FF Bannori PART 1

image

Title: Bannori
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Mystery, Thriller, Married life, suspense, Psychology, etc.
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho
Sub Cast: Kim Jong in, Krystal Jung, Choi Jinri, OC’s and etc (SubCast dapat berubah sewaktu-waktu)
Length: Chaptered

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

“Lapor pak! Ada kematian misterius di sebuah apartement terkenal di gangnam. Pemiliknya adalah orang terkemuka di wilayah itu.” Ucap pria berseragam itu seraya memberi hormat.

“Hubungi Detektif Bannori sekarang juga!” Jawab kepala kepolisian tegas. Yang lain mengiyakan dengan lantang lalu segera membubarkan diri.

***

Seorang pria mengupas kulit pisang dengan pelan sembari menatap layar laptopnya. Ujung buah kuning itu perlahan masuk ke mulutnya. Mengunyahnya pelan pelan. Satu, dua, tiga buah pisang sudah masuk ke pencernaannya dalam waktu yang kurang dari semenit.

“Suzy!” Pria pisang itu memanggil wanita yang tengah mengunyah beberapa nori sambil menekan nekan stik game, duduk tak jauh darinya. Wanita itu tampak enggan menjawab karena sibuk dengan game shoot terbarunya.

“Yak nori-pabbo!” Pria itu melempar sehelai kulit pisang ke arah wanita bernama Suzy itu. Namun wanita cantik itu masih bergeming.

“Suzy! Kita dapat job!”

Wanita itu berbalik sejenak lalu ia kembali menatap layar gamenya.

“Aish! Aku kalah!” Umpatnya kesal saat mendapati zombie memakannya di dalam game.

“Gara gara kau! Myung-banana-pabbo!” Suzy melempar stik game nya lalu beranjak menuju pria yang dipanggil Myung itu.

“Mwoya?” Suzy menyikut perut Myungsoo. Memberinya balasan atas apa yang telah dia lakukan.

“Yak! Berhentilah bermain game! Kita punya kasus yang harus diselesaikan!” Myungsoo menjitak kepala istrinya itu pelan.

Suzy mengerucut seraya mengunyah nori kesukaannya kasar.

“Padahal aku sudah level 20. Gara gara kau, aku harus mengulang lagi!” Suzy balas menjitak.

“Yak sudah hentikan!” Myungsoo lagi lagi menjitak kepala Suzy.

Lalu jitak menjitak itu berlangsung beberapa menit sampai mereka benar benar puas.

***

“Huh! Aku benci mereka memanggil kita Detektif Bannori!” Dengus Suzy kesal. Tak lupa mengunyah nori kesukaannya.

Mereka berjalan menuju mobil dan saling bergandengan tangan.

Myungsoo hanya tersenyum mendengar omelan manis itu. Baginya Suzy sangat istimewa.

Dia bahkan tak bisa melupakan kejadian masa SMA mereka.

Sebuah kasus!

Detektif SMA Freland yang terkenal!

“Suzy! Aku mendapatkan teror misterius di lokerku!” Jerit wanita berkuncir itu. Namanya Krystal. Sahabat Suzy.

“Mwo? Siapa yang tega melakukan itu?” Dengan gerakan cepat, ia mengeluarkan kaca pembesarnya yang entah berfungsi sebagai apa. Ia hanya suka melihat aksi Sherlock Holmes yang suka membawa kaca pembesar. Dia juga termasuk penggemar Hercule Poirot. Dia sangat suka bagaimana pria tua itu memecahkan kasus kasus rumit. Tak lupa karakter Dupin yang menurutnya lucu. Ia menyukai semua karakter fiksi itu.

“Berikan aku surat teror itu, Kryst!” Suzy memaksa.

Krystal dengan segera memberikannya.

Surat itu berbunyi: Kau! Kau akan mati! Pergilah ke neraka dasar jalang!

Suzy memutar matanya malas.

“Ini pasti dari hatersmu.” Kata Suzy enggan.

Krystal memang berlebihan.

“Eh? Tapi aku hanya ingin tahu siapa yang menulisnya.” Krystal mengerucut.

“Ah… aku lapar.” Suzy mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Yak Suzy! Bantu aku!” Krystal makin mengerucut.

“Aish! Aku ingin memecahkan kasus yang lebih menarik. Kalau kasusmu sangat mudah ditebak.”

“Lalu siapa?”

Suzy tampak berpikir.

“Ikut aku!”

Suzy menarik tangan Krystal menuju suatu tempat.

Ruang locker.

“Liat di sana?” Suzy menunjuk CCTV.

“Sangat mudah kan?” Suzy menyeringai.

Krystal menggaruk tengkuknya malu.

Dalam beberapa saat. Mereka sudah bisa menemukan pelakunya. Dia adalah Kim Jong ah.

Gadis kelas tiga yang sangat membenci Krystal. Karena Krystal telah merebut orang yang dia sukai. Masalah yang sangat klise. Suzy malas meladeni kasus seperti itu.

***

Suzy menatap secarik kertas yang ia temukan di dalam lockernya. Kertas berwarna kuning dan ada gambar pisang di sekeliling kertas.

“Manusia macam apa yang memiliki kertas seperti ini…” Ia bergumam. Merasa hal itu sangat konyol.

Ia lalu membaca satu persatu kata yang ada.

Aku sudah melihat aksimu. Sekarang kau harus memecahkan kasus ini. Aku meninggalkan sebuah pisang dan itu bisa menjadi petunjuk.

Siapa aku?

Suzy tertawa pelan. Mendesis. Menatap remeh kertas itu.

“Aku bisa melihat CCTV.” Ucapnya enteng.

Lalu tiba tiba ia menyadari, ada catatan kecil di bawah. Tulisannya sangat kecil.

Note: kau tak akan menemukanku dengan melihat CCTV. Aku sudah mematikannya.

Ada senyum aneh yang tiba tiba muncul dibibirnya selepas membaca kalimat itu.

“Menarik.”

***

“Krystal, kau tau siapa siapa saja siswa ataupun siswi yang pernah makan pisang atau membawa pisang ke sekolah?

Krystal tampak berpikir.

“Kim Jongin. Aku pernah melihatnya makan pisang.”

“Siapa dia?

“Saudara kembar Jong ah. Anak kelas tiga. Dia menyukaimu.” Krystal terkikik geli.

“Jeongmal? Lalu selain dia?” Suzy sedikit tersentak mendengarnya.

“Kim Myungsoo.”

“Siapa dia?”

“Mwo? Kau tidak tahu? Jinja! Nanti kuberi tahu jika kita bertemu.”

Suzy mendecak. Ia sedang tak fokus dengan Myungsoo. Karena pikirannya terus mengarah ke Kim Jongin. Bukankah sebuah kebetulan Kim Jong ah mengirim surat teror lalu sehari kemudian ia juga dikirimi? Dan juga, Kim Jongin menyukainya?

Suzy tak percaya kebetulan. Mungkinkah Jongin merencanakannya?

***

Suzy mengamati manusia manusia yang datang ke ruang locker. Semuanya wanita. Locker wanita dan pria memang terpisah.

Suzy mengamati satu persatu gerakan mereka. Pria dilarang masuk ke ruang locker wanita. Kalau pelakunya adalah pria, maka pasti melalui perantara wanita.

Kejadiannya kira kira saat jam makan siang. Saat Suzy tak memasuki locker. Suzy termasuk siswa yang rajin menempatkan barang barangnya di sana. Dan saat itu adalah saat saat kosongnya.

Saat ini Suzy tidak menggunakan waktunya untuk makan siang, melainkan mengamati satu persatu siswi yang masuk.

Tak satupun hal mencurigakan sejauh ini.

Beberapa menit berselang, wanita yang kemarin mengirimi Krystal surat teror masuk ke dalam.

Suzy mengamatinya tajam.

“Jong ah-ssi…” Suzy membuka suara seraya bersandar di salah satu locker tepat di samping locker Jong ah.

“Ne?” Jong ah menatap Suzy malas.

“Kau punya saudara kembar yang bersekolah di sini kan?”

Jong ah mulai tampak sangat terganggu.

“Ne. Waeyo?”

Suzy tersenyum samar.

“Aniya. Hanya bertanya.”

Jong ah yang mulai bingung lalu segera meninggalkan tempat itu.

“Kenapa kasusnya semudah ini? Huh. Jadi tidak menarik lagi.” Gumamnya kecewa.

***

Suzy mengamati rumah besar yang ada di hadapannya. Itu adalah rumah Jong ah. Ia lalu memberanikan diri untuk memencet bel.

Seorang pria berseragam tiba tiba muncul. Itu pak satpam.

“Ada apa?”

“Saya mencari pemilik rumah ini.”

“Jwosungeo, semuanya keluar.”

Suzy mendesis.

“Mereka kemana?”

“Mereka pergi ke rumah sakit.”

“Siapa yang sakit?”

“Jwosungeo, saya tidak bisa memberitahukan detailnya kepada orang asing. Anda harus membuat janji dulu. Permisi.”

Kening Suzy mengerut dan meminta pamit. Ia memperhatikan rumah besar itu di kejauhan. Lalu dalam gerakan lambat, ia seperti melihat seseorang mengintip di balik gorden.

Mata Suzy perlahan membesar.

Satpamnya berbohong!

Suzy memutuskan untuk kembali memencet bel. Namun satpam itu tak kunjung datang.

Suzy kembali bertitik api ke arah jendela dan ia kembali menemukan sosok itu.

Siapa dia?

***

Besoknya, Suzy kembali mendatangi rumah itu. Ia juga tak lupa memencet bel berulang ulang. Sayang, tak satupun yang menyahut. Bahkan satpam kemarin tampak enggan memunculkan diri.

“Yak buka! Buka!” Jeritnya kesal seraya memencet bel dengan kasar.

Salah satu dari warga yang ada di sana mendatangi Suzy setelah mendengar bel yang terus berbunyi dan berasal dari rumah besar itu.

“Chogiyo…” wanita itu menepuk pundak Suzy.

“Ne?” Kening Suzy berkerut.

“Apa yang anda lakukan di sini?”

“Saya sedang memencet bel.”

“Ne, saya tahu. Kheunde, rumah ini sudah tak berpenghuni lagi.”

Deg!

Jantung Suzy seperti di pompa. Cepat dan semakin cepat.

“M-mwo?” Suzy tergagap.

“Keluarga Kim, tewas terbunuh. Satu keluarga bersama satpam dan pembantunya.”

Deg!

Sekujur tubuhnya merinding seketika. Jantungnya sudah hampir meledak. Ia sesak sehingga tak mampu berkata.

“Mereka dibantai dua hari yang lalu.”

“Dan pelakunya belum ketemu.”

“Ta-tapi…” pikiran Suzy kemana mana.

“Dan mereka sekarang berada di rumah sakit untuk di autopsi. Polisi sudah mulai bergerak. Tapi-“

Suzy seperti tuli. Ia pergi begitu saja meninggalkan wanita berumur itu di sana bahkan sebelum wanita asing itu menyelesaikan kalimatnya. Ia menancap gasnya dan berlalu.

Dalam perjalanan menyesakkan itu, dia mendapati ponselnya berbunyi. Dari ketua osis.

Pengumuman!

Kim Jong ah telah berpulang ke pangkuan Tuhan atas tragedi pembantaian satu keluarga yang terjadi di rumahnya. Mari kita sama sama mendoakannya.

Deg!

Baru saja kemarin mereka berpapasan dan wanita itu tiba tiba menggegerkannya dengan kematiannya. Dia yakin, keluarga yang dimaksud adalah keluarga Jong ah.

***

Suzy berpangku tangan sambil memikirkan surat misterius yang diberikannya waktu itu. Ia masih belum memecahkannya.

Dan ia mulai frustasi.

“Suzy-ah! Gwaenchana?” Krystal membuyarkan lamunan Suzy.

Gadis itu hanya menggeleng pelan. Enggan merusak suasana.

Matanya lalu tak sengaja menangkap sosok pria yang tengah berjalan santai ke kantin. Mengambil beberapa potong lauk pauk dan duduk di tempat yang sepi.

Ada aura tak biasa dari pria itu.

Aura aneh.

Menggelitik.

“Kau tau siapa dia?” Tanya Suzy kepada Krystal yang sedang menyeruput jusnya.

“Yang mana?” Krystal menoleh ke arah pandang Suzy.

“Oh Tuhan!” Krystal setengah menjerit.

“Waeyo?” Jantung Suzy mulai deg degan.

“Pria itulah yang aku sebut Kim Myungsoo! Detektif terbaik SMA Freland!”

Mata Suzy membulat.

“Kenapa aku baru mengetahuinya? Dia tak makan pisang.”

“Karena kau hanya sibuk dengan duniamu sendiri sampai lupa bahwa ada manusia manusia tampan sepertinya dan mungkin saja dia malas memakan benda kuning itu.”

“Detektif?” Suzy makin dibuat penasaran.

“Dia pernah memecahkan kasus besar.” Bisik Krystal antusias.

Ia harus meneliti pria itu.

***

Kim Myungsoo. Tinggal sendirian di Seoul. Berkepribadian tertutup. Dan dia sangat cerdas. Pernah beberapa kali memenangkan kasus pembunuhan yang diberikan kepadanya.

“Kasus pembunuhan?!” Suzy memekik tak percaya tatkala melihat data Myungsoo di website sekolah.

“Apakah dia bisa memecahkan kasus keluarga Jong ah?” Ia menggumam. Mengunyah keripik kentangnya tak sabaran.

Saat ia mencoba mengorek plastik keripik itu sekali lagi, ia tak menemukan apapun yang tersisa di sana.

Ia memutuskan untuk berbelanja.

***

Langkanya gesit memilih berbagai cemilan yang hendak ia santap. Lalu matanya tertuju pada nori yang terpajang. Ia mengambil beberapa dan segera menuju kasir.

Ketika hendak membayar, tak sengaja ia bertatap mata dengan seseorang yang tengah mengunyah pisang tepat di pintu masuk supermarket.

Mata mereka saling bertemu.

“Kim-” kata kata Suzy tertelan begitu saja. Pria itu bergeming. Hanya tersenyum. Dan ia asyik mengunyah pisangnya.

Ada hening yang terjeda.

Mungkinkah?

“Kau sudah menyerah huh?” Pria itu menggigit pisangnya pelan. Menyeringai nakal.

Mata Suzy membesar.

“Ka-kau…”

Pria itu tersenyum.

***

“Dia psikopat! Dia benar benar psikopat!”

“Dia sengaja membantai keluarga itu hanya karena ingin memberiku petunjuk bahwa Jong ah tidak ada hubungannya dengan dia?!”

“Dasar gila! Aku tak ingin berurusan lagi dengannya!”

“Kim Myungsoo gila! Aku harus melaporkan ini!”

Suzy menjerit dalam kamarnya. Ia tak bisa berkonsentrasi setelah apa yang di dengarnya beberapa saat tadi.

‘Jadi kau yang mengirim surat itu?’

‘Ne.’

‘Katanya kau adalah detektif yang hebat.’

‘Siapa yang mengatakannya?’

‘Krystal.’

‘Hmm…’

‘Jadi kau ingin menangani kasus pembantaian keluarga Jong ah?’

‘Shireo.’

‘Waeyo?’

‘Karena aku tak mungkin melaporkan diriku sendiri.’

Lalu ia tertawa keras.

***

“Kalau kau melaporkannya, tak akan ada yang percaya.”

“Kau tak punya bukti.”

Mereka bertemu di gudang sekolah.

“Aku akan-“

Belum sempat Suzy menyelesaikan kalimatnya, Myungsoo sudah menyumpal mulut Suzy dengan bibirnya. Menyuruhnya diam.

Suzy seperti akan mati. Jantungnya berpacu tak normal.

“Kau akan tau akibatnya kalau kau memberitahukan semuanya. Aku melakukan ini untuk memberimu petunjuk. Tapi kau sama sekali tak bisa memecahkannya. Sayang sekali…” ia menyeringai selepas ciuman itu.

Suzy tak berkutik. Berbicara pun rasanya sulit. Hanya ada airmata. Kristal bening itu mengalir.

“Kau… tak… perlu… melakukan… itu!” dadanya sesak. Ia merasa bersalah sekarang.

“Kau sendirikan yang mengatakan, kalau kau tak suka kasus cemen seperti kasus Krystal?”

Jleb!

Pria ini tau semuanya.

“Myungsoo pabbo!” Suzy terisak.

Mata Myungsoo menyendu.

“Uljimma…” Myungsoo mencoba menghapus airmata Suzy namun gadis itu segera menepisnya.

“Aku membencimu.”

Dan ia berlari dari sana.

***

Beberapa tahun kemudian mereka akhirnya menikah. Karena Myungsoo benar benar tidak bisa melepaskan Suzy setelah rahasia terbesarnya terungkap dan Suzy lelah dengan semua sikap Myungsoo. Tak ada yang bisa dilakukannya selain menerima pinangan pria psiko itu. Benar benar kisah cinta yang buruk.

Pada akhirnya, Suzy mulai terbiasa dengan sikap Myungsoo.

***

“Kematian pria mistrius di dalam apartemen di Gangnam. Pria ini orang terkemuka. Dia pemilik apartemen itu.”

“Kalian harus memecahkan kasus ini dengan segera.”

“Dilaksanakan.” Balas Myungsoo setengah lantang. Tak lupa mengunyah pisangnya.

“Dan jangan mengotori ruangan dengan kulit pisangmu.”

Myungsoo tak menjawab. Hanya tersenyum.

“Kkaja Suzy!” Ia bergegas meninggalkan tempat itu menuju TKP.

“Yak!” Kepala kepolisian berteriak begitu Myungsoo membuang kulit pisangnya tepat di atas meja pria setengah botak itu.

***

Myungsoo menatap puing puing yang ada di dalam kamar korban. Ada darah yang mengering, kursi yang terbalik, dan kasur yang berantakan. Ada satu benda yang makin menguatkan Suzy kalau pelakunya adalah wanita. Ada bekas lipstik di atas bantal.

“Yak Suzy-chagi, belum tentu pelakunya adalah wanita. Semua bisa melakukan ini.” Myungsoo menarik tas Suzy, merogoh lisptik yang ada di sana, lalu menggunakannya.

Ia tersenyum dan dalam gerakan lambat ia mengecup pipi Suzy. Bekas bibir Myungsoo tertera jelas di pipi merona Suzy.

Suzy tampak kesal.

“Liat!” Myungsoo mengarahkan Suzy ke depan cermin.

“Apakah kau bisa membedakan apakah bekas lipstik itu wanita atau pria?” Tanya Myungsoo dengan senyum yang masih menempel.

Suzy mengerucut dan menggeleng.

“Mungkin wanita.”

Myungsoo menjitak kepala Suzy.

“Yak!” Suzy tak terima. Ia mengelus kepalanya kesal.

“Pabbo! Bisanya cuma main game dan makan nori!” Umpat Myungsoo sambil sibuk meneliti lebih dalam.

Suzy mendesis lalu menendang kaki Myungsoo penuh dendam.

“Rasakan itu! Psikopat pisang!”

Myungsoo terkikik geli.

“Yak yak sudah! Kita selesaikan kasus ini dulu! Setelah itu aku bisa menghabisimu!” Ancam Myungsoo dengan wajah tak serius.

“Cih!” Suzy tampak tak takut.

“Aku yakin yang melakukannya adalah pria. Kalau wanita maka ada kemungkinan lain.” Kata Myungsoo kemudian. Enggan meneruskan permainan ledek meledeknya.

“Lalu darimana dia menemukan lipstik itu? Pabbo!” Suzy mulai tak sabar.

“Kau ambil sampel lipstik itu. Di sana kita bisa tau jenis dan merek lipstik apa yang dia gunakan.” Myungsoo mulai serius.

“Eh? Kita tak bisa mengetahui DNA nya melalui air liur di lipstiknya?”

“Sepertinya air liurnya sudah mengering. Melalui merek lipstiknya, kita bisa tau darimana lipstik itu berasal.”

Suzy mengangguk. Ada senyum yang terbarengi bersama tatapan kagumnya ke arah suaminya itu.

“Bagaimana dengan sidik jari?”

“Tak ada sidik jari. Pelaku sangat cerdas dalam mencegah sidik jari tertempel.”

“Seperti kau…” Gumam Suzy.

“Ne?” Myungsoo menoleh. Seperti mendengar sesuatu yang keluar dari bibir Suzy.

“Aniya.” Suzy bersiul seperti tak terjadi apa apa.

“Hmmm… kursi ini… hanya pria yang mampu melemparnya dengan sedemikian kuatnya hingga ada yang patah.” Kata Myungsoo begitu mengalihkan matanya ke arah kursi yang terbalik.

“Hmmm… lipstik ini hanya pengalihan. Tapi sepertinya… bisa menjadi petunjuk terkuat.”

Mereka berdua lalu saling pandang dan tersenyum. Suzy dengan senyum penuh kecurigaan, Myungsoo dengan senyum penuh kemenangan.

***

“Aku curiga, jangan jangan kau membunuhnya untuk mendapatkan job?” Ujar Suzy saat makan malam.

“Kau bercanda?” Myungsoo berhenti mengunyah.

“Aku, sedikit serius.”

“Yak pabbo!” Myungsoo menendang kaki Suzy.

“Aku tak akan melakukannya lagi. Kecuali-” Myungsoo setengah berbisik.

“Kecuali?”

“Ada yang menyakitimu.”

So sweet…”

Myungsoo tersenyum.

“Kau pasti ingin aku mengatakan itu kan? Cih! Tidak manis sama sekali. Dasar gila.” Suzy melanjutkan makannya dengan perasaan dongkol.

“Aku serius. Aku tak mungkin melakukannya hanya karena ingin mendapat job.”

“Ne ne ne. Kau hanya akan melakukannya untuk membuktikan bahwa mereka atau siapapun itu tidak terlibat sama sekali?” Suzy bersarkastik ria.

“Ya-”

“Dan pada akhirnya, si psiko Myungsoo lah yang menjawab misteri surat itu. Ck.” Suzy mendecak. Memotong interupsi Myungsoo.

Pria itu tampak tak suka Suzy membahas masa lalu. Ia hanya terdiam. Enggan membalas celotehan basi itu. Sudah sangat lama sejak kejadian itu.

Suzy tak akan bisa melupakannya. Begitupun dengan Myungsoo.

“Yak Myungsoo! sikap diam mu berarti kau benar benar membunuh untuk mendapatkan job.” Tutur Suzy tampak tak main main.

Lalu dalam satu gerakan gesit, Myungsoo mencengkram tangan Suzy.

“Aku sudah bilang tidak, kan?” Matanya menajam. Senyumnya sudah tidak ramah lagi.

Suzy mulai ketakutan. Ia refleks mengangguk pelan dan menelan ludah.

Jleb!

“Nah, begitu chagi.” Myungsoo melepaskan cengkraman dan intimidasinya.

Semua kembali normal.

“Besok kita ke TKP lagi, ne?”

Suzy mengangguk.

***

“Monyet!” Desis Suzy begitu mendapati Myungsoo sudah berada di depan laptop dengan hanya mengenakan sehelai handuk. Tak lupa beberapa pisang yang berhamburan di atas meja. Sementara Suzy masih berada di atas ranjangnya. Tak menggunakan sehelai benang pun.

“Yak Suzy, mau mandi bersama?” Tanya Myungsoo sambil mengunyah pisang.

Suzy menggeleng kuat.

“Shireo!”

Myungsoo tertawa pelan.

“Sudah lama kita tidak mandi bersama. Hmmm… sekitar sebulan yang lalu.”

“Monyet! Aku mau karena kau ancam!” Umpat Suzy kesal lalu buru buru ke kamar mandi dengan gulungan selimut di sekujur tubuhnya.

“Yak Suzy! Kalau kau mau mandi bersamaku, aku akan membelikanmu konsol game terbaru! Dan…”

Suzy tiba tiba mengintip dari balik pintu.

“Dan?”

“Persediaan nori selama satu tahun.”

Jleb!

“Jeongmal?”

Myungsoo mengangguk bersama seringai nakal piciknya.

“Aish! Baiklah!”

Myungsoo melompat kegirangan lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Dimana sang istri menunggunya. Pasti akan ada hal menarik yang terjadi.

***

“Kau sudah membawa peralatannya kan?”

“Ne.” Suzy merogoh nori dan mengunyahnya kasar. Mereka kini berjalan menuju TKP. Korban pembunuhan. Pemilik apartemen mewah di Gangnam.

Saat mereka memasuki lift, tak sengaja mereka berpapasan dengan sepasang suami istri yang juga turut mendiami lantai tempat korban terbunuh.

“Anda dari lantai atas?” Tanya Myungsoo sopan.

Sepasang suami yang sudah renta itu hanya mengangguk.

“Apakah anda mendengar suara suara aneh saat kejadian? Tepatnya pada malam hari. Sehari sebelum dia ditemukan tak bernyawa.”

“Tidak.” Kali ini si kakek yang menjawab.

“Bagaimana bisa? Pasti akan ada keributan yang terjadi jika korban di bunuh dengan tangan sendiri.”

“Kami benar benar tidak mendengarnya. Bahkan kamar kami tepat berada di sebelah kamar korban.”

“Hmmm…” Myungsoo bertopang dagu. Berfikir.

Suzy tampak memperhatikan wajah serius suaminya itu. Ada senyum kecil yang menghiasi bibir Suzy.

“Jangan jangan…” Myungsoo seperti menemukan titik terang. Ia lalu pamit dan segera berlalu menuju TKP.

Sesampainya di sana, ia kembali mengamati bercak darah mengering itu. Ia mengambil sampelnya dan menyuruh Suzy untuk membawanya ke lab agar dicocokkan dengan sampel korban.

Mereka akhirnya berpisah di tempat itu. Tersisa Myungsoo yang masih menelusuri barang barang yang ada di sana.

“Kursi yang terbalik dan terlempar jauh.” Ia menulisnya di buku catatannya.

“Pelakunya akan kukategorikan pria karena mencoba mengelabui kita dengan lipstik. Kalau pelakunya wanita mungkin ada masalah lain yang belum kuketahui.”

“Ranjang yang berantakan.” Ia menulisnya lagi.

“Kalau darah itu milik korban, maka prasangku salah, tapi kalau darah itu milik orang lain, maka… prediksiku benar.” Ia tersenyum samar.

Ponselnya lalu berdering. Dari Suzy.

“Myungsoo-ah, pembuktian sampelnya akan berlangsung sekitar satu jam. Kau mau menunggu?”

“Tidak mau. Kau kesini sekarang. Kita jalan jalan.”

Terdengar desisan dari seberang telepon. Myungsoo tersenyum mendengarnya.

***

“Suzy, kita harus ke rumah sakit sekarang.”

“Wae? Aku baru saja sampai.” Suzy tampak terengah engah.

“Kita akan melihat hasil autopsi korban.”

“Monyet! Menyusahkanku saja!”

***

“Kami menemukan racun di hati korban.”

Myungsoo bertopang dagu. Ponselnya tiba tiba berbunyi. Dari staf lab.

“Yoboseyo?”

“Sampelnya sudah keluar. Darah itu bukan milik korban.”

Seringai lebar muncul di bibirnya.

“Ne. Jadi, milik siapa?”

“Kami belum tahu.”

“Baiklah.”

Tut.

Myungsoo mengakhirinya dengan  senyum yang menunjukkan kemenangan besar.

“Suzy,”

“Ne?”

“Suruh kepolisian untuk mengumpulkan semua staf apartemen dan pemilik kamar yang menginap di lantai itu.”

“Dilaksanakan! Monyet!”

“Yak!” Myungsoo menjitak kepala Suzy.

Suzy hanya bisa memanyunkan bibirnya.

“Dasar monyet!”

Plak!

Lagi lagi kepala Suzy mendapatkan satu jitakan sayang dari suaminya.

Ketahuilah, filosofi sifat monyet sendiri berarti cerdas, cerdik, gesit, jahil dan mampu memperdayai siapa pun. Seperti Myungsoo yang cerdas, jahil dan gesit, serta tak jarang mampu memperdayai seseorang.

Juga karena dia suka makan pisang.

***

Mereka kini berada di dalam apartemen. Di lantai tempat kejadian. Semua staf telah dikumpulkan, pemilik kamar yang bersangkutan juga telah hadir.

Mereka kini saling berhadapan.

“Pada malam kejadian, kalian tak melihat ada yang mencurigakan?” Tanya Myungsoo tegas kepada staf apartemen.

Mereka menggeleng.

“Kalian…” Myungsoo menunjuk para pemilik kamar.

“Tak mendengar apapun pada malam itu?”

Mereka menggeleng.

“Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada yang mendengar keributan. Dan dokter menemukan racun di dalam tubuh korban.” Gumam Myungsoo.

“Berarti pelaku tidak mencoba membunuh korban pada malam itu.”

“Dia membunuhnya di tempat lain. Dengan cara lain. Dengan racun.”

“Jenis racun yang ditemukan adalah jenis racun yang bertahan sampai 24 jam. Jadi racun itu diberikan sehari sebelum mayat korban ditemukan.”

“Dan darah itu…”

“Pasti darah si pelaku.”

“Menurut analisisku, si korban lah yang ingin membunuh pelaku. Tapi…”

“Akhirnya mati karena sebelumnya, si pelaku sudah memasukkan racun ke dalam makanan atau minuman korban.”

“Atau…”

“Ada pelaku lain.” Myungsoo memicing.

“Dan lipstik itu…”

“Itu adalah merek lipstik dari Korea. Para remaja suka memakainya.”

“Si pelaku, memiliki anak remaja. Perempuan.”

“Dan anaknya berada di apartemen ini.”

Semua terlihat gugup.

“Bolehkan aku memeriksa kalian satu persatu?” Myungsoo tersenyum licik. Menatap mereka satu persatu.

Dari hasil penelusuran, Myungsoo akhirnya menemukan tujuh remaja yang tinggal di lantai itu.

“Suzy, periksa kamar mereka.”

Mereka bertujuh tampak was was.

“Yak aku tidak bersalah!” Pekik salah satu dari mereka.

Myungsoo melemparkan senyum ganjilnya dan mendekati wanita itu.

“Yak, aku tidak pernah menuduhmu manis.” Myungsoo menarik dagu wanita itu.

Suzy mendecak dan segera berlalu.

“Apa apaan Myungsoo itu. Dasar penggoda!” Umpat Suzy sembari menggeledah kamar mereka dan mengumpulkan semua lipstik yang ada.

“Ini semua yang bisa kutemukan.” Suzy menyerahkan sekotak lipstik itu kepada Myungsoo.

Myungsoo memeriksanya satu persatu.
Dan ya!

Ia menemukan satu benda yang sama persis dengan jenis lipstik yang ada di kamar korban.

“Ini milik siapa? Kau menemukannya di mana, chagi?”

Suzy mendesis.

“Tepat di sebelah kamar korban.”

Deg!

Myungsoo refleks menoleh ke arah kakek-nenek di lift tadi. Menatapnya penuh rasa curiga.

“Kalian punya cucu?” Myungsoo berjalan ke arah mereka. Semakin dekat dan semakin dekat.

Mereka berdua tampak ketakutan.

“Yak jawab pertanyaanku!” Bentak Myungsoo. Memukul dinding di samping mereka.

“Yak Myungsoo! Mereka hanya orang tua!” Suzy menahan tangan Myungsoo.

“Mundurlah chagi. Jangan menghalangiku.” Suara Myungsoo melunak.

Suzy menurut. Ia tahu sifat Myungsoo dua ratus persen.

“Cucu kalian yang mana?”

Mereka tampak enggan berkata sepatah kata pun.

Lalu tiba tiba, salah seorang dari mereka mengacungkan tangan.

“Ak-aku adalah cucunya. Namaku Choi Jinri.”

Myungsoo mengalihkan tatapannya dari sepasang suami istri itu ke Jinri. Gadis manis dengan wajah innocent.

“Kau?” Myungsoo tersenyum.

“Ne. Kau mau apa?” Gadis itu terlihat menantang.

“Lipstik itu milikmu?”

“Ne!”

Myungsoo sekali lagi tersenyum, sontak membuat gadis itu gugup.

“Ceritakan padaku. Manis…”

Suzy mendesis.

‘Dasar monyet!’

“Apa yang perlu aku ceritakan huh? Aku tak punya cerita apapun.”

“Racun itu. Siapa yang menaruhnya? Kau, kakekmu, atau nenekmu?”

Jinri tampak mengeluarkan keringat dingin.

“Yak ini tidak ada hubungannya dengan kami!”

“Kakek, nenek, kemari!” Myungsoo menggerakkan jarinya. Menyuruh sepasang renta itu menghadap padanya.

“Ne?”

“Boleh kuperiksa?”

“Ap-”

Belum sempat mereka menjawab, Myungsoo dengan entengnya memeriksa tangan mereka.

“Darimana kau mendapatkan luka ini kek?” Tanya Myungsoo tatkala melihat lengan si kakek tampak di plester.

“Ak-aku terjatuh.”

“Eoddiga?”

“Da-dapur.”

“Kenapa?”

“Kare-”

“Kenapa berbohong, kek?” Myungsoo semakin menyudutkan keluarga itu.

Skak mat!

Keadaan berubah tegang. Ada hening yang tercipta selama beberapa detik.

“Ka…kek… aku… adalah pria yang berbahaya…” bisik Myungsoo.

“Sebaiknya anda menjawabnya sebelum-”

“Baiklah! Aku mengaku! Aku… aku yang meracuni tuan Kang!” Airmata Jinri mulai mengalir. Ia sukses memotong perkataan Myungsoo.

Semua yang ada di sana menoleh cepat ke arah Jinri. Tergemap tak percaya. Pikiran mereka kini penuh dengan prasangka prasangka.

“Itu… itu… karena tuan Kang yang berkuasa ingin menendang kakek dan nenekku keluar dari apartemennya dan menjual organnya untuk melunasi hutang keluarga kami. Kecuali…” airmatanya makin deras mengalir. Semua dibuatnya tercengang.

“Kecuali aku menikah dengannya!” Jinri kini terisak.

Suzy membulatkan matanya begitu melihat Myungsoo mengusap pelan airmata Jinri.

“Aku tidak mau menikah dengan kakek tua itu! Tapi…”

“Aku juga tak punya uang untuk membayar hutang hutangku padanya. Yang kumiliki hanya kakek dan nenekku.”

“Makanya aku berniat membunuhnya.”

“Aku meracuninya.”

“Dan aku berkata padanya, bahwa aku akan menikahinya dengan syarat.”

“Dia harus menandatangani kesepakatan bahwa seluruh miliknya adalah milikku.”

“Dan dia setuju.”

“Tapi, saat aku memberitahu kakek bahwa aku menerima tuan Kang untuk menjadi suamiku, kakek sangat marah dan malah mendatangi tuan Kang.”

“Tapi tuan Kang malah melukai kakekku. Padahal kakek hanya mendatanginya dengan modal ocehan dan sumpah serapah.”

“Saat kakekku di aniaya, kakekku berusaha melawan namun pada akhirnya tuan Kang mati dengan mulut berbusa. Kakekku berusaha menghilangkan jejak dengan menghapus busa yang mengalir dan membuatnya seolah olah terkena serangan jantung. Dia akhirnya memakai lipstik milikku dan meninggalkan jejak, bahwa seolah olah pelakunya adalah wanita. Tuang Kang memang suka membawa wanita ke apartemennya, jadi kecurigaan terhadap kami mungkin akan berkurang atau bahkan lenyap. Kakek melakukan itu karena kakekku berfikir bahwa dialah pelakunya.”

“Tapi tak kusangka, hal itulah yang menjadikannya petunjuk. Bahwa pelakunya memang seorang wanita.”

Jinri tersenyum parau.

“Kakekku tak bersalah! Aku! Aku lah yang bersalah!” Airmatanya lagi lagi mengalir.

Myungsoo tersenyum penuh kemenangan. Ia mengangguk lalu menghentikan recorder yang menyala.

“Pernyataanmu sudah cukup sebagai bukti. Dan kami tak akan menangkap kakekmu.”

Suzy tersenyum menatap Myungsoo.

“Myungsoo-ah, ayo kita pulang. Kita serahkan sisanya ke polisi.” Suzy menarik lengan Myungsoo manja. Seakan hendak melepaskan Myungsoo dari bayang bayang Jinri.

Myungsoo berseringai.

“Ah? Lalu setelah itu kita mandi bersama, ne?”

“Shireo!” Suzy langsung menghempaskan lengan Myungsoo. Berlalu sendirian dengan perasaan dongkol.

Myungsoo menyuruh semuanya bubar. Ia bergegas menyusul Suzy di basement.

“Kau memang pandai mengintimidasi orang, ck.” Suzy mendecak seraya masuk ke dalam mobil. Myungsoo hanya tertawa mendengarnya. Yah, begitulah dirinya.

Tanpa mereka sadari, dalam basement itu, ada seorang pria yang menatap dua detektif itu tajam dari balik kaca mobil. Lalu ada senyum licik yang merekah dari bibirnya.

***TBC***

Annyeong readerdul! Huaaaa comeback lagi bersama FF absurd terbaru😄

Seriusan! Aku baca ff ini ketawa sendiri. Padahal gak ada yang lucu. Malu sendiri bikin ff gaje seperti ini.

Awalnya aku gak mau post ff ini karena masih banyak alternatif ff lain, tapi berhubung note hapeku kehapus chacenya dan otomatis isinya jg keapus, dan di note itu berisi daftar next ff. Aaa!!! Aku jd lupa ff apa yang bakal aku buat.

Jadi untuk melegakan jiwa yang lelah ini (waduh), aku memutuskan untuk memposting ff paling tak bermutu di seluruh jagat raya ini. Mian. Tidak usah dibaca! Saya tidak menyarankan!

Tapi yang udah baca harus komen yaaa! Like kalo suka.😄 HUAHAHAHAHA!

Oh ya fyi, aku udah buat part 2 nya, jadi aku janji bakal post ff ini satu hari sesudah ff ini di post 😂 dan aku gak bisa memprediksi seberapa banyak chapter dalam ff ini. Doakan saja supaya tugas tugas saya berkurang sehingga penyelesaian ff ini berjalan lancar (gak ada yang peduli woy!) 😭

Sorry for:
😭Typos
😭Mistakes
😭Offending you

Please correct me if there are some wrong things here

BOWS~

56 thoughts on “FF Bannori PART 1

  1. uwaaaaa udh lama ga baca ff disini dan menemukan ada ff bannori. heheh
    itu myungsoo beneran kah dia seperti itu ? wahhh psiko banget dong kalo kaya gitu …
    siapa pria yg ngeliatin mereka ya ??

  2. anyeong….. udah lama ngga baca ff disini,taunya eeh ada ff baru.
    aku suka ff yg genre kaya gini
    semoga part selanjutnya makin seru Btw siapa pria yg ngeliatin mereka..?
    makin penasaran………

  3. Ini comeback yg bener2 comeback ku di wp jd readers, sering dpt notif ff di email tp aku abaikan, dan utk pertama kali setelah sekian lama off jd readers, aku baca ff ini.. ya ampun ff vhyra mah genre, alur, ngga ada duanya.. selalu bikin nagih.. kkkk
    Keren2.. tp masih tada ngga rela myung bunuh keluarga kim.. huweee

  4. Gilaaa Myung bkin ngeri heh, dmi bkin Suzy tw m dy, Myung rela bnuh klwrga Kim…
    V Suzy mw2 z nikah m Myung…
    Daebaklah Semngat🙂

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s