FF Psywar PART 5

image

Title: Psywar
Author: @vhyra_pabbo
Genre: Romance, Mystery, Thriller, Psycological, Sci-Fi, etc. 
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho 
Sub Cast: Oh Sehun, Park Chanyeol, Krystal Jung, Park Jiyeon, Jessica Jung, OCs and etc (Sub Cast dapat berubah sewaktu waktu) 
Length: Chaptered

Warning: Ini adalah cerita yang saya buat murni dari pikiran saya. Cerita ini hanya fiktif belaka. kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan cerita itu merupakan bukan kesengajaan. Ghamsahamnida~ bow

Happy reading!

***Previous Part***

“Pergi sana! Tunggu aku tujuh hari ke depan!” Suzy memaksa menutup pintu.

Myungsoo terus berceloteh di monitor membuat Suzy tak bisa menahan senyum. Myungsoo nya hari ini sangat manis.

“Biar kutebak! Kau sudah melihat Sehun bersama Krystal hari ini kan?” Kata Myungsoo melalui interkom. Mukanya terlihat tanpa beban. Seperti tahu segalanya.

Suzy tertegun. Kenapa Myungsoo tahu?

***PART 5***

“Kau bisa berkesimpulan dari pertemuan mereka huh?” Kata Myungsoo dengan nada menantang.

Suzy terkesiap. Ia tak pernah berfikir sampai kesitu.

“Tidak. Kupikir ada hal yang lebih kelam lagi.”

Bisa ia lihat perubahan air muka Myungsoo. Lalu ada seringai yang sekilas muncul di bibirnya.

“Ahhh, aku pulang dulu. Sampai jumpa tujuh hari ke depan.”

“Aku sudah tak sabar.” Ujarnya seraya berlalu pergi. Bersama siulan panjang yang menemani detik detik menegangkan itu.

Suzy tahu, ada sesuatu yang Myungsoo sembunyikan.

***

Suzy sedari memperhatikan gerak gerik Sehun. Pria itu terlihat tenang di balik rak rak makanan. Menghitung dan mengecek barang barang. Pria itu tak menunjukkan tanda tanda kebrutalan hari ini. Mungkin karena ada Minho yang sedari tadi mengawasi supermarket bak sekuriti.

Mereka bertiga di sana. Berada dalam lingkaran canggung. Minho tampak menjaga jarak dengan Suzy sejak kejadian tempo hari. Saat Suzy disiksa oleh Myungsoo. Mungkin Minho tahu bahwa tuannya marah karena masalah jaket itu. Suzy tahu betul, Minho adalah pelayan yang sangat patuh dengan tuannya. Layaknya seekor anjing.

Deg!

Suzy tiba tiba teringat sesuatu.

“Kau tahu, kau hanya anjing mungil yang harus menuruti perintahku! Jika kusuruh kau berhenti mengunjungi dokter itu maka kau harus berhenti!”

“Selama ini kau selalu menuruti perintahku, kheundae wae! Sekarang kau mulai membangkang?! Siapa sebenarnya tuanmu huh?!”

“Aku pacarmu Myungsoo! Bukan anjingmu!” Pekiknya mengelarifikasi pernyataan kasar Myungsoo dengan kalimat tak kalah kasar. Ia muak dengan segala hal yang dia terima hari ini. Tamparan? Darah? Memar? Cukup sudah!

“Ne. Ne. Benar. Hahahaha kau benar.” Myungsoo tertawa kesetanan membuat wanita itu terdiam.

“Aku tak ingat menyuruhmu bicara.” Myungsoo memelototi Suzy yang tangannya terborgol tak berdaya. Kedua pipinya memerah karena beberapa tamparan. Darah menetes di sudut bibir dan hidung menandakan kekejaman Myungsoo. Mata yang juga bengkak karena menangis.

“Aku memilihmu tempo hari karena kau terlihat seperti anjing mungil yang mengibaskan ekormu padaku. Aku jadi merinding dan sangat tertarik jadinya.”

“Tanpa sadar aku ingin memilikimu.”

“Aku tak mengerti kenapa kau harus mengecek kesehatanmu setiap bulan. Apakah kau sedang sakit huh?”

Suzy bungkam. Ia memang tak sakit, tapi itulah yang harus dia lakukan untuk menghindari penyakit dengan rutin mengecek kesehatannya.

“Ne. Ne. Aku tahu. Aku tahu. Kau hanya ingin bertemu dokter itu kan?! Kau sudah tak mencintaiku kan?!”

Suzy mencoba mengatur nafasnya yang terengah engah. Terlihat benar benar shock mengingat kenangan buruk itu. Ia mencengkram meja sekuat tenaga, mencoba menstabilkan emosinya. Keringat dingin mengucur deras. Lelah dengan perang batin barusan. Ia tak menyangka, keadaan dirinya di dunia pertama ternyata sama kelamnya dengan yang terjadi di dunia ini.

Mata Suzy kembali mengikat Sehun dalam irisnya setelah perasaannya kembali normal. Ia harus fokus ke Sehun sekarang.

Tak ada yang mencurigakan dari tindakan pria itu. Seperti biasa, melakukan tugasnya sebagai pegawai toko.

Suzy mulai berfikir satu hal ekstrim. Haruskah ia bertanya saja pada Sehun mengenai motifnya membunuh si mantan drummer?

Suzy menggeleng cepat. Ia tak mungkin mendapatkan informasi semudah itu.

Entah mengapa kakinya sudah melangkah menuju gudang. Minho bekerja di sana.

“Minho-ssi, ada yang ingin kutanyakan.” Katanya saat berada di ambang pintu.

Minho berbalik. Ekor matanya menangkap bayangan Suzy dan wajah eloknya. Ia mendesis lalu berdiri. Memutar badannya hingga mereka berhadapan.

“Mian. Aku sudah diperingati Myungsoo agar tak berbicara lagi padamu. Jadi kumohon, jangan pernah mendekatiku lagi.” Ujar Minho dingin yang sontak membuat Suzy terpana sesaat.

Ada hening yang tiba tiba tercipta.

Lalu ada tawa menyedihkan dari Minho.

“Pergilah. Pergilah sejauh mungkin dari dia.”

“Mwo?” Suzy terlihat kebingungan.

” Pergilah! Pergilah sejauh mungkin dari Myungsoo!” Ulangnya seraya mengguncang guncang tubuh Suzy. Sorot matanya terlihat ketakutan. Perubahan ekspresi yang cepat dan kontras.

“W-wae?” Suzy terperanjat.

“Dia akan memakanmu Suzy!” Pancaran mata penuh ketakutan itu tak juga padam. Malah semakin menjadi jadi.

“A-apa… maksudmu?”

Tiba tiba Minho memeluknya. Erat. Sangat erat.

“Aku takut. Benar benar takut!”

Suzy tertegun. Ia bingung dengan sikap Minho. Agak ragu ia membalas pelukan itu.

“Jika kau kalah, maka kau akan dimakan olehnya. Jika kau benar maka kalian akan menikah satu minggu kemudian. Dia selalu memberi game kepada setiap pacarnya. Dan akhirnya selalu berakhir tragis! Mereka semua menjadi makanan Myungsoo! Mereka semua kalah dalam game yang Myungsoo buat! Dan aku takut kau juga akan kalah! Aku tahu kau spesial dari semua pacar Myungsoo karena kau sudah dilabeli sebagai pacar yang pasti akan dinikahi, sementara yang lainnya melalui game. Meskipun kau salah menjawabnya, Myungsoo akan tetap menikahimu. Kheundae, setelah dia menikahimu, dia akan menyiksamu perlahan lahan sampai kau mati, lalu memakanmu!”

Suzy tersentak merasakan bahunya basah. Tetes demi tetes airmata jatuh dari pelupuk mata Minho. Kenapa pria psiko ini menangis? Padahal dulu dia sangat bengis jika menyangkut Myungsoo.

“Aku bersumpah akan mengatakan semua padamu yang aku tahu. Tapi aku sama sekali tak tahu jawaban yang kau cari. Aku hanya bisa menyarankanmu sesuatu. Temuilah Chanyeol. Dia mungkin tahu segalanya tentang Myungsoo.”

Lagi lagi Suzy tertegun. Emosi Minho meluap luap. Lain dari biasanya. Tak seperti anjing patuh seperti biasa.

Lalu ada kecupan singkat mendarat di pipi Suzy setelah Minho melepaskan pelukannya.

“Saranghae…” sepasang bola mata hitam itu memancarkan energi yang membuat Suzy terpana. Suzy dapat merasakan ketulusan dari binar mata pria ini.

Minho kemudian tersenyum pedih.

“Aku benar benar takut…” bisik Minho kemudian berlalu.

Suzy membatu di tempat. Ia tak menyangka, Minho bisa membantah perintah Myungsoo. Persis seperti dirinya di dunia pertama.

Matanya memicing. Ia mulai curiga dengan dunia ini. Dunia yang seolah olah menjadi cerminan dari dunia pertama. Hanya saja semua dibuat berkebalikan.

***

Mata Suzy membulat melihat penampakan perumahan di depannya. Perumahan yang Sehun datangi tempo hari. Untung Minho memberikan kertas izinnya sehingga ia bisa lolos dari gerbang.

Suzy sudah berada di dalam. Mencari alamat yang tertera atas saran Minho. Alamat Park Chanyeol.

Bisa ia lihat rumah dengan gaya ala Eropa, rumah paling besar di sana. Benar benar perumahan borjuis. Rumah Park Chanyeol.

Suzy mencoba menekan bel. Suara pembantu menyapanya. Mengatakan beberapa kalimat klise.

“Aku ingin bertemu Park Chanyeol.”

“Apakah anda sudah membuat janji? Tuan sedang sibuk.”

Suzy terdiam selama sepersekian detik sampai sebuah ide muncul di benaknya.

“Katakan saja bahwa Bae Suzy ingin menemuinya. Dia pasti mengerti.”

“Baiklah.”

Suzy menunggu selama beberapa menit sampai pintu gerbang megah itu terbuka perlahan.

Ia melangkah dengan ragu menuju pintu utama. Saat ia tiba di sana, pintu yang tak kalah megah terbuka, menampilkan si pemilik rumah, Chanyeol.

“Wah wah, ada perlu apa, princess?” Chanyeol tersenyum menyambut, lantas menarik Suzy masuk tanpa persetujuan.

Mereka sudah berada di dalam kamar pribadi Chanyeol. Suzy tak menyangka bisa menembus benteng Chanyeol dengan sebegitu mudahnya.

“Seharusnya kita bicara di ruang tamu saja.” Katanya gugup. Matanya menelusuri keseluruhan ruangan itu takut. Warna dinding yang berwarna merah. Banyak lukisan lukisan kuno bergaya Eropa klasik. Ada beberapa ornamen yang bernuansa emas. Lalu beberapa foto foto wanita tanpa busana. Meski hanya lukisan, tapi tetap saja berkesan vulgar. Tak lupa lukisan kanibalisme dan penyiksaan memenuhi seisi dinding. Benar benar ruangan berseni, sekaligus menyeramkan.

“Ah, aku tahu kedatanganmu karena masalah pribadi, makanya sebaiknya kita bicarakan saja disini.” Chanyeol melabuhkan diri di atas singgasananya, di atas kursi goyang di depan cerobong asap buatan. Suasana terasa remang remang, hanya cahaya dari lampu cerobong asap buatan yang menemani mereka. Cerobong asap yang terbuat dari kayu jati pilihan dibalut dengan beberapa lampu kecil berwarna oranye, terlihat seperti kobaran api.

“Chanyeol-ssi, ada yang ingin aku katakan.” Kata Suzy to do point. Tak ingin berlama lama di rumah yang terasa mistis ini.

Chanyeol berdiri dari kursinya lalu berjalan menuju Suzy. Bisa ia lihat wajah Suzy yang ketakutan. Dibelainya rambut Suzy lalu ia mendekatkan wajahnya.

Suzy menoleh, menghindari ciuman itu.

Chanyeol sontak tertawa. Seperti ada sesuatu yang benar benar lucu.

“Yak!” Bentak Suzy geram. Lalu ia mendorong Chanyeol agar memberi sedikit jarak diantara mereka. Suzy tak pernah lupa dengan orang orang di dunia ini. Psikopat. Semuanya psikopat.

“Apa maumu?” Tanya Chanyeol setelah tawanya berhenti. Terdengar lebih dingin.

“Kata Minho, kau tahu sesuatu tentang Myungsoo.”

Chanyeol menyeringai.

“Ne. Dia benar.”

“Lalu, apakah kau tahu tentang drummer Orocking. Mantan pacar Myungsoo yang dibunuh Sehun, huh?”

Ada jeda beberapa saat sebelum Chanyeol bersuara.

“Dengar princess, aku tak akan pernah memberikan informasi tanpa imbalan.”

Suzy mulai was was. Yah, ia sudah tahu ini akan terjadi.

“Jadi apa yang akan kau berikan kalau aku bisa menjawab pertanyaanmu huh?” Katanya seraya menelusuri tubuh Suzy dari ujung rambut ke ujung kaki. Lalu ia menjilat bibirnya nya dengan tatapan maut tak sabar. Seolah olah telah menemukan mangsa empuk.

“Datanglah tepat pada tanggal 10 September. Aku akan melakukan apapun untukmu.”

Suzy tersenyum samar melihat wajah terkejut Chanyeol.

“Kenapa harus tanggal 10 September huh?” Sepasang mata Chanyeol menyipit. Riskan.

“Karena kami sudah merencanakan pernikahan pada tanggal 30 Agustus. Bulan madu sekitar beberapa hari. Aku butuh pemulihan selama itu dan kurasa tanggal 10 September adalah saat yang tepat.”

“Kenapa tidak besok, atau sekarang huh?”

“Karena aku sedang menjalani game dari Myungsoo dan akan berakhir pada tanggal 23 Agustus. Lalu persiapan pernikahannya berlangsung satu minggu.” Lagi lagi ada senyum samar dibibirnya. Yah, ia tahu betul, tepat pada tanggal 9 September, ia akan segera terbebas dari dunia ini dan kembali ke dunianya. Jadi tak ada alasan ia akan tetap berada di sini pada tanggal 10 September.

“Meyakinkan.” Chanyeol mengelus ngelus dagunya. Terlihat berfikir.

Suzy hampir tertawa sampai sebuah kalimat sukses membungkamnya.

“Tapi aku tak suka menunggu.” Wajah Chanyeol mendekat.

“Bagaimana kalau kau memutuskannya sekarang huh?” Katanya dengan tatapan penuh kemenangan.

Suzy tergemap. Ia tak punya strategi lain. Ia benar benar kalah telak. Pria ini terlalu cerdik.

“Pikirkanlah. Kalau kau kalah, kau bisa bisa berakhir di pemanggangan.” Bisiknya yang sukses membuat sekujur tubuh Suzy merinding.

No mercy. Itu motto kesukaan Myungsoo.”

“Mau kuberitahu lagi semuanya tentang Myungsoo huh?”

Suzy terdiam.

“Chanyeol-ssi, bisakah aku mendengar permintaanmu saja huh?” Tantang Suzy kemudian. Ia sadar, ini hanyalah dunia kedua. Tak akan ada pengaruhnya pada tubuhnya di dunia pertama. Ia hanya harus memanfaatkannya dengan baik agar bisa melangkah menuju hari ke 40 dan keluar dari dunia ini dengan selamat.

Suzy mendengar tawa mengerikan yang mendadak menguasai atmosfir di dalam kamar remang remang itu.

“Kau hanya harus jadi objek lukisanku.”

Suzy tersenyum. Semudah itu?

“Tanpa busana.”

***

Suzy keluar dari rumah itu bersama jantungnya yang masih berdetak kencang. Mati matian ia menahan diri agar tak menimbulkan masalah. Ia tersenyum setelah mendapatkan sebanyak banyaknya info tentang Myungsoo.

Kim Myungsoo. Anak tunggal. Tinggal sendirian. Mandiri. Punya perusahaan sendiri. Supermarket di dekat apartemennya hanya satu hal kecil yang dia punya dari sekian banyak usaha yang dia miliki. Tak suka dikhianati, tak suka disakiti. Dia memiliki banyak rekan. Tapi yang paling dekat adalah Minho dan Chanyeol. Minho menjadi patuh setelah Myungsoo menyelamatkan ibunya dari upaya bunuh diri. Sementara Chanyeol, mereka adalah sahabat sejak kecil. Minho lalu diajak tinggal dalam satu apartemen dengan Myungsoo juga memberikan Minho pekerjaan. Lalu ia bertemu Sehun sebagai vocalist Orocking saat dia dan Chanyeol pergi merayakan ulang tahun Orocking di sebuah hotel mewah milik keluarga Jung. Orocking berisi tiga anggota tetap. Oh Sehun sebagai vocalist sekaligus gitaris. Park Jiyeon sebagai Bassist. Dan Jessica Jung sebagai Drummer. Jessica adalah kakak kandung dari Krystal Jung. Disanalah Krystal bertemu dengan Myungsoo. Pertemuan mereka ternyata melahirkan satu pasangan fenomenal. Myungsoo dan Jessica.

Lalu game yang selalu Myungsoo mainkan dimulai.

Kalau kau bisa menjawabnya maka aku akan menikahimu. Jika tidak, maka…’

‘Aku menerimanya! Aku pasti bisa menjawabnya!’

‘Pertanyaannya mudah saja. Kenapa Minho mau menjadi pelayanku huh?’

Jawaban Jessica sangat melenceng. Hingga Myungsoo memutuskan untuk melakukan ritualnya. Tapi Sehun mencegah aksi Myungsoo karena pria itu memiliki perasaan pada Jessica.

‘Baiklah. Aku akan berterima kasih padamu jika kau yang membunuhnya.’

Tentu saja Sehun menolak. Siapa yang bersedia membunuh orang yang kita sayangi? Myungsoo tahu, Sehun dan Jessica pernah berpacaran. Jessica sempat hamil. Mereka putus setelah Jessica keguguran. Karena alasan alasan itulah, Myungsoo menyuruh Sehun untuk membunuh Krystal. Memberikan efek psikologis adalah hal yang paling disukai Myungsoo.

Setelah penolakan itu, Myungsoo memutuskan menyiksa Jessica hingga tewas. Beberapa kali Sehun mencoba membunuh Myungsoo. Tapi Krystal dan Minho tak bisa ia tembus. Mereka seperti pahlawan bagi Myungsoo. Selalu melindungi Myungsoo.

Karena Jessica tak juga mati setelah disiksa sekian lama, akhirnya Sehun memutuskan untuk membunuhnya dengan tangannya sendiri. Menembak kepalanya dengan satu kali tembakan telak. Agar Jessica tak menderita lagi. Juga agar Myungsoo tak menyantap daging Jessica. Ia menangis saat membunuhnya. Ia bersumpah akan terus meneror Myungsoo sampai mati.

Dan yang paling membuatnya geram adalah ucapan Terima Kasih yang keluar dari bibir Myungsoo dihiasi dengan senyum lebar. Seperti suka di atas duka. Myungsoo tersenyum tanpa beban. Membuat dadanya sesak.

Lalu berita tewasnya Jessica menyebar dikalangan fans Orocking. Banyak pro kontra. Serangan serangan beberapa kali datang mengunjungi Sehun. Tapi berhasil pria itu atasi. Krystal tentu saja bersedih. Tak ada yang bisa dia lakukan. Untuk menebus kesalahannya, Sehun selalu mengunjungi makam Jessica setiap bulan bersama Krystal. Saat itu, hari ketika Suzy melihat Sehun dan Krystal, adalah hari memperingati kematian Jessica. Mereka hendak mengunjungi makam Jessica. Membersihkan makam. Menaburkan beberapa kelopak kelopak bunga kesukaannya. Dan mengirimkan beberapa doa.

Suzy merasa hatinya seperti ditusuk tusuk setelah mendengar pernyataan pernyataan itu. Ternyata Myungsoo lebih sadis dari yang ia duga. Ia sesaat merasakan beberapa kenangannya kembali saat Chanyeol menceritakan semua kejadian itu dengan rinci. Ia mengenal nama itu. Jessica Jung. Dia adalah pembunuh bayaran yang Myungsoo sewa untuk membunuh Dokter Minho di dunia pertama.

Dan ibu Minho yang hendak bunuh diri, ia seperti mengingat sesuatu. Masih samar.

***

Ting Tong!

Suzy sudah berada tepat di depan kamar Myungsoo. Ia sudah tak sabar ingin mengatakan semuanya. Melepaskan semua beban yang ia rangkul.

Myungsoo lalu muncul beberapa detik kemudian. Wajahnya tampak ceria.

“Ne? Ada apa? Katanya aku harus menunggumu tujuh hari kedepan.”

“Aku sudah tahu jawabannya.”

Deg!

Myungsoo tertegun. Pria itu mematung selama sepersekian detik.

“Myungsoo?” Suzy mengibas ngibaskan tangannya di depan wajah Myungsoo. Bingung melihat Myungsoo yang terdiam. Terlihat shock.

“Masuklah.”

***

“Begitu kan?” Kata Suzy mengakhiri penuturan panjangnya.

Myungsoo terdiam. Terkejut bukan main. Tidak ada yang pernah memenangkan game itu melawannya.

“Sudah kuduga… kau… kau memang spesial.”

“Myungsoo. Aku ingin imbalanku.” Kata Suzy dengan mimik serius.

Myungsoo tertawa hambar lalu mempersilahkan Suzy mengajukan permintaannya.

“Aku ingin kau melindungiku hingga tanggal 9 September. Cukup sampai tanggal itu saja. Jangan pernah menyakitiku dan aku tak mau lagi bekerja di supermarketmu. Aku mau gajiku dibayar full. Dan jangan pernah membiarkanku mati.”

Myungsoo menunduk. Terdiam.

“Bagaimana?”

Hening.

“Myungsoo?”

Myungsoo tiba tiba berdiri lalu melangkah pergi. Masuk ke dalam kamarnya tanpa jawaban.

Suzy mendadak panik.

“Yak Myungsoo! Kau kenapa huh?” Suzy mengetuk pintu kamar Myungsoo berulang kali. Tetap saja tak ada jawaban.

Akhirnya Suzy memilih keluar dari ruangan itu menuju ruangannya. Ia terdiam cukup lama di kamarnya. Memikirkan segala hal. Apakah ia telah berbuat sesuatu yang salah? Ataukah ada hal lain?

***

Tanggal 23 di bulan Agustus. Suzy masih setia di dalam kamarnya. Stok makanan di kulkasnya mulai menipis. Ia harus berbelanja.

Sudah beberapa hari ini ia tak pernah bertemu dengan siapapun. Termasuk Myungsoo. Pria itu tak pernah mengganggunya lagi.

Ada perasaan lega yang menggelayutinya. Tapi tiba tiba perasaan takut dan kesedihan membayang bayanginya bersamaan. Ia selalu saja merasa takut beberapa hari ini. Hidupnya tak tenang. Seperti ada yang mengganjal.

Ting Tong!

Suzy terlonjak. Buru buru ia menuju pintu. Ia tersentak melihat Myungsoo di layar monitor. Terlihat ceria seperti biasa.

“Suzy, ayo kita berburu gaun pengantin!”

***

Sedari tadi ia tak fokus. Beberapa kali ia mengganti gaun putih itu. Suzy malah makin memperdalam tatapannya ke Myungsoo. Ia merasa ada yang aneh saat ia melihat Myungsoo. Seperti tak ingin kehilangan Myungsoo.

“Yang itu!” Myungsoo menunjuk gaun yang Suzy kenakan. Gaun yang dipilih Myungsoo. Sederhana dan elegan. Off white gown. Seperti layaknya putri.

“Kita akan menikah di gereja pada tanggal 30 Agustus. Dan melaksanakan resepsi di gedung pernikahan pribadiku saat malam.” Bisiknya sembari menunggu sang penjual mengisi nota pembelian.

Suzy melirik Myungsoo. Pria ini terlihat tak berbahaya sekarang. Mungkinkah ia benar benar memenuhi janjinya?

Suzy tersenyum merasakan rangkulan Myungsoo terasa hangat. Tak posesif seperti biasa.

**

“Aku senang, kau tak membatalkan pernikahan kita.” Kata Myungsoo saat mereka sudah berada di dalam mobil. Setelah selesai bergelut dengan persiapan pernikahan disana sini.

Suzy tertawa pelan.

“Aku juga ingin merasakan bagaimana menikah dengan seseorang yang kucintai.” Katanya dalam.

Myungsoo menoleh cepat. Sepasang mata elangnya menyipit. Ia menatap wanita itu dalam dan semakin dalam. Lalu ada kecupan singkat di pipi Suzy yang sontak membuat wajah wanita itu memerah.

Hening meraja sampai mobil itu sampai ke parkiran. Bersama mereka yang kembali ke kamar masing masing. Bersama gunda gulana yang bersarang di otak mereka.

***

Tanggal 30 Agustus. Di hari yang cerah. Agak panas. Cahaya terpantul dari jendela. Membiaskan wajah cantik Suzy yang kini dipoles make up.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun seputih benang sutra itu sangat indah dipadupadankan dengan kulit mulus seputih susu miliknya. Dan make up natural yang menambah kesan bak ratu sejagat. Ia membuka sebuah kotak sepatu memperlihatkan sepasang glamour high strap. Ia mengenakannya perlahan. Tanpa sadar airmatanya menetes. Ia memang mendambakan sebuah pernikahan. Dua insan yang saling bertukar cincin. Suci dan megah. Dan ada sumpah.

Ia berdiri dari bangkunya. Menatap sekali lagi dirinya di cermin. Seseorang tiba tiba mengetuk pintu. Menyuruh Suzy untuk segera bersiap siap.

Wanita itu mengangguk lalu meraih sebuket bunga dari atas meja rias dan berlalu keluar. Ia memandang keadaan di luar dengan debaran di jantungnya. Saat Minho menjemputnya dengan mobil yang sudah dihiasi bunga dan pernak pernik pernikahan. Menanti dirinya menuju tempat sakral. Tempat mereka akan mengikat janji.

Suzy dan Minho berangkat. Melesat menuju gereja tempat Myungsoo kini menunggu. Dengan jas putih dan pentofel hitam mengilap, ia berdiri di atas altar. Menunggu Suzy meraih tangannya.

Kini mereka berada di halaman yang ditumbuhi mekar bunga. Banyak yang mengiringi mereka. Melemparkan sejuta kepingan kepingan bunga. Berteriak, bersorak, bergembira. Minho digandengannya sebagai wali. Tak sadar airmatanya lagi lagi menetes. Ia bahagia. Sangat bahagia. Ia seperti telah mendapatkan hadiah besar setelah perjuangannya.

Semua menatap ke arah mereka saat kini Suzy berjalan gugup menuju altar. Memasuki pintu gereja dengan jantung yang sedari tadi berdetak tak karuan. Minho mencoba menenangkan wanita itu dengan senyum ceria. Dan Suzy membalasnya dengan senyum tak kalah sumringah.

Minho sudah melepas rangkulan Suzy. Membiarkan wanita itu menyambut tangan si pengantin pria. Wanita itu berhenti tepat di depan Myungsoo. Tangan pria itu terulur. Siap menerima milik Suzy dengan sungguh sungguh.

Suzy meraihnya dengan senyum yang terus terlabel di bibirnya.

Mereka berdiri berdampingan. Sang pendeta membacakan sumpah pernikahan. Myungsoo mengucapkan sumpahnya dengan lantang. Suzy membalas sumpah Myungsoo dengan sumpah lainnya. Sumpah sehidup semati.

Lalu ada ciuman yang tak terelakkan.

Semua bersorak ricuh. Meski beberapa dari mereka telah tersakiti dari pernikahan ini. Wanita di sudut sana, Krystal Jung, dan pria yang berdiri di dekat pintu, Choi Minho. Jiyeon, Sehun, dan Chanyeol juga turut hadir. Perasaan mereka campur aduk.

***

Congrats!” Seru Chanyeol seraya menyerahkan sekotak kado pernikahan kepada Myungsoo. Berwarna ungu dengan pita silver. Berbentuk persegi panjang. Tak lupa cipika cipiki mewarnai pesta.

“Apa ini?” Tanya Myungsoo penasaran. Mereka sekarang berada di dalam gedung resepsi. Dengan pemandangan pantai berpasir putih. Semua sudah berganti busana. Suzy dan Myungsoo mengenakan busana merah hitam. Busana malam kesukaan mereka.

“Hadiah pernikahan.” Chanyeol tersenyum. Lalu berbisik ke telinga Suzy.

“Aku tahu kau pasti merasa telah memenangi game ini. Kheundae, kau salah besar. Checkmate! Aku sudah membunuh King mu dalam permainan catur. Selamat karena mau terjebak dalam permainanku, Suzy-ssi.”

Sepasang mata Suzy membesar.

“Asal kau tahu, aku tak terlalu suka ketenangan. Uproar is my favorite dish.” Katanya sebelum pergi. Jiyeon turut pamit bersama kakaknya.

Suzy terdiam. Terlihat gelisah. Tatapannya kini tertuju pada kado yang Myungsoo genggam. Ia lantas merampas kado itu dari tangan Myungsoo.

“Yak Suzy, wae?” Myungsoo menggaruk garuk kepalanya bingung.

“Ini bom!” Kata Suzy panik dan segera berlari keluar.

“Mwo?! Yak tunggu!” Myungsoo menyusul Suzy.

Minho yang sedari tadi berdiri di depan meja minuman buru buru berlari menuju kedua insan itu setelah melihat tindakan aneh mereka di tengah tengah pesta. Sehun dan Krystal turut menyusul.

Mereka berlima sudah berada di luar. Pemandangan pantai dengan pasir putih menyapa mereka. Ada banyak lilin yang disusun sedemikian rupa hingga berbentuk LOVE. Langit gelap terasa romantis dengan cahaya lilin yang redam redup.

Suzy langsung membuang kotak itu tanpa ragu. Membuangnya ke air. Sejauh mungkin. Gelombang yang tak terlalu besar membawa kotak itu kembali ke tanah. Tepat di depan kaki Myungsoo. Semua menatap Myungsoo dengan penuh ketegangan.

Suzy lalu merampas kotak itu lagi namun kali ini Myungsoo menggagalkannya.

“Chanyeol tak mungkin membunuhku, Suzy.” Katanya dingin membuat Suzy terhenyak.

Lalu dalam gerakan pelan, Myungsoo membuka kotak itu.

Sebuah kertas yang dibubuhi tinta minyak. Sebuah lukisan.

Keringat dingin mulai mengucur dari pelipis Suzy saat Myungsoo membawa kertas itu ke tengah tengah lingkaran lilin yang membentuk LOVE itu.

Matanya seketika membesar melihat penampakan di kertas. Lukisan yang tak asing. Model yang tak asing.

Tangannya terkepal kuat. Ia menginjak lukisan itu dengan membabi buta.

Semua terdiam menyaksikan Myungsoo yang menggila. Sementara Suzy, ia buru buru berlari dari sana. Masuk ke dalam ruang pesta. Menerobos kerumunan. Berlari sejauh mungkin dari pria penggila siksa itu.

Minho menyusulnya. Tinggal Sehun dan Krystal. Serta Myungsoo yang berdiri dengan nafas tak terkontrol. Darahnya naik. Keadaan mulai memanas.

“Serahkan Suzy padaku.” Katanya kemudian.

“SERAHKAN DIA!”

***TBC**

Annyeong readerdul! Part selanjutnya adalah part end jadi untuk menghargai yang sering komen, endingnya bakal aku protek langsung (biasanya aku nunggu komen dulu baru diprotek) Jadi kalo mau komen silahkan sertakan alamat emailnya, nanti bakal aku kirimin pwnya😉 Gomawoooo😄

Oh ya, Happy Halloweeeeen!!!!

Ghamsahamnida~

*Bows*

37 thoughts on “FF Psywar PART 5

  1. aish chanyeol jahat banget kasih lukisan itu ke myungsoo , dari awal memang nampak chanyeol ada maksud terselubung gitu pas suzy mintak informasi dari nya . siapa ituu yg ngomong part terakher , aduuuuuh thor aku selalu penasaraan sama ceritamuu semuaaaa penasaran end cerita ini gimana apakah suzy bisa selamat ditunggu yaaa thor next partnya fighting thor🙂
    id nurul
    email : nurulnisss@gmail.com

  2. uhh baca part ini deg”an bngt khawatir gmn nasibny suzy eonni ap dia berhasil kabur dr psyco” yg brniat membunuhny, minho lindungilah suzy eonni

  3. ahhh.. aku sudah menduga klo chanyeol pasti kasih lukisan itu ke myungsoo… kira2 apa yg akan terjadi dengan suzy mampukah dia bertahan di dunia ke dua ini???ditunggu next partnya yaaa.. hwaiting

  4. Waw makin jauh partnya makin menegangkan
    Takut banget suzynya kenapa-napa
    Penulisannya keren banget
    Reader bener-bener diajak ngerasain perasaan tokohnya

    Maaf thor aku gak punya email aku hanya punya fb
    Entar aku inbox kamu buat mintak pwnya
    Gomawo🙂

  5. Eothokkhae? Apakah suzy akan selamat ?
    Aigoo kenapa ini semakin menegangkan. Ini semua gara” park chanyeol,,,,,aish park chanyeol jinja.

  6. Chanyeol so badddddd…
    Duhhh Myung dunia nyata atw psyco ttp psyco,,, msa dy ngnggp Suzy anjing,,, dsni Minho doank kh yg pnya niatan baik..
    trnyta gt critanya bnr2 gk ktbak…

    Hp aq lg rusak jd gk bsa bwt email,, lg pla kn byasanya aq mnta pw mlalui fb jd d’fb z ya.. UviIndokorcan nt nma fb’a…
    Dtnggu ya Fighting Fhyr😀

  7. Sdah ku duga changyeol akan memberikan lukisan itu pada myungsoo.. Apalagi nanti kalau myungsoo tau minho sempat menyatakan perasaannya pada suzy, bukankah myungsoo tidak suka di khianati? Aigoo entah apa yg akan terjadi pada suzy dan minho…
    Ini email aku yah thor Sitymamulay96@yahoo.com di tunggu pwnya,makasih sebelmnya

  8. omegatt. padahal tinggal bebrapa hari lagi suzy bakalan kembali ke dunia yang asli, tapii…
    semoga suzy gak ketangkep sama myung.
    conyol jugak, kenapa dia jahat banget.
    gak sabar nunggu kelanjutannya
    hwaiting thor

  9. Chanyeol jahat bngt tpi buknkah ini masih tgl 30 dan itu artinya mying ga akn nyoksa suzy itupun klo myung msu ngabulin permintaannya tpi klo ga?
    Habislh suzy 😭😭😭😭 run suz run!!!

  10. wuahhhhh myungsoo
    poor sehun…
    siapa myungsoo didunia pertama? apakah dia bener2 punya penyakit psikologis semacam identity disorder ato cuma pengendalian emosinya yg lost control?
    tuh kan q udah ngira pasti lukisan itu bakalan sampe ketangan myungsoo
    apa chanyeol jg masih tertarik sama suzy?

    suzy-ah be strong!!!!

  11. Chanyeol kenapa kamu tega banget.
    terus nasib Suzy gimana.
    Chanyeol kenapa kamu licik sekali.
    ayo buruan Suzy balik ke Dunia Nyata.

    Aku minta Password Part Endnya ya id comment ku SylviKawaii
    Kirim ke :
    LZy.SylviKawaii@gmail.com

    sekalian yang BANORI ya♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡

Tinggalkan Balasan Anda, Dear

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s