FF Void PART 2 – END (Twoshoots)

image

Title: Void
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, School Life, etc.
Main Cast: Bae Suzy, Kim Myungsoo, Choi Minho
Sub Cast: OC’s and etc.
Length: Twoshoots

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

Previous Part:

“Aku merasa tak bisa membiarkanmu melakukannya.”

Tatapan mereka bertemu.

Ada jeda yang tercipta. Kemilau di mata gadis itu membuatnya berdegup kencang. Nafasnya naik turun menahan jantungnya yang akan mencelos keluar. Tak sadar wajahnya semakin mendekat. Bibir delima gadis itu seperti mengundangnya ke sana.

Suzy tercekat.

Myungsoo…

***PART 2 END***

Myungsoo…

“Yeoboseyo?”

“Ne? Ah, Jihyun-ah! Sudah lama kau tak menelpon Oppa.”

“Aku lagi sibuk Oppa. Aku sekarang sedang melakukan persiapan untuk sekolahku.”

“Jinjja? Bagaimana dengan Suzy? Sahabatmu yang sering kau ceritakan itu huh?”

“Dia satu sekolah denganku!” Jihyun setengah menjerit saking senangnya.

“Ah aku benar benar ingin melihatnya. Aku hanya mendengar dari cerita ceritamu betapa hebatnya sahabatmu itu. Benarkah?”

“Tentu saja! Kalau Oppa kembali, aku akan mencomblangkan kalian! Aku juga sering bercerita tentang Oppa padanya.”

“Jeongmal? Yak jangan mengatakan hal yang tak benar padanya!” serunya dengan nada candaan.

Jihyun tertawa lepas.

“Kapan Oppa pulang huh?”

“Setelah lulus.”

“Ah lama sekali! Aku mau Oppa kembali secepatnya! Titik.”

“Pokoknya setelah lulus. Titik.”

“Ah Oppa! Apa yang harus aku lakukan agar Oppa cepat pulang huh?”

“Kalau kau mati, maka Oppa pasti akan ke sana mendatangi pemakamanmu.” Myungsoo tertawa terbahak bahak.

“Pabbo! Yak! Kalau Oppa sampai ketemu Suzy nanti, jangan menyesal kalau dia sudah punya kekasih! Asal oppa tau, Suzy banyak yang suka! Banyak yang meminta nomor ponsel Suzy padaku!”

“Yak! Aku tak pernah bilang kalau aku ingin menjadi kekasihnya!”

“Kalau aku mengirim fotonya pada oppa, pasti impian oppa akan segera berubah.”

“Kirim saja! Tak ada yang bisa merubah keputusanku.”

“Baiklah!”

Jihyun memutuskan telepon sepihak. Ia menelusuri galeri ponselnya. Mencari foto Suzy dan langsung mengirimnya ke email Oppanya.

Sent.

Sementara di tempat lain, di suasana musim dingin di Eropa, Myungsoo membuka foto itu. Jihyun juga tak lupa menuliskan kalimat di sana.

‘Jangan pernah menyakiti sahabatku Oppa!!!!!! Kalau kau menyakitinya, aku akan membunuhmu.’

Ada senyum di bibirnya. Yah, mereka memang suka bercanda seperti itu.

Ia lalu membalas surel itu dengan sebuah kata singkat.

‘Yaksokhae.’

“Mian… aku sudah menipumu.” bisiknya.

Suzy tercekat. Ada apa ini?

“Aku tidak pernah memasukkan obat apapun di minumanmu. Aku hanya… mencoba membuatmu stress hingga kau berniat bunuh diri…”

“Kheundae… aku benar benar tak bisa melihatmu melakukannya. Dan aku… tidak mungkin melakukan hal itu pada sahabat adikku… aku hanya marah… hanya luapan sementara…”

Suzy hanya mendengar sayup sayup. Ia sama sekali tak mengerti.

Myungsoo menaikkan alisnya melihat Suzy hanya merespon seperti itu.

“Yak, Kau pasti ketakutan kan? Lalu kenapa kau tak juga bersuara?”

Suzy makin frustasi. Ia buru buru mengeluarkan catatannya.

Apa yang kau katakan? Aku tak bisa mendengarmu

Deg!

Mimik pria itu berubah drastis.

“Mwo?” suara Myungsoo seperti tertelan.

“Yak! Mana mungkin kau benar benar tak bisa mendengar dan berbicara padahal aku hanya berbohong padamu?!” Myungsoo membentak. Tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Bagaimana bisa?

Plak!

Tangan gadis itu membekas merah di pipi Myungsoo. Pria itu tercengang.

Suzy sama sekali tak mengerti dengan apa yang dikatakan pria ini. Ia hanya menerka. Mungkin Myungsoo tengah membentaknya. Menghinanya dengan angan angan balas dendamnya itu.

Myungsoo langsung merampas catatan itu dan menuliskan sesuatu di sana.

Yak dengar! Aku minta maaf karena aku telah berbohong padamu mengenai obat yang aku masukkan ke minumanmu. Aku sama sekali tak pernah memasukkan obat apapun. Aku hanya berbohong agar kau depresi dan membuatku puas. Tapi aku sama sekali tak bisa membiarkanmu mengakhiri hidupmu dengan cara seperti itu. Terlebih aku sudah berjanji pada Jihyun. Bukankah janji harus ditepati huh?

Suzy tercengang hebat.

Lalu… Lalu kenapa suaranya menghilang? Dan pendengarannya juga?

Suzy menatap nanar pria di depannya. Tanpa babibu lagi, ia langsung berlari dari tempat itu. Sejauh mungkin. Ia terus berlari. Airmatanya lagi lagi menetes. Ia benar benar tak mengerti.

Sementara Myungsoo menikmati punggung gadis itu dengan perasaan bercampur aduk. Jadi apa yang terjadi sebenarnya?

Itu hanya kebohongan yang hampir mengakhiri hidup seseorang, hanya karena emosi sesaatnya. Tapi kenapa malah jadi kenyataan?

Apa yang sebenarnya terjadi?

***

Suzy berlari sampai tak sadar sudah berada di luar sekolah. Di tatapnya sekeliling, pohon pohon sakura bermekaran di sekitarnya. Ada beberapa kelopak yang berterbangan diterpa angin. Dan dia berada di bawah rindangnya ribuan kelopak merah jambu itu. Ia lantas menarik nafas panjang. Ada sedikit senyum yang menghiasi pipinya. Dan ada airmata yang mengalir di pipinya. Entah mengapa, mengingat semua kenangannya membuatnya ingin menangis. Dan setelah tahu, Myungsoo hanya membohonginya. Ada perasaan lega. Benar benar lega.

“Suzy-ah! Kau tahu Minho oppa kan?” tanya Jihyun antusias seraya mengayunkan tubuhnya di ayunan.

“Ne. Wae?”

“Aku baru saja jadi kekasihnya!”

Senyum Suzy perlahan memudar. Ia berusaha tersenyum, tapi makin terlihat palsu.

Raut Jihyun langsung berubah. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Suzy dan membisikkan sesuatu.

Suzy terlonjak.

“Aniya!” bantah Suzy mentah mentah.

“Bilang saja kalau kau juga suka padanya kan?” Jihyun menggoda.

“Kau ini pabbo!” Suzy menjitak kepala Jihyun dan mulai berlari dari sana. Jihyun menyusul gadis berkuncir itu dengan terus meneriakkan kalimat ‘Kau juga suka kan?

Suzy menutup kedua kupingnya dan terus menggeleng. Sampai mereka berhenti di bawah pohon sakura yang rindang dan lebat. Musim semi yang sangat menyejukkan. Mereka menatap bunga berwarna pink itu dan tersenyum.

“Tenang saja!” Jihyun mulai berteriak.

“Aku akan membaginya kalau kau mau.”Jihyun mengerlingkan satu matanya. Suzy tertegun.

“Yak pabbo!” Suzy kembali menjitak gadis itu.

“Aku bilang aku tak suka!”

Jihyun memeletkan lidahnya dan kembali berlari.

“Yak Jihyun-pabbo-saram!” Suzy setengah menjerit dan mulai mengejar gadis itu.

“Aku akan mengenalkanmu dengan dia!”

“Nugu?”

“Oppaku yang tampan yang sering kuceritakan padamu itu!”

“Ah! Aku belum pernah melihat wajahnya.”

“Nanti saja. Ini akan menjadi surprise.”

“Dimana dia sekarang?”

“Dia akan segera pulang. Tunggu saja!”

Suzy baru sadar, setelah kepergian Jihyun, ia lebih banyak menyendiri hingga tak tahu bahwa si pria yang dimaksud sudah hadir di tengah tengah mereka.

Suzy menunduk dalam sampai terdengar suara klakson membuatnya langsung terlonjak. Itu Minho. Dia mengendarai motornya dan menyuruh Suzy untuk naik ke motor dengan gerakan tangannya.

Pendengaran Suzy berkurang banyak. Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam.

Sampai mereka di sebuah apartemen. Mereka melangkah ke lantai 12 dengan lift. Lagi lagi mereka saling terdiam. Lantai itu terletak paling atas dan hanya ada kamar Minho di sana.

Tibalah mereka di kamar 111. Suzy duduk di atas sofa dengan pemandangan unik di sejauh mata memandang. Kamar Minho sangat tak biasa dengan lemari yang berjejer botol botol buram berisi sesuatu yang aneh. Dan koleksi pisau yang dipajang di sekeliling dinding. Dan ah, ada koleksi kerangka juga.

Suzy bergidik. Darimana pria itu mendapatkan semua koleksi itu?

Minho datang dengan nampan berisi minuman dingin dan se-toples kue. Tak lupa ia mengeluarkan satu baki ice cream.

Minho mengeluarkan kertas dan menuliskan sesuatu di sana seraya duduk di samping Suzy.

Makanlah.

Suzy mengangguk dan mulai menyantap ice cream yang tersedia. Ia menyendok perlahan dan menelannya pelan pelan.

Suzy lalu melirik rasa yang ada di label. Ternyata rasa coklat.

Oppa, aku tak merasakan apapun.

Deg!

Minho terlonjak. Pupil matanya tampak membesar. Ada rangsangan di otot tangannya yang memaksanya mengepal.

Apa jangan jangan indra pengecapmu mulai hilang?

Suzy tertegun. Terdiam. Menatap kotak ice cream itu.

Aku akan membunuh pria itu, Suzy-ah!

Suzy langsung membantah. Ia menggeleng frustasi. Ia memohon agar Minho jangan melakukan hal itu.

Dia tak bersalah. Dia hanya berbohong. Tapi… kenapa hal itu bisa benar benar terjadi?

Minho mendecak.

“Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia berkata seperti itu?! Jadi mengapa kau bisa seperti ini?!” suara Minho menegas, meninggi. Suzy hanya menggeleng. Tangisnya mulai merembes. Ia tak mendengar apapun.

Minho langsung mendekap tubuh Suzy. Mencoba menenangkan gadis itu. Mencoba menguatkannya.

Lalu tiba tiba, senyum aneh muncul di bibir Minho bersama telapaknya yang terus mengusap pelan punggung Suzy.

***

Suzy memainkan harpanya anggun. Di dalam sana. Ruangan tempatnya menyendiri dengan cahaya yang menyeruak masuk dari celah celah ventilasi. Sementara airmatanya mengalir dengan senyum yang terus terpasang. Myungsoo di balik pintu, menatap dari kaca aksi Suzy yang makin membuat dadanya sesak.

Nada nada itu makin menusuk. Membuatnya hendak melangkah masuk ke dalam. Namun dengan gerakan cepat, seseorang tiba tiba mencegatnya. Pria itu tampak murka.

“Benarkah dengan apa yang telah kau katakan itu huh?” tanyanya sarkastis.

“Apa? Apa maksudmu?” Myungsoo tak kalah sarkastis.

“Tentang kau berbohong?” Minho makin memperdengarkan nada mengejek.

“Bukan urusanmu!” Myungsoo menghempaskan tangannya kasar dan hendak kembali melangkah masuk. Namun lagi lagi Minho menghalanginya. Kali ini dengan pukulan telak di wajah.

Myungsoo terjerembab. Ada darah di pinggir bibirnya. Meski nyeri tapi masih bisa dia tahan.

Lalu ia bangkit dan mulai membalas. Dilayangkan kepalannya ke perut Minho. Pria itu terdorong sedikit. Meringis, merasakan ulu hatinya ngilu.

“Kau brengsek! Penipu brengsek!” Minho memekik dan mulai membuat ancang ancang untuk kembali menyerang.

Satu persatu murid mulai berdatangan. Aksi mereka mendapatkan respon antusias. Para gadis terdengar menjerit. Sementra para pria mendukung aksi mereka hingga turut memprovokatori.

Kedua pria itu berbuntut adu jotos dan tak ada yang melerai karena guru guru tengah rapat dan para murid tampak asyik menonton peristiwa itu.

Tak lama berselang, pintu ruangan Musica terbuka. Suzy muncul dengan tampang bingung dan langsung terlonjak begitu melihat dua pria yang dikenalnya saling beradu bogem mentah.

Suzy tak bisa berbuat apa apa. Suaranya hilang dan dia tak bisa mendengar apa apa. Suzy hanya bisa menepuk pundak Myungsoo. Tapi malah nyaris membuatnya terpukul. Suzy melangkah mundur. Kembali menepuk pundak Myungsoo. Pria itu menoleh. Tapi yang ada malah pukulan keras mendarat tepat di wajahnya. Semakin bonyoklah aset berharganya itu.

Suzy menjerit. Tapi tak mengeluarkan suara apa apa. Percuma.

Myungsoo makin tersungkur. Nafasnya sudah tampak terengah engah. Pandangannya memburam. Dilihatnya wajah cemas Suzy yang kini menarik narik tubuh Minho agar melepaskan mangsanya itu. Lamat lamat, gerakan tangan Minho yang brutal berhenti. Ia seperti melihat Minho dan Suzy yang melangkah menjauh.

Ia masih sempat tersenyum melihat Suzy terus menerus berbalik sampai pembelokan menelan kedua manusia itu. Saat itulah raga Myungsoo sudah tak sanggup lagi menahan bertubi tubi serangan, bertubi tubi rasa sakit. Ia pingsan di hadapan puluhan pasang mata.

Mereka bergegas menolong Myungsoo. Tiba tiba, sang raja sekolah menerobos kerumunan. Kim Sunggyu. Bos dari musuh bebuyutan Myungsoo. Bos dari orang orang yang sering Myungsoo kerjai. Pria itu menyuruh kawanannya untuk segera mengangkat Myungsoo dan membawanya ke markas.

***

Suzy berjalan menelusuri apartemen berwarna gelap itu. Ditatapnya koleksi aneh Minho satu satu, sementara pria itu tengah keluar berbelanja. Katanya hendak memasak sesuatu untuknya.

Suzy tersenyum melihat toples toples cantik buram itu. Ada air di dalamnya yang berhiaskan toples samar hijau lumut.

Suzy kembali menuruti keingintahuannya yang besar dengan melangkah ke ruangan paling intim. Kamar tidur Minho. Nuansa dark kembali menyelimuti ruangan itu. Di sana, ada koleksi pistol yang di taruh di lemari kaca. Ada piano hitam yang ditaruh di sudut. Cukup berdebu. Suzy lalu melangkah, menghapus debu itu dengan tisu yang diambilnya dalam ransel. Dibukanya kap piano, memperlihatkan jejeran tuts berwarna hitam dan putih. Tak sengaja matanya menatap noda merah mengering di salah satu tuts berwarna putih.

Suzy mencoba menghapus semua pikiran pikiran liar dalam benaknya dan mulai menekan tuts tuts itu lihai. Nada Fur Elise yang khas merebak. Ia tak mendengarnya. Sama sekali tak mendengarnya. Tapi ia terus dan terus menekan tuts itu sampai suaranya masuk ke gendang telinganya. Tetap saja sia sia. Perlahan ia mulai menangis lagi. Bibirnya merengut, menahan isakan itu keluar.

Tiba tiba ada yang memeluknya dari belakang. Itu Minho. Ia seperti berbisik sesuatu. Tapi sungguh, Suzy tak akan bisa mendengarnya.

“Aku akan menghilangkan semua rasa sakitmu.”

“Tenang saja.”

“Tunggu saja.”

Lalu satu kecupan mendarat di pipi Suzy. Membuat Suzy makin mengeraskan tangisnya.

***

Myungsoo meringis saat matanya pertama kali terbuka. Samar samar, ia melihat puluhan pria yang tengah menatapnya.

“Yak Kim Myungsoo! Kau sangat payah! Memalukan!” celetuk salah satu dari mereka.

“Ne. Kau yang selama ini selalu menang melawan kami, tapi malah kalah dengan si brengsek itu.” kali ini si rambut ikal bersuara.

“Yak Kim Myungsoo! Bangunlah!” Sunggyu terdengar memaksa.

Pandangan Myungsoo sudah jelas. Ternyata orang orang yang sering ia kerjai bersama sang bos besar.

“Mian…” Sunggyu tiba tiba meminta maaf.

Myungsoo terkesiap. Ada apa ini? Sunggyu sama sekali tak pernah mau berkelahi dengannya. Bos besar ini hanya menyuruh antek anteknya untuk melawan Myungsoo. Padahal selama lebih satu bulan ini, Myungsoo telah melakukan hal tak menyenangkan kepada geng Sunggyu. Tak terhitung banyaknya ulah tak berdasar itu ia lakukan. Mungkin ada satu hal yang luput. Sunggyu tahu, Myungsoo melakukan keributan semata mata hanya untuk menarik perhatian satu gadis. Satu gadis yang sering disebut sebutnya. Bae Suzy.

“Wae?” Myungsoo memandang rendah pria yang telah menyelamatkan nyawanya itu seraya meloncat dari kasur. Hendak pergi dari sana meski hampir seluruh tubuhnya masih dibalut perban.

“Mian.” satu kata itu mampu menghentikan pergerakan Myungsoo. Ia berbalik cepat. Ditatapnya bos geng itu tajam.

“Wae?!” Myungsoo mendesak.

“Adikmu. Kim Jihyun.”

Mata Myungsoo membulat sempurna.

“Aku pernah menyuruhnya untuk mencomblangkan ku dengan Suzy.”

“Terus?”

“Dia menolaknya.”

Myungsoo hanya tersenyum puas.

“Dan dia pernah berpacaran dengan Choi Minho.”

Jleb!

Seperti satu tamparan keras mengenai pipinya. Matanya berkilat marah. Bumbu bumbu kemarahan itu makin menjadi jadi. Bagaimana bisa adiknya tak bercerita apa apa soal Minho? Ini masalah serius!

“Aku pernah masuk orkestra yang dimasuki oleh Jihyun.”

“Kau bercanda? Semua penumpang yang naik tak ada yang selamat!”

“Ne. Aku memang masuk orkestra itu. Aku bahkan sudah sampai ke bandara dan hampir menaiki pesawat itu,”

Myungsoo terdiam. Mimiknya menyimak.

“Tapi, aku tak sengaja melihat adikmu dibawa oleh seseorang. Dia adalah Minho.”

Rahang Myungsoo mengeras.

“Jadi aku refleks mengikutinya. Karena rasa penasaranku, hingga aku lupa bahwa aku sudah ketinggalan pesawat.”

“Tunggu, tunggu!” Myungsoo menyela.

“Jadi? Kau dan adikku tak naik pesawat itu huh?!” sorot mata Myungsoo makin tajam.

“Ne.”

“Brengsek! Akh!!!” Myungsoo berteriak kencang tanpa aba aba. Ia mengamuk. Menendang apa saja yang ada dihadapannya.

Sunggyu memaklumi dan masih terus berfikir,
bagaimana bisa seseorang yang tak naik pesawat itu bisa dinyatakan mati? Kemana dia?

“Aku semakin heran, saat aku datang ke pemakamannya. Padahal, aku melihatnya pergi dengan pacarnya.”

“Sial! Sial! Sial!” Myungsoo masih berteriak. Ruangan itu sudah hancur. Semua yang melihatnya ngeri, tapi tak berani melawan. Ditatapnya Sunggyu yang hanya mengangguk pasrah.

Kemudian Myungsoo menyadari kesalahan fatal Sunggyu. Ia segera merengkuh kerah Sunggyu kuat kuat. Ditatapnya sepasang mata sipit yang tak gentar itu.

“Kenapa kau menyerangku?” Sunggyu makin menyipitkan matanya. Tak ada yang perlu ditakuti bos itu. Ia punya puluhan anak buah di sekitarnya.

“Kau kenapa tak mengatakannya dari awal pabbo!!!!” Myungsoo menjerit dan satu pukulan mentah ia layangkan ke wajah Sunggyu. Pria itu meringis dan melangkah mundur.

“Makanya aku bilang maaf!” Sunggyu berteriak.

Myungsoo memekik. Berteriak. Tak tahan dengan keadaannya. Dipukulinya tembok yang ada dihadapannya berulang ulang hingga tangannya remuk dan berdarah. Berharap rasa sakit fisik itu bisa mengaburkan rasa sakit batinnya, mentalnya yang nyaris hancur lebur. Lalu airmata jatuh ke pipinya. Airmata pertama sejak kedatangannya ke sekolah itu. Ia menunduk dalam dalam. Tangannya terjatuh. Kepalannya melemas.

Sunggyu terlihat prihatin. Ia mencoba mengusap punggung Myungsoo.

“Aku sangat berterima kasih dengan adikmu. Karena aku mengikutinya, aku tak menjadi bagian dari peristiwa mengerikan itu.” bisiknya.

Myungsoo masih menangis. Menahan isakannya. Seperti pria cemen. Ada Suzy di benaknya yang bercampur itu. Dia harus minta maaf!

“Mian…” sekali lagi, Sunggyu meminta maaf. Benar benar tulus.

“Makanya, aku tak melukaimu meski kau selalu mengganggu geng ku. Tapi cukup antek antekku yang beraksi. Aku harap, aku bisa membalas budi.”

Myungsoo masih terdiam. Seperti paham maksud Myungsoo, Sunggyu bergegas menyuruh kawanannya untuk mencari Minho.

“Jangan lepaskan dia!”

***

Bagaimana? Aromanya enak tidak?

Minho menghidangkan semangkuk sup daging. Suzy menatapnya datar. Mencoba menghirup aroma daging dan bumbu bumbu yang menyatu.

Ia menggeleng.

Aku tak mencium apa apa.

Glek!

Minho menelan ludah. Ada sekilas senyum menyeramkan dari bibirnya. Lalu ia mencoba mencium aroma makanan itu.

“Aroma daging.” gumamnya.

Apa jangan jangan, indra penciumanmu sudah tak berfungsi lagi?

Suzy langsung tersentak. Di tatapnya pria itu tajam.

Aku tak percaya semua kebohongan Myungsoo bisa menjadi kenyataan.

Aku juga bingung. Kenapa dia harus berbohong?

Lalu Suzy menceritakan semua yang sudah Myungsoo tuliskan pada kertas waktu itu. Bahwa dia hanya ingin membuat Suzy marah, takut, dan memutuskan untuk bunuh diri. Tapi, ternyata Myungsoo tak setega itu.

Jadi, kenapa kau bisa seperti ini?

Suzy terdiam. Dia tak menjawab apapun. Dia juga bingung.

Ia lantas memutuskan untuk pulang. Namun hal itu tak terjadi karena dengan cekatan Minho menahan tangannya.

Tatapan pria itu makin kuat dan tajam. Siluet licik itu mulai kentara perlahan dan perlahan.

Suzy membulat. Tercengang selama sepersekian detik.

“Mian…” Senyum keji itu terlihat jelas.

Suzy berteriak tanpa suara. Ia mencoba meronta, tapi pria itu enggan melepaskannya.

“Aku yang menaruh obat itu.” bisiknya. Sengaja, toh Suzy tak akan bisa mendengarnya.

“Berteriaklah sebisamu!” kali ini oktafnya meninggi.

“Apartemen ini punya peredam suara. Jadi siapapun tak bisa mendengar apa yang terjadi di dalam.”

Tawa menyeramkan lalu menyeruak dari sana. Suzy bisa merasakannya. Tawa yang sangat licik. Menandakan satu kunci telak. Pria ini ada hubungannya dengan apa yang terjadi padanya. Belum lagi dengan koleksi koleksi aneh miliknya, bertambahlah kecurigaannya.

Diseretnya Suzy ke dalam kamarnya yang luas itu. Dilemparnya gadis yang sudah menangis itu ke atas ranjang. Lalu ia mengikatnya bak sandera.

Mata penuh nafsu itu terus menanti reaksi Suzy. Ketakutan dan kepasrahan menyelimuti gadis itu. Airmatanya berbondong bondong keluar. Ada satu orang yang lalu muncul dibenaknya. Yah, Myungsoo.

Pria yang entah akhir akhir ini selalu berakhir di pikirannya. Melayang layang.

“Oh ya, aku juga melakukan hal yang sama kepada Jihyun.”

Suzy tak bereaksi. Masih meresapi tangisnya. Pasrah dan pasrah. Hanya sepasang matanya yang menyorotkan kebencian dan betapa muaknya dengan segala perlakuan pria yang pernah diidolakannya itu.

“Makanya, perlahan lahan, dia tak bisa mendengar. Tak bisa berbicara. Tak bisa merasakan rasa makanan. Dan tak bisa mencium apa apa. Lalu… Mati.”

Setetes airmata jatuh dari pelupuk matanya. Yah, ia bisa membaca gerakan bibir itu. Dan yah, ia seperti melihat kata mengerikan itu. ‘Mati’.

“Yah, memang dosis yang aku berikan kecil. Karena aku ingin bermain main dulu dengannya.”

“Tapi dia malah bersikeras mengikuti orkestra itu. Jadi kutambah dosisnya.”

“Dan ia hampir pingsan waktu di bandara, makanya aku membawanya ke apartemenku ini.”

“Dan aku memainkan satu lagu indah untuknya. Hingga ia tersadar, ia tak bisa merasakan hampir seluruh indranya.”

“Ia malah mengerang kesakitan sambil berusaha berteriak. Tapi sia sia.”

“Perlahan lahan, darah keluar dari mulutnya… Dari hidungnya… Dari telinganya… Dan ia pun terlelap selamanya.”

Pria itu tertawa keras seperti kesetanan.

“Dan ini bagian terbaiknya. Aku mengulitinya, mengambil organ organnya, Dan menjadikannya sebagai bagian dari koleksi fanatikku. Aku sangat suka kulit manusia. Aku bisa menjadikannya sebagai hiasan dinding yang dilukisi dengan tinta cat minyak. Belum lagi toples toples cantik berisi organ organ itu. Ah! Sangat menggairahkan!” ia setengah menjerit.

“Dan aku melakukan aksi gila itu di sini. Yah, di kamar ini.” Minho tertawa lagi.

“Dan, aku makin menggila setelah tahu bahwa pesawatnya jatuh. Semua juga tahu, Jihyun ada di sana.” tawanya membesar. Tawa yang benar benar mengerikan.

“Jadi aku tak perlu repot repot menyusun strategi untuk melenyapkan barang bukti.”

“Ah, lihatlah koleksiku ini! Baguskan?” ia tertawa lagi.

“Dan kau yang akan melengkapinya, Suzy-ssi.”

***

Myungsoo, Sunggyu dan kawanannya berangkat menuju apartemen Minho setelah mencari tahu identitas pria itu melalui anak buah Sunggyu.

Choi Minho. Tinggal sendiri di sebuah apartemen milik ayahnya. Kedua orang tuanya telah memberikan apartemen itu kepada Minho untuk diurus, sementara kedua orang tuanya mengurus perusahan minyak mereka di luar negri. Dia sendirian di tengah kerasnya kota Seoul ini. Dia benar benar sendirian.

Setelah mereka sampai, Sunggyu mengeluarkan dua buah pistol dari dalam sakunya. Satunya ia serahkan ke Myungsoo untuk jaga jaga.

“Kau bisa menggunakannya?”

“Ne. Aku pernah berlatih menggunakan laras panjang.”

Sunggyu terkesiap dan seketika senyum takjub muncul dibibirnya.

Anak buah Sunggyu mulai menekan nekan bel dengan tak sabaran. Sementara sang pemilik masih berada di atas kursi pianonya. Mendendangkan lagu kematian. Khusus untuk Suzy yang sebentar lagi menjadi mangsanya. Ia pun sudah mengirim pesan singkat kepada eomma Suzy bahwa ia akan berangkat mendadak ke Macau untuk pagelaran musik internasional. Yah, pagelaran itu memang ada, tapi Suzy tak ikut karena kondisinya. Dan setelah memberitahu itu, Minho mulai menyusun rencana paling licik untuk membuat seolah olah Suzy mati karena kecelakaan.

Saat mendengar suara bel berdering, Minho mendengus dan bergegas menuju pintu, menghentikan ritualnya. Dilihatnya dari layar monitor, puluhan pemuda berseragam SMA Frimuse High School. Sekitar 22 manusia yang tampak marah.

Minho mmengeluarkan senyum licik. Bergegas berlari menuju kamarnya mengambil salah satu pistol koleksinya.

Ia kembali ke pintu. Membukanya dengan dalih senyum seramah mungkin. Dia menyembunyikan senjata berbahaya itu di balik punggungnya.

“Ne? Apa yang kalian cari?”

Semua pemuda itu saling tatap, lalu salah satu dari mereka berteriak lantang.

“Serang!”

Doar! Doar! Doar!

Tiga dari mereka tumbang. Untung Minho hanya menembak kaki mereka.

Semua langsung kalap. Tak berani maju lagi. Mereka berlarian, bersembunyi. Saat itulah, Minho langsung menutup pintu.

“Eottae?!” satunya memekik melihat tubuh temannya terkapar.

“Segera bawa mereka ke rumah sakit. Aku, Myungsoo, dan sebagian dari kita akan menangani pria brengsek ini.” ujar Sunggyu lalu bersiap mematik pistolnya. Semua yang diperintahkannya mengangguk dan segera melaksanakan perintah sang bos. Sementara Sunggyu berusaha menyudutkan Minho dengan bunyi pistol memekik menghancurkan pertahanan paling kuatnya.

Doar! Doar! Doar! Doar!

Pintu berlapis baja itu hampir rubuh. Dicobanya sekali lagi.

Doar! Doar! Doar! Doar!

Diambilnya sisa peluru yang ada di balik jaket kulitnya dan digantinya lihai bak ahli.

Doar! Doar! Doar!

Sementara pria di dalam masih berupaya menyelesaikan nada nada kelabunya. Ia tampak gelisah.

Suzy makin tersudut tatkala Minho selesai dengan pertunjukkan monotonnya dan malah menggendongnya.

“Sepertinya aku harus pergi dari sini.”

Lalu suara las mulai terdengar. Pintu itu hampir terbuka. Sementara Minho masih mencari akal untuk kabur.

“Akh!” otak cerdasnya itu makin tak bisa berfikir. Di hempaskannya tubuh Suzy di lantai dan mengambil satu pistol berpeluru emas. Gadis itu merintih dan mengerang. Darah mulai menyembur dari mulutnya.

“Padahal sebentar lagi koleksiku lengkap!” dengusnya seraya berjalan hati hati ke depan pintu yang sedang di las itu.

Kedua pistol di tangannya sudah siap mengeluarkan beberapa peluru yang dipastikan akan menembus jantung manusia manusia itu. Sorot matanya tajam. Sangat siap dengan segala hal yang akan terjadi. Ia benar benar tak mengira, bahwa kumpulan preman sekolah itu akan bersekongkol dengan Myungsoo.

Satu.

Dua.

Tiga.

Pintu terbuka. Minho langsung melepaskan dua tembakan. Matanya membulat melihat tak ada siapapun. Matanya mencari cari. Tetap siaga dengan kedua pistol yang merentang ke depan. Ia tetap setia di tempatnya, sampai melihat satu pergerakan di samping kiri, ia sekali lagi menembak satu dua peluru dari kedua pistolnya. Dua dari mereka runtuh. Untung hanya lengan mereka. Konsentrasi Minho yang masih fokus ke kiri itu dimanfaatkan Sunggyu. Lalu dalam satu kali tendangan, Minho lumpuh. Jatuh terjerembab. Pistol kebanggaannya terlempar cukup jauh. Sunggyu muncul dari arah kanan dengan senyum meremehkan. Diinjaknya tubuh tak berdaya itu.

Jangan salah, meski tubuh Minho lebih besar darinya, tapi latihan karate yang dijalaninya selama ini berhasil memperkuat fisiknya. Sunggyu lantas menyuruh semua temannya untuk menahan Minho dan membawanya ke markas untuk diintrogasi. Sementara temannya yang terluka segera dibawa ke rumah sakit.

Myungsoo lalu melangkah maju. Di tatapnya wajah Minho. Ia menonjoknya sekali. Dua kali. Hingga berkali kali.

“Kau kemanakan Jihyun, EOH?!” emosinya meledak ledak. Kalau saja, teman teman Sunggyu tak melerai, pasti Minho sudah mati di tembak Myungsoo.

“Jawab pabbo!” Myungsoo meludahi wajah Minho. Tapi pria itu hanya tersenyum.

“Tahan emosimu! Kalau kau membunuhnya, kau akan masuk penjara nanti!”

“Biar saja! Aku tak peduli! Aku sudah tak punya apa apa!” matanya memerah. Tampak tengah menahan tangis.

“Bagaimana dengan Suzy?! Kau tak menganggapnya?!”

Myungsoo tertegun. Perlahan, keras di hatinya melembek. Emosinya mulai stabil. Ia segera berlari ke dalam setelah diberinya satu pukulan telak di perut Minho.

Di dalam ia melihat banyak koleksi koleksi aneh. Merah di dadanya mulai naik lagi dan Ia pun mengamuk. Ditembakinya satu satu toples toples itu. Satu persatu isinya keluar. Jantung, paru paru, otak, mata, limpa, hati.

Myungsoo tercengang hebat saat melihat satu nama yang tertera di dalam tolples buram itu.

Kim Jihyun’s Liver.

“Ahhhhh!!!!” ia memporak poranda ruangan itu hingga hancur lebur dan diiringi dengan tangisan tak tertahannya.

“BRENGSEK KAU MINHO! AKU AKAN MEMBUNUHMU!” Myungsoo yang hendak keluar menemui Minho langsung berhenti tatkala tersadar bahwa Suzy ada di dekatnya.

“SUZY!” ia mencoba membangunkan gadis yang tengah pingsan itu. Ada darah disekitar bibirnya.

Myungsoo makin menangis terisak. Dibawanya gadis itu dipunggungnya. Ia berlari kencang. Tak peduli lagi dengan Minho. Semuanya seolah lenyap. Hanya Suzy dipikirannya sekarang.

Ia terus berlari. Bahkan hampir terjatuh. Kakinya terkilir. Ia terseok seok melangkah menuju lift. Airmatanya terus mengalir menanti dengan keputus asaan di dalam lift bersama Suzy yang sudah makin melemah.

Lalu disaat saat hening itu, Suzy seperti menuliskan sebuah kata di punggungnya dengan gerakan lambat jarinya.

Menyanyilah

Myungsoo tersentak.

Ia tahu. Ia sangat tahu Suzy tak akan bisa mendengarnya. Meski ia tak tahu, mengapa Suzy bisa seperti itu. Dan Suzy juga tahu, Sangat tahu kalau Myungsoo tak akan menyanyi. Yah, Jihyun pernah bercerita, bahwa Myungsoo tak suka bernyanyi, tapi Myungsoo benar benar punya banyak bakat dalam bidang musik. Dan lagi, Myungsoo pernah mengatakan bahwa ia benci musik.

Myungsoo terdiam selama sepersekian detik. Satu titik airmatanya tumpah. Lalu semakin membanjiri matanya. Dengan suara serak, ia mulai mendendangkan satu lagu. Lagu yang Suzy suka dengar akhir akhir ini. Lagu yang pernah terputar saat mereka berdua di dalam mobil waktu itu. Hanya lagu itu yang dihapalnya. Cherry blossom ending, Busker Busker. Lagu yang benar benar sangat menggambarkan suasana musim semi. Dengan daun daun merah muda sakura, dengan pemuda pemudi yang menjalin cinta di sekitar rindangnya pohon sakura. Lalu dengan lagu ini, ia bersama Suzy berdua. Mereka seperti model video klip yang sedang bermain peran.

Mereka sudah sampai di lantai pertama. Langkah langkahnya makin melambat.

Lagu itu terus menderu dari bibirnya. Bersama Suzy di punggungnya. Dan airmatanya yang tak kunjung berhenti.

Langkahnya makin hati hati begitu melewati rimbunnya pohon sakura. Lebat. Musim semi yang sangat indah. Pemandangan yang sangat indah. Dengan beberapa kelopak yang berjatuhan. Menenggelami jalanan itu. Angin berderu pelan. Semerbak bunga masuk ke cela cela rongga. Sehangat musim semi.

Langkahnya makin melambat. Mereka berada di bawah lebatnya sakura. Seperti sepasang kekasih yang dilihatnya saat ini. Mereka berpegangan tangan, bercanda ria. Sementara Myungsoo masih bernyanyi dengan serak yang makin kentara. Suaranya makin sumbang. Suzy di punggungnya hanya tersenyum. Dia juga menangis. Rasa sakit itu tak terasa. Ia menangis karena Myungsoo. Satu lagu pertama untuknya. Hanya untuknya.

‘Hei Myungsoo? Kuharap kau bisa mendengarnya. Aku ingin menulis banyak. Tapi sepertinya tanganku tak mampu lagi.’ Suzy tertawa lemah dalam hati.

‘Hei Myungsoo… Kau tahu? Kekosongan ini hampir mengalahkanku. Tapi kau, mencoba mengisinya. Mengisi kekosongan itu dengan nada nada indah. Meski telingaku tak dapat mendengar. Tapi hatiku… Hatiku yang kosong ini sudah terisi. Kau mengisinya. Berhasil mengisinya.’ batin Suzy. Senyumnya tak pudar.

‘Kuharap aku bisa menikmati puluhan musim semi denganmu. Mendengarkan lagu musim semi syahdu. Saling bercanda di bawah sakura seperti pasangan yang lainnya. Dan kau memberikanku ciuman itu.’

‘Kuharap kita bisa bersama lebih lama lagi.’

‘Sekarang aku merasa terisi kembali…’

‘Terima kasih…’

Lalu satu gerakan kecil saat Myungsoo hampir menghabisi lagu itu. Suzy menggerakkan jemarinya. Lambat dan makin lambat. Dia menuliskan dua kata yang tak sempat terlanjut.

Aku…

Mencin…

***END***

Annyeong readers!!!!^^ /Pelukketjup/😄 huaaaah akhirnya end juga ff gagal ini. Oke gaboleh ada yang protes!😄
Cuma mau say thanks buat readers yang tetep setia komen walau segaje gajenya ff buatanku yang dengan nistanya di pos di blog tak bermutu ini. Terima kasih, terima kasih dan terima kasih! Tanpa kalian, ff ini gabakal berarti sama sekali😄 /terharu/

Dan nantikan ff terbaruku segeraaaa! Hahahaha udah aku buat, tinggal di edit dikit. FF chapter thriller romance yang udah aku janjiin!😄 yaudah gapapa juga kalo gaada yang nunggu, bakal tetep aku pos :p /maaf bawel, abis sariawan/😄

So, akhir kata, RCL yaaaaaaa! Maaf untuk segala kesalahan dalam ff ini!😄

Ghamsahamnida!

Bow!

34 thoughts on “FF Void PART 2 – END (Twoshoots)

  1. minho psikopat ih. Huaaaa aku nangis masa jadinya sad ending huhu itu suzynya meninggal ya thor? Kasian myungsoonya, semangat author ditnggu karya selanjutnya

  2. Ternyata myungsoo g ngasih obat apa apa. Dia cuma bohong aja. Tapi minho nappeun namja psycho yg ngasih obat itu ke suzy dan juga jihyun! Dasar psycho pantasx di hukum mati aja, ah sebel.
    Suzynya mati menyusul sahabatnya jihyun.

  3. sad ending hikz hikz endingnya benar” sangat sedih hwaa author kau membuatku menangis karena ff ini si minho benar” biadap bagaimana bisa ada manusia yg sekejam dia ani kata kejam saja tak cukup,mungkin jika ada kata yg lebih dari kata kejam maka itulah dia. Ihh aku kesel banget sama minho pengen tak ceburin ke sungai han rasanya good job author ff mu benar” keren

    next ffnya ditunggu author Fighting

  4. omoooo jd sbnrnya yg bwt suzy kya gitu bkn myung tp minho? woaa jinja nappeun namja dy bnr” psyco
    endingnya sdih bngt😥
    DAEBAAAAAKK😀

  5. Yahhh sad ending. Tanggung jawab udah bikin aku mewek di scene terakhirnya myungzy. Dutunggu next ffnya. Fighting

  6. Huhuhu sedih jadi selama ini minho…

    Astaga…

    Sempet duga kalo myung gak mungkin setega itu ngeracunin suzy T.T

    Minho emang minho dari dulu deh….

    Hahhhh sad ending,, semoga minho dapet balasan yang tepat,dan seganjar,dia tega banget…

    Yahhh padahal myung dah naksir suzy dari lama,dan suzy malah jadi deket deket sama orang yang mau nyelakain dia pdhl dia kira minho baik,dan myung yg jahat tp ternyata kebalilk…

    Perasaan suzy blm tersampaikan semua baru dikit lagi keburu….

    Mininggal

    Huaaaa minho kejam….

    Oke, ditunggu ff chapter mu authornim,hwaiting….✊

  7. Kyaaa,,,, jadi Suzy meninggal? Andeeeee!!!
    Trus Minho gemana? Dia gak mati juga? Atau masuk penjara?
    Gak rela Suzy meninggal. Kasian si Myungsoo gak punya siapa-siapa lagi. Minho psikopat weh

  8. Wahhh gak nyangka ternyata minho yg jahat . Coba kalo gyu cepet kasih tau myung. Mungkin suzy bisa dapet perawatan . Ending’y gak mengecewakan kok walau sad ending🙂

  9. Omo. Kenapa ini semua terjadi.
    Ternyata kebenarannya tidak seperti itu.
    Iisshh. Chingu udah bikin aku menyalahkan myungsoo, berpikir myungsoo itu namja yang sangat jahat padahal bukan itu kenyataannya.😦
    wae. Kenapa akhirnya begitu. Takdir tidak mengijinkan mereka bersama bahkan untuk suzy mengungkapkan perasaannya pun tidak sempat.😥
    keundae fanficnya keren. Ditunggu karya” chingu lainnya ya. Fighting ^^9

  10. minho bner2 psycho.. trnyata jihyun ngga mati dlm pesawat itu, tp dia di bawa dn di bunuh sm minho.. heh suzy jg dgtuin sm minho. Btw myungsoo psti makin stress

  11. Ahh ternyata minho psikopat 😨
    Sad ending T.T kasian myungsoo oppa, dya bener” ga punya siapa” lagi T.T

    Tpi keren ceritanya 👍👍👍

    *mian cuma komen di part2 nya doang 🙇

  12. Sad end, seperti yang gue perkirakan😢 dan gue dah curiga pas myung bilang bukan dia pelakunya, gue dah yakin banget kalau yang lakuin itu ke Suzy adalah minho, dan ternyata benar, cccckk minho sadis banget…

  13. Aku kira myungsoo, ternyata malah minho-_-
    Kok sad ending thor😦
    Ga tega lihat myung sendirian😦
    Huaaa myungie ku😥

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s