FF Psywar PART 2

image

Title: Psywar
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Mystery, Thriller, Psycological, Sci-Fi, etc. 
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho 
Sub Cast: Oh Sehun, OCs and etc (Sub Cast dapat berubah sewaktu waktu) 
Length: Chaptered

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ bow

Happy reading!

***Previous Part***

Suzy mengikuti gerak gerik pria itu ngeri.

“Ah mian, aku ada urusan. Kau harus datang ke rumahku sebentar malam. Aku membuat makan malam.” Myungsoo mengerlingkan satu matanya dan segera berlalu dari sana tanpa meminta jawaban. Suzy tahu perintahnya adalah hal wajib.

Suzy lalu menyadari makanan apa yang akan Myungsoo sajikan sebentar malam.

Yah, daging “hama” yang dia bunuh.

***PART 2***

Agustus tanggal 4, pukul 9 pagi. Panas matahari naik ke ubun ubun. Suzy menatap dirinya di cermin kamar mandi pegawai. Wajahnya basah. Beberapa kali ia mencoba mengusap wajahnya yang berpeluh. Juga karena terik matahari yang tak ada habis habisnya. Ia baru sadar. Sekarang bulan Agustus. Musim panas. Sedangkan di dunia pertama merupakan musim dingin di bulan Desember.

“Jadi ada perbedaan musim juga.” Gumamnya seraya menatap sayu ke pantulan dirinya.

Semalam ia ketiduran sehingga ia tak memenuhi panggilan makan malam Myungsoo. Pria itu tiba tiba menghilang dan tak hadir di toko seharian. Minho juga. Hanya Suzy dan satu pegawai lainnya. Baru hari ini dia melihatnya. Pria yang ditaksir seumur dengan Suzy. Agak jutek dan pendiam. Bahkan menyapa pun tidak. Ia hanya tahu namanya dari tag name yang tertempel di seragamnya.

Oh Sehun. Nama yang tak asing. Atau mungkin Suzy yang melupakan sesuatu?

Suzy kembali ke belakang kasir setelah berkutat dengan kamar mandi. Dilihatnya Sehun yang masih setia berdiri di balik rak makanan. Hanya berdiri. Arah matanya tertuju ke pintu utama. Ia jarang berkedip. Membuat Suzy sedikit penasaran. Psikopat macam apa si Sehun itu.

Suzy masih menatap Sehun sampai pria itu menatapnya balik dengan ekor matanya. Tanpa senyum. Mengerikan sekali. Seperti ingin mencengkram.

Suzy langsung salah tingkah. Ia membuang mukanya ke depan komputer yang sedang menyala.

“Ehem.” Sehun menggerakkan kakinya menuju Suzy. Gadis itu menghapus keringat yang menetes di pelipisnya. Mati matian menekan dirinya dalam hati.

Dia psikopat. Psikopat. Psikopat. Psikopat. Psiko-

“Apa yang kau lihat?”

Suzy tersentak mendengar suara Sehun. Tak asing. Benar benar tak asing. Ia langsung teringat hari itu. Hari kecelakaan tunggal yang dialaminya. Di hari bersalju dengan jalanan yang cukup ramai. Dia sempat mendengar suara. Suara selain dari musik maut itu. Seseorang yang menolongnya. Oh Sehun.

Suzy menatap Sehun dengan pandangan sayu. Pria itu memukul meja kasir. Kembali melayangkan tatapan maut itu. Wajahnya mendekat. Jaraknya sedikit lagi.

“Sehun-ssi?”

“Wae?” Nadanya benar benar ketus.

“Gomawo.”

Sehun terpaku. Entah apa yang dipikirkan Suzy sekarang. Dia terkesan dengan pria psikopat ini. Yah, dia tahu pria ini berbeda di sini. Tapi tetap saja dia adalah pria yang menolongnya.

Tiba tiba ada senyum miring yang ranum di bibir Sehun. Raut wajahnya berubah drastis. Aura kelam menenggelamkan keadaan semula.

Mata Suzy membelalak saat tangan pria itu mencekik lehernya.

“Aku suka melihat wajahmu yang seperti ini.” Bisiknya saat Suzy sedang berada di antara kematian dan keputusasaan. Cekikannya benar benar kuat. Suzy meronta. Kedua tangannya berusaha mendorong pria itu. Sia sia belaka. Kekuatannya sangat kuat. Sehun cukup kekar. Suzy tak mampu melawannya.

Kulitnya perlahan memucat. Sampai bunyi pintu membuat Sehun menghentikan aksinya. Suzy terbatuk batuk. Suasana canggung mendekapnya. Dia, Sehun dan orang yang baru saja datang. Choi Minho. Pria mesum yang memiliki niat yang sama dengan orang orang yang ada di dunia paralel ini. Mungkin cara membunuhnya saja yang berbeda.

Sekarang Suzy tahu, Sehun suka mencekik orang. Suka melihat wajah keputusasaan orang dari dekat. Tepat di mukanya. Dan mencekiknya memberikan kesenangan tersendiri baginya.

“Kenapa Suzy terlihat kesakitan?” Nada Minho seperti mengancam Sehun. Eskpresi Minho yang sering terlihat ceria langsung berubah seketika. Dikeluarkannya pisau yang ia sembunyikan di balik jaket kulitnya. Seketika juga ia melempar pisau itu ke arah Sehun. Tentu saja Sehun menghindar. Pisau itu tertancap ke rak dekat kasir. Menjatuhkan beberapa barang barang yang terpajang di sana. Cukup menimbulkan bunyi berisik.

Minho tertawa keras. Sementara Sehun terdiam. Suzy dibuatnya membeku. Permainan macam apa yang Minho mainkan sekarang?

“Sehun… Sehun… Sehun…” Derap langkah Minho terdengar pelan. Kedua tangannya ia masukkan ke saku. Terlihat santai dan tanpa beban. Hanya Suzy yang ketakutan. Benar benar ketakutan. Apa yang harus dia lakukan disituasi gila seperti ini?

“Kau sedang menunggu Myungsoo?” Minho berhenti melangkah. Tak ada jawaban.

“Kau mau membunuh Myungsoo?”

Lagi lagi tak ada jawaban.

“Sehun. Kau memang selalu mengincar Myungsoo.” Minho melangkah melewati Sehun. Ia menarik pisau yang tertancap dan kembali memasukannya ke dalam jaketnya.

“Yak Suzy! Orang ini hanya mengincar Myungsoo! Kalau dia mencekikmu, itu berarti kau menjadi incarannya sekarang.”

Suzy tertegun. Mati matian menahan nafasnya yang tak beraturan terdengar jelas.

“Dia tak akan berhenti sampai berhasil membunuhmu. Yah, yang aku tahu, orang ini mengincar orang yang sudah berterima kasih padanya.”

Deg!

Kesalahan besar. Suzy memaki dirinya dalam hati karena dengan tololnya berterima kasih pada psikopat macam Sehun. Psikopat yang tak menyukai kata ‘Terima Kasih’.

“Myungsoo pernah berterima kasih padanya atas apa yang Sehun lakukan.” Minho tertawa renyah.

Suzy bingung. Apa makna dibalik kata kata itu? Apa yang sebenarnya yang telah terjadi?

“Tenang saja, aku akan melindungimu dari pria ini.” Suzy tak sadar tangan Minho sudah berada di atas kepalanya. Mengusapnya lembut. Sepasang mata Minho berbicara banyak. Mengungkapkan banyak makna. Seperti ‘bukan dia yang akan membunuhmu, tapi aku’ atau ‘kau akan menjadi budakku sebelum mati’ dan kemungkinan kemungkinan lain yang mungkin lebih mengerikan.

“Tenang saja, sejauh ini, Sehun tak pandai membunuh orang. Dia tak punya senjata apapun selain tangannya yang kekar itu.” Bisiknya seraya menarik Suzy keluar dari supermarket. Ekor mata Sehun mengikuti gerakan mereka dari tempatnya berdiri. Terdiam. Tanpa gerakan gerakan pasti. Hanya berdiri mematung. Suzy sedikit lega mendengar perkataan Minho dan juga setelah melihat Sehun tidak mengikuti mereka.

Mereka sudah berada di luar. Udara yang cukup untuk memberikannya pasokan oksigen yang sedari tadi ia butuhkan di dalam. Ia seperti kehabisan nafas tadi. Suzy menghirup sebanyak banyaknya udara sampai ia menyadari, lelaki di sampingnya menghantam kepalanya dengan kedua tangannya. Ia merasakan darah mengalir dari kepalanya. Shock. Ia tumbang setelah kesadarannya hilang. Dan Minho menangkap tubuhnya dengan mimik luar biasa mengerikan.

***

Perlahan lahan Suzy membuka mata. Ia merasakan nyeri yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Terutama di area kepala. Ia meringis. Pandangannya masih kabur. Samar samar ia melihat seseorang berdiri di hadapannya.

Bau anyir segera merasuk ke hidungnya saat ia benar benar sudah sadar. Matanya langsung terbuka lebar.

“Annyeong!” Minho menyapanya dengan senyum merekah. Kedua tangannya mengenakan sarung tangan karet. Seperti hendak mengoperasi.

Suzy terkesiap. Mungkinkah?

“Andwae! Andwae!” Suzy menjerit kencang. Berusaha melepaskan ikatan ikatan di tubuhnya.

“Selamat datang di ruang operasi Dr. Minho.” Katanya seraya melebarkan kedua lengannya.

“Aku selalu ingin menjadi dokter. Kheundae, aku malah menjadi pramuniaga toko.” Minho mendecak gila.

“Dunia ini benar benar kejam!” Pria itu mencondongkan wajahnya. Bisa ia lihat kedua bola mata indah berwarna coklat itu. Ia lantas menyeringai. Dikeluarkannya sesuatu dari kantung jas putihnya. Sebuah garpu.

Suzy melotot saat Minho mengusap pipinya dengan ekspresi menakutkan.

“Yak apa yang mau kau lak- YAAAAAKKK!” Suzy menjerit sekuat kuatnya saat Minho menusuk matanya menggunakan garpu. Darah terus mengalir dari mata kirinya. Ia terus mengerang. Menggelinjang bak cacing kepanasan. Sakit yang tak tertahankan. Diluar batas kemampuannya untuk menahan rasa sakit.

“AMPUN! AMP- AAAAAAAAK!” Minho kali ini mencongkel mata kiri Suzy yang sudah berdarah darah itu. Seperti mengambil sebuah bola dari dalam lubang. Untuk seorang Choi Minho, semudah itu rasanya mengeluarkan bola mata seseorang.

Suzy menangis sambil mengerang. Erangan terpanjangnya sejauh ini. Minho menaruh bola mata penuh darah itu ke dalam sebuah botol.

“Kau tahu tidak? Aku suka mendengar erangan seseorang. Erangan yang mereka keluarkan saat aku mencongkel mata mereka.” Minho tertawa keras. Beriringan dengan tangis dan erangan tanpa henti Suzy. Nafas gadis itu tak beraturan. Tersendat dan menyedihkan. Seperti berada di ambang kematian.

“Aku akan memberikan mata ini ke Myungsoo sebagai hadiah. Katanya, dia ingin satu bola matamu.”

Suzy mendelik. Menjerit kencang.

“DASAR GILAAA!”

“Ah, dia hanya kesal karena kau tidak datang semalam. Padahal dia sudah membuat banyak makanan.”

“SEBENARNYA KAU INI SIAPA?! SIAPA?!!!” Suzy terisak. Putus asa.

“Aku?” Minho berbalik. Melangkah menuju Suzy yang tampak menyedihkan dengan mata kiri yang kosong.

“Aku adalah pesuruh setia Kim Myungsoo.” Bisiknya.

“Tak ada yang boleh melanggar perintah Myungsoo.”

Suzy mendelik kemudian meronta.

“LEPASKAN! LEPASKAN AKU!”

“Baiklah.” Minho benar benar melepaskan seluruh ikatan Suzy. Gadis itu langsung berlari keluar. Ia berlari pontang panting. Yang dia inginkan hanya segera keluar dari ruangan amis itu. Airmatanya terus mengalir. Sakit di mata kirinya masih terus membebani tubuhnya yang ikut kesakitan. Ia menangis sambil berlari menuju kamarnya yang dirasanya paling aman di dunia ini.

Segera setelah sampai di lantai kamarnya, ia menekan password dengan tergesa gesa, membuka pintu dan menutupnya kembali seperti kesetanan. Ia lalu berlari ke kamar mandi, membasuh wajahnya yang penuh darah. Ditariknya kotak P3K yang ada di lemari pakaiannya dan membalur kapas dengan alkohol. Ada erangan panjang saat alkohol menyentuh lukanya. Setelah dirasanya higienis, ia membalut lukanya dengan perban dan terdiam setelahnya. Lalu ada tawa panjang. Tawa menyedihkan. Sia sia rasanya mengobati luka itu.

Dengan benaknya yang saling beradu, Suzy memutuskan sesuatu.

Langkahnya pelan, seperti enggan. Ia tertawa hambar seraya melangkah menuju jendela. Dibukanya jendela kecil itu. Dilihatnya pemandangan di bawah. Sangat kecil mereka dari atas situ. Ia tersenyum sebelum terjun ke bawah. Tubuhnya melayang dan terjun dengan kecepatan maksimal. Udara yang bising, teriakan teriakan mereka, dan tubrukan menjadi satu.

Tubuhnya hancur saat ia menyentuh tanah. Darah merembes dari sela sela tubuhnya. Ia tewas bunuh diri.

***

Suzy terbangun pada tanggal 5 Agustus. Rasa sakitnya sudah hilang. Sebelah matanya sudah sembuh. Tak ada luka sedikitpun. Seperti terlahir kembali. Sekarang ia sadar, ia hanya memiliki dua sisa nyawa. Dan dia harus memanfaatkannya dengan sebaik baiknya. Setidaknya ia sudah tahu tipe psikopat apa Minho dan Sehun itu. Ia tak akan berterima kasih kepada Sehun lagi, dan ia harus menuruti apa kata Myungsoo. Ia tahu, Minho akan melakukan apa yang Myungsoo katakan. Myungsoo, tipe psikopat yang sangat jarang mengotori tangannya sendiri. Kecuali saat ia mencincang orang yang hendak menghalangi jalannya. Dia mungkin tipe yang suka memakan korbannya.

Suzy beranjak dari kasur menuju meja rias. Ada senyum parau dan air mata saat ia melihat tubuhnya yang masih utuh. Dia benar benar bersyukur matanya kembali lagi.

Lalu ada secarik kertas di atas meja rias.

Kau kehilangan satu nyawa. Waktumu tetap berjalan. Kau sudah melewati hari ke lima. Tersisa 35 hari lagi.

Waktumu tidak kembali dan semua ingatan mereka akan terhapus setelah kau mati. Jadi, hari ini seperti hari pertama. Mungkin akan berulang, atau akan berubah. Tinggal kau yang menentukan.

Ting Tong!

Suzy setengah berlari menuju pintu. Ia melihat sosok itu di monitor. Kim Myungsoo. Selalu Kim Myungsoo yang menyapanya pertama kali. Yah, seperti apa yang tertulis di kertas. Myungsoo membawa senampan makanan. Seperti hari pertama.

Suzy membuka pintu tanpa ragu. Ia tahu, Myungsoo tak akan membunuhnya sekarang.

“Ne?”

“Aku beberapa kali mengetuk pintumu selama lima hari ini. Apakah kau sedang sakit?”

Suzy tersenyum. Jadi begitu.

“Ne. Mian. Aku tak bisa bangkit dari kasur selama lima hari ini.” Suzy tersenyum mantap. Tanpa ragu. Ia percaya hari ini akan berjalan mulus. Setidaknya sampai empat hari kedepan.

“Aku membawakan makanan. Sebagai ucapan salam untuk tetangga baru.”

“Aku tinggal di depan kamarmu.”

“Ayolah. Aku ingin masuk. Aku ingin menyerahkan makanan ini. Aku tau kemarin kau tidak bekerja di toko kan? Kau pasti belum menerima gajimu.”

“Namaku Kim Myungsoo. Aku pemilik toko itu. Tentu saja aku yang menggajimu. Dan aku memiliki gajimu. Langsung di amplop.”

Suzy tersenyum tipis. Ia sudah tahu. Semua kalimat kalimat sama yang Myungsoo lontarkan lewat begitu saja.

Semua adegan adegan beberapa hari yang lalu benar benar terulang hingga pria itu melangkah pergi. Melewati pintu berpassword itu dengan mulus. Semua yang dilakukan Myungsoo sama persis seperti hari pertama. Ia malah tertawa mengingat kejadian kejadian itu.

“Berarti aku akan melewati empat hari ini dengan mulus. Dan aku tidak boleh menolak permintaan Myungsoo dan aku tak boleh berterima kasih kepada Sehun.” Ia tertawa lega.

***

Suzy sedang berada di rumah Myungsoo untuk makan malam. Seperti permintaannya tadi pagi setelah membereskan ‘hama’ yang dia katakan.

Myungsoo tampaknya tinggal sendirian. Suzy memperhatikan cara Myungsoo menyiapkan makanan. Bak pro dia menuangkan wine berkualitas tinggi ke gelasnya. Seperti penari, Myungsoo membuat semuanya terlihat indah.

“Silahkan dimakan.” Myungsoo tersenyum lalu meneguk wine nya elegan.

Agak ragu Suzy memotong daging panggang itu. Terlihat lezat kalau saja itu bukan daging manusia.

“Enak?”

Suzy mengangguk kikuk. Alisnya terangkat melihat Myungsoo menikmati kudapannya. Sepertinya dia sudah terbiasa mengkonsumsi daging sesamanya.

“Suzy-ssi, kau sudah bertemu dengan Minho, kan?” Nadanya mulai serius. Suzy mengangguk. Membiasakan diri dalam situasi tak terkendali itu.

“Hati hati dengannya. Dia itu berbahaya.”

Suzy bergumam dalam hati. Yah, dia sudah pasti tahu. Dunia ini memang berbahaya. Jangankan Minho, bahkan anak kecil di dunia ini juga berbahaya.

“Kudengar dengar dia sudah membunuh beberapa wanita yang menjadi incarannya.”

Suzy tahu betul wanita incaran yang dimaksud Myungsoo. Berarti wanita incaran Myungsoo juga, kan? Yah, Minho adalah pesuruh setia Myungsoo. Toples toples yang ada di ruang tamu adalah benda benda dari bagian tubuh wanita wanita itu. Dan hampir saja mata Suzy menjadi bagian dari toples toples itu.

Suzy terdiam sampai Myungsoo menarik tangan Suzy dan menggenggamnya erat.

“Mungkin kita baru beberapa hari ini bertemu. Kheundae…”

“…aku sudah memiliki ketertarikan padamu.”

Suzy tersentak. Ia langsung menarik tangannya. Matanya melebar. Ia ingat betul pesan dari surat yang malaikat itu berikan.

Jangan sampai kau jatuh cinta pada mereka.

Atau membuat mereka jatuh cinta padamu.

Lalu… apa yang akan terjadi?

“Apa maksudmu, Myungsoo-ssi?” Tubuh Suzy sedikit bergetar. Suaranya penuh keragu raguan.

Myungsoo tersenyum.

“Mian, aku tak bermaksud menakutimu.”

“Hanya saja… kau begitu berbeda.” Suara Myungsoo melunak.

Suzy terkesiap. Diam adalah jawaban terakhirnya.

“Membuatku bergairah…”

Deg!

Suzy berdiri dari kursinya. Fix. Myungsoo adalah tipe sadistik.

“Mian, aku ada janji malam ini. Aku tak bisa berlama lama.”

Myungsoo mengangguk. Ikut berdiri. Hendak mengantar Suzy keluar.

Saat ia sudah berada di luar, Suzy langsung berlari masuk ke rumahnya. Menguncinya rapat. Ia tarik nafasnya dalam dalam lalu ia hembuskan. Tegang. Ia sangat gugup dan takut. Tangannya dingin. Bergetar hebat.

“Dasar gila… entah apa yang akan dia lakukan kalau aku sampai berlama lama di sana.” Ia memegang dadanya. Jantung itu berdetak sangat cepat. Seperti mau lepas.

***

Tanggal 9 Agustus. Ia mengerjap melihat ponselnya. Kata ramalan cuaca hari ini akan sangat panas. Suzy bangkit dari kasur menuju dapur. Ia menarik sebotol minuman dan meneguknya rakus. Ia masih ngantuk meski jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Hari minggu. Dan ia tak memiliki acara apapun hari ini. Mungkin ia akan berada di rumah seharian. Mengistirahatkan pikiran adalah hal terbaik di dunia ini.

Suzy tersenyum mengingat ia akan beristirahat hari ini. Semuanya sirna saat ponselnya berbunyi. Ada nama Myungsoo di sana.

Suzy mengumpat pelan lalu mengangkatnya kalem.

“Ne?”

“Mau jalan jalan?” Langsung to do point. Pria ini memang begitu. Suzy tahu, jika Suzy menolak maka Minho akan mendatanginya dan mengambil satu bagian dari dirinya, entah itu mata, lidah, atau bahkan jari jarinya.

“Ne.”

“Oke. Aku akan menjemputmu lima belas menit lagi. Bersiaplah.”

Telponnya sudah berakhir. Suzy mematung selama lima menit. Melamun. Berperang dengan perasaan dan pertanyaan. Ia takut.

Lalu ia memutuskan untuk mandi setelah mengingat apa yang akan Myungsoo lakukan jika ia tak tepat waktu.

***

Suzy berada di dalam mobil silver Myungsoo. Mereka sudah melalui separuh jalan dengan keheningan. Hanya kaset yang terputar menampilkan lagu yang tak asing bagi Suzy. Yah, lagu yang sering ia dengarkan. Lagu yang Myungsoo ciptakan. Myungsoo di dunia pertama adalah pacarnya dan merupakan seorang musisi. Dia tidak cukup terkenal. Dia hanya pemusik indie yang sangat tergila gila dengan irama. Bisa dibilang Suzy menyukai musik musik Myungsoo dan mereka bertemu saat konser Myungsoo. Suzy menjadi penonton yang beruntung diajak naik ke atas panggung. Myungsoo lalu menembak Suzy saat itu juga. Lalu mereka berpacaran. Myungsoo pernah mengatakan pada Suzy bahwa, ia selalu melihat Suzy disetiap konsernya. Dia juga tahu Suzy selalu menuliskan komentar komentar mendukung di forum diskusi bandnya. Mereka seperti lirik dan nada. Seperti takdir.

Suzy tersenyum mengingat kebersamaan mereka dahulu.

Ia lantas menggigit bibirnya. Dimana pria itu sekarang?

“Kau suka lagu ini?”

Suzy tersadar dari lamunannya dan segera menoleh. Ia mengangguk antusias menjawab pertanyaan Myungsoo. Airmatanya sampai menetes.

“Eh?” Suzy tak sadar airmatanya mengalir begitu saja.

Myungsoo yang melihatnya lalu membanting stir ke pinggir jalan. Ia langsung menyeka air mata Suzy dengan jari jarinya.

“Apakah lagu ini begitu menyentuh?” Mata Myungsoo menyipit.

“Bogosippo…” tanpa sadar Suzy mengatakan semua isi hatinya. Dia rindu pria itu. Matanya menatap Myungsoo dalam. Tak sadar bibir Myungsoo sudah mengecup bibir Suzy.

Suzy langsung terlonjak. Ia mendorong Myungsoo. Menutup mulutnya takut. Terus mengingatkan dirinya bahwa pria dihadapannya ini bukan Myungsoo.

“Mian…” Myungsoo mengusap wajah Suzy lembut.

“Gwaenchana… aku hanya mengingat seseorang. Dia mirip denganmu.” Suzy berusaha tertawa. Malah terdengar parau.

Mata Myungsoo menyendu.

“Bagaimana kalau aku memelukmu untuk membuatmu tidak sedih lagi, huh?”

Suzy tertegun. Ia tahu, Myungsoo yang satu ini adalah psikopat. Tapi kenapa ia terlihat sangat baik hati? Baik sekali malah.

Tanpa sadar Suzy mengangguk lalu dalam gerakan pelan, pria bermata elang itu mendekapnya. Dalam dan semakin dalam. Terasa sangat hangat.

Suzy menutup matanya. Ia merasa damai. Peduli setan dengan nyawanya yang terancam saat ini. Ia rindu pria ini. Ia sangat ingin memeluknya. Dan sekaranglah kesempatannya. Meski ia tahu dia bukanlah Myungsoo yang sebenarnya. Cukup. Memeluknya saja sudah cukup.

“Kkaja!”

Suzy masih mematung saat Myungsoo melepaskan pelukannya. Mobil itu sudah melesat dan Suzy masih terdiam. Masih bisa ia rasakan hangatnya dekapan itu. Masih membekas. Ia ingin lagi. Ia menatap Myungsoo dengan ekor matanya. Seperti penasaran. Tanpa sadar ia tersenyum.

“Sudah sampai.”

Mata Suzy melebar melihat pemandangan di hadapannya. Tulisan Lotte World yang besar bersama beberapa arena permainan yang menjulang tinggi. Ternyata dunia ini memiliki tempat seperti ini juga. Suzy benar benar takjub akan kesamaan dunia ini dengan dunia asli.

“Kkaja!” Myungsoo menarik Suzy bak anak kecil. Suzy sampai tertawa melihat tingkah Myungsoo.

Mereka menghabiskan seharian itu dengan menaiki berbagai arena permainan. Dan bianglala adalah favorite Suzy. Mereka sudah 28 kali menaiki arena itu. Sekarang mereka berada di tempat teratas. Suzy memandang pemandangan di depannya takjub. Seoul seindah ini saat malam.

“Kau suka?” Pertanyaan itu membuat Suzy menoleh. Wanita itu tersenyum bahagia.

“Ne. Jeongmal.”

“Aku juga.” Myungsoo berusaha meraih tangan Suzy.

“Kau mau menjadi pacarku?”

Suzy tertegun. Terdiam. Matanya membulat. Seperti idiot, ia kehilangan semua kata katanya. Tak percaya ternyata secepat ini. Seperti Myungsoo-nya di dunia pertama. Kata katanya juga sama persis.

“Suzy?”

Suzy masih terdiam. Pikirannya sedang berperang hebat.

“Jadi kau menolakku?” Sebelah alis Myungsoo naik.

Suzy menggeleng pelan. Ia sudah tahu riwayatnya akan tamat kalau ia sampai menolak Myungsoo. Hanya saja bibir Suzy mendadak kaku.

Dalam keheningan yang pas itu, Myungsoo memajukan wajahnya. Ada rengkuhan lemah-lembut yang Suzy rasakan pada kedua pipinya. Lalu bibir ranum Myungsoo mengecup pelan milik Suzy dan melumatnya sampai kereta bianglala itu sampai ke bawah.

Suzy benar benar tak bisa menolak. Malam itu bagai nostalgia. Klasik.

***

Suzy berteriak kegirangan di kamarnya. Ia tak menyangka ia berpacaran dengan Myungsoo di dunia ini.

“Kau membuat pria di dunia ini jatuh cinta padamu, huh?”

Suzy terlonjak mendengar bisikan halus tiba tiba itu. Matanya membulat melihat sang malaikat maut sudah berada di hadapannya.

“Jadi apa yang akan terjadi huh?” Suzy menggigit bibirnya was was.

Well, Sulit untuk tidak jatuh cinta padamu.” Sang malaikat memaklumi.

Suzy hampir saja tertawa sampai sebuah kalimat sontak membungkamnya.

“Sayang sekali, jatuh cinta dibayar dengan satu nyawa.”

Suzy terdiam.

“Sekarang mereka bebas mencintaimu. Kau pun bebas mencintai mereka.”

“Kheundae… saat ini nyawamu hanya tersisa satu.”

“Jaga baik baik nyawamu itu.”

Malaikat itu menghilang. Bersama kebisuan yang mencengkram Suzy selama sepersekian detik. Ia menggigil. Bodoh! Ia telah membuang buang nyawanya dengan percuma!

***

“Gwaenchana?” Myungsoo menatap Suzy yang sedari tadi melamun. Myungsoo khusus datang hari ini untuk menemui Suzy di supermarket. Minho dan Sehun belum datang.

“Yak, kau tahu. Kita harus merayakan hubungan kita. Aku ingin mengundang teman temanku besok.”

“Kau selalu saja berpesta huh?” Nadanya ketus. Terdengar malas meladeni Myungsoo hari ini. Perkataan perkataan sang malaikat masih membekas di benaknya.

Myungsoo terdiam cukup lama sebelum akhirnya ia pergi tanpa kata. Suzy sampai terbengong bengong melihat tingkah aneh Myungsoo.

“Myungsoo!” Suzy berusaha mengejar Myungsoo. Ia menarik tangan Myungsoo menyuruhnya berhenti.

“Mian…”

Myungsoo berhenti.

“Mwo?”

“Kau marah?”

“Aku memang suka pesta. Jadi kenapa?” Myungsoo memeletkan lidahnya. Tawa Suzy meledak seketika.

“Yak! Bikin takut saja!” Suzy memukul pundak Myungsoo pelan. Ada senyum lega. Yah, Suzy harus punya kubu, meski itu seorang psikopat.

“Jadi kau setuju pesta hari ini?”

Suzy mengangguk mantap. Lalu ia segera menyadari aura gelap yang tiba tiba mengepungnya. Matanya melebar saat Myungsoo tersenyum.

“KIM MYUNGSOO!”

Myungsoo berbalik. Ia mendesis melihat Sehun di kejauhan.

Myungsoo menarik tangan Suzy dan segera berlari. Ia tersenyum melihat Suzy yang kebingungan.

“Oh Sehun. Pokoknya jangan pernah berterima kasih padanya.” Ucapnya dengan nafas terengah engah.

Mereka berlari sampai ke sebuah restauran cepat saji.

“Seharusnya kita pulang saja karena jarak supermarket lumayan dekat dengan apartemen. Kheundae, aku ingin sedikit berlama lama dengan pacarku.” Myungsoo tersenyum simpul lalu mengajak Suzy masuk.

Mereka lalu memanjakan diri dengan dua porsi burger ukuran jumbo dan sepasang softdrink dingin. Cukup melegakan dihari yang terik seperti ini.

Suzy seperti melupakan aura gelap yang tadi ia rasakan. Ia tersenyum melihat mulut Myungsoo yang belepotan. Ia lantas mencomot beberapa lembar tisu dari dalam tasnya lalu mengelap mulut Myungsoo gemas.

“Kau kasar sekali kepada pacarmu.” Myungsoo menahan gerakan mengelap Suzy dan melemparkan tatapan maut menggoda. Kalah telak. Suzy mempouting.

“Aish! Aku ke kamar mandi dulu, ne?” Suzy mendesis lalu melepaskan tangannya. Myungsoo seperti enggan membiarkan jari jari imut Suzy terlepas dari genggamannya. Lalu dengan membuat gerakan kebelet, Myungsoo akhirnya melepaskannya.

“Jangan lama lama, ne?”

Suzy mengangguk dan segera beranjak. Saat berada di pembelokan kamar mandi, tak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang hingga membuatnya terjatuh. Ia meringis lalu bangkit.

Satu hal yang luput. Sedari tadi Myungsoo mengikutinya. Aneh, saat Myungsoo melihat Suzy jatuh, ia malah semakin bergairah. Myungsoo menggigit jari jarinya gemas. Ia ingin pengulangan berkali kali. Pria itu memang suka melihat orang yang disukainya tersakiti. Dan Suzy tak tahu, seperti itulah tipe Myungsoo sebenarnya.

***TBC***

Annyeong readerdul!!! Happy Birthday Uri Suzy!!!!!! ❤❤❤❤❤❤🎉🎊🎁 semoga harapan harapannya terkabul yeeee!😄 semoga kami Myungzy shipper dingilerin ama momen momen masa depan kalian nanti hiks hiks😄 *delusi* *abaikan*

Yosh! Kritik dan saran ditunggu! Oh ya komennya yah😀

Ghamsahamnida~

*Bows

20 thoughts on “FF Psywar PART 2

  1. Aigoo mengerikan.. Tapi setidaknya sekrang suzy sdah mulai waspada terhadap minho dan sehun dan jga myungsoo. Yah walau sekarang myungsoo sdah berstatus sebagai namjachingunya, dia harus tetap waspada! Dan oh my god jadi myungsoo suka melihat orng yg disukainya itu tersakiti?😮 lalu nanti kalau sehun atau minho ataupun yg lainnya menyakitinya bagaimn? Apa dia hanya akan diam menikmati kesajitan suzy?aigoo……
    Jadi konsekuensinya suzy jatuh cinta pada psikopat itu ataupun sebaliknya, nyawanya akan hilang. Heh~ sekarang nyawanya hanya tinggal 1😦

  2. Makin menegangkan ceritanya
    Hidup suzy sangat2 genting mana nyawa tinggal satu dan ditambah lagi sama myungsoo yang sadis yang suka liat orang yang disayangi terluka

    Hebat thor feel kena banget
    Finghting:)

  3. omooo nyawa suzy tinggal satu semoga ajaaa suzy bisa jagain nyawanya dan menang dalam games iniiii penasaraaaaan bangeeeet thor samaaa ceritanyaaaa ,ditungguu yaaaa thor next partnya fighting thor🙂

  4. Apa maksudnya dengan kata “myungsoo memang suka melihat suzy trsakiti”? ap setelah ini ia akan slalu membuat suzy trsakiti? aku penasaran sama malaikat mautnya,,,bagaimana ya jadinya jika sang malaikat juga jatuh cinta?
    Apakah suzy bisa mem[erthankan nyawanya sampai akhir?

  5. Aduuuh gk tega m Suzy,, harapan dy cmn Myung v Myung sneng liat dy sakit😦..
    Ngeri pas baca Minho mncongkel mata Suzy aigooo aq ampe mringis bcanya ;(
    duuh gmn hri2 Suzy kdpannya dgn dy yg gk pnya nywa lg😦

    next Fighting Fhyr..
    And happy Suzy day #telat😎

  6. untung sja suzy Msh punya nyawa cadangan, tp gmn nih sisa 1 aja yg tersisa,,,hmmm apakah myung akan benar2 melindungi suzy?,next next

  7. 1 nyawa suzy eonni ilang gara” minho si psyo itu tega bngt nglukain matany, aku harap suzy eonni bisa lebih hati” idup di duni psyco itu

  8. ya ampun kesalahan sekecil apapun bisa berakibat fatal disini
    mana nyawa suzy tinggal 1
    myungsoo kayaknya yg paling sadis, dia mencurigakan banget, pasti dia bdsm, klo g kenapa dia jadi gitu pas liat suzy jatuh

    knp minho bisa jd ‘bodyguard-like’nya myungsoo ya?
    trs apa alasan myungsoo ngucapin terima kasih ke sehun?

    makin penasaran

  9. Serem thor ngeri ga ada hari tanpa ketegangan dan pikiran horor 😭😭😭
    Paling ga suzy sianga 5😂 meski hari esok bisa jumpa apa ga 😭

  10. Wahhhh tegang.
    Myungsoo kenapa kamu Mysterius banget.
    Pasti disini Myungsoo jadi Psikopat mesum ya kok mencurigakan banget, Suzy ayo bertahan
    FIGHTING

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s