FF Void PART 1 (Twoshoots)

image

Title: Void
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, School Life, etc.
Main Cast: Bae Suzy, Kim Myungsoo, Choi Minho
Sub Cast: OC’s and etc.
Length: Twoshoots

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

Alunan harpa mengalun dari ruangan berlabel ‘Musica’. Ruangan favorite wanita berambut panjang dengan kulit seputih susu itu. Memetik harpa dengan anggun. Meresapi tiap petikan tangannya yang gemulai. Juga nada nada harmonis seindah malaikat bersayap. Matanya tertutup rapat.

Sayup sayup ia mendengar suara teriakan membahana dari luar ruangan. Suara pria melengking bersamaan dengan langkah kaki yang semakin banyak. Rombongan.

Ia menghentikan aksinya dan beranjak dari kursi favoritnya. Ia menaruh harpa berukuran mini itu dan berlari kecil menuju pintu. Diintipnya seseorang yang baru saja melewati ruangan tempatnya bersemayam. Seperti gerakan lambat dalam film, sekejap mata ia melihat pria berambut shaggy dengan mata yang tajam. Rambutnya berkibar ketika ia berlari menghindari rombongan yang memburunya. Langkahnya gesit, cepat dan tangkas. Sepatunya berdecit saat pembelokan.

Ada senyum yang muncul di bibir gadis harpa itu. Ia menutup pintu dan kembali melanjutkan permainannya.

***

Gadis itu memiliki mata indah yang bersinar seterang bintang. Ia memakai tas harpanya seraya berjalan menelusuri koridor yang mulai sepi. Hanya dua tiga murid yang ada.

Saat pembelokan, tak sengaja matanya bertemu pria dengan bola mata besar dan postur tinggi atletis bak olahragawan.

“Annyeong Suzy-ssi.” sapanya ramah.

Suzy hanya tersenyum. Senyum tulus yang benar benar tulus. Percakapan singkat itu berhenti ketika pembelokan benar benar menelan mereka.

Suzy masih berjalan sendirian. Sampai langkah menggema terdengar dari belakang. Mendekat dan terus mendekat.

“Yaaaaaaaaaaaaaaak minggir!”

Suzy berbalik dan didapatinya pria berambut shaggy itu berlari kencang menghampirinya. Wajahnya babak belur dan tampak jalannya mulai pincang. Nyata sekali ia tengah menahan nyeri.

“Awas!”

Suzy terpelanting ke bawah. Namun pria itu seperti tidak peduli dengannya dan terus berlari.

Suzy meringis. Dilihatnya rombongan yang mulai mendekat ke arahnya. Matanya perlahan membesar.

Suzy berusaha berteriak tapi suaranya tak juga keluar. Ia ingin bangkit tapi kakinya terkilir.

Ia menyeret tubuhnya agar segera ke tepi sebelum rombongan itu menginjaknya.

Tap.. tap… tap…

Suzy gagal memindahkan posisinya. Matanya terpejam. Ia siap menerima resiko apapun.

Tapi,

Langkah mereka terhenti. Kumpulan pria pria itu menatap Suzy yang terduduk. Mata gadis itu terpejam.

Mereka bergumam. Menyeruakkan kekaguman.

“Jadi ini, yang sering Sunggyu katakan itu.”

“Ne, katanya wanita yang sering dibicarakan Myungsoo.”

“Dia sangat…”

“Ah, susah dijelaskan.”

Mata Suzy langsung terbuka tatkala merasakan puluhan tatapan dari pria pria yang menjadi musuh Myungsoo.

Yah, Kim Myungsoo. Pria pembuat onar yang akan membuat siapapun melongo. Betapa beruntungnya dia bisa menempuh pendidikan di sekolah musik internasional ternama sekelas ‘Frimuse High School’. Sang pembuat onar, tukang berkelahi dan menjadi momok menakutkan bagi guru guru.

Mata Suzy terbelalak tatkala merasakan tubuhnya diangkat ala bridal oleh seseorang.

“Apa yang mau kau lakukan huh?! Kenapa berhenti mengejarku?!” nada pria itu berapi api. Tegas dan keras.

Bisa Suzy rasakan aroma maskulin pria tegas itu. Sangat dekat. Mereka sangat dekat.

“Yak Kim Myungsoo! Kali ini kau lolos!” mereka berhamburan meninggalkan Myungsoo dan Suzy.

Hening meraja setelah mereka pergi. Sementara Suzy masih terpaku memandangi wajah Myungsoo sedekat ini.

“Mian, tadi aku kira siapa. Ternyata nona pemain harpa.” Myungsoo berjalan tanpa memperdulikan tatapan Suzy yang sayu. Dan gendongannya yang ala bridal itu tetap ia pertahankan sampai di parkiran;padahal ia sendiri tengah kesakitan. Myungsoo langsung memasukkan Suzy ke mobilnya tanpa meminta persetujuan.

Suzy lalu mengeluarkan buku catatan dari sakunya dan menuliskan sesuatu di sana.

Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawaku dengan mobilmu?

Myungsoo membacanya sekilas dan tanpa babibu, mobil itu langsung melesat dari sana.

Perjalanan mereka terasa sangat sunyi. Myungsoo lalu menekan tapenya. Musik langsung menyeruak dari sana. Lagu Busker Busker, Cherry Blossom Ending. Lagu musim semi yang syahdu.

Suzy kembali menulis sesuatu di catatannya.

Kau tahu rumahku?

“Ne.”

Kenapa? Darimana kau tahu?

“Aku pengagum nona harpa.” bisiknya yang sontak membuat Suzy menjauhkan kepalanya. Ia terlihat salah tingkah dan memilih bertitik api ke jalan.

“Semoga pita suaramu segera sembuh. Makanya jangan terlalu keras berlatih.” katanya pelan tanpa menatap Suzy yang terdiam.

“Oh ya, ini pertama kalinya aku berbicara denganmu setelah satu bulan aku pindah ke sekolah musik itu. Dulunya aku bersekolah di Jerman.”

Suzy tampak tak peduli.

“Aneh ya aku membicarakan hal ini kepada orang asing.”

Suzy semakin tak peduli.

“Aku tidak suka musik.”

Suzy langsung menoleh cepat. Di tatapnya Myungsoo tak percaya.

“Kau pasti heran.”

Lagu Busker Busker berhenti mengalun. Berganti lagu musim semi lainnya.

“Aku ke sini karena aku ingin balas dendam kepada seseorang.”

Myungsoo tersenyum mencurigakan.

“Dan akhirnya aku bisa berbicara dengan orang itu.”

“Setelah satu bulan mencari tahu tentangnya.”

“Akhirnya…”

Myungsoo menoleh. Ekspresi luar biasa terkejut Suzy langsung menyapanya.

Kenapa? Kenapa?

Hujan deras membasahi Kota Seoul. Dua gadis manis menerobos hujan dengan riangnya. Gadis itu Suzy dan Jihyun. Mereka sudah menginjak SMA kelas 1. Sekolah musik yang diimpi impikan kedua sahabat itu. Suzy jago bermain harpa dan Jihyun pandai memainkan cello.

Tapi sesekali Suzy meminta Jihyun mengajarkannya bermain cello. Begitupun dengan Jihyun.

“Yak Jihyun-ah, aku diterima bermain dalam orkes Kang Seongsaengnim di Jerman.”

Jihyun terdiam. Suzy menoleh. Ditatapnya sahabatnya yang basah itu. Mereka duduk di atas ayunan. Favorite mereka. Di bawah rinai hujan yang tak kunjung berhenti.

“Jihyun-ah, kau tak senang?” mimik Suzy berubah serius.

“Kenapa kau yang terpilih? Kau kan pemain harpa. Bukankah harpa tak dipakai dalam orkestra itu huh?” nada tak menyenangkan itu keluar dari bibir Jihyun. Terasa berat dan kelam.

Suzy terdiam. Kepalanya terangkat ke atas. Matanya terpejam. Bulir bulir air menerpa wajahnya. Hujan masih deras.

“Kenapa bukan aku yang terpilih huh? Aku sudah berusaha keras kan? Bahkan aku yang mengajarimu bermain cello. Gheurae, wae? Wae?” airmata Jihyun jatuh. Tak ada yang tahu. Hujan sukses menyembunyikannya.

“Eommaku akan mengirimku ke luar negeri kalau aku tak bisa masuk ke dalam orkestra Kang Seongsaengnim.”
Suzy terlonjak.

“Mwo?!”

Jihyun kini terisak.

“Kita akan terpisah.”

Suzy langsung mendekap Jihyun erat.

“Mianhae…”

“Mianhae… aku akan keluar dari orkestra itu.

“Jeongmal?”

“Ne.”

Ada senyum mencurigakan yang tersemat di bibir Jihyun. Tampak ia tengah menyembunyikan sesuatu.

“Gomawo.”

***

“Kau tak bisa keluar. Kalaupun kau keluar, aku tak bisa menerima Jihyun.” tegas Kang Seongsaengnim.

“Waeyo?”

“Jihyun sudah dilarang bermain cello oleh kedua orang tuanya.”

“Mworagu?! Waeyo?”

“Telinga Jihyun hampir rusak. Ia hampir tak mendengar dan ia dilarang mendengar suara menggema dengan lama. Kau taukan betapa bisingnya orkestra itu?”

Suzy tercekat.

Ia buru buru pamit hendak menemui Jihyun. Langkahnya melambat begitu sampai di depan ruang ‘Musica’. Ruang favorite mereka.

Jantung Suzy berdegup kencang tatkala mendengar suara cello yang mengalun indah.

Ia menelan ludah. Ditariknya gagang pintu. Dilihatnya Jihyun yang sibuk berlatih. Ada senyum dibibirnya. Gadis itu sangat senang karena akhirnya bisa bermain cello lagi.

“Jihyun-ah…”

Jihyun tak mendengarnya. Ia masih sibuk dengan nada nada klasik yang dimainkannya.

“Aku tak akan keluar dari orkestra Kang Seongsaengnim.”

Jihyun masih tak mendengarnya.

“JIHYUN-AH!”

Jiyhyun tersentak dan berhenti bermain. Ia berbalik. Ada senyum di bibirnya. Wajahnya basah.

Suzy tercekat. Jihyun menangis?

“Mian…”

Suzy melongo. Terdiam beberapa saat.

“Mian…”

“Jihyun-ah…” Suzy terbawa perasaan yang dilontarkan Jihyun. Rasa sakit. Rasa kecewa. Rasa yang bercampur aduk.

“Mian… Aku berbohong padamu…” Jihyun menunduk. Ia mulai terisak.

“Aku… Hanya ingin berdiri di panggung… Sebelum… Sebelum… Sebelum aku benar benar tak bisa mendengar.”

“Aku ingin mewujudkan impianku, Suzy-ah…”

“Sekali saja…”

“Kumohon…”

Suzy berlari menghampiri Jihyun dan langsung mendekapnya.

“Kheundae-“

“Aku yang akan menanggung semua resikonya… Jebal…”

Suzy hanya mengangguk.

***

Suzy meletakkan lili putih di depan puluhan foto. Ada foto Jihyun di sana, juga Kang Seongsaengnim.

Matanya sembab. Ada banyak orang di sana. Orang tua dan Oppa Jihyun juga ada di sana. Mata Oppa Jihyun menatap tajam Suzy yang kini khusyuk berdoa di depan pigura pigura itu. Mengirimkan doa kepada para pemusik yang gugur dalam kecelakaan pesawat saat akan berangkat menuju pagelaran orkestra yang di adakan di Jerman. Pesawat yang memuat penumpang para pemain orkestra dan guru guru. Mereka tewas dalam kecelakaan naas itu.

Suzy masih menunduk dalam. Bersimpuh. Sementara pria di samping Suzy menaruh lili di depan pigura Jihyun. Tatapannya sangat tajam menusuk. Menatap Suzy intens. Aura membunuh terasa kental di sana.

Suzy kini mengangkat wajahnya. Pandangan mereka bertemu sesaat sampai Suzy berdiri dan meninggalkan tempat itu dengan hati terluka.

Suzy tertegun tatkala mobil itu terparkir di dalam sebuah rumah sakit. Suzy dipaksanya turun dari mobil. Kaki Suzy sudah agak mendingan, meski ia harus berjalan pincang.

Mereka berjalan beriringan. Suzy masih merasa ada yang aneh. Ditatapnya kumpulan manusia manusia tak waras yang berada dibalik jeruji. Adapula yang berkeliaran, berlari larian sepanjang koridor. Terdengar pula teriakan melengking. Dan hal hal aneh lainnya.

Kenapa kau membawaku kesini?

Myungsoo tertawa remeh. Menunda jawabannya sampai mereka sampai di depan sebuah kamar. Ada penjaga yang tengah membius seorang wanita parubaya. Wanita itu sempat meronta. Kini ia tertidur pulas di ranjangnya.

Suzy membekap mulutnya tak percaya. Yah, ia kenal dengan wanita itu. Sosok ibu yang sangat menyayangi anak anaknya. Wanita parubaya itu adalah ibu Jihyun.

“Itu adalah eommaku. Dia gila setelah kepergian Jihyun.”

Suzy tak mampu membalas. Hatinya benar benar sakit. Ia tak tahu Kim Myungsoo adalah Oppa Jihyun. Selama ini ketika ia ke rumah Jihyun, pria itu selalu tak ada. Yah benar, Myungsoo menempuh pendidikan di Jerman. Jihyun sering bercerita tentang Oppanya yang hebat itu. Pemuda yang cerdas dan penyayang bagai sosok Oppa idaman.

Tapi yang dilihatnya sekarang… Seorang pria dengan amukan penuh dendam. Sang pembuat onar. Sangat berbeda dengan cerita cerita Jihyun itu.

“Appaku menghilang setelah tau eommaku gila.”

Suzy berbalik. Tak sanggup melihat kenyataan di hadapannya.

“Aku benar benar sendirian.”

Suzy hendak melangkah pergi, namun Myungsoo dengan sigap menahannya.

“Yak dengarkan aku sampai habis!” bentaknya. Matanya berkilat marah. Rahangnya mengeras.

Suzy benar benar takut sekarang.

“Bukankah eomma dan appaku sudah melarangmu membiarkan Jihyun bermain cello huh?”

“Lalu kenapa kau malah membiarkannya?!”

“Kenapa?!”

“Gara gara kau keluar dari orkestra sialan itu, Jihyun masuk. Dan…”

Myungsoo berteriak tak tahan. Ia menendang angin di depannya kesal.

“Jihyun pabbo! Bisa bisanya dia memalsukan tanda tangan eomma dan appa agar bisa berangkat ke Jerman bersama orkestra bodohnya itu!” ia bermonolog sendiri.

Myungsoo berhenti. Agak lama. Pria itu hanya memandangi Suzy selama itu. Perasaannya meluap luap.

“Aku seperti mati saja…”

Suzy mulai muak. Ia menghempaskan tangan Myungsoo dan hendak berlari, namun sia sia. Kakinya terkilir. Ia sama sekali tak bisa berlari sekencang kelinci.

Myungsoo membiarkannya.

“Yak! Tidak sia sia aku menguntitmu selama satu bulan ini!”

Suzy mempercepat langkahnya.

“Ternyata ada hasilnya juga!”

Suzy makin kesal.

“Suaramu yang indah itu…”

“Hilang…”

Jleb!

Suzy langsung berhenti. Ia berbalik cepat. Matanya menatap pria yang berjarak lima meter itu tajam.

“Makanya, jangan minum sembarangan… Harpa-ssi…” Myungsoo tersenyum miring.

Suzy benar benar tak percaya. Pantas saja, Suzy merasa heran dengan suaranya yang bisa hilang separah itu. Padahal ia hanya berlatih seperti biasa.

“Sebentar lagi pendengaranmu akan hilang.”

“Lalu indra pengecapmu.”

“Dan indra penciumanmu.”

Suzy tercengang hebat. Benarkah? Benarkah ia tak akan bisa berbicara lagi? Dan… dan…

“Yang tersisa hanya matamu yang indah itu.”

“Kau hanya bisa memakai indra penglihatanmu…”

“Kau akan merasa benar benar sendiri. Kesepian. Senasib denganku. Senasib dengan Jihyun-ku.”

Suzy menggeleng frustasi. Airmatanya lolos begitu saja.

Ia mencoba menjerit, namun sia sia. Suaranya tak juga keluar.

Senyum Myungsoo tak hilang sampai seorang pria tinggi menarik Suzy dari sana. Menggendongnya di punggung. Tanpa menperdulikan Myungsoo di sana.

“Brengsek…”

Myungsoo menatap kepergian kedua insan itu tajam. Enggan menahan gadis itu lagi.

Tiba tiba ia merasakan keanehan dalam dirinya saat melihat adegan itu.

Gadis itu menangis. Dan yang memeluk dan menyembuhkan lukanya adalah pria itu. Pria yang awalnya tak ia kenal. Ia tahu setelah menelusuri kegiatan Suzy. Pria itu adalah kakak kelas Suzy. Setingkat dengannya. Pria yang disebut sebut sebagai orang yang Suzy dan Jihyun kagumi.

***

“Gwaenchana?” tanya Minho setelah mobil itu melesat pergi.

Suzy menggeleng. Tangisnya tak kunjung reda.

“Mian, aku mendengar sedikit.”

Oppa, apakah aku lebih baik mati huh?

Minho terlonjak.

“Yak! Jangan kau pikirkan kalimat paling buruk itu lagi. Semua manusia bernyawa berhak hidup. Arra?”

Suzy menggeleng.

Kheundae, aku telah membuat seseorang seperti mati. Sepertinya aku pantas mati

“Yak! Kau akan mati pada waktunya. Semuanya pasti mati. Dan saat itu tiba, kau harus mati dengan terhormat.”

Suzy sedikit tersadar. Meski dalam benaknya, perasaan bersalah yang ia simpan rapat rapat itu terus menerus tumbuh menjadi sebuah gejolak jiwa yang suatu saat akan meledak.

Oppa, aku punya permintaan.

“Ne. Apa itu?”

Bisakah kau menjagaku dari pria tadi?

Minho sedikit terkejut.

“Wae? Apakah dia menyakitimu?” sorot mata Minho berubah. Ia mulai marah.

Aku hanya takut.

Minho tak menjawab. Tangannya terkepal. Sorot matanya makin tajam.

***

Hari ini jadwal check up Suzy. Rumah sakit tampak ramai. Suzy berjalan luntang lantung menuju ruangan dokter pribadinya. Tenggorokannya terasa sangat sakit yang berdampak dengan tubuhnya.

Suzy menarik gagang pintu. Dan masuk tanpa permisi. Dokter itu sudah menunggunya dengan senyuman hangat.

“Bagaimana keadaanmu hari ini Suzy-ssi?”

Suzy menggeleng pelan. Wajahnya tampak pucat.

“Kau tak ke sekolah?”

Ia mengangguk lalu mengeluarkan catatannya.

Apakah aku bisa sembuh? Apakah aku bisa bersuara lagi?

Sang dokter tersenyum seraya mengambil peralatannya.

“Tak ada penyakit yang tak bisa sembuh. Semua butuh proses.”

Dokter, aku kehilangan suaraku karena seseorang memasukkan sesuatu ke minumanku

Sang dokter langsung tersentak.

“Mwo?”

Katanya aku akan kehilangan pendengaran, indra pengecap dan indra penciumanku

***

Suzy berjalan pelan menuju tempat tertinggi di sekolahnya. Ada harpa di tangannya. Airmatanya mengalir. Tak juga berhenti.

Saat berada di sana, ia melangkah pelan menuju ujung bangunan. Tempat bunuh diri paling strategis.

Suzy naik satu tingkat. Di bawahnya, ada ratusan murid yang tengah asyik melakukan kegiatan. Mereka langsung berkumpul tatkala mendengar sayup sayup harpa di atas.

Suzy memainkan benda itu dengan lihai. Airmatanya terus terjatuh tanpa bisa dikontrol lagi. Ia terisak. Nada nada kelam menyeruak.

Harpa selalu identik dengan malaikat. Ia seperti malaikat pemain harpa yang menghantarkan kematiannya sendiri. Ke tempat dimana suara suara surga menantinya.

Akankah?

Semua murid serentak berkumpul. Meneriaki gadis itu agar tak terjun bebas ke bawah. Di antara kerumunan itu, ada pria yang membuat hidupnya hancur dan pria yang sempat membangkitkan semangatnya. Kim Myungsoo dan Choi Minho.

Mereka berlari dari kerumunan. Masing masing mencari jalan tercepat menuju atap.

Suzy memainkan nada terakhirnya. Terasa sangat lambat nan suram.

Lalu…

“Yak harpa-ssi!”

Suzy menoleh. Matanya makin menyipit. Airmata membuat pandangannya kabur.

“Apa yang kau lakukan eoh?!”

Suzy tak akan bisa menjawab pertanyaan itu. Ia tak tahu bahasa isyarat dan suaranya benar benar sudah hilang. Ia hanya menatap pria itu antara nanar dan keji.

“Kau mau mati huh?!”

Ada jeda panjang yang tercipta. Mereka saling tatap menatap.

“Baiklah! Silahkan mati!”

Bugh!

Myungsoo tersungkur. Minho berhasil meninju perutnya.

“Yak kau Kim Myungsoo!”

“Silahkan mati! Maka aku akan menang! Dan kau akan kalah!” Myungsoo masih berteriak ke arah Suzy. Tak peduli lagi tonjokan bertubi tubi yang diterimanya dari pria jangkung itu.

Suzy mendelik. Ia langsung berlari ke arah mereka. Mencegat Minho agar segera berhenti.

“Yak Suzy! Pria ini harus mati! Dia yang telah membuatmu jadi begini!” Minho bersikeras.

Suzy menggeleng cepat. Buru buru ia mengeluarkan catatannya.

Itu bukan urusan oppa. Aku yang akan mengalahkannya.

Minho tertegun. Ia menghentikan aksinya dan bangkit. Ditariknya Suzy dari sana.

Suzy sempat menoleh. Ia melihat senyum bahagia di bibir Myungsoo. Meski ia terbaring dengan memar yang bertambah.

***

Suzy melamun saat pelajaran dimulai. Tatapannya teralih ke arah jendela. Di sana sosok pria yang menghantui hidupnya itu berlari. Berlari menghindari amukan siswa siswa yang ia kerjai. Pria itu sangat nakal.

Suzy kembali berfikir, pria itu seperti itu karena dia kesepian. Ia telah kehilangan adik, eomma, dan appanya. Dia sendirian.

Lalu bagaimana dengannya? Dia kehilangan suaranya, dan sebentar lagi, pendengarannya akan hilang.

Suzy tersentak begitu terdengar suara hentakan di mejanya. Gurunya sudah berada di depannya. Matanya berkilat marah. Mulutnya berkomat kamit, tapi yang di dengar hanya sayup sayup.

Matanya membulat merasakan ada yang tidak beres dengan telinganya. Ia langsung berdiri dari bangku dan berlari keluar. Ia hanya mendengar sedikit suara. Hanya sedikit suara. Airmatanya tumpah begitu saja.

Ia telah sampai ke pembelokkan, lagi lagi pria itu berlari ke arahnya. Kali ini ia menariknya berlari. Ada senyum di bibirnya. Suzy tak membantah. Ia ikut berlari bersama pria itu bersama kristal bening yang tak juga berhenti. Mereka bersembunyi di suatu tempat rahasia. Sempit. Tapi mereka harus membaginya. Mereka berdempetan. Terasa sangat canggung bagi Suzy.

“Mianhae…” bisiknya. Hembusan nafasnya membuat Suzy merinding. Jemari pria itu menghapus pelan airmatanya.

Ada gejolak batin yang menggebu gebu. Seperti ratusan kupu kupu menggelitik perutnya. Meski ia tak mendengarnya. Hanya sedikit. Hanya sedikit suara.

“Kau harus mengalahkanku. Jangan berbuat konyol lagi.”

Suzy masih tak bisa mendengarnya. Hanya sedikit. Hanya sedikit suara.

“Aku merasa tak bisa membiarkanmu melakukannya.”

Tatapan mereka bertemu.

Ada jeda yang tercipta. Kemilau di mata gadis itu membuatnya berdegup kencang. Nafasnya naik turun menahan jantungnya yang akan mencelos keluar. Tak sadar wajahnya semakin mendekat. Bibir delima gadis itu seperti mengundangnya ke sana.

Suzy tercekat.

Myungsoo…

***TBC***

Annyeong readerdul!^^

Balik lagi nih ff-er ngaco bin gaje😄

Sip, ini adalah ff twoshoots jadi part selanjutnya bakal final /yaeyalah/ 😄 dan masih ada dua ff lainnya menyusul /gananya/😄
sorry for typos and plis koreksi jika ada kesalahan kesalahan lain. kritik dan saran selalu ditunggu.

Okay, daripada saya banyak bacot mending komen aja yukmari^^

eh di like juga ya huahahaha😄

Enjoy this sucked story and happy fasting^^

Ghamsa^^

Bow

45 thoughts on “FF Void PART 1 (Twoshoots)

  1. Cahhhh myung yg balas dendamz dgn kematian adiknya mengakibatkanz suzy kehilangan pendengarannya.
    Tapi yg ingin myungso lakukan…..apa dia ppopo suzy.

  2. Apakah suzy akan benar” kehilangan alat pendengaran,pengecap,dan juga suaranya?
    Bagaimana bisa myungsoo sejahat itu tapi disatu sisi dia juga seperti peduli pada suzy.
    Lalu jika semuanya terjadi apa suzy bisa sembuh?buknkah akan sangat sulit jika kita kehilangan 3 indra?

    Penasaran banget akan seperti apakah endingnya.
    Next partnya dutunggu author Fighting

  3. yeeee eonni update
    wah wah myungpa menakutkan ya sampek segitunya klo mau balas dendam
    aigoo tapi kliatannya mereka saling jatuh cinta ya, apa yang mereka lakukan di adegan terakhir?? kkkk joha
    cant wait for next^^

  4. Myungsoo aneh mau bls dendam tp kynya suka sm suzy jg -_- kasihan suzy suaranya ilang trus pendengarannya jg dah hmpir ilang untung ada minho yg jagain…
    Ffnya bagus bagus kok (:
    Next ditunggu,penasaran ni

  5. Myungsoo balas dendam ke suzy, lahaela bukan salah suzy juga jihyun jadi gitu..ya sbg oppa jjang, tapi kasian suzy..tobatlah kau myungsoo😀, smoga ada obat buat suzy

  6. Myungsoo jahat, brengsek, nyebelin, psikopat. Si jihyun mati kan bukan karena Suzy. Teganya dia ngelakuin itu ke Suzy. Masa Suzy harus kehilangan suaranya, pendengaran sama penciumannya? Astaga,,, jangan sampai itu terjadi.
    Kim myungsoo mati aja kau.

  7. aku baca genrenya romance-school life.. tapi ceritanya????myung jahat banget smpe mau bales dendam sama suzy. itukan bukan sepenuhnya salah suzy…. apa nanti myung bkl suka sm suzy??trs cara nyembuhin suzy gimana??
    next thor… fighting!!!

  8. myungsoo jahat bgt, jihyun mati itukan buakan karna suzy tapi keinginan dia sendiri yg pengin ikut orkestra. suzy udah mau kehilangan pendengarannya trus penciumannya juga. myungsoo kejem sungguh…
    lanjut thor

  9. Yuhuuu.. Fhyra comebackkkkkk
    Ahh.. Senangnya 😁😁👏👏👏
    Awal.a saja kliatan manis ehh.. Pas tengah2 baru ngeh ternyata myung balas dendam k.zy
    Klo dia tau cerita asli.a ntar dia baru nyesel.. Sok2an nyalahin org trus brbuat hak yg ngbahayain zy tanpa tau apa alasan zy melakukan itu semua
    Ikhhh.. Jd sebek k.myung masa
    Tuh apa lg yg dilakuin namja ngeselin itu
    Moga aja zy bsa ngmong lg
    D.tunggu next.a eonni n ff lain.a okay.. Fighting 😉😉😉

  10. myungsoo udah berhasil balas dendam. tapi kenapa malah mencegah suzy yg mau mati. bukankah dia sendiri yg mau suzy menderita, skrg sudah terjadi. lalu kenapa tiba2 minta maaf? kenapa tiba2 bersikap seolah peduli? mau apa kim myungsoo ini sebenarnya?

  11. omo jd itu prbuatan myung yg bwt suzy kya gitu bkan slah suzy jihyun mninggal, jihyun yg mksa suzy bwt ikut orkesta itu
    myung jinja nappeun >_<
    eeeyy apa myubg ska suzy? dy labil bngt pdahal dy yg dh hancurin suzy tp knpa dy yg mrtahanin suzy jg ckckck
    NEXT PART😀

  12. duh airmataku g bisa kutahan ni, kasihan amat suzy!!myungsoo jahat banget sich, lihat ja ntar bakal nyesel yg mat sangat. pengen nyentil tu jidat myungsoo huh

  13. duh airmataku g bisa kutahan ni, kasihan amat suzy!!myungsoo jahat banget sich, lihat ja ntar bakal nyesel yg mat sangat. pengen nyentil tu jidat myungsoo huh!!lanjut thor udah g sabar ni!

  14. Liat genrenya romance. Iya sih awalnya sweet. Berasa kesan romance nya. Tapi giliran ke tengah jadi acara pembalasan dendam gini. Nextnya ditunggu kak fyra. Semangat….

  15. Huaaa feel nya dapet banget,aq sampe nangis seriusan..✌

    Astaga myungsoo tega banget gak sepenuhnya suzy yang salah,itu kan keinginan jihyun tapi kenapa myung ngelampiasin nya sama suzy,,

    Astaga kerennnnn ditunggu banget ke lanjutan nya…

    -Mutkyu-

  16. Itu Myungsoo mau ngapain? Waa Suzy kyanya mulai khilangan pendengerannya deh, Myung jhat banget sih.. Dtnggu banget next partnya

  17. Astaga. . Myung kejam banget sih😥 ,
    Kasian Suzynya yg ngak salah jdi korban. Tpi myung juga kasian Uda di tinggalin Keluarganya😦 huaaa ffnya kerenn

  18. Omo omo. Myungsoo kejam banget. Bukan kesalahan suzy tapi dia yg menerima akibatnya.
    Myungsoo membenci suzy tanpa tau fakta sebenarnya yg terjadi.
    Membuat suzy tidak bisa bicara, kehilangan indra pendengaran, pengecap dan penciumannya, dan yang terpenting impian suzy akan musnah.😦
    Iisshh, tuh kan myungsoo kena karma karena terlalu membenci suzy, dia akhirnya jatuh cinta pada suzy.
    Pake cium” segala.

    Kheundae fanficnya menarik chingu😀

  19. aigoo gatau mau komen apa!karya author emang selalu bisa bikin aku cengo,sulit banget untuk ditebak alurnya!!jinja jjangjjang!

  20. Bingung jg mau nyalahin siapa?? Suzy dianggap udh bunuh jihyun secara ngga langsung sm myungsoo mknya myung bals dendam.. tp kn itu ngga sepenuhnya salah suzy bhakn bukan slah suzy. Itu udh resiko jihyun yg maksa buat suzy keluar dri orkes itu kn..

  21. Hanya karena salah paham myungsoo tega nyakitin suzy? Ckck kalau sudah di tutupi dendam myungsoo bisa apa heh~
    Jangan sampai nyesel ya myung kkk

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s