ae.

“Ah Yeppoda… Goo Ae-ya…” Suzy tersenyum menikmati senyum polos Jieun.

“Goo Ae-ya… malam ini eomma akan memberikanmu kejutan…” bisiknya.

“Mumpung Minho belum kembali, aku akan keluar sebentar.” Suzy mengenakan pakaian lucu lucu kepada Jieun. Ia juga tak lupa berdandan.

Setelah melahirkan, Suzy jadi semakin sexy dengan lipstik merah merona. Sangat serasi dengan kulit putih bak porselennya.

“Kkaja!”

***

Myungsoo tersenyum mendengar suara ketuk pintu. Ia tahu, itu adalah wanita yang sudah ditunggu tunggunya. Yah, Myungsoo mengundang Suzy makan malam. Juga ingin memberikan kejutan spesial.

Dibukanya pintu, senyum manis Suzy menyapanya duluan. Sementara Jieun berada di atas kereta bayi.

Myungsoo langsung melumat bibir Suzy.

“Bogossippo…” gumam Myungsoo setelah melepaskan ciuman mereka.

“Nado…” Suzy mengulum senyumnya.

“Masuklah… aku sudah menyiapkan makan malam spesial.”

Suzy mengangguk lalu masuk sendirian. Sementara Myungsoo mendorong kereta Jieun dan masuk mengekori Suzy.

Suzy memperhatikan Myungsoo yang tengah menuangkan sampanye ke dalam gelasnya. Mata elang Myungsoo tak lepas memandang wanitanya itu.

“Sarangheo…” ucap Myungsoo pelan.

“Nado…”

“Aku harap kita bisa seperti ini terus. Tanpa ketahuan.”

“Kau tak usah khawatir. Kita tak akan pernah ketahuan.”

Suzy tertawa lepas. Sementara Myungsoo mengulum senyum khasnya.

Mereka terdiam saat Suzy mulai mengunyah dagingnya. Teksturnya tak biasa. Suzy mengerut. Ia merasa sangat kagum dengan masakan Myungsoo. Sangat lezat. Tasty.

“Ini daging apa? Kobe? Unta? Pork?” tanya Suzy antusias.

Myungsoo tertawa keras.

“Yak Myungsoo-ah!” Suzy mengerucut.

“Sebegitu enaknyakah daging Minho sampai kau menyamakannya dengan daging daging lezat itu?” Myungsoo mendecak.

Jleb!

Suzy menelan salivanya. Jiwanya benar benar terguncang. Ia terpaku. Terdiam selama sepersekian detik.

“Sarangheo… Suzy-ah… Aku… tidak ingin menjadi yang kedua…”

Senyum Suzy perlahan mengembang. Ekspresi kaget tadi seolah lenyap ditelan bumi. Mimik Suzy yang selalu berubah secepat kilat. Seperti itulah Suzy.

“Pertahankan cara masakmu, Myungsoo-ah… Ini sangat enak… Rasanya aku ingin menambah lagi…”

Mereka lalu saling pandang. Tersenyum dalam nuansa candle light.

***END***

Annyeongggg readersssss! Ah akhirnya comeback juga setelah berwindu windu lamanya vakum (vakum cleaner) #plak oke back to the topic. Finally aku nelurin ff lagi. FF yang super duper gaje pula buahaaahahahaha!😄 Semoga ada yang baca ya hihik😄

Untuk ff selanjutnya aku bakal buat genre thriller romance. Mungkin selepas final semester deh ya😄 /gak nanya/

Oke, RCL dolooooo!

Kritik dan Saran ditampung!

Ghamsahamnida!

Bow!

75 thoughts on “FF Between the Lines (Oneshoot)

  1. annyeong eon^^ aku readers baru xD salken yoo ;; ffnya keren e.e (y) walaupun agak ngeri .-. di awal cerita masih bingung gimana alurnya ‘-‘ waktu diakhir baru ngerti :” myung disini horror yaampun ._. tapi tetap keren :v izin baca ff yg lain eon😀

  2. Mwoaya myungzy jdi kanibal gak kebayang, daebak jinjja daebak baru pertama kali baca ff myungzy yg alur’y kya gini 4 jempol buat author-nim👍👍👍👍 owh iya kenalkan aku reader baru disini izin baca ff nya ne author-nim

  3. Annyeong?
    Remember me? Reader yg lama ga muncul haha
    Lagi hiatus dri dunia baca ff soalnya. Dan setelah kembali malah pengen baca ff2mu😀

  4. sedih jga ya sma myung jdi suami boongan. pantes ajk myung takut kehilangan suzy ternyata gara2 ini toh. aduh myung kejam banget msak daging.a minho suzy mlah gk marah lgi . but karena ini happy ending aku tetep suka.

  5. aigoo,ff nya bgus bgt eonii.
    ngk kebayang betapa cantiknya anak myungzy klo beneran nikah di dunia nyata#semoga terjadi
    suzy jd ikutan canibal juga deh..
    semoga anak mreka ngk terprovokasi ya..
    oiya,aku readers baru.salam kenal ya eonni. mohon izin baca karya eonni yg lainnya

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s