FF Serial Dreams (Oneshoot)

image

Title: Serial Dreams
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, mystery, suspense, school life, etc.
Main Cast: Bae Suzy, Kim Myungsoo, Choi Minho
Sub Cast: Krystal Jung, Lee Jieun, OCs
Length: Oneshoot

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ Bow

Happy Reading!

***

“People think dreams aren’t real just because they aren’t made of matter, of particles. Dreams are real. But they are made of viewpoints, of images, of memories and puns and lost hopes.” – Neil Gaiman.

***

3 September 1998

Aku berjalan di sebuah perempatan. Aku melihat pria itu. Tersenyum ke arahku. Aku bingung. Aku ingin menyapanya untuk bertanya.

Apakah dia mengenalku?

Tidak. Aku tidak melakukannya.

Jieun memperhatikan Suzy yang tampak sibuk dengan buku diarynya.

“Suzy-ah… kau suka menulis diary ya?” Jieun berniat menjahili Suzy.

“Aniya. Aku hanya menuliskan mimpiku ke dalam buku ini.”

Jieun melepaskan tawanya.

“Sebaiknya kau belajar. Besok ada ujian.” Jieun menepuk pundak Suzy dan berlalu bersama anak lain menuju kantin.

Jieun tak mengajak Suzy karena Suzy mengatakan padanya kemarin bahwa ia tak bisa makan sembarang makanan. Dia punya makanan sendiri yang dibawanya ke sekolah.

“Mimpiku akan terus berlanjut…” gumamnya seraya mengeluarkan kotak bekalnya dari tas.

Suzy menatap buku itu. Melihat selembar yang terisi. Mimpi itu terus terngiang di benaknya.

Semua dimulai pada tanggal 3 September.

***

4 September 1998

Aku hanya melihat warna hitam. Gelap. Bahkan kakiku tak merasa menginjak apapun. Dimana aku?

Ah, tapi aku mendengar suara teriakan.

Suzy mengunyah sarapannya. Sayur buncis, kembang kol, brokoli, kacang panjang, wortel dan sayuran hijau lainnya.

Suzy mendesis.

“Sial…”

Tiba tiba seorang pria menepuk pundaknya. Suzy sontak menoleh. Dilihatnya sosok tampan dan tinggi. Sosok guru yang diidolakan banyak murid wanita.

“Ne?”

“Kau tak bergabung dengan yang lain?”

“Tidak.” Suzy kembali bertitik api ke makanannya. Tak peduli jika sang guru memaksanya terus berbicara meski ia sedang berkutat dengan makanan.

Pria itu duduk di samping Suzy. Tangannya menjalar ke pergelangan tangan Suzy yang sontak membuat Suzy berhenti mengunyah.

“Seongsaengnim…”

“Suzy… aku lelah bersembunyi.”

Suzy menoleh. Ditatapnya pria itu dalam.

“Oppa…”

“Aku lelah dikelilingi bocah bocah genit itu sementara kau duduk di sini tanpaku…”

“Aku baik baik saja, oppa…”

Pria itu mengeluarkan sebuah map dan langsung menyerahkannya kepada Suzy.

“Ini… seperti yang kau katakan.” Pria itu tersenyum.

Suzy ikut tersenyum menerimanya.

“Gomawo.” Suzy mengecup pipi pria itu.
Tiba tiba murid lain masuk. Melihat adegan itu.

“Wah wah wah! Seorang guru yang terhormat dan…” pria itu melirik Suzy.

“Wanita terpopuler di sekolah… melakukan hubungan.” Ucap pria itu sarkastik seraya duduk tepat di depan kedua pasangan itu.

“Kim Myungsoo! Ini bukan kelasmu!” Pekik pria yang dipanggil guru itu.

“Mianhae… Choi seongsaengnim.” Myungsoo malah bertopang dagu menatap keduanya. Dengan ekspresi tak terjelaskan.

“Jadi karena ini… kau selalu mendapatkan peringkat pertama? Bae Suzy?”

Plak!

Tangan Suzy berhasil mendarat di pipi Myungsoo.

“Lalu?” Suzy menatap pria itu remeh.

Myungsoo malah menyunggingkan seulas senyum ganjil.

“Choi Minho…” Myungsoo berdiri, menatap Minho tajam lalu berlalu begitu saja.

***

5 September 1998

Aku berada di dalam kamarku. Di luar sedang hujan lebat. Ada guntur yang terus berkilatan. Aku takut.

Seseorang tiba tiba memelukku dari belakang!

Suzy menatap diary nya itu datar. Sudah tiga hari ia bermimpi. Tapi tak satupun mimpi itu terlihat jelas. Mungkinkah mimpinya hanyalah bunga tidur belaka?

Suzy menutup diarynya. Menatap ke luar jendela. Menatap rinai hujan yang membasahi jendela. Ada embun yang mengaburkan suasana luar. Suasana hari itu sangat tenang. Hanya ada rintik hujan. Dingin. Musim gugur yang cukup menusuk kulit.

Suzy merapatkan selimutnya. Hendak meneruskan tidurnya. Menyapa alam mimpi kembali. Berharap mimpi mimpi yang dimulai pada tanggal 3 September itu memberikan titik terang padanya.

Saat mata Suzy tertutup, ada sesosok yang mengintip di jendela. Sosok samar.

***

1 September 1998

“Suzy! Krystal anak klub sihir itu mengadakan festival ramalan! Ayo kita ke ruangannya!” Ajak Jieun antusias.

Suzy yang sedang membaca buku langsung terbuyar. Ia melirik wajah senang Jieun dan mengangguk.

Mereka berlari dan menerobos kerumunan. Dilihatnya Krystal yang sedang meramal seorang pria. Mata Suzy membesar melihat pria idola sekolahnya meminta Krystal untuk meramalnya. Meski ramalannya hanya sekedar iseng.

Banyak yang menjerit melihat Krystal menggenggam tangan Myungsoo. Suzy hanya bisa menonton.

“Kau akan mengalami banyak kesialan… terutama di bulan September…” bisik Krystal.

Myungsoo tampak tak tertarik. Dia menghempaskan tangan Krystal dan berlalu dari sana tanpa terima kasih.

Tatapan Suzy dan Myungsoo bertemu saat pria itu melewatinya.

Lalu Myungsoo tersenyum.

Suzy seperti merasakan aliran listrik yang mengalir di seluruh tubuhnya.

Pria yang pernah dibentaknya masih mau tersenyum padanya.

“Suzy! Giliranmu!” Jieun menepuk kedua pipi Suzy. Menyadarkannya dari lamunan.

Suzy menggeleng pelan. Mencoba menghapus bayang bayang Myungsoo.

Ia melangkah menuju Krystal. Berhadapan langsung dengan wanita itu.

“Bae Suzy huh?”

Suzy mengangguk.

“Kalau wanita, aku tak akan meramalnya dengan tangan, tapi dengan kartu.” Krystal mulai mengocok kartu kartu itu lihai. Sejauh ini hanya ada kartu remi biasa.

Krystal mensejajarkan kartu itu. Tertutup. Total enam kartu. Suzy disuruhnya memilih dua di antaranya.

“Nomor dua ya?” Krystal bergumam sendiri saat melihat kartu yang Suzy pilih.

“Lalu?” Tanya Suzy penasaran.

“Kau akan terus bermimpi… dimulai dari tanggal 3 September. Aku tak tahu sampai kapan mimpi itu berhenti. Hati hati dengan mimpi itu. Sebaiknya kau mencatatnya agar tak lupa.”

“Lalu satu kartu lagi?”

“Ini adalah kartu Ace of Hearts.” Krystal tersenyum samar melihat kartu berwarna merah itu.

“Heart… melambangkan musim gugur.”

“Ace, berwarna merah… melambangkan siang.”

Suzy mengerutkan kening menatap Krystal yang sok misterius.

“Jangan sembarangan makan. Kau harus menghindari sesuatu berwarna merah dan sesuatu yang berhubungan dengan angka dua.”

Suzy tersentak. Haruskah ia mempercayainya?

***

“Euw… bekalmu sangat menjijikan.” Jieun cemberut melihat Suzy yang mengunyah bekal sayurnya. Jieun sengaja tak ke kantin untuk menemani Suzy di kelas.

Ruangan itu tampak sangat mengerikan. Sepi dan agak gelap. Tahun 90 an adalah tahun dimana pembangunan masih belum merata. Desa yang mereka tempati masih asri dan asli.

Suzy tersenyum. Tak lupa menawarkan makanan itu pada Jieun. Wanita itu jelas menolak mentah mentah.

“Aku tak mau diet jika seperti ini. Lebih baik aku menikmati hidupku.”

Suzy mendesis.

Tiba tiba Myungsoo masuk ke kelas dengan langkah santai. Dia langsung memilih duduk di depan Suzy.

“Suzy-ssi…”

Suzy melirik Myungsoo sebentar lalu melanjutkan makannya kembali.

“Suzy-ssi…”

“Yak Kim Myungsoo! Kenapa kau selalu ke kelas kami? Adakah sesuatu yang kau sukai di sini huh?” Potong Jieun curiga.

“Aku ke sini untuk memastikan sesuatu.” Myungsoo masih setia menatap Suzy yang menikmati makan siangnya.

“Aigoo…” Jieun menatap Suzy dan Myungsoo bergantian. Sangat jelas sekali jika melihat cara Myungsoo memandang Suzy.

“Suzy-ssi…”

Suzy menggertakkan giginya. Kesal dengan panggilan panggilan halus itu. Pria ini selalu saja mengganggunya.

“Suzy-ssi…”

“Kim Myungsoo! Hentikan desisanmu! Aku sangat terganggu!” Suzy berdiri dari bangkunya. Memajukan tubuhnya. Bermaksud menantang pria itu.

“Aku suka memanggil namamu.” Myungsoo tersenyum.

“Kau menyukaiku?” Tubuh suzy makin mendekat.

“Hanya orang bodoh yang tak mengetahuinya.” Myungsoo ikut menantang. Wajah mereka sudah sedekat itu.

“Kenapa?” Suzy mengunci mata Myungsoo.

Jieun tampak kewalahan melihat tingkah kedua insan itu. Dia hanya mampu terdiam dan menutup wajahnya.

“Kata Krystal, aku akan mendapatkan banyak kesialan di bulan September.”

“Lalu? Apa hubungannya denganku?”

“Aku mulai bermimpi sejak tanggal 1 September. Aku selalu melihatmu di mimpiku.”

“Kau pikir aku peduli?” Suzy memutar kedua bola matanya gemas.

“Aku melihat… Choi seongsaengnim…”

“…membunuhmu.”

Deg!

Suzy terkesiap. Ia memundurkan posisinya.

“Tapi kau terus muncul di mimpiku. Dan endingnya selalu berakhir tragis. Choi seongsaengnim terus membunuhmu.”

Suzy memekik. Menutup kedua kupingnya. Udara di kelas itu seperti terpecah.

“Jadi kumohon… putuslah dengan guru itu… biar aku yang mengajarimu… kau tak perlu menggunakan cara curang lagi.” Myungsoo tersenyum ke arah Suzy yang menatapnya tajam.

“Kau pandai juga berbohong.” Suzy mendecak.

Myungsoo terdiam.

“Caramu sungguh payah. Aku tak mungkin putus dengan Minho… aku mencintainya…” Suzy tertawa. Menertawai kalimat Myungsoo yang menurutnya menjijikan.

“Benarkah kau mencintainya? Kau ingat bagaimana kalian bisa berpacaran?”

Suzy mencoba mengingat ngingat.

Suzy berjalan di koridor. Semua orang menatapnya. Entah mengapa ia merasa semua orang yang ia kenal bertingkah aneh hari itu.

“Suzy!” Seorang pria berlari menghampiri Suzy.

“Ne?”

“Ada yang ingin aku katakan.”

“Angka dua… kau harus menghindari angka dua, Suzy.” Suara Myungsoo membuyarkan lamunan Suzy.

Suzy menelan ludah. Apa maksud Myungsoo?

“Kau tak boleh berdua duaan dengan guru itu.”

Suzy tiba tiba teringat sesuatu. Ia mengedarkan pandangannya. Ada Jieun, Myungsoo, dan dirinya. Mereka bertiga di ruangan itu.

“Berarti kau mempercayai ramalan itu? Kim Myungsoo?” Suzy memandang remeh pria itu.

“Aku memang tak mempercayai kata Krystal. Tapi… aku tahu, ada sesuatu yang tersembunyi dibalik semua kata katanya.”

Suzy kembali menelan ludah.

“Lalu kemana gadis peramal itu sekarang?”

Myungsoo terdiam, hanya menatap Suzy yang tampak kebingungan.

“Kumohon nikmatilah hidupmu. Makanlah apa yang kau sukai.” Lalu ia beranjak dan berlalu tanpa memberikan penjelasan apapun.

“Suzy-ah, apa yang sebenarnya kalian bicarakan?” Jieun bertanya dengan kening berkerut.

Suzy menggeleng.

“Hanya masalah tak penting.”

***

6 September 1998

Aku berada di sebuah danau. Tempatnya tenang. Aku duduk di sana dan melukis pemandangan yang ada. Tiba tiba air danau itu berubah menjadi merah.

Aku ketakutan!

Suzy menatap dirinya di cermin. Dia ada kencan hari ini dengan Minho. Dia tersenyum setelah dirasanya pas.

Dia mengambil tas coklat di dalam lemari. Menarik sepatu dari kotak sepatu. Semua pas.

Suara pagar yang berbunyi membuat Suzy menengok ke jendela. Minho sudah datang.

Gadis itu keluar setelah berpamitan dengan eommanya.

“Sudah lama, oppa?”

Minho menggeleng.

“Kita akan kemana?” Suzy menggandeng tangan Minho.

“Kita akan ke danau. Di sana sudah kusiapkan bekal. Semacam piknik.” Minho tersenyum simpul.

Senyum Suzy memudar.

“Oppa… aku tak boleh makan sembarang makanan.”

“Mwo? Waeyo? Kau sakit?” Minho mencoba memeriksa kondisi tubuh Suzy.

“Gwaenchana. Hanya saja… Aku tak mau makan sembarangan.” Suzy menunduk. Merasa bersalah karena telah menyembunyikan soal ramalan itu dari kekasihnya.

“Karena aku sering melihatmu makan sayuran, maka aku sudah menyiapkan bekal sayuran untukmu.” Minho terkekeh.

Perlahan senyum Suzy mengembang. Ia langsung mendekap lengan Minho manja.

“Oppa…”

Mereka tak menyadari, Myungsoo  sedari tadi berjalan di belakang mereka.

***

7 September 1998

Aku membuka mataku. Mengerjap pelan. Kudapati wajah seseorang tepat di depanku. Aku bingung. Wajahnya samar. Aku seperti mengenalnya.
Tapi wajah itu tak mau pergi.

Matanya tajam.
       
Suzy menemukan surat di lokernya. Ada nama Myungsoo di sana. Isinya memaksa Suzy untuk menemuinya di danau.

Suzy memasukkan surat itu ke sakunya dan berlalu dari sana menuju lapangan untuk melakukan pelajaran olahraga.

***

Di tatapnya Minho sendu. Pria itu guru olahraga. Dia menyuruh semua murid lari, tapi Suzy beralasan kakinya sedang sakit. Semua terlihat iri dengan perlakuan Minho kepada Suzy. Gadis itu terlihat baik baik saja.

Semua gadis berbisik. Mereka juga ingin diperlakukan istimewa. Mereka iri dengan Suzy. Mereka memandang Suzy sinis. Sementara Myungsoo yang sedang free class hanya memandang adegan itu dari jauh.

Ia melihat Suzy tampak sedang mengobrol dengan Minho. Bercanda ria. Tertawa bersama. Terlalu jelas sekali hubungan mereka di hadapan para murid.

Myungsoo mengambil batu kerikil. Melempar jauh batu itu lurus ke arah Minho.

Pluk!

Tepat mengenai kepala pria itu. Dia menoleh. Dicarinya pelaku iseng itu. Tatapannya terlihat sangat berang.

Myungsoo tak sembunyi. Dengan berani ia membalas tatapan itu. Ia malah tersenyum. Senyum tak terjelaskan.

“Gwaenchana?” Suzy memeriksa kepala Minho dan meminta agar segera ke UKS.

“Aku yang akan mengobatimu, oppa…”

“Gwaenchana… pasti ini ulah Kim Myungsoo. Aish! Anak nakal itu!” Minho menggeram. Mengepalkan tangannya.

“Oppa…” Suzy mengikuti arah tatapan Minho. Bisa ia lihat Myungsoo yang masih setia berdiri di bawah terik matahari. Menatap Suzy dan Minho dari kejauhan.

“Aku akan membalas anak itu.” Suzy merengkuh wajah Minho. Tanpa basa basi, bibirnya mengatup bibir Minho.

Semua pasang mata melihatnya. Tak terkecuali Myungsoo. Semua terbelalak.

***

8 September 1998

Aku merasakan nyeri yang luar biasa di seluruh tubuhku. Aku bangkit dari kasur menuju kamar mandi.

Aku mengisi bak mandi dan mandi di dalamnya. Mataku tertutup.

Tiba tiba seseorang membuka pintu!

Berita ciuman itu dengan cepat tersebar. Tentang mereka berpacaran segera menjadi buah bibir.

Semua mulai memandang Suzy jijik dan dongkol. Banyak yang berbisik tentangnya. Menghinanya dengan segala cacian. Makian.

Gadis itu pekak. Ia tampak tak peduli.

“Mungkin otaknya sudah rusak…”

“Ne. Ih, menjijikan sekali…”

Suzy mendengarnya. Dengan sangat jelas.

Suzy menyumpal telinganya dengan earphone. Lagu hard rock cukup membuat dunianya sibuk dan berisik.

Ia duduk di bangkunya. Mengambil bekal makanan dan mengunyahnya perlahan.

Masih bisa ia rasakan tatapan tatapan membunuh dari para gadis.

Jieun tiba tiba sudah berada di sampingnya. Gadis itu langsung memeluknya erat.

“Ah… akhirnya kau mengumumkannya. Aku tak menyangka akan jadi seperti ini. Seperti senjata makan tuan. Meski membutuhkan waktu yang cukup lama.” Jieun tertawa kecil.

“Aku mendukung kalian!” Jieun menepuk pundak Suzy bangga.

Suzy melirik Jieun dengan senyum simpul. Tak lupa menawarkan bekal sayurannya. Jieun menggeleng. Jelas menolak. Ia tak suka makanan vegetarian.

“Suzy!”

Suzy mengangkat wajahnya. Ia mendesis.

Pria itu lagi.

Dia seenaknya duduk di depan Suzy. Menopang dagu. Menatap Suzy dengan jarak sedekat itu.

“Aku membenci Choi Seongsaengnim.”

“Apa maksudmu?”

“Berhati hatilah…” pria itu berdiri dan pergi setelah mengecup pipi Suzy.

Semua gadis semakin berang. Suzy terlihat sangat shock.

“Apa apaan dia itu… ih menjijikan sekali.”

“Ne. Dia tidak puas dengan Choi seongsaengnim? Kim Myungsoo juga?”

“Sejak dia pindah dia memang selalu membuat masalah.”

“Ne. Aku juga heran dengannya.”

Suzy menelan ludah. Ia terdiam selama sepersekian detik dan baru tersadar setelah Jieun mengguncang guncang tubuhnya.

“Yak apa yang terjadi Suzy?!”

Suzy menggeleng. Hanya memandangi punggung Myungsoo yang menjauh.

***

9 September 1998

Aku menerima sebuah surat. Surat asing. Aku seperti berada di sebuah sekolah. Gelap. Lagi lagi gelap. Aku merasa sekolah ini sangat gelap.

Aku membaca surat itu.

Dia menyuruhku menemuinya.

Di sebuah danau.

Suzy memandangi diary yang baru saja ia isi. 9 September 1998. Dia bermimpi tentang seseorang yang mengiriminya sebuah surat dan menyuruhnya datang ke danau.

Ia mulai merasa aneh. Di dalam mimpinya, tak tertera nama pengirim. Jauh berbeda dengan surat yang ia terima di lokernya tempo hari. Ada nama Myungsoo di surat itu.

Suzy mengeluarkan surat itu. Membacanya perlahan. Dia memang belum memenuhi janjinya. Dia belum datang ke danau itu.

“Untuk apa Kim Myungsoo menyuruhku ke danau?” Gumamnya.

Ia menggeleng pelan. Ia sedikit penasaran dan heran.

Suzy bangkit dari bangkunya. Berniat mencari tahu tentang keberadaan Krystal. Hendak bertanya tanya tentang mimpinya yang cukup ganjil. Dan kebenaran ramalan itu.

Saat ia melangkah menuju ruang kelas Krystal, seseorang tiba tiba memeluknya dari belakang.

“Oppa…”

“Kau mau ke mana? Tumben sekali.”

“Aku mau mencari keberadaan Krystal.”
Minho sedikit tersentak.

“Untuk apa?”

Suzy terdiam. Dia bingung apakah dia harus memberitahukan tentang ramalan itu.

“Suzy?”

“Aku pernah diramal olehnya.”

“Ah, ne, dia memang seorang peramal.” Minho tertawa pelan.

“Oppa tahu?”

“Ne. Dia pernah membuka klub sihir kan?”

“Ne. Tapi dia meramalku akan bermimpi pada tanggal 3 September.”

“Lalu?”

“Aku benar benar bermimpi pada tanggal itu.”

“Bukankah semua orang pasti bermimpi, huh?”

“Kheundae, mimpinya terasa aneh, oppa.”

“Seperti sebuah omen.”

Hening.

“Dari yang kudengar, Krystal tiba tiba menghilang pada tanggal 3 September.”

Deg!

“Mwo?!”

***

Suzy berjalan menuju danau. Sesuai yang ditulis Myungsoo dalam surat waktu itu.

Tiba tiba seseorang memeluknya dari belakang.

“Yak Kim-”

Suzy berhenti bersuara. Dia seperti mengenal aroma ini.

“Oppa?”

Pria itu makin erat memeluk Suzy.

“Oppa? Kau yang menulis surat itu?”

Tak ada jawaban.

“Kenapa memakai nama Myungsoo?”

Pelukannya makin erat.

“Aku heran… kau masih hidup.”

Suzy tersentak.

“Op-pa…” Suzy tergagap.

“Aku heran…”

“Padahal aku benar benar sudah menusuk dan membuangmu ke danau.”

Suzy tercengang hebat. Apa maksud dari semua ini?

“Kau benar benar tak mengingatnya, Suzy?”

Pikiran pikiran Suzy beradu. Ia tengah mencari cari kepingan kepingan yang hilang. Lalu dalam gerakan cepat, ia meraih diary nya. Membuka lembaran demi lembaran itu dengan penuh keputus asaan.

Dilihatnya setiap detail tulisannya.

Tak ada yang aneh. Benar benar tak ada yang aneh.

Lalu?

Pria itu memutar badan Suzy. Bisa ia lihat dengan jelas wajah Minho. Senyum yang tak asing. Dan warna baju yang tak asing. Merah.

Minho merampas diary Suzy. Membacanya satu persatu. Ada tawa yang menyembur. Tawa bak setan.

“Oppa… waeyo?” Suzy tampak kebingungan dengan sikap Minho.

“Kau benar benar linglung ya? Kau menulis tahun 1998?”

“Mak…sud oppa?” Kening Suzy mengerut.

“Sekarang tahun 1999, chagi.” Minho tersenyum mengerikan.

Ingatan demi ingatan terputar putar di kepalanya. Ia merasa baru saja diramal pada tanggal 1 September kemarin. Tahun 1998. Kenapa sekarang sudah 1999?

“Aku… aku…” Suzy kehabisan kata kata.

“Kau benar benar lupa ya? Mungkin karena koma selama satu tahun… kau mulai melupakan semuanya.”

Suzy seperti tersengat aliran listrik. Terkejut bukan main.

“Ko…ma?” Ia tercekat.

Ia tahu, ia tak punya kalender di rumahnya. Yang dia tahu, sekarang musim gugur di bulan September. Dan yang ada di benaknya adalah tanggal satu September ketika Krystal meramalnya. Dan dia mulai bermimpi pada tanggal tiga.

Lantas mengapa ia mulai bermimpi pada tahun 1999? Sedangkan ramalan itu dimulai tahun 1998?

Deg!

“Kau akan terus bermimpi… dimulai dari tanggal 3 September. Aku tak tahu sampai kapan mimpi itu berhenti. Hati hati dengan mimpi itu. Sebaiknya kau mencatatnya agar tak lupa.”

Mungkinkah…

Mungkinkah mimpi itu tak pernah berhenti?

Lantas apa yang terjadi?

Suzy masih berkutat dengan pikirannya. Namun hal itu tak berlangsung lama begitu Minho mengeluarkan sebilah pisau.

“Aku tak peduli kau mengingatnya atau tidak…”

“Oppa…” mata Suzy membelalak. Menatap ngeri pisau licin mengilap itu.

“Kau harus mati Suzy!” Minho mencengkram lengan Suzy. Pisau itu ia arahkan tepat ke perut Suzy.

Suzy menjerit. Refleks menginjak kaki Minho. Aksi pria itu segera terhenti.

Suzy tak membuang kesempatan. Ia bergegas lari dari sana. Jalannya tak berarah. Ia berlari tanpa tujuan. Ia terus berlari.

Tahun 1999. Tahun dimana desa tempatnya masih asri dan asli. Hutan hutan masih berdiri kokoh. Hanya ada satu sekolah, satu rumah sakit dan satu gereja. Rumah rumah memiliki jarak yang cukup jauh. Banyak danau dan taman. Jaringan internet belum masuk, begitupun dengan ponsel.

Nafas Suzy tersengal sengal. Ia sudah berlari masuk ke tengah hutan.

Ia kebingungan sekarang.

Suzy mulai menangis. Ia putus asa. Ia meringis merasakan kakinya yang lecet karena sedari tadi jatuh bangun dari kejaran Minho.

“Kenapa pacarku sendiri mau membunuhku?” Suzy merebahkan dirinya di pohon. Ia menangis. Seminimal mungkin mengecilkan isakannya dengan membekap mulutnya.

Bulir bulir itu terus mengalir tanpa kontrol. Ia benar benar dalam kebingungan yang nyata. Ia butuh penjelasan!

Entah mengapa, ia malah memanggil nama Myungsoo.

“Dowajuseyo… Myungsoo…”

Ingatan terdahulu mulai merasuki otaknya!

Suzy membuka lokernya. Ia menemukan sebuah surat. Tanpa nama.

Datanglah ke danau yang biasa kau datangi. Aku akan menemuimu di sana.

Suzy memasukkan surat itu ke saku. Segera menyimpan sepatu olah raganya.

***

Ia sudah berada di lapangan. Guru olahraga itu terus melirik ke arah Suzy yang sontak membuat Suzy risih.

“Yak seongsaengnim!” Suzy meneriaki guru itu.

“Ne?”

“Aku tak menyukai tatapanmu!” Ketusnya.

Guru itu terperanjat.

“Dasar guru genit! Mati saja!”

“Yak Suzy! Choi seongsaengnim itu masih muda! Dia cuma terpaut beberapa tahun dari kita!” Jieun setengah menjerit. Ia tahu betul Choi seongsaengnim menyukai Suzy. Sayang, sikap Suzy sangat kasar dan tanpa ampun.

Gadis itu selalu sinis.

“Namamu Bae Suzy, kan? Bae Suzy, pindahan dari Seoul.” Tanyanya dengan ekspresi tak terjelaskan.

“Lalu?” Suzy memandang remeh Minho.

“Aku menyukai namamu.” Minho tersenyum.

Suzy terkesiap.

“Yak bukankah kau harus menghukumku? Kenapa malah memujiku tuan genit?”

“Aku punya cara tersendiri untuk menghukum orang.” Ia tersenyum lagi.

Suzy mendecak.

***

“Suzy!”

“Suzy!”

“Suzy-ssi!”

Suzy berhenti ketika orang yang memanggilnya itu menepuk pundaknya.

“Wae?!” Suzy menggertak orang itu. Ternyata Kim Myungsoo.

“Kau mau kemana?”

“Bukan urusanmu!” Suzy mendorong Myungsoo yang menghalangi jalannya.

“Suzy-ssi!”

“Ada yang ingin ku sampaikan padamu!” Lagi lagi Myungsoo mencegat jalan Suzy.

“Mwo?!” Suzy membentak.

“Kau harus berhati hati…”

Suzy memutar bola matanya kesal.

“Minggir!”

***

Suzy sudah berada di sekitar danau. Menunggu seseorang yang menulis surat itu. Di tatapnya danau kesukaannya itu sendu. Dihirupnya udara desa. Nyaman sekali.

Tiba tiba seseorang memeluknya dari belakang.

“Sudah lama menunggu?”

Deg!

Suzy langsung menghempaskan orang yang berani memeluknya.

Choi Minho. Guru olahraga itu.

“Mwo?” Suzy memandang pria itu rendah. Ada senyum samar setelah melihat orang yang menulis surat itu ternyata adalah guru idola sekolahnya.

“Apa yang kau lakukan tuan genit?! Kau mau melecehkanku?!” Suzy hendak menampar pipi Minho tapi pria itu dengan sigap menangkapnya.

“Aniya.” Pria itu menatap Suzy tajam.

“Terserah!” Suzy menghempaskan tangannya kasar.

“Aku mencintaimu, Suzy…” Minho berusaha menggapai tangan Suzy. Gadis itu malah melangkah mundur.

“Yak kau guru yang menjijikan!” Suzy menatap Minho muak.

“Suzy…” pria itu masih berusaha mendekati Suzy.

Wanita itu refleks mengeluarkan cutter dari sakunya.

“Menjauhlah! Aku tak menyukai tampang mesum mu itu!” Suzy mengacungkan cutter itu.

“Waeyeo? Semua murid wanita menyukaiku. Kenapa kau tidak?”

“Semua murid wanita menyukaimu? Kenapa tak kau pacari saja salah satu dari mereka huh?” Suzy memandang Minho sebagai sosok yang sangat rendah.

“Aku hanya mencintaimu…”

“Jeongmal?”

“Ne!”

“Kalau begitu… aku akan menerimamu dengan satu syarat.”

“Apa itu?”

“Kau harus berteriak bahwa kau membenci wanita!”

“Mwo?!”

“Katakan bahwa kau menyukai pria.”

“Untuk apa?!”

“Biar aku tak cemburu kalau wanita mengejarmu.” Ada senyum licik setelah mengatakan itu.

“Ba-baiklah…”

“Yang keras, ne?”

“AKU MEMBENCI WANITA!”

“AKU MENYUKAI PRIA!”

Suzy tersenyum puas.

“Gomawo… oppa…” Suzy mengecup pipi pria itu.

“Aku menerimamu. Kau pacarku sekarang.” Ada senyum yang teramat licik keluar dari bibir manisnya. Lagi lagi.

***

Suara rekaman teriakan Choi seongsaengnim kemarin terdengar jelas di seluruh sekolah.

Suzy sudah sepakat dengan beberapa murid pria agar mengerjai Choi seongsaengnim dan sebagai gantinya, mereka akan memberikan Suzy uang. Suzy mendapatkan recorder itu dari eommanya sebagai hadiah ulang tahun saat masih berada di Seoul.

Minho mendengar rekaman itu dengan murka. Banyak yang menjauhinya karena itu. Bahkan dia hampir dipecat.

Saat Suzy berpapasan dengan guru itu, ia hanya menatapnya dengan senyum penuh kemenangan. Pria itu tak membalas. Senyumnya redup. Mencurigakan.

“Seongsaengnim…” panggilan itu membuat Minho berhenti.

“Seongsaengnim? Kau tak memanggilku oppa?”

“Kita putus.”

Sebuah tamparan keras bagi Minho.

“Mwo?!”

“Jangan marah, ne?” Suzy mengeluarkan selembar uang yang diterimanya dari murid pria. Ia menyelipkan kertas bernilai jual itu di saku Minho. Tak lupa tatapan merendahkannya.

Minho masih dalam ketergemapannya. Tak mampu mengeluarkan secerca kata pun.

“Gomawo.” Suzy kemudian berlalu. Meninggalkan Minho bersama pikirannya yang beradu.

***

1 September 1998

“Suzy! Krystal anak klub sihir itu mengadakan festival ramalan! Ayo kita ke ruangannya!” Ajak Jieun antusias.

Suzy yang sedang membaca sebuah buku langsung terbuyar. Ia melirik wajah senang Jieun dan mengangguk.

Mereka berlari dan menerobos kerumunan. Dilihatnya Krystal yang sedang meramal seorang pria. Mata Suzy membesar melihat pria idola sekolahnya meminta Krystal untuk meramalnya. Meski ramalannya hanya sekedar iseng.

Banyak yang menjerit melihat Krystal menggenggam tangan Myungsoo. Suzy hanya bisa menonton.

“Kau akan mengalami banyak kesialan… terutama di bulan September…” bisik Krystal.

Myungsoo tampak tak tertarik. Dia menghempaskan tangan Krystal dan berlalu dari sana tanpa terima kasih.

Tatapan Suzy dan Myungsoo bertemu saat pria itu melewatinya.

Lalu Myungsoo tersenyum.

Suzy seperti merasakan aliran listrik yang mengalir di seluruh tubuhnya.

Pria yang pernah dibentaknya masih mau tersenyum padanya.

“Suzy! Giliranmu!” Jieun menepuk kedua pipi Suzy. Menyadarkannya dari lamunan.

Suzy menggeleng pelan. Mencoba menghapus bayang bayang Myungsoo.

Ia melangkah menuju Krystal. Berhadapan langsung dengan wanita itu.

“Bae Suzy huh?”

Suzy mengangguk.

“Kalau wanita, aku tak akan meramalnya dengan tangan, tapi dengan kartu.” Krystal mulai mengocok kartu kartu itu lihai. Sejauh ini hanya ada kartu remi biasa.

Krystal mensejajarkan kartu itu. Tertutup. Total enam kartu. Suzy disuruhnya memilih dua di antaranya.

“Nomor dua ya?” Krystal bergumam sendiri saat melihat kartu yang Suzy pilih.

“Lalu?” Tanya Suzy penasaran.

“Kau akan terus bermimpi… dimulai dari tanggal 3 September. Aku tak tahu sampai kapan mimpi itu berhenti. Hati hati dengan mimpi itu. Sebaiknya kau mencatatnya agar tak lupa.”

“Lalu satu kartu lagi?”

“Ini adalah kartu Ace of Hearts.” Krystal tersenyum samar melihat kartu berwarna merah itu.

“Heart… melambangkan musim gugur.”

“Ace, berwarna merah… melambangkan siang.”

Suzy mengerutkan kening menatap Krystal yang sok misterius.

“Jangan sembarangan makan. Kau harus menghindari sesuatu berwarna merah dan sesuatu yang berhubungan dengan angka dua.”

Suzy tersentak. Haruskah ia mempercayainya?

***

2 September 1998

Suzy menemukan puluhan fotonya yang dibubuhi dengan darah di dalam loker sepatunya. Ada catatan di dalamnya.

I love red. You too, right?

***

3 September 1998

Suzy berjalan ke tepi danau. Menaruh papan tempat kanvas dan melukis pemandangan di sana.

Tiba tiba seseorang memeluknya dari belakang.

“Yak-”

“Aku mencintaimu Suzy…” bisiknya dengan pisau yang sudah menusuk perut wanita itu. Bahkan gadis itu tak sempat menoleh untuk melihat pria yang berani memeluknya. Samar, ia melihat warna merah. Kaus itu. Merah.

“Tapi aku tak bisa menerima perlakuanmu.”

“Inilah… caraku menghukum orang.”

“Kalau kau bisa bertahan hidup. Akan kubuat kau jadi pacarku. Sekali lagi.”

“Apapun caranya.”

Pria itu membaringkan tubuh Suzy yang berlumuran darah. Menyuntik tangan Suzy dengan cairan. Lalu ia menciumnya sebelum ia membuang tubuh gadis sekarat itu ke danau.

***

Myungsoo membawa Suzy yang sekarat ke rumah sakit. Satu satunya rumah sakit di desa itu.

Dengan cemas, ia mendengarkan penuturan dokter.

“Keadaannya sangat parah. Kami hanya bisa memberikan pertolongan pertama. Peralatan di sini sangat minim. Jadi kau harus membawanya ke rumah sakit di kota. Di Seoul kau mungkin bisa menolongnya. Kau harus membawanya secepatnya.”

Tanpa interupsi, Myungsoo langsung membawa Suzy ke Seoul. Menelpon kenalannya yang memiliki mobil di Seoul.

Ia pergi tanpa pamit. Tanpa memberitahukan siapapun bahwa Suzy sedang koma. Dan gadis itu bersamanya.

Selama satu tahun, Suzy menjadi gadis hilang di desa itu.

Satu satunya yang menjaga Suzy hanya Myungsoo. Pria itu selalu di sampingnya.

Dan ia tahu semua yang terjadi.

Pria berpakaian merah itu. Choi Minho.

***

Setelah satu tahun, Suzy akhirnya siuman dan boleh dipulangkan. Myungsoo memulangkan Suzy saat tengah malam. Ia membiusnya dan menyusup masuk ke rumah Suzy. Membaringkan gadis itu di sana.

Gadis itu sempat menghebohkan desa karena berita kepulangannya yang mendadak. Padahal sudah satu tahun berlalu.

Gadis itu tampak kebingungan. Dia menjadi sangat berubah. Mungkin karena serangan obat obatan yang masuk ke tubuhnya membuat prilakunya berubah.

Yang dia ingat malah ramalan Krystal setahun yang lalu. Karena saat koma, ia terus bermimpi. Terus bermimpi. Mimpi itu terus terulang ulang. Hingga ia menghafalnya. Sangat jelas. Hingga sekarang.

Mimpi itu terus terjadi. Karena trauma itu.

Pria yang menusuknya tiba tiba.

Dia kemudian menulis mimpi itu seolah olah ia masih berada di tahun 1998.

***
       
Suzy kini berlari menuju gereja. Di sana ada banyak nisan. Dia ketakutan memperhatikan satu persatu nama yang tertera di nisan itu.

Lalu tak sengaja matanya menangkap satu nama yang selalu muncul di benaknya.

Krystal Jung
R.I.P
3 September 1998

Suzy tercekat. Berhenti tepat di depan nisan itu.

“Krys…”

Tiba tiba seseorang memeluknya dari belakang.

“Ne… dia sudah mati.”

Deg!

Suzy mematung. Suara ini.

“Minho yang membunuhnya.”

Deg!

“Aku sudah bilang padamu kan? Bahwa Krystal meramalku bahwa aku akan sial saat bulan September.”

“Aku sial karena Minho hampir membunuhmu.”

“Aku tahu kalau Minho akan melakukan itu padamu setelah apa yang kau perbuat padanya… aku mengenal Minho…”

“Makanya… aku menyuruh Krystal untuk meramalmu…”

“Dia berusaha memperingatkanmu bahwa ada orang berbahaya yang akan mengancam jiwamu.”

“Karena Krystal… dia adalah temanku.”

“Aku yang memberitahunya agar meramalmu dan menyuruhnya mengatakan hal itu. Agar kau waspada.”

“Aku tak mungkin memberitahmu kan? Bukankah aneh dua orang yang jarang saling menyapa malah berbicara tentang kematian?”

“Dan untung… aku masih bisa menyelamatkanmu. Dan Krystal… Minho mengetahuinya dan dia menghabisinya.”

Suzy tercengang hebat. Tubuhnya bergetar. Perasaannya bercampur aduk.

“Jaga ucapan dan sikapmu Suzy… seandainya kau tak berkata seperti itu…  seandainya kau tak mengerjainya… semuanya tak akan berakhir seperti ini…”

“Mianhae… mianhae… aku memang… sangat jahat… aku mengingatnya… eommaku memindahkanku ke desa ini karena sikapku kepada teman sekelasku dulu, waktu di Seoul. Aku memang jahat… mianhae…” Suzy mulai menangis. Isakannya terdengar jelas.

“Suzy!”

Suara itu membuat Suzy dan Myungsoo terlonjak.

Minho sudah berada dalam jarak sepuluh meter darinya. Menggenggam sebilah pisau tajam. Dengan senyum mengerikan.

“Sebenarnya aku tak ingin membunuhmu lagi karena kita sudah berpacaran… dan keinginanku sudah terkabul.”

“Kheundae… aku hanya ingin menyebarkan suara teriakanmu saat mati itu ke seluruh sekolah.”

Suzy tercekat.

“Biar semua tahu… betapa berbahayanya aku.”

“Tak boleh ada yang bermain main denganku…”

“Mianhae!” Suzy menjerit. Airmatanya merembes. Deras. Terlihat putus asa. Terlihat benar benar ingin meminta maaf.

“Aku tak masalah kau menyebarkan rekaman itu…”

“Hanya saja… hatiku sangat sakit saat kau mempermainkanku.”

“Kau bisa menghukumku!” Suzy meratap.

“Ne. Aku akan menghukummu.”

“Jeongmal? Jadi kau tak akan membunuhku?”

“Ani. Aku akan membunuhmu. Karena begitulah caraku menghukum…”

Suzy memekik. Ia segera berdiri di belakang Myungsoo. Menjadikan pria itu sebagai tameng.

“Dowajuseyo, Myungsoo…” bisiknya.

“Myungsoo, haruskah aku membunuhmu juga?”

Myungsoo terdiam.

“Suzy… orang yang membunuh Krystal adalah dia!” Pekik Minho dengan arah telunjuk tepat ke wajah Myungsoo. Mimik pria itu berubah drastis.

Pikiran Suzy mulai berkecamuk. Dia benar benar bingung. Disatu sisi, Myungsoo mengatakan bahwa Krystal dibunuh oleh Minho. Disisi lain, Minho malah mengatakan hal sebaliknya. Siapakah yang harus ia percaya? Myungsoo, pria misterius yang selalu memanggil namanya, atau Minho? Guru yang mencintainya tapi berniat membunuhnya?

Suzy terdiam selama sepersekian detik.

“Myungsoo adalah sahabatku Suzy.”

“Aku memang beberapa tahun lebih tua darinya. Tapi kami… kami bertiga. Aku, Myungsoo, dan Krystal adalah sahabat.”

“Kami tidak berasal dari desa ini. Kami besar di Seoul.”

“Aku lalu memutuskan mengajar di desa ini setelah dipindah tugaskan.”

“Lalu Myungsoo dan Krystal ikut denganku.”

“Mereka malah bersekolah di sekolah tempatku mengajar.”

“Semuanya tampak indah sampai perpecahan terjadi di antara kami.”

“Aku menyukaimu.”

Suzy menelan ludah. Masih dalam suasana tegang.

“Myungsoo juga menyukaimu.”

“Tapi Krystal… dia merasa telah kehilangan kami berdua. Kami menjadi jauh sejak kami menyukaimu.”

“Dia lalu membuat klub sihir dan mengadakan acara ramal itu.”

“Myungsoo mencoba berbicara pada Krystal dan meminta diramal.”

“Kau tahu Krystal bilang apa?”

“Bae Suzy… akan mati dibunuh oleh salah satu dari kami.”

“Karena Myungsoo takut, Krystal yang akan membunuhmu, maka dia membunuh sahabatnya sendiri tepat sebelum kau ditusuk olehku. Tepat saat ia tahu bahwa Krystal meramalmu akan bermimpi pada tanggal 3 September.”

Deg!

Suzy membekap mulutnya. Tak terasa airmata mulai mengalir dari pelupuknya.

“Dan ternyata… orang yang membunuhmu adalah aku.”

“Tapi Myungsoo berhasil menyelamatkanmu.”

“Dan aku akan membunuhmu lagi.”

“Untuk mengabulkan permintaan Krystal.”

“Dia ingin… persahabatan kami kembali lagi.”

“Kurasa dengan lenyapnya kau, aku bisa bersahabat lagi dengan Myungsoo.”

“Andwae! Kau memang benar! Aku yang membunuh Krystal! Aku berbohong pada Suzy karena aku takut dia akan menjauhiku dan malah mempercayaimu yang jelas jelas ingin membunuhnya! Krystal pantas mendapatkannya! Aku menyuruhnya untuk meramal Suzy agar Suzy waspada. Tapi dia malah menyebarkan ketakutan padanya! Dia bahkan mengatakan sesuatu yang tak masuk akal! Soal pantangan makanan untuk membuat Suzy tersiksa! Apakah itu yang kau sebut sahabat?! Seharusnya dia bahagia jika aku akhirnya menyukai seseorang kan?!” Pekik Myungsoo seraya menggunakan dirinya sendiri sebagai tameng. Menghalangi Minho menghunuskan pisau itu kepada Suzy.

“Bukankah kau sama saja? Mana ada sahabat yang membunuh sahabatnya sendiri?!”

Myungsoo terdiam.

“Kalau Suzy tak memilihku, lebih baik dia tak memilih siapapun kan?” Pria bersorot tajam itu mengembangkan senyumnya. Pisau masih setia bertengger di genggamannya. Siap menjatuhkan korban kapan saja.

“Yak Choi Minho! Aku salah membunuh Krystal! Seharusnya aku membunuhmu!”

“Tak peduli siapa yang kau bunuh, Krystal akan tetap membuat ramalannya sendiri menjadi nyata. Kebetulan sekali, sifat Suzy sangat buruk, membuatku sangat kesal!”

Suzy mulai terisak. Ia menyesali semua perbuatannya. Ia memohon untuk dibebaskan dan berjanji tak akan seperti itu lagi.

Hening.

Minho mulai berjalan mendekati Suzy. Myungsoo langsung menarik tangan Suzy dari sana. Mengambil ancang ancang dan berlari.

Hati minho tak goyah. Dia turut berlari. Memburu kedua insan itu.

“Kau mau kemana Suzy? Ramalan Krystal harus menjadi kenyataan! Untuk persahabatan kita! Dan untuk rasa cintaku yang tak bisa dikontrol lagi! Suzy! Hadapi aku!”

Suzy menangis sejadi jadinya. Dia berlari. Terus berlari menurut arah jalan Myungsoo. Kakinya sudah lelah. Fisiknya sudah mulai lemah. Ia sudah tak kuat lagi.

“Myung-” nafas Suzy terengah engah. Berusaha menghentikan Myungsoo yang terus menariknya.

“Kita tak akan bisa selamat dari guru gila itu Suzy…” gumamnya.

“Myung-” Suzy mulai terbatuk. Lelah menyergapnya.

Myungsoo tiba tiba berhenti.

Suzy tersentak.

“Meskipun kita berlari, berlari… berlari… besok.. atau lusa… dan seterusnya… pria itu…”

“Akan terus memburu kita…”

“Untuk di bunuh…”

Deg!

“Jadi… lebih baik aku…” Myungsoo mengeluarkan pisau dari sakunya.

Srekk!

Tes…

Tes…

Tes…

Myungsoo terbelalak melihat darah yang merembes dari perutnya. Kepalanya terasa sangat sakit. Pandangannya mulai kabur. Lamat lamat, ia melihat ekspresi Suzy yang terkejut. Minho sudah berada di belakang mereka.

Suzy menjerit sekuat tenaga.

“Su…”

Aku masih ingin memanggil namamu.

Kumohon ijinkan aku…

Memanggil namamu…

Sekali lagi…

“…zy…”

Lalu tubuh Myungsoo ambruk di atas tumpukan dedaunan. Bersama kepingan kepingan sakura yang perlahan berguguran. Dan tawa mengerikan yang mengalir dari bibir pria pesakitan itu.

Suzy terdiam. Mereka kini saling berhadapan. Tanpa menunggu lama, Suzy meraih pisau yang sempat dikeluarkan Myungsoo dan melemparkan benda itu ke arah Minho.

Tes…

Tes…

Benda itu tepat mengenai bahunya. Sayang, hal itu sama sekali tak berpengaruh padanya.

Suzy memutuskan berlari dari sana. Ia terus berlari. Tak tahu arah.

Terus berlari.

Sampai sebuah pisau menusuk punggungnya.

Minho sungguh pandai melempar pisau itu. Suzy menjerit karenanya.

Tapi ia ingin hidup.

Dia terus bangkit walau berdarah darah.

Saat Minho sudah tak terlihat olehnya, dia akhirnya sampai pada batasnya.

Dan pingsan seketika.

***

3 September 1998

Aku berjalan di sebuah perempatan. Aku melihat pria itu. Tersenyum ke arahku. Aku bingung. Aku ingin menyapanya untuk bertanya.

Apakah dia mengenalku?

Tidak. Aku tidak melakukannya.

4 September 1998

Aku hanya melihat warna hitam. Gelap. Bahkan kakiku tak merasa menginjak apapun. Dimana aku?

Ah, tapi aku mendengar suara teriakan.

5 September 1998

Aku berada di dalam kamarku. Di luar sedang hujan lebat. Ada guntur yang terus berkilatan. Aku takut.

Seseorang tiba tiba memelukku dari belakang!

6 September 1998

Aku berada di sebuah danau. Tempatnya tenang. Aku duduk di sana dan melukis pemandangan yang ada. Tiba tiba air danau itu berubah menjadi merah.

Aku ketakutan!

7 September 1998

Aku membuka mataku. Mengerjap pelan. Kudapati wajah seseorang tepat di depanku. Aku bingung. Wajahnya samar. Aku seperti mengenalnya.
Tapi wajah itu tak mau pergi.

Matanya tajam.

8 September 1998

Aku merasakan nyeri yang luar biasa di seluruh tubuhku. Aku bangkit dari kasur menuju kamar mandi.

Aku mengisi bak mandi dan mandi di dalamnya. Mataku tertutup.

Tiba tiba seseorang menarikku!

9 September 1998

Aku menerima sebuah surat. Surat asing. Aku seperti berada di sebuah sekolah. Gelap. Lagi lagi gelap. Aku merasa sekolah ini sangat gelap.

Aku membaca surat itu.

Dia menyuruhku menemuinya.

Di sebuah danau.

***

Diary tahun 1999 dari tanggal 10  September – 10 Oktober

Ramalan dimulai pada tanggal 1 September 1998. Aku mendapat angka dua pada kartu remi dan Ace of Hearts. Ace berwarna merah, melambangkan siang, heart melambangkan musim gugur. Angka dua berarti tanggal 2 September 1998 saat aku mulai mendapatkan teror. Aku ditusuk pada tanggal 3, siang hari, dan saat musim gugur. Saat itu, yang kutahu, dia mengenakan baju merah.

Saat itu tepat tanggal 10 September 1999. Saat Minho membunuh Myungsoo. Aku berlari keluar dari hutan dengan kondisi tubuh penuh darah. Aku ditemukan oleh Jieun tergeletak pingsan di depan sekolah, lalu Jieun membawaku ke rumah sakit.

Setelah siuman, aku berlari keluar dari rumah sakit. Bermaksud untuk mencari udara segar. Tak sadar, aku sudah berada di luar. Di sebuah perempatan. Aku melihatnya. Di hadapanku, Choi Minho memegang sebilah pisau. Aku langsung berlari begitu saja.

Tak sadar aku sudah berlari masuk ke hutan. Hutan itu lagi. Kakiku tiba tiba tergelincir dan aku terjatuh ke bawah jurang. Jurang yang tak curam. Tak akan ada yang mati setelah jatuh di sana. Aku mungkin hanya pingsan saat itu. Kurasa.

Lalu dari atas jurang, aku mendengar sebuah teriakan yang langsung menyadarkanku.

Pria itu lagi. Choi Minho.

Aku kembali berlari dari sana. Hingga aku sampai di sebuah rumah kosong. Hujan tiba tiba turun. Sangat deras. Ada halilintar yang menyambar.

Dalam keheningan bersama gemerisik hujan,

Tiba tiba seseorang memelukku dari belakang!

Aku sangat ketakutan!

Lalu seseorang yang lain masuk ke dalam. Dia menusuk pria yang memelukku.

Pria itu adalah Kim Myungsoo.

Dia belum mati rupanya.

Kim Myungsoo, dia berhasil menyelamatkanku dari Minho.

Kondisiku yang belum pulih, ditambah sehabis jatuh di jurang, membuatku pingsan seketika.

Saat terbangun, aku mendapati seseorang yang menatapku dengan tajam. Mimik khawatir kurasa.

Dia Kim Myungsoo.

Dia menyuruhku untuk mandi dan membersihkan diriku. Aku menurutinya.

Saat aku memejamkan mata, seseorang tiba tiba membuka pintu. Tampak tak sabar memberitahukan sebuah kabar bagus untukku.

Kim Myungsoo. Lagi lagi dia.

Dia berkata.

“Choi Minho sudah mati.”

Aku sedikit bahagia. Kemudian tersadar bahwa Myungsoo masih memandangiku di kamar mandi.

Aku lantas melempar sebuah bebek karet ke arah pria itu dan menyuruhnya keluar.

Dasar mesum.

Setelah sembuh, aku akhirnya kembali ke sekolah.

Lama kelamaan, mimpi itu mulai hilang.

Tak lama kemudian, aku mendapati sebuah surat di lokerku. Seseorang lagi lagi menyuruhku untuk pergi ke danau.

Aku menurutinya. Tak lupa aku membawa beberapa peralatan untuk menghadapi orang itu.

Aku akhirnya tiba di sana. Dan seseorang lagi lagi memelukku dari belakang.

Aku mengeluarkan cutter yang sudah kusiapkan, namun orang itu dengan sigap menangkisnya.

Lalu,

Tiba tiba dia menarik tanganku.

Dia memasukkan sesuatu ke dalam jemari manisku.

Saat aku berbalik, kudapati Myungsoo tersenyum menatapku.

Dan ada cincin yang tersemat di jariku.

Myungsoo hanya memanggil namaku tiga kali dengan lembut dan berkata sebuah kalimat singkat.

“Kau pasti tahu arti dari cincin ini kan?”

Aku memandang pria dihadapanku dengan lembut. Kau pasti tahu apa jawabanku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.

Semua diary yang sudah kucatat tiba tiba muncul dibenakku. Diary yang kucatat atas dasar mimpi yang kualami. Dimulai pada tanggal 3 September hingga 9 September.

Pria itu melamarku pada tanggal 10 Oktober, siang hari, tepat di hari ulang tahunku, dan pada musim gugur dengan cincin berpermata merah. Angka dua yang kudapat pada kartu remi berarti dua hati yang akan bersatu.

Sedikit dramatis. Kurasa.

Sekarang, aku menyimpulkan bahwa semua mimpi itu adalah pertanda akan seperti apa hidupku. Tentu, mimpi tak selalu memberi petunjuk penuh. Mimpiku dihiasi sesuatu yang kelam, namun juga pertanda. Dan setelah kejadian itu berakhir, maka mimpi itu akan berakhir.

Dan akhirnya…

Berakhir seperti ini.

***END***

Annyeong readerdul! Huaaah back lagi bersama ff gaje nan absurd dari tante fira yang tak kalah absurd -_- *gua kayak pedofil bilang tante pada diri sendiri*

Yosh, untuk kedepannya, aku bakal menelurkan beberapa ff oneshoot sebelum masuk ke next ff berseri *huahhahaha gak nanya*

Oke, aku gak tau mau bacot apalagi.

Komen aja yang udah baca. Kalo suka, silahkan di like😄

Mattane!

Ghamsahamnida!

*Bows

16 thoughts on “FF Serial Dreams (Oneshoot)

  1. seperti biasa tetap daebak. dapapt pelajaran dari sini. jangan sembarangan bicara, di pikir dulu nanti bikin orang sakit hati dan bisa jadi dendam.

  2. Omo. Ff chingu selalu daebak. 😀
    Suspense banget.
    Eiihh. Mmang lidah tidak bertulang, namun saat mngeluarkan bunyi bisa menyakiti lbih tajam dari pisau, bisa mengubah cinta jadi benci. 😳

  3. Selalu saja menegangkan tiap baca ff author. Kkkekekeee
    Penuh misteri, penuh tebakan, nih mulut sampe nganga’ bacanya. Hahahaaa
    Gw berasa gak narik nafas selama baca ff author. Eeerrhhhh,,, kren lah pokoke.
    Btw, pantas aja Minho murka n pengen bunuh Suzy. Suzy emang udah keterlaluan sih. Tapi untung Suzy dah berubah jadi lebih baik. Dia menyadari kesalahannya. Tapi gw tetep kasian juga sama Minho. Hmmm, padahal dia tulus mencintai Suzy.😦
    Gpp lah, yg penting sekarang ada Myungsoo yg mencintai Suzy dan selalu nolong Suzy.🙂
    Sekali lagi, FF-nya kren thor. Seperti biasa alurnya gak ketebak.🙂

  4. oh ya ampuuunn keren thor, aku suka..
    agak ngeri waktu bunuh bunuhan sambil lari lari rasanya tegang gituh hahaha
    untung suzy selamet myung selamet jadian deh kkk~
    ditunggu next ff nya thor hwaiting !!! ^^

  5. keren bnget thorrr…pertama aga bingung akhirnya gerti…mimpi2 suzy itu adalah bagian dr msas ll suzy…civa myung ngomong lngsung sm suzy…tp akhirnya happy ending jg buat myungzy…ditunggu next partnya thor…fighting

  6. omonaa ff na menyeramkann n menegangkann selalluuu pii myungzy happy ending kkk….
    … pngen action detectiv thor hehee pi gk pke myungzy yg psikopat. kekee

  7. seru seru
    walaupun harus putar otak dulu waktu baca ini
    sedikit bingung juga awalnya. intinya semuanya cuma mimpi ya?
    pasti. pasti minho yang dinistakan :v
    ditunggu next project

  8. Menegangkan! Sifat suzy emang udah keterlaluan sih, pantas saja minho mencoba membunuhnya…
    Puzzle yg sdah terpecahkan..

    Aku selalu suka bca ff di blog ini, selalu menegangkan, jadi sering tebak menebak xixixi😀
    ditunggu cerita selanjnya author🙂

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s