FF XClub PART 3

image

Title: XClub
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Mystery, Thriller, School Life, etc.
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho
Sub Cast: Oh Sehun, Kim Jong In, Do Kyungsoo, Kangjun, Jung Soojung aka Krystal, Choi Jinri aka Sulli, OC’s and etc (SubCast dapat berubah sewaktu-waktu)
Length: Chaptered

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

Previous Part:

Hari ini Jong In tak menjaga kedai dengan alasan kecapaian. Ia memutuskan pulang dan berbaring di kamarnya. Ia mencoba mengingat ngingat rangkaian peristiwa yang terjadi. Lalu dalam satu gerakan kecil, ia menarik ponselnya yang berdering.

Unknown number:

Kau siap?

***PART 3***

Tetes demi tetes darah terus keluar dari saluran urat leher pria yang kakinya tergantung di tiang penjangga lampu dengan kondisi tanpa kepala. Kulitnya sangat pucat dan dingin. Di punggungnya yang setengah telanjang, ada coretan yang digores menggunakan benda tajam.

Terima kasih Kyungsoo-ssi. Semoga Tuhan memberkatimu.

***

Kelima pria itu bergidik ketika ditanyai di ruang guru paska pengevakuasian mayat Kyungsoo di gedung lama yang diam diam menjadi ruangan klub mereka.

Mereka benar benar heran dengan kejadian mengerikan itu. Jong in menuturkan, ia memang sempat melihat gelagat aneh dari Kyungsoo akhir akhir ini. Dan … Terjadilah hal nista itu pada teman se-klub mereka.

Mungkin yang paling tahan melihat mayat Kyungsoo berlama lama hanya Sehun yang memang sangat menyukai hal berbau kekejaman dan darah.

Untuk sementara, ruangan klub mereka akan di tutup oleh garis polisi dan tak satupun yang boleh masuk ke sana.

***

Jong in berprilaku aneh sejak tadi. Ia lebih banyak diam. Mereka memang berbeda kelas, tapi ia dan Kyungsoo memiliki kelas yang sama dan menjadi sangat dekat dibanding teman klub yang lain.

“Gwaenchana?”

Jong in menoleh ke sumber suara dan mendapati sang mantan pacar tengah menampilkan wajah prihatinnya.

“Soojung…” Jong in bergumam. Ia kembali membuang muka. Malas meladeni siapapun saat ini.

“Kenapa kau memutuskanku?” Soojung berusaha duduk di bangku kosong samping Jong in. Bekas bangku Kyungsoo. Kini dia harus duduk sendiri, atau menunggu murid baru mengisi bangku itu.

“Pergilah. Aku sedang tak ingin berbicara.”

“Kenapa kau memutuskanku?” Soojung tetap membangkang.

Jong in memilih diam.

Soojung kembali ke tempatnya begitu bel berbunyi. Guru yang hendak mengajar sudah masuk berbarengan dengan seseorang. Mungkin murid baru yang katanya sudah dari kemarin ingin masuk. Dan dia masuk disaat yang tepat. Saat ada bangku kosong.

Semua mata di kelas itu tak lepas memandangi si murid baru. Soojung melemparkan senyum ke arah gadis itu. Yah, ia pernah bertemu dengannya di pesta Kyungsoo.

“Perkenalkan, aku Bae Suzy.”

Jong in terlonjak. Kepalanya langsung terangkat.

“Di… Dia?”

Suzy berjalan menuju bangku Jong in. Semua pasang mata masih mengikuti pergerakannya bak model yang berjalan di atas catwalk.

“Hai.”

Jong in terpaku di tempat.

“Hai.” sekali lagi ia menyapa dengan ramah.

“Ka… Kau murid baru?” Nadanya terdengar heran.

“Ne. Salam kenal.”

Jong in masih terbius dengan kening mengerut. Jadi, selama ini dia adalah murid baru yang berkeliaran?

“Aku… Jong in… Pemilik kedai yang pernah kau datangi.” Jong in berkata tanpa menatap Suzy. Kepalanya menunduk lurus ke depan. Sementara Suzy menatap pria di sampingnya itu geli.

“Kau tau? Kau adalah wanita pujaan teman teman klubku. Kecuali Myungsoo.”

“Apa aku membuatmu takut? Kenapa tak berbicara menghadapku?”

Jong in tertawa pelan lalu menenggelamkan kepalanya di atas meja. Kedua lengannya berhasil menutup wajahnya.

“Aku tak tahu harus berbuat apa.”

Suzy tertawa pelan.

“Kalau begitu terserah.” Suzy mengacak pelan rambut pria itu yang sontak membuat Jong in tersentak.

Mereka akhirnya saling pandang.

***

Myungsoo mendapati beberapa kesialan sepulangnya dari sekolah hari itu. Pertama, ia tak tahu dimana buku PR nya sehingga dia pun dihukum. Kedua, dia harus menerima kenyataan bahwa Kyungsoo mati dengan cara tragis dan pembunuhnya masih diburu. Ketiga, entah mengapa, ada seseorang yang tiba tiba melempar pot bunga dari lantai tiga. Untung saja ia berhasil menghindar. Dan yang keempat dan yang paling parah, ia harus masuk rumah sakit karena rem motornya blong. Untung ia masih hidup dan masih bisa melihat matahari sampai saat ini. Meski lewat jendela rumah sakit. Rumah sakit yang sempat Kyungsoo masuki.

Myungsoo menatap dirinya di kaca jendela. Perban dimana mana. Tangannya terinfus. Sudah tiga hari ia di sana dan tak ada yang menjenguknya.

Seseorang tiba tiba mengetuk pintu. Myungsoo langsung menoleh. Wajah antusiasnya seketika redup. Dia adalah adik Minho, Choi Jinri. Ia memperlihatkan makanan yang dibawanya.

“Aku sangat cemas karena oppa tak datang sekolah selama beberapa hari, jadi aku tanya ke guru dan dia bilang oppa masuk rumah sakit.”

“Minho eoddie?” Myungsoo seakan mengacuhkan penuturan panjang Jinri.

“Dia sedang mengurus keperluan seni. Untuk teater bulan depan.” Jinri mengerucut.

“Sesibuk itukah dia hingga tak sempat menjengukku?” Myungsoo bersarkastis ria.

Jinri mengikuk. Ia menggaruk lehernya, menggesek gesek sepatunya, dan hal hal tak penting lainnya.

“Wae?” Myungsoo terlihat sangat kecewa.

“Tapi kan aku ada disini? Kan?”

Myungsoo tak bereaksi apa apa. Ia memilih berbaring dan menutup matanya. Jinri jadi semakin keki.

“Oppa… Aku akan menelpon Min-”

“Tidak perlu.” sergahnya cepat.

“Aku senang disini sendirian.”

Jinri menggigit bawah bibirnya.

“Mian…”

***

Suzy masuk setelah Jinri pulang. Ditatapnya Myungsoo yang kini terlelap di ranjang serba putihnya.

Ia tak membawa apa apa. Bahkan mencoba membangunkan pria itupun enggan.

Ia hanya menatapnya dari jarak dua meter. Ada senyum yang keluar. Lalu dalam gerakan kecil, ia mulai memotret pria itu.

“Kenapa memotretku?” Mata Myungsoo masih tertutup. Suzy langsung menyemburkan tawa.

“Kau jadi sangat menggemaskan ketika tidur.”

“Oh ya?” mata Myungsoo akhirnya terbuka sempurna.

“Ne.”

“Aku tau. Kau adalah murid baru di kelas Jong in.”

Suzy diam.

“Dan kau sebangku dengannya.”

Suzy diam.

“Bukankah aneh jika ada murid baru dihari yang sama persis saat Kyungsoo dievakuasi, huh?

“Kyungsoo nugu?”

“Teman sebangku Jong in.”

“Aku-”

“Kau pasti tau siapa Kyungsoo, siapa Jong in, bahkan siapa aku! Juga siapa Sehun, siapa Minho, dan siapa Kangjun, kan?!” oktaf Myungsoo meninggi.

Suzy tercekat.

“Kau menuduhku?”

“Ne!”

Suzy kembali terdiam.

“Kau tau? Hatiku selalu berdebar saat kau ada di dekatku! Tapi disaat yang sama, aku juga merasa takut!”

Deg!

“Apa yang sedang kau incar huh? Balas dendam? Apa? Apa?!”

“Cukup!”

Kemudian hening.

***

Myungsoo keluar rumah sakit seminggu kemudian. Dan tak satupun teman klubnya yang datang menjenguk.

Hari ini Myungsoo menyempatkan diri untuk mendatangi pemakaman Kyungsoo yang sudah diistirahatkan seminggu yang lalu. Dengan sebuket bunga di tangan dan pelafalan doa doa. Ia senantiasa khusyuk mendoakan temannya itu di depan makam yang bertuliskan nama lengkap Kyungsoo. Rest in Peace. Do Kyungsoo. Ada banyak bunga bertebaran di sana, juga sebuah boneka.

“Kita sekarang apa? Klub tak bernama yang sudah pecah?” ia bergumam dan tertawa miris. Hampir tak terdengar.

Lalu ponselnya berdering. Kim Jong in.

“Yobose-”

“Yak Myungsoo! Yak!” suaranya putus putus.

“Wae Jong in-ah? Wae?!” Myungsoo mendadak panik.

“Ak-aku… Tolong…! Ak…aku!”

“Yak wae?! Wae?!” Myungsoo berdiri dan segera berlari dari sana menuju motornya hendak melesat ke kedai Jong in.

“Tolong! Tolong aku, Myung-“

Panggilan terputus.

Myungsoo makin cemas. Dilihatnya kedai yang tampak ramai dari kaca. Tapi ia sama sekali tak melihat kehadiran Jong in. Ini adalah hari minggu, sudah sepantasnya ia mengurus kedainya.

Myungsoo mencoba mengubungi nomor Jong in, tapi sia sia. Teleponnya sudah tak aktif.

“Sial!” ia mengumpat. Menendang angin di hadapannya.

***

Seorang wanita keluar dari ruangan operasi. Ada perban yang membungkus wajahnya. Dan dua orang lagi yang mengikutinya di belakang. Kedua manusia itu saling pandang dan tersenyum.

“Kau senang sekarang?” tanya wanita berambut panjang kepada wanita yang wajahnya di perban. Tapi tak ada jawaban.

Dan sosok yang satunya hanya mengelus pelan pucuk kepala wanita yang diperban.

***

Myungsoo berlari menuju rumah kosong yang ada di kawasan terpencil. Disanalah letak ponsel Jong In berada. Yah, Myungsoo melacaknya dengan GPS.

Ia menelusuri jalan sesuai dengan arahan si pemandu GPS. Lalu saat ia berbelok ke arah kiri, hampir mencapai dapur, ia seperti mendengar suara langkah panjang dan cepat yang kemudian menjauh.

Myungsoo kembali melangkah ke ruangan yang lebih jauh. Disanalah, pemandangan yang membuatnya terpana.

Ia luar biasa terkejut. Hingga ia beberapa kali terbatuk batuk dan merasa ingin muntah.

Tubuhnya terasa kaku. Ia sontak membalikkan badannya, enggan melihat kekejaman itu. Tanpa babibu, ia langsung menelpon polisi.

Dalam keheningan itu, Myungsoo masih enggan berbalik. Enggan menatap tubuh yang ususnya terburai dengan isi kepala yang terlempar kemana mana. Darah seperti membanjiri ruangan pengap itu.

Wajah Myungsoo memerah. Ia muntah seketika.

***

Mereka berempat berkumpul dalam satu meja di dalam kantin. Masih tak ada yang mencoba mengucapkan kata sejak mereka memutuskan untuk berkumpul. Myungsoo masih mengaduk ngaduk jus yang mulai mencair di depannya. Minho yang sedari tadi menatap arlojinya tanpa menyantap ramennya sedikit pun. Sehun yang sibuk membolak balikkan halaman buku yang dibacanya atau mungkin hanya asal baca, ia pun tak fokus. Dan Kangjun yang pelan pelan mengunyah jajamyunnya.

Hati mereka semakin panas begitu mendengar desas desus kematian Jong in yang se tragis Kyungsoo di sekitar mereka. Orang orang terus berspekulasi. Sangat menyebalkan.

Jong in dan Kyungsoo adalah teman sebangku. Mereka tewas mengenaskan dalam jeda waktu tak kurang dari seminggu. Banyak yang menyangkut pautkan kematian mereka dengan kedatangan Suzy yang mulai heboh sejak gadis itu mulai memperkenalkan dirinya ke khalayak ramai. Gadis yang duduk di bangku bekas Kyungsoo itu kini sendirian. Sekarang dia jadi jarang menampakkan dirinya sejak kejadian aneh beruntun menimpa anggota klub tak bernama.

“Kita harus mencari Suzy.” Sehun buka mulut setelah menghempaskan novelnya ke meja. Ia tampak gelisah sedari tadi.

“Lalu apa yang akan kita lakukan setelah menemuinya, huh?” Kangjun ikut bersuara.

Brak!

Minho menggebrak meja.

“Kita cari tau sesuatu.”

Myungsoo menatap wajah pria pria itu satu persatu. Hanya dia yang enggan bersua. Ia mempertahankan acara aduk mengaduk tak jelasnya itu.

“Kkaja! Kita harus memaksanya bicara!” Minho berdiri dari bangkunya. Semuanya agak ragu mengikuti gerakan Minho.

***

Minho melihat Suzy sedang duduk di atas kursi roda dan tengah bermain main sendiri di sepanjang koridor rumah sakit. Cukup sepi karena sudah sore.

Memanfaatkan kesempatan itu, Minho langsung membius Suzy dengan kain yang sudah dilumuri obat bius. Setelah tak sadarkan diri, Minho mengangkat tubuh Suzy ala bridal, lalu menyuruh Kangjun untuk melipat kursi roda itu dan membawanya.

Matanya tak lepas menatap gadis itu sepanjang perjalanannya menuju mobil. Sempat sekali ia mengecup bibir gadis itu. Lalu ia ulangi lagi sampai tiba di dalam mobil yang berisi Myungsoo dan Sehun. Kangjun menyusul kemudian.

Minho merasakan tatapan membunuh dari ketiga temannya begitu ia sudah berada di dalam.

“Berani beraninya kau melecehkan wanita yang tengah pingsan.” ketus Sehun. Kangjun mendesis. Sementara Myungsoo hanya menatap Minho tajam.

Mobil mereka pun melaju menuju sebuah rumah yang agak jauh dari kawasan tempat tinggal mereka. Seperti wilayah pedesaan. Masih asri dan sejuk. Pepohonan masih lebat di sekitar. Ada hutan dan pemandangan penduduk yang sangat jarang. Rumah rumah berjarak yang cukup jauh. Tempat yang cocok untuk menenangkan diri.

Minho menyetir mobil itu sambil sesekali memperhatikan ke arah spion wajah Suzy yang polos tertidur.

Myungsoo memangkukan kepala Suzy di bahunya. Ia menikmati saat saat ini. Saat gadis itu yang menurut pandangannya sangat polos dan tidak berbahaya. Ingin rasanya ia peluk erat gadis cantik ini. Walau ia sering sinis padanya, tapi dalam hatinya ia sangat menginginkan Suzy. Entah mengapa, ada gejolak jiwanya yang merasa bahwa ia sudah lama mengenal gadis ini. Dan ia sangat mencintainya.

“Pokoknya kalian bertanya saja dan tak boleh mengasarinya!” ancam Myungsoo begitu mobilnya berbelok masuk ke dalam halaman rumah yang cukup luas. Ada pohon lebat nan rindang. Dan kolam kecil serta tanaman tanaman menambah asri suasana.

Sehun memaksa mengangkat Suzy setelah mereka turun dari mobil. Sehun tak henti hentinya memandang wajah gadis itu. Tangannya membelai pelan wajah bak porselen itu. Ekspresinya tak tertebak. Perasaannya membuncah. Sehun seperti enggan melepas malaikat kecilnya itu.

“Yak Sehun! Kau mau terus terusan berdiri di sana?” suara Minho membuat Sehun tergerak.

Akhirnya mereka sudah berada di dalam rumah. Luas dan sejuk. Villa milik Minho dengan segala fasilitasnya kini menjadi jajahan mereka. Suzy ia rebahkan di atas ranjang. Tak lupa mengikat gadis itu dengan hati hati.

Keempat pria itu berdiri mengitari ranjang. Menatap Suzy yang sedang terlelap. Ada senyum yang masing masing tertoreh di bibir mereka.

Tak lama kemudian, mata Suzy perlahan terbuka. Lamat lamat ia melihat ada empat sosok dihadapannya. Dan ada rasa nyeri yang mengikat tangan dan kakinya.

“Hai.” Minho menyapa untuk pertama kali.

Mata Suzy sudah terbuka sempurna.

Ia melihat ada empat pria dihadapannya.

Airmatanya tiba tiba mengalir. Semuanya mengerutkan kening tak mengerti.

“Kau kesakitan?” tanya Sehun hati hati. Takut Suzy terluka.

“Mian…” Myungsoo tampak tak tega melihat Suzy terikat dengan airmata yang terus mengalir. Ia hendak membuka ikatan itu, tapi Minho dengan cepat mencegatnya.

“Kita harus mengintrogasinya dulu.”

“Kheundae, dia terlihat kesakitan!” bentak Myungsoo.

“Ne, sebaiknya kita lepas saja ikatannya.” Kangjun meringis menyaksikan tetes demi tetes airmata yang tak juga terhenti di wajah gadis yang sangat disukainya itu.

Sehun lebih ekstrim, ia langsung memeluk Suzy dengan sangat erat. Menjadikan dadanya sebagai tempat Suzy melampiaskan tangisannya.

Minho mengepalkan tangannya dan tanpa kata memilih keluar. Tinggal Myungsoo dan Kangjun yang hanya memandang aksi Sehun yang sok heroik itu.

“Kau kenapa chagi?” Sehun berbisik sambil mengusap ngusap puncak kepala Suzy.

“Yak Sehun-ah! Sebaiknya kau lepaskan dulu ikatannya. Aku akan menyiapkan makanan untuk kita.” Kangjun pamit ke dapur.

Tersisa Myungsoo dan Sehun. Myungsoo berinisiatif membuka semua ikatan Suzy.

“Gwaenchana?”

Tangis Suzy berhenti. Ia menoleh ke arah Myungsoo. Matanya makin membesar dan berbinar. Airmatanya lagi lagi menetes. Tangannya kini membelai pipi Myungsoo yang sontak membuat pria itu tak berkutik.

“Myung…” bibir Suzy merengut, menahan bulir bulir yang memaksa keluar.

“Myung…”

“Bogoshippo…”

Suzy langsung menghamburkan dirinya di pelukan Myungsoo. Sontak membuat Sehun terkesiap.

Sehun beranjak dari sana tanpa kata. Muak adalah kata yang mewakilinya.

Tinggal mereka berdua bersama rentetan pertanyaan yang makin membuat otak Myungsoo begah. Tapi ia tak bisa menolak pelukan itu. Yah, ia membalasnya. Malah semakin erat.

***

“Kenapa kau bisa masuk rumah sakit huh?” tanya Myungsoo begitu kedua insan itu sudah berada di halaman. Myungsoo mendorong Suzy yang duduk di atas kursi roda.

Gadis itu tak menjawab. Myungsoo enggan memaksa lagi.

“Kau tau? Kami sedang menculikmu.”

Suzy tetap terdiam. Ia hanya memandang dedaunan yang jatuh dari rimbunnya pohon yang berdiri kokoh. Villa itu sunyi. Cocok untuk tempat menyendiri dan mengasingkan diri.

“Jadi kau bisa jelaskan tentang kematian Jong in?”

Suzy menahan laju roda kursi rodanya. Ia terhenyak mendengar penuturan barusan.

“Jong in? Mati?” Gadis itu seperti bergumam sendiri.

“Yak Suzy, kau bisa jelaskan, kan?”

Suzy kembali membisu.

“Aku ingin bertanya banyak padamu. Bae Suzy.”

Myungsoo menghirup udara sebanyak banyaknya.

“Apa yang sebenarnya kau sembunyikan huh?”

“Apa motifmu mendekati kami?”

“Dan mengapa teman ku satu persatu mati setelah berkenalan denganmu huh?”

“Kau ini siapa?”

Deg!

“Kau tak berubah, ne?” Suzy bergumam.

Myungsoo tak bertanya lagi. Sia sia rasanya jika Suzy tetap tak bersuara. Mereka memutuskan masuk untuk menikmati makan malam.

***

Makan malam berlangsung khidmat. Hanya suara piring, gelas, sendok-garpu yang bersuara. Tak ada yang memulai percakapan.

Suzy terlihat sudah selesai dan melangkah naik ke atas kursi rodanya. Semua melihatnya prihatin.

“Suzy-ssi! Kenapa kau bisa masuk rumah sakit huh? Kau tampak sehat sehat saja.” ujar Minho yang sontak membuat Suzy berhenti mengayuh roda kursinya.

“Aku mau pulang.”

“Yak! Kau tau tujuan kami membawaku kemari huh? Kami ingin kebenaran! Dan kau malah ingin pulang? Setidaknya jawab dulu pertanyaanku!” Minho bersikeras. Sehun sampai menahannya.

“Jangan kasar kasar padanya!” dengas Sehun seraya menahan tangan Minho yang hendak menggebrak meja.

“Sekarang jawab apa yang telah kau lakukan pada teman temanku!” bentak Minho.

“Yak Minho-ah! Santai saja!” Kangjun membela.

Minho sudah akan melangkah menarik kursi roda Suzy, tapi Myungsoo dengan cepat mencegahnya.

“Biarkan dia pulang.”

Semua terngaga. Myungsoo mendorong Suzy masuk ke kamar. Mengunci pintu dan membaringkannya perlahan.

“Besok kita akan memulangkanmu. Aku tak akan bertanya lagi.”

Myungsoo menarik kursi dan duduk di samping ranjang.

“Aku akan menjagamu di sini.”

Suzy menggigit bawah bibirnya.

“Tidurlah.”

“Myung…”

Suzy berhasil mengunci pandangannya.

“Hmm?”

“Kau masih suka membuat lagu?”

“Terkadang. Kenapa kau tau?”

“Kau tak mengingatku?”

Ada jeda panjang.

“Aku mengingatmu. Kau Bae Suzy. Wanita misterius yang suka bersembunyi di ruang teater.”

“Ani.”

“Wae?” alis Myungsoo bertaut.

“X-mission…”

“Mwo?” Myungsoo makin dilanda kebingungan.

“Aku menerima mannequin, kalung salib, bola bilyard, struk makanan, dan sebuah buku.”

Deg!

“Aku tau, mannequin pasti dari Kyungsoo.”

“Kalung salib? yah siapa lagi kalau bukan dari Kangjun.”

“Bola bilyard. Siapa yang bisa mengalahkan rekor Minho?” Suzy tertawa pelan. Airmatanya mulai mengalir.

“Struk makanan. Ah, si rakus Jong in.”

Suzy tertawa seraya menghapus airmatanya.

“Dan buku. Buku karangan Skuki Bee. Siapa lagi yang menyukai Thriller selain aku dan Sehun?”

“Kheundae… Kenapa dia hanya memberiku lima? Kemana barang yang mewakili Myungsoo? Mungkin aku bisa mendapatkan kaset berisi lagu buatannya.”

Myungsoo membulatkan matanya. Tangannya tak sadar sudah menyentuh pipi gadis itu.

“Kau…”

***TBC***

Annyeong readerdul^^
Seperti yang sudah dijanjikan, aku update cepet huahahaha /gak ada yang nunggu/ #plak
Oke, makin kesini makin gaje, jadi gak disaranin untuk dibaca😄 tapi yang udah baca harus comment dan like yaaa😄 huahahahaaha!

Sorry for typos, mistakes and etc.

RCL yaaaaa^^

Ghamshaaa!

Bow!

71 thoughts on “FF XClub PART 3

  1. maksudnya x mission tuh apa?? siapa sebenernya yg d perban itu? suzy kenal sama myung sebelum ini?? tapi ko myung kaya ngga inget gitu…
    astaga penasaran thor..siapa yg sbnernya bunuh kyungsoo n jong in??? sadis amat sih….

  2. Jadi kalau yeoja yg duduk di kursi roda yg mereka culik itu suzy lalu siapa yeoja yg selama ini bertemu dengan mereka?
    Gadis di kursi roda itu adlh masa lalu myungsookah?

    Jangan lupa balas inbox aku yah thor🙂

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s