FF Psywar PART 4

image

Title: Psywar
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Mystery, Thriller, Psycological, Sci-Fi, etc. 
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho 
Sub Cast: Oh Sehun, Park Chanyeol, Krystal Jung, Park Jiyeon, OCs and etc (Sub Cast dapat berubah sewaktu waktu) 
Length: Chaptered

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ bow

Happy reading!

***Previous Part***

“Kau tahu, kenapa aku membenci kata sederhana itu?”

Mata Suzy membesar.

“Karena kata itu adalah hal tabu di dunia ini. Orang pertama yang pernah mengatakan itu adalah Myungsoo. Dan yang kedua adalah kau!”

“Myungsoo mengatakan hal mengejutkan itu setelah aku membunuh pacarnya!”

Mata Suzy membulat sempurna. Terkejut bukan main. Ia sekarang tahu tipe Myungsoo. Dia seorang penyiksa!

***PART 4***

Tes… tes…

Sehun tersentak. Cengkramannya di bahu Suzy merenggang. Ia berbalik dengan mata membelalak. Minho menusuk belakang perut Sehun. Tangannya masih menempel di sana.

Sehun mendesis lalu mendorong Minho dengan keras hingga membuat pria itu sedikit terpental ke belakang.

Sehun berusaha melepaskan pisau itu namun Minho lagi lagi memberikan perlawanan. Pisau yang ia sembunyikan di balik jaketnya ia lempar ke arah Sehun. Pria itu berhasil menghindar. Ia mengerang kesakitan saat ia bergerak menghindari serangan kedua Minho. Sehun tahu, Minho memiliki berbagai macam pisau di balik jasnya yang sudah didesain sedemikian rupa agar pisau pisaunya bisa tersimpan. Sehun memperkirakan ada sekitar sepuluh mata pisau setajam silet di sana.

Sehun mengangkat kedua tangannya. Tanda menyerah. Lalu meringis merasakan darah yang terus merembes keluar. Mengotori seragamnya yang kini berwarna merah.

Suzy terdiam. Merasa tak berdaya untuk melerai mereka.

“Kau tahu kan aku tak suka barang berharga Myungsoo disakiti?” Minho mengeluarkan satu pisau lagi dari balik jasnya. Pisau ke tiga. Ia mengelusnya bak benda kesayangan. Dengan mata yang berkilat marah. Kosong. Menakutkan.

“Aku menyerah.” Sehun menatap Minho malas. Lalu berbalik pergi dengan langkah tergopoh gopoh. Suzy yang hendak menghampiri Sehun langsung ditahan oleh Minho.

Suzy berhenti. Tubuhnya gemetar. Kedua bola matanya mengikuti aksi Minho yang melepaskan jaket kulit kesukaannya. Lalu ia mencabut satu persatu pisau yang terpajang di baliknya. Dan menaruhnya di dalam plastik yang ia ambil dari laci pegawai. Sekitar 7 pisau. Jika dijumlah dengan yang tadi maka berjumlah 10. Benar benar pria gila.

Suzy terkesiap saat Minho memakaikan jaket itu padanya tanpa aba aba.

“Myungsoo mungkin kejam, tapi ia tak suka tubuh gadisnya dilihat orang banyak.” Katanya setelah jaket itu benar benar melekat di tubuh Suzy.

Mata Suzy menyendu. Rasanya ingin menangis. Hatinya seperti meleleh melihat perlakuan gentle Minho hari ini. Kalau saja dia bukanlah bajingan sesungguhnya.

“Aku akan mengantarmu pulang.” Minho menarik paksa Suzy keluar. Tak lupa mengunci pintu. Mungkin hari ini akan tutup untuk sementara. Bagaimana tidak, satu pegawainya terluka, dan satu pegawai lainnya telah dilecehkan.

“Apakah Sehun akan baik baik saja?” Tanya Suzy saat mereka sudah berada di dalam lift.

“Aku tak peduli.” Jawab Minho dingin seraya menekan tombol lift menunjukkan angka 25.

“Apakah terlalu berlebihan jika kau melukainya?” Tanya Suzy lagi. Agak ragu. Ia menggigit bibir bawahnya karena tingkah ingin tahunya.

“Pria itu sudah beberapa kali aku tusuk. Dan dia masih hidup.”

Suzy sedikit terkejut.

“Jadi karena itu kau menusuknya?”

“Tidak. Aku menusuknya karena dia mengusikmu.”

Suzy terdiam. Hening selama sepersekian detik sampai pintu lift terbuka. Tepat di hadapan mereka, wajah ceria Myungsoo menyapa. Air mukanya secepat kilat berubah saat melihat kondisi berantakan Suzy.

“Ada apa ini?”

“Krystal berbuat ulah.” Minho mendesah.

Myungsoo mengepalkan tangannya geram.

“Bereskan secepatnya.”

Minho mengangguk lalu mohon pamit.

Tinggal Suzy dan Myungsoo. Pria itu melemparkan senyum manisnya. Sementara Suzy tak tahu harus berekspresi apa. Ekspresi Myungsoo selalu berubah berubah.

“Kasihan sekali.” Tangan Myungsoo menjalar ke wajah Suzy membuat wanita itu tersentak.

Wajah ceria Myungsoo langsung menghilang tatkala melihat penampilan Suzy. Ada yang ganjil.

“Jaket?” Myungsoo bergumam sendiri.

Suzy menaikkan alisnya bingung.

“Buka jaket ini!” Tegas Myungsoo dingin saat ia melihat benda asing yang dikenakan Suzy. Benda yang ia yakini bukan milik Suzy.

“Milik siapa ini?” Myungsoo merengkuh wajah Suzy kasar membuat level ketakutan Suzy meningkat. Alarm was was langsung berbunyi.

Suzy segera melepaskan jaket itu. Bersama tubuhnya yang bergetar hebat.

Sepasang mata Myungsoo membesar melihat seragam Suzy yang robek sana sini.

“Krystal?” Sorot mata Myungsoo seperti hendak menerkam Suzy. Sangat tajam

Suzy akhirnya mengangguk perlahan.

“Lalu jaket ini?” Myungsoo merampas jaket itu dan melemparnya ke tong sampah terdekat.

“Itu milik Minho!” Suzy sedikit bereaksi berlebihan saat benda milik orang yang sudah menolongnya dibuang begitu saja.

Lalu ada tawa yang lamat lamat semakin besar. Tawa Myungsoo sangat mengerikan. Membuat sekujur tubuh Suzy meremang.

Myungsoo merengkuh wajah Suzy. Wajahnya semakin dekat. Bisa ia lihat binar mata gadis itu. Penuh keputusasaan. Apa yang akan Myungsoo lakukan?

Bruak!

Suzy tercengang hebat. Jantungnya seperti dipompa maksimal. Myungsoo mendorongnya ke tembok. Dorongannya sangat keras hingga ia merasa tulang belakangnya sudah remuk.

Suzy meringis. Menggigit kuat bibir bawahnya. Ia tak mau menangis!

Sepasang mata coklat itu membesar tatkala Myungsoo mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. Sebuah borgol.

“Yak apa yang-”

Myungsoo langsung membungkam Suzy dengan tangannya. Dengan cekatan pria itu mengunci tangan Suzy dengan borgol.

Deg!

Suzy seolah mengenal kejadian de javu ini. Sengatan listrik mengalir di seluruh tubuhnya. Saat itu juga, beberapa kenangannya kembali.

“Apa ini Suzy?”

Suzy terlihat sangat terkejut melihat Myungsoo menemukan kertas berobatnya.

“Kenapa kau ke dokter kandungan huh?”

Suzy kehilangan kata kata.

“Kau hamil huh?”

Serangan serangan pertanyaan Myungsoo membuat Suzy gelagapan. Ia sedang mencoba menyusun kata kata yang dapat mencegah kemarahan Myungsoo. Sumpah! Suzy belum pernah melihat Myungsoo marah! Ia takut!

“Siapa dia?” Myungsoo mencengkram kedua bahu Suzy dengan tatapan tajam.

Suzy menggeleng frustasi.

“SI-A-PA DI-A!” Myungsoo menekan kedua kata itu. Terdengar murka.

“Minho, minho memperkosaku! Aku tak melakukannya! Sumpah!”

Nafas Myungsoo naik turun. Amarahnya tak dapat dibendung lagi hingga sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi Suzy.

Gadis itu tercengang hebat. Airmatanya menetes begitu saja. Tangannya menyentuh pipinya yang memar. Bergetar. Selama ini Myungsoo tak pernah menyakitinya seujung jari pun!

Myungsoo lalu mengambil sesuatu dari lemarinya. Sebuah borgol. Ia melingkarkan benda itu di tangan Suzy yang sukses membuat gadis itu terhenyak untuk kesekian kali.

“Myung… ini…”

“DIAM!” Myungsoo mencengkram dagu Suzy dengan mata berkilat. Merah.

“Aku sudah memberitahumu untuk tidak mengecek kesehatanmu di dokter itu lagi, tapi kau melanggar! Sekarang lihat perbuatannya!” Pekiknya tepat di depan wajah Suzy.

“Dasar kau pelacur!” Pekiknya seraya melayangkan tamparan kedua ke pipi Suzy. Tamparan yang lebih keras dari yang pertama.

Hati Suzy hancur berkeping keping. Airmatanya terus mengalir. Tanpa suara.

“Aku akan membunuh bayi itu.” Katanya dengan mata melotot setelah hening tercipta selama beberapa menit.

Suzy mendelik ngeri. Baru kali ini ia melihat Myungsoo semarah ini.

“Lalu aku akan membunuh dokter itu.”

“Ikut aku!” Myungsoo menarik paksa Suzy masuk ke dalam ruangannya. Suzy terbuyar. Putaran kenangan itu berhenti. Ia mendadak panik. Apa yang akan Myungsoo lakukan?

Saat mereka sudah berada di kamar Myungsoo, Suzy dihempaskan ke atas kasur.

Myungsoo mengeluarkan ikat pinggangnya. Lalu ia menghempaskannya ke tubuh Suzy. Wanita itu terperanjat kemudian mengerang.

Ia benar benar shock. Apalagi melihat mimik kepuasan Myungsoo saat benda lentur itu menghantamnya. Membuat tubuhnya memar memar. Seperti yang dilakukannya tempo hari. Saat mereka melakukan ‘itu’.

“MIANHE!” airmata Suzy mengucur. Ia benar benar tak tahu kesalahannya. Ia meminta maaf atas kesalahan yang tak ia ketahui. Hanya berharap Myungsoo mau berhenti menyiksanya.

“Kalau kau tak tahu kesalahanmu, maka aku tak akan berhenti!” Ujarnya dengan suara menggelegar. Ada senyum remeh yang terus terpasang di wajahnya saat ia menghempaskan ikat pinggang itu ke tubuh tak berdaya Suzy.

“Mianhe! Aku benar benar tak tahu!”

Plak!

Myungsoo kembali memukul Suzy dengan ikat pinggang. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Cutter tipis nan tajam.

“Andwae! ANDWAE! MYUNGSOO MIAN- AAAAAAAAAAK!”

Myungsoo menggoreskan besi cutter itu ke kulit Suzy. Tepat di kedua lengannya. Suzy sampai mengerang kesakitan hingga nafasnya tersendat sendat.

“Jadi apa salahmu, hmm?” Sekali lagi Myungsoo mendekati wajah Suzy. Hendak melihat wajah penuh keputusasaan itu.

“Aku tak tahu! Aku benar benar-”

PLAK!

PLAK!

PLAK!

Myungsoo menampar pipi kanan dan kiri Suzy secara bergantian. Wanita itu shock bukan main hingga tak bisa berkata kata lagi. Pipinya merah. Sudut bibirnya berdarah. Lambat lambat darah menetes dari hidungnya. Benda cair pekat itu menyatu dengan air matanya. Suzy terisak pelan. Ia tak kuasa menatap wajah Myungsoo yang kini tepat berada di depannya.

“Jadi apa salahmu hmm?” Bisiknya penuh intimidasi.

Suzy bungkam. Dibenaknya ia mengutuk Myungsoo semampunya.

Myungsoo mencengkram dagu Suzy. Mendekatkan wajah ayu Suzy hingga pria itu bisa melihat wajah memelas Suzy. Wajah yang sudah ia cemari dengan tamparan tamparan.

“Kalau kau tak menjawabnya maka aku akan membuangmu.”

Deg!

Ia merasa matanya akan keluar saat ia kini menatap bengis pria di depannya ini. Apa yang baru saja dia katakan?

“Aku akan membuangmu.” Nada pelan itu seperti amarah yang berkecamuk.

“Aku tak tahu.” Suzy menggeleng. Lalu tersenyum sendu. Airmatanya lolos.

Myungsoo terdiam. Hening.

“Mian…” gumam Suzy serak.

Myungsoo tiba tiba menarik Suzy keluar. Menyeretnya menuju kamar mandi.

Bunyi dag dig dug di jantungnya kembali berpacu. Kali ini apa yang akan Myungsoo lakukan? Sudah cukup ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Sudah cukup!

Myungsoo menghempaskan tubuh Suzy ke dalam bathup. Suzy berusaha memberontak tapi sebuah tamparan langsung menciutkan nyalinya.

Suzy ia tidurkan di dalam bathup. Masih dengan kedua tangan terborgol. Myungsoo menyalakan keran air. Lalu benda cair itu mulai membanjiri bathup.

Suzy berteriak. Memekik minta tolong. Berkali kali. Tapi Myungsoo hanya menonton Suzy yang hampir tenggelam.

Air telah menenggelamkan wajahnya. Satu persatu benda cair itu masuk ke telinganya. Lalu ke mulutnya. Membuatnya sulit menghirup oksigen.

Suzy menjerit kencang. Meminta tolong dengan nada keputusasaan.

Myungsoo terdiam. Menyaksikan kekasihnya sendiri yang setengah mati. Dengan ekspresi datar.

Kran air sudah ia matikan. Suzy sedari tadi menggeliat. Menghantam hantam air hingga terpercik kemana mana. Ia sudah tak kuat menahan nafas.

Myungsoo tersenyum kecil lalu mengangkat Suzy dari bathup. Lantas melempar gadis itu ke lantai.

Bruak!

Suzy terengah engah. Seluruh tubuhnya basah.

“Sekarang jawab pertanyaanku, apa salahmu huh?” Bisiknya.

Suzy tak tahan lagi. Ia harus berpikir keras. Ia sontak menutup kedua matanya. Mencoba mencari cari hal yang mungkin membuat Myungsoo marah hari ini. Ia yakin jika ia tak menjawab, maka ia akan mati hari ini juga.

Matanya langsung terbuka saat ia menemukan titik terang.

“Ka-karena aku mengenakan jaket Minho?” Jawab Suzy dengan tubuh menggigil kedinginan. Suaranya bergetar.

Ada senyum puas yang akhirnya menghampiri bibir Myungsoo. Lalu disusul tepuk tangan meriah.

“Ne.” Myungsoo mengangkat tubuh Suzy yang basah lalu membawanya ke kamarnya.

Suzy menghembuskan nafas lega. Dan tersenyum. Senyum puas karena berhasil melalui penderitaan ini.

Myungsoo meraih handuk yang ada di lemari khusus. Ia mengeringkan tubuh Suzy dengan mengelap seluruh tubuhnya. Suzy tak berkutik. Ia pasrah. Myungsoo membuka borgol Suzy kemudian melanjutkan membuka baju wanita malang itu. Lalu baju basah itu ia taruh di dalam mesin cuci. Tak lupa mengambil baju kausnya dan mengenakannya kepada Suzy.

Bajunya sedikit kebesaran hingga ia merasa Suzy tak perlu mengenakan celana. Tapi sialnya, semua pakaian dalamnya basah.

Myungsoo tersenyum lalu mengecup pipi Suzy. Menyuruh untuk menunggunya sebentar. Ia akan ke supermarket untuk membeli pakaian dalam.

Suzy mengangguk patuh. Ia mendengus setelah Myungsoo pergi. Dan bergumam tidak jelas. Padahal ruangan mereka berhadapan. Untuk apa membeli pakaian dalam?

Suzy merengut kesal. Myungsoo hari ini benar benar mengerikan. Hampir saja ia mati sia sia. Untung jaket yang dibuang itu bisa menjadi petunjuk kuat.

Myungsoo bukan marah karena Suzy disakiti, tapi ada aroma pria lain menempel ditubuhnya? Suzy maklum. Mana mungkin seorang penyiksa sepertinya peduli jika ia disakiti atau tidak?

Saat ia membaringkan tubuhnya, Myungsoo muncul membawa satu box pakaian dalam.

“Supermarketku menjual ini juga.” Ia memakaikan benda itu ke Suzy. Wanita itu sedikit risih. Myungsoo memperlakukannya bak anak kecil. Memakaikan segalanya seperti Suzy tak bisa melakukannya.

Suzy mendesis. Gerah. Kesal.

Myungsoo tersenyum puas setelah selesai memporak poranda Suzy.

Ia lalu mengambil kotak P3K di dalam lemari obat. Mengolesi semua luka luka Suzy dan membalutnya dengan plester.

“Kau tidur malam ini di sini.” Myungsoo membaringkan tubuhnya di samping Suzy setelah selesai dengan semua treatmentnya. Lalu kedua tangannya melingkar di pinggang Suzy. Memeluknya erat.

Suzy mendecak pelan. Ia hanya bisa pasrah.

Tersisa 29 hari lagi.

***

“Konser Jiyeon?”

“Ne. Dia memberikanku dua free tickets.” Myungsoo mengeluarkan dua lembar tiket dari sakunya seraya tersenyum antusias. Mereka tengah berada di supermarket. Di dalam sana, ada Suzy, Myungsoo, Minho yang mengurus gudang, dan Sehun yang terdiam di balik rak makanan. Ia baru saja sembuh dari luka di perutnya. Untung tak mengenai organ organnya.

“Kau tahu, Sehun adalah salah satu anggota band Orocking.” Bisiknya setengah mengejek.

Suzy tentu saja sangat terkejut. Yang dia ketahui, Sehun adalah orang yang menolongnya di dunia pertama.

Oh tidak! Ia tiba tiba mengingat sesuatu. Air mukanya berubah. Ia ingat, Sehun bekerja sebagai wartawan di dunia pertama. Dan kenapa hari itu, hari dimana ia kecelakaan, dia ada disana?

Suzy melempar tatapannya ke arah Sehun. Tak biasanya pria itu kalem melihat kehadiran Myungsoo. Mungkin pengaruh adanya Minho yang tak segan segan.

“Dia sebagai apa?” Tanya Suzy setelah berkutat dengan pikirannya akan si Sehun yang masih misteri dikenangannya.

“Sebagai Vocalist dan Guitaris.”

Semuanya seolah berkebalikan. Di dunia pertama, Myungsoo lah yang menjadi Vocalist sekaligus guitaris.

“Lalu Jiyeon?”

“Bassist.”

Suzy mengangguk paham.

“Ne. Ayo kita pergi.” Kata Suzy seraya menatap kekasihnya intens. Myungsoo turut tersenyum. Lalu ada kecupan singkat sebelum Myungsoo berpamitan.

Pria itu terlihat berjalan menuju Minho. Mereka berbincang sebentar. Lalu Myungsoo pergi setelah memberikan lambaian kepada Suzy.

Wanita itu menghela nafas lega. Myungsoo hari ini terlihat normal.

Lalu tiba tiba Minho keluar dari gudang membawa sebuah plastik hitam yang lumayan besar. Suzy semakin kaget saat Minho menyerahkan plastik itu padanya.

“Ambillah. Terserah mau kau apakan.”

“I-ige…mwoya?”

“Pakaian pakaian Krystal. Aku sudah merobek robek semuanya. Satu lemari. Bahkan yang termahal.”

Suzy hampir saja tersedak.

“Wae-waeyo?”

“Perintah Myungsoo.” Katanya sebelum berlalu dan kembali ke gudang.

Suzy terdiam menatap tumpukan pakaian sobek itu. Entah apa yang akan Krystal lakukan jika ia sampai mengetahui ini.

Dengan tangan bergetar, Suzy mengambil plastik itu dan membuangnya ke tong sampah. Ia sangat ketakutan hingga matanya terus menerus awas ke sekeliling.

“Ini gila… benar benar gila…” gumamnya menggigil. Giginya bergertak. Nafasnya mulai tidak stabil.

Tersisa 28 hari lagi.

***

Suzy mengecek pakaiannya sekali lagi. Karena konsepnya rock, maka ia mengenakan sesuatu serba hitam. Tak lupa dandanan ala rocker.

Suzy tertawa pelan melihat penampakan dirinya di cermin. Ia ingat saat ia datang ke konser Myungsoo di dunia pertama. Ia mengenakan gaun floral ala musim semi. Berwarna nude pink, bernuansa soft. Hingga dirinya menjadi pusat perhatian di sana. Mungkin juga bahan tertawaan. Yang dia ingat, saat itulah Myungsoo turun dari panggung dan menariknya ke atas. Saat itu juga, Myungsoo mengatakan sesuatu yang mengejutkan. ‘Aku selalu melihatmu di konserku. Dan aku tertarik.’

Suzy ingat, dia tak pernah memiliki baju bernuansa rock.

Suzy membereskan alat make up nya setelah selesai. Ia meraih tas hitam salempang yang digantung di lemari lalu bergegas menuju ruangan Myungsoo. Saat ia membuka pintu, ia mendapati seseorang berdiri di depannya. Membawa sebilah pisau tajam. Itu Krystal!

Suzy refleks menutup pintunya kembali.

Ia tersentak saat Krystal menusuk nusuk pintu baja itu dengan pisau. Percuma, pintu itu tak akan tertembus. Apalagi Krystal hanya menggunakan pisau stainless steel biasa.

Suzy khawatir, ia akan membuat Myungsoo terlambat. Dan dia akan menerima hukuman lagi. Oh tidak! Suzy tak mau lagi!

Suzy was was. Krystal masih menusuk nusuk pintunya dengan brutal. Membabi buta. Seperti kerasukan.

“Aaaaaaaaak-”

Suzy mendengar jeritan. Jeritan Krystal? Dan suara tubrukan.

Suzy menggigit bibir bawahnya takut. Apa yang terjadi di luar?

“Aaaaaaaaaaaaaaa!”

Suzy menutup kedua kupingnya. Jeritan Krystal membahana. Detik detik menegangkan itu berlangsung beberapa saat.

Ting Tong!

Suzy tersentak. Langsung tersadar dari perang batinnya. Ia lantas menarik pandangannya ke monitor.

Myungsoo!

Suzy bergegas membuka pintu. Myungsoo tersenyum saat pintunya terbuka. Ia sudah berpakaian. Lalu dimana Krystal? Suzy menelusuri pemandangan di depannya. Krystal dimana? Pertanyaan pertanyaan sederhana itu bergelayut manja di benaknya. Dimana dia? Baru saja dia mendengarnya menjerit, kan?

“Krystal? Kau mencari Krystal?” Tanya Myungsoo tatkala melihat wajah kebingungan Suzy.

Suzy mengangguk.

“Dia kabur.”

Mata Suzy lalu melirik ke arah tembok di depan kamar Myungsoo. Ada tetesan darah di sana. Sepertinya seseorang telah ditubrukan di sana.

“Darah…”

“Darah Krystal.” Sambung Myungsoo santai.

Suzy terkesiap. Mendelik ngeri melihat begitu banyak darah yang tertempel. Apakah wanita itu baik baik saja?

“Aku tak begitu menikmati menyik-” Myungsoo refleks menutup mulutnya. Keceplosan. Lalu ada senyum simpul seperti layaknya tak terjadi apa apa.

“Kkaja!” Myungsoo menarik Suzy masuk ke lift. Bergegas ke parkiran mobil. Menuju tempat konser.

***

“Kau memberiku baju baju robek Krystal… wae?” Kata Suzy saat mereka dalam perjalanan.

Ada jeda selama sepersekian detik sebelum Myungsoo menjawabnya.

“Peringatan pertama.”

“Ng, bagaimana keadaannya?”

“Tak penting.”

“Dia temanmu Myungsoo!” Ngototnya. Padahal nyawanya sendiri terancam.

“Aku memberinya peringatan kedua.”

“Bukan itu yang mau kudengar!”

“Aku tahu siapa dia.”

“Tapi kau tak usah-”

“Dia tak segan segan membunuh siapa saja!”

Bentakan itu membuat Suzy bungkam.

“Tadi, dia datang bukan untuk merobek bajumu.”

“Dia datang untuk merobek isi perutmu.”

Mulut Suzy menganga.

“Kau tahu kenapa?”

“Dia itu orang yang sangat penasaran. Dia tak bisa tenang sampai dia membuktikan sendiri teorinya.”

“Bahwa kau tidak hamil.”

“Lalu, kau masih mau membelanya?” Myungsoo menoleh dengan pandangan meremehkan.

“Mian.” Suzy menunduk. Dia tak akan pernah selamat. Tidak kecuali Krystal mati.

***

Aula konser terlihat sangat ramai. Para penonton tampak berbondong bondong mengenakan pernak pernik serba hitam. Sepertinya Orocking di dunia ini cukup terkenal. Di dunia pertama, Band Myungsoo hanya dinikmati kalangan pecinta indie bergenre Alternative Rock. Di sini, mungkin band Orocking adalah band universal. Memiliki label.

Suzy takjub melihat para fans yang terlihat kompak. Ada spanduk bertuliskan nama masing masing member. Oh Sehun as Vocalist x Guitarist, Park Jiyeon as Bassist, Choi Minho as Drummer.

Suzy shock bukan main melihat nama Minho di sana. Sejak kapan pria itu berada dalam grup?

“Drummer mereka meninggal, jadi Minho sementara menggantikan mereka. Mungkin juga akan menjadi member tetap.” Kata Myungsoo tatkala melihat ekspresi bingung Suzy memperhatikan spanduk spanduk. Dan nama Minho tertera.

“Siapa drummer mereka yang meninggal itu?” Tanya Suzy penasaran. Disekitarnya orang berlalu lalang. Ada yang menjerit meneriakkan nama band favoritenya berkali kali. Seperti fanatik. Ada yang seperti bersembunyi, mengenakan masker. Tentu saja Suzy tak bisa tenang. Mereka semua adalah psikopat.

“Namanya? Aku lupa. Dia hanya salah satu karakter tak penting.” Jawabnya datar.

Suzy semakin penasaran dengan si drummer ini. Bagaimana dia meninggal? Dibunuh? Kecelakaan? Penyakit? Apa dia akan menghubungkannya ke kenangan terlupakan berikutnya? Atau mungkin si karakter tak penting ini malah menjadi kuda hitam diakhir?

Para fanatik mulai bergerombol ke depan. Mereka terdorong kesana kemari. Antusias memajukan diri tatkala sang band sudah berada di atas panggung. Si vocalist memperbaiki letak mic. Mengecek sound system. Menyapa para penggemar.

Suzy dibuat takjub dengan kepribadian Sehun di atas panggung. Auranya sangat berbeda. Matanya berbinar. Suzy merasa diberkati karena bisa melihat senyum merekah itu. Senyum Sehun yang langka.

Myungsoo sedari tadi melihat perubahan mimik Suzy. Ia sedikit risih melihat pandangan kagum Suzy ke sang vocalist. Padahal Myungsoo tak tahu, Suzy sedang membayangkan wajah Myungsoo, pacarnya di dunia pertama. Sang vocalist asli! Pancaran auranya saat ia menyapa pendengar. Dengan mata elang lekat. Melelehkan. Serta karismanya. Myungsoo saat itu telah membius Suzy.

Myungsoo yang semakin risih lalu menarik Suzy keluar dari kerumunan.

Tepat saat mereka sudah terbebas dari sesak, tiba tiba terdengar suara tembakan. Gemuruhnya bergetar. Hampir semua menjerit. Para wanita memekik kencang. Satu tembakan.

Mata Suzy melebar tatkala para penggemar menjerit kencang begitu sang vocalist tumbang. Darah merembes dari baju hitamnya. Tak terlalu kentara. Tapi darahnya benar benar banyak. Sebahagian naik mengerumuni Sehun. Para kru dengan cepat membopongnya dengan tandu. Semua histeris. Tak ada yang tahu siapa yang menembakkan peluru itu. Saat itu mereka fokus ke Sehun yang sedang berbicara. Tiba tiba, sebuah tembakan menyusul dengan cepat. Seperti kecepatan udara. Lalu orang orang panik, fokus ke Sehun yang ambruk. Si pelaku memanfaatkan kesempatan untuk kabur.

Jiyeon bersuara di mic. Dia berkata bahwa konsernya akan dibatalkan. Semua tiket akan dikembalikan. Juga menyuruh fans untuk tetap tenang dengan berkata beberapa hal konyol. Tentang Sehun yang sangat tangguh. Terbukti dari banyaknya ia ditusuk dan ia masih hidup hingga sekarang. Satu buah peluru tak akan membuatnya tewas.

Semuanya bersorak ricuh. Banyak pro kontra. Lemparan lemparan terus mengarah ke panggung. Tak terima. Mereka para fanatik yang sudah berbulan bulan menunggu konser band favorit mereka mengamuk di atas panggung.

Myungsoo dan Suzy terdiam di dalam mobil. Saat kericuhan itu memuncak, Myungsoo buru buru menarik Suzy masuk ke mobil. Pasangan itu hanya bisa mendengar suara suara kemarahan mereka dari sana.

Hening. Suzy ketakutan. Siapa yang menembak Sehun? Akankah pria itu tewas?

Suzy menggigit bibir bawahnya gemas hingga membuat darah mengalir dari sana. Suzy tak sadar telah menggigit terlalu keras.

Myungsoo melirik Suzy dengan ekor matanya. Ada senyum simpul. Juga benaknya yang beradu mencoba menyingkap misteri penembakan Sehun.

“Aku curiga yang menembaknya adalah orang yang dendam kepada Sehun.” Myungsoo bersuara sesaat setelah mereka meninggalkan parkiran. Laju mobil lumayan stabil. Membuat Suzy relax. Wanita itu bersandar seraya mendesah pelan. Lalu ia memilin pelipisnya yang mendadak berdenyut. Sudah cukup perang urat sarafnya hari ini!

“Suzy, kau mendengarkanku?”

Suzy menoleh. Baru tersadar dari perang batinnya.

“Ne?”

“Aku curiga yang menembaknya adalah orang yang dendam kepada Sehun.” Ulangnya bernada sama yang sukses membuat Suzy tersentak.

“Wae? Kenapa dia mau membalas dendam huh?”

Myungsoo tertawa pelan. Tangannya perlahan lahan membelokkan stir.

“Kau tahu, si drummer? Dia adalah mantan pacarku. Dia lumayan cantik. Fansnya sangat banyak. Mungkin yang terbanyak di antara seluruh anggota yang hanya berjumlah tiga itu.”

Deg!

Tubuh Suzy tanpa sadar tercondong ke Myungsoo. Terlihat ingin mendengar lebih banyak dari pria berbulu mata lentik ini.

“Aku lupa namanya. Yang jelas, Sehunlah yang membunuh drummer nya sendiri.”

Tubuh Suzy menegang. Yah, dia ingat perkataan Sehun tempo hari.

“Myungsoo mengatakan hal mengejutkan itu setelah aku membunuh pacarnya!”

Dan mantan Myungsoo adalah si drummer.

“Kenapa… dia membunuhnya?” Agak ragu Suzy mengeluarkan senjata rahasianya.

Tiba tiba Myungsoo tertawa keras. Mobil ia banting ke pinggir jalan. Lantas melanjutkan tawanya. Suzy dibuatnya terdiam mendengar tawa mengerikan Myungsoo. Bingung untuk mendeskripsikan tawa Myungsoo saat ini.

“Mau bermain game huh?” Myungsoo menoleh setelah menyelesaikan tawanya.

Suzy tertegun. Game?

“Peraturannya mudah. Kau tinggal menebak, kira kira apa motif Sehun membunuh si drummer?”

“Jika kau berhasil menjawab maka aku akan menuruti semua permintaanmu.”

“Tapi jika kau salah… maka…” ekspresinya mulai mengintimidasi. Ekspresi favorit Myungsoo.

“Kau tahu kan akibatnya?”

Suzy memilih diam sejenak. Memikirkan untung rugi, resiko dan segala galanya. Bertarung dengan pikirannya. Haruskah ia menerima tawaran itu? Tapi jika ia menang, maka permintaannya akan sangat memudahkannya untuk bertahan hidup di dunia ini.

Bisa saja ia meminta ‘tolong beri aku makan selama 28 hari ke depan. Aku tak mau lagi kerja. Dan jangan pernah menggangguku lagi.’ Atau ‘lindungi aku selama 28 hari ke depan. Jangan sampai aku terluka sedikitpun.’ Se simple itu. Dan iya bisa meyakini presentase selamatnya bertambah 50 persen.

Tapi ia harus menanggung resiko. Apa yang akan Myungsoo minta jika ia kalah?

***

Minggu yang terik, di tanggal 15 Agustus. Suzy menelusuri jalanan dengan mengenakan kostum penyamaran ala mata mata. Kacamata hitam, masker hitam, dan pakaian serba hitam. Suzy tertawa melihat penampilannya yang malah makin mencolok. Ia bersembunyi di balik semak semak, menguntit pria yang menjadi taruhannya dengan Myungsoo. Oh Sehun. Suzy menyetujui segala persyaratannya. Termasuk jeda 10 hari untuk menelusuri kasus itu. Dan inilah saat saat paling baik untuk menjalani aksinya. Pria itu sedang libur. Dia baru saja keluar dari rumah sakit setelah penembakannya beberapa hari yang lalu. Untung peluru tak menyasar ke organ intimnya. Berjam jam dokter melakukan operasi untuk mengeluarkan timah panas itu. Entah apa yang membuat Sehun ngotot untuk keluar padahal ia baru saja menjalani operasi tiga hari yang lalu. Seperti yang dikatakan Jiyeon, pria itu sangat kuat.

Suzy bergumam melihat kegiatan biasa Sehun. Berbelanja mingguan. Mampir ke toko alat musik. Hingga pertemuan band. Hampir layaknya manusia biasa.

Semua itu sirna saat ia berbelok masuk ke perumahan mewah. Hanya yang memiliki surat tertentu yang bisa masuk kesana, menurut sumber dari si satpam kompleks. Perumahan yang sangat ketat. Tempat para artis, politikus, hingga pengusaha. Terlihat sangat aman.

Suzy mendecakkan lidahnya saat ia berhenti di depan gerbang. Si satpam mencegahnya masuk. Ia hanya bisa melihat punggung Sehun yang menjauh. Menjauh hingga tak terlihat lagi. Tenggelam oleh jarak. Dan bangunan bangunan tinggi menjulang.

Suzy makin penasaran. Apa motif Sehun memasuki perumahan semacam ini?

Ia membuka masker dan kacamatanya kesal. Ia tak bisa berjalan lebih jauh lagi. Lantas ia memutar badannya dan berjalan menuju toko desert terdekat. Ia memilih Ice Cream Sundae sembari memikirkan berbagai macam cara untuk mengetahui sedikitpun info info tentang Sehun.

Ia ingat, ia merasa pernah berada di posisi ini. Kasus pembunuhan. Ia hanya butuh motif. Satu motif kuat yang menjadi benang merah segala hal yang si pelaku perbuat menuju titik pembunuhan itu.

Es krim Suzy menyembur saat ia melihat Sehun sudah keluar dari perumahan itu. Tapi ada sesuatu yang aneh. Di sampingnya ada sesosok wanita. Wanita yang sangat Suzy kenal!

Kedua bola matanya membesar. Krystal berada di samping Sehun. Duduk berdampingan di dalam mobil. Mobil itu dengan cepat melesat. Suzy buru buru keluar. Hendak mengejar. Sayang, mobilnya sudah tak terlihat lagi.

Krystal terlihat baik baik saja. Meski kepalanya dibalut perban karena perbuatan Myungsoo tempo hari.

Suzy berteriak kesal seraya membanting masker hitamnya. Nafasnya putus putus. Lelah menyergapnya.

Ia menyerah hari ini.

***

Ting Tong!

Suzy menatap malas ke arah monitor. Wajah ceria Myungsoo menyapa. Si penyiksa sadis. Bahkan kepada gadisnya. Sial!

Suzy menggertakkan giginya kesal sembari membuka pintu berpassword itu. Suzy tahu maksud Myungsoo datang hari ini.

“Waktumu tersisa 7 hari lagi!” Seru Myungsoo dengan gerakan kedua tangannya yang membentuk angka tujuh.

Suzy berkomat kamit mengikuti ucapan Myungsoo. Melihat wajah puasnya makin membuat Suzy kesal!

“Aku tahu, Myungsoo.” Jawab Suzy malas.

Myungsoo tertawa.

“Sudah mendapat petunjuk?” Myungsoo mencondongkan wajahnya. Bisa ia lihat wajah terganggu Suzy.

Tch!

Suzy sontak mendorong wajah Myungsoo. Menyuruhnya segera enyah dengan nada gurau.

Myungsoo lagi lagi tertawa.

Sebuah kecupan mendarat di pipi Suzy. Pipi wanita itu langsung memerah. Beserta sepasang permata coklatnya yang membulat. Kecupan Myungsoo terasa hangat dan penuh kasih. Lain dari biasanya.

“Pergi sana! Tunggu aku tujuh hari ke depan!” Suzy memaksa menutup pintu.

Myungsoo terus berceloteh di monitor membuat Suzy tak bisa menahan senyum. Myungsoo nya hari ini sangat manis.

“Biar kutebak! Kau sudah melihat Sehun bersama Krystal hari ini kan?” Kata Myungsoo melalui interkom. Mukanya terlihat tanpa beban. Seperti tahu segalanya.

Suzy tertegun. Kenapa Myungsoo tahu?

***TBC***

Annyeong readerdul!!! Huhh siapa yang masih setia dengan ff superngaco ini? Kuharap masih ada yang menanti hiks *comot tisu* mian kalo makin ngenekin😄

Yosh komen dan likenya yaaaaa😀

Ghamsahamnida~

*bows*

18 thoughts on “FF Psywar PART 4

  1. aduuuh thor aku penasaraaan banget sama ceritanyaaa apakah suzy bisa selamat , dan penasaran siapa mantan myungsoo , apa yg di apartement suzy tadi myungsoo yg nyiksa krystal kan thor karna myung keceplosan gituu , terus penasaran sehun kerja sama sama krystal , pokoknyaaa penasaraaan akut bangeeet laa thor sama cerita ff muuu semuaaa ditunggu yaaaa thor next partnya fighting thor 😘😘🙂

  2. Makin ke sini makin bikin tambah double lagi penasarannya.. Makin banyak pula misterinya..
    Ditunggu next chapternya thor… Semangat…

  3. Hidup suzy di dunia yg nyata pun sudah sangat berantakan. Lalu apa yg diharapkan suzy saat telah kembali ke dunia nyata?
    Apa hubungan sehun dan krystal?dan siapa yg menembak sehun? Apakah suzy mampu menang melawan myungsoo?

  4. omo omo myung mah sadis amat…hmmm knp krystal n sehun bs bersm2?,mereka pacaran?,atau jgn2 drummer yg dimaksud myungsoo tuh krystal?,makin penasaran next next

  5. Hidup Suzy didunia pertama aja sudah hancur
    Gak ada gunanya lagi bangkit dari koma
    Tapi suzy didunia kedua rada2 lupa sama hidup dia dunia pertama
    Jadi wajar2 aja kalau suzy pengen hidup lagi
    Semangat thor
    Nunggu banget sama kelanjutan ffnya

  6. penasaran. kenapa sehun membunuh drumernya, apa motifnya. lalu myung malah berterima kasih. terus hubungan apa yg dimiliki krystal dan sehun? apa jangan2 krystal ada hub nya dgn sehun yg membunuh si drumer.

  7. aku mh mlh curiga klo sehun itu yg bunuh suzy eonni di dunia nyata trus myung tau tp mlh berterima kasih, mungkin dia bnci sm suzy krn udh ngecewain myung, maybe

  8. apa myungsoo didunia pertama punya kepribadian ganda?
    kirain krystal udah meninggal
    apa hubungan krystal, sehun, myungsoo, n si drummer??

  9. Kenapa hidup Suzy di dunia nyata sama Pararel sama” menyedihkan.
    hiks hiks hiks
    Krystal sama Sehun ada hubungan apa……?

    FIGHTING

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s