FF XClub PART 1

image

Title: XClub
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Mystery, Thriller, School Life, etc.
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho
Sub Cast: Oh Sehun, Kim Jong In, Do Kyungsoo, Kangjun, Jung Soojung aka Krystal, Choi Jinri aka Sulli, OC’s and etc (SubCast dapat berubah sewaktu-waktu)
Length: Chaptered

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

Udara pagi menjelang siang itu sejuk. Udara sejuk musim semi. Awal pergantian tahun pertama SMA Daran yang diisi dengan kegiatan ekstrakulikuler yang mulai padat. Ada banyak klub klub keren di SMA yang berlokasi di Seoul itu. Masih asri. Dengan pepohonan yang mengitari sekolah. Lapangan yang luas. Sejuk dan menenangkan. Bangunannya pun sangat kokoh dengan empat lantai berwarna biru. Para murid bisa melihat kegiatan yang terjadi di lapangan. Kegiatan olahraga sampai orang yang sedang berpacaran.

Ada satu lokasi yang sangat tersembunyi di gedung lama yang sudah tak terpakai. Tempat keenam anak muda itu berkumpul. Bercanda ria hingga membesar besarkan masalah sepele. Tak bernama. Mereka baru saja terbentuk satu minggu yang lalu. Mereka sengaja tak mendaftarkan ekstrakulikuler mereka karena benar benar klub rahasia. Mungkin bagi orang lain tak penting. Membahas hal hal tak penting dan seperti kurang kerjaan. Tapi bagi mereka, hal itu sangat berharga.

Mereka bertemu setelah pagelaran seni satu tahun yang lalu. Mereka bersaing dalam kontes Band Sekolah dan mereka berenam masing masing mendapatkan urutan satu sampai enam. Choi Minho yang juara dengan alunan akustik yang beda nan cerdas. Kim Myungsoo yang menyabet juara dua dengan petikan nada psychedelic yang terkesan misterius. Kim Jong In yang menyanyikan musik rock metal. Oh Sehun yang sukses dengan permainan gitar beraliran Jazz-Blues nya. Do Kyungsoo yang agak nge-pop ballad berhasil menyentuh para pendengar dan yang terakhir, Kangjun. Juara keenam yang berhasil menggabungkan beberapa nada lagu. Yah, mereka dalam satu klub rahasia dan saling mengagumi.

***

Myungsoo tertidur di dalam ruangan yang sudah di desain sedemikian rupa. Ruangan klub mereka cukup luas. Dan desainnya sangat keren ditambah dengan art buatan tangan yang dipajang di sekeliling dinding.

Angin masuk melalui jendela menerpa wajah pria itu. Sementara Minho, Jong In, Kyungsoo, dan Kangjun bermain kartu di atas tikar. Suara mereka riuh-redam tatkala permainan usai dan ada yang kalah. Minho tak pernah kalah karena itulah mottonya ‘Kalah adalah kesalahan fatal. Kalah hanya untuk pecundang.’ Begitulah yang sering pria perfeksionis itu katakan. Pernah dia kalah sekali, dia langsung tak datang sekolah selama tiga hari karena malu, padahal hanya bermain kartu biasa. Dia akan mengurung diri di kamar dan menyesali kekalahannya.

Sementara keempat pria tampan itu bermain kartu, Sehun malah asyik duduk di atas sofa hitam dengan buku Stephen King di tangannya. Ia selalu tertawa ketika membaca buku bergenre Thriller itu. Sehun aneh, creepy, dan sedikit gila. Dia menyukai cerita cerita sadis dan malah tertawa tatkala membaca bagian darah berdarah nya.

Myungsoo langsung terbangun tatkala mendengar Kyungsoo berteriak seperti ingin menangis. Ia kalah dalam bermain kartu dan harus meneraktir mereka semua makan di kantin sepuasnya. Kyungsoo membuang kartunya seraya mendengus.

“Kalian curang!” timpalnya lalu berbaring santai dengan helaian nafas kesal.

“Yak kau saja yang terlalu bodoh!” Minho mencibir.

Jong In tertawa sambil mengunyah coklat batang yang sudah setengah. Sedangkan Kangjun hanya memperlihatkan wajah datar. Ia sedikit lega karena hampir saja kalah.

“Pabbo! Kalau main kartu harus punya strategi. Sama seperti hidup, kalau tak punya strategi maka kau akan kalah dengan memalukan.” Kata Minho dengan berapi api.

“Pabbo! Bermain ya bermain. Harus dinikmati. Kalah tak masalah. Asal bisa diperbaiki nanti. Seperti hidup. Hidup itu harus dinikmati. Kalau kalah ya sudah. Yang penting jangan seperti cerita keledai yang jatuh di lubang yang sama.” kali ini giliran Kangjun yang berkoar. Kangjun selalu diejek sebagai pastur karena apa yang keluar dari bibirnya selalu ‘sok positif’.

Kyungsoo mendesah.

“Bicara saja sepuas kalian, kan bukan kalian yang mentraktir!”

Semua tertawa kecuali Myungsoo dan Sehun. Mereka masih sibuk dengan kegiatan masing masing.

“Kkaja! Kyungsoo akan mentraktir kita semua!” Kangjun berdiri dengan bangga. Semua tertawa. Lagi lagi hanya Myungsoo dan Sehun yang tidak.

“Yak Myung-ie! Hun-nie!” teriak Kyungsoo.

Myungsoo membuka matanya dan perlahan bangkit. Sementara Sehun menutup bukunya dan segera beranjak.

“Kkaja!”

***

Mereka asyik bercanda ria seraya bergumul dengan jajanan kantin. Minho memesan paket lengkap. Katanya, kesempatan tak datang dua kali. Jong In memesan semua jenis makanan manis. Mejanya bertabur coklat. Bahkan mie ramen yang dipesannya dimakannya bersama coklat kesukaannya. Kangjun memesan semua yang ada di menu dan plus dibungkus untuk dibawa pulang. Sehun memesan bubble tea dan mie goreng kimchi. Myungsoo hanya memesan mie ramen. Sementara si peneraktir Kyungsoo harus puas melihat kelima temannnya itu berpuas puas ria karena melihat semuanya sudah cukup membuatnya kenyang.

Dengan wajah pasrah, Kyungsoo menyerup ice tea nya.

“Minnie! Kau gila! Kau memerasku!”

Minho hanya tertawa seraya memberikan jempol mengejek.

“Jong-ie! Kau lebih gila!”

Jong In tertawa terbahak bahak dengan mulut penuh.

“Dan kau Junnie! Kau kriminal! Nappeun Segyaaaa!” Kyungsoo setengah menjerit.

Kangjun hanya mengangkat bahu tak peduli.

“Siapa suruh kau kalah.” Kangjun mendesis.

Skak!

Tiba tiba hening meraja saat dua wanita berambut panjang masuk ke kantin. Atmosfir ceria seperti berubah seketika. Minho menoleh cepat.

“Soojung!” bisik Kangjun setengah teriak.

“Mengerikan.” Minho mendecak.

“Wae?” tanya Kangjun dengan wajah polos.

“Dia pernah mengajak kita berenam kencan. Dasar wanita rubah!” kata Minho kesal.

“Aku tidak.” Kangjun menyela dengan tampang tak berdosanya.

“Mwo?! Dia bilang pernah mengajak enam orang.”

“Dan kita semua menolak, kan?” ucap Jong In dengan mulut yang penuh coklat.

“Jadi… Siapa anggota itu?” Minho, Kangjun, Kyungsoo, dan Jong In saling pandang dalam keheningan.

Sehun langsung menghentakkan meja.

“Katanya, pernah terjadi pembunuhan di ruangan klub kita.” Sehun tersenyum mengerikan seolah olah ia merasakan sensasi menyenangkan ketika sedang menceritakan peristiwa berdarah itu.

“Dan…” Myungsoo mengeluarkan suara untuk pertama kalinya setelah hanya diam sedari tadi.

“Aku mau ke toilet.”

Gubrak!

Semua bersumpah serapah memaki Myungsoo yang kini beranjak menuju kamar mandi. Dikiranya pria pendiam itu tahu sesuatu. Sialan!

Mereka tak henti hentinya mengumpat hingga melupakan cerita menyeramkan itu.

***

Myungsoo baru saja mencuci tangannya sampai ia melangkah keluar. Saat di depan tangga, ia seperti melihat gadis berambut panjang berdiri di anak tangga yang mengarah ke lapangan. Ia memandang jauh ke lapangan. Memunggungi Myungsoo. Menyimpan sejuta tanda tanya. Ia memakai payung bening. Memakai seragam yang sama dengannya. Sangat cantik meski Myungsoo belum melihat paras gadis payung itu. Siapa dia?

Gadis itu menoleh. Rambutnya tersibak angin.

Jantung Myungsoo tiba tiba bergemuruh hebat.

Ia tersenyum dan melangkah naik ke lantai empat. Sementara Myungsoo masih membeku di tempat dengan tanda tanya besar yang bergelayut di dinding otaknya.

Myungsoo menyentuh dadanya. Keningnya mengerut.

***

Sehun mengeluarkan motor sportnya dari garasi dan melaju kencang. Ia sudah menjadwalkan hari ini adalah hari perilisan novel dari penulis favoritnya dan ia harus cepat cepat membacanya. Belum lagi, sang penulis akan hadir dalam perilisan dan siapapun yang membeli hari itu, akan mendapatkan tanda tangan darinya. Ini kesempatan langka!

Sesampainya di sebuah Mall, ia setengah berlari menuju toko buku. Di sana, buku favoritnya itu dipajang. Dengan cover merah-hitam. Cukup misterius dan cocok dengan genre thriller yang sudah melekat pada penulis favoritnya itu.

Sehun menarik satu buku dan tanpa babibu langsung mengantri untuk meminta tanda tangan sang penulis. Dengan postur tingginya, bisa ia lihat sang penulis yang baru bisa ia lihat wujud aslinya itu di tengah hiruk pikuk antrian yang sangat panjang dan melelahkan.

Dia wanita. Mengenakan gaun hitam-merah. Gestur wajahnya lembut. Ia memakai eyeliner tebal. Riasannya terkesan smoky. Bibirnya merah. Matanya indah. Senyumnya indah. Semuanya indah.

Benarkah yang dilihatnya ini? Bagaimana mungkin penulis yang selama ini sudah membayang bayanginya dengan tulisan penuh darah selama tiga tahun ini, bisa secantik ini?

Memang, selama ini, pemilik nama pena Skuki Bee itu tak pernah membocorkan siapa dirinya. Dan sekarang? Sehun benar benar melihatnya di depan mata.

Ini adalah seri ketiga dari trilogi X-Mission. Dia bisa menerbitkan satu buku dalam setahun. Apa yang dikerjakannya? Apakah dia tak sesibuk itu? Akh!

Sehun tersenyum. Ada rasa yang membuncah dadanya. Tentang keinginan lebih untuk memiliki. Lebih dan lebih lagi. Sampai apa yang diinginkannya sesak.

Sehun menaruh bukunya di depan si penulis. Matanya tak lepas. Seperti elang yang hendak menerkam mangsanya.

“Siapa namamu?” tanyanya lembut.

“Oh Sehun.” Sehun masih mempertahankan senyumnya.

Gadis itu tersenyum dan menulis nama Sehun di halaman pertama. Tak lupa ia membubuhkan tanda tangan miliknya.

“Oh ya, kenapa baru muncul sekarang?” serang Sehun tanpa basa basi. Ia benar benar ingin tahu.

Gadis itu sontak mengangkat wajahnya. Ia lalu tersenyum setelah jeda selama beberapa detik.

“Aku mau berhenti menulis.”

Sehun terhenyak.

Tak sadar, ia langsung mencengkram bahu gadis itu.

“Kau gila eoh?!”

Semuanya tersentak melihat aksi nekat Sehun. Satpam langsung memisahkan Sehun yang hampir menarik gadis itu dari sana.

“Yak Skuki Bee! Aku menggilaimu! Kumohon jangan berhenti!”

Gadis itu hanya tersenyum menatap Sehun yang kini diseret paksa keluar dari sana.

***

Minho mendorong bola putih menuju kumpulan bola dengan stik bilyarnya. Ia tersenyum melihat bola bola itu terpencar dan banyak yang masuk.

Sewaktu hendak mendorong bola berwarna biru, tiba tiba seorang wanita ber hotpants mengetuk punggungnya dengan lembut. Ia segera menoleh. Didapatinya gadis berambut gelombang itu. Sangat sexy dengan potongan kemeja putih yang semi transparan. Ia memegang stik bilyar dan hanya tersenyum melihat keterkejutan di mimik Minho.

Gadis itu mendorong satu bola yang ada di sudut. Satu persatu bola yang ada masuk ke dalam lubang.

Minho tercengang. Sebelumnya belum pernah ada yang memecahkan rekornya. Ia hanya bisa memasukkan seluruh bola dengan tiga kali pukulan. Sedangkan gadis ini? Luar biasa!

Minho tersenyum. Keinginan menggebu gebu yang sudah lama hilang itu seperti meluap luap.

Wanita ini sangat cantik. Matanya indah.

“Kau hebat sekali!” pujinya seraya menatap wanita yang kini menoleh kepadanya.

“Belum pernah ada yang memecahkan rekorku. Dan kau…” Minho masih dalam ketertakjubannya.

“Wanita.” sambungnya masih terbias pesona wanita itu.

Gadis itu langsung mengecup bibir Minho. Dalam. Agak lama. Minho benar benar sudah tak terkontrol lagi. Ia membalasnya. Meski ia tak tahu. Siapa gadis itu. Kenapa ia melakukannya. Bahkan ia tak percaya dengan apa yang telah terjadi.

Ciuman mereka terlepas. Gadis itu tersenyum lalu pergi begitu saja. Menyisakan dentuman jantung yang seakan lepas dari sangkarnya. Ini pertama kalinya ia merasakan hal itu. Ia selalu menolak wanita yang menembaknya. Ia pun tak pernah memiliki kekasih. Pertama, ia tak mau kalah. Dan ia menganggap wanita bisa membuatnya stress.

Tapi… Wanita ini…

Dia telah mengembalikan rasa pedulinya terhadap wanita.

Minho tersenyum puas seraya mengapit stik bilyarnya kuat.

***

Jong In mengaduk sup dengan lihai, malam itu kedai milik ayahnya sangat ramai, mungkin karena sedang ada acara reunian anak SMA. Kedai berukuran sedang itu menjual berbagai macam masakan khas korea. Dan Jajamyun adalah masakan andalan mereka.

“Jong In! Tolong antarkan pesanan meja 20!” teriak ayahnya yang juga tengah sibuk. Sup itu kini beralih ke orang lain. Sementara Jonghyun membawakan Jajamyun si pemesan.

Ia berjalan lihai dengan nampan di atas tangannya. Di lihatnya dari kejauhan sosok pemesan itu. Rambutnya diikat ekor kuda. Panjang dan tebal. Sosok yang indah walau hanya melihatnya tanpa rupa. Lalu perlahan, Jong In menaruh mangkuk berisi mie hitam itu.

“Ini pesanannya, agassi.”

Si pemesan menoleh. Ia tersenyum.

“Gomawo.”

“Ne.” mata Jong In tak lepas menatap betapa indahnya makhluk di hadapannya ini. Dandanannya sederhana. Rambutnya terikat asal asalan. Namun mampu memancarkan kecantikan yang begitu kuat.

Si pemesan berbaju kasual itu lalu mulai menyantap makanannya tanpa peduli dengan Jong In yang masih tak juga melangkah pergi. Barulah ketika terdengar suara ayahnya, Jong In melesat dari sana. Mengantarkan pesanan pesanan lain, tapi matanya benar benar tak bisa lepas. Sesekali ia hampir menumpahkan minuman pelanggannya saking fokusnya ke gadis meja nomor 20 itu.

Ia betul betul memperhatikan detail gadis itu mengunyah makanannya. Anggun, bersahaja. Lalu ia mulai memesan Jajamyun yang kedua, membuat Jong In makin takjub. Gadis itu tak terhentikan.

“Gomawo.”

“Ne.”

Dan kejadian sama terulang lagi. Ia semakin terpesona.

“Kalau diibaratkan dengan makanan, dia adalah coklat Chocopologie dan Lindt.” gumam Jong In sembari menikmati adegan intim gadis itu dengan makanannya.

Saat kedai tutup, Jong In buru buru mengambil ponselnya, mencari nomor sang kekasih dan menelponnya.

“Soojung-ah… Kita putus.”

Belum sempat gadis itu berbicara, Jong In dengan cepat mematikan ponselnya.

Ada senyum di bibirnya yang tak kunjung lepas. Ia hanya bisa berharap, gadis itu akan terus memakan Jajamyun milik kedainya.

***

Kyungsoo tengah berbelanja di sebuat mall, ia memilih milih setelan yang akan dikenakannya dalam acara ulang tahunnya nanti. Tak sengaja, ia melihat seorang gadis seumurannya tengah memegang permen. Mukanya cemberut menatap pakaian di dalam etalase. Pakaiannya rada norak. Warnanya tabrak tabrak tak jelas. Ia memakai tas salempang. Dan rambutnya dikuncir dua. Tapi wajahnya tak senorak gayanya. Wajahnya bak malaikat. Bening dan bersinar seperti bintang bintang.

“Agassi,” Kyungsoo memanggilnya. Sangat halus.

“Ne?” suaranya sengaja diimut imutkan, tapi tetap tak membuat ilfeel.

“Mau gaun ini?” Kyungsoo menunjuk gaun yang sedari tadi gadis itu lihat.

Gadis itu menggeleng cepat.

“Ani.”

“Lalu?”

“Aku mau bonekanya.”

Kyungsoo hampir menyemburkan tawa. Untung masih bisa ia tahan.

“Oh, maksudmu mannequin gaun ini?”

“Boneka.” ia menjawab dengan khas anak anaknya lagi. Kyungsoo makin gemas.

“Baiklah, tunggu di sini, ne?”

“Ne.” gadis itu menjilat permennya seraya menggerak gerakkan badannya bak anak kecil yang kegirangan.

Tak lama kemudian, Kyungsoo keluar dengan boneka mannequin di tangannya. Yah, boneka itu bahkan lebih besar darinya. Ia membeli gaun itu bersama mannequin nya. Hanya untuk gadis yang baru ditemuinya ini. Baru kali ini Kyungsoo mengalami hal seperti ini.

“Ah!” gadis itu setengah menjerit. Matanya berbinar binar.

“Jadi, kau bisa membawanya? Atau kusuruh orang?”

Gadis itu menggeleng dan langsung merebut boneka itu. Ia berlari kecil sembari menyeret nyeret mannequin itu. Hampir semua orang melihat aksi gila itu. Banyak yang bahkan mencari cari kamera, dikiranya ada acara candid.

“Yak! Siapa namamu?!” Kyungsoo hendak berlari mengejarnya, tapi segera dia urungkan. Ada senyum di bibirnya. Ia lalu memungut permen yang tak sengaja gadis itu jatuhkan. Menatapnya dalam.

***

Kangjun menguap lebar memandangi pastur yang tengah berteriak teriak di atas.

“Ah bosan. Kapan selesainya?” gumamnya.

“Yak Kangjun-ah, kau tak boleh berkata seperti itu. Kita sedang berada di rumah Tuhan.” ucap Ayahnya lembut.

“Ah, mian, ahbouji.” Kangjun langsung menggumam berkali kali. Memohon pengampunan atas kebosanannya menjalani ibadah.

Yah, kedua orang tuanya adalah penganut katolik yang taat. Setiap minggu mereka ke gereja. Kangjun dipaksanya membawa Al-Kitab dan kalung salib setiap waktu.

Tak lama, paduan suara gereja mulai mengalun. Mereka terdiri dari para wanita dan pria. Dari yang anak anak, hingga remaja.

Mata Kangjun langsung membulat tatkala melihat gadis di ujung sana, meliuk liukkan suaranya dengan indah. Ia menyanyi solo. Ah, suaranya sangat indah. Kangjun terbius.

Mata mereka lalu bertemu. Gadis itu tersenyum melalui matanya. Dan Kangjun, mata besarnya itu makin tampak takjub. Ia tak sadar sudah berdiri dari kursinya. Ikut menyanyikan lagu gereja yang dinyanyikan gadis itu. Semua terheran heran. Apakah ini pertunjukkan duet?

Kangjun dan gadis paduan suara itu mengakhiri not terakhir dengan sukses. Mereka saling tatap sejenak. Lalu tepuk tangan meriah menyambut mereka.

Kangjun merasa, hari itu adalah hari dimana kegiatan gereja terasa sangat menyenangkan. Ia harus bertemu gadis itu lagi.

***

Keenam pria tampan itu berkumpul santai saat istirahat makan siang. Mereka berkumpul di ruangan rahasia mereka. Mereka mulai membahas hal hal biasa hingga hal hal aneh yang terjadi pada diri mereka.

“Aku bertemu dengan seorang gadis.” mulai Kangjun.

“Suaranya indah.”

“Aku juga!” pekik Kyungsoo tak mau kalah.

“Dia unik!”

“Aku juga!” kali ini Jong In dengan mulut penuh coklat.

“Dia sangat cantik! Sampai sampai aku memutuskan hubunganku dengan pacarku.”

Semua tersentak, kecuali Sehun dan Myungsoo yang tampak biasa biasa saja.

Jong In tertawa malu.

“Yak! Kau mendahului kami!” jerit Minho.

“Ish.” Kangjun mendesis.

“Sialan kau Jong-ie!” Kyungsoo menggerutu.

“Siapa dia?” tanya Minho. Jong In menggeleng. Ada senyum jail di bibirnya.

“Aku tak menyukainya. Aku mau berpacaran dengannya karena dia memberiku coklat. Jadi kita tak usah membahasnya.” Jong In ber-hehe ria.

“Pabbo!” desis Kangjun yang ditimpali Kyungsoo.

“Tapi tak ada yang kalah aneh dariku.” kata Minho mulai serius.

“Wae?” tanya Kangjun. Yang lain menimpali.

“Aku bertemu seorang wanita di tempat bilyar langgananku. Dan wanita itu mengalahkan rekorku, dan tiba tiba ia menciumku.”

Kangjun, Kyungsoo, dan Jong In tampak tak percaya. Sementara Sehun dan Myungsoo mengerutkan keningnya.

“Aku akhirnya bertemu dengan penulis favoritku. Dia sangat menawan.” celetuk Sehun di tengah tengah keheranan mereka.

Semua terdiam. Bagaimana bisa kejadian aneh itu terjadi secepat itu? Mereka sama sama bertemu dengan seorang gadis yang langsung membuat hati mereka bergetar.

“Bagaimana denganmu, Myungsoo-ah?” tanya Sehun penasaran dengan kisah Myungsoo. Apakah ia juga mengalami hal yang sama?

Myungsoo memberi jeda cukup lama. Sampai ia menggeleng pelan.

“Kemarin, aku seharian hanya tidur di rumah.”

Semua menghela nafas lega. Mungkin hanya kebetulan, anggota klub tak bernama itu mengalami hal sama dalam jangka waktu yang hampir berdekatan.

Myungsoo berdiri dari lingkaran itu. Katanya hendak ke toilet. Ia berjalan menelusuri tangga yang saat itu. Tatapannya lurus ke arah tempat waktu itu. Ia masih mencari cari. Sampai seorang gadis pelan pelan turun dari lantai empat. Lantai yang menjadi tempat teater itu memang selalu kosong, kecuali ada pementasan. Dan gadis itu turun dengan payung beningnya. Ia juga mengenakan seragam sekolah seperti saat itu.

Mata Myungsoo mengikuti gerakan gadis itu.

“Hei!” panggil Myungsoo.

Gadis itu tersenyum seperti biasa.

***TBC***

Annyeong readers!!!^^ balik lagi huahahaha😄 pasti udah pada bosen kan kan kan😄 yaudah gapapa yang penting RCL nya!😄

Oh ya, kalau komennya banyak bakal aku cepetin postnya, kalo dikit mungkin bakal lamaaaa😄 jadi pls nyempetin komen kalo udah baca yaaa😄

Oke, maaf atas segala kesalahan dalam ff ini.

Ghamsahamnida!

Bow~

76 thoughts on “FF XClub PART 1

  1. misteri. sepertinya tidak ada psycho di sini? hemm.. haruskah aku menebak-nebak lagi? kemudian aku tertipu lagi?😀
    kenapa aku merasa gadis yang mereka temui itu semua adalah gadis yang sama? tapi apakah itu mungkin? jika berbeda waktu itu mungkin saja kan? dan gadis itu bae suzy?

  2. kebetulan yg cukup aneh..masa bisa barengan gitu? jngan2 itu cwe satu orang lagi…ahh tapi ga tau juga sih biasanya ska salah tebak…next ya thor..ni ff penuh mistery jd penasaran ni

  3. Aku ngerasa yeoja yg bertemu dengan ke6 namja itu adlh yeoja yg sama….

    Annyeong author fhyra🙂 udah lama nih aku gak sempat mampir disini😀 eh ternyata udah ada ff baru

  4. hebat … org yg nulis ff ini bisa membuat pembaca x penasaran setengah mati, penuh mesteri pasti penuh kejutan juga. semoga aja permpuannya bukan org yg sma. gak kebayang deh bila org yg sma bisa2 ancur tuh persahabatan pra pria2 tampan …. hhhhaaaa.. sy baru baca aja ketagihan apa lagi ff lain pasti lebih kerenn…..

  5. penuh misteri… keren ceritanya.
    Dan aku rasa yeoja yang ketemu sama para anggota xclub itu adalah yeoja yg sama.
    wow keren

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s